Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Yang Sering Terlewatkan

Malam ini, masih bersama segelas Nescafe Classic tanpa gula. Bersiap-siap mengerjakan tugas electron microscopy sambil memutar album terbaru Ed Sheeran. Ada sesuatu yang mengusik perasaan saya saat mata terpaku menatap layar laptop.

Saya punya laptop, yang bekerja dengan baik. Yang tidak pernah bermasalah selama saya pakai untuk belajar dan mengerjakan tugas. Jangan plis. You’re the best.

Saya diberi rejeki untuk beli laptop baru sebelum pergi ke Inggris, meskipun ini bukan HP Envy (yang sebenernya saya pengen) atau MacBook Air (yang meskipun bagus tapi ndak akan saya beli). Tabungan saya dicukupkan sehingga saya gak perlu merepotkan suami atau orang tua.

Malam ini saya makan kebab sisa kemarin, yang saya beli semalam saat lelah pulang kuliah, tanpa harus berpikir bulan ini masih ada sisa uang untuk makan atau tidak. Ada masa saat saya kuliah di Jogja dulu, harus memilih mau makan atau fotokopi bahan kuliah. Kalau fotokopi ya duitnya gak cukup buat makan. Kalau buat makan, ya belajarnya harus pinjam teman, gak bisa punya sendiri. Biasanya sih saya mending gak makan…

Saya bisa ngopi Nescafe Classic, yang waktu itu saya beli langsung tanpa mikir apa harganya paling murah per gram. Sejak kuliah saya selalu beli barang yang paling murah per unit berat atau volume. Kalau beli shampoo atau sabun pasti otak langsung mencongak ini harganya berapa rupiah per mililiter. Demikian juga kalau beli pasta gigi dan cemilan. Saat doyan ngopi pas kuliah dulu saya beli Nescafe classic sebetulnya karena murah. Serenteng seribu isi lima sachet. Jauh lebih murah daripada Coffemix atau Torabika atau Good Day yang harganya waktu itu kira-kira 500 rupiah satu sachetnya.

Yang saya suka, kebanyakan supermarket di Inggris selalu mencantumkan harga per unit untuk semua produk. Jadi gak usah ngitung biskuit ini berapa pounds per 100 gram, atau henbodi losyen itu berapa sen per ml.

Minggu lalu saya masih batuk cukup parah, sedangkan ada tugas yang harus dikerjakan (kapan sih tugas habis? hahaha) dan oleh karenanya saya memaksakan diri untuk ke perpus ngerjain tugas karena kalau di rumah nanti malah tidur terus. Saya bangun pagi dan mengepak bekal: botol obat batuk, dua buah apel, dua tangkup roti isi nutella dan selai kacang, biskuit, gelas kopi (kalau beli kopi di kantin perpus pakai gelas ini bisa dapat diskon karena ndak nyampah pakai gelas sekali pakai), sama botol minum.

bekal ke perpus

Saya mendadak tertegun dan mau menangis. Ya ampun ini kok saya bisa punya makanan kayak gini. Bisa beli nutella DAN selai kacang. Gak harus milih salah satu. Bisa ngemil apel sekaligus biskuit. Mampu beli kopi di kantin. Bisa beli obat batuk sekalian permen strepsils karena saya pingin cepet sembuh tanpa harus memilih duitnya buat beli obat atau buat makan.

Hal-hal “remeh” begini ini sering kali terlewat dari mata saya, yang selalu komplen kalo winter sering sakit karena dingin, atau kadang merasa kesal sama flatmate yang bikin berantakan dapur.

Padahal kalo kamarnya dingin ya bisa nyalain fan heater.

Kalo flatmate jorok ya sebetulnya masih bisa nyempil masak dan toh dapur sudah ada housekeeper yang bersihin.

Harus sering-sering ingat kalau sebetulnya saya sudah dikasih jauuuuh lebih banyak dari yang saya bayangkan.

Harus banyak-banyak bersyukur dan bukannya mengeluh.

Harus selalu berterimakasih kepada Yang Memberi Hidup untuk hal sekecil apapun, terutama saat bangun tidur dan menyadari bahwa masih diberi hari yang baru. Masih diijinkan memperbaiki apa-apa yang rasanya masih kurang.

Sekarang mari belajar lagi. Belajar dengan gembira, seperti gembiranya Tuhan saat mengabulkan doaku dulu agar bisa sekolah lagi.

Nescafe Classic tanpa gula

Asrama mahasiswa Whitworth Park, malam Minggu 4 Maret 2017

Waktu menunjukkan pukul 6 sore. Saya beranjak ke dapur menyalakan teko pemanas air dan menyeduh kopi dengan rasio 1,5 sendok teh dalam 300ml air panas.

Nescafe classic yang bungkusnya hitam dengan mug berwarna merah. Beberapa hari lalu saya menemukannya di salah satu lorong minimarket Sainsbury’s seberang jalan, kebetulan dengan harga promo dalam kemasan refill yang sepertinya cukup untuk stok kopi beberapa bulan.

Kopi ini favorit saya sejak jaman kuliah karena alasan praktis: kopi hitam tanpa campuran gula/susu dan tanpa ampas. Tentang kenapa saya suka kopi tanpa gula, pernah diceritakan 6 tahun lalu. Kos-kosan saya waktu kuliah berada di tepi selokan mataram di kampung Pogung Dalangan, tepat di belakang kampus Teknik UGM. Kamar saya sederhana; cuma ada kasur single di atas dipan kayu, lemari baju knock-down beli di Liman jalan Malioboro, lemari kayu kecil untuk naruh buku-buku, dan meja kecil di atas karpet. Kalau belajar ya lesehan.

Tepat satu dekade lalu saya mulai mengerjakan skripsi – ya sama di bulan-bulan ini juga. Saya seringkali melewatkan malam-malam di karpet mantengin laptop entah ngutak atik desain alat di kotak-kotak excel, ngoprek program desain reaktor pake QuickBASIC (iya, QuickBASIC yang itu), atau nyicil ngetik studi literatur. Saya mulai “kerja” setelah makan malam, diawali dengan segelas kopi nescafe classic. Sekitar jam 2 biasanya saya mulai capek, lalu ambil bantal dan tidur sebentar di karpet. Gak sempat lagi untuk ngesot ke atas kasur, selain juga takut ketiduran. Kalau memang belum ingin tidur ya kadang pindah-pindah channel radio nyari siaran bagus biar gak bosan. Sering menclok di Sonora FM sih karena banyak lagu jadul… hahaha.

Suatu pagi saya pernah terbangun dan merasa di mulut kok ada yang aneh. Perasaan saya gak ngileran deh. Setelah ngusap pake tangan… lho kok darah. Jebul mimisan. Sempet kaget dan takut sih, tapi setelah tanya teman yang anak Kedokteran katanya itu “cuma” karena stress atau kedinginan aja kok. Bukan masalah serius, lagipula mimisannya sudah berhenti.

Kebiasaan itu berlangsung sampai skripsi saya kelar – saya harus ngelarin skripsi dalam waktu kurang dari 6 bulan karena dapat rejeki beasiswa double degree ke Belanda. Kalau gak kelar ya gak jadi pergi. Ya sudah hajar ajalah. Tidur seadanya, makan seperlunya. Saya masih ingat waktu itu pendadaran skripsi pagi hari, lanjut ujian komprehensif sore harinya. Ujian kompre ini bahannya dari awal sampai akhir kuliah, berupa pilihan ganda sejumlah 200 soal kalo ndak salah. Malamnya saya makan kwetiaw goreng di sebuah lesehan di Jalan Kaliurang sampai kenyang kemudian pulang mandi dan tidur. Lega.

Pagi harinya, saya terbangun dengan kepala pusing dan badan meriang. Sepertinya demam. Saya coba makan roti trus gak lama kemudian muntah-muntah. Minum air juga keluar lagi. Sorenya saya minta tolong teman untuk membelikan makan. Dia bilang kalau masih gak bisa makan mending ke rumah sakit aja. Saya malas ke rumah sakit… nanti siapa yang nungguin, siapa yang bayarin, saya gak mau ngerepotin orang tua.

Besoknya ternyata keadaan gak membaik. Salah satu teman sekelas yang punya mobil menjemput saya ke kost dan mengantar saya ke RS Panti Rapih. Saya gak gitu ingat gimana detilnya, tapi sepertinya saya masuk UGD dan gak lama kemudian masuk bangsal yang isinya 4 orang dan langsung diinfus. Ternyata kata dokter saya kena maag akut dan radang lambung, kemungkinan karena makannya gak teratur, makan gak sehat, dan kebanyakan ngopi. Well.

Saya diopname 4 hari di rumah sakit, dan teman-teman sekelas saya patungan untuk bayarin biaya rumah sakit. Huhuhu terharu. Mereka yang antar jemput bahkan jagain tiap hari dan ambilin baju dari kost. Saya bahkan sama sekali gak ngabarin orang tua karena takut merepotkan. Ya setelah keluar dari rumah sakit baru saya ngabarin bapak dan tentu saja dimarahin.

Setelah itu rasanya lamaaaaaaaaaaa sekali saya gak ngopi nescafe classic. Waktu masih kerja di Jogja kadang lemburnya di kafe jadi minumnya espresso atau americano kafe, atau kalau lembur di kos biasanya tanpa kopi. Pindah kerja ke Serpong, jarang ngopi karena jarang lembur sampai pagi hahaha.

Anyway…

Kenangan ini tiba-tiba datang karena malam ini saya sedang memutuskan untuk begadang ngerjain tugas, dan rasanya kok merasakan adrenalin yang sama… momen di mana sebenarnya lelah tapi harus berpacu dengan waktu, dan memaksa otak yang terbatas ini melakukan tugasnya dengan baik.

NB: ini bukan iklan, bukan pula postingan berbayar. Meskipun saya akan senang juga sih kalo nescafe mau berbaik hati ngirimin paket kopi XD

Sampahan Pagi

Hello. Sudah sebulan lebih gak apdet blog padahal ya banyak yang mau diceritakan. Sekarang mau nyeritain yang remeh-remeh aja deh, namanya juga blog curhat. (emang kapan pernah cerita serius)

Jadi, kemarin sebelum tidur saya berniat bangun pagi dan berangkat ke kampus sebelum jam 9, harapannya biar bisa ke perpus dulu buat laptopan ngerjain tugas – ada tiga tugas yang semuanya harus dikumpulkan hari Jumat ini dan sesungguhnya saya bingung gimana cara nyelesein semuanya.

Saya berhasil bangun jam 5 pagi, tapi kemudian ketiduran lagi dan baru bener-bener bangun jam 7.30. Saya bergegas ke dapur bikin wedang jahe lemon madu sama masak nasgor buat bekal makan siang, juga sekalian bikin sarapan granola + yoghurt. Waktu mau sarapan saya liat di luar jendela kok ada tletik tletik putih turun dari langit. Ngecek ramalan cuaca, oh lagi sleeting. Oke. Lho kok sleetingnya deras dan padat, ini kayaknya salju. Ternyata iya.

Sekitar jam 8.30 saya sudah selesai mandi dan pilih-pilih baju *halah* karena hari ini rencananya akan di luar rumah seharian. Saya pake atasan kaos dan sweater serta bawahan thermal legging, dan jins. Karena habis turun salju pasti becek dan kayaknya akan seharian hujan maka saya pake ankle boots yang kayaknya sih tahan air. Kayaknya. Setelah emosi masuk-masukin barang ke dalam ransel dan akhirnya muat (harus bawa laptop, charger, kertas oret-oretan, mouse wireless, kotak bekal isi nasgor, plastik isi sandwich dan biskuit, mug buat ngopi, payung, dan botol minum), saya pun keluar rumah dengan rada gembira.

((( rada gembira )))

Keluar gedung, saljunya sudah rada berganti dan sekarang mulai turun butiran es kecil-kecil. Salju yang sudah turun juga mulai mencair, menciptakan kebecekan di mana-mana. Lalu ternyata belum sampai gerbang asrama kok rasanya jempol kaki saya basah. Hadeh. Sepertinya boots yang ini ndak tahan air deh, bukan karena bahannya tapi karena di bagian depan bagia yang dijahit biar kelihatan lucu tapi ternyata bikin merembes.

Balik lagi ke kamar, kali ini bingung karena thermal legging dan kaos kaki sudah ikutan basah. Harus pake boots satunya yang lebih tinggi dan memang waterproof nih, pikir saya. Tapi kalo pake boots yang itu gak bisa pake jins karena jins saya bukan potongan skinny (demikian juga dengan betis saya) jadi ndak akan muat dimasukin ke boots.

Ganti lagi, celana kain + thermal legging.

Waduh lumayan sesek juga ternyata kalo didobel gini soalnya celana kain saya lumayan full pressed body, dan lagipula warna celananya ndak matching sama warna boots. Halahbanget.

Lepas lagi.

Terakhir nih, akhirnya memutuskan pake thermal legging aja sama rok mini. Atasan tetep kaos sama sweater. Setelah pake syal lalu pake jaket yang tahan air, saya mau pake kupluk biar gak dingin, tapi rasanya jadi rempong dan engap (?) banget. Marah-marah lagi.

Huft.

Kupluknya dilepas. Bodo amat. Kesal. Berangkat aja deh, sudah jam setengah sepuluh. Akhirnya saya sampai kampus jam 10.15 dan yang tadinya berencana untuk nyicil tugas sambil nunggu kuliah jam 11 akhirnya jadi nongkrong sambil ngeblog aja biar gak marah-marah.

Sekian.

Ujian Hari Terakhir

AKHIRNYA MASA UJIAN BERAKHIR

setelah siksaan selama 2 minggu (tidak termasuk masa persiapan), akhirnya hari ini ujian habis juga. Semester satu ini saya ambil 4 mata kuliah yang skor totalnya dibagi antara tugas (assignment) dan ujian akhir (final exam). Saya kudu ngucapin terimakasih kepada admin kampus yang membuatkan jadwal ujian dengan begitu cantik; minggu pertama saya dapat ujian di hari Rabu dan Jumat sedangkan minggu kedua hari Senin dan Rabu. Waktu jadwal ujian keluar saya legaaaaa banget karena gak ada ujian yang dijadwalkan dua hari berturut-turut atau bahkan beberapa ujian dalam waktu sehari.

Pernah lho waktu kuliah di UGM dulu saya dapat ujian sehari 3 mata kuliah. Sudah lupa mata kuliah apa dan dapat nilai apa, saya sampai sekarang masih bingung juga gimana caranya dulu kok bisa survive sampe lulus.

Anyway. S1 saya dulu jurusan Teknik Kimia, dan sekarang ambil Teknik Material. Bagi saya ini bidang yang baru banget – pengetahuan saya soal teknik material mungkin cuma 5 persen, itu juga karena kerjaan yang adalah penelitian di bidang material. Sudah sejak lama saya pengin kuliah S2, dan melihat gimana berantakannya cara saya belajar selama S1 dulu – baik yang di Jogja maupun yang di Belanda – saya niatin mau daftar kuliah S2 dan berjanji kalau dapat kesempatan sekolah lagi saya akan berusaha serius belajar.

And I did. At least I tried. Sejak sebelum berangkat saya mulai tanya-tanya ke teman di kantor sebaiknya saya nyicil baca buku apa atau belajar apa yang kira-kira nanti bisa jadi dasar sehingga nantinya di kelas saya gak bengong-bengong amat. Jadi, selama lebih dari satu semester sebelum berangkat kuliah saya sudah ngumpulin buku soal teknik material dan membaca hal-hal dasar seperti fisika zat padat, ilmu material dasar, kristalografi, dll. Lumayan lah.

Sampai di sini… Tetep bengong di kelas. Mau seserius apapun saya memperhatikan dosen mengajar di kelas, rasanya masih sulit nangkep pelajaran. Jadilah saya harus ngulang belajar di rumah; itu juga belum tentu langsung bisa. Tapi gak papa. Namanya juga perjuangan.

Menjelang ujian, saya berusaha mempersiapkan diri lebih awal sejak perkuliahan berakhir pada minggu ketiga bulan Desember. Saat musim liburan itulah saya bikin catatan kecil-kecil dan ringkasan perkuliahan agar memudahkan saya untuk belajar tanpa harus buka laptop nyari-nyari topik ini ada di slide presentasi yang mana ya. Saya bahkan sudah bikin jadwal belajar setiap hari – saya pilah agar topik yang mirip dari dosen yang berbeda bisa dipelajari bareng untuk menghemat waktu, dan membayangkan urutan topik yang sistematis, mulai dari ilmu dasar (basic science) sampai aplikasinya (engineering).

Wacana tinggal wacana.

Yang pertama, target saya ndak realistis. Sehari kelar dua topik itu ambisius sekali. Btw, mata kuliah saya kan ada empat ya. Tiga mata kuliah diampu oleh MASING-MASING empat dosen, dan satu mata kuliah lagi diampu oleh tiga dosen. Dosen-dosen tersebut mengajarkan topik yang berbeda, sehingga total kami harus mempelajari 15 topik bahasan yang sebenarnya satu sama lain berkaitan tapi toh tetap tidak bisa meninggakan yang satu dan hanya fokus ke topik satunya.

Jadi ya begitulah. Dua hari pertama stress karena target gak tercapai, akhirnya di hari ketiga saya mulai rada selow. Belajar jadi lebih menyenangkan sampai kemudian saya ((( harus ))) pergi jalan-jalan ke Belanda untuk merayakan natal bersama teman-teman yang ada di sana. Pulang dari Belanda 3 hari setelah natal, saya punya waktu sehari penuh untuk istirahat dan nyicil belajar lagi sebelum saya dan teman-teman pergi ke York untuk merayakan malam pergantian tahun.

Saat pulang dari Belanda saya kena flu; sepertinya ketularan dari anaknya teman saat saya sedang berkunjung ke sana. Di York juga masih batuk pilek sampai pulang ke Manchester, dan rasanya makin parah aja sampe sekitar seminggu baru batuk saya rada mendingan, umbelnya sudah gak sampai bikin megap-megap karena hidung tersumbat, dan gak lagi pengin nangis tiap kali berusaha karena bukannya ngerti tapi malah pusing. Perjuangan yang berat. Halah.

Seminggu sebelum masuk exam week saya jadi rajin menyambangi perpustakaan dan learning commons untuk belajar. Punya meja belajar yang jaraknya cuma satu setengah meter dari kasur itu sungguhlah menggoda sekali, makanya saya relakan waktu tidur nyenyak saya untuk bangun pagi dan pergi ke learning commons, tempat belajar yang buka 24 jam. Kenapa harus pagi-pagi? PC kampus di learning commons itu jumlahnya ratusan, tapi kalau lagi musim ujian kayak ini datang ke sana jam 9 pagi sudah ndak akan dapat PC. Mau buka laptop sendiri juga di mana, wong meja-meja belajar pun sudah pada penuh. Brutal juga mahasiswa sini ternyata kalau urusan belajar.

Menghadapi ujian, saya merasa sebenarnya saya ini walaupun ndak pinter-pinter amat tapi ya ndak bodoh. Dari situ saya belajar untuk lebih bisa berserah dan percaya bahwa Tuhan pasti akan memberi yang terbaik untuk saya. Tapi ya… tetep aja. Empat kali ujian, pada keempat-empatnya pula saya  kena panik attack beberapa jam menjelang ujian. Rasanya gak karuan, gak bisa mikir tapi takut kalau gak belajar nanti gak bisa jawab. Blingsatan sendiri sambil mencoba mengambil napas panjang karena tiba-tiba jantung saya berdetak sangat kencang dan napas jadi pendek-pendek. Melelahkan.

Tapi ya sudah. Semua sudah berlalu. Saya cukup puas dengan apa yang saya kerjakan di lembar jawaban ujian, meskipun saya tahu pasti beberapa pertanyaan saya jawab dengan nggamblehisme yang teramat dahsyat. Semoga gak malu-maluin amat lah. Doakan nilai saya cukup untuk lulus ya!

Ucapan terimakasih saya sampaikan yang pertama untuk suami saya yang selalu standby tiap kali saya minta dibangunin jam lima pagi (jam 12 siang di Jakarta, jadi beliau nelponnya pas di sana lagi jam istirahat) dan selalu menghibur saya di tengah kepanikan. Juga untuk Wenny yang kadang saya mintain tolong buat bangunin tapi seringnya saya udah bangun duluan dan kadang juga malah Wenny kelupaan buat bangunin 😆 Terimakasih buat bapak, yang mulai khawatir dan kasihan melihat anak perempuan satu-satunya menyiksa diri sendiri dengan mengubur diri seharian di perpus dari pagi sampai malam, dan yang selalu mengirimkan doa dan kata-kata motivasi lewat whatsapp. Halah.

Kayak skripsi aja ada ucapan terimakasih. Ya pokoknya gitu. Pulang ujian tadi saya langsung bikin ramyun rebus isi sawi dan telur. Habis makan ramyun saya yutuban nonton video anjing lucu, lalu bikin teh ijo dan sambil menunggu tehnya tidak terlalu panas untuk bisa diminum saya ngabisin eskrim haagen dazs rasa strawberry cheesecake yang tinggal seperempat di freezer. Halah modus.

Gitu dulu ya. Saya mau tidur dulu sampai hari Minggu. Senin sudah mulai kuliah lagi, semester dua. Ciao!

Donor Darah di Manchester

Ciee yang lagi rajin update blog.

Kali ini mau cerita tentang pengalaman donor darah. Sejak beberapa tahun terakhir saya rutin donor darah tiap 3 bulan sekali, baik waktu masih di Jogja maupun sesudah hijrah ke Serpong. Kalau di Jogja saya biasanya nyari-nyari ada event donor darah di mana, sejak tinggal di Serpong lebih enak kalau mau donor karena tiap 3 bulan sekali manajemen komplek Puspiptek selalu mengadakan donor darah, bekerjasama dengan PMI Kab. Tangerang atau Kota Tangerang Selatan.

Terakhir kali saya donor itu akhir Agustus 2016, dua minggu sebelum cuti panjang. Setelah saya hitung-hitung, harusnya akhir November saya donor darah lagi. Saya pun mencari informasi di mana bisa melakukan donor darah di Manchester. Ketemulah website blood.co.uk, salah satu cabang kegiatan NHS Blood and Transplant (NHSBT). NHS adalah singkatan dari National Health Service, mungkin seperti BPJS-nya Kemenkes gitu deh. Nah NHSBT ini adalah salah satu bagian dari NHS yang – seperti namanya – ngurusin donor darah, donor organ tubuh sampai stem cell, dan tentu saja transfusi dan transplantasi.

Saya merasa beruntung sekali bahwa di dekat kampus ada salah satu cabang besar NHSBT. Setelah registrasi di website blood.co.uk dan browsing info di situ saya baru tahu bahwa untuk wanita donor darah dianjurkan setiap 4 bulan sekali, bukan 3 bulan sekali seperti yang selama ini saya tahu. Mungkin pertimbangannya karena wanita mengalami menstruasi kali ya, jadi yah jaga-jaga jangan sampai anemia. Untuk laki-laki sih boleh 3 bulan sekali. Setelah dhiitung-hitung ternyata kok baru bisa donor awal Desember. Di website ada juga fitur booking appointment untuk donor darah, biar kita gak usah kelamaan ngantri mungkin. NHSBT di Manchester buka dari pagi sampai malam, jadi kalau mau donor waktunya bisa lebih fleksibel.

Saya booking untuk tanggal 6 Desember; tak diduga dan dinyana (halah) beberapa hari kemudian saya dapat kiriman surat yang isinya formulir yang berisi check list riwayat kesehatan dan identitas diri, seperti yang biasanya kita isi waktu mau donor itu lho. Persis kayak gitu. Tanggal 6 sore pulang kuliah saya ke NHSBT bawa formulir yang sudah diisi kemudian mendaftar ke resepsionis. Bapak resepsionis yang ramah bilang karena ini kali pertama saya donor darah di NHSBT maka saya harus baca booklet tentang apa yang harus disiapkan menjelang donor darah. Salah satunya harus makan dan minum; tidak boleh ya donor darah dalam kondisi perut yang kosong apalagi kurang tidur. Di ruang tunggu NHSBT ada galon air minum dan makanan ringan serta buah-buahan seperti apel, pisang, dll. Di dinding ada tempelan-tempelan yang berisi anjuran bahwa calon pendonor sebaiknya minum air putih minimal setengah liter sebelum donor, istirahat dulu di ruang tunggu selama minimal 30 menit, dan kalau mau boleh makan makanan ringan yang disediakan.

Giliran saya dipanggil untuk screening awal. Seperti biasa ujung jari telunjuk dijepret jarum untuk test Hb sambil ditanya-tanya apakah dalam waktu 6 bulan terakhir pernah ke luar negeri, dll. Ternyata untuk wilayah Indonesia, kalau pernah pergi ke daerah di luar Jawa dan Bali dalam waktu 6 bulan terakhir tidak boleh donor karena dikhawatirkan membawa penyakit malaria/zika/chikungunya. Wew. Untung saya cuma beredar di sekitar Jawa dan Bali aja sih. Lalu ngomong-ngomong test Hb nya manual, darahnya ditetesin di cairan entah apa dan dilihat seberapa cepat dia tenggelam. Komentar ibu perawat, darah saya kental tapi zat besinya kurang, jadi aja rada ngambang dan lambat tenggelamnya. Tapi masih memenuhi syarat untuk donor kok.

Setelah screening selesai, saya diminta masuk ke ruang donor dan bersiap-siap di kursi yang telah disediakan. Iya, donornya gak tidur kayak kalo donor di PMI gitu, tapi duduk di kursi yang sandarannya dibuat agak rebah sekitar 45 derajat. Bagian kaki juga agak ditinggiin, jadi berasa kayak lagi di dokter gigi gitu. Perawatnya ngetes lengan saya, mana kira-kira nadinya yang lebih besar. Dipilihlah lengan sebelah kanan. Sambil lengan saya dibersihkan pake alkohol, saya bertanya kalo di sini berapa banyak darahnya diambil.

470 ml sodara-sodara. Hampir setengah liter.

Biasanya donor di PMI saya cuma diambil 350 ml lho. Saya tanya kenapa di Indonesia diambilnya 350 ml, perawatnya juga gak tahu karena setahu dia di Australia dan Amerika ya 470 ml juga diambilnya. Begitulah. Jarum sudah dimasukkan, dan darah mulai mengalir keluar. Saya ndak merasa apa-apa sampai kemudian mesin penyedot darah di samping kursi bunyi bip-bip-bip. Perawat datang, bilang kalau aliran darah saya rada lambat – kemungkinan karena darahnya rada kental. Disarankan untuk meregangkan dan menggenggam jari – jari saya sendiri, bukan jari mas-mas di kursi sebelah – pelan-pelan, dan mengangkat kaki sedikit-sedikit untuk melancarkan aliran darah. Setelah dua kali lagi mesinnya bunyi bip-bip proses pengambilan darah pun selesai. Selama pengambilan darah perawatnya telaten sekali, sebentar-sebentar dia datang dan bertanya apa saya baik-baik saja. Setelah jarum diambil dan perban dipasang, saya disuruh pergi ke refreshment room untuk istirahat. Ransel dan coat yang saya gantung sudah dibawakan oleh salah satu perawat, katanya saya gak boleh ngangkat berat-berat dulu. Hih. Manja amat 😆

Di refreshment room ada mas Richard, dengan name tag bertuliskan “Donor Carer”. Mas Richard bertugas untuk memastikan pendonor gak kenapa-napa setelah donor. Begitu duduk saya langsung ditawari mau minum apa. Di situ ada jus lemon, cokelat panas, kopi, teh, air putih, dll. Saya mau jus lemon aja. Mas Richard membawakan segelas jus lemon dan satu keranjang berisi kudapan seperti oat bar, flapjack, macaron, keripik, kacang, dll. Keranjangnya didekatkan ke saya biar tangan saya ndak usah terlalu jauh meraih jajanan-jajanan lucu itu. Dia ngajak ngobrol dan bertanya saya pusing atau tidak, mual atau tidak, dan memberi saran kira-kira apa yang harus dilakukan setelah ini agar badan tetap fit. Dia kasih juga satu booklet kecil berisi nomor yang bisa dihubungi kalau nanti ada apa-apa, misalnya mendadak demam atau luka bekas suntikan masih ngilu setelah 1×24 jam. Setelah nambah segelas jus lemon dan ngemil dua bungkus oat bar saya pun pamit pulang.

Gedung NHSBT ndak terlalu jauh dari asrama, paling jalan kaki 10 menit juga sampai. Sampai kamar saya langsung minum banyak-banyak kemudian ngesot ke kasur. Ketiduran sejam. Bangun tidur jam 7 malam saya langsung ke dapur bikin indomie rebus telor. Rasanya lapaaaaaaarrrrrr banget. Habis makan saya langsung ngantuk dan tidur lagi. Paginya badan saya rasanya aneh. Rada melayang gitu. Entah apa efek donor kemarin masih tersisa atau gimana, yang jelas saya bangun-bangun kelaparan dan langsung sarapan. Siang di kampus juga rasanya masih rada gak enak. Gak jadi jogging deh. Saya langsung pulang istirahat lagi. Bekas suntikan di lengan sih sudah gak kenapa-napa, tapi badan rasanya masih gak enak. Setelah tidur sore rasanya jauh lebih baik. Mungkin memang efek darah yang diambil lebih banyak dari biasanya, jadi waktu pemulihannya juga lebih lama.

Dua hari setelah donor saya dapat SMS dari NHSBT yang mengucapkan terimakasih, dan gak sampai dua minggu kemudian datang SMS yang mengabarkan bahwa darah yang saya donorkan sudah disumbangkan ke Fairfield General Hospital di Bury, gak jauh dari Kodya Manchester. It feels nice to know that you’ve done something useful to others.

SMS dari NHSBT

SMS dari NHSBT

Kemarin datang lagi surat dari NHSBT, berisi lagi-lagi ucapan terimakasih karena saya sudah donor, dan di dalamnya ada kartu donor yang berisi nomor anggota dan golongan darah saya (A+). NHSBT juga ngasih kenang-kenangan berupa gantungan kunci yang ada tulisannya blood.co.uk dan A+. It was cute!

Souvenir dari NHSBT

Souvenir dari NHSBT

Jadwal donor saya berikutnya adalah akhir Februari, tapi mungkin bakal mundur ke awal Maret karena biasanya akhir bulan saya lagi dapet. Halah TMI. Oke gaes. Kalian yang selama ini sudah rutin donor tetap lakukan ya, dan yang belum pernah donor ayok mulailah rutin donor darah. Mungkin gesture yang kecil itu bisa menyelamatkan nyawa seseorang.