Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Category Archives: rada penting

Ngoplos Pakai Data

Apa yang kamu pikirkan kalau baca paragraf di bawah ini?

Adapun racikan Sasongko untuk satu resep sari vodka, ia mengoplos etanol berkadar 95% sebanyak 1,5 liter dicampur air mineral 8,5 liter kemudian ditambah sari manis 1,5 sendok, sitrun satu sendok, dan satu sendok rasa buah salak atau jeruk. Satu resep menghasilkan 10 liter itu lalu dikemas menjadi 30 plastik.

Satu hal yang langsung menohok pikiran saya waktu itu adalah bahwa berita ini dengan begitu ceroboh mendeskripsikan bagaimana miras oplosan itu dibuat, dengan begitu detail. Bahannya pun bahan yang relatif murah dan dapat dibeli secara bebas. Kalau saya penggemar minuman beralkohol dan gak punya banyak duit untuk beli vodka, paragraf tadi bisa memotivasi saya untuk ngoplos minuman sendiri. Njuk kok Beritagar bikin berita macem gini juga. Duh.

Trus masalahnya apa e? Kan ngirit, toh?

Gini lho. Di pelajaran kimia dasar waktu SMA pasti pernah diajarin rumus pengenceran ini:

M1.V1 + M2.V2 = M3.V3

Kalau M1 adalah etanol 95% dengan volume 1.5 liter dicampur dengan air 8.5 liter, harusnya hasil yang diperoleh adalah 10 liter larutan dengan kandungan etanol 9.5%. Kandungan alkohol segitu itu sedikit di atas kandungan alkohol yang ada pada bir tapi masih di bawah wine (12 – 15%) dan jauuuuh di bawah vodka dan whiskey (35 – 50%).

Sampai sini paham? Oke.

Masalahnya adalah… Kalau kadar alkoholnya cuma segitu, kenapa sampai ada lebih dari 20 orang tewas? Nah… Jadi ya, di pasaran sedikitnya ada dua jenis etanol 95%:

  1. Pure ethanol (ethanol murni), yang isinya 95% etanol dan 5% air. Etanol 95% yang ini memang digunakan sebagai bahan baku minuman beralkohol karena kadar kemurniannya yang tinggi (beverage-grade alcohol).
  2. Denatured ethanol, yang isinya 95% etanol dan 5% bahan aditif seperti metanol, aseton, isopropanol, dll. Denatured ethanol ini digunakan oleh industri sebagai pelarut cat, isi termometer, cairan pembersih lantai dan WC, pengawet spesimen biologi, campuran bahan bakar, dll.

Nah lo.

Kandungan alkohol yang lebih murni dan kegunaannya sebagai minuman beralkohol membuat harga pure ethanol jauh lebih mahal dari denatured ethanol (bisa 10 – 20 kali lipat per liternya), karena ia dikenai pajak tambahan. Aditif pada denatured ethanol pada dasarnya ditambahkan agar denatured ethanol tidak diminum karena aditif-aditif tersebut sifatnya berbahaya jika dikonsumsi manusia. Metanol itu bahan baku spiritus dan thinner. Aceton digunakan sebagai larutan penghapus cat kuku. Isopropanol untuk pembersih lantai dan toilet, serta untuk pengawet spesimen biologi.

Setahu saya, semua supplier bahan kimia selalu menyertakan keterangan yang berisi kemurnian bahan yang mereka jual dan senyawa apa saja yang mungkin terdapat di situ. Ini adalah contoh keterangan produk denatured ethanol dari supplier VWR di Amerika Serikat:

CoA

Di situ disebutkan bahwa denatured ethanol yang dijualnya mengandung etanol (ethyl alcohol) 89 – 91% sedangkan sisanya adalah 4-6 metanol (methyl alcohol) dan 4-6% isopropanol (2-propanol). Kalau penjual gak bisa memberikan keterangan ini pada calon pembeli berarti produk mereka diragukan kemurniannya. Beli bahan kimia di manapun pastikan bahwa, sekali lagi pastikan, kamu tahu kandungan apa saja yang ada di dalamnya. Minta katalog dari principal company. Minta CoA (Certificate of Analysis) juga kalau ada.

Di industri (terutama industri makanan dan minuman), kemurnian bahan baku merupakan salah satu kriteria kualitas yang dijunjung tinggi. Prinsipnya ‘kan “rubbish in, rubbish out”. Hal ini juga berguna jika ke depannya ada masalah dengan kualitas produk atau komplain dari konsumen maka penyebabnya dapat ditelusuri mulai dari kualitas bahan baku yang diperoleh dari supplier.

Di Amerika Serikat ada Everclear, minuman keras dengan kadar alkohol 75.5% dan 95% yang memang dijual untuk konsumsi manusia. Agar tidak membahayakan nyawa, Everclear harus diencerkan terlebih dahulu sampai kadar yang aman untuk dikonsumsi. Tapi meskipun dianggap “aman”, distribusi Everclear dengan kadar 95% akhirnya dilarang di banyak negara bagian di Amerika Serikat karena diduga menyebabkan tingginya angka overdosis alkohol dan kekerasan seksual.

Oke. Semoga sampai sini saya ndak menginspirasi siapapun untuk beli Everclear.

Saya gak yakin apakah orang-orang yang ngoplos miras di berita tadi (termasuk yang beli) tahu tentang kandungan apa saja yang terdapat pada etanol yang mereka beli. Kalau yang dibeli adalah denatured ethanol ya… sudah. Pasrah aja dan berharap semoga gak mati atau selamat tapi cacat. Kalau yang dibeli pure ethanol pun belum tentu konsumen aman, karena siapa tahu ada bahan lain yang ditambahkan seperti obat nyamuk cair atau pengawet atau apa gitu. Tapi dari segi ekonomi kok menggunakan pure ethanol untuk ngoplos itu semacam rugi ya.

Pada intinya, pesan saya cuma satu: kalau mau ngoplos, ngoploslah dengan data. Kalau mau pakai etanol 95% biar irit ya pastikan etanolnya beverage-grade, bukan denatured. Selain itu, perhatikan juga toleransi tubuh masing-masing terhadap intake. Kalau biasanya minum bir aja udah teler ya gak usah sok-sokan minum vodka. Kalau lagi gak punya duit tapi pengen tetep bisa minum, patungan lah beli vodka dan encerkan dengan air sampai kadarnya jadi 10%. Udah. Vodka sama air aja, gak perlu pake minuman berenergi apalagi obat sakit kepala atau lotion anti nyamuk. Gimana cara ngencerinnya? Pake tuh rumus di atas.

Pertama Kali Sidang Tilang

Namanya hidup ya, selalu ada yang pertama untuk semuanya. Pagi tadi untuk yang pertama kalinya saya mengikuti sidang tilang. Ceritanya dua minggu lalu saya dan suami pergi ke tempat bulik di Cengkareng, nah di perbatasan Tangerang kota dan Cengkareng ternyata ada razia. Suami saya pede aja nunjukin STNK dan SIM, sampai kemudian kami disuruh minggir dan pak polisi ngeluarin surat tilang warna merah.

“Lho kenapa pak? Kan SIM STNK lengkap.”

“Itu mas, lampu depan.”

Huft.

Suami saya negosiasi supaya yang disita STNK motor saya aja tapi pak polisi bersikeras menyita SIM C beliau. Soalnya kan beliau kerja di Cepu dan gimana lah kalo motoran ke mana-mana tanpa SIM. Belum lagi kalau mau ke Jogja atau mau mudik ke rumahnya di Ngawi.

“Sidangnya tanggal 29 ya, di PN Jakbar, Slipi.”

JAKBAAAARRR??? APAAAAAAHHH?? Ternyata kami ketilangnya udah di area Cengkareng, Jakbar.

*zoom in zoom out*

Sepanjang jalan dia ngomel sambil minta maaf karena nanti saya yang kudu mewakili sidang. Padahal kayaknya saya yang lupa nyalain lampu depan motor setelah selesai manasin motor pagi-pagi. Kayaknya lho ini. Mungkin juga memang beliau yang lupa.

Itulah awal kisah kenapa pagi tadi saya sudah bangun jam 5 pagi dan alih-alih yoga saya langsung mandi. Setelah mandi saya manasin spaghetti fra diavolo yang saya masak semalam dan saya sisihkan buat ganjel perut pagi-pagi. Jam 6 kurang 15 saya berangkat, ke kantor dulu untuk absen dan ijin kemudian ke stasiun Rawa Buntu ngejar KRL. Turun di stasiun Palmerah, saya ngojek ke gedung Udiklat PLN Slipi kemudian nyebrang ke Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Dan..

Pegawai PN Jakbar masih senam pagi. Masih jam 7:15 juga sih.

Oke.

Saya nongkrong di depan gerbang PN Jakbar sambil ngitungin berapa kendaraan yang lewat jalur busway dan takjub melihat beberapa mobil mercy, satu ekor ferrari, dan sebutir bus Mayasari Bakti ikut-ikutan lewat jalur busway. Ya… takjub aja gitu.

Eh gerbang dibuka. Sudah ada puluhan orang nongkrong di depan gerbang dan kami semua langsung menuju basement gedung PN Jakbar dan ngantri di loket untuk menyerahkan slip merah bukti tilang dari polisi. Di loket saya ditanya “mau sidang atau bayar di sini?” Saya bingung kenapa bisa bayar di situ. Kemudian saya langsung ngeh. Ooooooooooo.

“Sidang aja pak”, kata saya.

Kemudian saya mengikuti orang-orang ke lantai atas tempat ruang sidang berada, dan nyari tempat kosong di kursi-kursi panjang, di depan Ruang Soerjono yang masih tertutup. Jam dinding di depan ruang sidang menunjukkan pukul 08:00.

Ruang Sidang Soerjono

Ruang Sidang Soerjono

Orang-orang makin banyak berdatangan. Untung saya masih dapet kursi; yang lain pada lesehan atau berdiri. Sekitar pukul 08:45 ada satu orang petugas PN Jakbar keliling ngecek ruang sidang dan merapikan tumpukan berkas di atas meja di depan ruang sidang, kemudian beliau membacakan satu persatu nama yang ada di surat tilang sekaligus menyebutkan barang bukti apa yang disita. Ruang sidang dibagi dua: satu ruang sidang untuk barang bukti STNK, sedangkan satu lagi untuk barang bukti SIM.

Nama suami saya dipanggil, dan masuklah saya ke ruang sidang. Seumur-umur baru sekali ini saya ke Pengadilan Negeri dan melihat ruang sidang dengan mata kepala sendiri. Hmm. Kok sempit ya, gak sebesar yang ada di film Legally Blonde atau di sitkom How I Met Your Mother. Halah. Gak berapa lama nunggu, tiga orang datang membawa berkas dan membacakan nama-nama terdakwa. Sekali baca ada lima nama, dan semuanya didudukkan di lima kursi di depan podium hakim. Hakim akan menanyakan apa kesalahannya, dan setelah terdakwa menjawab beliau akan menyebutkan berapa besar dendanya. Plus seribu untuk biaya sidang. Entah kenapa seribu, dan kenapa ada begituannya saya juga kurang paham. Saya keluar dari ruang sidang sekitar pukul 09:20.

di dalam ruang sidang

di dalam ruang sidang

Kesalahan saya yang lupa menyalakan lampu depan diganjar dengan denda 70 ribu rupiah plus seribu. Baiklah. Saya kemudian turun ke lantai dasar, ke loket pembayaran. Ada tiga orang petugas di belakang meja dan beliau memegang tumpukan berkas limpahan dari ruang sidang. Nama-nama dipanggil, yang dipanggil membayar denda, kemudian barang bukti yang disita diserahkan ke empunya.

Nampak sederhana dan efisien ya? Ternyata gak sesimpel itu… Gak seperti bapak pembaca nama di depan ruang sidang yang bacainnya pake mikropon, bapak penunggu loket pembayaran gak pake mikropon jadi  harus baik-baik mencondongkan telinga agar jangan sampai kelewat waktu dipanggil. Selain itu, alih-alih duduk manis orang-orang memilih untuk berdiri bergerombol di depan loket. Waktu nama suami saya dipanggil, saya menyodorkan uang pas sambil minta kuitansi. Bapak penunggu loket pembayaran bilang gak ada kuitansi, tapi saya bilang perlu kuitansinya untuk keterangan ke kantor. Akhirnya dibuatkan. Saya baru ngeh, bayar denda kok gak ada tanda terimanya ya. Saya juga gak tahu dari sekian yang dibayar itu yang disetorkan ke negara sebenarnya berapa. Tapi ini prasangka buruk saya. Plis jangan ditiru.

Di depan loket pembayaran

Di depan loket pembayaran

SIM sudah dikembalikan, urusan saya selesai tepat pada pukul 09:40. Saya pun pergi ke gerbang depan PN Jakbar sekalian order grabbike karena mau ngurus anuan di gedung LPDP di Lapangan Banteng. Nah jadi sodara-sodara, terdakwa sidang tilang ini parkir motornya di depan PN Jakbar, bukan di parkiran motor yang ada di basement. Di parkiran ini ada ribuan *lebay* calo yang nawarin jasa antri dan ngurus sidang tilang dengan biaya mulai dari 20 ribu rupiah per perkara. Kadang calo-calo ini bilang “di dalem rame banget lho antrinya banyak” untuk menarik pengguna jasa.

DSC_1580

itu yang rame-rame di depan gerbang. abang grabbike bukan calo, fyi.

BTW menurut website PN Jakbar, sidang tilang bisa diwakilkan dengan membawa fotokopi yang mewakili. Tadi pagi saya sudah siap-siap fotokopi KTP tapi gak ditanyain juga sih.

Kesan saya tentang pengalaman sidang tilang pertama:

  1. Masih ada calo, bahkan dari petugas PN sendiri
  2. Alur kerja belum efisien, gak ada papan pengumuman yang jelas tentang bagaimana alur sidang tilang dan kenapa loket satu ke loket yang lain masih berjauhan. Juga kasihan bapak pembaca nama dan bapak penunggu loket pembayaran harus teriak-teriak.
  3. Kok gak bisa bayar di PN terdekat dari domisili aja ya? Yang ini setahu saya sih mungkin berkenaan dengan pendapatan daerah jadi ya harus diurus ke daerah tempat terdakwa ditilang. Ya, okelah.

Jangan diulangi lagi ya, gaes. Jangan sampai ditilang. Jangan juga integritasmu pada peraturan lalu lintas hanya dipengaruhi oleh ada tidaknya polisi. Drive safely.

Presentasi aja LDR

Previously, on the Randomity Today…

(macak The Big Bang Theory)

Jadi, ini adalah sekuel cerita saya yang kemarin, tentang Hari Besar yang Batal ituh. Alkisah, saya dan tiga orang kolega kantor harusnya pergi ke Pekanbaru untuk mempresentasikan paper kami masing-masing di sebuah konferensi. Sayang sekali kunjungan kami tergagalkan oleh kabut asap yang berakibat dibatalkannya penerbangan kami.

Trus papernya gimana? Presentasinya gimana?

Sebenarnya bisa aja sih mencabut paper yang sudah didaftarkan, tapi kan udah bayar dan lagipula gak enak juga sama panitia yang udah susah payah ngusahain agar konferensinya tetap jalan. Sepulang dari bandara, saya ngontak panitia via e-mail untuk mengabarkan bahwa kami tidak jadi datang, dengan melampirkan keterangan batal terbang dari maskapai.

Harusnya saya dijadwalkan presentasi pada Senin pagi. Sebelum jam 9 datang email dari panitia dengan pemberitahuan bahwa presentasi akan tetap dilakukan by phone, dan panitia meminta kami mengirimkan file presentasi paling update. Phone ya, bukan video call. Oke. Presentasi by phone akan dilakukan setelah jam 1 siang. Sambil kirim file .ppt saya tanya ke panitia teknis presentasinya nanti gimana.

Tidak ada jawaban dari panitia.

Sekitar jam 1 siang saya ngusungin laptop dan earphone ke lab buat nyari tempat sepi kalau sewaktu-waktu panitia nelpon untuk presentasi. Tunggu punya tunggu, sampai jam 2 belum juga ada kabar. Barulah sekian menit lewat dari jam 2 saya ditelepon panitia dan diberitahu bahwa saya dapat giliran presentasi jam 16:30.

Heu. Masih lama. Saya nunggu jam setengah lima sambil ngetik skrip per slide ppt biar nanti pas presentasi tinggal baca.

Tibalah saat yang dinanti (halah), lima atau sepuluh menit lebih telat dari waktu yang dijanjikan panitia menelepon saya untuk memastikan bahwa saya sudah siap.Di sana ada panitia yang bantuin geser slide kalau saya sudah ngasih aba-aba “next”. Saya membuka presentasi seperti biasa.

“Good afternoon ladies and gentlemen, thank you for attending this conference. In this session I would like to present our research finding, entitled ‘Preparation and Characterization of PVdF-LiBOB-based Solid Polymer Electrolyte…”

endebrey endeskrey

Saya duduk di lab menatap layar laptop berisi skrip dan slide presentasi, dan membayangkan bahwa saya sedang presentasi beneran di hadapan audience. Di akhir tiap slide saya berpesan “next”, sesuai titah panitia. Seperti layaknya pidato sambutan peresmian gedung baru, di akhir presentasi tentu saja saya berterimakasih pada pihak-pihak yang telah membantu hingga penelitian tersebut bisa membuahkan sekelumit paper dan semoga hasil penelitian kami berguna bagi orang lain. Amin.

Hmm.

Ini kali pertama saya presentasi by phone. Phone call ya. Bukan video. Kayak lagi siaran radio aja gitu. Ngomong sendiri. Saya gak ngerti apakah di ujung sana itu beneran ada audience dan panitia yang bantuin geser slide, atau saya cuma di-loudspeaker di ruang sekretariat sembari panitia hilir mudik ngecek daftar hadir atau malah lagi break sambil ngemil nasi padang.

Ya gak apa-apa. Niatnya tulus mau berbagi kok. Halah.

Setelah kira-kira 20 hari, siang tadi datanglah paket untuk saya yang berisi seminar kit: buku program, block note, name tag, bukti pembayaran, dan sertifikat. Paket itu dikirimkan oleh panitia dari Pekanbaru. Huhuhu. Terharu. Terimakasih banyak ya. Semoga jurnalnya segera terbit dan bisa saya nilaikan.

Begitulah kisah saya tentang presentasi yang lucu ini. Gak cuma pacaran, mau presentasi aja kepaksa LDR, mz. Hiks.

#IndonesiaTanpaLDR

NB: BTW, harusnya kan kami nginep di Hotel Pangeran Pekanbaru ya. Saya udah bayar via Traveloka, tapi pas gak jadi berangkat itu lupa mau telpon hotelnya. Baru esok harinya saya kepikiran ngontak traveloka untuk nanyain apakah bisa refund atau tidak. Ternyata Traveloka gerak cepat nelponin hotelnya dan pihak hotel dengan baik hati memberikan saya full refund yang dibayarkan keesokan harinya langsung. Terimakasih ya, Traveloka dan Hotel Pangeran Pekanbaru!

Sedangkan refund dari maskapai, Batik Air, malah sampai sekarang belum nyampai juga…

 

Belajar Melantai di Bursa Saham

Harusnya dilaporkan empat bulan yang lalu tapi diputuskan bahwa nulisnya setelah praktek dan melihat bagaimana progressnya, jadi begini kisah saya soal acara workshop investasi yang diadakan Mandiri Sekuritas. Halah.

Simbok Venus woro-woro di Twitter bahwa Mandiri Sekuritas mau ngadain kegiatan pengenalan investasi di pasar modal, eh saya kok tertarik. Buat saya, investasi artinya mengamankan aset agar nilainya tidak berkurang akibat digerus investasi atau dihabiskan secara tidak produktif. Sejauh ini usaha saya berinvestasi barulah di dunia reksadana, logam mulia, dan deposito, dan menurut saya hal-hal tersebut masih bersifat pasif.

Mungkin saatnya sekarang belajar hal baru yang lebih aktif dan dinamis. Mumpung masih muda, dan biar lebih cerdas.

Kelas Investasi Cerdas yang saya ikuti diadakan di Galeri Simulasi Bursa Efek Jakarta pada tanggal 30 Mei lalu. Ada beberapa sesi yang diawali dengan pengenalan konsep investasi, jenis-jenis pasar modal beserta kelebihan dan kekurangannya, dan prinsip dasar investasi pasar modal. Nah yang menarik perhatian saya adalah prinsip dasar investasi pasar modal yaitu excess fund (bukan aset yang sudah dianggarkan untuk pos tertentu), be informed (aktif menggali informasi), diversifikasi investasi (prinsip: don’t put all eggs in one basket), disiplin (targeting profit atau cut loss), dan mengenali broker.

Galeri Simulasi Bursa Efek Jakarta. Apiiiikkk yaaaaa *ndesa*

Galeri Simulasi Bursa Efek Jakarta. Apiiiikkk yaaaaa *ndesa*

Mengenali broker ini penting, lho. Gak pengen, kan, aset kita dikelola oleh pihak yang gak jelas asal-usul dan rekam jejaknya. Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Lembaga Kliring dan Penjaminan (PT. KPEI) dan Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian (PT. KSEI) berada di bawah OJK, di mana BEI memiliki tanggung jawab penuh untuk menjadi payung dari 115 broker dan 510 emiten (perusahaan yang menyediakan sahamnya untuk dipasarkan di pasar modal). Perdagangan di pasar modal BEI memiliki mekanisme sebagai berikut:
1. Sistem tawar menawar yang kontinyu dari pukul 09:00 – 16:00 (pre-opening 08:45 – 08:55 dan preclosing 15:50 – 16:00)
2. Satuan perdagangan minimal 1 lot (100 lembar)
3. Transaksi terjadi berdasarkan prioritas harga dan waktu
4. Menganut sistem fraksi harga
5. Ada tetapan batasan maksimum pergerakan harian yang wajar dengan sistem auto-rejection.

Sesi selanjutnya membahas materi yang lebih teknis seperti tipikal pergerakan pasar modal di Indonesia dan tips-tips berinvestasi di pasar saham yang menurut saya sangat membantu orang yang awam di bidang pasar modal bahkan keuangan secara umum.

Mandiri Sekuritas sebagai salah satu broker terpercaya di bawah naungan BEI punya sistem yang memudahkan penggunanya berinvestasi di pasar modal, namanya MOST (Mandiri Online Security Trading). Di website (ada apps iOS dan Androidnya juga lho!) MOST ada fitur yang membantu kita untuk memantau pergerakan pasar modal harian baik dari volume maupun persentase kenaikan atau penurunan harga saham SELURUH emiten yang terdaftar.

Halaman Portofolio di MOST menunjukkan total aset kita, baik yang sudah berupa saham maupun yang masih “mentah” atau belum diperjualbelikan di pasar modal. Kalau pengen mantau saham ya tinggal search di halaman HairCut List untuk melihat kode saham dan pergerakannya. Kalau sudah siap tinggal ke halaman Trade untuk jual atau beli. Setiap transaksi dilakukan secara online dan harganya diperbarui setiap saat. Kayak gini nih kalo di lantai bursa efek.

Papan bursa

Papan bursa

Pada sesi simulasi masing-masing dari kami diberi modal sebanyak 500 juta rupiah untuk ditransaksikan. Saham pertama yang saya beli di pasar modal adalah MLBI, perusahaan pemilik Bir Bintang. Halo halo #sahabatmiras. Setiap transaksi selalu dikonfirmasi dengan pop-up seperti ini:

AKU KAYAAAAAA

AKU KAYAAAAAA

Hey hey lihat, ada error system. Limit transaksi saya yang harusnyaa 392 jutaan (500 juta modal dikurangi 108-an juta untuk beli 1 lot MLBI) kok di sini jadi 116 trilyun. Tapi saya kok malah merasa bingung punya uang 116 trilyun.

Baiklah, biar gak bingung kalau punya uang banyak jadilah saya coba praktek investasi saham sepulang dari kelas Investasi Cerdas, yang dengan baik hati membuatkan kami sekelas rekening saham plus saldo 250 ribu rupiah hahahaha. Nomor rekening saham beda dari nomor rekening tabungan Mandiri, dan untuk mengisinya cukup dengan prosedur transfer antar bank Mandiri aja. As easy as A, B, C. Begitu modal sudah berhasil ditransfer ke akun MOST, kita bisa update data pergerakan pasar modal di halaman Trade dan memutuskan mau beli saham yang mana. Tips memilih emiten ini pun disampaikan di kelas Investasi Cerdas, lho, termasuk tipikal pergerakan harga saham pada unit bisnis yang berbeda seperti perusahaan FMCG (fast-moving consumer goods), perbankan, konstruksi, agribisnis, dan lain-lain.

Wah ternyata ndak begitu susah ya. Saya coba melakukan beberapa transaksi pembelian saham tanpa kesulitan. Hasilnya juga bisa dipantau langsung secara online dan real time dengan warna hijau kalau kita potensial untung, dan warna merah kalau kita potensial rugi. Kenapa pake kata “potensial”? Karena kita belum bisa dibilang untung atau rugi kalau saham yang kita punya belum dijual. Ingat, pergerakan harga saham itu dinamis.

Trus sekarang saya sudah untung berapa? Yaaaa… Belum bisa buat beli laptop baru sih, tapi udah cukup lah kalau buat beli sepatu Converse atau ransel Bodypack baru. Dan karena saya masih tahap belajar berinvestasi di pasar modal, jadi kegiatan saya juga masih dalam mode gak ambil untung banyak-banyak tapi tetap menghindari kerugian sambil observasi tiap tahapnya, mulai dari prosedur matching transaksi sampai pencairan portofolio ke rekening saham dan rekening tabungan Mandiri.

Tapi ini menyenangkan! Serius. Saya seneng baca Morning Notes, Technical View, dan Closing Market yang dikirim Mandiri Sekuritas ke email pribadi saya buat apdet info terkini di dunia industri dan pasar modal. Buat saya yang kerjanya “cuma” di seputaran material logam, mineral, dan mesin, punya kegiatan investasi gini rasanya malah bisa jadi “hiburan” yang produktif. Kalaupun pasar lagi “merah” ya setidaknya saya bisa baca berita, nyari info, dan nambah wawasan ekonomi dan politik biar tahu ada apa di luar dunia kecil saya di ruang kantor dan laboratorium.

Tengkyu, kelas Investasi Cerdas!

To A Thousand Second Chances

Kesempatan tidak akan datang dua kali, begitu katanya. Saya sih gak percaya. Dalam hidup, kadang persimpangan jalan membawa kita pada pilihan-pilihan yang begitu sulit untuk diputuskan. Beberapa di antaranya membenturkan ego, mimpi, dan hati. Tentukan pilihan, putuskan, lalu lupakan. Live without regret. Jika sebuah pilihan terpaksa tak dapat diambil karena alasan yang tidak dapat dihindari, simpan saja dalam sebuah kotak pandora. Suatu saat bukan tak mungkin pilihan tersebut akan kembali mengetuk pintu. Kadang pintu yang sama bisa terbuka dua kali. You just have to never say never because anything can happen. Anything.

Hampir memasuki kuartal ketiga, tahun ini punya banyak warna buat saya, salah satunya belajar gagal. Bukan belajar dari kegagalan, tapi belajar gagal. Belajar menghadapi kegagalan. Sebagai anak pertama yang by default selalu merasa tertantang untuk bisa menjadi role model buat adik-adik (halah), rasanya kemampuan saya untuk menghadapi kegagalan masih kurang. Yang terjadi justru menyalahkan orang lain, menyalahkan situasi, menyalahkan diri sendiri. Ya cuma segitu doang, gak ada tindak lanjutnya. Gak ada efek konstruktif dari kegagalan itu.

Ketika menghadapi satu peristiwa yang tidak terlalu menyenangkan beberapa bulan lalu, rasanya saya rada kehilangan semangat. Tidak ingin berusaha untuk jadi lebih baik lagi. Iya, saya berusaha untuk mencoba lagi, tapi ya.. gitu. “Hanya” demi memuaskan rasa penasaran untuk melihat apa percobaan selanjutnya masih gagal atau tidak. Ya mungkin pada percobaan pertama saya kurang menyiapkan diri. Pada percobaan kedua itu saya malah sungguh merasa bersalah karena sudah tidak punya ambisi sama sekali. Pokoknya dijalanin aja. Pokoknya sudah dicoret dari to-do-list. Cuma waktu itu dalam hati saya cukup yakin bahwa kali ini saya gak mungkin gagal. Entah keyakinan itu muncul karena memang qualified, kepedean, atau malah sombong. Yang jelas setelahnya saya gak terlalu memikirkan hal itu lagi. Nothing to lose.

Rencananya saya masih akan menimba ilmu di kantor sampai beberapa tahun ke depan sambil belajar “membaca” dan “menulis”. Maklum peneliti pemula. Tapi ya memang namanya manusia, cuma bisa merencanakan. Saat datang kabar bahwa saya diberi kesempatan untuk sekolah lagi tahun depan, saya masih gamang melihat kesempatan kedua kembali mengetuk pintu. Did this really happen? I know it is bound to happen… but really? Do I deserve it?

Nevertheless, deep down inside I feel truly grateful. Tuhan menjawab doa dengan caranya sendiri… tidak pernah terlambat, tapi tidak juga terlalu cepat. Kalau kesempatan ini datang beberapa tahun yang lalu saat saya benar-benar menginginkannya, saya masih kerja entah di mana dan sepulang sekolah saya juga belum tahu mau kerja di mana. Saat saya kembali memintanya, Tuhan tahu ini saat yang paling tepat dan Dia berikan jalan yang lapang.

First, my little brother finally got his bachelor’s degree and already has a decent job which lifted up a thick, stormy cloud over my head. Second, and this is the most important thing, is that I wouldn’t make my father worry about me studying abroad (again!) will delay his wish to see me getting married, because soon I will be tying the knot anyway. All in all, it’s a win-win solution for all of us. Right time, right people, right place. Wish us luck!