Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Category Archives: rada penting

Dari Mulut Singa ke Mulut Buaya

Ini hari pertama saya terbebas dari tugas sejak kuliah dimulai akhir september lalu dan tugas pertama sudah diberikan pada minggu kedua. Sejak itu pula saya lupa bagaimana rasanya tidur yang layak tanpa kepikiran tugas yang belum selesai atau bangun pagi tanpa ditampar kenyataan bahwa masih ada tugas yang menanti untuk dikerjakan.

Itu juga kalo tidur. Hahaha. Setelah dua mingguan ngerjain tugas dan masih punya jam tidur yang rada normal (tidur jam 1, bangun jam 7), saya baru ngeh kalo kemampuan saya untuk tune-in sama pelajaran dan logikanya lebih jalan kalau belajar tengah malam sampai dini hari. Saya kemudian mencoba untuk mengganti pola tidur: tidur sore jam 4-8, kemudian mandi makan malam dan belajar sampai pagi. Jam tidur kalau pagi biasanya berkisar antara jam 4 atau 5 sampai jam 8, tapi kadang juga baru bisa tidur jam 6 pagi dan harus bangun jam 8 karena ada kuliah pagi.

Salah satu tugas pernah bikin saya ndak tidur selama dua hari. Jadi, hari Rabu kan saya kuliah dari pagi sampai jam 1 siang. Pulangnya saya masak, makan siang, lalu tidur jam 2 dan bangun jam 6 seperti biasa. Setelah makan malam saya lanjut ngerjain tugas yang sudah saya mulai beberapa hari sebelumnya, berharap bisa selesai paginya.

Ternyata gak selesai dong. Ternyata lebih sulit dari yang saya bayangkan. Kamis pagi saya belum selesai juga ngerjain tugas tapi harus segera berangkat kuliah jam 10. Pulangnya saya ngerjain tugas di perpus karena kalau ngerjain di rumah pasti tidur. Karena capek sorean saya pulang, mandi, dan lanjut nugas di kamar sampai pagi lagi. AKHIRNYA SELESAI. Convert tugas ke pdf lalu submit online lewat Blackboard. Pengin tidur tapi gak berani karena terlalu lelah dan takutnya malah ketiduran padahal ada kuliah jam 10. Selama 3 jam kuliah itu saya masih bisa bangun dan konsen sama kuliah, ternyata. Takjub juga. Jam 1 pulang rasanya udah gak karuan. Mampir Sainsbury’s beli roti buat makan siang, lalu sampai rumah saya langsung makan lalu cuci muka cuci kaki siap-siap tidur. Korden jendela saya tutup rapat biar gak ada cahaya masuk. Saya pamit tidur ke suami biar gak dicariin, lalu naruh hempon dan kayaknya gak sampai semenit langsung tepar. Bangun-bangun kelaparan tengah malam. Bikin makan di dapur lalu makan dan tidur lagi. Baru bangun Sabtu siang. Huehuehuehe.

Hasilnya? Tugas yang itu tadi dapat nilai 78/100. Usaha keras itu tidak akan mengkhianati, kata JKT48. However, hard work doesn’t equal good grades. Ingat itu ya. Tapi saya sudah senang dapat nilai segitu. Ekspektasi saya cuma 60/100 aja.

Baiklah. Hari ini saya masih mau merayakan kebebasan dulu dengan nyampah-nyampah di rumah melakukan hal yang gak berguna. Nanti malam membuat study plan agar bisa belajar dengan teratur untuk ujian. Begitulah. Perjuangan belum berakhir. Cmungud.

Balada Paspor Biru PNS

Akhir tahun lalu saya dapat undangan untuk mengikuti kegiatan workshop XAS dan XANES di Synchotron Light Research Institute (SLRI) Thailand, selain itu abstrak penelitian saya terpilih menjadi peserta yang dihadiahi sponsorship berupa biaya transportasi PP Jakarta – Nakhon Ratchasima dan akomodasi selama workshop 5 hari tersebut. Saat saya menghadap manajemen kantor untuk minta tandatangan surat ijin, jantung saya jatuh ke lantai saat diberitahu bahwa permohonan ijin saya ditolak karena saya tidak punya paspor biru.

“Pak, kan ini saya disponsori SLRI jadi tidak minta dana dari kantor?”, demikian argumen saya.

Pihak manajemen menjelaskan bahwa ijin keluar negeri dalam rangka dinas (terlepas dari siapa sponsornya) mewajibkan pegawai yang bersangkutan memiliki paspor dinas (paspor biru), surat penugasan resmi dari Sekretariat Negara serta exit permit (stiker yang ditempel di paspor, kayak visa gitu) dari Kementerian Luar Negeri, padahal untuk mendapatkannya itu jalurnya panjang sekali. Waktu itu saya cuma punya waktu tiga hari sebelum berangkat karena memang surat undangannya baru sampai kotak masuk surel. Hati saya nyaris patah, dan saya pun menumpahkan kekesalan ke mbak-mbak guardian kantor Sekretariat Negara. Dia tanya “lha kenapa marahnya sama Setneg e.”

Trivia: Apa itu paspor biru, SP Setneg, dan exit permit?

  • Paspor biru adalah paspor untuk pegawai pemerintah (official passport) yang pergi ke luar negeri dalam rangka dinas. Kenapa dinamai paspor biru? Karena sampulnya warna biru. Halah. (kegaringan level berapa ini). PNS yang keluar Indonesia untuk jalan-jalan tidak boleh pakai paspor biru. Kalau sudah di luar Indonesia baru boleh

  • SP Setneg adalah Surat Penugasan yang dikeluarkan oleh Kementerian Sekretariat Negara (mbok udahan mbak garingnya) yang berisi detail penugasan kita, misalnya keluar negeri untuk sekolah, training, fellowship, dll serta durasinya. Khusus untuk PNS tugas belajar, SP Setneg ini adalah syarat mutlak penyetaraan ijazah. Kalau gak ada SP Setneg, biarpun mau kuliah ke luar angkasa ya ijazahnya gak akan diakui karena dianggap tugas belajarnya ilegal

  • Exit Permit adalah stiker yang ditempel di paspor, dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri sebagai tanda bahwa kita sudah memenuhi syarat administratif tugas kedinasan untuk melangkah melewati gerbang imigrasi

Setelah saya pikir… ya itulah birokrasi. Kadang kita jadi generasi yang mewarisi hal-hal yang kita sendiri gak tahu bagaimana asal-usulnya. Mungkin orang Setneg bingung juga kenapa mereka harus ngurusin perjalanan dinas luar negeri PNS se-Indonesia. Iya, PNS dari seluruh penjuru negeri ini. Bayangin berapa berkas yang harus mereka validasi dan berapa surat yang harus mereka rilis per harinya.

Oke. Nganu. Saya tadi mau cerita apa ya.

Setelah yakin mau kuliah di luar negeri, saya langsung membuat daftar apa-apa saja yang perlu disiapkan. Bukan soal baju atau sepatu tentunya, tapi lebih kepada persyaratan administrasi. Jujur aja sebagai orang yang biasanya menentang birokrasi rempong saya tetep aja ngerasa gugup dan sedikit panik karena kali ini tidak dapat menghindar.

*menghela pedati panjang*

Langkah pertama yang saya lakukan adalah telpon ke kantor pusat instansi tentang syarat pembuatan paspor. Beliau pun minta alamat surel saya dan berjanji akan mengirimkan detailnya. Melalui surel, mas-mas Biro Umum yang ramah itu memberikan info yang cukup jelas disertai nomor telepon beliau kalau sewaktu-waktu perlu info tambahan. Di instansi saya, syarat-syaratnya seperti ini:

  1. Surat permohonan dari satuan kerja >> ditandatangani kepala kantor
  2. Undangan atau LoA. Lampirkan juga surat dari sponsor >> saya lampirkan LoA dari kampus dan LoG dari LPDP
  3. Daftar Riwayat Hidup perjalanan dinas LN >> ditandatangani kepala kantor dan kepala biro kerjasama
  4. Passport (bila sudah mempunyai paspor dinas sebelumnya) >> not applicable
  5. Formulir Passport / Exit Permit yang sudah diisi >> template Kemenlu
  6. Foto Ukuran 4×6, 4 Lembar, blazer hitam, background putih, tanpa kacamata, wajah tidak tertutup poni, telinga kelihatan, tidak tersenyum lebar, tidak kelihatan gigi, photo natural tidak diedit warna kulit.
  7. Fotokopi kartu pegawai yang sudah dilegalisir >> legalisir dan ttd kepala kantor
  8. Fotokopi KTP >> gak perlu legalisir
  9. SK CPNS/PNS >> fotokopi aja, gak perlu legalisir
  10. Surat Perjanjian (untuk dinas lebih dari 3 bulan) >> bermeterai, ditandatangani kepala biro kerjasama

Setelah mendapatkan daftar tersebut, saya menemui kepala kantor (pejabat eselon II) untuk minta ijin memulai proses administrasi tugas belajar sekaligus meminta surat pengantar. Bersama dengan berkas-berkas lainnya surat pengantar tersebut saya bawa ke kantor pusat di Gatsu. Berkas asli diberikan kepada Biro Kerjasama untuk dibuatkan surat pengantar ke Setneg, sedangkan fotokopian dan formulir permohonan paspor diberikan kepada Biro Umum untuk dibuatkan surat pengantar ke Kemenlu. Menurut mas-mas Biro Umum, proses pembuatan paspor dinas ini membutuhkan waktu sekitar 20 hari.

Jadi, secara singkat proses perjalanan dinas luar negeri PNS itu seperti ini, di instansi saya lho ya tapi. Mileage may vary.

Undangan –> surat pengantar satker (tanda tangan kepala kantor) –> surat pengantar instansi (tanda tangan kepala biro kerjasama) –> surat penugasan (Setneg) –> Paspor dinas dan exit permit (Kemenlu) –> Visa (Kedutaan) –> perjalanan dinas

SP Setneg untuk saya sudah jadi sekitar 3 minggu dari submit berkas, sedangkan paspor dinas selesai seminggu setelahnya. Di paspor saya belum ditempel stiker exit permit karena masa berlaku exit permit hanya 2 bulan, sedangkan keberangkatan saya masih lebih dari itu. “Nanti saja apply exit permit-nya bulan Juli”, demikian kata mas-mas CS. Hore udah punya paspor biru dan SP Setneg!

Udah cuman mau cerita gitu doang? ENGGAAAAAAAAAKKKKK…

Saya akui reformasi birokrasi yang digaungkan Menpan RB memang sedikit banyak mengubah persepsi saya terhadap kerakusan oknum yang seringkali menyalahgunakan jabatannya untuk memperkaya diri sendiri.

Halah bahasamu mbak, koyok nulis nang koran ae. Baleni!

Saya akui reformasi birokrasi yang digaungkan Menpan RB memang sedikit banyak mengubah persepsi saya yang masih menganggap banyak oknum PNS melakukan pungli, namun proses panjang dan rempong (menurut saya sih panjang dan rempong) ini bukannya tanpa cela, karena ternyata masih ada juga oknum yang membuat saya rada kecewa. Meskipun demikian saya sudah antisipasi dengan melakukan beberapa langkah berikut:

  1. Bikin paspor jangan mepet. Perkirakan hari libur, hari besar, apalagi kalo ngelewatin lebaran.
  2. Cari info sebanyak-banyaknya tentang prosedur pembuatan paspor biru/SP Setneg/Exit permit dari instansi terkait. Terserah, dari website atau dari orang dalam. Cari info lho ya, bukan minta dicaloin.
  3. Cari surat edaran atau info resmi yang memberitahukan bahwa pembuatan berkas-berkas tersebut TIDAK DIPUNGUT BIAYA. Ini penting banget. Oknum manapun kalau dikasih dokumen macam gini gak mungkin bisa berkutik.
  4. Bersikaplah sopan pada para petugas, entah itu petugas perjalanan dinas di level instansi, petugas di Biro KTLN Setneg, atau di Kemenlu. Kadang ada hal yang bikin emosi, tapi usahakan untuk tetep adem biar tidak maramara
  5. Setiap kali menaruh berkas, mintalah tanda terima dan tanyakan kapan kira-kira bisa diambil serta siapa yang dapat dihubungi.
  6. Jangan dibiasakan untuk bertanya “bayar berapa pak/bu?” setelah menyerahkan berkas dan mengambil tanda terima. Lempar senyum termanismu dan ucapkan terimakasih.
  7. Jangan sekali-sekali ngasih duit, meskipun diminta. Prosedur bilang gratis ya gratis. Kalau dipaksa suruh bayar, tanya aturannya di mana dan minta kuitansinya. Kalau dipersulit, lapor ke atasannya atau lakukan prosedur whistleblowing system. Udah diajarin kan? Kalau belum, tanya pak Yuddy. Tuliskan juga di website lapor.go.id
  8. Berdoalah semoga urusanmu dilancarkan 😆

Sudah gitu dulu aja pengalaman saya ngurus paspor biru, semoga berguna terutama buat teman-teman PNS. Huahahaha. Selanjutnya adalah apply exit permit ke Kementerian Luar Negeri dan apply visa UK ke VFS Global. Masih bulan Juli nanti kok, para penggemar harap sabar ya.

Cupz.

P.S: soal undangan workshop ke SLRI Thailand tadi, akhirnya saya berangkat juga pakai surat ijin biasa, bukan dinas. Gak tahu motong cuti apa enggak pokoknya asal gak dihitung bolos. Dihitung bolos juga biarin hihihi

Kisah Perpanjangan SIM Yang Gak Bisa Online

Masa berlaku Surat Ijin Mengemudi (SIM) saya ceritanya sudah mau habis (ciee.. kode kalo mau ulangtaun) jadi saya cari-cari info di twitter gimana cara perpanjang SIM. Beberapa balasan menginformasikan bahwa menurut peraturan terbaru, SIM bisa diperpanjang mulai 14 hari sebelum masa berlakunya habis hingga 3 bulan setelah masa berlakunya habis. Perpanjang SIM sebulan sebulan sebelum expired akan berakibat ditolaknya berkas (nanti aja balik lagi kalo udah deket-deket tanggal expired), sedangkan perpanjang SIM lebih dari 3 bulan setelah expired akan berakibat disuruh bikin SIM baru — lengkap dengan ujian tertulis dan ujian praktik.

Informasi lain yang saya dapat, perpanjang SIM bisa dilakukan secara online jadi tidak harus mudik ke daerah penerbitan SIM. Sayang sekali, untuk saat ini perpanjangan SIM secara online baru berlaku untuk 45 wilayah Satpas (Satuan Penyelenggara Administrasi) SIM. Kabupaten saya tidak ada di daftar 45 daerah itu, jadi mau gak mau saya harus mudik. Hiks.

Yasudahlah, demi ketertiban berlalu lintas saya ambil libur 2 hari: Jumat dan Senin. Rencana awal cuma akan ngurus di hari Sabtu aja (Satpas SIM buka sampai jam 10 pagi), tapi kemudian saya kepikiran iya kalo hari Sabtu itu kelar. Kalo ngantri gimana? Kalo gak slese gimana? Kalo ada kurangnya ini itu gimana? Akhirnya saya ngambil libur hari Jumat untuk antisipasi hal-hal tak terduga. Trus… kok hari Senin libur juga? Hehe ini sih karena gak dapat tiket kereta balik hari Minggu malam. Selain itu, pesawat JOG-CGK hari Senin siang harganya lebih murah daripada tiket kereta eksekutif.

~Satlantas Polresta Surakarta~

KTP mu kan Karanganyar, jeung. Kenapa ke Solo?

Nganu, sebelumnya KTP saya Solo jadi SIM-nya pun masih pakai alamat Kota Solo. Berhubung alamat di KTP sekarang Kabupaten Karanganyar, maka alamat di SIM harus ganti dan untuk melakukannya perlu dokumen yang disebut “BERKAS MUTASI” yang menyatakan bahwa alamat saya pindah.

Kereta saya tiba di Jogja jam 6 pagi. Dari stasiun Tugu saya dijemput adik, kemudian si bocah saya kembaliin (macem pulpen aja dikembaliin) ke kostnya. Setelah numpang cuci muka sikat gigi dan ganti kemeja (iya iya males mandi), jam 7 lewat dikit saya ngebut motoran ke Solo sambil otak rada spaneng karena takut kesiangan. Hari Jumat, cuy. Udah gak sempet ngelirik spedometer, yang jelas jam 8 lewat dikit saya sudah sampai di Satlantas Solo di prapatan Gendengan. Motor saya parkir, lalu saya jalan ke ruangan dengan papan bertuliskan “Informasi Mutasi SIM” di depannya.

“Pak, mau minta berkas pengantar untuk mutasi SIM.”

“Oke mbak, ditinggal dulu. Ini petugas yang tanda tangan belum ada. Paling nanti baru selesai jam setengah 10 ya.”

Haduh. Baru inget, kayaknya petugasnya masih aerobik deh, kan ini hari Jumat…

Nunggu di luar ruangan bikin saya tambah spaneng. Untunglah hiburan datang dalam bentuk orang-orang yang lagi ujian praktik SIM C di halaman Satlantas. Seneng juga liatnya, berarti masih banyak orang yang bikin SIM gak pake calo. Hiburan lain datang dalam bentuk oknum polisi yang lewat depan saya naik mobil polisi, nyetir mobil tanpa pakai seatbelt sambil cekikikan di telpon. Entah lagi telponan sama apa atau siapa. Ini gimana sih polisinya? Gak malu sama yang lagi ujian praktik?

Arloji Baby-G hitam saya menunjukkan waktu pukul 09:20 saat nama saya dipanggil. Berkas mutasi sudah jadi, bayar 25 ribu rupiah dikali dua (untuk sim A dan C). Tanpa kuitansi.

~ Satlantas Polres Karanganyar ~

Saya langsung bergegas ngeslah motor dan menyusuri jalan Slamet Riyadi ke arah Pucang Sawit, kemudian ngebut di flyover Palur sampai Jaten dan tibalah saya di Satlantas Karanganyar. Motor saya parkir di sebelah Satlantas, kemudian saya langsung ke tempat pemeriksaan kesehatan di samping Satlantas. Di situ berkas-berkas dirapikan di dalam map (fotokopi KTP 2 lembar, fotokopi SIM 2 lembar) dan distaples. Pemeriksaan kesehatan di situ cuma test buta warna dan baca huruf di dinding. Kacamata gak disuruh lepas kok, jadi masih bisa baca juga. Hahaha. Biaya pemeriksaan kesehatan: 40 ribu rupiah dikali dua. Tanpa kuitansi juga.

Berkas dari pemeriksaan kesehatan dibawa ke bank BRI yang berada tepat di sebelah ruang dokter dan ditaruh di rak khusus “Pembayaran SIM”. Karena lagi gak ngantri maka dua menit kemudian nama saya sudah dipanggil. Perpanjangan SIM A sebesar 80 ribu rupiah dan SIM C sebesar 75 ribu rupiah. Ada kuitansi resmi.

~ Satpas SIM ~

Dari situ saya langsung ke Satpas SIM yang pindah sementara ke timur Taman Pancasila. Berkas saya taruh di Loket 1 : Pendaftaran. Petugas dengan sigap memeriksa berkas saya dan berkata dengan tersenyum manis.

“Mbak, ini KTP nya masih KTP sementara kan. Coba ke Dinas Kependudukan dulu, minta cetak e-KTP.”

Darah saya langsung berdesir. Haduh. Cukup ndak ini waktunya. Ngelirik arloji di pergelangan tangan. 10:40.

“Masih sempet gak Pak?”, kata saya dengan suara khawatir. Bapak petugas kayaknya ngerti kekhawatiran saya, kemudian beliau menjawab masih sambil tersenyum manis.

“Masih kok Mbak. Ditunggu.”

~ Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil ~

Dengan rada tergesa saya ke Dinas Kependudukan deket alun-alun kota. Di situ saya ambil nomer antrian tiket di mesin, kemudian masuk ke ruangan. Ternyata di situ antrinya chaos sekali. Gak ada urutan whatsoever. Akhirnya saya samperin mas-mas petugas yang baru kelar sama customer. Saya kasih lembar KTP sementara yang segede A4 beserta fotokopiannya, kemudian mas petugas yang Andre itu bilang “baru bisa diambil besok ya, mbak. Jaringan lagi error.”

TARAKDUNGCESS.

“Mas maaf ini lagi ditunggu di Satlantas. Saya mau perpanjang SIM tapi KTP sementara gak diterima.”

“Loh harusnya bisa. Kan ini dokumen resmi juga.”

“Mmm.. masnya boleh sama saya ke Satlantas buat jelasin.”

“….”

“….”

“Mbak ke ruangan TU sana ketemu sama bu XY dulu ya (sorry bu lupa namanya). Minta surat keterangan kalau jaringan lagi error.”

Saya ke ruangan yang ditunjuk, nyari bu XY yang ternyata (kata bu PQ — sorry bu saya lupa juga namanya) sedang keluar ruangan. Saya pun bilang ke bu PQ kalau e-KTP ini mendesak untuk ngurus perpanjangan SIM. Bu PQ kemudian nyuruh saya nunggu di situ sebentar lalu keluar ruangan. Gak lama kemudian beliau kembali menemui saya sambil membawa kopian KTP sementara saya yang sudah ditulisi sesuatu dan diparaf.

“Ini, kasih ini balik ke mas Andre ya. Bilang aja sudah di-approve bu PQ gitu.”

I did as she told me to. Mas Andre langsung masuk ke ruangan di belakangnya, dan lima menit kemudian beliau keluar sambil membawa e-KTP saya yang langsung dicetak. Saya cek data di e-KTP lalu setengah berlari keluar ruangan setelah berterimakasih ke mas Andre.

Hmm. Mendadak jaringannya sudah gak error. Riiiight. *winky face*

~ Kembali ke Satpas SIM ~

Saya kembali ke Satpas SIM setelah fotokopi e-KTP yang baru dicetak (ihiy). Map berisi berkas yang tadi saya serahkan lagi di loket 1 beserta fotokopian e-KTP. Bapak petugas menyambut saya dengan senyum, “masih ngejar kan, Mbak? Tenang aja”. Waktu menunjukkan pukul 11:15 saat beliau menyodorkan kembali map saya beserta dua set formulir untuk diisi. Formulir tersebut berisi data-data standar aja sih: identitas diri, nomor resi pembayaran, nomor SIM, nomor yang bisa dihubungi dalam keadaan darurat (saya kok masih refleks ngisi nomor henpon Bapak, bukan nomor suami. Maaf ya mas), kewarganegaraan, dll. Untung isiannya gak sepanjang formulir pengajuan SKCK. Huft.

Formulir saya masukkan ke Loket 2: Penerimaan Berkas. Arloji Baby-G menunjukkan waktu pukul 11:20. Saya kembali ke tempat duduk bersama orang-orang yang juga masih mengantri.

Nama saya dipanggil pukul 11:30 untuk masuk ke ruang foto. Baju dirapikan, kacamata dilepas, senyum. Cekrek. Cekrek.

“Ditunggu sebentar ya, Mbak.”

Sekitar dua menit kemudian SIM baru pun sudah jadi; serah terima dilakukan dengan menukarkan SIM yang lama. Cek data, OK. Cek foto, cute. Halah. Saya keluar ruangan. Arloji Baby-G menunjukkan waktu pukul 11:35.

Saya menghela pedati napas panjang sambil duduk di kursi tempat antrian di depan loket dan memandangi SIM yang ngurusnya pake drama ini. Saking kemrungsung dari pagi kok saya gak sadar kalau rasanya lapar dan haus banget. Sambil minum air dari botol minum saya hampir keselek saat denger pengumuman dari speaker:

“Bapak ibu yang masih mengantri, mohon maaf ujian dan foto akan kami lanjutkan setelah Jumatan dan istirahat siang. Terimakasih.”

Arloji Baby-G menunjukkan waktu pukul 11:40. Sooooooooooo close.

xxx

tl;dr

Perpanjangan SIM bisa dilakukan di luar daerah penerbit sepanjang Satpas SIM asal dan domisili sudah terintegrasi online (baru ada 45 wilayah). Biaya perpanjangan SIM A: 80 ribu dan SIM C: 75 ribu. Ada biaya pemeriksaan kesehatan sebesar 40 ribu dan biaya mutasi SIM 25 ribu, keduanya tanpa kuitansi. Mungkin biaya ini berbeda-beda untuk tiap daerah. Overall saya senang dengan proses perpanjangan SIM yang alurnya efisien serta petugas yang ramah dan informatif.

Sekian. Sampai jumpa dalam kisah lain tentang perpanjangan SIM, lima tahun lagi.

Ngoplos Pakai Data

Apa yang kamu pikirkan kalau baca paragraf di bawah ini?

Adapun racikan Sasongko untuk satu resep sari vodka, ia mengoplos etanol berkadar 95% sebanyak 1,5 liter dicampur air mineral 8,5 liter kemudian ditambah sari manis 1,5 sendok, sitrun satu sendok, dan satu sendok rasa buah salak atau jeruk. Satu resep menghasilkan 10 liter itu lalu dikemas menjadi 30 plastik.

Satu hal yang langsung menohok pikiran saya waktu itu adalah bahwa berita ini dengan begitu ceroboh mendeskripsikan bagaimana miras oplosan itu dibuat, dengan begitu detail. Bahannya pun bahan yang relatif murah dan dapat dibeli secara bebas. Kalau saya penggemar minuman beralkohol dan gak punya banyak duit untuk beli vodka, paragraf tadi bisa memotivasi saya untuk ngoplos minuman sendiri. Njuk kok Beritagar bikin berita macem gini juga. Duh.

Trus masalahnya apa e? Kan ngirit, toh?

Gini lho. Di pelajaran kimia dasar waktu SMA pasti pernah diajarin rumus pengenceran ini:

M1.V1 + M2.V2 = M3.V3

Kalau M1 adalah etanol 95% dengan volume 1.5 liter dicampur dengan air 8.5 liter, harusnya hasil yang diperoleh adalah 10 liter larutan dengan kandungan etanol 9.5%. Kandungan alkohol segitu itu sedikit di atas kandungan alkohol yang ada pada bir tapi masih di bawah wine (12 – 15%) dan jauuuuh di bawah vodka dan whiskey (35 – 50%).

Sampai sini paham? Oke.

Masalahnya adalah… Kalau kadar alkoholnya cuma segitu, kenapa sampai ada lebih dari 20 orang tewas? Nah… Jadi ya, di pasaran sedikitnya ada dua jenis etanol 95%:

  1. Pure ethanol (ethanol murni), yang isinya 95% etanol dan 5% air. Etanol 95% yang ini memang digunakan sebagai bahan baku minuman beralkohol karena kadar kemurniannya yang tinggi (beverage-grade alcohol).
  2. Denatured ethanol, yang isinya 95% etanol dan 5% bahan aditif seperti metanol, aseton, isopropanol, dll. Denatured ethanol ini digunakan oleh industri sebagai pelarut cat, isi termometer, cairan pembersih lantai dan WC, pengawet spesimen biologi, campuran bahan bakar, dll.

Nah lo.

Kandungan alkohol yang lebih murni dan kegunaannya sebagai minuman beralkohol membuat harga pure ethanol jauh lebih mahal dari denatured ethanol (bisa 10 – 20 kali lipat per liternya), karena ia dikenai pajak tambahan. Aditif pada denatured ethanol pada dasarnya ditambahkan agar denatured ethanol tidak diminum karena aditif-aditif tersebut sifatnya berbahaya jika dikonsumsi manusia. Metanol itu bahan baku spiritus dan thinner. Aceton digunakan sebagai larutan penghapus cat kuku. Isopropanol untuk pembersih lantai dan toilet, serta untuk pengawet spesimen biologi.

Setahu saya, semua supplier bahan kimia selalu menyertakan keterangan yang berisi kemurnian bahan yang mereka jual dan senyawa apa saja yang mungkin terdapat di situ. Ini adalah contoh keterangan produk denatured ethanol dari supplier VWR di Amerika Serikat:

CoA

Di situ disebutkan bahwa denatured ethanol yang dijualnya mengandung etanol (ethyl alcohol) 89 – 91% sedangkan sisanya adalah 4-6 metanol (methyl alcohol) dan 4-6% isopropanol (2-propanol). Kalau penjual gak bisa memberikan keterangan ini pada calon pembeli berarti produk mereka diragukan kemurniannya. Beli bahan kimia di manapun pastikan bahwa, sekali lagi pastikan, kamu tahu kandungan apa saja yang ada di dalamnya. Minta katalog dari principal company. Minta CoA (Certificate of Analysis) juga kalau ada.

Di industri (terutama industri makanan dan minuman), kemurnian bahan baku merupakan salah satu kriteria kualitas yang dijunjung tinggi. Prinsipnya ‘kan “rubbish in, rubbish out”. Hal ini juga berguna jika ke depannya ada masalah dengan kualitas produk atau komplain dari konsumen maka penyebabnya dapat ditelusuri mulai dari kualitas bahan baku yang diperoleh dari supplier.

Di Amerika Serikat ada Everclear, minuman keras dengan kadar alkohol 75.5% dan 95% yang memang dijual untuk konsumsi manusia. Agar tidak membahayakan nyawa, Everclear harus diencerkan terlebih dahulu sampai kadar yang aman untuk dikonsumsi. Tapi meskipun dianggap “aman”, distribusi Everclear dengan kadar 95% akhirnya dilarang di banyak negara bagian di Amerika Serikat karena diduga menyebabkan tingginya angka overdosis alkohol dan kekerasan seksual.

Oke. Semoga sampai sini saya ndak menginspirasi siapapun untuk beli Everclear.

Saya gak yakin apakah orang-orang yang ngoplos miras di berita tadi (termasuk yang beli) tahu tentang kandungan apa saja yang terdapat pada etanol yang mereka beli. Kalau yang dibeli adalah denatured ethanol ya… sudah. Pasrah aja dan berharap semoga gak mati atau selamat tapi cacat. Kalau yang dibeli pure ethanol pun belum tentu konsumen aman, karena siapa tahu ada bahan lain yang ditambahkan seperti obat nyamuk cair atau pengawet atau apa gitu. Tapi dari segi ekonomi kok menggunakan pure ethanol untuk ngoplos itu semacam rugi ya.

Pada intinya, pesan saya cuma satu: kalau mau ngoplos, ngoploslah dengan data. Kalau mau pakai etanol 95% biar irit ya pastikan etanolnya beverage-grade, bukan denatured. Selain itu, perhatikan juga toleransi tubuh masing-masing terhadap intake. Kalau biasanya minum bir aja udah teler ya gak usah sok-sokan minum vodka. Kalau lagi gak punya duit tapi pengen tetep bisa minum, patungan lah beli vodka dan encerkan dengan air sampai kadarnya jadi 10%. Udah. Vodka sama air aja, gak perlu pake minuman berenergi apalagi obat sakit kepala atau lotion anti nyamuk. Gimana cara ngencerinnya? Pake tuh rumus di atas.

Pertama Kali Sidang Tilang

Namanya hidup ya, selalu ada yang pertama untuk semuanya. Pagi tadi untuk yang pertama kalinya saya mengikuti sidang tilang. Ceritanya dua minggu lalu saya dan suami pergi ke tempat bulik di Cengkareng, nah di perbatasan Tangerang kota dan Cengkareng ternyata ada razia. Suami saya pede aja nunjukin STNK dan SIM, sampai kemudian kami disuruh minggir dan pak polisi ngeluarin surat tilang warna merah.

“Lho kenapa pak? Kan SIM STNK lengkap.”

“Itu mas, lampu depan.”

Huft.

Suami saya negosiasi supaya yang disita STNK motor saya aja tapi pak polisi bersikeras menyita SIM C beliau. Soalnya kan beliau kerja di Cepu dan gimana lah kalo motoran ke mana-mana tanpa SIM. Belum lagi kalau mau ke Jogja atau mau mudik ke rumahnya di Ngawi.

“Sidangnya tanggal 29 ya, di PN Jakbar, Slipi.”

JAKBAAAARRR??? APAAAAAAHHH?? Ternyata kami ketilangnya udah di area Cengkareng, Jakbar.

*zoom in zoom out*

Sepanjang jalan dia ngomel sambil minta maaf karena nanti saya yang kudu mewakili sidang. Padahal kayaknya saya yang lupa nyalain lampu depan motor setelah selesai manasin motor pagi-pagi. Kayaknya lho ini. Mungkin juga memang beliau yang lupa.

Itulah awal kisah kenapa pagi tadi saya sudah bangun jam 5 pagi dan alih-alih yoga saya langsung mandi. Setelah mandi saya manasin spaghetti fra diavolo yang saya masak semalam dan saya sisihkan buat ganjel perut pagi-pagi. Jam 6 kurang 15 saya berangkat, ke kantor dulu untuk absen dan ijin kemudian ke stasiun Rawa Buntu ngejar KRL. Turun di stasiun Palmerah, saya ngojek ke gedung Udiklat PLN Slipi kemudian nyebrang ke Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Dan..

Pegawai PN Jakbar masih senam pagi. Masih jam 7:15 juga sih.

Oke.

Saya nongkrong di depan gerbang PN Jakbar sambil ngitungin berapa kendaraan yang lewat jalur busway dan takjub melihat beberapa mobil mercy, satu ekor ferrari, dan sebutir bus Mayasari Bakti ikut-ikutan lewat jalur busway. Ya… takjub aja gitu.

Eh gerbang dibuka. Sudah ada puluhan orang nongkrong di depan gerbang dan kami semua langsung menuju basement gedung PN Jakbar dan ngantri di loket untuk menyerahkan slip merah bukti tilang dari polisi. Di loket saya ditanya “mau sidang atau bayar di sini?” Saya bingung kenapa bisa bayar di situ. Kemudian saya langsung ngeh. Ooooooooooo.

“Sidang aja pak”, kata saya.

Kemudian saya mengikuti orang-orang ke lantai atas tempat ruang sidang berada, dan nyari tempat kosong di kursi-kursi panjang, di depan Ruang Soerjono yang masih tertutup. Jam dinding di depan ruang sidang menunjukkan pukul 08:00.

Ruang Sidang Soerjono

Ruang Sidang Soerjono

Orang-orang makin banyak berdatangan. Untung saya masih dapet kursi; yang lain pada lesehan atau berdiri. Sekitar pukul 08:45 ada satu orang petugas PN Jakbar keliling ngecek ruang sidang dan merapikan tumpukan berkas di atas meja di depan ruang sidang, kemudian beliau membacakan satu persatu nama yang ada di surat tilang sekaligus menyebutkan barang bukti apa yang disita. Ruang sidang dibagi dua: satu ruang sidang untuk barang bukti STNK, sedangkan satu lagi untuk barang bukti SIM.

Nama suami saya dipanggil, dan masuklah saya ke ruang sidang. Seumur-umur baru sekali ini saya ke Pengadilan Negeri dan melihat ruang sidang dengan mata kepala sendiri. Hmm. Kok sempit ya, gak sebesar yang ada di film Legally Blonde atau di sitkom How I Met Your Mother. Halah. Gak berapa lama nunggu, tiga orang datang membawa berkas dan membacakan nama-nama terdakwa. Sekali baca ada lima nama, dan semuanya didudukkan di lima kursi di depan podium hakim. Hakim akan menanyakan apa kesalahannya, dan setelah terdakwa menjawab beliau akan menyebutkan berapa besar dendanya. Plus seribu untuk biaya sidang. Entah kenapa seribu, dan kenapa ada begituannya saya juga kurang paham. Saya keluar dari ruang sidang sekitar pukul 09:20.

di dalam ruang sidang

di dalam ruang sidang

Kesalahan saya yang lupa menyalakan lampu depan diganjar dengan denda 70 ribu rupiah plus seribu. Baiklah. Saya kemudian turun ke lantai dasar, ke loket pembayaran. Ada tiga orang petugas di belakang meja dan beliau memegang tumpukan berkas limpahan dari ruang sidang. Nama-nama dipanggil, yang dipanggil membayar denda, kemudian barang bukti yang disita diserahkan ke empunya.

Nampak sederhana dan efisien ya? Ternyata gak sesimpel itu… Gak seperti bapak pembaca nama di depan ruang sidang yang bacainnya pake mikropon, bapak penunggu loket pembayaran gak pake mikropon jadi  harus baik-baik mencondongkan telinga agar jangan sampai kelewat waktu dipanggil. Selain itu, alih-alih duduk manis orang-orang memilih untuk berdiri bergerombol di depan loket. Waktu nama suami saya dipanggil, saya menyodorkan uang pas sambil minta kuitansi. Bapak penunggu loket pembayaran bilang gak ada kuitansi, tapi saya bilang perlu kuitansinya untuk keterangan ke kantor. Akhirnya dibuatkan. Saya baru ngeh, bayar denda kok gak ada tanda terimanya ya. Saya juga gak tahu dari sekian yang dibayar itu yang disetorkan ke negara sebenarnya berapa. Tapi ini prasangka buruk saya. Plis jangan ditiru.

Di depan loket pembayaran

Di depan loket pembayaran

SIM sudah dikembalikan, urusan saya selesai tepat pada pukul 09:40. Saya pun pergi ke gerbang depan PN Jakbar sekalian order grabbike karena mau ngurus anuan di gedung LPDP di Lapangan Banteng. Nah jadi sodara-sodara, terdakwa sidang tilang ini parkir motornya di depan PN Jakbar, bukan di parkiran motor yang ada di basement. Di parkiran ini ada ribuan *lebay* calo yang nawarin jasa antri dan ngurus sidang tilang dengan biaya mulai dari 20 ribu rupiah per perkara. Kadang calo-calo ini bilang “di dalem rame banget lho antrinya banyak” untuk menarik pengguna jasa.

DSC_1580

itu yang rame-rame di depan gerbang. abang grabbike bukan calo, fyi.

BTW menurut website PN Jakbar, sidang tilang bisa diwakilkan dengan membawa fotokopi yang mewakili. Tadi pagi saya sudah siap-siap fotokopi KTP tapi gak ditanyain juga sih.

Kesan saya tentang pengalaman sidang tilang pertama:

  1. Masih ada calo, bahkan dari petugas PN sendiri
  2. Alur kerja belum efisien, gak ada papan pengumuman yang jelas tentang bagaimana alur sidang tilang dan kenapa loket satu ke loket yang lain masih berjauhan. Juga kasihan bapak pembaca nama dan bapak penunggu loket pembayaran harus teriak-teriak.
  3. Kok gak bisa bayar di PN terdekat dari domisili aja ya? Yang ini setahu saya sih mungkin berkenaan dengan pendapatan daerah jadi ya harus diurus ke daerah tempat terdakwa ditilang. Ya, okelah.

Jangan diulangi lagi ya, gaes. Jangan sampai ditilang. Jangan juga integritasmu pada peraturan lalu lintas hanya dipengaruhi oleh ada tidaknya polisi. Drive safely.