Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Category Archives: past

Kurang Beruntung Aja

Sebagai awardee LPDP, kami diwajibkan ikut Persiapan Keberangkatan (PK) dan giliran saya jatuh pada batch ke-47 yang diadakan bulan November 2015 di Jogja. Satu angkatan PK ada 120 orang dibagi jadi beberapa kelompok kecil. Waktu itu saya lagi sibuk ngurusin banyak hal di waktu yang bersamaan: nikahan yang tanggalnya persis 2 minggu setelah PK, konferensi internasional acara kantor yang mana saya adalah panitianya, dan satu konferensi lain yang mana saya adalah salah satu pembicara yang harus nyiapin presentasi dan nulis paper.

Jadi yah mau gimana lagi partisipasi saya di PK minim sekali, pokoknya asal tugas kelar aja deh. Salah satu tugas adalah membeli oleh-oleh khas daerah untuk nantinya dipakai “tukar kado” sama teman satu angkatan. Saya gak sempat lagi nyari oleh-oleh khas Serpong (emangnya apa sih oleh-oleh khas Serpong???) jadi saya ke Jogja cuma bawa barang-barang persiapan PK aja. Mumpung di Jogja, waktu itu saya ke Pasar Beringharjo beli kain batik yang nantinya akan saya pakai sebagai pasangan kebaya untuk acara sakramen pernikahan di gereja. Sesuai adat jawa saya beli yang bermotif “wahyu tumurun” dan “sidomukti” untuk saya sendiri dan motif “truntum” untuk orang tua. Eh kepikiran sekalian beli aja kain batik buat tugas oleh-oleh. Ya sudah akhirnya saya beli satu lembar lagi kain batik sidomukti plus blangkon. Saya gak tahu nanti yang dapat cewek atau cowok tapi jarik dan blangkon kayaknya lucu-lucu aja buat dikoleksi dan dipajang.

Setelah ngerepotin adik-adik saya untuk nganterin ke percetakan buat nyetak buku misa dan ke percetakan satunya lagi ngecek orderan undangan, pergilah saya PK selama 5 hari di Maguwo. Saya lupa pas acara apa, tapi pas hari pertama kami ambil undian yang isinya teman seangkatan yang akan dikasih kado. Ngasihnya nanti di hari terakhir, karena hari pertama tentu saja banyak yang belum kami kenal makanya dikasih waktu beberapa hari. Saya nyari-nyari orang yang namanya saya ambil dari undian, dan gak terlalu sulit karena ybs aktif sekali di kelas.

Selama PK ini jujur aja saya cenderung pasif dan berharap acaranya cepat selesai karena masih banyak yang harus dikerjakan, baik kerjaan kantor maupun urusan nikahan. Hari terakhir kami outbound ke Merapi, naik jeep macam turis gitu. Di salah satu sesi foto dan santai kami dipersilakan sarapan dan tukar kado. Saya kasih kado saya ke si anu yang sepertinya gak kenal sama saya – biarlah yang penting tugas sudah ditunaikan.

Sampai outbound berakhir saya gak dapat kado. Oh mungkin kadonya ketinggalan di kamar hotel. Sampai di hotel dan kembali berkumpul untuk penutupan dan perpisahan saya gak dapat kado. Sampai saya pamitan dan dijemput adik di lobi hotel, masih belum ada kado.

Mungkin dia gak tahu saya yang mana…

Mungkin dia berusaha nyari tahu tapi tetep gak ketemu saking pendiamnya saya…

Mungkin dia belum beli kado dan merasa gak enak mau ngomongnya…

Entahlah. Tapi rasanya kok sedih.

Fast forward 1,5 tahun kemudian di Manchester. Sebagai penghuni Reddit saya iseng ikut Reddit Gift Exchange yang tujuannya tukar kado sama random person di semesta Reddit. Saat undian diumumkan saya dapat member yang tinggalnya di Carmarthen, Wales. Saya cek di peta… ya ampun desa amat. Sampai susah nyarinya. Saat itu tema tukar kadonya “Wholesome Meme” yang berarti kadonya cuma lucu-lucuan macam kartu gambar meme atau binatang atau kartun lucu-lucu aja. Ini pengalaman pertama saya ikut redditgift dan pengen rada spesial, jadilah saya mampir ke Oxfam nyari barang lucu – eh nemu buku mewarnai untuk dewasa, sepertinya cocok apalagi random person yang akan saya kado itu bilang di profilnya bahwa ibunya baru meninggal Natal kemarin dan dia perlu hal-hal untuk mendistraksi pikirannya agar gak sedih.

Saya kirim buku sama kartu ucapan lucu, dua hari kemudian barangnya sampai dan dia upload di galeri foto Reddit Gifts. Saya ikut senang karena dia bilang dia senang sama kadonya.

Tapi kado saya mana… Di profil sudah ada notifikasi bahwa yang harusnya ngasih kado ke saya sudah ngecek profil dan alamat, artinya manusianya ada. Tapi notifikasi “gift has been posted” tidak kunjung datang sampai dua minggu kemudian.

Ya udah ikhlas aja, mau gimana lagi. Seperti waktu PK kemarin, saya gak merasa rugi karena sudah berusaha nyari hadiah yang cocok tapi kok pihak yang satunya lagi gak melakukan hal yang sama. Mungkin kurang beruntung aja sih. Mungkin rejekinya nanti dari tempat lain.

Entahlah. Tapi rasanya kok sedih.

In Exactly 5 Weeks

… in exactly 5 weeks, I’d be arriving in a new place that I should befriend for a whole year.

Saya sangat membanggakan laptop Lenovo Ideapad G460 yang sudah hampir 6 tahun saya miliki. Dia punya julukan Laptop Kangkung. Kenapa dinamain begitu? Alasannya baca di sini aja; gak penting sih, tapi berkesan. Laptop ini nemenin saya saat harus lembur di pabrik dan ngelanjutin kerjaan di kafe setelahnya, saat saya nganggur dan cari kerjaan freelance, saat saya belajar buat test CPNS, saat saya bikin banyak personal statement dan ngirim-ngirim aplikasi ke banyak sekolah, dan masih banyak lagi. Dia juga yang saya abuse saat pada tahun 2011 hati saya patah — tidak cuma patah tapi hancur berkeping-keping.

Dia gak pernah rewel, kecuali tiga tahun lalu saat dia tiba-tiba mati tanpa pamit. Saya masih ingat saat itu sore hari di kantor saya sedang menyalakan laptop untuk ngecek kerjaan freelance. Tidak ada suara, tidak ada raungan khas dari kipasnya – yang biasanya terdengar saat laptop dinyalakan. Motherboard kayaknya nih. Saya mulai panik, kemudian googling untuk mencari info tempat reparasi laptop di Jogja. Setelah melalui banyak pertimbangan dan kontemplasi selama beberapa hari, saya akhirnya membawa laptop itu ke sebuah servisan di dekat Selokan Mataram.

Gak sampai seminggu kemudian saya dikabari kalau laptopnya berhasil diservis, biayanya 500 ribu. Menurut saya mahal, tapi gak ada yang bisa menggantikan ikatan emosional saya dengan laptop kenangan itu. Lagipula kalau harus ganti motherboard pasti jauh lebih mahal lagi (dan memangnya motherboard laptop keluaran 2010 masih gampang dicari?)

Ya begitulah. Segera saya upgrade RAM; nambah jadi total 4GB. Setelahnya, si Laptop Kangkung menjalankan tugasnya dengan mulus sekali sampai sekitar bulan September 2015 dia mulai sering overheated dan shutdown. Saya mengkhawatirkan harddisk (ya motherboard juga) yang kemungkinan besar rusak kalo terus-terusan seperti itu. Akhirnya saya “menitipkan” laptop kesayangan saya itu ke mz Mizan untuk dibersihkan fan-nya dan di-install ulang. Seminggu kemudian laptop saya kembali dalam keadaan bersih dan suci.

He was working smoother than ever. Gak ada lagi suara kipas yang menggerung kepanasan, bahkan batre yang biasanya cuma bertahan 3 menit setelah cleaning dan install ulang bisa nyala tanpa harus dicolok listrik selama hampir 30 menit sambil dipake nonton film. I was sooooo happy.

Kemudian saya berpikir realistis. Laptop ini gak mungkin saya bawa sekolah; bukan karena performanya sudah tidak bagus, tapi karena ia sudah mulai kehilangan sifat notebook yang harusnya mobile. Laptopnya berat, dan saya harus nemu colokan kalau mau pakai laptopnya. Sepertinya akan tidak praktis saat saya nanti mesti jalan kaki atau naik bus dari asrama ke sekolah, dan kalau di kelas mesti buka laptop untuk mencatat atau ngerjain tugas.

Perburuan laptop pun dimulai. Berbagai laman review sudah saya baca dan berbekal titah mz Mizan saya memulai pencarian di website enterkomputer.com. Lima buah merk dan tipe laptop saya peroleh sebagai shortlist setelah dua minggu penuh menghabiskan waktu untuk memilih. Saya kirim e-mail ke Enter untuk menanyakan stok dan… semuanya out of stock.

Sampai kemudian pada suatu siang yang tenang, Laptop Kangkung mau saya nyalakan untuk ngerjain kuitansi koperasi kantor. Ada suara, tapi layar tetap gelap. Seperti tiga tahun lalu, saya panik. Tapi kali ini saya tidak ingin melakukan apapun, jadi laptop saya force shutdown kemudia saya memilih untuk tidur siang saja. Bangun tidur saya iseng nyalain laptop…

He lightened up. He booted and worked fine like nothing happened.

Mungkin dia cuma ngambek. Tapi saya gak punya pilihan, sepanjang sore sampai malam hari saya memantapkan hari untuk memilih satu laptop yang – seperti Laptop Kangkung yang menjadi saksiĀ drama selama karir kerja saya – akan menjadi saksi drama selama sekolah saya besok dan nanti.

Pilihan saya jatuhkan pada Dell Inspiron 11 3162 dengan prosesor N3700, RAM 4GB, dan OS Ubuntu. Tipe yang sama ditawarkan dengan harga murah, namun prosesornya N3050 dan RAM-nya hanya 2GB. Saya beli di Jakarta Notebook meskipun harganya 70 ribu lebih mahal daripada di Enter, karena di Enter tidak ada opsi pilih warna sedangkan saya mengincar warna merahnya. Pesanan sampai di kantor sore ini setelah 3 hari di jalan, dan saya langsung melakukan proses unboxing.

Pada suatu senja di sebuah kost putri di pinggiran jalan Margonda, Depok, saya jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Laptop Kangkung yang kemudian jadi soulmate saya sampai detik ini. Kali ini tidak ada perasaan sekuat itu kepada laptop berwarna merah yang sedang saya pakai mengetik entri blog ini, tapi bukan berarti saya tidak akan jatuh hati padanya anytime soon.

Saat tadi menyalakan laptop Dell bertipe Inspiron ini untuk pertama kalinya dan masuk ke mode instalasi Ubuntu 14.04 LTS, benak saya langsung terbang ke masa 9 tahun yang lalu – kurang lebih di bulan yang sama. Saya sedang persiapan untuk pergi sekolah ke Eropa dengan membawa laptop Dell juga dan OS yang juga Ubuntu. Bedanya, saat itu saya bawa Dell tipe Latitude C-series yang OS Ubuntunya masih jadul banget (lebih jadul daripada Feisty Fawn, tampilannya pun gak se-sleek sekarang). Laptopnya tebal sekali, dengan slot CD-ROM dan removable battery berada di depan laptop. DEPAN. Jadi kalo mau ngeluar-masukin CD dia ngebuka ke arah kita gitu kayak meja kasir. Di samping kiri dan kanan laptop ada port USB, RJ45, VGA, dan slot PCMCIA. Yes you heard me. PCMCIA. Kapasitas harddisknya cuma 20GB — bukan, bukan SSD.

In exactly 5 weeks I am going to leave my beloved Laptop Kangkung and I’m not sure if I can stop my mind from wondering if he’d still be able to function next year when I’m home. Please, please, please wish us luck and alive throughout the year. If my Dell could survive then so would us.

Maaf sudah membuang waktu kalian dengan entri sentimentil dan gak penting ini ya~

Senses and Memories

Kemarin saya ada pertemuan di salah satu Balai Besar milik Kementerian Perindustrian di Bandung. Ruang rapatnya bagus lengkap dengan kursi empuk, meja kokoh, dan AC dingin. Saat sedang serius bikin diagram alir proses dan mencatat parameter operasional hasil diskusi dengan peserta rapat, tiba-tiba hidung saya mencium aroma yang mendadak membuat saya gelisah bercampur sedikit rasa takut. Aroma pewangi ruangan yang bisa nyemprot secara otomatis itu lho. Sekali, dua kali, pewangi ruangan menyemprotkan aroma ini lagi. Jadi gelisah lagi. Jadi saya berhenti menulis dan diam sejenak, mengingat-ingat asosiasi apa yang timbul dari bau pewangi ruangan sehingga membuat saya gelisah sampai kehilangan konsentrasi.

Aha. Ini adalah aroma yang sama dengan pewangi ruangan di ruang kerja saya beberapa tahun yang lalu. Perasaan gelisah yang sekarang muncul adalah perasaan yang dulu juga sering muncul saat saya sedang kelabakan nanganin report harian, mingguan, bulanan disertai perasaan cemas tiap kali muncul masalah di lapangan. Perasaan gelisah yang tidak bisa dihindari pada setiap pertemuan pagi, apalagi saat performa grup sedang turun karena satu dan lain hal. Aroma pewangi ruangan itu yang dulu menemani saya menyusun setiap kata, alasan, dan rencana.

Keluar ruangan rapat, perasaan saya sedikit lebih bebas. Tidak lagi mencium pewangi ruangan yang baunya pekat dengan rasa cemas.

Btw, hubungan antara bau-bauan dan kenangan ternyata memang sudah dibuktikan secara ilmiah, karena ada secondary cortex di otak yang fungsinya memproses informasi dari stimulus yang diperoleh panca indera. Artikelnya ada di sini dan di sini.

Belajar Gagal

Tersebutlah suatu siang, saat wawancara beasiswa.

“IPK cuma segini, kamu yakin masuk [salah satu kampus top 10 dunia]?”

Kampus itu adalah kampus impian saya sejak kuliah, dan jujur saja saya rada down dengernya. Seperti dipaksa berbalik menghadap kaca, gitu, biar tahu diri waktu apply ke kampus bagus itu. Waktu itu saya sanggup pasang fake-and-proud smile sambil jawab “IPK minimum kan 3.00, Bu. Memang lebih baik kalau First Class atau Second Upper Class Honours, tapi masih bisa dibantu dengan pengalaman riset dan publikasi, pengalaman kerja, juga dengan skor TOEFL yang di atas rata-rata”.

Sembari menunggu hasil akhir tidak urung saya kepikiran lagi. Iya juga ya.

“Gimana kalau saya ndak keterima kampusnya?”

Sesi overthinking dilanjut lagi dengan:

“Gimana kalau udahlah gak diterima kampusnya. sekalian beasiswanya gak dapet juga?”

Jawaban diplomatisnya ya tentu saja “ya gak papa. Nanti coba lagi”.

Applicable untuk semua hal, kecuali hal-hal edan seperti panjat tebing tanpa pengaman atau bungee jumping tanpa tali.

#1. Berhadapan dengan banyak kegagalan tidak serta-merta membuat kita kebal dengan perasaan dingin yang menjalar di sekujur tubuh dan degup jantung yang seperti jatuh ke dasar laut saat mendengar kabar yang tidak menyenangkan. Sepertinya saat itu cuma ingin bergelung di kasur sambil mendengarkan musik blues berteman rintik hujan. Iya ini lebay. Ya gak apa-apa. Do it if it makes you feel a little bit better. Jangan sok kuat dan sok bijak dengan mengatakan kegagalan adalah awal dari kesuksesan. Belum tentu juga habis gagal ini kamu sukses, lho. Udah, terima aja dulu.

#2. Blame something. Selalu ada kambing hitam dalam setiap kegagalan: keadaan, kurang persiapan, panitia yang kurang kooperatif, interviewer yang terlihat subyektif, bahkan diri sendiri. Blame something ini biasanya ndak terlalu efektif, kecuali kalau yang disalahkan diri sendiri dan kemudian membuat tindak lanjut dari apa-apa yang perlu diperbaiki selanjutnya. Tapi menyalahkan sesuatu itu rasanya enak sekali!

#3. Ini yang sering terlupa saat menghadapi kegagalan: beri apresiasi pada diri sendiri karena sudah berani mencoba. Gak usah takut dengan suara-suara di kepala yang bilang “coba kalo kamu gak gini, gak akan sedih kan? gak akan sakit kan?”. Gak usah didengerin. Yang lebih menyakitkan adalah suara yang bilang “coba kalo kamu berani nyoba daftar beasiswa/ngelamar kerja/nembak cewek… bisa jadi kamu punya kesempatan bagus lho. Yah paling enggak nambah pengalaman deh”.

#4. Seperti halnya patah hati, kegagalan gak harus dilupakan apalagi bikin hidup berantakan. Masa lalu itu ada untuk memandu, bukan menghakimi kita. Pernah gagal di masa lalu untuk satu hal bukan berarti seterusnya kita akan jadi orang yang gagal di hal yang sama. Mungkin waktunya aja kurang tepat. Mungkin juga hanya kurang tepat sasaran.

#5. Terakhir, saya percaya bahwa doa yang kita panjatkan itu selalu dijawab dengan iya: “Iya, boleh”, “Iya, tapi nanti ya”, dan “Iya, tapi ini ada yang lebih bagus”.

 

 

Perbatasan Tangerang Selatan – Bogor,

ditulis sambil berusaha untuk tidak putus asa

Lights Will Guide Your Home…

When you try your best, but you don’t succeed
When you get what you want, but not what you need
When you feel so tired, but you can’t sleep
Stuck in reverse

Something is keeping you up all night. It is sometimes a glimpse of guilty feeling from the past, or anger you are trying to suppress. None of them matter to you at first, but they are there nonetheless. It is the dream you have left behind, the hope you’re too tired to carry along. It is the failure you always try to deny, the mistakes you never realized you made. It is every single thing haunting you at times.

And the tears come streaming down your face
When you lose something you can’t replace
When you love someone, but it goes to waste
Could it be worse?

This time you finally surrender. A white flag waved down your driveway, not knowing that the pain is much deeper than merely admitting defeat. You turn your back reluctantly once in a while, wondering whether something would come up and magically fix that mess. But even then, deep in your heart you know it’s time to let go. To give up things you hold on tight. Could it be worse? Sure thing it could, in many fucking ways imaginable. And then it stabs you right in the heart; you pretend you’re hurt eventhough you’ve already had it coming.

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you

But then… what’s life without whimsy? Once in a while we must stop and stare at the universe. Admire how great that is, and how little is our problem compare to that brobdingnagian space out there. Just as the sunflowers are majestically led by the sunshine, lights will also guide you home. Those beautiful yellow and white flowers might not be really sure about when and why and how they will go on living their life, but they are ceaselessly waiting for the morning to come. Your life is also just as beautiful. What you need to do is to take a step back, maybe some deep breaths as well, and get prepared for more surprises. Embrace life, and life will be gleefully take the chance to…

fix you.