Rss Feed
Facebook button
Calendar
September 2010
M T W T F S S
« Aug    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
Archives
Shout!

ShoutMix chat widget
INDONESIANabroad.com
Add to Technorati Favorites
Coin A Chance

Pada Suatu Sore

“Hei kamu, kenapa diam saja”, wanita cantik di depanku itu mengacung-acungkan sendok ke arahku.

“Hahaha, dasar iseng. Lagi ngelamun”, kataku sambil menyentuh ujung hidungnya yang mancung.

Dinner in bed, acara favorit aku dan Rini menghabiskan Sabtu sore. Ketika matahari mulai terbenam biasanya aku mengajaknya bercinta terlebih dahulu, lalu ia akan ke dapur membuatkan makan dan membawanya ke tempat tidur. Kami sarapan di tempat tidur sambil nonton tivi dan ngobrol saja. Tapi yah, salah dia sendiri, memasak hanya mengenakan piyama bagian atas. Setelah sarapan habis, biasanya kumakan lagi dia :D

Aku jatuh cinta hanya ketika pertama kali melihatnya dua bulan yang lalu. Aku baru pulang dari kuliah di Singapura, ketika aku bertemu Rini yang sedang kuliah S2 tingkat akhir itu. Waktu itu aku sedang main futsal bersama sahabatku Evan dan teman-teman SMA kami. Kuajak dia kenalan dan entah darimana asalnya aku melihat sepertinya ia tertarik padaku.

Benar juga, setelah itu aku jadi sering bertemu dengannya. Perkenalan berlanjut dengan bertukar nomor HP dan e-mail. Awalnya hanya SMS dan chatting casual, namun lama kelamaan kami  mulai berani berkirim pesan nakal yang biasanya berlanjut dengan pertemuan pada sore hingga malam hari. Aku bekerja sebagai freelance web designer, jadi waktuku memang fleksibel.

Seperti hari itu, siangnya aku kirim SMS.

“What am I without your touch, merely a pathetic spiritless naked statue.”

Tak lama kemudian ada balasan dari Rini.

“For I am a merciful goddess, I shall turn that naked statue to life by holding it on the place I should put my hand on.”

Aku menghela nafas sebelum membalas SMSnya lagi.

“You torture me.”

SMS sent. Belum sampai satu menit balasan sudah datang.

“Then you come and get me.” Read the rest of this entry »

Pemburu dan Hutan Rimba

Tersebutlah suatu desa yang damai, ditinggali oleh para hewan yang dipimpin oleh bapak Lurah Kura-kura yang bijaksana dan para majelis desa : pak Panda, pak Harimau, pak Beruang, dan pak Kelinci. Warga desa memiliki pekerjaan yang bermacam-macam seperti petani, guru, pedagang, maupun pegawai kelurahan.

Desa ini terletak di dalam hutan rimba yang lebat, dikelilingi oleh pepohonan yang tinggi besar dan rapat sehingga tak mudah orang luar memasukinya. Namun suatu hari mereka mendengar kabar di televisi bahwa sekelompok manusia sedang mencoba memasuki wilayah desa mereka karena di luar sana harga kulit binatang makin melonjak tinggi. Isu ini membuat warga desa resah selama beberapa hari terakhir.

Pak lurah Kura-kura  mengumpulkan majelis desa untuk membicarakan masalah ini, bagaimana sebaiknya mereka harus menghadapi manusia perusak sekaligus dimana mereka harus mengamankan anggota keluarga yang lain. Akhirnya diputuskan bahwa bapak-bapak akan berjaga di sekeliling perbatasan sedangkan ibu-ibu dan anak-anak akan diamankan di kantor kelurahan dalam penjagaan bapak lurah Kura-kura.

Lho kok bapak lurah Kura-kura tidak ikut berjaga di perbatasan?

Iya, karena di antara para bapak dialah yang jalannya paling lamban :D

Demikianlah pertemuan diakhiri. Mereka minum-minum sebentar di warung dekat perbatasan. Di luar dugaan mereka, pak Kelinci berkuping panjang yang indera pendengarannya tajam mendengar orang menelisik di semak-semak.

“Bapak-bapak, sepertinya aku mendengar suara sesuatu berjalan di semak-semak.”

Semua mendadak terlihat waspada.

“Sepertinya manusia.”

Pak Kelinci menengok ke arah pak lurah Kura-kura yang kemudian memberi petunjuk,

“Cepat, semua segera kirim keluarga kalian ke kantor kelurahan dan beritakan kepada bapak-bapak untuk berjaga di pos-pos yang telah ditentukan.”

Dengan sigap pak Panda, pak Beruang, pak Harimau dan pak Kelinci pulang ke desa melakukan petunjuk pak lurah Kura-kura, sedangkan pak lurah sendiri kembali ke kantor kelurahan untuk mempersiapkan tempatnya.

Tak disangka sekelompok manusia itu tiba lebih cepat dari yang orang-orang desa kira. Selagi ibu-ibu dan anak-anak berlari kebingungan masuk ke kantor kelurahan, para manusia telah memasuki perbatasan desa dan dalam waktu yang singkat telah berhadapan dengan bapak-bapak yang juga sudah berjaga di sekitar kantor kelurahan.

Selama beberapa saat sekelompok pemburu itu berdiri dengan tegang berhadapan dengan pak lurah Kura-kura, pak Panda, Beruang, Harimau, Kelinci, Gajah, Jerapah, Singa dan beberapa hewan lain.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan.

“Anakku! Anakku di mana??”

Ternyata ibu Panda yang berteriak memanggil anaknya. Pak Panda sesaat terlihat panik lalu menghampiri sang istri sambil mencoba menenangkannya. Orang-orang desa berbisik-bisik sambil mencoba mencari si anak Panda namun tak berani berjalan terlalu jauh.

“Dia di situ! Dia di situ! Ada seekor panda sedang berjalan kemari!”, teriak salah seorang pemburu.

“Hahahaha kita dapat seekor panda yang masih muda!”, teriak yang lain.

Bapak-bapak yang sedang berdiri di muka balai desa terlihat tegang, demi mengikuti langkah seekor anak panda berbulu hitam putih yang berjalan terhuyung-huyung mencari ibunya.

“Ibu, Ayah, kalian dimana?”, katanya sambil mengusap air mata.

Bapak Panda maju hendak merengkuh anaknya namun terhenti oleh letusan senapan.

DOR !!!

Semua terkesiap. Salah satu pemburu angkat bicara,

“Satu langkah lagi dan peluru ini aku tembakkan ke arah anakmu!”

Sejenak bapak panda tertegun, langkahnya ragu. Antara memandang wajah anaknya yang mengiba dan wajah istrinya yang ketakutan. Ia menarik nafas panjang, lalu dengan berani berlari ke arah anaknya yang sedang diacungi senapan. Orang-orang menyingkir, sebagian menangis sebagian lagi menutup mata tak berani melihat apa yang akan terjadi.

Para pemburu berubah menjadi liar, dan terdengar sekali lagi senapan menyalak.

DOR !!!

Hutan berubah sunyi. Tidak ada seorang pun berbicara.

Semua orang melihat ke arah bapak panda, ia terlihat sedang memeluk si anak panda yang menangis tersedu ketakutan.

Dan nampaklah darah berlumuran di sekitar lengan dan dada pak panda…

——————————————————————————————–

Lanjutannya minggu depan ya? :)

Being Nice For Dummies

Sedikit out of topic dari hari kemerdekaan …
Saya yakin bangsa kita bisa jadi lebih baik di kemudian hari. Kalau memang kita gak bisa mengganti pemerintah sesuka hati, marilah paling tidak kita jadi warga negara yang baik. Bayar pajak, buang sampah pada tempatnya, taati peraturan lalu lintas, hormati orang lain, kurangi menyumpahi PLN dan kemacetan.
Atau seperti saran calon bapak yang satu ini – being nice for dummies. Contohnya :
- mencetin tombol lift buat orang lain pas liftnya penuh pas kita berdiri depan tombolnya
- di angkot mau ngegeser ke dalem spy muat
- ngebiasain balikin tray & isinya ke trash counter pas makan di resto fast food/sbux
- megangin pintu buat orang yang datang setelah kita
- ambilin minum buat temen kantor kalo kita pas jalan ke coffee machine / pantry
- Permisi sama ob di kantor kalo terpaksa lewat lantai yang baru/sedang dipel
Yak, silakan daftarnya ditambahin sendiri. Yang jelas membantu orang itu gak harus nunggu sampe ada yang bunuh diri *ketok meja kayu tiga kali* atau jadi korban, mulai aja dari hal-hal kecil kayak gitu.
Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal kecil, mulai dari sekarang :)

Masih terkait hari kemerdekaan Republik Indonesia tercinta…

Saya yakin bangsa kita bisa jadi lebih baik di kemudian hari. Kalau memang kita gak bisa mengganti pemerintah sesuka hati, marilah paling tidak kita jadi warga negara yang baik. Bayar pajak, taati peraturan lalu lintas, jangan buang sampah sembarangan, jangan merokok sembarangan, dst dst.

be nice, please?

be nice, please?

Atau seperti diskusi kita di tret plurk calon bapak yang satu ini – being nice for dummies.

Contohnya :

- mencetin tombol lift buat orang lain pas liftnya penuh pas kita berdiri depan tombolnya

- di angkot mau ngegeser ke dalem spy muat

- ngebiasain balikin tray & isinya ke trash counter pas makan di resto fast food/sbux

- megangin pintu buat orang yang datang setelah kita

- ambilin minum buat temen kantor kalo kita pas jalan ke coffee machine / pantry

- permisi sama ob di kantor kalo terpaksa lewat lantai yang baru/sedang dipel

Yang jelas membantu orang itu gak harus nunggu sampe ada yang bunuh diri *ketok meja kayu tiga kali* atau jadi korban, mulai aja dari hal-hal kecil.

Ada yang mau nambahin list being nice for dummies?

Ketika Tuhan Menciptakan Indonesia

Suatu hari Tuhan tersenyum puas melihat sebuah planet yang baru saja diciptakan- Nya. Malaikat pun bertanya, “Apa yang baru saja Engkau ciptakan, Tuhan?” “Lihatlah, Aku baru saja menciptakan sebuah planet biru yang bernama Bumi,” kata Tuhan sambil menambahkan beberapa awan di atas daerah hutan hujan Amazon. Tuhan melanjutkan, “Ini akan menjadi planet yang luar biasa dari yang pernah Aku ciptakan. Di planet baru ini, segalanya akan terjadi secara seimbang”.

Lalu Tuhan menjelaskan kepada malaikat tentang Benua Eropa. Di Eropa sebelah utara, Tuhan menciptakan tanah yang penuh peluang dan menyenangkan seperti Inggris, Skotlandia dan Perancis. Tetapi di daerah itu, Tuhan juga menciptakan hawa dingin yang menusuk tulang.

Di Eropa bagian selatan, Tuhan menciptakan masyarakat yang agak miskin, seperti Spanyol dan Portugal, tetapi banyak sinar matahari dan hangat serta pemandangan eksotis di Selat Gibraltar.

Lalu malaikat menunjuk sebuah kepulauan sambil berseru, “Lalu daerah apakah itu Tuhan?” “O, itu,” kata Tuhan, “itu Indonesia. Negara yang sangat kaya dan sangat cantik di planet bumi. Ada jutaan flora dan fauna yang telah Aku ciptakan di sana. Ada jutaan ikan segar di laut yang siap panen. Banyak sinar matahari dan hujan. Penduduknya Ku ciptakan ramah tamah,suka menolong dan berkebudayaan yang beraneka warna. Mereka pekerja keras, siap hidup sederhana dan bersahaja serta mencintai seni.”

Dengan terheran-heran, malaikat pun protes, “Lho, katanya tadi setiap negara akan diciptakan dengan keseimbangan. Kok Indonesia baik-baik semua. Lalu dimana letak keseimbangannya?

Tuhan pun menjawab dalam bahasa Inggris, “Wait, until you see the idiots I put in the government.”

Indonesia 65

Indonesia 65

Indonesia, Quo Vadis?

cerita di atas saya salin dari artikel ini. Saya gak sanggup baca semua isi artikel dalam satu kali baca. Perlu beberapa kali berhenti menahan nafas dan emosi, baru kemudian membaca lagi.

Betapa kita gak tahu terima kasih dengan perbuatan kita yang gak menghargai mereka yang telah memperjuangkan kemerdekaan …

Betapa kita gak tahu diri dengan perbuatan kita yang merusak hal-hal yang seharusnya jadi warisan untuk anak cucu kita …

…………………

Pisang Molen Ibu

Ada seorang anak laki-laki bernama Mahar. Ia tinggal dengan ibu dan kakak-kakaknya, sedangkan ayahnya telah tiada. Ibu si Mahar sudah tua dan sakit-sakitan, sehingga biasanya beliau hanya berbaring di tempat tidur saja.

Suatu pagi, Mahar mendekati ibunya dan meminta uang saku untuk sekolah, seperti biasa. Ibunya memberikan semua uangnya yang disimpan di bawah bantal. Sambil terbata-bata ibunya mengambil uang dari balik bantalnya dan berkata,

“Uang ibu cuma ada segini.”

Mahar masih meminta uang saku tambahan dengan alasan ada kegiatan ekstra kurikuler, namun sang ibu sudah tak punya uang lebih.

“Uang ibu tadi sudah habis untuk beli pisang molen buat kamu, Mahar. Kamu makan pisang molennya untuk sarapan ya?”

Meskipun pisang molen adalah makanan kesukaannya, namun Mahar sudah terlanjur kesal dan langsung pergi meninggalkan ibunya. Setelah menutup pintu rumah Mahar menendang pot bunga kesayangan ibunya di pekarangan.

Mungkin kaget, sang ibu tertatih beranjak bangkit dari tempat tidurnya dan mengetuk kaca memanggil Mahar, karena tak kuat lagi ia bersuara. Mahar menengok ke belakang dan melihat ibunya menunjuk ke arah piring berisi pisang molen, berharap Mahar kembali mengambil dan memakannya.

Namun sepertinya perut Mahar sudah kenyang dengan kekesalan. Ia tak peduli dan langsung pergi ke sekolah. Sepulang sekolah, Mahar menengok kamar ibunya dan melihat ibu sedang tidur di kamarnya. Tanpa mengganti baju atau pamit, karena masih merasa kesal, Mahar langsung pergi main ke rumah temannya.

Sampai larut malam Mahar masih bersama teman-temannya yang saat itu sudah mulai mabuk, meskipun Mahar sendiri tidak ikut minum. Ketika arlojinya menunjukkan waktu sekitar pukul 9 malam, lewatlah seorang ibu dan berkata,

“Hei sudah malam kenapa kalian malah duduk-duduk di pinggir jalan, sudah pada sholat belum?”

Tiba-tiba Mahar teringat ibunya di rumah. Ia berpamitan pada teman-temannya, tapi dicegah oleh mereka karena hari belum terlalu malam. Setelah cukup lama mereka duduk-duduk di pinggir jalan, Mahar melihat bulan dan sekali lagi teringat pada ibunya. Lagi-lagi teman-temannya mencegah ia pulang. Akhirnya ia menginap di rumah salah satu temannya.

Paginya sekitar pukul 8, Mahar pulang ke rumah dengan santainya. Tak disangka, di depan gang rumahnya sudah ada tukang ojek yang menunggunya. Mahar bingung tapi bapak tukang ojek itu hanya bilang,

“Sudah ayo naik, kamu sudah ditunggu dari tadi malam.”

Sesampainya di rumah, Mahar melihat ada banyak orang berkumpul. Kakak-kakaknya menghambur ke luar memeluk Mahar sambil terisak.

“Ibu kita sudah meninggal”, kata mereka.

Seketika itu juga Mahar menangis penuh rasa dosa, dan sayang sekali Mahar tak dapat melihat wajah sang ibu untuk terakhir kalinya karena jenazah ibunya telah dibersihkan dan siap untuk dimakamkan. Kemudian salah satu kakak Mahar menyodorkan piring berisi pisang molen dan berkata,

“Ini makan pisang molen dari ibu, sebelum meninggal ibu memanggil-manggil namamu dan menitipkan pesan agar pisang molen yang disimpannya di lemari itu diberikan kepadamu.”

Semakin tersedu isak tangis Mahar, sambil memakan pisang molen itu Mahar berkata dalam hatinya, “maafkan saya, ibu…”

PS : ini kisah nyata, cerita teman saya Mahar.. Sampai speechless saya. Silakan ditarik sendiri ya pesan moralnya.

Switch to our mobile site