Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Category Archives: learn

For Manchester.

Asrama mahasiswa Whitworth Park, 25 Mei 2017

Tiga hari setelah kejadian bom bunuh diri di Manchester Arena, kota ini belum sepenuhnya pulih. Berseberangan dengan asrama saya adalah Manchester Royal Infirmary (MRI) Hospital, rumah sakit besar yang dibangun sejak sebelum perang dunia pertama. Suara sirine – entah polisi atau ambulans – sudah biasa saya dengar dari kamar, tapi malam hari saat insiden terjadi rasanya jauh berbeda. Selain karena tambahan suara helikopter yang berlalu-lalang di atas atap, pikiran saya melayang ke mobil-mobil asal suara sirine itu.

Siapa yang diangkut di dalamnya? Apakah selamat? Bagaimana keluarganya? Apa yang mereka alami saat ada ledakan? Wajah siapa dan kenangan seperti apa yang melintas?

Saya gak habis pikir setiap kali ada kejadian seperti ini. Di satu sisi saya tentu saja mengutuk siapapun yang ada di balik kejadian ini, dan tidak pernah tidak, selalu ada ketakutan dan pertanyaan “bakal kejadian di mana lagi? harus jatuh berapa korban lagi?”

Pelaku bom bunuh diri teridentifikasi sebagai Salman Abedi, 22 tahun, mahasiswa Salford University yang tidak menyelesaikan kuliahnya. Orangtuanya datang sebagai imigran dari Libya; Salman dan saudaranya dibesarkan di Manchester. Saat rezim Khaddafi berakhir, orangtua dan saudaranya kembali ke Libya tapi Salman tetap tinggal di Manchester. Ayah Salman ditengarai sebagai pendukung Al-Qaeda, dan Salman sendiri dipastikan memiliki hubungan dengan ISIS. Salah satu teman sekolahnya berkata tentang Salman, “He was a outgoing fun guy but since he went to Libya in 2011 he came back a different guy.”

Malam itu saya mempelajari bagaimana reaksi warga Manchester. Sesaat setelah bom meledak, netizen di sekitar TKP langsung menawarkan bantuan sebisanya. Twitter dan Facebook penuh dengan orang-orang baik. Yang punya mobil menawarkan tumpangan pulang, yang punya tempat tinggal menawarkan tempat beristirahat, sopir taksi menggratiskan jasanya, bahkan beberapa hotel membuka pintunya lebar-lebar. Tak terhitung juga berapa banyak warga sipil yang membantu polisi melakukan evakuasi korban di sekitar tempat konser dan membantu orang-orang yang panik mencari keluarganya ke pusat informasi terdekat.

TKP disterilkan oleh polisi agar mereka bisa bekerja dengan cepat, dan keluarga yang menanti kabar bisa menunggu dan/atau mencari informasi di Etihad Stadium sebagai pusat informasi. Logistik juga langsung diantarkan ke Etihad Stadium dan paramedis sudah berjaga di sana. Bagi yang memerlukan bantuan seperti tumpangan pulang, perawatan untuk luka ringan, telepon untuk menghubungi keluarga, semua diarahkan ke Etihad Stadium. SOP ini dijalankan di regional Greater Manchester dan emergency drill terkait terorisme rutin dilakukan secara berkala sehingga respon pertolongan pertama bisa dilakukan dengan cepat dan efektif. Sebetulnya saya ingin sekali mengikuti perkembangan evakuasi dan mengamati bagaimana first responders bekerja, tapi hari Selasa pagi saya ada ujian akhir jadi harus tidur cepat.

Pagi harinya saya ke kampus yang jaraknya kurang lebih 1,5 km dari TKP. Jalanan relatif sepi tapi transportasi publik masih berjalan seperti biasa kecuali mungkin yang jalurnya melintasi sekitar TKP. Seusai ujian sekitar pukul 1 siang saya ke NHS Blood & Transplant untuk donor darah dan sambil donor saya ngobrol sama susternya tentang kejadian semalam. Ibu suster cerita bahwa beberapa staf NHS standby semalaman just in case rumah sakit memerlukan tambahan bantuan. Dari berita juga saya membaca beberapa dokter dan paramedis dari luar daerah yang kebetulan sedang di Manchester menawarkan jasanya kapanpun diperlukan. Such a selfless acts from the medical team.

“It was one of the things you train for in life but hope never happens”, kata seorang dokter.

Hari-hari berikutnya penuh berita penggalangan dana (tiga hari setelah peristiwa bom bunuh diri, sudah terkumpul dana lebih dari 4 juta poundsterling), undangan untuk berkumpul dan berdoa bersama di pusat kota, informasi hotline yang bisa dihubungi kalau ada yang perlu konsultasi atau penguatan, dan masih banyak lagi. Bagi saya ini gesture yang menyentuh; bahwa 22 orang yang meninggal dan puluhan yang luka berat itu bukan sekadar statistik. Bahwa tragedi bom bunuh diri ini bukan sekadar teror yang terjadi lalu berhenti. Life goes on and we should do whatever we can to be a blessing for other people. For a better world.

Jadi sedih sekali rasanya ketika kemarin sore mendengar kabar ada ledakan di Kampung Melayu, dengan korban jiwa 3 orang polisi dan banyak korban luka. Makin sedih saat saya baca-baca berita tentang apa yang terjadi setelahnya. Kenapa ada yang bilang itu pengalihan isu? Kenapa malah sudah ohak-ahok lagi aja? Kenapa nuduh bom bunuh diri ini rekayasa? Kenapa pada kirim gambar potongan badan yang berserakan? Kenapa waktu polisi beresin TKP malah pada bergerombol nonton?

Mengatasi Takut Naik Pesawat Terbang

Hayo siapa yang takut naik pesawat terbang? Panik saat pesawat bergetar akibat turbulensi? Refleks mendaraskan ayat-ayat kitab suci atau merapal doa makan – saking takutnya? Saya pertama kali naik pesawat terbang kalo gak salah tahun 2005, naik Lion Air dari Jogja ke Balikpapan. Setelahnya tahun 2007 langsung naik pesawat interkontinental dengan durasi 12 jam. Saat itu rasanya masih excited aja sih karena baru pertama kali naik pesawat besar yang banyak makanannya (halah). Setelah-setelahnya saya mulai menyadari bahwa naik pesawat itu kadang menyeramkan. Kita naik burung besi raksasa yang terbang tanpa menyentuh tanah (NAMANYA JUGA TERBANG WOE) dan “cuma” bergantung pada kecanggihan teknologi serta keterampilan bapak-ibu pilot. Belum termasuk faktor cuaca lho ya yang tahu sendirilah sampe sering dibilang “cuacanya kayak cewe lagi PMS”.

Pengalaman saya yang paling “berkesan” sampai sekarang adalah saat tahun 2009 saya naik mudik naik pesawat dari Amsterdam ke Jakarta – kalau gak salah naik Etihad. Saat itu kami sedang melintasi Teluk Benggala di Asia Selatan saat pilot menyampaikan pengumuman bahwa semua orang harus kembali ke kursi dan mengenakan sabuk pengaman karena pesawat akan melewati turbulensi.

Saya lupa berapa menit durasi turbulensi yang kami lewati tapi rasanya lama sekali. Pesawat bergoyang-goyang sementara lampu kabin dimatikan total. Beberapa orang terdengar menarik dan menghela napas – mungkin untuk menenangkan diri. Sempat juga pesawat “jatuh” sedikit yang membuat orang-orang sepertinya rada lebih panik dari sebelumnya.

Saya duduk di kursi sebelah jendela (sebelah dalam pesawat ya, bukan sebelah luar. #krik) sambil menarik napas dalam-dalam. Di genggaman tangan saya ada e-book reader Sony PRS-600, dan saya yang saat itu memikirkan  hal terburuk mulai menulis di e-book reader dengan stylus kecil. Kalimat-kalimat semacam “pesan terakhir” yang saya yakin rasanya bodoh sekali karena toh e-book reader ini akan rusak juga nyemplung ke laut.

Gak lama kemudian, pesawat rada tenang dan lampu indikator sabuk pengaman dimatikan. Fiuh. Kepala saya langsung berat, lalu saat pramugari menawarkan snack malam saya sekalian minta red wine biar bisa segera tidur saja.

Tepat setahun lalu saya pergi konferensi ke Bali. Saat hendak terbang kembali ke Jakarta dari Denpasar cuaca sedang lumayan buruk tapi pesawat akan tetap diberangkatkan. Di ruang tunggu saya whatsapp pakde Mbilung yang saya tahu sering sekali naik pesawat, tentang bagaimana cara mengatasi ketakutan saat terbang dan pikiran buruk yang selalu membayangi. Pesan beliau sederhana sekali:

Gak, gak akan jatuh. Percaya aja sama pilotnya. Mereka juga gak mau mati kok.

Nel uga eaaa. Pesan itu menancap cukup dalam di hati saya, dan sampai sekarang masih sangat relevan buat ngingetin saya tiap kali naik pesawat.

HOWEVER… di kuliah kan ada modul High Performance Alloys dan Materials Life Cycle yang salah satunya membahas material yang digunakan di pesawat terbang. Di situ kami belajar material apa yang cocok untuk badan, sayap, dan area mesin pesawat, dan apa saja kegagalan yang mungkin menyertainya. Beberapa dosen tergabung dengan grup riset yang melakukan penelitian untuk Airbus, dan di kelas mereka memberikan contoh-contoh nyata. Tidak lupa mereka memutar beberapa video serupa Air Crash Investigation untuk membahas kecelakaan pesawat yang diakibatkan oleh kegagalan desain material. Sungguh menyenangkan adanya. Huft. Thank you very much, dear professors..

Terakhir saya terbang adalah waktu ke Singapura beberapa pekan lalu. Penerbangan terdiri dari 2 leg, MAN-AUH dengan durasi hampir 8 jam dan AUH-SIN dengan durasi 6 jam lebih. Saya yang masih rada takut terbang berusaha mencari cara bagaimana biar gak panik di pesawat, dan menemukan beberapa tautan menarik:

Intinya, kita gak perlu panik saat pesawat memasuki area turbulensi karena turbulensi udara adalah peristiwa yang wajar dan tidak berlangsung lama. Kalau pesawat mulai goyang, langsung aja berpikir “oh jalanannya cuman lagi nggronjal. glodak glodak gak lama paling sebentar lagi selesai”. Menurut para pakar di atas, sangat sangat kecil kemungkinan pesawat jatuh akibat turbulensi, karena selain pesawat sudah didesain untuk menahan faktor tersebut, pilot juga sudah terlatih untuk “membaca” tingkat turbulensi yang dihadapi. Seringkali pilot berusaha mengendalikan pesawat menghindari daerah tersebut (jalan memutar), jadi jika pilot memutuskan untuk jalan terus menembus udara turbulen berarti keadaan tersebut tidak membahayakan.

Untuk itulah juga kita mesti percaya pada pilot (selain tentunya percaya pada Tuhan) dan mekanik pesawat. Pesawat terbang didesain dengan safety factor yang sangat tinggi, bahkan dia masih bisa terbang jika satu mesin mati dan hanya satu mesin saja yang menyala. Instrumentasi pesawat terbang juga sedemikian canggihnya sehingga perubahan sekecil apapun pasti akan terdeteksi oleh indikator. Well, jujur aja membaca artikel-artikel di atas memang rasanya gak langsung bikin saya jadi benar-benar gak takut lagi terbang naik pesawat, tapi paling tidak saya jadi tahu fakta-fakta soal pesawat terbang dan menyadari bahwa kadang ketakutan saya itu gak beralasan.

“Tenang aja, pilotnya udah jago kok…”
“Oke turbulensi ini cuma karena perbedaan tekanan udara dan bakalan cuma sebentar…”
“Mmm tadi pas pamitan boarding pesan terakhirnya udah bilang ‘aku sayang kamu ya’ belum sih?”
“Pramugarinya belum sampe disuruh duduk kok. Gak kenapa-napa. Gak kenapa-napa.”

Selain mempersiapkan mental, ada kegiatan yang membuat saya lebih tenang saat naik pesawat: sebisa mungkin nyamankan diri dan banyak-banyak tidur. Hahahaha. Kalau penerbangan siang rada sulit tidur sih memang seperti yang saya alami waktu terbang dari Manchester ke Abu Dhabi. Saya bawa bantal tiup, ear plug, dan penutup mata, pokoknya perut kenyang dulu nanti bisa lah diusahakan tidur. Kalau penerbangannya malam (red-eye flight), usahakan masuk pesawat dengan kondisi badan bersih dan nyaman. Biasanya penerbangan malam ini dijalani setelah seharian melancong sana sini, capek keringetan dll. Kalau sempat mandi, mandilah dulu. Kalau gak sempet ya gosok-gosok badan pakai tisu basah lalu ganti baju (ini penting! ganti baju!). Lanjutkan dengan cuci muka, sisiran, dan gosok gigi. Apa pentingnya? Kondisikan badan seperti saat akan tidur malam. Badan akan mengenali bahwa kita “mau tidur” dan hal ini sangat membantu untuk bisa istirahat dengan nyaman di pesawat. Kalo situ terbang di First Class yang flat bed sih kurang tau juga ya apa yang bisa bikin istirahatnya lebih nyaman. Belum pernah e. Ada yang mau bayarin? Saya review deh. 😆

Anyway, good luck overcoming your anxiety, and enjoy your flight!

 

Last Week Tonight

minggu lalu terlewati dengan sangat cepat sekali. setelah menginap di learning commons di malam minggu dan balas dendam pada hari minggunya, saya punya enam ekor tugas menunggu di hari senin dan jumatnya. jadi hari minggu saya sudah berniat mau mulai mengerjakan tugas. mumpung (sepertinya) masih segar di ingatan, mari kita buat kaleidoskop (halah) minggu lalu tanggal 13 sampai dengan hari ini 19 maret.

senin: wah ini rada panjang. jadi gini, saya ikut survei yang diadakan oleh project team university of manchester dan university of newcastle. survei ini berupa shopping experiment di mana kita disuruh pura-pura belanja groceries online dan perilaku konsumen akan dinilai berdasarkan apa pertimbangan kita saat belanja. nah ternyata belanjaan yang dibeli online ini beneran dikasihin ke responden. lumayaaaan nilai belanjaannya lebih dari 20 pounds. nah, hari senin saya ke tesco (supermarket besar macam carrefour atau giant gitu) di daerah salford, kurang lebih 20 menit naik bus. nomor pesanannya sudah diatur oleh project teamnya sehingga saya sampai sana tinggal ambil. pulang dari salford saya memilah barang jarahan lalu merapikannya di kamar dan di kulkas. malam harinya saya mengerjakan empat buah tugas yang dedlennya hari senin. satu dari empat tugas itulah yang saya kerjakan sepanjang malam di learning commons. sisanya tidak terlalu sulit.

selasa: saya bangun pagi (jam 8 kurang itu udah puuuuagi banget lho buat saya) lalu jam 9 kurang ke londrian depan. di depan gerbang asrama ada sebuah gedung tempat kantor pengelola asrama. di situ juga ada amazon locker, kotak surat penghuni asrama, ruang komputer (pc cluster, mirip warnet gitu lah), gym, lounge, ruang londri, squash room, dan bar mahasiswa yang sering ngadain acara macem-macem buat penghuni asrama. londri yang dikelola perusahaan swasta berjudul circuit ini bayar 1.3 pon untuk nyuci dan 2.8 pon untuk ngeringin (atau kebalik ya? pokoknya itu lah). MIHIL BINGIT. gak mau rugi, saya numpuk cucian sampe tiga minggu, sampe beneran kehabisan baju. sekalian aja saya nyuci duvet cover, sarung bantal, sarung guling, dan sprei. mesin cucinya gede kok, muat dimasukin semua itu. sambil nunggu cucian kelar saya ngegym di gym asrama yang letaknya cuma satu lantai di atas ruang londri. mayan lah jogging di treadmill sambil yutuban. kelar nyuci dan ngegym saya balik ke kamar, mandi, lalu ngelipet baju. etdah. banyak bener ini baju. untung klo keluar dari dryer bajunya anget dan dilipet aja gak perlu disetrika. lagian tiap keluar juga pake jaket, gak keliatan. jangan ditiru ya adik-adik. seharian saya berusaha mencerna peer dari pak chris race, dan sorenya pengen nangis karena rasanya kok gak bisa ngerjain. ini tentang fisika zat padat dan mekanika kuantum, yang jaman kuliah S1 dulu saya gak pernah belajar. malam harinya sediiiiih banget. akhirnya melipir sejenak dari peer pak chris race dan baca-baca materi pak matthews yang dedlen hari jumat juga.

rabu: saya bangun pagi lagi; jam 8 sudah mandi, sudah sarapan, dan sudah siap di meja belajar. rekor ini. saya berusaha lagi mengerjakan peer pak chris race dan kali ini sepertinya pikiran sudah lebih enteng dan dari 8 soal sudah mulai ada progress separonya – meskipun saya yakin kerjaan saya itu dangkal banget dan “cuma” kayak jawaban anak S1 aja. gak papa. kemajuan. jam 10 grup wasap anak-anak minoritas di kelas mulai ribut, pada pusing juga ngerjain soal. oh iya saya sebut grup minoritas karena di kelas saya 80% nya dari tiongkok dan mereka ini rada eksklusif. kelas kami punya grup wechat dan mereka ngobrol di situ pakai bahasa mandarin terus, dan ketika salah satu dari kami yang minoritas bilang “english please” saat bahas sesuatu eh ga diwaro. so yeah. grup wasap minoritas ini berasal dari thailand, turki, indonesia (sekelas cuma saya yang dari indonesia), taiwan, dan malawi. salah satu ngajak makan siang bareng biar rada seger, dan akhirnya kami sepakat mau maksibar di resto turki deket kampus jam 3 sore. lupa kenapa sepakat jam 3 sore, tapi kayaknya karena ada yang ketemu dosen dulu siangnya. resto turki ini menunya all you can eat cuma 7 pon aja (belum termasuk minum), dan beneran kami kekenyangan banget di sana. menunya enak-enak, menurut temen yang aseli turki ya rasa makanan di situ termasuk otentik. keluar resto saya jalan ke sports direct, toko olahraga di city centre, buat ngecek kaki saya ini sebenarnya ukuran berapa sih. hahaha. habisnya kayaknya kok beda merk beda ukuran. baru saya tahu kalau untuk adidas dan karrimor ukuran kaki saya 4, tapi skecher bisa 4 bisa 3.5 tergantung sepatu jenis apa. clarks dan kickers juga 3.5. ini kalau di indonesia setara 36-37 lah kira-kira. pulang dari city centre saya langsung ke rumah gak mampir kemana-mana lagi, karena masih kekenyangan dan ngantuk. sudah gak sanggup lagi ngerjain peer pak chris race, dan memutuskan baca-baca lagi materi pak matthews.

kamis: saya ngerjain peer pak chris race seharian. jam 4 sore pergi ke pc cluster di gedung depan asrama nebeng ngetik. software setara excel di libreoffice (librecalc) ini bosok sekali dipake buat ngolah ratusan ribu data dalam satu sheet :)) saya kudu pake ms office sekalian bikin laporan dari simulasinya. saya di situ sampai jam 9 malam, kira-kira 80% selesai. sisanya bisa dikerjakan di rumah dan gak perlu ms excel. saya balik ke kamar dengan lumayan bahagia. mandi lalu tidur.

jumat: pagi harinya saya berusaha mengerjakan peer pak chris race tapi sekitar jam 11 harus pergi mandi karena jam 12 ada janji di klinik mau imunisasi MMR (measles, mumps, rubella) dosis kedua. dosis pertama sudah empat minggu lalu, dan setelah disuntik saya demam dua hari. saya takut kali ini kejadian lagi kayak gitu, jadi saya berusaha mengerjakan semua tugas sebelum imunisasi. which i apparently couldn’t do. ya sudahlah. jam 11:30 saya jalan ke klinik di bawah gerimis dan mbaknya sudah siap dengan injeksi MMR vax. jam 1 kurang saya sudah di rumah lagi setelah mampir mcd seberang asrama, beli bigmac+fries seharga 2 pon aja pake kupon diskon. badan saya cuma anget aja setelahnya, gak separah waktu dosis pertama, saya kembali ngerjain peer pak chris race sampe mentok lalu pindah ke peer satunya. peer pak matthews ini bentuknya online quiz, jadi ngerjainnya langsung right then and there pake tautan yang sudah dikasih. tiap pertanyaan langsung dijawab dan tidak bisa mundur, dan 25 pertanyaan harus selesai dalam waktu 1 jam. boleh open book (atau open laptop, open tablet). boleh dua kali mencoba, tapi yang diambil nilai terakhir (bukan terbaik). percobaan pertama saya dapat nilai 84/100. saya pikir-pikir mau coba lagi gak ya. gak usah deh. badan gak enak kepala pusing nanti gimana kalo dapat nilai jelek. jam 5 kurang saya putuskan menyudahi peer pak matthew dan kembali ke peer pak chris race. sekitar jam 7 badan saya makin gak enak. rasanya mual. sudah dikasih tahu mbak perawatnya waktu suntik sih. saya paksakan lagi nyelesein peer dan saat menurut saya sudah mentok, ya sudah saya submit aja peernya. semoga berkah. amin.

sabtu: bangun siaaaaaang. memutuskan hari ini adalah hari libur. seharian saya browsing-browsing aja, telegram-an sama suami, yutuban, intinya nyampah-nyampah doang seharian. pikir saya, gak apa-apa lah ya, biar gak stress juga. semoga nantinya bisa ngerjain tugas berikutnya dengan pikiran yang lebih enteng.

minggu: bangun siaaaaaang. harusnya gak libur sih, tapi ya belum mood juga mau ngerjain peer pak aleksey yang dedlennya hari jumat atau proposal tesis yang dedlennya 7 april nanti. sekitar jam 10 latian kardio high intensity di yutub (cuma kuat 20 menit), lalu mandi dan mencuci baju. habis itu sarapan yoghurt sama sultana bran. nyampah-nyampah lagi sambil telegram-an lagi. tau-tau sudah jam lima sore. yang di bintaro sudah pamit tidur. saya ngapain dong. bikin makan malam, lalu ngeblog. oiya habis mandi siang itu kepala saya pusing dan di bahu rasanya spaneng banget. masuk angin ini kayaknya. jadilah sore tadi saya kerokan sendiri pake minyak telon lalu blonyohan minyak kayu putih. hadeh. macam jaman masih di daratan seberang aja nih, tapi kalo dulu saya pake koin 50 euro sen kali ini saya pake koin 2 penny yang lebih pipih dan lebar. mirip koin 500 rupiah jaman duluuuuu banget.

kerokan dan blonyohan ini sungguh bikin sekarang sudah mendingan pusingnya. hangaaaaaat.

sekian.

panjang amat yak.

maap.

Yang Sering Terlewatkan

Malam ini, masih bersama segelas Nescafe Classic tanpa gula. Bersiap-siap mengerjakan tugas electron microscopy sambil memutar album terbaru Ed Sheeran. Ada sesuatu yang mengusik perasaan saya saat mata terpaku menatap layar laptop.

Saya punya laptop, yang bekerja dengan baik. Yang tidak pernah bermasalah selama saya pakai untuk belajar dan mengerjakan tugas. Jangan plis. You’re the best.

Saya diberi rejeki untuk beli laptop baru sebelum pergi ke Inggris, meskipun ini bukan HP Envy (yang sebenernya saya pengen) atau MacBook Air (yang meskipun bagus tapi ndak akan saya beli). Tabungan saya dicukupkan sehingga saya gak perlu merepotkan suami atau orang tua.

Malam ini saya makan kebab sisa kemarin, yang saya beli semalam saat lelah pulang kuliah, tanpa harus berpikir bulan ini masih ada sisa uang untuk makan atau tidak. Ada masa saat saya kuliah di Jogja dulu, harus memilih mau makan atau fotokopi bahan kuliah. Kalau fotokopi ya duitnya gak cukup buat makan. Kalau buat makan, ya belajarnya harus pinjam teman, gak bisa punya sendiri. Biasanya sih saya mending gak makan…

Saya bisa ngopi Nescafe Classic, yang waktu itu saya beli langsung tanpa mikir apa harganya paling murah per gram. Sejak kuliah saya selalu beli barang yang paling murah per unit berat atau volume. Kalau beli shampoo atau sabun pasti otak langsung mencongak ini harganya berapa rupiah per mililiter. Demikian juga kalau beli pasta gigi dan cemilan. Saat doyan ngopi pas kuliah dulu saya beli Nescafe classic sebetulnya karena murah. Serenteng seribu isi lima sachet. Jauh lebih murah daripada Coffemix atau Torabika atau Good Day yang harganya waktu itu kira-kira 500 rupiah satu sachetnya.

Yang saya suka, kebanyakan supermarket di Inggris selalu mencantumkan harga per unit untuk semua produk. Jadi gak usah ngitung biskuit ini berapa pounds per 100 gram, atau henbodi losyen itu berapa sen per ml.

Minggu lalu saya masih batuk cukup parah, sedangkan ada tugas yang harus dikerjakan (kapan sih tugas habis? hahaha) dan oleh karenanya saya memaksakan diri untuk ke perpus ngerjain tugas karena kalau di rumah nanti malah tidur terus. Saya bangun pagi dan mengepak bekal: botol obat batuk, dua buah apel, dua tangkup roti isi nutella dan selai kacang, biskuit, gelas kopi (kalau beli kopi di kantin perpus pakai gelas ini bisa dapat diskon karena ndak nyampah pakai gelas sekali pakai), sama botol minum.

bekal ke perpus

Saya mendadak tertegun dan mau menangis. Ya ampun ini kok saya bisa punya makanan kayak gini. Bisa beli nutella DAN selai kacang. Gak harus milih salah satu. Bisa ngemil apel sekaligus biskuit. Mampu beli kopi di kantin. Bisa beli obat batuk sekalian permen strepsils karena saya pingin cepet sembuh tanpa harus memilih duitnya buat beli obat atau buat makan.

Hal-hal “remeh” begini ini sering kali terlewat dari mata saya, yang selalu komplen kalo winter sering sakit karena dingin, atau kadang merasa kesal sama flatmate yang bikin berantakan dapur.

Padahal kalo kamarnya dingin ya bisa nyalain fan heater.

Kalo flatmate jorok ya sebetulnya masih bisa nyempil masak dan toh dapur sudah ada housekeeper yang bersihin.

Harus sering-sering ingat kalau sebetulnya saya sudah dikasih jauuuuh lebih banyak dari yang saya bayangkan.

Harus banyak-banyak bersyukur dan bukannya mengeluh.

Harus selalu berterimakasih kepada Yang Memberi Hidup untuk hal sekecil apapun, terutama saat bangun tidur dan menyadari bahwa masih diberi hari yang baru. Masih diijinkan memperbaiki apa-apa yang rasanya masih kurang.

Sekarang mari belajar lagi. Belajar dengan gembira, seperti gembiranya Tuhan saat mengabulkan doaku dulu agar bisa sekolah lagi.

Nescafe Classic tanpa gula

Asrama mahasiswa Whitworth Park, malam Minggu 4 Maret 2017

Waktu menunjukkan pukul 6 sore. Saya beranjak ke dapur menyalakan teko pemanas air dan menyeduh kopi dengan rasio 1,5 sendok teh dalam 300ml air panas.

Nescafe classic yang bungkusnya hitam dengan mug berwarna merah. Beberapa hari lalu saya menemukannya di salah satu lorong minimarket Sainsbury’s seberang jalan, kebetulan dengan harga promo dalam kemasan refill yang sepertinya cukup untuk stok kopi beberapa bulan.

Kopi ini favorit saya sejak jaman kuliah karena alasan praktis: kopi hitam tanpa campuran gula/susu dan tanpa ampas. Tentang kenapa saya suka kopi tanpa gula, pernah diceritakan 6 tahun lalu. Kos-kosan saya waktu kuliah berada di tepi selokan mataram di kampung Pogung Dalangan, tepat di belakang kampus Teknik UGM. Kamar saya sederhana; cuma ada kasur single di atas dipan kayu, lemari baju knock-down beli di Liman jalan Malioboro, lemari kayu kecil untuk naruh buku-buku, dan meja kecil di atas karpet. Kalau belajar ya lesehan.

Tepat satu dekade lalu saya mulai mengerjakan skripsi – ya sama di bulan-bulan ini juga. Saya seringkali melewatkan malam-malam di karpet mantengin laptop entah ngutak atik desain alat di kotak-kotak excel, ngoprek program desain reaktor pake QuickBASIC (iya, QuickBASIC yang itu), atau nyicil ngetik studi literatur. Saya mulai “kerja” setelah makan malam, diawali dengan segelas kopi nescafe classic. Sekitar jam 2 biasanya saya mulai capek, lalu ambil bantal dan tidur sebentar di karpet. Gak sempat lagi untuk ngesot ke atas kasur, selain juga takut ketiduran. Kalau memang belum ingin tidur ya kadang pindah-pindah channel radio nyari siaran bagus biar gak bosan. Sering menclok di Sonora FM sih karena banyak lagu jadul… hahaha.

Suatu pagi saya pernah terbangun dan merasa di mulut kok ada yang aneh. Perasaan saya gak ngileran deh. Setelah ngusap pake tangan… lho kok darah. Jebul mimisan. Sempet kaget dan takut sih, tapi setelah tanya teman yang anak Kedokteran katanya itu “cuma” karena stress atau kedinginan aja kok. Bukan masalah serius, lagipula mimisannya sudah berhenti.

Kebiasaan itu berlangsung sampai skripsi saya kelar – saya harus ngelarin skripsi dalam waktu kurang dari 6 bulan karena dapat rejeki beasiswa double degree ke Belanda. Kalau gak kelar ya gak jadi pergi. Ya sudah hajar ajalah. Tidur seadanya, makan seperlunya. Saya masih ingat waktu itu pendadaran skripsi pagi hari, lanjut ujian komprehensif sore harinya. Ujian kompre ini bahannya dari awal sampai akhir kuliah, berupa pilihan ganda sejumlah 200 soal kalo ndak salah. Malamnya saya makan kwetiaw goreng di sebuah lesehan di Jalan Kaliurang sampai kenyang kemudian pulang mandi dan tidur. Lega.

Pagi harinya, saya terbangun dengan kepala pusing dan badan meriang. Sepertinya demam. Saya coba makan roti trus gak lama kemudian muntah-muntah. Minum air juga keluar lagi. Sorenya saya minta tolong teman untuk membelikan makan. Dia bilang kalau masih gak bisa makan mending ke rumah sakit aja. Saya malas ke rumah sakit… nanti siapa yang nungguin, siapa yang bayarin, saya gak mau ngerepotin orang tua.

Besoknya ternyata keadaan gak membaik. Salah satu teman sekelas yang punya mobil menjemput saya ke kost dan mengantar saya ke RS Panti Rapih. Saya gak gitu ingat gimana detilnya, tapi sepertinya saya masuk UGD dan gak lama kemudian masuk bangsal yang isinya 4 orang dan langsung diinfus. Ternyata kata dokter saya kena maag akut dan radang lambung, kemungkinan karena makannya gak teratur, makan gak sehat, dan kebanyakan ngopi. Well.

Saya diopname 4 hari di rumah sakit, dan teman-teman sekelas saya patungan untuk bayarin biaya rumah sakit. Huhuhu terharu. Mereka yang antar jemput bahkan jagain tiap hari dan ambilin baju dari kost. Saya bahkan sama sekali gak ngabarin orang tua karena takut merepotkan. Ya setelah keluar dari rumah sakit baru saya ngabarin bapak dan tentu saja dimarahin.

Setelah itu rasanya lamaaaaaaaaaaa sekali saya gak ngopi nescafe classic. Waktu masih kerja di Jogja kadang lemburnya di kafe jadi minumnya espresso atau americano kafe, atau kalau lembur di kos biasanya tanpa kopi. Pindah kerja ke Serpong, jarang ngopi karena jarang lembur sampai pagi hahaha.

Anyway…

Kenangan ini tiba-tiba datang karena malam ini saya sedang memutuskan untuk begadang ngerjain tugas, dan rasanya kok merasakan adrenalin yang sama… momen di mana sebenarnya lelah tapi harus berpacu dengan waktu, dan memaksa otak yang terbatas ini melakukan tugasnya dengan baik.

NB: ini bukan iklan, bukan pula postingan berbayar. Meskipun saya akan senang juga sih kalo nescafe mau berbaik hati ngirimin paket kopi XD