Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Category Archives: life

Lebaran 2017 (dan tahun-tahun sebelumnya)

Flashback lebaran sepuluh tahun terakhir

2007 – di Wassenaar, acara tahunan KBRI Den Haag. Sebagai mahasiswa kere dan karena ternyata makanannya gak gratis maka cuma bisa beli sedikit makanan.

2008 – di Wassenaar lagi, kali ini sudah bisa jajan-jajan karena sudah kerja. Kalau gak salah waktu itu lebaran jatuh sekitar bulan September atau Oktober dan saya baru sebulan kerja di pinggiran Rotterdam.

2009 – di Jogja, waktu itu pulang untuk persiapan yudisium dan wisuda bulan November. Pulang pas malam takbiran. Big mistake I still regret. Please don’t ask.

2010 – yang jelas sih masih di Belanda tapi lupa di mana ya? kayaknya sih gak ke Wassenaar juga karena hari kerja. Sepertinya ya ngantor aja seperti biasa.

2011 – lebaran di jogja karena habis kecelakaan sebulan sebelumnya dan kaki masih di-gips. Dikunjungi keluarga lalu kami jalan-jalan ke Ambarukmo Plaza dan belanja di Carrefour dengan saya masih pake kruk. It was a surreal experience.

2012 – lebaran di jogja lagi karena I’m being a jerk who didn’t want to go home and make her dad happy. I made excuse that I had to work (I really had to but I could’ve done it remotely at home actually). Malam takbiran nongkrong di kafe sampe pagi sama Celo. Dikunjungi keluarga lagi seperti tahun sebelumnya dan kami main ke pantai, ke kebun binatang, dan entah kemana lagi.

2013 – I actually came home for lebaran. pertama kali setelah 2006. lolz. Dari rumah ke Jogja lalu karena si adik yang kerja di Maluku flightnya dari Jakarta tengah malam maka saya “mengantar” ke Bandung. Kami naik kereta dari Jogja ke Bandung, sewa motor dan muter-muter Bandung sehari semalam. Hiking ke Tahura, makan di Madtari, nongkrong di Braga, jajan Yoghurt Cisangkuy, ke Museum Geologi, dll. Keesokan harinya kami berpisah; dia naik Argo Parahyangan ke Jakarta untuk kemudian ke bandara dan saya naik kereta entah-apa-lupa kembali ke Jogja.

2014 – lebaran di rumah! pertama kali ngerasain mudik sebagai kaum urban jabodetabek nih. sempat main ke sarangan pake rok (bad idea), makan sate kelinci dan bakso dan entah apa sampe pulang kekenyangan. Nyekar ke makam mbah putri di kediri dan main ke rumah-rumah saudara yang di daerah situ. Pertama kali berkunjung ke rumah pacar dan disuruh nginep di sana dan ternyata ada keluarga besarnya lagi datang! Alamak groginya. Balik ke serpong dari jogja ketinggalan kereta lanjutan dan terpaksa harus naik travel dari bandung kemudian bersumpah akan menabung agar tahun depan bisa naik pesawat.

2015 – lebaran di rumah. hari pertama lebaran langsung melayat adik sepupu yang meninggal karena kecelakaan bus. keesokan harinya ada calon besan datang sekeluarga dan tiba-tiba sama kedua bapak-bapak ditodong suruh menikah, dikasih tanggal yang waktunya kurang lebih empat bulan lagi. langsung wasap pakde mbilung: “waduh gimana ini pakde!” but yeah it went well.

2016 – lebaran pertama di rumah mertua. I love my new family. Dapat mertua dan ipar yang luar biasa baiknya; I feel very blessed. Sayang sekali anjing kesayangan keluarga, Melky, meninggal setahun sebelumnya.

2017 – lebaran di Manchester. Gak ada yang menarik – semalam begadang nunggu yang di Indonesia bangun dan sungkeman. Tidur sampe jam 10 pagi dan telponan sama adik yang sedang di rumah bude. Tidur lagi sampe jam 2 siang kemudian bangun kelaparan, akhirnya mandi dan pergi nyari makan ke warung. Mashed potato dan daging plus gravy, menu diskonan yang di-reprice karena udah mau expired. Hehe.

Yah begitulah sejarah lebaranku satu dekade terakhir. Sekarang sudah lumayan tua ya ternyata. ((( lumayan )))

Selamat lebaran (dan liburan) teman-teman, semoga hari rayamu menyenangkan!

 

Tiga Purnama Lagi

Pagi ini misa di gereja depan kampus seperti biasa. Missa Sanctissimae Trinitatis (Misa Trinitas Kudus), seminggu setelah Pentakosta. Misa ini adalah ibadah terakhir sebelum mereka tutup selama dua bulan untuk renovasi. Sebelum romo William menutup misa dan memberi doa berkat, beliau mengingatkan kami bahwa gereja baru akan dibuka kembali sembilan pekan lagi.

Tiba-tiba saya jadi mellow. Sembilan pekan lagi sudah bulan Agustus. Dan saya cuma punya waktu beberapa kali saja setelahnya untuk mengikuti misa di gereja ini karena studi saya (harusnya) sudah selesai. Tinggal tiga purnama lagi.

Berarti sudah harus mengucapkan selamat tinggal pada kampus yang super keren ini.

Pada warung kesayangan seberang jalan, Morrisons dan Sainsbury.

Pada warung sebelah asrama, Spar, yang punya banyak cemilan lucu dan diskon 10% untuk mahasiswa.

Pada Whitworth Park di sebelah Spar, taman tempat saya biasa nongkrong gak jelas karena sekadar pengen lihat anjing yang dibawa pemiliknya jalan-jalan.

Pada warung kebab sebelah dan McD seberang yang godaanya sungguh aduhai tiap kali pulang dari kampus dan terlalu malas lelah untuk memasak.

Pada perpustakaan kampus dan fakultas yang bikin saya sering lupa waktu.

Pada internet super kencang yang membuat saya sampe detik ini belum pernah donlot lagu ataupun film.

Pada banyak hal lainnya lagi. Hal-hal yang bahkan belum sempat saya lakukan seperti road trip ke Skotlandia, pergi ke Bath dan Bristol, nyambangi Loch Ness di Inverness, berkunjung ke katedral Salisbury, piknik ke St. Petersburg, dan masih banyak lagi.

Ya gak papa. Kesini kan tujuannya belajar. Yang penting selesai dulu. Semangat semangat.

Note: pulang dari gereja mampir ke Morrisons dan ternyata sedang ada banyak diskonan. Saya langsung beli 4 pak salmon masing-masing isi dua iris karena didiskon dari 3.5 jadi 2 pounds aja per pak. Nanti di Serpong gak akan makan salmon lagi soalnya. Mahal πŸ˜†

Birokrasi Mbulet

Seharusnya saya sudah mulai ngelab buat thesis.

TAPI.

Well, setiap mahasiswa yang akan melakukan penelitian di lab diharuskan untuk membuat risk assessment yang isinya ada kemungkinan risiko apa saja yang akan terjadi selama penelitian berlangsung, mulai dari hal terbesar seperti penggunaan material yang mudah meledak, sampai risiko tangan tergores barang pecah belah. Risk assessment ini akan di-review oleh Safety Advisor jurusan dan kalau sudah OK mahasiswa akan diberikan kode akses untuk masuk ke lab. Nah, material yang saya pakai ini salah satunya adalah lead iodide (PbI2) yang ternyata karsinogenik atauΒ  berpotensi menimbulkan kanker jika terpapar di atas ambang batas tertentu. Hal ini membuat saya harus memenuhi persyaratan tambahan yaitu sertifikat medical fitness, dan untuk mendapatkan sertifikat ini saya kudu kirim request ke Occupational Health Service (Occ HS) agar dibuatkan appointment cek kesehatan.

Di sini masalah dimulai. Begini kronologinya.

26 April saya kirim request beserta formulir yang diberikan oleh Safety Advisor

3 Mei saya email ke Occ HS lagi menanyakan kabar request saya. Ibu A dengan kabar bahwa mereka punya formulir versi baru yang harus saya isi. Hari itu juga formulir sudah saya isi dan saya kirim balik.

8-18 Mei beberapa kali saya email dan telpon untuk follow-up, tiap kali itu juga dijawab suruh tunggu. It’s been almost three weeks.

22 Mei Saya kirim email ke bu Gemma, admin jurusan, dan menjelaskan tentang kronologi request saya yang lenyap entah kemana. Bu Gemma menghubungi Occ HS untuk menanyakan request atas nama saya, dan Occ HS mengirimkan formulir untuk diisi. FORMULIR YANG SAMA yang sudah saya kirim sejak tanggal 3 Mei. Saya lalu bilang ke bu Gemma tentang itu.

23 Mei Bu Gemma menanyakan lagi ke Occ HS, mereka menyarankan saya kirim formulirnya langsung ke Ibu B, staff Occ HS yang khusus menangani mahasiswa postgrad. Saya kirim hari itu juga.

24 Mei Tidak ada kabar.

25 Mei Tidak ada kabar. Saya kirim email ke Ibu B menanyakan tentang progress request saya. Sesorean saya ngubek-ubek web kampus untuk mencari prosedur komplain.

26 Mei Datanglah email dari Occ HS yang memberikan appointment untuk saya pada tanggal… 1 Juni. Bdbh.

1 Juni Saya datang ke kantor Occ HS untuk melakukan tes kesehatan. Selesai dalam waktu 15 menit.

UDAH GITU DOANG. SEBULAN DONG.

Kelalaian mereka ini berakibat besar sekali buat saya; bikin stres yang gak penting apalagi saat itu saya sedang ada ujian akhir. Saya sampe takut apakah waktunya cukup buat ngelab, apakah nanti saya bisa lulus tepat waktu, apakah malah ada kemungkinan gagal, dst. Rencananya saya masih akan kirim surat komplain ke pimpinan departemen Occ HS.

Huft. Sekarang belum juga mulai ngelab karena rencana eksperimen belum diapprove sama supervisor padahal ybs sibuk sekali. Huft. KZL

For Manchester.

Asrama mahasiswa Whitworth Park, 25 Mei 2017

Tiga hari setelah kejadian bom bunuh diri di Manchester Arena, kota ini belum sepenuhnya pulih. Berseberangan dengan asrama saya adalah Manchester Royal Infirmary (MRI) Hospital, rumah sakit besar yang dibangun sejak sebelum perang dunia pertama. Suara sirine – entah polisi atau ambulans – sudah biasa saya dengar dari kamar, tapi malam hari saat insiden terjadi rasanya jauh berbeda. Selain karena tambahan suara helikopter yang berlalu-lalang di atas atap, pikiran saya melayang ke mobil-mobil asal suara sirine itu.

Siapa yang diangkut di dalamnya? Apakah selamat? Bagaimana keluarganya? Apa yang mereka alami saat ada ledakan? Wajah siapa dan kenangan seperti apa yang melintas?

Saya gak habis pikir setiap kali ada kejadian seperti ini. Di satu sisi saya tentu saja mengutuk siapapun yang ada di balik kejadian ini, dan tidak pernah tidak, selalu ada ketakutan dan pertanyaan “bakal kejadian di mana lagi? harus jatuh berapa korban lagi?”

Pelaku bom bunuh diri teridentifikasi sebagai Salman Abedi, 22 tahun, mahasiswa Salford University yang tidak menyelesaikan kuliahnya. Orangtuanya datang sebagai imigran dari Libya; Salman dan saudaranya dibesarkan di Manchester. Saat rezim Khaddafi berakhir, orangtua dan saudaranya kembali ke Libya tapi Salman tetap tinggal di Manchester. Ayah Salman ditengarai sebagai pendukung Al-Qaeda, dan Salman sendiri dipastikan memiliki hubungan dengan ISIS. Salah satu teman sekolahnya berkata tentang Salman, β€œHe was a outgoing fun guy but since he went to Libya in 2011 he came back a different guy.”

Malam itu saya mempelajari bagaimana reaksi warga Manchester. Sesaat setelah bom meledak, netizen di sekitar TKP langsung menawarkan bantuan sebisanya. Twitter dan Facebook penuh dengan orang-orang baik. Yang punya mobil menawarkan tumpangan pulang, yang punya tempat tinggal menawarkan tempat beristirahat, sopir taksi menggratiskan jasanya, bahkan beberapa hotel membuka pintunya lebar-lebar. Tak terhitung juga berapa banyak warga sipil yang membantu polisi melakukan evakuasi korban di sekitar tempat konser dan membantu orang-orang yang panik mencari keluarganya ke pusat informasi terdekat.

TKP disterilkan oleh polisi agar mereka bisa bekerja dengan cepat, dan keluarga yang menanti kabar bisa menunggu dan/atau mencari informasi di Etihad Stadium sebagai pusat informasi. Logistik juga langsung diantarkan ke Etihad Stadium dan paramedis sudah berjaga di sana. Bagi yang memerlukan bantuan seperti tumpangan pulang, perawatan untuk luka ringan, telepon untuk menghubungi keluarga, semua diarahkan ke Etihad Stadium. SOP ini dijalankan di regional Greater Manchester dan emergency drill terkait terorisme rutin dilakukan secara berkala sehingga respon pertolongan pertama bisa dilakukan dengan cepat dan efektif. Sebetulnya saya ingin sekali mengikuti perkembangan evakuasi dan mengamati bagaimana first responders bekerja, tapi hari Selasa pagi saya ada ujian akhir jadi harus tidur cepat.

Pagi harinya saya ke kampus yang jaraknya kurang lebih 1,5 km dari TKP. Jalanan relatif sepi tapi transportasi publik masih berjalan seperti biasa kecuali mungkin yang jalurnya melintasi sekitar TKP. Seusai ujian sekitar pukul 1 siang saya ke NHS Blood & Transplant untuk donor darah dan sambil donor saya ngobrol sama susternya tentang kejadian semalam. Ibu suster cerita bahwa beberapa staf NHS standby semalaman just in case rumah sakit memerlukan tambahan bantuan. Dari berita juga saya membaca beberapa dokter dan paramedis dari luar daerah yang kebetulan sedang di Manchester menawarkan jasanya kapanpun diperlukan. Such a selfless acts from the medical team.

“It was one of the things you train for in life but hope never happens”, kata seorang dokter.

Hari-hari berikutnya penuh berita penggalangan dana (tiga hari setelah peristiwa bom bunuh diri, sudah terkumpul dana lebih dari 4 juta poundsterling), undangan untuk berkumpul dan berdoa bersama di pusat kota, informasi hotline yang bisa dihubungi kalau ada yang perlu konsultasi atau penguatan, dan masih banyak lagi. Bagi saya ini gesture yang menyentuh; bahwa 22 orang yang meninggal dan puluhan yang luka berat itu bukan sekadar statistik. Bahwa tragedi bom bunuh diri ini bukan sekadar teror yang terjadi lalu berhenti. Life goes on and we should do whatever we can to be a blessing for other people. For a better world.

Jadi sedih sekali rasanya ketika kemarin sore mendengar kabar ada ledakan di Kampung Melayu, dengan korban jiwa 3 orang polisi dan banyak korban luka. Makin sedih saat saya baca-baca berita tentang apa yang terjadi setelahnya. Kenapa ada yang bilang itu pengalihan isu? Kenapa malah sudah ohak-ahok lagi aja? Kenapa nuduh bom bunuh diri ini rekayasa? Kenapa pada kirim gambar potongan badan yang berserakan? Kenapa waktu polisi beresin TKP malah pada bergerombol nonton?

Enam Hari Lima Malam

Katanya sekolah setahun itu “ndak lama kok. Nanti tahu-tahu juga kelar”. DUSTAAAAA. Nyatanya Desember kemarin saya sudah mulai muak, meskipun baru tiga bulan berjalan. Sempat menjalani masa ngerjain tugas sambil mimbik-mimbik akhirnya saya dan suami memutuskan untuk liburan bareng karena beliau pun terlalu rajin bekerja dan sepertinya juga butuh piknik. Kampus saya kebetulan libur paskah (easter break) dari tanggal 1 – 21 April, jadi kami ke Singapura memanfaatkan wiken paskahan itu.

Kenapa Singapura?

  • karena saya ingin makan enak
  • tempatnya sudah familiar
  • ada promo tiket pesawat dari Manchester

Penerbangan MAN-AUH dengan pesawat Etihad memakan waktu hampir 8 jam; pesawat saya berangkat rada telat dari Manchester sehingga tiba di Abu Dhabi kira-kira 45 menit lebih lambat dari jadwal. Dari itinerary, penerbangan saya ke Changi akan berangkat sekitar 3 jam kemudian, jadi saya kira-kira masih punya waktu 1 jam untuk sampai ke gerbang penerbangan lanjutan. Untunglah saya gak harus pindah terminal, jadi selepas turun pesawat dan melewati pemeriksaan keamanan saya masih sempat cuci muka dan gosok gigi di kamar mandi. Sampai di gate, saya cuma duduk sekitar 5-10 menit saja eh kok sudah dipanggil boarding. Yawes malahane cepet masuk pesawat cepet terbang dan cepet sampai. Penerbangan AUH-SIN durasinya lebih singkat, sekitar 6 jam 45 menit. Saat itu di Abu Dhabi malam sudah larut dan sudah masuk jam tidur saya di Manchester sehingga saya segera memposisikan diri untuk tidur.

Pesawat saya tiba di Changi tepat waktu, jam 10 pagi waktu Singapura. Turun dari pesawat saya langsung sms suami ngabarin kalau nanti ketemuannya di terminal kedatangan – kebetulan pesawat beliau juga nanti akan mendarat di terminal yang sama. Eh beliau langsung balas, katanya penerbangannya pindah ke penerbangan berikutnya yang jam 11:50 WIB (harusnya jam 09:25 WIB). Gak ada pemberitahuan apapun dari Traveloka ataupun Tiger, padahal beliau udah berangkat pagi banget dari Bintaro. Hahaha. Puk puk.

Ya sudah saya nunggu 5 jam bengong bengong aja. Males juga keliling padahal ya sebetulnya bisa aja jalan-jalan keliling bandara dan nongkrong di taman. Capek uy setelah 18 jam di jalan apalagi bawa koper πŸ˜† Saya cuma nuker SGD dari GBP di money changer aja, jajan di McD, beli kartu ezlink, lalu ngambilin peta yang disediakan gratis di meja-meja travel agent bandara.

Sejam setelah pemberitahuan “LANDED” terpampang nyata di layar terminal kedatangan kok suami saya ndak kunjung muncul. Masa ya nyasar, wong gerbang imigrasinya cuma satu. Saya yang menunggu sambil excited sampai kemudian bosan kemudian cemas kemudian excited lagi begitu seterusnya. Sampai kemudian saya melihat muka tengil yang familiar itu. Huhuhu kangen.

Kami turun ke stasiun MRT menuju tempat menginap di daerah Geylang, red light district yang banyak makanan enak dan murah HAHAHAHA. Sampai hotel waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore jadi ya sudah bebersih aja, makan di sekitaran stasiun Aljunied, lalu istirahat karena pagi harinya mau ibadah Jumat Agung.

Jumat, 14 April

Kami bangun rada pagi kemudian mandi dan siap-siap ke gereja. Pake batik dong! Sambil jalan ke stasiun kami mampir di foodcourt sebelah hotel. Di situ ada warung Indonesian food, jadilah kami makan di situ. Ternyata yang jualan ibu-ibu dari Sidoarjo yang sudah 20 tahun tinggal di Singapura. Anaknya dua, satu SMA dan satu lagi kuliah. Makanannya enak! Pagi itu saya sarapan nasi sayur rebung santan lauk telur dadar pake tahu. SENAAAAAANG. Kami ibadah di gereja St. Francis of Asisi di Boon Lay karena ada amanah dari Lambrtz untuk menyampaikan selembar kartupos ke tim paduan suara tempat dulu dia aktif menjadi anggota. Bung Lambrtz ini dulu tinggal 8 tahun di Singapore sampai selesai PhD, dan sekarang tinggal di Cardiff sebagai postdoctoral scholar. Sepertinya ybs belum bisa move on dari Singapura sampai-sampai kirim kartupos aja harus dibawain dan disampaikan langsung bukannya dikirim via pos.

Pulang dari gereja kami naik bus dari halte seberang gereja ke Orchard, jalan kaki sepanjang Orchard Road sambil hujan-hujanan (prikitiw) kemudian putus asa dan berteduh di emperan Plaza Singapura. Dari situ kami naik MRT ke Raffles Place karena mau turis-turisan ke Merlion Park. Biasalah hihihi. Penuuuuh banget. Suara-suara yang berbahasa Indonesia juga terdengar di sana sini. Ada serombongan anak sekolah dari Korea yang lagi asik foto-foto tapi didorong-dorong sama emak-emak Indonesia karena rombongan emak mau foto juga. Kasian. Maaf ya dek adek.

Udah lumayan puas foto-foto di Merlion dan Marina Bay Sands (sambil merencanakan kapankah kiranya bisa nginep di MBS) kami jalan kaki ke Lau Pa Sat untuk makan sore – eh malam. Sempat lihat ada hawker yang jual sate tapi pas lihat menunya kok S$ 42… APA APAAN INI. Gak jadi lah. Kami makan hainanese chicken rice saja sama sepaket sayur. Kelar makan kami nongkrong bentar ngeliatin orang lalu lalang, kemudian kembali ke hotel. Rencana pengen balik lagi sih nonton pertunjukan musik dan laser di Marina Bay Sands tapi ternyata pertunjukannya libur karena mereka sedang mempersiapkan konsep baru. Hiks. Ya sudahlah tidur aja karena besok mau ke Pulau Sentosa. Horeeeeee.

Sabtu, 15 April

Daripada jalan kaki dulu ke Aljunied baru naik MRT ke Harbourfront saya mengajak suami naik bus saja langsung dari halte depan gang hotel turun di Vivocity setelah sarapan nasi sayur dan tahu di tempat kemarin. Lagi-lagi biar ngirit nyeberang ke Sentosa kami memilh jalan kaki lewat Boardwalk saja daripada naik monorel. Sampai di Sentosa kami nyari rute ke Madame Tussaud di area Imbiah Look setelah tentunya foto-foto berlatar belakang menara Merlion raksasa itu. Tiket Madame Tussaud sudah termasuk nonton Image of Singapore live dan boat ride. Image of Singapore adalah pertunjukan yang menceritakan sejarah perkembangan negara Singapura sejak ia masih jadi bagian dari Malaysia, kerjasama awal dengan Inggris, hingga kemerdekaan dan pembangunannya sampai sekarang jadi negara yang modern. Penyajiannya bagus dan visualisasinya menarik. Dari situ kami naik kapal macam di istana boneka gitu dengan ikon-ikon Singapura di kiri kanan sungai. Perjalanan naik kapalnya cuma muter sekali doang kemudian kami digiring langsung masuk ke museum Madame Tussaud.

Ada 1D dong! hahahaha saya langsung girang. Masih lengkap berlima pula *peluk dek Zayn* Suami sih nyengir aja liat istrinya kegirangan dusel-dusel anak abege sampai kemudian dia gantian mupeng liat Aishwarya Rai. Puas potopoto di situ kami melanjutkan perjalanan ke wahana kedua: SEA Aquarium. Saya suka tempat ini! Banyak ikan lucu warna-warni dan batu karangnya bagus-bagus. Ada kolam ubur-ubur juga yang dikasih lampu sehingga kelihatannya ubur-uburnya punya banyak warna. Ah. Pengen berlama-lama tapi kaki sudah lelah melangkah. Keluarlah kami dari akuarium raksasa itu dan melangkahkan kaki ke food court, Malaysian Food Street. Makanannya lumayan, ndak terlalu mahal meskipun ada di daerah turis. Kami makan mie udang hokkien yang harganya S$7 aja. Rasanya enak bingits. Beneran enak, bukan cuma karena kelaparan.

Kami jalan kaki lewat Boardwalk lagi kembali ke Vivocity, dan ternyata suami saya pengen ke Henderson Waves, jembatan yang desainnya cantik menyerupai ombak di taman nasional Southern Ridges. Ternyata kalau mau ke Henderson Waves kami harus trekking dulu mendaki ke Mount Faber lewat jalur Marang Trail, yang ujungnya berawal di Marang Rd pas di timur stasiun MRT Harbourfront. Dari situ kudu nanjak kira-kira setinggi gedung 9 lantai baru sampai ke Mount Faber. Kalau mau sih bisa juga naik cable car dari Sentosa langsung ke Mount Faber. Selepas puncak Mount Faber kami melanjutkan perjalanan ke Henderson Waves, foto-foto sebentar di situ sambil menikmati sore hari yang untungnya lagi cerah. Dari puncak tertinggi di Singapura itu kami pun turun nyari jalan setapak ke jalan raya tanpa tahu ujungnya nanti sampai di mana. Salah satu tangga menurun menghantarkan (halah) kami berdua ke Depot Rd. Dari situ kami naik bus ke Esplanade lalu oper bus yang ke arah Geylang, turun di halte yang gak terlalu jauh dari hotel.

Malam harinya kami cuma ngemil-ngemil aja karena masih kenyang, lalu packing karena Minggu pagi mau misa Paskah dan siangnya check out dan pindah hotel.

Minggu, 16 April

Kami bangun pagi-pagi dan pergi misa ke gereja Our Lady Queen of Peace yang letaknya sekitar 1,5 km jalan kaki dari hotel. Sempet nyasar segala karena sepertinya saya lapar. Hush. Pulang misa kami makan di warung Indonesia yang kemarin (lagi!) – kali ini saya makan sayur daun singkong kuah santan sama ati ampela goreng. ADUUHHH INI SURGAAAA. Kelar makan kami langsung check out dari hotel lalu naik bus ke arah Bugis. Turun di stasiun Rochor, kamipun jalan kaki ke hotel tempat kami akan menginap selama 2 malam sampai Selasa siang. Sambil harap-harap cemas saya berharap akan diperbolehkan check-in lebih awal karena waktu masih menunjukkan pukul 12 siang.

PLIS PLIS PLIS BOLEH MBAK PLIS

Setelah minta paspor kami berdua dan menjelaskan bahwa ada deposit sebesar S$50 yang harus dibayarkan sebagai jaminan, senyum manis mbak resepsionis menyertai amplop berisi kunci kamar kami di lantai 15. Syukurlaaaaaaah gak harus mendamparkan diri kemana gitu dulu sambil nunggu check-in jam 2. Kamarnya standar kamar budget hotel sih tapi bersiiihhh banget. Ada rainshower di kamar mandi selain showerhead yang biasanya. Amenitiesnya bagus dan wangi. Ada hairdryer dan sandal bulu. Ada brankas. Ada juga henpon 4G yang bisa dibawa kemana-mana, gratis! (gratis makenya, bukan gratis hemponnya) Mayan buat fesbukan atau sekadar makai googlemaps untuk nyari rute bus. Kami istirahat sebentar kemudian jam 4-an jalan ke Gardens by the Bay naik MRT dari Rochor. Saya sudah beli tiket untuk masuk ke Flower Dome dan Cloud Forest; kami muter-muter liat bunga dan poon sampe puas kemudian melipir ke Supertree Grove menjelang senja sambil nunggu pertunjukan yang diadakan tiap harinya pukul 19:45 dan 21:30. Harus nonton deh, pertunjukannya bagus banget!

Kelar pertunjukan yang 19:45 kami foto-foto sebentar di antara pepohonan Supertree Grove lalu pulang lewat stasiun Bayfront ke MRT Bugis karena pulangnya mau mampir lewat Bugis Street dulu melihat-lihat apa yang bisa dibeli buat oleh-oleh. Selewat aja di Bugis Street, kami makan malam di food court Albert Centre. Tempat ini sebetulnya pasar bahan makanan kering (recommended buat yang suka nyari rempah eksotis) tapi di lantai bawah ada food court yang isinya macam-macam. Waktu itu sudah jam 9 kurang jadi sudah banyak yang tutup, tapi saya sempat makan mie babi panggang dengan fried wonton. Enak banget fried wontonnya sampe saya pengen bungkus tapi gak jadi karena sudah kenyang. Trus malah jadi kebayang-bayang sampe saat ini. Hahahah. Kelar makan kami jalan kaki balik ke hotel setelah mampir di Sevel Ibis Bencoolen untuk menjajal bir Tiger dan Tiger Radler. Yang Tiger rasanya ya kayak lager dan yang Radler malah cuma kayak limun. Sama aja kayak Bintang dan Bintang Radler.

Senin, 17 April

Hari ini kami ndak punya rencana kemana-mana, dan sejak main ke Mount Faber dan Henderson Waves kok suami rasan-rasan katanya pengen liat pohon dan kebon. Ya sudah saya mengusulkan ke Singapore Botanic Gardens yang terletak gak jauh dari Orchard Road. Kami keluar hotel sekitar jam 9 pagi dan sarapan dulu di warung sebelah hotel. Kesalahan besar: pagi-pagi sarapan nasi briyani ayam yang ternyata porsinya buanyak banget. Saya sih habis. Wkwkwk. Setelah leyeh-leyeh sebentar nunggu makanan turun kami jalan ke halte depan National Museum nunggu bus ke Botanic Gardens. Busnya berhenti di halte seberang gerbang Botanic Gardens, dan kami mulai perjalanan dari gerbang di bagian tenggara. Tiket masuknya gratis tis.

KEBONNYA GEDE AMAT YAK

Singapore Botanic Gardens dibagi berdasarkan tema: tanaman obat, bunga, bambu, rimpang, palem, hutan hujan tropis, dll. Papan penunjuk jalan dan peta tersedia di mana-mana sehingga tidak usah takut tersesat. Jalanannya juga bersih sekali meskipun di dalam area yang pepohonannya rapat. Hanya saja sebaiknya hati-hati karena di kebon raksasa ini banyak sekali biawak (duh lupa spesies apa) meskipun biawak ini tidak membahayakan manusia. Ngagetin doang sih. Perjalanan di Botanic Gardens selama kurang lebih tiga jam berakhir di ujung utara, di mana kami nyegat bus kembali ke kota.

Sepulang dari Botanic Gardens kami mampir di Cathedral of the Good Shepherds. Ada dua katedral besar di Singapura, Cathedral of the Good Shepherds dan Cathedral of the St. Andrews. Yang pertama itu katedral Katholik sedangkan satunya lagi katedral Anglikan. Setelah masuk dan foto-foto di sekitar katedral, kami melihat ada menara gereja dengan gaya Neo-Gothic di belakangnya. Kami masuk ke area gereja tersebut dan disambut dengan papan berisi nama-nama restoran. Ternyata di bagian samping bangunan ini memang isinya tempat makan. Kami penasaran di dalam bangunan utamanya ini sebenernya apaan… Ternyata bangunan utama dipakai sebagai tempat pertemuan (ada mimbar/panggung dan kursi-kursi) d bagian depan yang dulunya altar dan di depan pintu ada galeri yang menjelaskan sejarah tentang bangunan ini.

CHIJMES. Sejak dibangun pada abad ke-17, tempat ini digunakan sebagai biara Katholik sekaligus panti asuhan, asrama, dan sekolah. Bangunan utamanya berfungsi sebagai gereja. Pada tahun 1980-an, untuk mendukung pembangunan kota maka gereja ditutup dan asrama serta biaranya dipindah ke daerah Toa Payoh. Bangunan CHIJMES kemudian dikembalikan ke pemerintah Singapura dan dijadikan seperti adanya sekarang.

*manggut-manggut*

Kami jalan pulang lewat Bugis Street lagi dan lagi-lagi mampir makan di Albert Centre sebelum pulang istirahat sore. Hari sudah gelap ketika kami jalan ke luar, kali ini ke Mustafa Centre. Saya nyasar dong nyari lantai dua yang isinya souvenir itu. Setelah akhirnya ketemu kami melihat bahwa harga souvenir di Bugis ternyata lebih murah dan jenisnya lebih banyak. Ya sudah kami cuma belanja seperlunya aja, suami beli samyang (halah) dan saya beli bumbu Bak Kut Teh.

Pulang dari Mustafa Centre sudah jam 10 lewat, kami menyusuri jalanan di Little India yang mulai sepi. Sampai hotel kami mampir dulu di warung sebelah untuk makan malam. Suami pesan mie goreng ayam dan saya pesan roti prata jamur dan telur. Mayan lah biar tidurnya ndak kelaparan. Sebenarnya hari ini menyenangkan (dan mengenyangkan) sekali, tapi sayang kami sudah harus packing karena besok waktunya pulang ke tempat masing-masing…

Selasa, 18 April

Huft. Bangun tidur dengan perasaan berat. Huft. Packingan sudah beres sih sebenernya, tinggal beresin yang tersisa macam alat mandi dan sepatu/sandal. Setelah semua beres kami yang gak mau rugi ini baru check out jam 12 siang teng, dengan masih juga merepotkan mbak resepsionis. Dua ransel dan satu koper kami titipkan sementara kami melenggang belanja oleh-oleh di Bugis Street. Sekitar jam 2 siang saat kami mau kembali ke hotel ternyata hujan deras. As in, deraaaaassss sekali. Sempat khawatir ini nanti gimana kudu ke stasiun MRT Bugis lalu ke bandara dll. Hujan agak mereda lalu kami pun berusaha jalan cepat setengah lari kembali ke hotel. Di bangjo seberang hotel hujan kembali menderas tapi kami gak punya pilihan lain. Nekat aja lari nyeberang jalan saat lampu pejalan kaki berubah menjadi hijau. Sampai resepsionis kami membereskan tas sambil merenungi nasib dan berpikir apa sebaiknya nekat aja naik MRT atau naik taksi ke bandara.

Mau naik Uber atau Grab tapi kok saya belum terlalu berani karena lagi di negara orang (padahal ya sama aja). Di aplikasi Uber tertulis ke stasiun kira-kira habisnya S$17. saya nanya mbak resepsionis ke bandara habis berapa kata beliau sekitar S$30. Pilihan yang sulit. Setelah menengok di luar ternyata hujan masih cukup deras kami memutuskan naik taksi saja. Biar gak rempong dan masih fresh sampai airport. Jadilah kami minta tolong dipesankan taksi yang sudah sampai di hotel gak sampai 10 menit kemudian. Sepanjang jalan hujannya on-off; perjalanan ke stasiun memakan waktu kira-kira 30 menit. Bapak sopir taksi nanya saya di terminal mana naik maskapai apa, saya jawab terminal 2 naik Etihad. Rupanya beliau kurang familiar dengan Etihad, jadi saya bilang aja Tiger baru bapaknya ngerti. Untungnya meskipun kami berdua naik maskapai yang berbeda tapi kedua maskapai tersebut ada di terminal yang sama. Buat naksi dari hotel ke bandara habisnya S$18 aja.

Sampai di terminal 2 suami saya langsung check in dan ngedrop bagasi, dan setelah bagasi sudah masuk saya baru inget kan tadinya mau bungkus kopernya pake plastic wrap dulu. Maaf ya bandara Cengkareng, saya masih takut kalau bagasi saya kenapa-napa atau diapa-apain. Tapi lupa. Ya udah deh berharap ybs kembali ke pelukan tanpa kurang suatu apapun. Setelah beliau dapat boarding pass gantian saya yang check in. Kami main sebentar ke terminal 3 untuk nyari Butterfly Garden yang ternyata tempatnya rada nyempil. Taman kupu-kupu ini lucu banget! Ada banyak pohon dan kupu-kupunya beneran! (ya menurut lo). Varian warnanya gak terlalu banyak sih tapi mereka lucu-lucu sekali. Puas main di situ kami kembali ke Terminal 2, beli oleh-oleh di Duty Free Shop lalu ke gate tempat suami saya nanti akan berangkat. Makan dulu sih di semacam food court yang ibu-ibunya rada jutek. BTW pesawat saya baru akan berangkat 2 jam kemudian, jadi saya ikut sampai ke gate E6 yang lokasinya ujung ke ujung dari gate saya nanti di F60. DEMI CINTA HAHAHAHA. Kami duduk-duduk di depan pintu gate sampai papan di gate menunjukkan bahwa penumpang sudah dipersilakan boarding. Hiks. Dengan sedih saya melepas beliau untuk masuk gate, tapi untungnya saya masih bisa melihat beliau lewat dinding kaca. Hiks. Akhirnya penumpang beneran dipanggil masuk pesawat dan saya pun masih mematung di tempat itu sampai pesawat beranjak untuk lepas landas.

90 menit sebelum jadwal pesawat diberangkatkan saya jalan pelan-pelan ke gate F60 dan langsung lewat security. No fuss. Sejam sebelum take-off penumpang dipersilakan naik ke pesawat, dan saya dengan gembira masuk ke pesawat Dreamliner B787 ke Abu Dhabi yang jauuuh lebih nyaman daripada pesawat lanjutan saya ke Manchester nantinya, B777. Dreamliner formasi kursinya 3-3-3 sedangkan B777 3-4-3. Layar dan handset untuk inflight entertainment-nya juga lebih bagus di Dreamliner. Eniwe, pesawat berangkat dan tiba tepat waktu. Sampai di Abu Dhabi, saya menyempatkan diri untuk mandi, cuci muka, dan sikat gigi di shower yang tersedia gratis di bandara. Showernya ada air angetnya dan bersih! Di Changi aja gak ada shower gratisan πŸ˜† Setelah rasanya segar sayapun menuju gate penerbangan lanjutan. Karena masih antre puuuanjang, saya melipir dulu ngecharge hempon di tembok. Ternyata antrean masuk gate ini panjang sekali karena ada pemeriksaan tambahan.

Beberapa minggu lalu, Amerika Serikat melarang penumpang pesawat yang terbang dari beberapa negara Timur Tengah untuk membawa tablet dan laptop di bawaan kabin. Tidak lama kemudian Inggris menyusul dengan peraturan yang sama untuk 6 negara: Turki, Lebanon, Yordania, Saudi Arabia, Mesir, dan Tunisia. Meskipun Uni Emirat Arab tidak termasuk di dalamnya, tapi toh pemeriksaan keamanan masih diperketat. Tablet dan laptop harus dikeluarkan dan dinyalakan di hadapan petugas. Bawaan kabin harus dibuka dan dilakukan random swab (dicolek colek) menggunakan kertas khusus untuk mendeteksi keberadaan bahan peledak. Istilah kerennya ETD (Explosive Trace Detector). Setelah hasilnya dinyatakan negatif, penumpang baru boleh masuk gate. Fiuh.

Sesuai waktu yang tertera di boarding pass, satu jam sebelum lepas landas penumpang dipersilakan masuk ke pesawat. Jadi demikianlah perjalanan enam hari lima malam kami ke Singapore. Gak ada informasi penting juga sih untuk dikabarkan pada pembaca sekalian, blog ini kan bukan Beritagar atau Tirto. Hehe.

Trus sekarang udah kangen lagi πŸ™ lima bulan masih lama sekali πŸ™