Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Category Archives: travel

Balada Paspor Biru PNS

Akhir tahun lalu saya dapat undangan untuk mengikuti kegiatan workshop XAS dan XANES di Synchotron Light Research Institute (SLRI) Thailand, selain itu abstrak penelitian saya terpilih menjadi peserta yang dihadiahi sponsorship berupa biaya transportasi PP Jakarta – Nakhon Ratchasima dan akomodasi selama workshop 5 hari tersebut. Saat saya menghadap manajemen kantor untuk minta tandatangan surat ijin, jantung saya jatuh ke lantai saat diberitahu bahwa permohonan ijin saya ditolak karena saya tidak punya paspor biru.

“Pak, kan ini saya disponsori SLRI jadi tidak minta dana dari kantor?”, demikian argumen saya.

Pihak manajemen menjelaskan bahwa ijin keluar negeri dalam rangka dinas (terlepas dari siapa sponsornya) mewajibkan pegawai yang bersangkutan memiliki paspor dinas (paspor biru), surat penugasan resmi dari Sekretariat Negara serta exit permit (stiker yang ditempel di paspor, kayak visa gitu) dari Kementerian Luar Negeri, padahal untuk mendapatkannya itu jalurnya panjang sekali. Waktu itu saya cuma punya waktu tiga hari sebelum berangkat karena memang surat undangannya baru sampai kotak masuk surel. Hati saya nyaris patah, dan saya pun menumpahkan kekesalan ke mbak-mbak guardian kantor Sekretariat Negara. Dia tanya “lha kenapa marahnya sama Setneg e.”

Trivia: Apa itu paspor biru, SP Setneg, dan exit permit?

  • Paspor biru adalah paspor untuk pegawai pemerintah (official passport) yang pergi ke luar negeri dalam rangka dinas. Kenapa dinamai paspor biru? Karena sampulnya warna biru. Halah. (kegaringan level berapa ini). PNS yang keluar Indonesia untuk jalan-jalan tidak boleh pakai paspor biru. Kalau sudah di luar Indonesia baru boleh

  • SP Setneg adalah Surat Penugasan yang dikeluarkan oleh Kementerian Sekretariat Negara (mbok udahan mbak garingnya) yang berisi detail penugasan kita, misalnya keluar negeri untuk sekolah, training, fellowship, dll serta durasinya. Khusus untuk PNS tugas belajar, SP Setneg ini adalah syarat mutlak penyetaraan ijazah. Kalau gak ada SP Setneg, biarpun mau kuliah ke luar angkasa ya ijazahnya gak akan diakui karena dianggap tugas belajarnya ilegal

  • Exit Permit adalah stiker yang ditempel di paspor, dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri sebagai tanda bahwa kita sudah memenuhi syarat administratif tugas kedinasan untuk melangkah melewati gerbang imigrasi

Setelah saya pikir… ya itulah birokrasi. Kadang kita jadi generasi yang mewarisi hal-hal yang kita sendiri gak tahu bagaimana asal-usulnya. Mungkin orang Setneg bingung juga kenapa mereka harus ngurusin perjalanan dinas luar negeri PNS se-Indonesia. Iya, PNS dari seluruh penjuru negeri ini. Bayangin berapa berkas yang harus mereka validasi dan berapa surat yang harus mereka rilis per harinya.

Oke. Nganu. Saya tadi mau cerita apa ya.

Setelah yakin mau kuliah di luar negeri, saya langsung membuat daftar apa-apa saja yang perlu disiapkan. Bukan soal baju atau sepatu tentunya, tapi lebih kepada persyaratan administrasi. Jujur aja sebagai orang yang biasanya menentang birokrasi rempong saya tetep aja ngerasa gugup dan sedikit panik karena kali ini tidak dapat menghindar.

*menghela pedati panjang*

Langkah pertama yang saya lakukan adalah telpon ke kantor pusat instansi tentang syarat pembuatan paspor. Beliau pun minta alamat surel saya dan berjanji akan mengirimkan detailnya. Melalui surel, mas-mas Biro Umum yang ramah itu memberikan info yang cukup jelas disertai nomor telepon beliau kalau sewaktu-waktu perlu info tambahan. Di instansi saya, syarat-syaratnya seperti ini:

  1. Surat permohonan dari satuan kerja >> ditandatangani kepala kantor
  2. Undangan atau LoA. Lampirkan juga surat dari sponsor >> saya lampirkan LoA dari kampus dan LoG dari LPDP
  3. Daftar Riwayat Hidup perjalanan dinas LN >> ditandatangani kepala kantor dan kepala biro kerjasama
  4. Passport (bila sudah mempunyai paspor dinas sebelumnya) >> not applicable
  5. Formulir Passport / Exit Permit yang sudah diisi >> template Kemenlu
  6. Foto Ukuran 4×6, 4 Lembar, blazer hitam, background putih, tanpa kacamata, wajah tidak tertutup poni, telinga kelihatan, tidak tersenyum lebar, tidak kelihatan gigi, photo natural tidak diedit warna kulit.
  7. Fotokopi kartu pegawai yang sudah dilegalisir >> legalisir dan ttd kepala kantor
  8. Fotokopi KTP >> gak perlu legalisir
  9. SK CPNS/PNS >> fotokopi aja, gak perlu legalisir
  10. Surat Perjanjian (untuk dinas lebih dari 3 bulan) >> bermeterai, ditandatangani kepala biro kerjasama

Setelah mendapatkan daftar tersebut, saya menemui kepala kantor (pejabat eselon II) untuk minta ijin memulai proses administrasi tugas belajar sekaligus meminta surat pengantar. Bersama dengan berkas-berkas lainnya surat pengantar tersebut saya bawa ke kantor pusat di Gatsu. Berkas asli diberikan kepada Biro Kerjasama untuk dibuatkan surat pengantar ke Setneg, sedangkan fotokopian dan formulir permohonan paspor diberikan kepada Biro Umum untuk dibuatkan surat pengantar ke Kemenlu. Menurut mas-mas Biro Umum, proses pembuatan paspor dinas ini membutuhkan waktu sekitar 20 hari.

Jadi, secara singkat proses perjalanan dinas luar negeri PNS itu seperti ini, di instansi saya lho ya tapi. Mileage may vary.

Undangan –> surat pengantar satker (tanda tangan kepala kantor) –> surat pengantar instansi (tanda tangan kepala biro kerjasama) –> surat penugasan (Setneg) –> Paspor dinas dan exit permit (Kemenlu) –> Visa (Kedutaan) –> perjalanan dinas

SP Setneg untuk saya sudah jadi sekitar 3 minggu dari submit berkas, sedangkan paspor dinas selesai seminggu setelahnya. Di paspor saya belum ditempel stiker exit permit karena masa berlaku exit permit hanya 2 bulan, sedangkan keberangkatan saya masih lebih dari itu. “Nanti saja apply exit permit-nya bulan Juli”, demikian kata mas-mas CS. Hore udah punya paspor biru dan SP Setneg!

Udah cuman mau cerita gitu doang? ENGGAAAAAAAAAKKKKK…

Saya akui reformasi birokrasi yang digaungkan Menpan RB memang sedikit banyak mengubah persepsi saya terhadap kerakusan oknum yang seringkali menyalahgunakan jabatannya untuk memperkaya diri sendiri.

Halah bahasamu mbak, koyok nulis nang koran ae. Baleni!

Saya akui reformasi birokrasi yang digaungkan Menpan RB memang sedikit banyak mengubah persepsi saya yang masih menganggap banyak oknum PNS melakukan pungli, namun proses panjang dan rempong (menurut saya sih panjang dan rempong) ini bukannya tanpa cela, karena ternyata masih ada juga oknum yang membuat saya rada kecewa. Meskipun demikian saya sudah antisipasi dengan melakukan beberapa langkah berikut:

  1. Bikin paspor jangan mepet. Perkirakan hari libur, hari besar, apalagi kalo ngelewatin lebaran.
  2. Cari info sebanyak-banyaknya tentang prosedur pembuatan paspor biru/SP Setneg/Exit permit dari instansi terkait. Terserah, dari website atau dari orang dalam. Cari info lho ya, bukan minta dicaloin.
  3. Cari surat edaran atau info resmi yang memberitahukan bahwa pembuatan berkas-berkas tersebut TIDAK DIPUNGUT BIAYA. Ini penting banget. Oknum manapun kalau dikasih dokumen macam gini gak mungkin bisa berkutik.
  4. Bersikaplah sopan pada para petugas, entah itu petugas perjalanan dinas di level instansi, petugas di Biro KTLN Setneg, atau di Kemenlu. Kadang ada hal yang bikin emosi, tapi usahakan untuk tetep adem biar tidak maramara
  5. Setiap kali menaruh berkas, mintalah tanda terima dan tanyakan kapan kira-kira bisa diambil serta siapa yang dapat dihubungi.
  6. Jangan dibiasakan untuk bertanya “bayar berapa pak/bu?” setelah menyerahkan berkas dan mengambil tanda terima. Lempar senyum termanismu dan ucapkan terimakasih.
  7. Jangan sekali-sekali ngasih duit, meskipun diminta. Prosedur bilang gratis ya gratis. Kalau dipaksa suruh bayar, tanya aturannya di mana dan minta kuitansinya. Kalau dipersulit, lapor ke atasannya atau lakukan prosedur whistleblowing system. Udah diajarin kan? Kalau belum, tanya pak Yuddy. Tuliskan juga di website lapor.go.id
  8. Berdoalah semoga urusanmu dilancarkan 😆

Sudah gitu dulu aja pengalaman saya ngurus paspor biru, semoga berguna terutama buat teman-teman PNS. Huahahaha. Selanjutnya adalah apply exit permit ke Kementerian Luar Negeri dan apply visa UK ke VFS Global. Masih bulan Juli nanti kok, para penggemar harap sabar ya.

Cupz.

P.S: soal undangan workshop ke SLRI Thailand tadi, akhirnya saya berangkat juga pakai surat ijin biasa, bukan dinas. Gak tahu motong cuti apa enggak pokoknya asal gak dihitung bolos. Dihitung bolos juga biarin hihihi

Kopdar Jakarta Piknik di Taman Wisata Angke

Kata Mamski, Kopdar Jakarta itu adalah sekumpulan blogger tim kura-kura hura-hura, sering ngobrol dan kopdar di Jakarta (ya menurut ngana). Kalo kata Dimas, selain ngobrol di online perlu juga berteman di offline persis seperti tagline Kopdar Jakarta:

we’re friends, online | offline.

Dengan semangat kopdar offline (halah) itulah hari Minggu, 31 Januari kemarin Kojak ngadain piknik ke Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk di PIK, ecopark hutan mangrove (bakau). Dengan hanya pengumuman 2 minggu sebelumnya di milis, tercatat ada 18 orang member ikut piknik ini.

Kami janjian kumpul di fX Sudirman pukul 8 pagi. Saya sendiri berangkat dari rumah jam 6 pagi karena takut kesiangan. Eh ternyata kok jam 7 saya sudah sampai di stasiun Kebayoran. Karena masih ada waktu, saya jalan kaki dari stasiun Kebayoran ke fX lewat Pakubuwono. Untung masih pagi jadi udara masih seger dan belum banyak asap knalpot sepanjang jalan. Sekitar jam 9 teman-teman sudah lengkap dan berangkatlah kami ke PIK naik bus Big Bird dari Blue Bird Group yang bagus, adem, dan nyaman dengan pengemudi Bapak Munawar. Bus Big Bird ini AC-nya adem, di dalamnya ada colokan dan tentu saja layar TV yang bisa dipake buat karaokean sepanjang jalan. Selain itu, yang bikin saya senang dari bus ini adalah di setiap kursinya terdapat sabuk pengaman yang kondisinya masih bagus dan nyaman dipakai.

chika CaBBVzwUsAA4p5O

busnya nyaman dan legaaaa

Di Depan Bus Big Bird

di depan bus Big Bird

Perjalanan ke TWA Angke Kapuk di PIK gak makan waktu lama dari Sudirman. Terlalu cepet, malah, padahal kami masih asik karaokean dan menikmati bus Big Bird. Dengan dipandu oleh Adiitoo yang sudah pernah ke TKP, kami memasuki gerbang TWA Angke Kapuk PIK. Tiket masuk sebesar 25 ribu per orang (ditambah tiket untuk kamera sebesar 1,5 juta) dibayari Kojak lho. Kata Chika dananya diambil dari kas Kojak, padahal rasanya saya gak pernah bayar iuran. Hihihi. Terimakasih ya momod mimid Kojak.

tengkyu, Chika!!!

tengkyu, Chika!!!

Kami jalan-jalan keliling hutan sambil ngobrol, makan, foto, curhat, modus, dll. Di salah satu spot kami bikin video untuk kenang-kenangan. Videonya kece deh. Goenrock yang ngarahin, ngambil gambar, dan ngedit. BTW lama juga gak jalan-jalan macem gini. Kalau biasanya kopdar di kafe atau mall, sekali-sekali oke juga ngadain kopdar sekaligus piknik bareng keluarga di tempat ini. Kalau ke sini sampeyan ndak disarankan pake sepatu hak tinggi apalagi stiletto. Bisa kejeglong nanti pas lewat jembatan. Makanan dan minuman bisa dibeli di kantin, atau kalau mau bawa sendiri ya gak papa asal ditaruh di ransel dan ditutupi biar gak ketahuan. #eh

atemalem CaBiJz_UAAAVlum

CaBV97eUcAA3_5P

TWA Angke Kapuk di PIK ini kayaknya dikelola swasta. Perusahaan atau organisasi atau individu bisa mendukung penanaman pohon bakau ini dengan cara menyumbang, kemudian di dekat pohon bakaunya nanti akan dipasang papan berisi nama sponsor. Yang mau bawa anak-anak, tempat ini oke juga kok. Ada playground lucu dan tanah yang lapang untuk anak bermain-main. Sayangnya ya… banyak yang pada buang sampah sembarangan padahal udah disediain banyak tempat sampah. Kalian jangan gitu ya gaes.

sampah

sampah

Puas keliling TWA Angke Kapuk, gerombolan Kojak yang sepertinya sudah kelaparan melipir ke Baywalk Pluit untuk makan siang. Di situ kami makan sambil ngobrol-ngobrol sampai gak terasa sudah jam empat sore. Pak Munawar mengantarkan kami kembali lagi ke fX Sudirman dengan lancar. Di perjalanan pulang mimid Chika ngasih beberapa hadiah lewat kuis-kuisan. Saya menang kuis, dapet handuk! Haha. Momod mimid Kojak kayaknya tahu kalau saya suka malas mandi. Chika juga memberikan hadiah buat keluarga IcitIpul-Hisham yang datang paling awal serta Adiitoo yang sudah berkenan jadi guide.

foodcourt baywalk pluit

foodcourt baywalk pluit

Terimakasih Kopdar Jakarta! Terimakasih Blue Bird Group dan Big Bird! Kapan piknik lagi?

PS: foto-foto diambil dari twitter Kopdar Jakarta dan teman-teman. Video hasta karya Goenrock.

Kapan ke Gili Nanggu Lagi

Lombok!

Saya gak pernah punya impian pengen ke sini sampai beberapa minggu sebelum menikah masnya nyari ide soal kemana kami akan hanimun (ihiy!). Sedari masa kuliah, beliau ini sebenernya hobi mendaki gunung (properti mendaki gunungnya ngalah-ngalahin koleksi sepatu dan lipstik saya), tapi semenjak deployed di Sulawesi Tengah setahun lalu sampai lebaran kemarin sepertinya beliau lagi suka pantai dan snorkeling di laut.

Dermaga Gili Nanggu

Dermaga Gili Nanggu

Jadilah kami nyari daerah mana yang oke buat di-snorkeling-in (wow is that even a word). Pengennya ke luar negeri biar paspornya kepake, tapi di Singapur kok gak ada tempat buat snorkeling. Maldives kejauhan. Raja Ampat juga terlalu jauh dan mahal, Bali terlalu rame, dan akhirnya beliau mengajukan usul ke Lombok. Saya belum pernah ke Lombok dan gak tahu juga di sana ada apa aja, tapi tenang aja… kan ada Google.

Direct flight dari Jogja ke Mataram cuma ada Lion Air jam 17:40 dan kalau pakai flight itu kami akan kemalaman sampai di Mataram, jadi kami memutuskan ambil first flight dari Jogja, stopover di Surabaya, pindah pesawat, kemudian sampai di Mataram sebelum tengah hari.

Rencananya begitu.

Rupanya pesawat dari Surabaya ke Lombok Praya dipindah ke flight berikutnya, jadi tetep aja kami sampai di Mataram sekitar jam 2 WITA. Keluar bandara rasanya aneh… gak ada arrival hall. Langsung atrium besar gitu. minimarket di situ, restoran di situ, loket damri di situ… termasuk abang-abang taksi, travel, dan paket liburan.

Dari bandara ada dua macam tiket bus Damri: 25 ribu ke Mataram dan 35 ribu ke Senggigi. Kami beli tiket ke arah Mataram dan turun di pertigaan Gerung, perjalanan yang ditempuh kurang lebih 30 menit. Dari situ kami lanjut naik angkot berwujud suzuki carry plat kuning ke Pelabuhan Lembar. Angkot gak kelihatan ngetem di pertigaan Gerung, jadi kami nongkrong aja di pinggir jalan nunggu ada angkot lewat. Dari Gerung ke Lembar kira-kira 30 menit juga, dan cuma bayar 10 ribu.

entrance - pelabuhan lembar

entrance – pelabuhan lembar

Btw kalau mau naik taksi langsung dari Bandara ke Pelabuhan Lembar juga bisa, argonya sekitar 150 ribu – kurang lebih segitu juga kalau naik taksi ke Mataram kota.

Dari Pelabuhan Lembar kami sudah dijemput perahu bermotor untuk ke tujuan selanjutnya… Gili Nanggu. Empat puluh lima menit saja dari Pelabuhan Lembar. Di perahu cuma berdua cuy, jadi merasa tajir. Halah.DSC_1177

Gili Nanggu ini adalah sebuah pulau kecil di barat daya Lombok, bersama dengan beberapa gili lainnya. Saking kecilnya, di Gili Nanggu cuma ada satu penginapan yang diberi nama… surprise surprise… Gili Nanggu Cottage & Bungalows. Haha. Cottage ini dimiliki oleh joint venture pengusaha asal Jakarta dan Lombok, sekaligus kepemilikan tanahnya. Jadi ya bisa dibilang pulau ini milik pribadi.

DEMIKIAN JUGA DENGAN PANTAI TEPAT DI DEPAN KAMAR KAMI!

IMG_20151126_095329

Ini pemandangan dari balkon kamar (lantai 2)

Ada tiga jenis kamar di Gili Nanggu Cottage: kamar standar with fan, cottage sea view with fan, dan bungalow with AC. Kami ambil cottage sea view. Cottage-nya didesain seperti rumah Sasaq; lantai atas adalah kamar dengan king size bed dan balkon, sedangkan di lantai bawah ada kamar mandi, kursi panjang, dan hammock yang langsung menghadap laut. Selain cottage, di pulau juga ada saung-saung tempat nongkrong gitu. BTW, bersama dengan kami cuma ada satu pasangan lain yang menginap di cottage paling ujung, pasangan musisi paruh baya dari Swiss yang memang rutin tiap tahun berlibur ke situ selama 4- 5 minggu. Duh enaknya.

IMG_20151126_071206

cottage sea view

Di Lombok matahari terbenam sekitar pukul 18:15 WITA, jadi sore itu kami sedang coba-coba snorkeling di pantai depan kamar (gaya banget ya) sebelum lari ke ujung barat dermaga untuk lihat sunset. Iya, Gili Nanggu itu kecil banget kita cuma perlu jalan kaki 5-10 menit untuk sampai di sisi satunya dan gak sampai setengah jam untuk keliling pulau.

Keesokan harinya kami nyewa perahu bermotor keliling untuk berkunjung ke snorkeling spot pulau-pulau di sekitar Gili Nanggu: Gili Ringgit, Gili Sudak, Gili Kedis, Gili Layar, Gili Tangkong. Di sepanjang jalan masih ada lagi gili-gili yang lain seperti Gili Asahan dan Gili Gede. Buset… udah kayak taman dengan tumbuhan laut, karang, dan ikan berwarna warni dan berbagai bentuk. Kadang cuma diem aja ngapung udah seneng, sambil ngejar-ngejar ikan. Sesekali kepala mecungul buat memastikan berenangnya gak kejauhan dari kapal. Seharian itu matahari bersinar cerah sekali, jadi visibility-nya juga sangat oke. Perahunya pun kami sewa buat berdua doang, berasa orang kaya gitu bisa brenti di satu pulau sepuasnya.

"pantai depan kamar"

“pantai depan kamar”

Saya gak terlalu berani sama air, jadi biasanya gak jauh-jauh juga dari pantai. Pertama kali nyemplung malah nangis karena takut. Sayang sih, karena kalo mau rada jauhan mestinya jauh lebih bagus. Tapi selalu saja seneng liat senyum lebar si mas kalo udah menepi setelah berlalu-lalang snorkeling kesana kemari, berarti yang dilihat emang bagus.

Dari jam 9 pagi bertolak dari dermaga Gili Nanggu, kami baru balik sekitar pukul 4 sore. Balik ke Nanggu masih belum puas snorkelingnya, si mas nyemplung lagi ke pantai depan kamar (duh enak banget yaaaaa di depan kamarnya udah pantai) sedangkan saya langsung mandi dan baca buku sambil berayun-ayun di hammock. Sore hari nunggu sunset tapi sayang rada mendung, jadi kami nongkrong aja main sama dua ekor anjing punya cottage, Gendut dan Bintang.

C360_2015-11-25-05-50-09-306

Bintang, ngeliatin apa kamu nak?

Gendut yang warnanya putih ini pertama kali kenalan berisik banget gonggongin orang, tapi lama-lama jadi caper dan manja. Kalau Bintang emang aslinya pendiam, pemalas dan pasrah mau diapa-apain termasuk diganggu dan digigitin sama Gendut.

Gendut & Bintang

Gendut & Bintang

Oiya, karena ini semacam pulau pribadi dan apa-apa terbatas, jadi ya jangan harap ada fasilitas ala hotel di cottage. Pemanas air pun tak ada. Maklum, pulau ini ditenagai oleh genset, dan airnya pun hasil olahan karena aslinya tentu saja cuma ada air asin. Sinyal yang oke cuma XL dan Telkomsel. Kalau mau makan ya hanya ada restoran hotel yang harganya yah… begitulah. Cuma emang rasanya enak dan porsinya buesaaaarrrr. Beli air mineral juga di situ. Tapi tenang aja, kamarnya super bersih kok, demikian juga dengan perabot dan kamar mandinya. Pegawai dan manajer hotel juga super ramah, bisa ditanyai soal apapun. Kalau berminat nginep sini hubungi aja pak Abdullah di nomor 0812-3797-2299 atau kirim aja email ke reservation@gilinanggu.com.

Pagi harinya kami sempetin nongkrong sebentar di pantai sebelum siap-siap dan check out. Seperti waktu berangkat, pulangnya pun kami diantar oleh pak Akim, boatman Gili Nanggu Cottage dari dermaga sampe Pelabuhan Lembar.

Seusai dari Gili Nanggu kami masih lanjut ke Gili Trawangan sih. Tapi kok rasa-rasanya hati ketinggalan di Gili Nanggu. Pengen ke sana lagi. Hiks.

biar gak hoax

biar gak hoax

Tentang Travelling dan Moving On

Minggu lalu adalah pekan travelling yang aneh buat saya. Jumat malam 15 Mei saya ke Jogja naik kereta trus balik ke Jakarta Selasa 19 Mei naik pesawat. Rabu Kamis ngantor seperti biasa, lalu Kamis malam saya packing buat dinas ke Bandung hari Senin Selasa. Eh kok ya gak nyangka Jumat sore dikabari kalau mbah kung kepundhut. Saya langsung nyari tiket pesawat PP buat hari Sabtu dan Minggu. Jadi aja langsung packing lagi buat hari Sabtunya.

Minggu sore sampai Serpong dari bandara saya langsung ke kantor buat ngelab nyiapin sampel. Baru sampai rumah jam 7 malam dan harus nyiapin materi buat ngelab di Bandung. Plus packingnya.

Meneruskan yang di twitter: belum juga unpack udah harus packing lagi, kayak kalo belum move on udah pacaran lagi.

Ya kan kurang lebihnya gitu. Beban yang kemarin aja mungkin belum dibereskan, yang masih kotor belum dibersihkan. Remah-remah sisa jajanan dan bungkus permen masih terserak di tas. Botol sabun dan shampoo belum diisi ulang. Trus harus ngisi sama baju, alat mandi dan handuk bersih buat perjalanan berikutnya.

Gak masalah, karena kadang kita gak bisa nolak perintah dinas dari atasan. Apalagi kalau memang dinasnya bakal berguna buat karir dan masa depan, kenapa tidak? Masalah packing dan unpacking kan cuma bagian dari gambar besarnya yang memang harus disiapkan.

Pertama-tama ngalamin travelling back to back gitu pasti repot. Bongkar ransel dan harus mengingat-ingat kemarin bawa apa aja dan besok harus bawa aja. Kalau sudah dua tiga kali bisa disiasati dengan pake ransel cadangan, kalau udah bener-bener malas unpack dan repack di ransel yang sama. Baju kotor disisihkan dulu di tempatnya, botol sabun dan shampoo diisi ulang, siapin baju dan handuk bersih dan masukkan di ransel satunya. Beban jadi lebih ringan dan perjalanan berikutnya bisa bawa ransel yang lebih rapi karena disiapkan dengan tidak terburu-buru.

Begitu.

Tapi btw, ini analogi macam apa sih. Jangan ditiru.

Piknik Akhir Pekan

Minggu lalu mb Wenny tanya, liburan Mayday ada rencana apa. Saya sih belom ada rencana apa-apa, tapi kok rasanya garing kalo gak kemana-mana. Udah tiap wiken kayak gitu pun. Beliau ngajak piknik ke Gunung Padang, tapi saya pas lagi gak ada budget dan gajian juga telat jadi terpaksalah saya tolak tawarannya.

Kamis malam sebelum longwiken saya terpikir buat sepedaan rada jauh karena sejak ambil sepeda ke Karawaci itu kok rasanya belom pernah roadtrip jauh. Biasanya wiken saya cuma sepedaan ke BSD situ, yah paling jauh jaraknya cuma 15 km lah udah total pulang pergi. Awalnya pengen main ke rumah Pakde Mbilung di Salabenda, tapi lihat rute dan jarak kok rasanya awang-awangen. Sekitar 25 km dari rumah, gitu. Yasudah saya putuskan mau nyoba sepedaan ke Bintaro dulu aja deh yang (sepertinya) treknya gampang dan gak sejauh kalau mau ke Salabenda. Paling 30-an km pulang pergi.

Saya keluar dari rumah sekitar jam setengah enam, nunggu langit rada terang dulu karena lampu sepeda lagi mati dan belom sempat benerin. Di punggung bertengger ransel baru hadiah ulang taun berisi pompa sepeda, handuk kecil, sunblock SPF30, sisir, dompet, dan gembok sepeda. Saya berangkat tanpa sarapan berat, cuma makan satu slice roti tawar gandum diolesi madu. Semalam saya nyari rute di google maps dan menggalau gara-gara gak nemu rute yang pas.

Alternatif 1: Lewat depan vila Pamulang belok ke Pamulang 2 lalu lewat Nusa Indah lanjut Sudimara dan nembus di Bintaro sektor 7. Tapi… depan vila Pamulang itu tanjakannya serem banget. Arah Sudimara juga tanjakannya aduhay.

Alternatif 2: Lewat viktor dan Kencana Loka nyeberang tol ke arah Pondok Aren nanti sampai Sudimara dan nembus di Bintaro sektor 9. Tapi itu rada muter, biarpun treknya lumayan.

Alternatif 3: Lewat Alam Sutra nembus ke Graha Raya arah Ciledug tapi belok ke Bintaro sektor 9. Yang ini treknya super enak, rapi, dan aspalannya bagus. Tapiiii.. ini muternya gak kira-kira.

Saya akhirnya pilih alternatif 2, tapi sampe Viktor saya baru tahu kalau di Kencana Loka ada jalan tembus ke Ciater Timur. Baiklah saya nyari rute lewat jalan kampung dan sampai juga di jalan raya Ciater. Oke juga. Perjalanan dilanjutkan lewat depan Serpong Green Park (hai, Fany, mas Yudis dan Aru!) dan Nusa Indah (hai, Dilla Kepikcantik!) sampe stasiun Sudimara. Dari Sudimara saya sudah ndak familiar sama jalannya, tapi manut googlemaps saya harusnya bisa sampe ke Bintaro sektor 7 lewat Puri dan Palem Indah. Di rute keberangkatan ini saya gak gitu ngerasa capek; sempat sih beberapa kali berhenti karena pengen minum. Nemu beberapa tanjakan landai yang panjang tapi ya gak sampe nuntun sepeda. Takjub juga sama stamina padahal beberapa minggu gak banyak olahraga selain yoga aja di rumah.

Tanpa nyasar saya sampai di Bintaro sektor 7, tepatnya di pertigaan dekat Ace Hardware dan Pasar Modern Bintaro. Perjalanan saya lanjutkan ke sektor 5, membangunkan adek saya yang ternyata baru tidur habis subuh setelah karaoke dan PS-an sama teman-temannya. Hahaha sori Bro. Dari sektor 5 saya ke sektor 2, mampir ke rumah Priska & Oscar. Bocah-bocah lucu, Tiana dan Arya, sedang pada di rumah mau sarapan. Saya gak lama di situ karena masih harus pulang dan keburu ngantuk.

Yha. Betul juga, pulangnya gowes pelan-pelan karena sudah rada ngantuk. Dari sektor 2 saya pulang lewat Menjangan dan McD prapatan Duren, lanjut ke arah Sudimara dan kembali via Nusa Indah. Saya gak ambil rute lewat jalan raya Ciater tapi lewat Pamulang 2. Lho kayak rute alternatif 1? Iya tanjakannya ngeri kalo pas berangkat, tapi pas pulang sepertinya rada landai. SEPERTINYA.

Di deket vila Dago Tol kalo dari Nusa Indah ada tanjakan pendek tapi kaki saya sudah ngilu jadi terpaksa turun nuntun sepeda. Gak papa lah. Setelah lewat jalan rata yang mulus di depan Cendana Residence (halo Rere, Abang, dan Embun!) mata saya sudah mulai berkunang-kunang, jadi mampir dulu ke Alfamart beli silperkuin dark coklat. Gulanya bikin badan rada seger tapi ternyata habis itu blood sugar spike jadi aja malah puyeng. Jadi ya kalau cape sepedaan jauh kan emang ga boleh makan berat di tengah jalan, tapi sebaiknya sediakan roti yang manis-manis dikit aja, jangan yang pure sugar macem coklat gini.

Di depan vila pamulang tanjakannya saya kira landai, tapi karena panjang jadinya capek juga. Saya berhenti di tengah jalan, turun dan nuntun sepedah sampe perempatan. Hihihi. Setelah itu ya perjalanan lancar aja sampe rumah. Gak kayak perjalanan dari Tangerang dulu yang sampe bikin ngos-ngosan, kali ini cuma kaki aja yang pegel. Setelah mandi, pake counterpain dan tidur ampe sore rasanya udah gak njarem lagi.

Okesip. Kapan-kapan ke Salabenda deh.