Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Category Archives: travel

Kembali Ke Leptop

Resminya sih saya masih boleh libur sampai besok, tapi hari ini saya memutuskan masuk untuk memastikan meja kerja saya masih ada. Halah. Enggak ding. Besok mau ada workshop dan saya ditugaskan jadi MC, makanya hari ini ngantor untuk koordinasi dengan panitianya dan bantu-bantu acara kalau ada yang perlu dibantu. Selain itu, kan saya kost di Bintaro nih, jadi harus perhitungan harus berangkat jam berapa biar sampai kantor gak terlambat Maklum pegawe negeri, kalo telat langsung potong tunjangan tanpa ampun.

Pagi tadi saya bangun saat alarm pertama bunyi jam 5:15 tapi rasanya kok masih malas sekali. ya sudah saya tidur lagi dan baru bener-bener bangun mandi jam 6 pas. Jam setengah 7 saya berangkat dari kost naik motor. Dari arah Sektor 7 Bintaro ke Jurangmangu saya sudah menerka-nerka akan seperti apa macetnya hari Senin begini. Ternyata sepanjang jalan gak parah-parah amat; gak separah bayangan saya. Macetnya cuma pas keluar jalan tembusan Jalan Cendrawasih dan dari Vila Dago Tol ke arah bunderan Ciater. jam 7:15 saya sudah sampai perempatan Muncul di mana saya mampir beli nasi uduk buat sarapan. Sampai kantor paaaassss jam 7:29. Absen finger print… Pip pip. Jari saya masih dikenali.

Dari gedung utama ke gedung tempat ruangan saya berada saya ketemu beberapa orang, salaman dulu apdet-apdet kabar kemudian di emperan gedung saya ketemu ibu peneliti senior yang ngajak ngobrol-ngobrol dulu tanya gimana pengalaman kuliahnya. Beliau juga tanya kemarin penelitiannya tentang apa dan pakai material apa — saya tiba-tiba blank. Beneran lupa sama sekali. Gila. Libur 7 pekan aja bikin otak tiba-tiba mengalami penurunan fungsi. Setelah beliau menyebutkan beberapa tren material terkini, barulah saya ingat apa topik penelitian tugas akhir saya. Hahaha.

Sampai ruangan saya… eh mejanya masih ada dong. Hurray. Saya memulai kerja dengan membuka sciencedirect dan baca-baca artikel terbaru sebelum habis ini bikin experiment plan. Yaelah sama kayak jaman kuliah… baca-ngelab-baca-nulis-ngelab-baca-ngelab gitu-gitu aja terus sampai pensiun. Ya gak papa namanya juga cinta. Huhuy.

Btw, sebetulnya saya curiga kenapa jalanan lancar amat. Biasanya kalo gak macet dari Global Islamic School sampe prapatan Viktor ya minimal macet di prapatan Muncul lah. Ini tadi kosong blong kayak jalanan waktu subuh. Aneh aja gitu. Mungkin edisi promo dari Tuhan yang mempermudah hari pertama saya ngantor setelah libur setahun lebih. Baiklah.

Btw ini sudah jam 15:15 dan di luar hujan deras. Memang kadang komplek kantor saya yang berada di hutan ini semacam punya iklim sendiri sih, tapi sepertinya hujan ini beneran. Bolak balik suami nanya apa gak papa saya pp Bintaro-Serpong tiap hari, saya jawab jauh itu gak papa asal gak hujan. Eh udah dikasih hujan aja. Semoga sejam lagi hujannya reda sehingga pulangnya saya gak perlu ganti sendal jepit dan pake jas hujan. Jugaaaa… semoga jalanan gak macet biar saya bisa mampir beli martabak di jalan pulang nanti. Amin.

(btw udah kebiasaan tidur siang lalu jam segini kok ngantuknya tiada terperi)

Mengatasi Takut Naik Pesawat Terbang

Hayo siapa yang takut naik pesawat terbang? Panik saat pesawat bergetar akibat turbulensi? Refleks mendaraskan ayat-ayat kitab suci atau merapal doa makan – saking takutnya? Saya pertama kali naik pesawat terbang kalo gak salah tahun 2005, naik Lion Air dari Jogja ke Balikpapan. Setelahnya tahun 2007 langsung naik pesawat interkontinental dengan durasi 12 jam. Saat itu rasanya masih excited aja sih karena baru pertama kali naik pesawat besar yang banyak makanannya (halah). Setelah-setelahnya saya mulai menyadari bahwa naik pesawat itu kadang menyeramkan. Kita naik burung besi raksasa yang terbang tanpa menyentuh tanah (NAMANYA JUGA TERBANG WOE) dan “cuma” bergantung pada kecanggihan teknologi serta keterampilan bapak-ibu pilot. Belum termasuk faktor cuaca lho ya yang tahu sendirilah sampe sering dibilang “cuacanya kayak cewe lagi PMS”.

Pengalaman saya yang paling “berkesan” sampai sekarang adalah saat tahun 2009 saya naik mudik naik pesawat dari Amsterdam ke Jakarta – kalau gak salah naik Etihad. Saat itu kami sedang melintasi Teluk Benggala di Asia Selatan saat pilot menyampaikan pengumuman bahwa semua orang harus kembali ke kursi dan mengenakan sabuk pengaman karena pesawat akan melewati turbulensi.

Saya lupa berapa menit durasi turbulensi yang kami lewati tapi rasanya lama sekali. Pesawat bergoyang-goyang sementara lampu kabin dimatikan total. Beberapa orang terdengar menarik dan menghela napas – mungkin untuk menenangkan diri. Sempat juga pesawat “jatuh” sedikit yang membuat orang-orang sepertinya rada lebih panik dari sebelumnya.

Saya duduk di kursi sebelah jendela (sebelah dalam pesawat ya, bukan sebelah luar. #krik) sambil menarik napas dalam-dalam. Di genggaman tangan saya ada e-book reader Sony PRS-600, dan saya yang saat itu memikirkan¬† hal terburuk mulai menulis di e-book reader dengan stylus kecil. Kalimat-kalimat semacam “pesan terakhir” yang saya yakin rasanya bodoh sekali karena toh e-book reader ini akan rusak juga nyemplung ke laut.

Gak lama kemudian, pesawat rada tenang dan lampu indikator sabuk pengaman dimatikan. Fiuh. Kepala saya langsung berat, lalu saat pramugari menawarkan snack malam saya sekalian minta red wine biar bisa segera tidur saja.

Tepat setahun lalu saya pergi konferensi ke Bali. Saat hendak terbang kembali ke Jakarta dari Denpasar cuaca sedang lumayan buruk tapi pesawat akan tetap diberangkatkan. Di ruang tunggu saya whatsapp pakde Mbilung yang saya tahu sering sekali naik pesawat, tentang bagaimana cara mengatasi ketakutan saat terbang dan pikiran buruk yang selalu membayangi. Pesan beliau sederhana sekali:

Gak, gak akan jatuh. Percaya aja sama pilotnya. Mereka juga gak mau mati kok.

Nel uga eaaa. Pesan itu menancap cukup dalam di hati saya, dan sampai sekarang masih sangat relevan buat ngingetin saya tiap kali naik pesawat.

HOWEVER… di kuliah kan ada modul High Performance Alloys dan Materials Life Cycle yang salah satunya membahas material yang digunakan di pesawat terbang. Di situ kami belajar material apa yang cocok untuk badan, sayap, dan area mesin pesawat, dan apa saja kegagalan yang mungkin menyertainya. Beberapa dosen tergabung dengan grup riset yang melakukan penelitian untuk Airbus, dan di kelas mereka memberikan contoh-contoh nyata. Tidak lupa mereka memutar beberapa video serupa Air Crash Investigation untuk membahas kecelakaan pesawat yang diakibatkan oleh kegagalan desain material. Sungguh menyenangkan adanya. Huft. Thank you very much, dear professors..

Terakhir saya terbang adalah waktu ke Singapura beberapa pekan lalu. Penerbangan terdiri dari 2 leg, MAN-AUH dengan durasi hampir 8 jam dan AUH-SIN dengan durasi 6 jam lebih. Saya yang masih rada takut terbang berusaha mencari cara bagaimana biar gak panik di pesawat, dan menemukan beberapa tautan menarik:

Intinya, kita gak perlu panik saat pesawat memasuki area turbulensi karena turbulensi udara adalah peristiwa yang wajar dan tidak berlangsung lama. Kalau pesawat mulai goyang, langsung aja berpikir “oh jalanannya cuman lagi nggronjal. glodak glodak gak lama paling sebentar lagi selesai”. Menurut para pakar di atas, sangat sangat kecil kemungkinan pesawat jatuh akibat turbulensi, karena selain pesawat sudah didesain untuk menahan faktor tersebut, pilot juga sudah terlatih untuk “membaca” tingkat turbulensi yang dihadapi. Seringkali pilot berusaha mengendalikan pesawat menghindari daerah tersebut (jalan memutar), jadi jika pilot memutuskan untuk jalan terus menembus udara turbulen berarti keadaan tersebut tidak membahayakan.

Untuk itulah juga kita mesti percaya pada pilot (selain tentunya percaya pada Tuhan) dan mekanik pesawat. Pesawat terbang didesain dengan safety factor yang sangat tinggi, bahkan dia masih bisa terbang jika satu mesin mati dan hanya satu mesin saja yang menyala. Instrumentasi pesawat terbang juga sedemikian canggihnya sehingga perubahan sekecil apapun pasti akan terdeteksi oleh indikator. Well, jujur aja membaca artikel-artikel di atas memang rasanya gak langsung bikin saya jadi benar-benar gak takut lagi terbang naik pesawat, tapi paling tidak saya jadi tahu fakta-fakta soal pesawat terbang dan menyadari bahwa kadang ketakutan saya itu gak beralasan.

“Tenang aja, pilotnya udah jago kok…”
“Oke turbulensi ini cuma karena perbedaan tekanan udara dan bakalan cuma sebentar…”
“Mmm tadi pas pamitan boarding pesan terakhirnya udah bilang ‘aku sayang kamu ya’ belum sih?”
“Pramugarinya belum sampe disuruh duduk kok. Gak kenapa-napa. Gak kenapa-napa.”

Selain mempersiapkan mental, ada kegiatan yang membuat saya lebih tenang saat naik pesawat: sebisa mungkin nyamankan diri dan banyak-banyak tidur. Hahahaha. Kalau penerbangan siang rada sulit tidur sih memang seperti yang saya alami waktu terbang dari Manchester ke Abu Dhabi. Saya bawa bantal tiup, ear plug, dan penutup mata, pokoknya perut kenyang dulu nanti bisa lah diusahakan tidur. Kalau penerbangannya malam (red-eye flight), usahakan masuk pesawat dengan kondisi badan bersih dan nyaman. Biasanya penerbangan malam ini dijalani setelah seharian melancong sana sini, capek keringetan dll. Kalau sempat mandi, mandilah dulu. Kalau gak sempet ya gosok-gosok badan pakai tisu basah lalu ganti baju (ini penting! ganti baju!). Lanjutkan dengan cuci muka, sisiran, dan gosok gigi. Apa pentingnya? Kondisikan badan seperti saat akan tidur malam. Badan akan mengenali bahwa kita “mau tidur” dan hal ini sangat membantu untuk bisa istirahat dengan nyaman di pesawat. Kalo situ terbang di First Class yang flat bed sih kurang tau juga ya apa yang bisa bikin istirahatnya lebih nyaman. Belum pernah e. Ada yang mau bayarin? Saya review deh. ūüėÜ

Anyway, good luck overcoming your anxiety, and enjoy your flight!

 

Tips Nitip Oleh-oleh

Sejak kapan sih orang yang pergi ke luar daerah atau ke luar negeri harus pulang bawa oleh-oleh? Siapa sih yang ngajarin untuk bilang “oleh-olehnya ya!” ke teman atau saudara yang mau pergi? Jujur aja saya risih dengar permintaan macam itu karena rasanya kayak merepotkan sekali harus nyariin oleh-oleh sedangkan saya gak tahu orang itu sukanya apa dan maunya oleh-oleh kayak gimana. Saat masih tinggal di Belanda dulu saya cukup sering dapat titipan oleh-oleh dari teman atau kerabat. Mulai dari yang permintaannya sederhana (magnet kulkas, kartu pos, kaos Amsterdam) sampai yang rada rumit (klarinet, winter coat). Loh winter coat kan banyak, kok rumit? Iya rumit karena ybs gak ngasih tahu maunya coat seperti apa, yang single-breasted atau double-breasted, yang bahan fleece atau wool atau bulu angsa, yang warna apa, yang panjangnya sepinggul atau sepaha, dst. Bilangnya cuma “yang kayaknya cocok buat akyu”. Bukan apa-apa sih, kan jadi gak enak juga kalau nantinya sudah dibelikan tapi ndak cocok sama model atau warnanya dan akhirnya coat tersebut gak kepakai.

Favorit saya adalah orang yang nitipnya spesifik sehingga saya tahu kira-kira harus nyari di mana. Waktu itu ada satu teman dari Jogja nitip sepatu safety yang dijual di salah satu online shop di Belanda, lengkap dengan warna, model, dan ukuran. Sepatu model itu tidak ada di online shop Belanda sehingga saya harus ngontak ke alamat email yang ada di website untuk menanyakan apakah mereka punya stok sepatu itu di gudang atau tidak. Sales person yang membalas email menjelaskan bahwa mereka tidak punya barang tersebut, tapi kalau saya mau mereka bisa memesankan dari Amerika, lengkap dengan quotation yang berisi shipping cost dan biaya lain-lain. Saya forward email itu ke teman saya dan dia mengiyakan harganya serta langsung transfer ke rekening saya (ini penting!). Proses jual beli pun berlangsung dengan lancar — karena dari Amerika tidak bisa langsung kirim ke Indonesia jadinya saya yang harus kirim barangnya dari Belanda, tapi tidak masalah juga karena biaya kirim Belanda-Indonesia ditanggung oleh pembeli juga.

Yang kayak gini ini patut dicontoh. Di sisi saya memang mesti ada effort untuk kontak-kontak via e-mail dan pergi ke kantor pos untuk maketin barang (plus deg-degan kalau-kalau barangnya gak sampai Jogja) tapi ya gak papalah, toh di sisi sana juga sudah riset dulu sehingga barangnya udah jelas mana yang dimau.

Saya juga pernah punya pengalaman dititipi jersey Ajax Amsterdam. Saya kasih link online shopnya biar dia bisa milih, dan saya bilang ntar transfernya ke Bank Mandiri aja biar gampang. Eh dia bilang gini:

“Beliin lah. Kan kamu udah kerja. Gajinya gede. Hehe.”

Hehe.

Hehe.

Hehe.

Gaeessss baju bola itu di toko gak ada yang harganya di bawah 50 euro. Kalau mau yang gratisan nanti ik beliin gantungan kunci ajalah ya.

Dari beberapa pengalaman nitip (dan dititipi) barang, saya mengumpulkan beberapa tips yang semoga berguna bagi yang mau nitip barang tanpa harus mengorbankan reputasi dan hubungan baik:

  1. Be specific. Kalau pengin dibeliin kaos, jangan bete kalo pengin kaos tapi dikasihnya “cuma” gantungan kunci karena bilang “terserah”. Gak pengin bilang terserah tapi gak enak juga mau nitip kaos karena kayaknya mahal? Googlinglah kira-kira harga kaos berapa dan nitiplah duit segitu. Menurutmu “cuma” kaos aja kok bisa mahal banget segitu? Ya begitulah realita kehidupan.
  2. Jangan maruk. Kalau nitip makanan atau barang sebisa mungkin jangan yang ngabisin space atau yang beratnya lebih dari 2 kg. Hal ini berlaku juga buat mereka yang tinggal di luar negeri lalu mau nitip abon/rendang/kerupuk mentah ke teman yang mau pulang ke Indonesia.
  3. Titiplah barang yang mudah dicari. Sebaiknya gak nitip barang yang cuma bisa ditemukan di sebuah toko hipster di sebuah kota berjarak 2 jam naik kereta plus naik bus dan jalan kaki. Lebih bagus kalau bisa beli online. Lebih bagus lagi kalau situ yang beli online, jadinya cuma “nitip” alamat dan minta tolong dibawakan.

Hmm. Sebenarnya semua ini tergantung sedekat apa hubunganmu dengan yang mau dititipi barang. Kalau saya sih – ini kalau saya lho, ndak tahu yang lain apalagi mas Anang *krik* – biasanya sudah hafal mana aja temen yang suka dibawain kartu pos atau gantungan kunci atau magnet kulkas, atau mereka yang dari awal sudah bilang mau nitip sesuatu sehingga nanti waktu mau pulang saya tinggal konfirmasi ulang. Sisanya ya… Kalau di koper masih ada space saya selalu bawa souvenir kecil-kecil kok, biarpun mungkin ndak semua suka. Ya namanya juga nyari yang praktis.

Demikianlah.

Hari Kedua di Manchester

Hello.

Terimakasih atas doa para penggemar sekalian (cuih) akhirnya saya sampai juga di Manchester. Saya terbang dari Cengkareng hari Rabu sore; leg pertama 9 jam dan leg kedua 8 jam dengan jeda 4 jam transit di Dubai. It was okay. Di airport saya dijemput oleh teman-teman Student Union yang mengantarkan saya ke asrama naik taksi. Black cab yang lucu itu loh. Sampai asrama saya lapor dulu ke kantor administrasi untuk check in dan ambil kunci. Harusnya saya bawa formulir key release form untuk serah terima kunci tapi kok saya lupa ngeprint semasa di Jogja. Akhirnya saya cuma nyerahin print email dari accommodation office yang berisi kontrak akomodasi untuk ditukar dengan kunci pintu gedung, pintu flat, ruang mailbox, kartu laundry yang harus diisi duit, dan kartu akses masuk gerbang asrama.

Saya dapat kamar di flat lantai tiga tanpa elevator. Nggeret koper 30 kg beserta ransel 7 kg dari lantai dasar ke lantai tiga setelah penerbangan panjang itu rasanya… oh f*ck it I wouldn’t care even if I broke my suitcase. Sampai juga saya di kamar. Satu flat berisi 7 kamar dengan 2 kamar mandi + 2 toilet serta dapur untuk dipakai bersama. Saat saya tiba, di situ sudah ada 2 kamar yang diisi mahasiswi dari China. Mereka dan beberapa temannya mengajak saya ke city centre untuk jalan-jalan dan nyari anu-anu. Ya okelah. Saya masih malas juga ke kampus ngurus residence permit dan bikin kartu mahasiswa. Nanti kalo difoto kelihatan jelek. Halah.

Setelah leyeh-leyeh dan mandi, kami jalan kaki ke city centre dan keluar masuk toko beli beli ini itu. Saya sih beli perlengkapan dasar anak kost seperti perlengkapan mandi, mencuci, tempat sampah/plastik sampah, dll. Saya belom kepikiran beli perlengkapan makan karena selain susah bawanya, saya sungguh yakin kalo beberapa hari ini bakal makan di luar.

Oh iya ada satu drama menjelang keberangkatan. Soal sepatu. Sejak cuti tanggal 1 itu saya mudik ke Jogja pake sepatu yang nantinya akan saya pake untuk berangkat ke UK. Di koper cuma ada sepatu formal wedges dan sandal jepit WC aja. Di Jogja saya kemana-mana pake sandal jepit fancy. Iya loh fancy. Mahal. 25 ribuan di ITC BSD. Nah, pas berangkat ke Jakarta saya lupa sama sekali soal sepatu ini, jadi aja perginya ke Jakarta pake sandal jepit fancy juga. Sampai mess di Serpong… kok rak sepatu kosong. Harusnya kan masih ada sepatu buat ntar dipake berangkat.

LHA KAN SEPATUNYA DIPAKE PULANG KE JOGJA TAPI GAK DIPAKE BALIK KE JAKARTA.

Okelah. Saya nemu jellyshoes yang bisa saya pake untuk berangkat ke UK, tapi saya baru ingat kenapa sepatu itu lama ndak saya pakai: bikin kaki sakit karena ujungnya rada runcing sedangkan kaki saya lebar kayak bebek. Sampai Dubai saya tergoda mampir toko sepatu dan beli sepatu baru; meskipun rada gak nyaman tapi saya tahan aja. Sampai Manchester saya bener-bener gak tahan, apalagi nanti keluar bandara mesti bawa koper segede gaban (gaban itu segede apa sih). Waktu antri imigrasi saya cuek aja nurunin ransel dan ganti sandal jepit fancy. Bodo amat sandal jepitan diliatin orang-orang.

Nah ini hubungannya drama sepatu dan jalan-jalan ke city centre: saya beli sepatu baru di sana.

Udah itu doang. Iya cuma segitu. Maaf ya pembaca.

Btw cewek-cewek ini jalannya super cepat. Kedua kaki dan sepasang sandal jepit fancy saya merengek kelelahan sampai akhirnya hari sudah sore dan kami memutuskan untuk makan di China Town. Makanannya lumayan, termasuk harganya juga. Lumayan mahal. Pulang ke asrama saya sudah tepar, males beberes unpacking apalagi nata-nata barang. Saya langsung ganti baju, cuci muka, cuci kaki, gosok gigi, lalu tidur.

Belum ada jam 4 pagi saya udah kebangun. Dammit jet lag. Saya melek aja trus nyalain Pokemon Go. Di sini banyak Drowzee. Halah. Jam 9 lewat saya mandi dan bersiap ke kampus untuk ambil residence permit dan bikin student card. Urusan beres sekitar jam 11, lalu saya langsung belanja sayur, buah, dan kebutuhan lain di Lidl. Sejak di Belanda dulu nama ini sudah familiar untuk saya karena harganya yang terkenal murah hahahah. Kayaknya kebanyakan deh belanjanya, berat banget bawanya. Sampai asrama istirahat sebentar kemudian janjian sama mas Hendrik dari PPI Greater Manchester. Beliau posting barang di grup fesbuk Garage Sale PPI-GM dan saya ngetag alat masak beliau. Eh gak nyangka dibonusin macem-macem. Ada alat makan, blender (baru!), duvet sak cover dan spreinya, bantal guling, gantungan baju, tempat sampah, dan BUMBU MASAK YANG BANYAK DAN OKE BANGET.

Terimakasih ya Tuhanku. Saya gak perlu lagi beli bantal selimut dan perlengkapan makan. Sebagai bonus, saya juga dikasih kartu anggota supermarket Morrison’s yang setahun ini poinnya sudah mereka kumpulkan. Kali-kali dapet bonusan apa gitu wkwkwk.

Setelah angkut-angkut barang saya makan karena kelaparan. Sebungkus pasta tomat/mozzarella yang mestinya bisa untuk dua kali makan, saya habiskan sekali makan. Hmm kan tadi habis angkut-angkut barang. Boleh dong. Ya terserah lu aja dah.

Anyway, itu dua hari saya di Manchester. Pretty ordinary, isn’t it ? Iya nih saya lagi berusaha ngumpulin semangat. Tapi yang pertama, mari mengatasi jet lag bdbh ini. Jam 8 sore kok ngantuknya gak terkira. Bikin sereal dulu ya pemirsa. Sampai jumpa pada postingan hari kesekian di Manchester berikutnya.

Balada Paspor Biru PNS

Akhir tahun lalu saya dapat undangan untuk mengikuti kegiatan workshop XAS dan XANES di Synchotron Light Research Institute (SLRI) Thailand, selain itu abstrak penelitian saya terpilih menjadi peserta yang dihadiahi sponsorship berupa biaya transportasi PP Jakarta РNakhon Ratchasima dan akomodasi selama workshop 5 hari tersebut. Saat saya menghadap manajemen kantor untuk minta tandatangan surat ijin, jantung saya jatuh ke lantai saat diberitahu bahwa permohonan ijin saya ditolak karena saya tidak punya paspor biru.

“Pak, kan ini saya disponsori SLRI jadi tidak minta dana dari kantor?”, demikian argumen saya.

Pihak manajemen menjelaskan bahwa¬†ijin keluar negeri dalam rangka dinas (terlepas dari siapa sponsornya) mewajibkan pegawai yang bersangkutan memiliki paspor dinas (paspor biru), surat penugasan resmi dari Sekretariat Negara serta exit permit (stiker yang ditempel di paspor, kayak visa gitu) dari Kementerian Luar Negeri, padahal untuk mendapatkannya itu jalurnya panjang sekali. Waktu itu saya cuma punya waktu tiga hari sebelum berangkat karena memang surat undangannya baru sampai kotak masuk surel. Hati saya nyaris patah, dan saya pun menumpahkan kekesalan ke mbak-mbak guardian kantor Sekretariat Negara. Dia tanya “lha kenapa marahnya sama Setneg e.”

Trivia: Apa itu paspor biru, SP Setneg, dan exit permit?

  • Paspor biru adalah paspor untuk pegawai pemerintah (official passport) yang pergi ke luar negeri dalam rangka dinas. Kenapa dinamai paspor biru? Karena sampulnya warna biru. Halah. (kegaringan level berapa ini). PNS yang keluar Indonesia¬†untuk jalan-jalan tidak boleh pakai paspor biru. Kalau sudah di luar Indonesia baru boleh

  • SP Setneg adalah Surat Penugasan yang dikeluarkan oleh Kementerian Sekretariat Negara (mbok udahan mbak garingnya) yang berisi detail penugasan kita, misalnya keluar negeri untuk sekolah, training, fellowship, dll serta durasinya. Khusus untuk PNS¬†tugas belajar, SP Setneg ini adalah syarat mutlak penyetaraan ijazah. Kalau gak ada SP Setneg, biarpun mau kuliah ke luar angkasa ya ijazahnya gak akan diakui karena dianggap tugas belajarnya ilegal

  • Exit Permit adalah stiker yang ditempel di paspor, dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri sebagai tanda bahwa kita sudah memenuhi syarat administratif tugas kedinasan untuk¬†melangkah melewati gerbang imigrasi

Setelah saya pikir… ya itulah birokrasi. Kadang kita jadi generasi yang mewarisi hal-hal yang kita sendiri gak tahu bagaimana asal-usulnya. Mungkin orang Setneg bingung juga kenapa mereka harus ngurusin perjalanan dinas luar negeri¬†PNS se-Indonesia. Iya, PNS dari seluruh penjuru negeri ini. Bayangin berapa berkas yang harus mereka validasi dan berapa surat yang harus mereka rilis per harinya.

Oke. Nganu. Saya tadi mau cerita apa ya.

Setelah yakin mau kuliah di luar negeri, saya langsung membuat daftar apa-apa saja yang perlu disiapkan. Bukan soal baju atau sepatu tentunya, tapi lebih kepada persyaratan administrasi. Jujur aja sebagai orang yang biasanya menentang birokrasi rempong saya tetep aja ngerasa gugup dan sedikit panik karena kali ini tidak dapat menghindar.

*menghela pedati panjang*

Langkah pertama yang saya lakukan adalah telpon ke kantor pusat instansi tentang syarat pembuatan paspor. Beliau pun minta alamat surel saya dan berjanji akan mengirimkan detailnya. Melalui surel, mas-mas Biro Umum yang ramah itu memberikan info yang cukup jelas disertai nomor telepon beliau kalau sewaktu-waktu perlu info tambahan. Di instansi saya, syarat-syaratnya seperti ini:

  1. Surat permohonan dari satuan kerja >> ditandatangani kepala kantor
  2. Undangan atau LoA. Lampirkan juga surat dari sponsor >> saya lampirkan LoA dari kampus dan LoG dari LPDP
  3. Daftar Riwayat Hidup perjalanan dinas LN >> ditandatangani kepala kantor dan kepala biro kerjasama
  4. Passport (bila sudah mempunyai paspor dinas sebelumnya) >> not applicable
  5. Formulir Passport / Exit Permit yang sudah diisi >> template Kemenlu
  6. Foto Ukuran 4×6, 4 Lembar, blazer hitam, background putih, tanpa kacamata, wajah tidak tertutup poni, telinga kelihatan, tidak tersenyum lebar, tidak kelihatan gigi, photo natural tidak diedit warna kulit.
  7. Fotokopi kartu pegawai yang sudah dilegalisir >> legalisir dan ttd kepala kantor
  8. Fotokopi KTP >> gak perlu legalisir
  9. SK CPNS/PNS >> fotokopi aja, gak perlu legalisir
  10. Surat Perjanjian (untuk dinas lebih dari 3 bulan) >> bermeterai, ditandatangani kepala biro kerjasama

Setelah mendapatkan daftar tersebut, saya menemui kepala kantor (pejabat eselon II) untuk minta ijin memulai proses administrasi tugas belajar sekaligus meminta surat pengantar. Bersama dengan berkas-berkas lainnya surat pengantar tersebut saya bawa ke kantor pusat di Gatsu. Berkas asli diberikan kepada Biro Kerjasama untuk dibuatkan surat pengantar ke Setneg, sedangkan fotokopian dan formulir permohonan paspor diberikan kepada Biro Umum untuk dibuatkan surat pengantar ke Kemenlu. Menurut mas-mas Biro Umum, proses pembuatan paspor dinas ini membutuhkan waktu sekitar 20 hari.

Jadi, secara singkat proses perjalanan dinas luar negeri PNS itu seperti ini, di instansi saya lho ya tapi. Mileage may vary.

Undangan –>¬†surat pengantar satker (tanda tangan kepala kantor) –> surat pengantar instansi (tanda tangan¬†kepala biro kerjasama) –> surat penugasan (Setneg) –> Paspor dinas dan exit permit (Kemenlu) –> Visa (Kedutaan) –> perjalanan dinas

SP¬†Setneg untuk saya sudah jadi sekitar 3 minggu dari submit berkas, sedangkan paspor dinas selesai seminggu setelahnya. Di paspor saya belum ditempel stiker exit permit karena masa berlaku exit permit hanya 2 bulan, sedangkan keberangkatan saya masih lebih dari itu. “Nanti saja apply exit permit-nya bulan Juli”, demikian kata mas-mas CS. Hore udah punya paspor biru dan SP Setneg!

Udah cuman mau cerita gitu doang? ENGGAAAAAAAAAKKKKK…

Saya akui reformasi birokrasi yang digaungkan Menpan RB memang sedikit banyak mengubah persepsi saya terhadap kerakusan oknum yang seringkali menyalahgunakan jabatannya untuk memperkaya diri sendiri.

Halah bahasamu mbak, koyok nulis nang koran ae. Baleni!

Saya akui reformasi birokrasi yang digaungkan Menpan RB memang sedikit banyak mengubah persepsi saya yang masih menganggap banyak oknum PNS melakukan pungli, namun proses panjang dan rempong (menurut saya sih panjang dan rempong) ini bukannya tanpa cela, karena ternyata masih ada juga oknum yang membuat saya rada kecewa. Meskipun demikian saya sudah antisipasi dengan melakukan beberapa langkah berikut:

  1. Bikin paspor jangan mepet. Perkirakan hari libur, hari besar, apalagi kalo ngelewatin lebaran.
  2. Cari info sebanyak-banyaknya tentang prosedur pembuatan paspor biru/SP Setneg/Exit permit dari instansi terkait. Terserah, dari website atau dari orang dalam. Cari info lho ya, bukan minta dicaloin.
  3. Cari surat edaran atau info resmi yang memberitahukan bahwa pembuatan berkas-berkas tersebut TIDAK DIPUNGUT BIAYA. Ini penting banget. Oknum manapun kalau dikasih dokumen macam gini gak mungkin bisa berkutik.
  4. Bersikaplah sopan pada para petugas, entah itu petugas perjalanan dinas di level instansi, petugas di Biro KTLN Setneg, atau di Kemenlu. Kadang ada hal yang bikin emosi, tapi usahakan untuk tetep adem biar tidak maramara
  5. Setiap kali menaruh berkas, mintalah tanda terima dan tanyakan kapan kira-kira bisa diambil serta siapa yang dapat dihubungi.
  6. Jangan dibiasakan untuk bertanya “bayar berapa pak/bu?” setelah menyerahkan berkas dan mengambil tanda terima. Lempar senyum termanismu dan ucapkan terimakasih.
  7. Jangan sekali-sekali ngasih duit, meskipun diminta. Prosedur bilang gratis ya gratis. Kalau dipaksa suruh bayar, tanya aturannya di mana dan minta kuitansinya. Kalau dipersulit, lapor ke atasannya atau lakukan prosedur whistleblowing system. Udah diajarin kan? Kalau belum, tanya pak Yuddy. Tuliskan juga di website lapor.go.id
  8. Berdoalah semoga urusanmu dilancarkan ūüėÜ

Sudah gitu dulu aja pengalaman saya ngurus paspor biru, semoga berguna terutama buat teman-teman PNS. Huahahaha. Selanjutnya adalah apply exit permit ke Kementerian Luar Negeri dan apply visa UK ke VFS Global. Masih bulan Juli nanti kok, para penggemar harap sabar ya.

Cupz.

P.S: soal undangan workshop ke SLRI Thailand tadi, akhirnya saya berangkat juga pakai surat ijin biasa, bukan dinas. Gak tahu motong cuti apa enggak pokoknya asal gak dihitung bolos. Dihitung bolos juga biarin hihihi