Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Category Archives: life

For Manchester.

mcr

Asrama mahasiswa Whitworth Park, 25 Mei 2017

Tiga hari setelah kejadian bom bunuh diri di Manchester Arena, kota ini belum sepenuhnya pulih. Berseberangan dengan asrama saya adalah Manchester Royal Infirmary (MRI) Hospital, rumah sakit besar yang dibangun sejak sebelum perang dunia pertama. Suara sirine – entah polisi atau ambulans – sudah biasa saya dengar dari kamar, tapi malam hari saat insiden terjadi rasanya jauh berbeda. Selain karena tambahan suara helikopter yang berlalu-lalang di atas atap, pikiran saya melayang ke mobil-mobil asal suara sirine itu.

Siapa yang diangkut di dalamnya? Apakah selamat? Bagaimana keluarganya? Apa yang mereka alami saat ada ledakan? Wajah siapa dan kenangan seperti apa yang melintas?

Saya gak habis pikir setiap kali ada kejadian seperti ini. Di satu sisi saya tentu saja mengutuk siapapun yang ada di balik kejadian ini, dan tidak pernah tidak, selalu ada ketakutan dan pertanyaan “bakal kejadian di mana lagi? harus jatuh berapa korban lagi?”

Pelaku bom bunuh diri teridentifikasi sebagai Salman Abedi, 22 tahun, mahasiswa Salford University yang tidak menyelesaikan kuliahnya. Orangtuanya datang sebagai imigran dari Libya; Salman dan saudaranya dibesarkan di Manchester. Saat rezim Khaddafi berakhir, orangtua dan saudaranya kembali ke Libya tapi Salman tetap tinggal di Manchester. Ayah Salman ditengarai sebagai pendukung Al-Qaeda, dan Salman sendiri dipastikan memiliki hubungan dengan ISIS. Salah satu teman sekolahnya berkata tentang Salman, β€œHe was a outgoing fun guy but since he went to Libya in 2011 he came back a different guy.”

Malam itu saya mempelajari bagaimana reaksi warga Manchester. Sesaat setelah bom meledak, netizen di sekitar TKP langsung menawarkan bantuan sebisanya. Twitter dan Facebook penuh dengan orang-orang baik. Yang punya mobil menawarkan tumpangan pulang, yang punya tempat tinggal menawarkan tempat beristirahat, sopir taksi menggratiskan jasanya, bahkan beberapa hotel membuka pintunya lebar-lebar. Tak terhitung juga berapa banyak warga sipil yang membantu polisi melakukan evakuasi korban di sekitar tempat konser dan membantu orang-orang yang panik mencari keluarganya ke pusat informasi terdekat.

TKP disterilkan oleh polisi agar mereka bisa bekerja dengan cepat, dan keluarga yang menanti kabar bisa menunggu dan/atau mencari informasi di Etihad Stadium sebagai pusat informasi. Logistik juga langsung diantarkan ke Etihad Stadium dan paramedis sudah berjaga di sana. Bagi yang memerlukan bantuan seperti tumpangan pulang, perawatan untuk luka ringan, telepon untuk menghubungi keluarga, semua diarahkan ke Etihad Stadium. SOP ini dijalankan di regional Greater Manchester dan emergency drill terkait terorisme rutin dilakukan secara berkala sehingga respon pertolongan pertama bisa dilakukan dengan cepat dan efektif. Sebetulnya saya ingin sekali mengikuti perkembangan evakuasi dan mengamati bagaimana first responders bekerja, tapi hari Selasa pagi saya ada ujian akhir jadi harus tidur cepat.

Pagi harinya saya ke kampus yang jaraknya kurang lebih 1,5 km dari TKP. Jalanan relatif sepi tapi transportasi publik masih berjalan seperti biasa kecuali mungkin yang jalurnya melintasi sekitar TKP. Seusai ujian sekitar pukul 1 siang saya ke NHS Blood & Transplant untuk donor darah dan sambil donor saya ngobrol sama susternya tentang kejadian semalam. Ibu suster cerita bahwa beberapa staf NHS standby semalaman just in case rumah sakit memerlukan tambahan bantuan. Dari berita juga saya membaca beberapa dokter dan paramedis dari luar daerah yang kebetulan sedang di Manchester menawarkan jasanya kapanpun diperlukan. Such a selfless acts from the medical team.

“It was one of the things you train for in life but hope never happens”, kata seorang dokter.

Hari-hari berikutnya penuh berita penggalangan dana (tiga hari setelah peristiwa bom bunuh diri, sudah terkumpul dana lebih dari 4 juta poundsterling), undangan untuk berkumpul dan berdoa bersama di pusat kota, informasi hotline yang bisa dihubungi kalau ada yang perlu konsultasi atau penguatan, dan masih banyak lagi. Bagi saya ini gesture yang menyentuh; bahwa 22 orang yang meninggal dan puluhan yang luka berat itu bukan sekadar statistik. Bahwa tragedi bom bunuh diri ini bukan sekadar teror yang terjadi lalu berhenti. Life goes on and we should do whatever we can to be a blessing for other people. For a better world.

Jadi sedih sekali rasanya ketika kemarin sore mendengar kabar ada ledakan di Kampung Melayu, dengan korban jiwa 3 orang polisi dan banyak korban luka. Makin sedih saat saya baca-baca berita tentang apa yang terjadi setelahnya. Kenapa ada yang bilang itu pengalihan isu? Kenapa malah sudah ohak-ahok lagi aja? Kenapa nuduh bom bunuh diri ini rekayasa? Kenapa pada kirim gambar potongan badan yang berserakan? Kenapa waktu polisi beresin TKP malah pada bergerombol nonton?

Enam Hari Lima Malam

Katanya sekolah setahun itu “ndak lama kok. Nanti tahu-tahu juga kelar”. DUSTAAAAA. Nyatanya Desember kemarin saya sudah mulai muak, meskipun baru tiga bulan berjalan. Sempat menjalani masa ngerjain tugas sambil mimbik-mimbik akhirnya saya dan suami memutuskan untuk liburan bareng karena beliau pun terlalu rajin bekerja dan sepertinya juga butuh piknik. Kampus saya kebetulan libur paskah (easter break) dari tanggal 1 – 21 April, jadi kami ke Singapura memanfaatkan wiken paskahan itu.

Kenapa Singapura?

  • karena saya ingin makan enak
  • tempatnya sudah familiar
  • ada promo tiket pesawat dari Manchester

Penerbangan MAN-AUH dengan pesawat Etihad memakan waktu hampir 8 jam; pesawat saya berangkat rada telat dari Manchester sehingga tiba di Abu Dhabi kira-kira 45 menit lebih lambat dari jadwal. Dari itinerary, penerbangan saya ke Changi akan berangkat sekitar 3 jam kemudian, jadi saya kira-kira masih punya waktu 1 jam untuk sampai ke gerbang penerbangan lanjutan. Untunglah saya gak harus pindah terminal, jadi selepas turun pesawat dan melewati pemeriksaan keamanan saya masih sempat cuci muka dan gosok gigi di kamar mandi. Sampai di gate, saya cuma duduk sekitar 5-10 menit saja eh kok sudah dipanggil boarding. Yawes malahane cepet masuk pesawat cepet terbang dan cepet sampai. Penerbangan AUH-SIN durasinya lebih singkat, sekitar 6 jam 45 menit. Saat itu di Abu Dhabi malam sudah larut dan sudah masuk jam tidur saya di Manchester sehingga saya segera memposisikan diri untuk tidur.

Pesawat saya tiba di Changi tepat waktu, jam 10 pagi waktu Singapura. Turun dari pesawat saya langsung sms suami ngabarin kalau nanti ketemuannya di terminal kedatangan – kebetulan pesawat beliau juga nanti akan mendarat di terminal yang sama. Eh beliau langsung balas, katanya penerbangannya pindah ke penerbangan berikutnya yang jam 11:50 WIB (harusnya jam 09:25 WIB). Gak ada pemberitahuan apapun dari Traveloka ataupun Tiger, padahal beliau udah berangkat pagi banget dari Bintaro. Hahaha. Puk puk.

Ya sudah saya nunggu 5 jam bengong bengong aja. Males juga keliling padahal ya sebetulnya bisa aja jalan-jalan keliling bandara dan nongkrong di taman. Capek uy setelah 18 jam di jalan apalagi bawa koper πŸ˜† Saya cuma nuker SGD dari GBP di money changer aja, jajan di McD, beli kartu ezlink, lalu ngambilin peta yang disediakan gratis di meja-meja travel agent bandara.

Sejam setelah pemberitahuan “LANDED” terpampang nyata di layar terminal kedatangan kok suami saya ndak kunjung muncul. Masa ya nyasar, wong gerbang imigrasinya cuma satu. Saya yang menunggu sambil excited sampai kemudian bosan kemudian cemas kemudian excited lagi begitu seterusnya. Sampai kemudian saya melihat muka tengil yang familiar itu. Huhuhu kangen.

Kami turun ke stasiun MRT menuju tempat menginap di daerah Geylang, red light district yang banyak makanan enak dan murah HAHAHAHA. Sampai hotel waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore jadi ya sudah bebersih aja, makan di sekitaran stasiun Aljunied, lalu istirahat karena pagi harinya mau ibadah Jumat Agung.

Jumat, 14 April

Kami bangun rada pagi kemudian mandi dan siap-siap ke gereja. Pake batik dong! Sambil jalan ke stasiun kami mampir di foodcourt sebelah hotel. Di situ ada warung Indonesian food, jadilah kami makan di situ. Ternyata yang jualan ibu-ibu dari Sidoarjo yang sudah 20 tahun tinggal di Singapura. Anaknya dua, satu SMA dan satu lagi kuliah. Makanannya enak! Pagi itu saya sarapan nasi sayur rebung santan lauk telur dadar pake tahu. SENAAAAAANG. Kami ibadah di gereja St. Francis of Asisi di Boon Lay karena ada amanah dari Lambrtz untuk menyampaikan selembar kartupos ke tim paduan suara tempat dulu dia aktif menjadi anggota. Bung Lambrtz ini dulu tinggal 8 tahun di Singapore sampai selesai PhD, dan sekarang tinggal di Cardiff sebagai postdoctoral scholar. Sepertinya ybs belum bisa move on dari Singapura sampai-sampai kirim kartupos aja harus dibawain dan disampaikan langsung bukannya dikirim via pos.

Pulang dari gereja kami naik bus dari halte seberang gereja ke Orchard, jalan kaki sepanjang Orchard Road sambil hujan-hujanan (prikitiw) kemudian putus asa dan berteduh di emperan Plaza Singapura. Dari situ kami naik MRT ke Raffles Place karena mau turis-turisan ke Merlion Park. Biasalah hihihi. Penuuuuh banget. Suara-suara yang berbahasa Indonesia juga terdengar di sana sini. Ada serombongan anak sekolah dari Korea yang lagi asik foto-foto tapi didorong-dorong sama emak-emak Indonesia karena rombongan emak mau foto juga. Kasian. Maaf ya dek adek.

Udah lumayan puas foto-foto di Merlion dan Marina Bay Sands (sambil merencanakan kapankah kiranya bisa nginep di MBS) kami jalan kaki ke Lau Pa Sat untuk makan sore – eh malam. Sempat lihat ada hawker yang jual sate tapi pas lihat menunya kok S$ 42… APA APAAN INI. Gak jadi lah. Kami makan hainanese chicken rice saja sama sepaket sayur. Kelar makan kami nongkrong bentar ngeliatin orang lalu lalang, kemudian kembali ke hotel. Rencana pengen balik lagi sih nonton pertunjukan musik dan laser di Marina Bay Sands tapi ternyata pertunjukannya libur karena mereka sedang mempersiapkan konsep baru. Hiks. Ya sudahlah tidur aja karena besok mau ke Pulau Sentosa. Horeeeeee.

Sabtu, 15 April

Daripada jalan kaki dulu ke Aljunied baru naik MRT ke Harbourfront saya mengajak suami naik bus saja langsung dari halte depan gang hotel turun di Vivocity setelah sarapan nasi sayur dan tahu di tempat kemarin. Lagi-lagi biar ngirit nyeberang ke Sentosa kami memilh jalan kaki lewat Boardwalk saja daripada naik monorel. Sampai di Sentosa kami nyari rute ke Madame Tussaud di area Imbiah Look setelah tentunya foto-foto berlatar belakang menara Merlion raksasa itu. Tiket Madame Tussaud sudah termasuk nonton Image of Singapore live dan boat ride. Image of Singapore adalah pertunjukan yang menceritakan sejarah perkembangan negara Singapura sejak ia masih jadi bagian dari Malaysia, kerjasama awal dengan Inggris, hingga kemerdekaan dan pembangunannya sampai sekarang jadi negara yang modern. Penyajiannya bagus dan visualisasinya menarik. Dari situ kami naik kapal macam di istana boneka gitu dengan ikon-ikon Singapura di kiri kanan sungai. Perjalanan naik kapalnya cuma muter sekali doang kemudian kami digiring langsung masuk ke museum Madame Tussaud.

Ada 1D dong! hahahaha saya langsung girang. Masih lengkap berlima pula *peluk dek Zayn* Suami sih nyengir aja liat istrinya kegirangan dusel-dusel anak abege sampai kemudian dia gantian mupeng liat Aishwarya Rai. Puas potopoto di situ kami melanjutkan perjalanan ke wahana kedua: SEA Aquarium. Saya suka tempat ini! Banyak ikan lucu warna-warni dan batu karangnya bagus-bagus. Ada kolam ubur-ubur juga yang dikasih lampu sehingga kelihatannya ubur-uburnya punya banyak warna. Ah. Pengen berlama-lama tapi kaki sudah lelah melangkah. Keluarlah kami dari akuarium raksasa itu dan melangkahkan kaki ke food court, Malaysian Food Street. Makanannya lumayan, ndak terlalu mahal meskipun ada di daerah turis. Kami makan mie udang hokkien yang harganya S$7 aja. Rasanya enak bingits. Beneran enak, bukan cuma karena kelaparan.

Kami jalan kaki lewat Boardwalk lagi kembali ke Vivocity, dan ternyata suami saya pengen ke Henderson Waves, jembatan yang desainnya cantik menyerupai ombak di taman nasional Southern Ridges. Ternyata kalau mau ke Henderson Waves kami harus trekking dulu mendaki ke Mount Faber lewat jalur Marang Trail, yang ujungnya berawal di Marang Rd pas di timur stasiun MRT Harbourfront. Dari situ kudu nanjak kira-kira setinggi gedung 9 lantai baru sampai ke Mount Faber. Kalau mau sih bisa juga naik cable car dari Sentosa langsung ke Mount Faber. Selepas puncak Mount Faber kami melanjutkan perjalanan ke Henderson Waves, foto-foto sebentar di situ sambil menikmati sore hari yang untungnya lagi cerah. Dari puncak tertinggi di Singapura itu kami pun turun nyari jalan setapak ke jalan raya tanpa tahu ujungnya nanti sampai di mana. Salah satu tangga menurun menghantarkan (halah) kami berdua ke Depot Rd. Dari situ kami naik bus ke Esplanade lalu oper bus yang ke arah Geylang, turun di halte yang gak terlalu jauh dari hotel.

Malam harinya kami cuma ngemil-ngemil aja karena masih kenyang, lalu packing karena Minggu pagi mau misa Paskah dan siangnya check out dan pindah hotel.

Minggu, 16 April

Kami bangun pagi-pagi dan pergi misa ke gereja Our Lady Queen of Peace yang letaknya sekitar 1,5 km jalan kaki dari hotel. Sempet nyasar segala karena sepertinya saya lapar. Hush. Pulang misa kami makan di warung Indonesia yang kemarin (lagi!) – kali ini saya makan sayur daun singkong kuah santan sama ati ampela goreng. ADUUHHH INI SURGAAAA. Kelar makan kami langsung check out dari hotel lalu naik bus ke arah Bugis. Turun di stasiun Rochor, kamipun jalan kaki ke hotel tempat kami akan menginap selama 2 malam sampai Selasa siang. Sambil harap-harap cemas saya berharap akan diperbolehkan check-in lebih awal karena waktu masih menunjukkan pukul 12 siang.

PLIS PLIS PLIS BOLEH MBAK PLIS

Setelah minta paspor kami berdua dan menjelaskan bahwa ada deposit sebesar S$50 yang harus dibayarkan sebagai jaminan, senyum manis mbak resepsionis menyertai amplop berisi kunci kamar kami di lantai 15. Syukurlaaaaaaah gak harus mendamparkan diri kemana gitu dulu sambil nunggu check-in jam 2. Kamarnya standar kamar budget hotel sih tapi bersiiihhh banget. Ada rainshower di kamar mandi selain showerhead yang biasanya. Amenitiesnya bagus dan wangi. Ada hairdryer dan sandal bulu. Ada brankas. Ada juga henpon 4G yang bisa dibawa kemana-mana, gratis! (gratis makenya, bukan gratis hemponnya) Mayan buat fesbukan atau sekadar makai googlemaps untuk nyari rute bus. Kami istirahat sebentar kemudian jam 4-an jalan ke Gardens by the Bay naik MRT dari Rochor. Saya sudah beli tiket untuk masuk ke Flower Dome dan Cloud Forest; kami muter-muter liat bunga dan poon sampe puas kemudian melipir ke Supertree Grove menjelang senja sambil nunggu pertunjukan yang diadakan tiap harinya pukul 19:45 dan 21:30. Harus nonton deh, pertunjukannya bagus banget!

Kelar pertunjukan yang 19:45 kami foto-foto sebentar di antara pepohonan Supertree Grove lalu pulang lewat stasiun Bayfront ke MRT Bugis karena pulangnya mau mampir lewat Bugis Street dulu melihat-lihat apa yang bisa dibeli buat oleh-oleh. Selewat aja di Bugis Street, kami makan malam di food court Albert Centre. Tempat ini sebetulnya pasar bahan makanan kering (recommended buat yang suka nyari rempah eksotis) tapi di lantai bawah ada food court yang isinya macam-macam. Waktu itu sudah jam 9 kurang jadi sudah banyak yang tutup, tapi saya sempat makan mie babi panggang dengan fried wonton. Enak banget fried wontonnya sampe saya pengen bungkus tapi gak jadi karena sudah kenyang. Trus malah jadi kebayang-bayang sampe saat ini. Hahahah. Kelar makan kami jalan kaki balik ke hotel setelah mampir di Sevel Ibis Bencoolen untuk menjajal bir Tiger dan Tiger Radler. Yang Tiger rasanya ya kayak lager dan yang Radler malah cuma kayak limun. Sama aja kayak Bintang dan Bintang Radler.

Senin, 17 April

Hari ini kami ndak punya rencana kemana-mana, dan sejak main ke Mount Faber dan Henderson Waves kok suami rasan-rasan katanya pengen liat pohon dan kebon. Ya sudah saya mengusulkan ke Singapore Botanic Gardens yang terletak gak jauh dari Orchard Road. Kami keluar hotel sekitar jam 9 pagi dan sarapan dulu di warung sebelah hotel. Kesalahan besar: pagi-pagi sarapan nasi briyani ayam yang ternyata porsinya buanyak banget. Saya sih habis. Wkwkwk. Setelah leyeh-leyeh sebentar nunggu makanan turun kami jalan ke halte depan National Museum nunggu bus ke Botanic Gardens. Busnya berhenti di halte seberang gerbang Botanic Gardens, dan kami mulai perjalanan dari gerbang di bagian tenggara. Tiket masuknya gratis tis.

KEBONNYA GEDE AMAT YAK

Singapore Botanic Gardens dibagi berdasarkan tema: tanaman obat, bunga, bambu, rimpang, palem, hutan hujan tropis, dll. Papan penunjuk jalan dan peta tersedia di mana-mana sehingga tidak usah takut tersesat. Jalanannya juga bersih sekali meskipun di dalam area yang pepohonannya rapat. Hanya saja sebaiknya hati-hati karena di kebon raksasa ini banyak sekali biawak (duh lupa spesies apa) meskipun biawak ini tidak membahayakan manusia. Ngagetin doang sih. Perjalanan di Botanic Gardens selama kurang lebih tiga jam berakhir di ujung utara, di mana kami nyegat bus kembali ke kota.

Sepulang dari Botanic Gardens kami mampir di Cathedral of the Good Shepherds. Ada dua katedral besar di Singapura, Cathedral of the Good Shepherds dan Cathedral of the St. Andrews. Yang pertama itu katedral Katholik sedangkan satunya lagi katedral Anglikan. Setelah masuk dan foto-foto di sekitar katedral, kami melihat ada menara gereja dengan gaya Neo-Gothic di belakangnya. Kami masuk ke area gereja tersebut dan disambut dengan papan berisi nama-nama restoran. Ternyata di bagian samping bangunan ini memang isinya tempat makan. Kami penasaran di dalam bangunan utamanya ini sebenernya apaan… Ternyata bangunan utama dipakai sebagai tempat pertemuan (ada mimbar/panggung dan kursi-kursi) d bagian depan yang dulunya altar dan di depan pintu ada galeri yang menjelaskan sejarah tentang bangunan ini.

CHIJMES. Sejak dibangun pada abad ke-17, tempat ini digunakan sebagai biara Katholik sekaligus panti asuhan, asrama, dan sekolah. Bangunan utamanya berfungsi sebagai gereja. Pada tahun 1980-an, untuk mendukung pembangunan kota maka gereja ditutup dan asrama serta biaranya dipindah ke daerah Toa Payoh. Bangunan CHIJMES kemudian dikembalikan ke pemerintah Singapura dan dijadikan seperti adanya sekarang.

*manggut-manggut*

Kami jalan pulang lewat Bugis Street lagi dan lagi-lagi mampir makan di Albert Centre sebelum pulang istirahat sore. Hari sudah gelap ketika kami jalan ke luar, kali ini ke Mustafa Centre. Saya nyasar dong nyari lantai dua yang isinya souvenir itu. Setelah akhirnya ketemu kami melihat bahwa harga souvenir di Bugis ternyata lebih murah dan jenisnya lebih banyak. Ya sudah kami cuma belanja seperlunya aja, suami beli samyang (halah) dan saya beli bumbu Bak Kut Teh.

Pulang dari Mustafa Centre sudah jam 10 lewat, kami menyusuri jalanan di Little India yang mulai sepi. Sampai hotel kami mampir dulu di warung sebelah untuk makan malam. Suami pesan mie goreng ayam dan saya pesan roti prata jamur dan telur. Mayan lah biar tidurnya ndak kelaparan. Sebenarnya hari ini menyenangkan (dan mengenyangkan) sekali, tapi sayang kami sudah harus packing karena besok waktunya pulang ke tempat masing-masing…

Selasa, 18 April

Huft. Bangun tidur dengan perasaan berat. Huft. Packingan sudah beres sih sebenernya, tinggal beresin yang tersisa macam alat mandi dan sepatu/sandal. Setelah semua beres kami yang gak mau rugi ini baru check out jam 12 siang teng, dengan masih juga merepotkan mbak resepsionis. Dua ransel dan satu koper kami titipkan sementara kami melenggang belanja oleh-oleh di Bugis Street. Sekitar jam 2 siang saat kami mau kembali ke hotel ternyata hujan deras. As in, deraaaaassss sekali. Sempat khawatir ini nanti gimana kudu ke stasiun MRT Bugis lalu ke bandara dll. Hujan agak mereda lalu kami pun berusaha jalan cepat setengah lari kembali ke hotel. Di bangjo seberang hotel hujan kembali menderas tapi kami gak punya pilihan lain. Nekat aja lari nyeberang jalan saat lampu pejalan kaki berubah menjadi hijau. Sampai resepsionis kami membereskan tas sambil merenungi nasib dan berpikir apa sebaiknya nekat aja naik MRT atau naik taksi ke bandara.

Mau naik Uber atau Grab tapi kok saya belum terlalu berani karena lagi di negara orang (padahal ya sama aja). Di aplikasi Uber tertulis ke stasiun kira-kira habisnya S$17. saya nanya mbak resepsionis ke bandara habis berapa kata beliau sekitar S$30. Pilihan yang sulit. Setelah menengok di luar ternyata hujan masih cukup deras kami memutuskan naik taksi saja. Biar gak rempong dan masih fresh sampai airport. Jadilah kami minta tolong dipesankan taksi yang sudah sampai di hotel gak sampai 10 menit kemudian. Sepanjang jalan hujannya on-off; perjalanan ke stasiun memakan waktu kira-kira 30 menit. Bapak sopir taksi nanya saya di terminal mana naik maskapai apa, saya jawab terminal 2 naik Etihad. Rupanya beliau kurang familiar dengan Etihad, jadi saya bilang aja Tiger baru bapaknya ngerti. Untungnya meskipun kami berdua naik maskapai yang berbeda tapi kedua maskapai tersebut ada di terminal yang sama. Buat naksi dari hotel ke bandara habisnya S$18 aja.

Sampai di terminal 2 suami saya langsung check in dan ngedrop bagasi, dan setelah bagasi sudah masuk saya baru inget kan tadinya mau bungkus kopernya pake plastic wrap dulu. Maaf ya bandara Cengkareng, saya masih takut kalau bagasi saya kenapa-napa atau diapa-apain. Tapi lupa. Ya udah deh berharap ybs kembali ke pelukan tanpa kurang suatu apapun. Setelah beliau dapat boarding pass gantian saya yang check in. Kami main sebentar ke terminal 3 untuk nyari Butterfly Garden yang ternyata tempatnya rada nyempil. Taman kupu-kupu ini lucu banget! Ada banyak pohon dan kupu-kupunya beneran! (ya menurut lo). Varian warnanya gak terlalu banyak sih tapi mereka lucu-lucu sekali. Puas main di situ kami kembali ke Terminal 2, beli oleh-oleh di Duty Free Shop lalu ke gate tempat suami saya nanti akan berangkat. Makan dulu sih di semacam food court yang ibu-ibunya rada jutek. BTW pesawat saya baru akan berangkat 2 jam kemudian, jadi saya ikut sampai ke gate E6 yang lokasinya ujung ke ujung dari gate saya nanti di F60. DEMI CINTA HAHAHAHA. Kami duduk-duduk di depan pintu gate sampai papan di gate menunjukkan bahwa penumpang sudah dipersilakan boarding. Hiks. Dengan sedih saya melepas beliau untuk masuk gate, tapi untungnya saya masih bisa melihat beliau lewat dinding kaca. Hiks. Akhirnya penumpang beneran dipanggil masuk pesawat dan saya pun masih mematung di tempat itu sampai pesawat beranjak untuk lepas landas.

90 menit sebelum jadwal pesawat diberangkatkan saya jalan pelan-pelan ke gate F60 dan langsung lewat security. No fuss. Sejam sebelum take-off penumpang dipersilakan naik ke pesawat, dan saya dengan gembira masuk ke pesawat Dreamliner B787 ke Abu Dhabi yang jauuuh lebih nyaman daripada pesawat lanjutan saya ke Manchester nantinya, B777. Dreamliner formasi kursinya 3-3-3 sedangkan B777 3-4-3. Layar dan handset untuk inflight entertainment-nya juga lebih bagus di Dreamliner. Eniwe, pesawat berangkat dan tiba tepat waktu. Sampai di Abu Dhabi, saya menyempatkan diri untuk mandi, cuci muka, dan sikat gigi di shower yang tersedia gratis di bandara. Showernya ada air angetnya dan bersih! Di Changi aja gak ada shower gratisan πŸ˜† Setelah rasanya segar sayapun menuju gate penerbangan lanjutan. Karena masih antre puuuanjang, saya melipir dulu ngecharge hempon di tembok. Ternyata antrean masuk gate ini panjang sekali karena ada pemeriksaan tambahan.

Beberapa minggu lalu, Amerika Serikat melarang penumpang pesawat yang terbang dari beberapa negara Timur Tengah untuk membawa tablet dan laptop di bawaan kabin. Tidak lama kemudian Inggris menyusul dengan peraturan yang sama untuk 6 negara: Turki, Lebanon, Yordania, Saudi Arabia, Mesir, dan Tunisia. Meskipun Uni Emirat Arab tidak termasuk di dalamnya, tapi toh pemeriksaan keamanan masih diperketat. Tablet dan laptop harus dikeluarkan dan dinyalakan di hadapan petugas. Bawaan kabin harus dibuka dan dilakukan random swab (dicolek colek) menggunakan kertas khusus untuk mendeteksi keberadaan bahan peledak. Istilah kerennya ETD (Explosive Trace Detector). Setelah hasilnya dinyatakan negatif, penumpang baru boleh masuk gate. Fiuh.

Sesuai waktu yang tertera di boarding pass, satu jam sebelum lepas landas penumpang dipersilakan masuk ke pesawat. Jadi demikianlah perjalanan enam hari lima malam kami ke Singapore. Gak ada informasi penting juga sih untuk dikabarkan pada pembaca sekalian, blog ini kan bukan Beritagar atau Tirto. Hehe.

Trus sekarang udah kangen lagi :( lima bulan masih lama sekali :(

Last Week Tonight

minggu lalu terlewati dengan sangat cepat sekali. setelah menginap di learning commons di malam minggu dan balas dendam pada hari minggunya, saya punya enam ekor tugas menunggu di hari senin dan jumatnya. jadi hari minggu saya sudah berniat mau mulai mengerjakan tugas. mumpung (sepertinya) masih segar di ingatan, mari kita buat kaleidoskop (halah) minggu lalu tanggal 13 sampai dengan hari ini 19 maret.

senin: wah ini rada panjang. jadi gini, saya ikut survei yang diadakan oleh project team university of manchester dan university of newcastle. survei ini berupa shopping experiment di mana kita disuruh pura-pura belanja groceries online dan perilaku konsumen akan dinilai berdasarkan apa pertimbangan kita saat belanja. nah ternyata belanjaan yang dibeli online ini beneran dikasihin ke responden. lumayaaaan nilai belanjaannya lebih dari 20 pounds. nah, hari senin saya ke tesco (supermarket besar macam carrefour atau giant gitu) di daerah salford, kurang lebih 20 menit naik bus. nomor pesanannya sudah diatur oleh project teamnya sehingga saya sampai sana tinggal ambil. pulang dari salford saya memilah barang jarahan lalu merapikannya di kamar dan di kulkas. malam harinya saya mengerjakan empat buah tugas yang dedlennya hari senin. satu dari empat tugas itulah yang saya kerjakan sepanjang malam di learning commons. sisanya tidak terlalu sulit.

selasa: saya bangun pagi (jam 8 kurang itu udah puuuuagi banget lho buat saya) lalu jam 9 kurang ke londrian depan. di depan gerbang asrama ada sebuah gedung tempat kantor pengelola asrama. di situ juga ada amazon locker, kotak surat penghuni asrama, ruang komputer (pc cluster, mirip warnet gitu lah), gym, lounge, ruang londri, squash room, dan bar mahasiswa yang sering ngadain acara macem-macem buat penghuni asrama. londri yang dikelola perusahaan swasta berjudul circuit ini bayar 1.3 pon untuk nyuci dan 2.8 pon untuk ngeringin (atau kebalik ya? pokoknya itu lah). MIHIL BINGIT. gak mau rugi, saya numpuk cucian sampe tiga minggu, sampe beneran kehabisan baju. sekalian aja saya nyuci duvet cover, sarung bantal, sarung guling, dan sprei. mesin cucinya gede kok, muat dimasukin semua itu. sambil nunggu cucian kelar saya ngegym di gym asrama yang letaknya cuma satu lantai di atas ruang londri. mayan lah jogging di treadmill sambil yutuban. kelar nyuci dan ngegym saya balik ke kamar, mandi, lalu ngelipet baju. etdah. banyak bener ini baju. untung klo keluar dari dryer bajunya anget dan dilipet aja gak perlu disetrika. lagian tiap keluar juga pake jaket, gak keliatan. jangan ditiru ya adik-adik. seharian saya berusaha mencerna peer dari pak chris race, dan sorenya pengen nangis karena rasanya kok gak bisa ngerjain. ini tentang fisika zat padat dan mekanika kuantum, yang jaman kuliah S1 dulu saya gak pernah belajar. malam harinya sediiiiih banget. akhirnya melipir sejenak dari peer pak chris race dan baca-baca materi pak matthews yang dedlen hari jumat juga.

rabu: saya bangun pagi lagi; jam 8 sudah mandi, sudah sarapan, dan sudah siap di meja belajar. rekor ini. saya berusaha lagi mengerjakan peer pak chris race dan kali ini sepertinya pikiran sudah lebih enteng dan dari 8 soal sudah mulai ada progress separonya – meskipun saya yakin kerjaan saya itu dangkal banget dan “cuma” kayak jawaban anak S1 aja. gak papa. kemajuan. jam 10 grup wasap anak-anak minoritas di kelas mulai ribut, pada pusing juga ngerjain soal. oh iya saya sebut grup minoritas karena di kelas saya 80% nya dari tiongkok dan mereka ini rada eksklusif. kelas kami punya grup wechat dan mereka ngobrol di situ pakai bahasa mandarin terus, dan ketika salah satu dari kami yang minoritas bilang “english please” saat bahas sesuatu eh ga diwaro. so yeah. grup wasap minoritas ini berasal dari thailand, turki, indonesia (sekelas cuma saya yang dari indonesia), taiwan, dan malawi. salah satu ngajak makan siang bareng biar rada seger, dan akhirnya kami sepakat mau maksibar di resto turki deket kampus jam 3 sore. lupa kenapa sepakat jam 3 sore, tapi kayaknya karena ada yang ketemu dosen dulu siangnya. resto turki ini menunya all you can eat cuma 7 pon aja (belum termasuk minum), dan beneran kami kekenyangan banget di sana. menunya enak-enak, menurut temen yang aseli turki ya rasa makanan di situ termasuk otentik. keluar resto saya jalan ke sports direct, toko olahraga di city centre, buat ngecek kaki saya ini sebenarnya ukuran berapa sih. hahaha. habisnya kayaknya kok beda merk beda ukuran. baru saya tahu kalau untuk adidas dan karrimor ukuran kaki saya 4, tapi skecher bisa 4 bisa 3.5 tergantung sepatu jenis apa. clarks dan kickers juga 3.5. ini kalau di indonesia setara 36-37 lah kira-kira. pulang dari city centre saya langsung ke rumah gak mampir kemana-mana lagi, karena masih kekenyangan dan ngantuk. sudah gak sanggup lagi ngerjain peer pak chris race, dan memutuskan baca-baca lagi materi pak matthews.

kamis: saya ngerjain peer pak chris race seharian. jam 4 sore pergi ke pc cluster di gedung depan asrama nebeng ngetik. software setara excel di libreoffice (librecalc) ini bosok sekali dipake buat ngolah ratusan ribu data dalam satu sheet :)) saya kudu pake ms office sekalian bikin laporan dari simulasinya. saya di situ sampai jam 9 malam, kira-kira 80% selesai. sisanya bisa dikerjakan di rumah dan gak perlu ms excel. saya balik ke kamar dengan lumayan bahagia. mandi lalu tidur.

jumat: pagi harinya saya berusaha mengerjakan peer pak chris race tapi sekitar jam 11 harus pergi mandi karena jam 12 ada janji di klinik mau imunisasi MMR (measles, mumps, rubella) dosis kedua. dosis pertama sudah empat minggu lalu, dan setelah disuntik saya demam dua hari. saya takut kali ini kejadian lagi kayak gitu, jadi saya berusaha mengerjakan semua tugas sebelum imunisasi. which i apparently couldn’t do. ya sudahlah. jam 11:30 saya jalan ke klinik di bawah gerimis dan mbaknya sudah siap dengan injeksi MMR vax. jam 1 kurang saya sudah di rumah lagi setelah mampir mcd seberang asrama, beli bigmac+fries seharga 2 pon aja pake kupon diskon. badan saya cuma anget aja setelahnya, gak separah waktu dosis pertama, saya kembali ngerjain peer pak chris race sampe mentok lalu pindah ke peer satunya. peer pak matthews ini bentuknya online quiz, jadi ngerjainnya langsung right then and there pake tautan yang sudah dikasih. tiap pertanyaan langsung dijawab dan tidak bisa mundur, dan 25 pertanyaan harus selesai dalam waktu 1 jam. boleh open book (atau open laptop, open tablet). boleh dua kali mencoba, tapi yang diambil nilai terakhir (bukan terbaik). percobaan pertama saya dapat nilai 84/100. saya pikir-pikir mau coba lagi gak ya. gak usah deh. badan gak enak kepala pusing nanti gimana kalo dapat nilai jelek. jam 5 kurang saya putuskan menyudahi peer pak matthew dan kembali ke peer pak chris race. sekitar jam 7 badan saya makin gak enak. rasanya mual. sudah dikasih tahu mbak perawatnya waktu suntik sih. saya paksakan lagi nyelesein peer dan saat menurut saya sudah mentok, ya sudah saya submit aja peernya. semoga berkah. amin.

sabtu: bangun siaaaaaang. memutuskan hari ini adalah hari libur. seharian saya browsing-browsing aja, telegram-an sama suami, yutuban, intinya nyampah-nyampah doang seharian. pikir saya, gak apa-apa lah ya, biar gak stress juga. semoga nantinya bisa ngerjain tugas berikutnya dengan pikiran yang lebih enteng.

minggu: bangun siaaaaaang. harusnya gak libur sih, tapi ya belum mood juga mau ngerjain peer pak aleksey yang dedlennya hari jumat atau proposal tesis yang dedlennya 7 april nanti. sekitar jam 10 latian kardio high intensity di yutub (cuma kuat 20 menit), lalu mandi dan mencuci baju. habis itu sarapan yoghurt sama sultana bran. nyampah-nyampah lagi sambil telegram-an lagi. tau-tau sudah jam lima sore. yang di bintaro sudah pamit tidur. saya ngapain dong. bikin makan malam, lalu ngeblog. oiya habis mandi siang itu kepala saya pusing dan di bahu rasanya spaneng banget. masuk angin ini kayaknya. jadilah sore tadi saya kerokan sendiri pake minyak telon lalu blonyohan minyak kayu putih. hadeh. macam jaman masih di daratan seberang aja nih, tapi kalo dulu saya pake koin 50 euro sen kali ini saya pake koin 2 penny yang lebih pipih dan lebar. mirip koin 500 rupiah jaman duluuuuu banget.

kerokan dan blonyohan ini sungguh bikin sekarang sudah mendingan pusingnya. hangaaaaaat.

sekian.

panjang amat yak.

maap.

Malam Minggu Kemarin

malam minggu kemarin saya habiskan di alan gilbert learning commons untuk mengerjakan tugas electron microscopy, sabtu siang masih sempat jalan-jalan ke city centre ngecek ukuran jaket titipan suami, lalu pulang tidur sebentar. jam lima sore bangun, cuci muka, nyeduh kopi, lalu makan malam. jam 6 ngabisin kopi di mug dan gak lama kemudian berangkat ke alan gilbert. tempat ini bukan perpustakaan sih, lebih kayak lounge gitu aja penuh sofa-sofa dan meja belajar. buka 24 jam. ada empat lantai, favorit saya di lantai tiga. waktu saya tiba di sana masih lumayan ramai orang, tapi untung saya masih dapat sofa dan laptop tray yang yaaahh lumayan lah buat belajar.

tengah malam, bikin americano dari mesin kopi di pojok ruangan. ngerjain satu soal aja udah berapa jam ga kelar-kelar. stress sendiri jadinya. sampai pagi, baru separuh jalan. ngopi dulu jam lima pagi. jam 9 saya pindah ke area pc cluster nebeng komputer karena laptop saya pakai linux, dan piranti lunak libreoffice yang – menurut beberapa website – sudah lumayan mumpuni untuk dijadikan pengganti microsoft office ini rada-rada kurang bisa dipercaya untuk memproduksi word document dengan format sehalus ms office.

sekitar jam 10.30 saya rasanya sudah ada di ambang kelelahan. mencoba menyusun kalimat yang menjawab pertanyaan tentang cara kerja weak beam dark field dan apa keunggulan centred dark field imaging dibandingkan dengan off-axis dark imaging dengan nyawa yang tinggal setengah.

jam 11:50 draft beres. saya kirim ke fadli untuk dikoreksi sebelum saya submit ke blackboard. fadli ini temen satu lab di kantor serpong yang sekarang sedang menempuh studi doktoral di rwth aachen jerman, kampus pak habibie dulu. dia cukup mahir di urusan transmission electron microscopy, yang baru sedikit banget kampus atau lembaga riset di indonesia punya alatnya apalagi pandai mengoperasikannya.

jam 11:55 saya langsung ngibrit keluar gedung alan gilbert dan terpikir untuk langsung ikut misa jam 12 siang.

di gereja tiba-tiba terpikir: “ya ampun gini amat sih. sebenarnya apa yang dicari?”

kebetulan pula waktu khotbah romonya bercerita tentang sebuah percakapan yang filosofis.

“is this everything there is?” (apakah semua ini memang segalanya yang mungkin ada?)

“well, what you see is what you get.” (well, yang kamu lihat ya apa yang kamu dapatkan.)

intinya.. mungkin ruas jalan yang sedang saya tempuh ini hanya satu dari puluhan ribu fragmen yang menyusun puzzle hidup saya. dijalani aja pelan-pelan. diselesaikan satu-satu. kalau memang sudah waktunya nanti akan diijinkan melihat sebetulnya bentuk utuh puzzle-nya itu seperti apa sih.

semangat semangat

 

Yang Sering Terlewatkan

Malam ini, masih bersama segelas Nescafe Classic tanpa gula. Bersiap-siap mengerjakan tugas electron microscopy sambil memutar album terbaru Ed Sheeran. Ada sesuatu yang mengusik perasaan saya saat mata terpaku menatap layar laptop.

Saya punya laptop, yang bekerja dengan baik. Yang tidak pernah bermasalah selama saya pakai untuk belajar dan mengerjakan tugas. Jangan plis. You’re the best.

Saya diberi rejeki untuk beli laptop baru sebelum pergi ke Inggris, meskipun ini bukan HP Envy (yang sebenernya saya pengen) atau MacBook Air (yang meskipun bagus tapi ndak akan saya beli). Tabungan saya dicukupkan sehingga saya gak perlu merepotkan suami atau orang tua.

Malam ini saya makan kebab sisa kemarin, yang saya beli semalam saat lelah pulang kuliah, tanpa harus berpikir bulan ini masih ada sisa uang untuk makan atau tidak. Ada masa saat saya kuliah di Jogja dulu, harus memilih mau makan atau fotokopi bahan kuliah. Kalau fotokopi ya duitnya gak cukup buat makan. Kalau buat makan, ya belajarnya harus pinjam teman, gak bisa punya sendiri. Biasanya sih saya mending gak makan…

Saya bisa ngopi Nescafe Classic, yang waktu itu saya beli langsung tanpa mikir apa harganya paling murah per gram. Sejak kuliah saya selalu beli barang yang paling murah per unit berat atau volume. Kalau beli shampoo atau sabun pasti otak langsung mencongak ini harganya berapa rupiah per mililiter. Demikian juga kalau beli pasta gigi dan cemilan. Saat doyan ngopi pas kuliah dulu saya beli Nescafe classic sebetulnya karena murah. Serenteng seribu isi lima sachet. Jauh lebih murah daripada Coffemix atau Torabika atau Good Day yang harganya waktu itu kira-kira 500 rupiah satu sachetnya.

Yang saya suka, kebanyakan supermarket di Inggris selalu mencantumkan harga per unit untuk semua produk. Jadi gak usah ngitung biskuit ini berapa pounds per 100 gram, atau henbodi losyen itu berapa sen per ml.

Minggu lalu saya masih batuk cukup parah, sedangkan ada tugas yang harus dikerjakan (kapan sih tugas habis? hahaha) dan oleh karenanya saya memaksakan diri untuk ke perpus ngerjain tugas karena kalau di rumah nanti malah tidur terus. Saya bangun pagi dan mengepak bekal: botol obat batuk, dua buah apel, dua tangkup roti isi nutella dan selai kacang, biskuit, gelas kopi (kalau beli kopi di kantin perpus pakai gelas ini bisa dapat diskon karena ndak nyampah pakai gelas sekali pakai), sama botol minum.

bekal ke perpus

Saya mendadak tertegun dan mau menangis. Ya ampun ini kok saya bisa punya makanan kayak gini. Bisa beli nutella DAN selai kacang. Gak harus milih salah satu. Bisa ngemil apel sekaligus biskuit. Mampu beli kopi di kantin. Bisa beli obat batuk sekalian permen strepsils karena saya pingin cepet sembuh tanpa harus memilih duitnya buat beli obat atau buat makan.

Hal-hal “remeh” begini ini sering kali terlewat dari mata saya, yang selalu komplen kalo winter sering sakit karena dingin, atau kadang merasa kesal sama flatmate yang bikin berantakan dapur.

Padahal kalo kamarnya dingin ya bisa nyalain fan heater.

Kalo flatmate jorok ya sebetulnya masih bisa nyempil masak dan toh dapur sudah ada housekeeper yang bersihin.

Harus sering-sering ingat kalau sebetulnya saya sudah dikasih jauuuuh lebih banyak dari yang saya bayangkan.

Harus banyak-banyak bersyukur dan bukannya mengeluh.

Harus selalu berterimakasih kepada Yang Memberi Hidup untuk hal sekecil apapun, terutama saat bangun tidur dan menyadari bahwa masih diberi hari yang baru. Masih diijinkan memperbaiki apa-apa yang rasanya masih kurang.

Sekarang mari belajar lagi. Belajar dengan gembira, seperti gembiranya Tuhan saat mengabulkan doaku dulu agar bisa sekolah lagi.