Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Category Archives: love

Enam Hari Lima Malam

Katanya sekolah setahun itu “ndak lama kok. Nanti tahu-tahu juga kelar”. DUSTAAAAA. Nyatanya Desember kemarin saya sudah mulai muak, meskipun baru tiga bulan berjalan. Sempat menjalani masa ngerjain tugas sambil mimbik-mimbik akhirnya saya dan suami memutuskan untuk liburan bareng karena beliau pun terlalu rajin bekerja dan sepertinya juga butuh piknik. Kampus saya kebetulan libur paskah (easter break) dari tanggal 1 – 21 April, jadi kami ke Singapura memanfaatkan wiken paskahan itu.

Kenapa Singapura?

  • karena saya ingin makan enak
  • tempatnya sudah familiar
  • ada promo tiket pesawat dari Manchester

Penerbangan MAN-AUH dengan pesawat Etihad memakan waktu hampir 8 jam; pesawat saya berangkat rada telat dari Manchester sehingga tiba di Abu Dhabi kira-kira 45 menit lebih lambat dari jadwal. Dari itinerary, penerbangan saya ke Changi akan berangkat sekitar 3 jam kemudian, jadi saya kira-kira masih punya waktu 1 jam untuk sampai ke gerbang penerbangan lanjutan. Untunglah saya gak harus pindah terminal, jadi selepas turun pesawat dan melewati pemeriksaan keamanan saya masih sempat cuci muka dan gosok gigi di kamar mandi. Sampai di gate, saya cuma duduk sekitar 5-10 menit saja eh kok sudah dipanggil boarding. Yawes malahane cepet masuk pesawat cepet terbang dan cepet sampai. Penerbangan AUH-SIN durasinya lebih singkat, sekitar 6 jam 45 menit. Saat itu di Abu Dhabi malam sudah larut dan sudah masuk jam tidur saya di Manchester sehingga saya segera memposisikan diri untuk tidur.

Pesawat saya tiba di Changi tepat waktu, jam 10 pagi waktu Singapura. Turun dari pesawat saya langsung sms suami ngabarin kalau nanti ketemuannya di terminal kedatangan – kebetulan pesawat beliau juga nanti akan mendarat di terminal yang sama. Eh beliau langsung balas, katanya penerbangannya pindah ke penerbangan berikutnya yang jam 11:50 WIB (harusnya jam 09:25 WIB). Gak ada pemberitahuan apapun dari Traveloka ataupun Tiger, padahal beliau udah berangkat pagi banget dari Bintaro. Hahaha. Puk puk.

Ya sudah saya nunggu 5 jam bengong bengong aja. Males juga keliling padahal ya sebetulnya bisa aja jalan-jalan keliling bandara dan nongkrong di taman. Capek uy setelah 18 jam di jalan apalagi bawa koper ­čść Saya cuma nuker SGD dari GBP di money changer aja, jajan di McD, beli kartu ezlink, lalu ngambilin peta yang disediakan gratis di meja-meja travel agent bandara.

Sejam setelah pemberitahuan “LANDED” terpampang nyata di layar terminal kedatangan kok suami saya ndak kunjung muncul. Masa ya nyasar, wong gerbang imigrasinya cuma satu. Saya yang menunggu sambil excited sampai kemudian bosan kemudian cemas kemudian excited lagi begitu seterusnya. Sampai kemudian saya melihat muka tengil yang familiar itu. Huhuhu kangen.

Kami turun ke stasiun MRT menuju tempat menginap di daerah Geylang, red light district yang banyak makanan enak dan murah HAHAHAHA. Sampai hotel waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore jadi ya sudah bebersih aja, makan di sekitaran stasiun Aljunied, lalu istirahat karena pagi harinya mau ibadah Jumat Agung.

Jumat, 14 April

Kami bangun rada pagi kemudian mandi dan siap-siap ke gereja. Pake batik dong! Sambil jalan ke stasiun kami mampir di foodcourt sebelah hotel. Di situ ada warung Indonesian food, jadilah kami makan di situ. Ternyata yang jualan ibu-ibu dari Sidoarjo yang sudah 20 tahun tinggal di Singapura. Anaknya dua, satu SMA dan satu lagi kuliah. Makanannya enak! Pagi itu saya sarapan nasi sayur rebung santan lauk telur dadar pake tahu. SENAAAAAANG. Kami ibadah di gereja St. Francis of Asisi di Boon Lay karena ada amanah dari Lambrtz untuk menyampaikan selembar kartupos ke tim paduan suara tempat dulu dia aktif menjadi anggota. Bung Lambrtz ini dulu tinggal 8 tahun di Singapore sampai selesai PhD, dan sekarang tinggal di Cardiff sebagai postdoctoral scholar. Sepertinya ybs belum bisa move on dari Singapura sampai-sampai kirim kartupos aja harus dibawain dan disampaikan langsung bukannya dikirim via pos.

Pulang dari gereja kami naik bus dari halte seberang gereja ke Orchard, jalan kaki sepanjang Orchard Road sambil hujan-hujanan (prikitiw) kemudian putus asa dan berteduh di emperan Plaza Singapura. Dari situ kami naik MRT ke Raffles Place karena mau turis-turisan ke Merlion Park. Biasalah hihihi. Penuuuuh banget. Suara-suara yang berbahasa Indonesia juga terdengar di sana sini. Ada serombongan anak sekolah dari Korea yang lagi asik foto-foto tapi didorong-dorong sama emak-emak Indonesia karena rombongan emak mau foto juga. Kasian. Maaf ya dek adek.

Udah lumayan puas foto-foto di Merlion dan Marina Bay Sands (sambil merencanakan kapankah kiranya bisa nginep di MBS) kami jalan kaki ke Lau Pa Sat untuk makan sore – eh malam. Sempat lihat ada hawker yang jual sate tapi pas lihat menunya kok S$ 42… APA APAAN INI. Gak jadi lah. Kami makan hainanese chicken rice saja sama sepaket sayur. Kelar makan kami nongkrong bentar ngeliatin orang lalu lalang, kemudian kembali ke hotel. Rencana pengen balik lagi sih nonton pertunjukan musik dan laser di Marina Bay Sands tapi ternyata pertunjukannya libur karena mereka sedang mempersiapkan konsep baru. Hiks. Ya sudahlah tidur aja karena besok mau ke Pulau Sentosa. Horeeeeee.

Sabtu, 15 April

Daripada jalan kaki dulu ke Aljunied baru naik MRT ke Harbourfront saya mengajak suami naik bus saja langsung dari halte depan gang hotel turun di Vivocity setelah sarapan nasi sayur dan tahu di tempat kemarin. Lagi-lagi biar ngirit nyeberang ke Sentosa kami memilh jalan kaki lewat Boardwalk saja daripada naik monorel. Sampai di Sentosa kami nyari rute ke Madame Tussaud di area Imbiah Look setelah tentunya foto-foto berlatar belakang menara Merlion raksasa itu. Tiket Madame Tussaud sudah termasuk nonton Image of Singapore live dan boat ride. Image of Singapore adalah pertunjukan yang menceritakan sejarah perkembangan negara Singapura sejak ia masih jadi bagian dari Malaysia, kerjasama awal dengan Inggris, hingga kemerdekaan dan pembangunannya sampai sekarang jadi negara yang modern. Penyajiannya bagus dan visualisasinya menarik. Dari situ kami naik kapal macam di istana boneka gitu dengan ikon-ikon Singapura di kiri kanan sungai. Perjalanan naik kapalnya cuma muter sekali doang kemudian kami digiring langsung masuk ke museum Madame Tussaud.

Ada 1D dong! hahahaha saya langsung girang. Masih lengkap berlima pula *peluk dek Zayn* Suami sih nyengir aja liat istrinya kegirangan dusel-dusel anak abege sampai kemudian dia gantian mupeng liat Aishwarya Rai. Puas potopoto di situ kami melanjutkan perjalanan ke wahana kedua: SEA Aquarium. Saya suka tempat ini! Banyak ikan lucu warna-warni dan batu karangnya bagus-bagus. Ada kolam ubur-ubur juga yang dikasih lampu sehingga kelihatannya ubur-uburnya punya banyak warna. Ah. Pengen berlama-lama tapi kaki sudah lelah melangkah. Keluarlah kami dari akuarium raksasa itu dan melangkahkan kaki ke food court, Malaysian Food Street. Makanannya lumayan, ndak terlalu mahal meskipun ada di daerah turis. Kami makan mie udang hokkien yang harganya S$7 aja. Rasanya enak bingits. Beneran enak, bukan cuma karena kelaparan.

Kami jalan kaki lewat Boardwalk lagi kembali ke Vivocity, dan ternyata suami saya pengen ke Henderson Waves, jembatan yang desainnya cantik menyerupai ombak di taman nasional Southern Ridges. Ternyata kalau mau ke Henderson Waves kami harus trekking dulu mendaki ke Mount Faber lewat jalur Marang Trail, yang ujungnya berawal di Marang Rd pas di timur stasiun MRT Harbourfront. Dari situ kudu nanjak kira-kira setinggi gedung 9 lantai baru sampai ke Mount Faber. Kalau mau sih bisa juga naik cable car dari Sentosa langsung ke Mount Faber. Selepas puncak Mount Faber kami melanjutkan perjalanan ke Henderson Waves, foto-foto sebentar di situ sambil menikmati sore hari yang untungnya lagi cerah. Dari puncak tertinggi di Singapura itu kami pun turun nyari jalan setapak ke jalan raya tanpa tahu ujungnya nanti sampai di mana. Salah satu tangga menurun menghantarkan (halah) kami berdua ke Depot Rd. Dari situ kami naik bus ke Esplanade lalu oper bus yang ke arah Geylang, turun di halte yang gak terlalu jauh dari hotel.

Malam harinya kami cuma ngemil-ngemil aja karena masih kenyang, lalu packing karena Minggu pagi mau misa Paskah dan siangnya check out dan pindah hotel.

Minggu, 16 April

Kami bangun pagi-pagi dan pergi misa ke gereja Our Lady Queen of Peace yang letaknya sekitar 1,5 km jalan kaki dari hotel. Sempet nyasar segala karena sepertinya saya lapar. Hush. Pulang misa kami makan di warung Indonesia yang kemarin (lagi!) – kali ini saya makan sayur daun singkong kuah santan sama ati ampela goreng. ADUUHHH INI SURGAAAA. Kelar makan kami langsung check out dari hotel lalu naik bus ke arah Bugis. Turun di stasiun Rochor, kamipun jalan kaki ke hotel tempat kami akan menginap selama 2 malam sampai Selasa siang. Sambil harap-harap cemas saya berharap akan diperbolehkan check-in lebih awal karena waktu masih menunjukkan pukul 12 siang.

PLIS PLIS PLIS BOLEH MBAK PLIS

Setelah minta paspor kami berdua dan menjelaskan bahwa ada deposit sebesar S$50 yang harus dibayarkan sebagai jaminan, senyum manis mbak resepsionis menyertai amplop berisi kunci kamar kami di lantai 15. Syukurlaaaaaaah gak harus mendamparkan diri kemana gitu dulu sambil nunggu check-in jam 2. Kamarnya standar kamar budget hotel sih tapi bersiiihhh banget. Ada rainshower di kamar mandi selain showerhead yang biasanya. Amenitiesnya bagus dan wangi. Ada hairdryer dan sandal bulu. Ada brankas. Ada juga henpon 4G yang bisa dibawa kemana-mana, gratis! (gratis makenya, bukan gratis hemponnya) Mayan buat fesbukan atau sekadar makai googlemaps untuk nyari rute bus. Kami istirahat sebentar kemudian jam 4-an jalan ke Gardens by the Bay naik MRT dari Rochor. Saya sudah beli tiket untuk masuk ke Flower Dome dan Cloud Forest; kami muter-muter liat bunga dan poon sampe puas kemudian melipir ke Supertree Grove menjelang senja sambil nunggu pertunjukan yang diadakan tiap harinya pukul 19:45 dan 21:30. Harus nonton deh, pertunjukannya bagus banget!

Kelar pertunjukan yang 19:45 kami foto-foto sebentar di antara pepohonan Supertree Grove lalu pulang lewat stasiun Bayfront ke MRT Bugis karena pulangnya mau mampir lewat Bugis Street dulu melihat-lihat apa yang bisa dibeli buat oleh-oleh. Selewat aja di Bugis Street, kami makan malam di food court Albert Centre. Tempat ini sebetulnya pasar bahan makanan kering (recommended buat yang suka nyari rempah eksotis) tapi di lantai bawah ada food court yang isinya macam-macam. Waktu itu sudah jam 9 kurang jadi sudah banyak yang tutup, tapi saya sempat makan mie babi panggang dengan fried wonton. Enak banget fried wontonnya sampe saya pengen bungkus tapi gak jadi karena sudah kenyang. Trus malah jadi kebayang-bayang sampe saat ini. Hahahah. Kelar makan kami jalan kaki balik ke hotel setelah mampir di Sevel Ibis Bencoolen untuk menjajal bir Tiger dan Tiger Radler. Yang Tiger rasanya ya kayak lager dan yang Radler malah cuma kayak limun. Sama aja kayak Bintang dan Bintang Radler.

Senin, 17 April

Hari ini kami ndak punya rencana kemana-mana, dan sejak main ke Mount Faber dan Henderson Waves kok suami rasan-rasan katanya pengen liat pohon dan kebon. Ya sudah saya mengusulkan ke Singapore Botanic Gardens yang terletak gak jauh dari Orchard Road. Kami keluar hotel sekitar jam 9 pagi dan sarapan dulu di warung sebelah hotel. Kesalahan besar: pagi-pagi sarapan nasi briyani ayam yang ternyata porsinya buanyak banget. Saya sih habis. Wkwkwk. Setelah leyeh-leyeh sebentar nunggu makanan turun kami jalan ke halte depan National Museum nunggu bus ke Botanic Gardens. Busnya berhenti di halte seberang gerbang Botanic Gardens, dan kami mulai perjalanan dari gerbang di bagian tenggara. Tiket masuknya gratis tis.

KEBONNYA GEDE AMAT YAK

Singapore Botanic Gardens dibagi berdasarkan tema: tanaman obat, bunga, bambu, rimpang, palem, hutan hujan tropis, dll. Papan penunjuk jalan dan peta tersedia di mana-mana sehingga tidak usah takut tersesat. Jalanannya juga bersih sekali meskipun di dalam area yang pepohonannya rapat. Hanya saja sebaiknya hati-hati karena di kebon raksasa ini banyak sekali biawak (duh lupa spesies apa) meskipun biawak ini tidak membahayakan manusia. Ngagetin doang sih. Perjalanan di Botanic Gardens selama kurang lebih tiga jam berakhir di ujung utara, di mana kami nyegat bus kembali ke kota.

Sepulang dari Botanic Gardens kami mampir di Cathedral of the Good Shepherds. Ada dua katedral besar di Singapura, Cathedral of the Good Shepherds dan Cathedral of the St. Andrews. Yang pertama itu katedral Katholik sedangkan satunya lagi katedral Anglikan. Setelah masuk dan foto-foto di sekitar katedral, kami melihat ada menara gereja dengan gaya Neo-Gothic di belakangnya. Kami masuk ke area gereja tersebut dan disambut dengan papan berisi nama-nama restoran. Ternyata di bagian samping bangunan ini memang isinya tempat makan. Kami penasaran di dalam bangunan utamanya ini sebenernya apaan… Ternyata bangunan utama dipakai sebagai tempat pertemuan (ada mimbar/panggung dan kursi-kursi) d bagian depan yang dulunya altar dan di depan pintu ada galeri yang menjelaskan sejarah tentang bangunan ini.

CHIJMES. Sejak dibangun pada abad ke-17, tempat ini digunakan sebagai biara Katholik sekaligus panti asuhan, asrama, dan sekolah. Bangunan utamanya berfungsi sebagai gereja. Pada tahun 1980-an, untuk mendukung pembangunan kota maka gereja ditutup dan asrama serta biaranya dipindah ke daerah Toa Payoh. Bangunan CHIJMES kemudian dikembalikan ke pemerintah Singapura dan dijadikan seperti adanya sekarang.

*manggut-manggut*

Kami jalan pulang lewat Bugis Street lagi dan lagi-lagi mampir makan di Albert Centre sebelum pulang istirahat sore. Hari sudah gelap ketika kami jalan ke luar, kali ini ke Mustafa Centre. Saya nyasar dong nyari lantai dua yang isinya souvenir itu. Setelah akhirnya ketemu kami melihat bahwa harga souvenir di Bugis ternyata lebih murah dan jenisnya lebih banyak. Ya sudah kami cuma belanja seperlunya aja, suami beli samyang (halah) dan saya beli bumbu Bak Kut Teh.

Pulang dari Mustafa Centre sudah jam 10 lewat, kami menyusuri jalanan di Little India yang mulai sepi. Sampai hotel kami mampir dulu di warung sebelah untuk makan malam. Suami pesan mie goreng ayam dan saya pesan roti prata jamur dan telur. Mayan lah biar tidurnya ndak kelaparan. Sebenarnya hari ini menyenangkan (dan mengenyangkan) sekali, tapi sayang kami sudah harus packing karena besok waktunya pulang ke tempat masing-masing…

Selasa, 18 April

Huft. Bangun tidur dengan perasaan berat. Huft. Packingan sudah beres sih sebenernya, tinggal beresin yang tersisa macam alat mandi dan sepatu/sandal. Setelah semua beres kami yang gak mau rugi ini baru check out jam 12 siang teng, dengan masih juga merepotkan mbak resepsionis. Dua ransel dan satu koper kami titipkan sementara kami melenggang belanja oleh-oleh di Bugis Street. Sekitar jam 2 siang saat kami mau kembali ke hotel ternyata hujan deras. As in, deraaaaassss sekali. Sempat khawatir ini nanti gimana kudu ke stasiun MRT Bugis lalu ke bandara dll. Hujan agak mereda lalu kami pun berusaha jalan cepat setengah lari kembali ke hotel. Di bangjo seberang hotel hujan kembali menderas tapi kami gak punya pilihan lain. Nekat aja lari nyeberang jalan saat lampu pejalan kaki berubah menjadi hijau. Sampai resepsionis kami membereskan tas sambil merenungi nasib dan berpikir apa sebaiknya nekat aja naik MRT atau naik taksi ke bandara.

Mau naik Uber atau Grab tapi kok saya belum terlalu berani karena lagi di negara orang (padahal ya sama aja). Di aplikasi Uber tertulis ke stasiun kira-kira habisnya S$17. saya nanya mbak resepsionis ke bandara habis berapa kata beliau sekitar S$30. Pilihan yang sulit. Setelah menengok di luar ternyata hujan masih cukup deras kami memutuskan naik taksi saja. Biar gak rempong dan masih fresh sampai airport. Jadilah kami minta tolong dipesankan taksi yang sudah sampai di hotel gak sampai 10 menit kemudian. Sepanjang jalan hujannya on-off; perjalanan ke stasiun memakan waktu kira-kira 30 menit. Bapak sopir taksi nanya saya di terminal mana naik maskapai apa, saya jawab terminal 2 naik Etihad. Rupanya beliau kurang familiar dengan Etihad, jadi saya bilang aja Tiger baru bapaknya ngerti. Untungnya meskipun kami berdua naik maskapai yang berbeda tapi kedua maskapai tersebut ada di terminal yang sama. Buat naksi dari hotel ke bandara habisnya S$18 aja.

Sampai di terminal 2 suami saya langsung check in dan ngedrop bagasi, dan setelah bagasi sudah masuk saya baru inget kan tadinya mau bungkus kopernya pake plastic wrap dulu. Maaf ya bandara Cengkareng, saya masih takut kalau bagasi saya kenapa-napa atau diapa-apain. Tapi lupa. Ya udah deh berharap ybs kembali ke pelukan tanpa kurang suatu apapun. Setelah beliau dapat boarding pass gantian saya yang check in. Kami main sebentar ke terminal 3 untuk nyari Butterfly Garden yang ternyata tempatnya rada nyempil. Taman kupu-kupu ini lucu banget! Ada banyak pohon dan kupu-kupunya beneran! (ya menurut lo). Varian warnanya gak terlalu banyak sih tapi mereka lucu-lucu sekali. Puas main di situ kami kembali ke Terminal 2, beli oleh-oleh di Duty Free Shop lalu ke gate tempat suami saya nanti akan berangkat. Makan dulu sih di semacam food court yang ibu-ibunya rada jutek. BTW pesawat saya baru akan berangkat 2 jam kemudian, jadi saya ikut sampai ke gate E6 yang lokasinya ujung ke ujung dari gate saya nanti di F60. DEMI CINTA HAHAHAHA. Kami duduk-duduk di depan pintu gate sampai papan di gate menunjukkan bahwa penumpang sudah dipersilakan boarding. Hiks. Dengan sedih saya melepas beliau untuk masuk gate, tapi untungnya saya masih bisa melihat beliau lewat dinding kaca. Hiks. Akhirnya penumpang beneran dipanggil masuk pesawat dan saya pun masih mematung di tempat itu sampai pesawat beranjak untuk lepas landas.

90 menit sebelum jadwal pesawat diberangkatkan saya jalan pelan-pelan ke gate F60 dan langsung lewat security. No fuss. Sejam sebelum take-off penumpang dipersilakan naik ke pesawat, dan saya dengan gembira masuk ke pesawat Dreamliner B787 ke Abu Dhabi yang jauuuh lebih nyaman daripada pesawat lanjutan saya ke Manchester nantinya, B777. Dreamliner formasi kursinya 3-3-3 sedangkan B777 3-4-3. Layar dan handset untuk inflight entertainment-nya juga lebih bagus di Dreamliner. Eniwe, pesawat berangkat dan tiba tepat waktu. Sampai di Abu Dhabi, saya menyempatkan diri untuk mandi, cuci muka, dan sikat gigi di shower yang tersedia gratis di bandara. Showernya ada air angetnya dan bersih! Di Changi aja gak ada shower gratisan ­čść Setelah rasanya segar sayapun menuju gate penerbangan lanjutan. Karena masih antre puuuanjang, saya melipir dulu ngecharge hempon di tembok. Ternyata antrean masuk gate ini panjang sekali karena ada pemeriksaan tambahan.

Beberapa minggu lalu, Amerika Serikat melarang penumpang pesawat yang terbang dari beberapa negara Timur Tengah untuk membawa tablet dan laptop di bawaan kabin. Tidak lama kemudian Inggris menyusul dengan peraturan yang sama untuk 6 negara: Turki, Lebanon, Yordania, Saudi Arabia, Mesir, dan Tunisia. Meskipun Uni Emirat Arab tidak termasuk di dalamnya, tapi toh pemeriksaan keamanan masih diperketat. Tablet dan laptop harus dikeluarkan dan dinyalakan di hadapan petugas. Bawaan kabin harus dibuka dan dilakukan random swab (dicolek colek) menggunakan kertas khusus untuk mendeteksi keberadaan bahan peledak. Istilah kerennya ETD (Explosive Trace Detector). Setelah hasilnya dinyatakan negatif, penumpang baru boleh masuk gate. Fiuh.

Sesuai waktu yang tertera di boarding pass, satu jam sebelum lepas landas penumpang dipersilakan masuk ke pesawat. Jadi demikianlah perjalanan enam hari lima malam kami ke Singapore. Gak ada informasi penting juga sih untuk dikabarkan pada pembaca sekalian, blog ini kan bukan Beritagar atau Tirto. Hehe.

Trus sekarang udah kangen lagi ­čÖü lima bulan masih lama sekali ­čÖü

Tahun Pertama dari Perjalanan Panjang Bernama Hidup Bahagia Selamanya

Happy Anniversary!

Happy Anniversary!

Belum lama, beberapa menit lewat tengah walam waktu Manchester, hempon saya berdering. Whatsapp call dari suami. Pikir saya kok tumben nelpon ada apa, ternyata cuma ngecek apa saya udah tidur. Setelah telpon ditutup, datang pesan di Telegram dari beliau: “Selamat hari pernikahan ya mamah”.

Saya langsung bangun. Oh iya ini 19 November.

Ketika mengangkat telepon tadi pikiran saya belum sepenuhnya sadar, maklum saya ketiduran sejak pulang dari kampus jam 3 sore. Terakhir kali saya tidur dengan layak adalah hari Selasa malam. Rabu sore sempat tidur 2 jam, kemudian berlangsunglah edisi lembur 2×24 jam tanpa tidur karena ada PR yang harus dikumpulkan Jumat siang.

Iya pernikahan kami memang baru setahun. Silakan simpan komen “halah masih seneng-senengnya itu” atau “masih enak itu belum ada buntutnya” dulu. Bagi kami, setahun terakhir (dan dua tahun sebelumnya) adalah perjuangan panjang. Kami gak banyak ngerasain betapa menyenangkannya pacaran sekota, bisa hangout bareng pulang kerja, atau pillowtalk saat pergi tidur ngobrolin ada hal apa seharian tadi. Pillowtalk versi kami adalah chatting di Telegram ngomentarin komen-komen di fesbuk, gosip politik terkini, kemudian pamit tidur – kalau gak ketiduran. Setiap berangkat tidur doa saya adalah semoga masih diberi umur panjang untuk menyapanya lagi di pagi hari, dan melihatnya lagi saat kami punya kesempatan bertemu.

Sejak pacaran kami tinggal di kota yang berbeda: saya tinggal di Serpong, beliau di Jogja. Pertengahan 2014 beliau ditugaskan jadi field engineer ke Sulawesi selama setahun, dan gak lama setelah kembali ke Jogja pada pertengahan 2015 beliau kembali ditugaskan di Bojonegoro sampai pertengahan 2016… dan beberapa saat kemudian gantian saya yang pergi, melanjutkan studi ke Manchester.

It wasn’t always easy. Semester pertama 2014 kami masih bisa merencanakan sebulan sekali ketemuan di Jogja atau Serpong, tapi setelah beliau dinas lapangan kami cuma bisa ketemu saat field break tiap 6 minggu sekali. Tiap akhir pekan rasanya campur aduk antara sedih harus melewatkan malam minggu sendirian dan gak bisa ke gereja bareng, dan gak sabar menghitung berapa malam minggu lagi sampai bisa bertemu kembali. Bertengkar ya pasti ada. Kalimat yang nampak di layar hempon bisa membawa nada yang berbeda padahal bukan itu maksudnya, apalagi kalau di ujung satunya sedang bad mood atau lelah atau kebanyakan pikiran. It wasn’t always easy. Kami mengusahakan untuk meminimalisir konflik karena pertengkaran jarak jauh tidak selalu bisa diakhiri dengan rekonsiliasi yang layak, komunikasi yang baik, dan pelukan yang menyelesaikan segala masalah.

bersama bulik suster

bersama bulik suster

He’s being a great partner for me and I’m forever grateful for that. I think I couldn’t ask any better. Saya tahu kepergian saya untuk sekolah ke luar negeri jadi keputusan yang sangat besar buat kami, tapi toh dia tahu hal itu penting buat saya. Gak enak sih rasanya ditanya “wis bathi rung?” (“sudah untung belum?”) saat kami sedang menunda untuk punya anak karena saya harus sekolah dulu. Asal tahu aja ya, dia mau sama saya aja itu saya udah untung banyak! Hahaha. And of course want to have kids. And dogs. Cute ones, the kids and dogs. Sejauh ini orangtua sepenuhnya mendukung keputusan kami, meskipun kami tahu juga mereka sedih lihat anaknya sudah menikah kok masih jauh-jauhan dan sekarang malah jaraknya lebih jauh lagi. Gak enak juga lho kalau ada teman-teman yang suka ngeledekin posisi kami yang sedang LDR; kadang kalau mood saya lagi kurang bagus rasanya ingin bales “you know what, what you’re doing is not nice and I hope one day you’ll be in a long distance relationship with your partner so you’d know how it feels”.

Tiap tahun kami mengusahakan bisa liburan lebaran dan natal bersama, saya gak peduli harga tiket berapa pokoknya harus pulang. Tapi… sayang sekali natal tahun ini dan lebaran tahun depan saya gak bisa mudik. Kali ini harus peduli harga tiket karena 15 juta rupiah itu sungguhlah lumayan banyak ­čÖü buat yang pernah atau sedang LDR pasti tahu siklusnya saat nunggu waktu ketemuan di hari libur yang lebih panjang dari biasanya: excited nunggu hari-H, berharap liburan gak pernah berakhir, dan super patah hati di stasiun atau bandara saat harus berpisah karena jarang-jarang bisa bareng selama itu. Kemudian hari berikutnya seperti biasa langsung browsing-browsing tiket murah dan merencanakan kapan bisa ketemuan lagi.

Ah, lebih baik saya tidak usah terlalu banyak mengeluh. Melihat lagi cerita-cerita lama tentang perjalanan kami seperti cerita soal foto syarat catatan sipil yang harus di-photoshop, atau mondar-mandir Jakarta-Jogja buat ngurus surat-surat, sampai hal-hal yang membawa saya kepada kesadaran penuh bahwa saya sudah dipertemukan dengan The Special One, sehari sebelum hari pernikahan. Saya betul-betul bersyukur karena punya suami yang tidak cuma bisa jadi pegangan hidup (duile kaya kitab suci aja), tapi juga membuat saya jadi orang yang lebih baik. I love him for that. Kami pernah bekerja di kantor yang sama, meskipun gak kenal dan gak deket, dan sampai sekarang saya mengagumi etos kerjanya yang beyond excellent. Ya… terutama kalau dibandingkan sama saya yang versi sibuknya di kantor adalah nyusun playlist Youtube dan meneliti di video mana Niall Horan terlihat lebih cute.

patung sapi! – komplek pemda boyolali

Baiklah. Sudah jam empat pagi. Setelah baca posting soal honeymoon di Gili Nanggu tahun lalu kayaknya sudah harus merencanakan lagi tahun depan mau honeymoon kemana. Happy anniversary my best man, and let’s continue to another year of living happily ever after!

In Exactly 5 Weeks

… in exactly 5 weeks, I’d be arriving in a new place that I should befriend for a whole year.

Saya sangat membanggakan laptop Lenovo Ideapad G460 yang sudah hampir 6 tahun saya miliki. Dia punya julukan Laptop Kangkung. Kenapa dinamain begitu? Alasannya baca di sini aja; gak penting sih, tapi berkesan. Laptop ini nemenin saya saat harus lembur di pabrik dan ngelanjutin kerjaan di kafe setelahnya, saat saya nganggur dan cari kerjaan freelance, saat saya belajar buat test CPNS, saat saya bikin banyak personal statement dan ngirim-ngirim aplikasi ke banyak sekolah, dan masih banyak lagi. Dia juga yang saya abuse saat pada tahun 2011 hati saya patah — tidak cuma patah tapi hancur berkeping-keping.

Dia gak pernah rewel, kecuali tiga tahun lalu saat dia tiba-tiba mati tanpa pamit. Saya masih ingat saat itu sore hari di kantor saya sedang menyalakan laptop untuk ngecek kerjaan freelance. Tidak ada suara, tidak ada raungan khas dari kipasnya – yang biasanya terdengar saat laptop dinyalakan. Motherboard kayaknya nih. Saya mulai panik, kemudian googling untuk mencari info tempat reparasi laptop di Jogja. Setelah melalui banyak pertimbangan dan kontemplasi selama beberapa hari, saya akhirnya membawa laptop itu ke sebuah servisan di dekat Selokan Mataram.

Gak sampai seminggu kemudian saya dikabari kalau laptopnya berhasil diservis, biayanya 500 ribu. Menurut saya mahal, tapi gak ada yang bisa menggantikan ikatan emosional saya dengan laptop kenangan itu. Lagipula kalau harus ganti motherboard pasti jauh lebih mahal lagi (dan memangnya motherboard laptop keluaran 2010 masih gampang dicari?)

Ya begitulah. Segera saya upgrade RAM; nambah jadi total 4GB. Setelahnya, si Laptop Kangkung menjalankan tugasnya dengan mulus sekali sampai sekitar bulan September 2015 dia mulai sering overheated dan shutdown. Saya mengkhawatirkan harddisk (ya motherboard juga) yang kemungkinan besar rusak kalo terus-terusan seperti itu. Akhirnya saya “menitipkan” laptop kesayangan saya itu ke mz Mizan untuk dibersihkan fan-nya dan di-install ulang. Seminggu kemudian laptop saya kembali dalam keadaan bersih dan suci.

He was working smoother than ever. Gak ada lagi suara kipas yang menggerung kepanasan, bahkan batre yang biasanya cuma bertahan 3 menit setelah cleaning dan install ulang bisa nyala tanpa harus dicolok listrik selama hampir 30 menit sambil dipake nonton film. I was sooooo happy.

Kemudian saya berpikir realistis. Laptop ini gak mungkin saya bawa sekolah; bukan karena performanya sudah tidak bagus, tapi karena ia sudah mulai kehilangan sifat notebook yang harusnya mobile. Laptopnya berat, dan saya harus nemu colokan kalau mau pakai laptopnya. Sepertinya akan tidak praktis saat saya nanti mesti jalan kaki atau naik bus dari asrama ke sekolah, dan kalau di kelas mesti buka laptop untuk mencatat atau ngerjain tugas.

Perburuan laptop pun dimulai. Berbagai laman review sudah saya baca dan berbekal titah mz Mizan saya memulai pencarian di website enterkomputer.com. Lima buah merk dan tipe laptop saya peroleh sebagai shortlist setelah dua minggu penuh menghabiskan waktu untuk memilih. Saya kirim e-mail ke Enter untuk menanyakan stok dan… semuanya out of stock.

Sampai kemudian pada suatu siang yang tenang, Laptop Kangkung mau saya nyalakan untuk ngerjain kuitansi koperasi kantor. Ada suara, tapi layar tetap gelap. Seperti tiga tahun lalu, saya panik. Tapi kali ini saya tidak ingin melakukan apapun, jadi laptop saya force shutdown kemudia saya memilih untuk tidur siang saja. Bangun tidur saya iseng nyalain laptop…

He lightened up. He booted and worked fine like nothing happened.

Mungkin dia cuma ngambek. Tapi saya gak punya pilihan, sepanjang sore sampai malam hari saya memantapkan hari untuk memilih satu laptop yang – seperti Laptop Kangkung yang menjadi saksi┬ádrama selama karir kerja saya – akan menjadi saksi drama selama sekolah saya besok dan nanti.

Pilihan saya jatuhkan pada Dell Inspiron 11 3162 dengan prosesor N3700, RAM 4GB, dan OS Ubuntu. Tipe yang sama ditawarkan dengan harga murah, namun prosesornya N3050 dan RAM-nya hanya 2GB. Saya beli di Jakarta Notebook meskipun harganya 70 ribu lebih mahal daripada di Enter, karena di Enter tidak ada opsi pilih warna sedangkan saya mengincar warna merahnya. Pesanan sampai di kantor sore ini setelah 3 hari di jalan, dan saya langsung melakukan proses unboxing.

Pada suatu senja di sebuah kost putri di pinggiran jalan Margonda, Depok, saya jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Laptop Kangkung yang kemudian jadi soulmate saya sampai detik ini. Kali ini tidak ada perasaan sekuat itu kepada laptop berwarna merah yang sedang saya pakai mengetik entri blog ini, tapi bukan berarti saya tidak akan jatuh hati padanya anytime soon.

Saat tadi menyalakan laptop Dell bertipe Inspiron ini untuk pertama kalinya dan masuk ke mode instalasi Ubuntu 14.04 LTS, benak saya langsung terbang ke masa 9 tahun yang lalu – kurang lebih di bulan yang sama. Saya sedang persiapan untuk pergi sekolah ke Eropa dengan membawa laptop Dell juga dan OS yang juga Ubuntu. Bedanya, saat itu saya bawa Dell tipe Latitude C-series yang OS Ubuntunya masih jadul banget (lebih jadul daripada Feisty Fawn, tampilannya pun gak se-sleek sekarang). Laptopnya tebal sekali, dengan slot CD-ROM dan removable battery berada di depan laptop. DEPAN. Jadi kalo mau ngeluar-masukin CD dia ngebuka ke arah kita gitu kayak meja kasir. Di samping kiri dan kanan laptop ada port USB, RJ45, VGA, dan slot PCMCIA. Yes you heard me. PCMCIA. Kapasitas harddisknya cuma 20GB — bukan, bukan SSD.

In exactly 5 weeks I am going to leave my beloved Laptop Kangkung and I’m not sure if I can stop my mind from wondering if he’d still be able to function next year when I’m home. Please, please, please wish us luck and alive throughout the year. If my Dell could survive then so would us.

Maaf sudah membuang waktu kalian dengan entri sentimentil dan gak penting ini ya~

Selama Sisa Hidupku

[nganu nganu] pertama di 2016. Demikianlah kalimat yang sedang trending di timeline facebook dan twitter saya hari ini. Dengan semangat mainstream itulah malam ini saya ngeblog. Well, sesungguhnya untuk menutupi rasa bersalah karena seharian ini sepertinya gak ada hal berguna yang saya lakukan di rumah.

Hmm. 2016. Sudah lumayan lama saya nunggu tahun ini tiba, terutama karena tahun ini adalah salah satu milestone besar dari hidup saya: dekade baru.

At this time, I thought I would have my life figured out. I thought I have already married, have children, working in a big ass building and creating pile of money every month. But kid, that’s not how life works.

Flashback ke awal tahun 2015. Saat itu saya cuma punya satu target besar: menikah atau sekolah. Yang mana dulu deh, karena menginginkan dua-duanya kok kayaknya kemaruk sekali. Sejak awal tahun saya bersiap-siap nyari sekolah dan apply beasiswa. Sempat gagal di tengah-tengah prosesnya, tapi itu bukan alasan untuk tidak lagi berusaha. Tuhan menjawab doa dan usaha yang sudah saya siapkan selama 5 tahun terakhir di semester dua: beasiswa untuk sekolah lagi tahun ini. Doakan semoga dilancarkan sampai lulus dan diberi kesempatan untuk lanjut sekolah lebih tinggi lagi ya.

As for my (then) boyfriend, kami belum merencanakan pernikahan karena akhir tahun 2014 kakak laki-laki┬ábeliau┬ángunduh mantu dan menurut adat Jawa tidak boleh ada dua acara pernikahan di tahun Jawa yang sama. Jadi, paling cepat kami baru bisa menikah setelah pertengahan Oktober 2015, yaitu setelah pergantian kalender bulan. Saya sedang dikejar banyak deadline paper menjelang konferensi akhir tahun yang bertubi-tubi saat beliau dan keluarganya datang ke rumah waktu lebaran…

… dan memberikan kami tanggal untuk menikah, setelah berdiskusi dengan pihak keluarga saya. Hari Kamis, 19 November 2015 dipilih karena memenuhi syarat hari, pasaran, pekan, dan bulan baik serta pertimbangan hari yang dipantang oleh kedua belah pihak. Lumayan juga, jadi tahu adat Jawa yang rempong adiluhung. Waktu itu sudah minggu terakhir bulan Juli dan kami berdua mulai panik mencari tahu persyaratan untuk menikah di gereja dan mencatatkan pernikahan di catatan sipil, serta mencari tempat Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) mengingat gereja Katholik mewajibkan jemaat untuk mengikuti KPP terlebih dahulu sebelum mendaftarkan tanggal sakramen pernikahan di gereja.

Indeed, life is what happens when you’re busy making other plans.

So, yeah, we’re getting married last November. All my adult life so far, I’ve been living in fear of making the wrong choice of lifetime partner. The traditional wedding vow of Catholic church which says “Aku berjanji akan mencintai dan menghormatimu selama sisa hidupku” never ceased to give me chills. It’s “sisa hidupku“, the rest of MY life, not “sisa hidupmu”. Go figure.

Holy Matrimony

Holy Matrimony

Beberapa hari sebelum menikah, seorang sahabat bertanya “bagaimana perasaanmu? sudah yakin dengan pilihanmu menikah sama orang ini?” — saya gak langsung menjawabnya, karena ternyata saya gak jujur kalau pertanyaan itu saya jawab dengan anggukan mantap dan senyum a la Mario Teguh yang sepertinya bisa menyusun quote motivasi di tengah situasi apapun.

Sesungguhnya saya gak khawatir akan diselingkuhi atau disakiti karena saya percaya pada beliau (calon suami saya, maksudnya, bukan Mario Teguh); saya justru takut kalau nantinya saya akan jadi pihak yang menyakiti. Gampangnya, kalau disakiti kan kita tinggal memutuskan akan tetap tinggal atau pergi – dengan segala risikonya – tapi kalau ada di posisi yang menyakiti itu kan sulit. Bisakah melanjutkan hidup dengan perasaan bersalah dan tidak dimaafkan, meskipun toh sudah dimaafkan?

Pertanyaan si kawan tadi akhirnya saya jawab, “yes I’m having second thoughts. Not clearly sure what they are, but I feel I’m doubting something”. Sampai H-2 saya masih merasa gak jelas. Don’t get me wrong, I’m happy that I would be marrying the man of my dream, but I just couldn’t get rid of that crazy feeling.

24 hours before the wedding (macem di HIMYM season 9 itu)

Menurut adat di desa saya, hari pertama itu dihitung saat midodareni… Jadi sehari sebelum pemberkatan sudah banyak tamu datang meskipun calon pengantin pria belum datang ke rumah calon pengantin wanita; karena itulah di rumah saya ndak ada prosesi siraman maupun nyantri, karena hari itu saya harus nemenin Bapak nerima tamu sejak jam 9 pagi sampai malam. Iya, undangan resepsi di desa itu gak pake jam bertamu jadi tuan rumah harus standby sampai tamu habis.

pesta bujang XD

pesta bujang XD

10 hours before the wedding

Calon suami saya tinggalnya 2 jam dari rumah, naik mobil. Malam itu saya bbm beliau, nanya kapan mereka berangkat ke tempat saya. Makin malam, perasaan saya makin gak karuan. Kalau ada yang familiar sama serial How I Met Your Mother, pasti masih ingat episode saat Barney freaking out dan terus-terusan meneriakkan “it’s cornflower blue, Ted, it’s cornflower blue!”. I was having those “cornflower blue” episode as well.

What if this was a bad decision?

What if I couldn’t keep my vow?

What if he couldn’t keep his vow?

What if I changed? If he changed??

and along with them comes hundreds of what-ifs…

8 hours before the wedding

Setelah ngabarin via bbm kalau mereka sudah jalan dari rumah sekitar jam 9 malam, saya ngapdet lokasi rombongan tiap setengah jam sekali sampai kemudian saya gak dapat apdetan lagi karena beliau ketiduran di mobil. Saya menyibukkan diri dengan entah-ngapain-yang-penting-gak-kepikiran-macem-macem. Beberapa menit lewat tengah malam, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Perasaan saya jadi makin gak karuan. Saya merapikan diri sebentar lalu keluar rumah dan melihat sosoknya turun dari mobil. Tumben rapi, pakai kemeja lengan panjang dan celana bahan. Tapi senyumnya masih aja tengil seperti biasa.

Seketika keraguan saya hilang. Menguap begitu saja entah kemana. Perasaan takut, gamang, dan ratusan what-ifs yang berkelebatan… lenyap. Malam itu adalah pertama kali saya bertemu beliau; terakhir kali kami ketemuan adalah 80 hari yang lalu, saat penyelidikan kanonik bersama Romo di gereja.

1 hour before the wedding

I didn’t know what kind of miracle took place that night, but I wasn’t feeling scared anymore. Setelahnya, semua terasa mudah. Rasanya masih punya semangat biarpun cuma tidur dua jam, beda sama kalo ngantor dalam keadaan kurang tidur (ya menurut lo).

In the morning when we were getting prepared, I admired him looking really gorgeous in suits. In the church we took turn saying our wedding vows, putting the wedding ring on our fingers, throwing smiles and glances to each other, and following all the rituals both in holy matrimony procession and reception at home afterwards. Mungkin hari-hari ke depan gak cuma berisi pelangi dan cotton candy, tapi semoga semuanya dimudahkan seperti keajaiban yang terjadi tengah malam tadi.

Javanese Reception

Javanese Reception

Buat saya, menikah adalah keputusan yang sangat sangat besar. Saya sendiri gak nyangka akan menikah tapi nyatanya hal itu terjadi juga, dan saya bersyukur untuknya. Untuk orang yang berani mengambil risiko jangka panjang dengan memperistri saya. Hahaha.

Tahun ini adalah tahun untuk keputusan besar lainnya: sekolah. Jujur saja tentang hal ini saya juga masih merasa takut, gamang, dan ragu, apalagi mengingat bahwa sudah lama saya lulus kuliah dan sudah lupa caranya belajar dengan pantas di sekolah formal. Tapi gak papa. This too shall pass.

This too shall pass.

Happy new year 2016. Bring it on.

P.S: Makasih banyak utk teman-teman yang udah nyempetin datang, dan terimakasih juga untuk semua kadonya. Terkhusus Celo, yang motoran SENDIRIAN dari Jogja habis subuh dan bahkan sudah tiba di gereja sebelum saya. Kolase foto di kanan atas saya ambil dari path Nungki. Hihi.

P.P.S: itu foto di kiri bawah adalah adik bungsu saya, yang paginya wisuda dulu di UGM dan baru bisa nyusul siangnya ke rumah pake toga wisudanya. Proud of you. BTW saya juga dulu wisuda di tanggal yang sama, 19 November. Terimakasih ya, UGM, sudah memberi tanggal yang memorable ­čść

Kapan ke Gili Nanggu Lagi

Lombok!

Saya gak pernah punya impian pengen ke sini sampai beberapa minggu sebelum menikah masnya nyari ide soal kemana kami akan hanimun (ihiy!). Sedari masa kuliah, beliau ini sebenernya hobi mendaki gunung (properti mendaki gunungnya ngalah-ngalahin koleksi sepatu dan lipstik saya), tapi semenjak deployed di Sulawesi Tengah setahun lalu sampai lebaran kemarin sepertinya beliau lagi suka pantai dan snorkeling di laut.

Dermaga Gili Nanggu

Dermaga Gili Nanggu

Jadilah kami nyari daerah mana yang oke buat di-snorkeling-in (wow is that even a word). Pengennya ke luar negeri biar paspornya kepake, tapi di Singapur kok gak ada tempat buat snorkeling. Maldives kejauhan. Raja Ampat juga terlalu jauh dan mahal, Bali terlalu rame, dan akhirnya beliau mengajukan usul ke Lombok. Saya belum pernah ke Lombok dan gak tahu juga di sana ada apa aja, tapi tenang aja… kan ada Google.

Direct flight dari Jogja ke Mataram cuma ada Lion Air jam 17:40 dan kalau pakai flight itu kami akan kemalaman sampai di Mataram, jadi kami memutuskan ambil first flight dari Jogja, stopover di Surabaya, pindah pesawat, kemudian sampai di Mataram sebelum tengah hari.

Rencananya begitu.

Rupanya pesawat dari Surabaya ke Lombok Praya dipindah ke flight berikutnya, jadi tetep aja kami sampai di Mataram sekitar jam 2 WITA. Keluar bandara rasanya aneh… gak ada arrival hall. Langsung atrium besar gitu. minimarket di situ, restoran di situ, loket damri di situ… termasuk abang-abang taksi, travel, dan paket liburan.

Dari bandara ada dua macam tiket bus Damri: 25 ribu ke Mataram dan 35 ribu ke Senggigi. Kami beli tiket ke arah Mataram dan turun di pertigaan Gerung, perjalanan yang ditempuh kurang lebih 30 menit. Dari situ kami lanjut naik angkot berwujud suzuki carry plat kuning ke Pelabuhan Lembar. Angkot gak kelihatan ngetem di pertigaan Gerung, jadi kami nongkrong aja di pinggir jalan nunggu ada angkot lewat. Dari Gerung ke Lembar kira-kira 30 menit juga, dan cuma bayar 10 ribu.

entrance - pelabuhan lembar

entrance – pelabuhan lembar

Btw kalau mau naik taksi langsung dari Bandara ke Pelabuhan Lembar juga bisa, argonya sekitar 150 ribu – kurang lebih segitu juga kalau naik taksi ke Mataram kota.

Dari Pelabuhan Lembar kami sudah dijemput perahu bermotor untuk ke tujuan selanjutnya… Gili Nanggu. Empat puluh lima menit saja dari Pelabuhan Lembar. Di perahu cuma berdua cuy, jadi merasa tajir. Halah.DSC_1177

Gili Nanggu ini adalah sebuah pulau kecil di barat daya Lombok, bersama dengan beberapa gili lainnya. Saking kecilnya, di Gili Nanggu cuma ada satu penginapan yang diberi nama… surprise surprise… Gili Nanggu Cottage & Bungalows. Haha. Cottage ini dimiliki oleh joint venture pengusaha asal Jakarta dan Lombok, sekaligus kepemilikan tanahnya. Jadi ya bisa dibilang pulau ini milik pribadi.

DEMIKIAN JUGA DENGAN PANTAI TEPAT DI DEPAN KAMAR KAMI!

IMG_20151126_095329

Ini pemandangan dari balkon kamar (lantai 2)

Ada tiga jenis kamar di Gili Nanggu Cottage: kamar standar with fan, cottage sea view with fan, dan bungalow with AC. Kami ambil cottage sea view. Cottage-nya didesain seperti rumah Sasaq; lantai atas adalah kamar dengan king size bed dan balkon, sedangkan di lantai bawah ada kamar mandi, kursi panjang, dan hammock yang langsung menghadap laut. Selain cottage, di pulau juga ada saung-saung tempat nongkrong gitu. BTW, bersama dengan kami cuma ada satu pasangan lain yang menginap di cottage paling ujung, pasangan musisi paruh baya dari Swiss yang memang rutin tiap tahun berlibur ke situ selama 4- 5 minggu. Duh enaknya.

IMG_20151126_071206

cottage sea view

Di Lombok matahari terbenam sekitar pukul 18:15 WITA, jadi sore itu kami sedang coba-coba snorkeling di pantai depan kamar (gaya banget ya) sebelum lari ke ujung barat dermaga untuk lihat sunset. Iya, Gili Nanggu itu kecil banget kita cuma perlu jalan kaki 5-10 menit untuk sampai di sisi satunya dan gak sampai setengah jam untuk keliling pulau.

Keesokan harinya┬ákami nyewa perahu bermotor┬ákeliling untuk berkunjung ke snorkeling spot pulau-pulau di sekitar Gili Nanggu: Gili Ringgit, Gili Sudak, Gili Kedis, Gili Layar, Gili Tangkong. Di sepanjang jalan masih ada lagi gili-gili yang lain seperti Gili Asahan dan Gili Gede. Buset… udah┬ákayak taman dengan tumbuhan laut, karang, dan ikan berwarna warni dan berbagai bentuk. Kadang cuma diem aja ngapung udah seneng, sambil ngejar-ngejar ikan. Sesekali kepala mecungul buat memastikan berenangnya gak kejauhan dari kapal. Seharian itu matahari bersinar cerah sekali, jadi visibility-nya juga sangat oke. Perahunya pun kami sewa buat berdua doang, berasa orang kaya gitu bisa brenti di satu pulau sepuasnya.

"pantai depan kamar"

“pantai depan kamar”

Saya gak terlalu berani sama air, jadi biasanya gak jauh-jauh juga dari pantai. Pertama kali nyemplung malah nangis karena takut. Sayang sih, karena kalo mau rada jauhan mestinya jauh lebih bagus. Tapi selalu saja seneng liat senyum lebar si mas kalo udah menepi setelah berlalu-lalang snorkeling kesana kemari, berarti yang dilihat emang bagus.

Dari jam 9 pagi bertolak dari dermaga Gili Nanggu, kami baru balik sekitar pukul 4 sore. Balik ke Nanggu masih belum puas snorkelingnya, si mas nyemplung lagi ke pantai depan kamar (duh enak banget yaaaaa di depan kamarnya udah pantai) sedangkan saya langsung mandi dan baca buku sambil berayun-ayun di hammock. Sore hari nunggu sunset tapi sayang rada mendung, jadi kami nongkrong aja main sama dua ekor anjing punya cottage, Gendut dan Bintang.

C360_2015-11-25-05-50-09-306

Bintang, ngeliatin apa kamu nak?

Gendut yang warnanya putih ini pertama kali kenalan berisik banget gonggongin orang, tapi lama-lama jadi caper dan manja. Kalau Bintang emang aslinya pendiam, pemalas dan pasrah mau diapa-apain termasuk diganggu dan digigitin sama Gendut.

Gendut & Bintang

Gendut & Bintang

Oiya, karena ini semacam pulau pribadi dan apa-apa terbatas, jadi ya jangan harap ada fasilitas ala hotel di cottage. Pemanas air pun tak ada. Maklum, pulau ini ditenagai oleh genset, dan airnya pun hasil olahan karena aslinya tentu saja cuma ada air asin. Sinyal yang oke cuma XL dan Telkomsel. Kalau mau makan ya hanya┬áada restoran hotel yang harganya yah… begitulah. Cuma emang rasanya enak dan porsinya buesaaaarrrr. Beli air mineral juga di situ. Tapi tenang aja, kamarnya super bersih kok, demikian juga dengan perabot dan kamar mandinya. Pegawai dan manajer hotel juga super ramah, bisa ditanyai soal apapun. Kalau berminat nginep sini hubungi aja pak Abdullah di nomor 0812-3797-2299 atau kirim aja email ke reservation@gilinanggu.com.

Pagi harinya kami sempetin nongkrong sebentar di pantai sebelum siap-siap dan check out. Seperti waktu berangkat, pulangnya pun kami diantar oleh pak Akim, boatman Gili Nanggu Cottage dari dermaga sampe Pelabuhan Lembar.

Seusai dari Gili Nanggu kami masih lanjut ke Gili Trawangan sih. Tapi kok rasa-rasanya hati ketinggalan di Gili Nanggu. Pengen ke sana lagi. Hiks.

biar gak hoax

biar gak hoax