Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Category Archives: dongeng

Gatotkaca, Kesayangan Para Dewa [2]

Previously, in part 1

Ucapan Arimbi terhenti oleh suara ribut di luar rumah. Dari kegelapan muncul Bratasena dan Gatotkaca yang muncul dengan wajah sayu dan lelah.

“Ada apa, kakang?”, tanya Arimbi sambil mengelus kepala Bratasena yang langsung melemparkan tubuhnya ke atas kasur depan tivi.

Bratasena menghela nafas panjang, pandangannya sejenak dilepaskan ke arah Gatotkaca yang duduk di teras rumah bersama Pregiwa.

Abimanyu gugur.”

Arimbi speechless. Abimanyu adalah anak kebanggaan Arjuna yang digadhang-gadhang bisa menghancurkan prajurit Samsaptaka, divisi kebanggaan Duryudana yang memiliki formasi Cakrawyuha yang mematikan. Bima bercerita dengan terbata-bata bahwa saat itu ia dan Arjuna sedang membimbing Abimanyu untuk memasuki spiral Cakrawyuha dan menembus melaluinya. Sayang sekali Kurawa sudah one step ahead menghadapi strategi Pandawa. Duryudana akan mengirimkan Jayadrata dan Kartamarma untuk mengalihkan perhatian Arjuna dan Bratasena sementara Abimanyu tertinggal sendirian, terperangkap di tengah-tengah spiral Cakrawyuha.

Rencana Duryudana berjalan dengan mulus… Arjuna sibuk dengan Jayadrata sedangkan Bratasena dengan Kartamarma. Dengan sekali teriakan instruksi, Duryudana membuat bala Kurawa mengeroyok Abimanyu hingga tewas. Remaja belasan tahun ini gugur di Tegal Kurusetra, meninggalkan dua istri dan seorang anak yang masih ada dalam kandungan. Tawa maniak Duryudana menggelegar, hingga terdengar ke telinga Arjuna. Segeralah ia mencari asal suara itu, dan ditemukannya sang putera telah tergeletak dengan ribuan senjata menancap di tubuhnya.

Darah Arjuna mendidih. Ia ingin segera menghabisi Jayadrata karena kalau tadi tidak terdistraksi olehnya, ia pasti tidak akan meninggalkan Arjuna sendirian. Sayang sekali langit mulai gelap dan sangkakala sudah berbunyi, tanda perang hari itu sudah harus dihentikan.

Di markas Pandawa, Kresna tidak menginstruksikan apa-apa pada para ksatria. Biasanya mereka mempersiapkan rencana untuk esok hari, tapi malam itu ia meminta semua orang untuk pulang dan beristirahat. Ia tahu laga esok hari akan menjadi milik Arjuna seorang, untuk membalas dendam atas kematian anaknya.

Arimbi memasak air hangat untuk dipakai Bratasena dan Gatotkaca mandi, sedangkan Pregiwa pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.

“Kayaknya kemarin aku liat ada ubi cilembu di meja makan, yayi”, Gatotkaca menggerayangi meja makan dan membuka tutup magic jar.

“Oh, itu. Anu. Sudah aku habiskan tadi sama ibu”, Pregiwa nyengir. Gatotkaca mengacak pelan rambut istrinya yang cantik itu dan mengecup keningnya.

Sasikirana baru pulang dari beres-beres di markas Pandawa. Putera sulung Gatotkaca itu sudah cukup besar, tapi belum cukup umur untuk ikut berperang meskipun berkali-kali ia memohon pada ayahnya agar diijinkan mengangkat senjata bersama sang ayah dan paman-pamannya. Jadilah ia bantu-bantu saja di markas, entah menyiapkan makan dan minum atau P3K untuk prajurit yang cedera. Menyusul sang ayah dan kakek di meja makan, ia mengabarkan bahwa Prabu Kresna memanggil mereka kembali ke markas.

Bratasena dan Gatotkaca melirik satu sama lain, bingung dengan apa yang terjadi. Sepertinya emergency, tapi kenapa? Daripada penasaran, mereka segera bersiap pergi lagi dan berpamitan pada Arimbi, Pregiwa dan Sasikirana.

Fast forward dua malam kemudian…

Arimbi dan Pregiwa sedang duduk di sofa ruang tamu. Rembulan sudah berada di atas kepala, tanda hari akan segera berganti. Pregiwa sedang terisak menahan tangis. Arimbi bengong, matanya menatap kosong ke arah entah-mana. Bratasena duduk di teras depan rumah dengan kepala tersandar lemas pada pilar penyangga rumah.

“Pregiwa, sini nak. Kamu dari tadi belum makan malam”, Arimbi beranjak ke meja makan, mengajak menantunya.

Masih dengan mata sembab, Pregiwa menyusul Arimbi ke ruang makan. Meskipun tidak lapar tapi ya sudahlah dia menurut saja daripada nanti malah sakit.

“Ibu, rasanya aku masih belum percaya kalau kakangmas Gatotkaca sudah pergi. Rasanya… aku gak rela”, Arimbi curhat sambil menyendokkan sayur lodeh buatannya tadi pagi ke atas piring.

“Yah… yang namannya hidup, mati, jodoh dan rejeki itu bukan sesuatu yang bisa kita atur, nak. Ibu juga kehilangan. Setelah insiden kehilangan Gatotkaca waktu masih bayi dulu, kali ini hati ibu rasanya benar-benar hancur.”

“Tentang itu… saya salut sama ibu. Gimana caranya ibu bisa bilang iya saat kakang Gatotkaca diminta pergi ke kahyangan untuk berperang padahal ia masih bayi?”

“Ibu gak tahu, Pregiwa. Di satu sisi, ibu sedang jatuh cinta pada bayi yang baru lahir itu. Jangankan diminta pergi ke kahyangan yang ibu gak tahu untuk berapa lama, dia dibawa ayahnya jalan-jalan saja rasanya ibu sudah kangen setengah mati. Apalagi saat dia sudah mulai bisa diajak bicara lewat tatapan mata. Dan tawanya itu… tawa yang membuat setiap detik hidup ibu ini rasanya berarti.”

Pregiwa meremas tangan Arimbi.

“Kadang, ya, ibu berpikir kalau Gatotkaca dilahirkan ke dunia hanya untuk melakukan misi yang sudah ditentukan oleh para dewa”, Arimbi melanjutkan, “tanpa memikirkan kalau ia punya keluarga.”

“Maksud ibu?”, Pregiwa mengerutkan kening.

Pengrajin Wayang Golek © Thomas Kwan

“Gimana ya… Seperti sebuah wayang golek. Ia dipahat dari sepotong kayu, diukir dan dihias dengan sedemikian cantik. Sang pemahat sudah tahu ia akan dimainkan dalam lakon apa – dan hanya untuk lakon itulah ia diadakan. Cerita-cerita tambahan tidaklah relevan. Yang penting misi utama dilakukan, dan selesailah tugasnya. Batara Guru waktu itu sudah tahu kalau yang kukandung ini bukan jabang bayi biasa, makanya waktu ada keributan saat tali pusar Gatotkaca tak bisa dipotong datanglah beliau mengajukan pertolongan. Tentu saja syarat dan ketentuan berlaku, tapi ibu punya pilihan apa selain mengiyakan. Lagipula repot dan aneh juga kalau harus membawa tali pusar kemana-mana.

Saat Gatotkaca pergi memerangi Prabu Nagapercona di kahyangan Jonggring Saloka rasanya setiap hari hatiku patah. Bagaimana kabarnya anakku? Dia disuruh apa saja oleh Batara Guru? Apa dia nanti bisa pulang dalam keadaan hidup? Yang lebih menyedihkan hatiku adalah… apa dia nanti masih mengingatku sebagai ibu yang melahirkannya? Aku takut ia benci padaku karena mungkin ia merasa aku begitu saja menyerahkannya pada Batara Guru dan tidak membesarkannya dengan tanganku sendiri.

Tidak ada yang bisa menggambarkan bagaimana perasaanku saat aku melihatnya memasuki pintu rumah, diantar oleh Batara Guru sendiri. Batara Guru berterimakasih padaku dan kakang Bratasena, dan kamipun berterimakasih pada beliau karena sudah mendidik Gatotkaca hingga dia menjadi seorang pemuda yang gagah dan kuat.

Dia masih mengingatku, Pregiwa. Dia tidak menyalahkanku. Sepeninggal Batara Guru kupeluk anakku erat-erat. Aku tidak akan lagi membiarkan dia pergi. Tidak akan. Yah, begitu pikirku waktu itu. Aku bahagia saat dia memilihmu untuk menjadi pendamping hidup, dan kebahagiaanku lengkap dengan lahirnya Sasikirana.”

Arimbi menghentikan sejenak kalimatnya, menyusut air mata yang tiba-tiba mengembang di pelupuk matanya.

“Kamu ingat, Pregiwa, beberapa hari yang lalu Sasikirana pulang dari markas kemudian memberitahu ayah dan kakeknya bahwa Prabu Kresna memanggil mereka untuk emergency briefing?”

Pregiwa tercekat. “Tentu saja aku ingat, ibu, malam itulah terakhir kalinya aku melihat kakang Gatotkaca.”

“Sebenarnya waktu itu aku sudah tahu apa yang akan terjadi. Kamu pernah bertanya kenapa kakangmasmu dipanggil turun perang ke Tegal Kurusetra. Jawabannya cuma satu: garis hidupnya sendirilah yang mengantarkannya ke tempat itu. Prabu Kresna adalah titisan Batara Wisnu, dewa kebajikan yang mengetahui segala sesuatu baik yang pernah atau akan terjadi, dan sebagai panglima perang sekaligus tetua di kerajaan Hastinapura tentunya beliau punya pengaruh yang besar.

Di pusar Gatotkaca tertanam rangka pusaka Kunta Wijayadanu, sedangkan kerisnya dipegang oleh Adipati Karna. Kresna tahu kalau keris itu punya kekuatan yang luar biasa, dan ia pun mulai gentar. Sesungguhnya Karna hanya ingin membunuh satu orang saja, Pregiwa. Ia hanya ingin membunuh ayahmu. Dendamnya pada Arjuna sedemikian besar, sampai-sampai ia menyimpan Kunta Wijayadanu untuk mempertemukan Arjuna pada ajalnya.

Tapi bukan Prabu Kresna namanya kalau sampai tidak mampu weruh sakdurunge winarah (mampu melihat yang akan terjadi). Mengetahui isi hati Karna, ia segera memanggil Gatotkaca dan memintanya menghadapi Karna. Gatotkaca masih muda dan tak punya rasa takut akan apa yang dihadapinya, asal ia bisa melakukan sesuatu yang berguna untuk orang lain.”

Arimbi terdiam, matanya menerawang. Pregiwa menunduk sambil berusaha menahan air mata yang kembali tumpah.

“Sudahlah, Pregiwa. Ikhlaskan suamimu. Ia begitu disayang oleh para dewa, hingga mereka tak bisa berlama-lama menahannya di bumi.”

“Tapi kenapa, ibu? Kenapa harus suamiku?”, Pregiwa histeris.

“Karena takdir tidak dapat menuliskan kisahnya sendiri, nak.”

– f  i n –

P.S: Cerita ini saya ikutkan dalam “Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia” Blogger Competition

Gatotkaca, Kesayangan Para Dewa [1]

Arimbi terpekur sendirian di teras depan kamarnya, ditemani langit kelabu. Deru angin dan suara berdesing dianggapnya bak lalu lalang pedagang yang hendak pergi ke pasar saja. Ia tak peduli lagi akan perang Bharatayuda yang sedang terjadi beberapa ratus meter dari tempatnya bersimpuh; ia hanya mendambakan puteranya, Gatotkaca, segera pulang ke rumah. Ia juga merindukan suaminya, Bratasena. Tak ia lepaskan pandangannya dari rimbunnya pepohonan di depan rumah, sambil berharap dua orang kesayangannya ini muncul dari sana dan kembali ke pelukannya.

© arsusanto alexander, inspirasi foto dari Dji Sam Soe Photo Competition

“Ibu, sudah sore. Lebih baik ibu istirahat dulu. Saya sudah siapkan makanan kesukaan ibu.”

“Ah iya terimakasih, nak. Ibu di sini sebentar lagi.”

Tidak seperti cerita di dalam film Monster In Law, Arimbi menyayangi dan sudah menganggap menantu perempuannya itu seperti anaknya sendiri. Pregiwa adalah anak Arjuna, yang berarti ia adalah sepupu Gatotkaca. Tak menyalahi aturan, memang, lagipula saat itu Gatotkaca benar-benar sudah dimabuk cinta saat ia mengutarakan keinginannya pada Arimbi dan Bratasena untuk melamar Pergiwa ke rumah sang paman. Gatotkaca tidak salah pilih; tak hanya cantik, Pregiwa juga pandai mengambil hati mertuanya. Rasa sayang mereka makin bertambah saat Pergiwa melahirkan Sasikirana yang sekarang sudah beranjak remaja.

Arimbi masuk ke dalam rumah dan memergoki Pergiwa sedang menyeka air mata dengan selendangnya.

“Anakku, kenapa kamu menangis?”, tanya Arimbi sambil membimbing menantunya duduk di sofa ruang tamu.

“Tidak apa-apa, ibu. Saya tidak apa-apa…”

“Kamu pasti merindukan suamimu. Ibu juga bertanya-tanya kapan Gatotkaca pulang. Memang dia baru pergi beberapa hari, tapi sepertinya setiap detik ibu bertanya-tanya dalam hati apa dia bisa pulang dengan selamat atau tidak”, Arimbi menghela nafas.

Pergiwa makin terisak, wajahnya dibenamkan ke dalam selendang berwarna keemasan yang sudah basah oleh air mata.

“Suamimu adalah anak kesayangan para dewa, Pergiwa. Sini ibu dongengkan cerita masa kecil Gatotkaca.”

“Sebentar, ibu. Saya ambilkan dulu ubi cilembu rebus kesukaan ibu untuk teman mendongeng”, Pergiwa beranjak dari sofa ke arah dapur.

“Lho kalau ibu ngemil ubi nanti gimana bisa mendongeng?”

“Oh iya”, Pergiwa duduk lagi.

“Once upon a time, saat ibu baru hamil Gatotkaca ayahmu diberitahu oleh Batara Guru bahwa anak yang akan ibu lahirkan akan menjadi anak yang kuat dan berani. Tapi waktu ia lahir, tali pusatnya tidak bisa dipotong. Kakang Bratasena sudah mencoba berbagai macam senjata termasuk kuku Pancanaka miliknya, panah Pasopati milik ayahmu sampai set pisau dapur punya Farah Quinn. Nihil. Sementara ayah si jabang bayi hampir putus asa mencari senjata sakti ke seluruh negeri, dinda Arjuna pergi ke hutan untuk bertapa, mencari petunjuk dari para dewa.

Batara Guru memutuskan untuk membantu Arjuna dengan cara memberikan sebuah senjata berupa keris yang diberi nama Kunta Wijayadanu. Ada udang di balik bakwan… rupanya para dewa tahu bahwa Gatotkaca kecil akan menjelma menjadi anak yang luar biasa sakti, jadi sebagai balas jasa mereka meminta agar setelah tali pusatnya dipotong Gatotkaca dikirim ke kahyangan untuk menyelesaikan sebuah masalah.”

“Para dewa punya masalah yang tidak bisa diselesaikan sendiri? Kok bisa?”, Pregiwa penasaran.

“Hmm.. Jadi ada bidadari penghuni kahyangan bernama Dewi Supraba yang ditaksir oleh seorang raja bernama Prabu Nagapercona. Raja yang satu ini gak ada sopan-sopannya; dia menggedor-gedor pintu kahyangan ingin melamar Dewi Supraba sampai mengganggu seisi Jonggringsalaka. Para dewa tentu saja gak bisa melukai manusia begitu saja, jadi mereka butuh bantuan. Di saat yang sama, Gatotkaca baru saja lahir dan Arjuna bertapa untuk meminta petunjuk pada para dewa karena tali pusatnya tidak bisa dipotong. Ya… simbiosis mutualisme, begitu kira-kira.”

“Wow. Tapi kan kakang Gatotkaca waktu itu masih bayi. Bagaimana mungkin dia bisa menghadapi seorang dewasa?”

“Sebentar, I’ll get into that later. Proses pengiriman pusaka Kunta Wijayadanu tidak semulus perkiraan. Karena sedang pusing menghadapi Prabu Nagapercona, Batara Guru mengutus sang penasihat, Batara Narada untuk turun ke bumi dan memberikan Kunta Wijayadanu kepada Arjuna. Di saat yang sama Adipati Karna sedang bertapa untuk minta pusaka juga. Wajahnya yang mirip dengan Arjuna ditambah dengan Batara Narada yang sudah mulai tua membuat penasihat para dewa tersebut salah sasaran… Kunta Wijayadanu diberikannya pada Adipati Karna.”

“A-APAAAAAA???” *zoom in zoom out*

“Heh kamu ini kebanyakan nonton sinetron. Menyadari kesalahannya, Batara Narada bersama Arjuna menemui Adipati Karna untuk meminta kembali senjata yang salah kirim tadi. Tentu saja dia gak mau gitu aja ngasih. Arjuna maju, menantangnya bertarung. Saudara seibu yang sama-sama sakti itupun memperebutkan Kunta Wijayadanu yang berakhir seri; Adipati Karna mendapatkan kerisnya, Arjuna mendapatkan rangkanya. Batara Narada menyuruh mereka pulang ke rumah masing-masing. Arjuna tidak berhasil membawa pulang keris Kunta Wijayadanu, tapi toh rangkanya saja sudah bisa dipakai memotong tali pusat Gatotkaca. Tapi…”

“Tapi apa, ibu?”

“Tapi rangka keris itu masuk ke dalam pusar Gatotkaca dan tertanam di dalamnya.”

Pregiwa tersedak ubi cilembu. Mukanya seperti sedang membayangkan sesuatu.

“Eh, kenapa nak? Minum dulu.”

“Gak papa. Gak papa, bu…”

“Lanjut lagi. Sesuai kesepakatan dengan Batara Guru. Gatotkaca harus segera dikirim ke kahyangan. Sebelum menghadapi Prabu Nagapercona ia dilempar dulu ke kawah Candradimuka agar tubuhnya jadi kuat. Iya, dilempar gitu aja. Untung ibu gak dikasih tahu kalau bakal ada adegan lempar-lemparan macem gitu, kalau tahu pasti ibu gak akan mengijinkan bayi lucu itu dibawa ke kahyangan. But anyway, dasarnya sudah kuat dilempar ke kawahpun bukannya kepanasan dia justru jadi makin kuat. Para dewa pun melemparkan senjata-senjata canggih ke dalam kawah biar Gatotkaca makin sakti. Jadi kawah Candradimuka ini semacam booster gitu; selain jadi bertambah kuat, ia juga bertumbuh lebih cepat. Tak lama setelah dilempar ke dalam kawah, ia keluar dengan tubuh seorang remaja.”

Arimbi tiba-tiba terdiam.

“Ibu… ibu kehilangan masa kecil Gatotkaca. Saat dibawa ke kahyangan Gatotkaca masih kecil, masih menyusu siang dan malam. Saat dia kembali usianya kira-kira sudah belasan tahun. Ibu kan ingin mengajarinya berjalan, berhitung dan mendengar kata pertama yang diucapkannya. Tapi ya mau bagaimana lagi kalau itu sudah menjadi kehendak para dewa.”

Pregiwa menggenggam dan mengusap tangan ibu mertuanya.

“Setelah ia lulus dari pendidikan di kawah Candradimuka, Batara Guru menganugerahkan tiga pusaka padanya: rompi Antakusuma yang membuatnya bisa terbang tanpa sayap, caping Basunanda yang membuatnya tidak kena panas maupun hujan, dan sepatu Padakacarma yang membuatnya tidak takut di manapun berada. Dengan bekal kesaktian dan aksesoris-aksesoris canggih itulah Gatotkaca kembali ke Jonggringsalaka dan mengalahkan Prabu Nagapercona. Kahyangan pun kembali damai, dan Gatotkaca pamit pulang ke rumah Pringgodani.”

“Oh jadi begitu ceritanya. Lalu bagaimana ceritanya sampai kakang Gatotkaca dipanggil bertempur ke Tegal Kurusetra?”

“Waktu itu pakdemu Prabu Kresna –“

Ucapan Arimbi terhenti oleh suara ribut di luar rumah. Dari kegelapan muncul Bratasena dan Gatotkaca yang muncul dengan wajah sayu dan lelah.

“Ada apa, kakang?”, tanya Arimbi sambil mengelus kepala Bratasena yang langsung melemparkan tubuhnya ke atas kasur depan tivi.

Bratasena menghela nafas panjang, pandangannya sejenak dilepaskan ke arah Gatotkaca yang duduk di teras rumah bersama Pregiwa.

“Abimanyu gugur.”

(bersambung)

P.S: Cerita ini saya ikutkan dalam “Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia” Blogger Competition

Sebelum Aku Keramas Dengan Darahmu

Adalah seorang putri raja, Drupadi namanya. Ia adalah putri Raja Drupada dari negeri Pancala. Seperti cerita banyak putri raja lainnya, nasibnya dalam pernikahan ditentukan oleh sayembara memanah yang diadakan oleh sang ayahanda. Ribuan ksatria dari berbagai penjuru datang ke negeri Pancala untuk memperebutkan sang putri yang kecantikannya melegenda ini. Di sebuah padang yang luas berkumpullah mereka semua, dengan sebuah sasaran anak panah di tengah-tengah lapangan.

Satu persatu mencoba peruntungannya, termasuk Karna dan Salya. Para Pandawa pun datang dan mengikuti sayembara tersebut, namun saat itu mereka menyamar sebagai pertapa. Setelah cukup banyak yang gagal, akhirnya ada juga anak panah yang tepat mengenai sasaran: anak panah milik Karna. Seharusnya ia bisa membawa pulang Drupadi, namun sang putri raja ogah dengan alasan Karna hanya anak seorang kusir kereta. Karna menahan marah, mengundurkan diri dan menerima keputusan sang putri dengan setengah hati.

Setelah Karna undur diri, ada seorang kontestan yang dengan indahnya melesatkan anak panah tepat pada sasaran: Arjuna (yeah of course he’s like a god of an archer). Drupadi pun menerima kontestan tersebut sebagai seorang pemenang (kok sekarang mau?? karena Arjuna lebih tampan daripada Karna?) dan siap-siap diboyong sebelum kemudian kerusuhan terjadi di tengah para kontestan. Rupanya banyak pihak yang tidak terima kenapa seorang pertapa boleh memboyong pulang putri raja untuk diperistri. Kresna yang hadir pada sayembara tersebut mengetahui siapa pertapa canggih tersebut dan mengumumkan pada khalayak ramai bahwa pemenangnya adalah Raden Arjuna, seorang ksatria putra Prabu Pandu Dewanata. Oh. Semua kembali kalem. Dibawalah pulang Drupadi oleh para Pandawa dan dihadapkan pada Kunti, sang ibunda.

A little backstory: saat itu Pandawa Lima sedang hidup sebagai pertapa dengan ibu mereka, dan hidup dari belas kasihan orang lain. Sang ibunda meminta agar mereka berjanji bahwa apapun yang mereka dapat, pemberian dari siapapun, haruslah dibagi rata. Terkejutlah ibu Kunti saat anak-anaknya datang membawa seorang wanita. Apa boleh buat, janji adalah janji. Drupadi diperistri oleh kelima orang Pandawa. Versi aslinya gini sih, tapi di versi Jawa Arjuna mempersembahkan Drupadi untuk kakak sulungnya Yudistira. Lucky bastard.

Beberapa tahun kemudian, saat Yudistira sudah naik tahta menjadi raja di kerajaan Amarta…

Para Pandawa, dipimpin oleh Yudistira, sedang berjudi melawan Kurawa. Yudistira ini sebenarnya orang yang sabar, baik, adil dan sepertinya sempurna – kecuali dia suka bermain dadu yang rentan mengarah ke perjudian. Pihak Kurawa mengetahui hal ini dan memancingnya dalam sebuah tipu muslihat. Kurawa yang iri pada kerajaan Amarta menggoda Yudistira agar mempertaruhkan kerajaannya dalam permainan dadu. Yudistira yang penasaran ingin memenangkan permainan tidak hanya mempertaruhkan kerajaan melainkan juga saudara-saudaranya. Ouch. Ia kalah dengan dramatis, dan harus menerima nasib kehilangan kerajaan serta menjadi budak Kurawa. Oh, tunggu, masih ada satu hal yang bisa dijadikan taruhan. Drupadi. Ya, Yudistira menjadikan sang istri sebagai taruhan judi dadu. Guys, don’t even think to try this at home. Sekali lagi Yudistira harus menelan kekalahan yang tragis, dan jatuhlah Drupadi menjadi hak milik Kurawa.

Dursasana menyeret Drupadi ke tengah arena judi, dan mencoba menggoda Drupadi. Semakin Dursasana ngebet, semakin Drupadi meronta mencoba melepaskan diri. Sampai suatu saat Dursasana terlanjur gemas dan emosi, digerailah sanggulan Drupadi yang cantik dan ditariklah kain yang menyelubungi tubuhnya. Drupadi merasa terhina, karena rambut adalah kehormatannya sebagai seorang permaisuri dan kain panjang itu… don’t even mention it. Para Pandawa cuma bisa melihat karena mereka sudah tidak punya hak atas Drupadi. Bima hanya bisa bersumpah akan merobek-robek Dursasana dengan tangannya sendiri…

Drupadi dilucuti Dursasana

Dengan sisa-sisa harga diri yang masih dimilikinya, Drupadi berseru pada para dewa. Kain yang melilit tubuh Drupadi pun menjadi sangat panjang, membuatnya tak habis-habis meski tak henti dilucuti oleh Dursasana. Setelah capek dan tersadar bahwa nafsunya diinterupsi kekuatan gaib, Dursasana pun berhenti.

Entah bagaimana perasaan Drupadi waktu itu. Dijadikan taruhan judi dan dilecehkan di hadapan khalayak ramai tanpa seorangpun melawan untuk membelanya. Gak pernah diceritakan juga apakah setelah itu ia masih menyimpan dendam pada Yudistira atau yang lain, yang jelas detik itu Drupadi bersumpah untuk tidak akan menyanggul rambutnya sebelum ia mengeramasi rambutnya dengan darah Dursasana.

Tiga belas tahun kemudian, saat pecah perang Baratayuda…

Hari yang berat untuk Pandawa. Abimanyu tewas di tangan Jayadrata, dan Gatotkaca di tangan Adipati Karna. Kemarahan Bima naik sampai ke ubun-ubun dan ia pun teringat pada sumpah yang pernah diucapkannya, juga sumpah Drupadi. Dicarinya Dursasana. Ia mencoba sembunyi dari Bima, tapi akhirnya ketemu juga. Dua orang sakti tersebut saling melempar jurus andalan masing-masing, tapi toh Bima jauh lebih unggul dari Dursasana, apalagi dalam keadaan murka begitu. Bima menarik tangan Dursasana dan merobeknya, kemudian kuku Pancanaka-nya mencabik leher Dursasana, mengalirkan darah segar yang ditampungnya di sebuah wadah. Dipersembahkannya darah Dursasana pada Drupadi yang kemudian mengeramasi rambut dan menebus sumpah yang pernah diucapkannya.

Bima sudah puas, sumpahnya terbayar lunas. Demikian juga dengan sang permaisuri. Tegal Kurusetra sore itu memerah, semerah rambut Drupadi.

Jatayu dan Sempati

Bukan tentang maskapai penerbangan ya ini…

Alkisah di wiracarita Ramayana hiduplah dua ekor kakak adik rajawali yang gagah perkasa, raja di antara para burung. Mereka bernama Aruna dan Garuda. Aruna punya anak yang diberi nama Jatayu, sedangkan anak sang Garuda bernama Sempati. Jatayu dan Sempati adalah teman sepermainan, dan hubungan mereka berdua erat sekali. Waktu sama-sama masih kecil, Jatayu dan Sempati berlomba terbang ke arah matahari. Mungkin karena hanya ingin bersenang-senang mereka tidak berpikir bahwa teriknya sinar matahari bisa sangat melukai. Saat sudah semakin mendekat ke matahari, sayap Jatayu mulai terbakar. Sempati yang lebih tua pun langsung bergerak cepat melindungi sang adik dengan sayapnya. Sayapnya sendiri terbakar, dan saat ia sudah tak kuat menahan lagi mereka berdua pun jatuh ke tanah, di tempat yang berbeda. Sejak itulah Sempati tak pernah lagi melihat Jatayu.

Bertahun-tahun kemudian…

Jatayu sedang duduk di atas dahan pohon saat dia mendengar suara ribut-ribut dan teriakan seorang wanita. Di udara dilihatnya Rahwana sedang membawa Sita yang menjerit-jerit. Jatayu berteman dengan Prabu Dasarata dari Ayodya, ayahanda Rama, dan ia pun mengenal Sita. Ia memutuskan untuk mencegah Rahwana menculik Sita. Pertempuran sengit terjadi di udara, tapi sayang sekali sang Jatayu yang sudah tua tak mampu melawan kesaktian Rahwana. Tebasan pedang Rahwana mematahkan sayapnya sehingga Jatayu terhempas ke tanah.

Jatayu vs Rahwana

Pada saat yang bersamaan, Rama dan Laksama sedang panik mencari-cari Sita yang hilang. Melewati hutan rimba, mereka melihat ada darah berceceran. Diikutinya jejak darah tersebut dan dilihatlah Jatayu yang kehilangan sebelah sayapnya sedang sekarat. Melihat Rama dan Laksaman, Jatayu menceritakan apa yang terjadi – bahwa Sita telah diculik oleh Rahwana dan sepertinya dibawa ke Alengka. Sayang sekali ia tak tahu kemana Rahwana membawa Sita pergi. Melihat Jatayu sudah hampir menghembuskan nafas terakhirnya, Rama memberi hormat pada burung yang mulia itu dan memercikkan air suci pada jenazahnya. Pada Kakawin Ramayana, dikisahkan Rama bersabda demikian:

Hé Jatayu mahā dibya, wênang dharaka ring hurip, sangka ryasih ta mamitra, bapangku kalulut têmên, tumuluy têka ring putra, ah ō dibyanta hé kaga. Sêdêng tat mahurip nguni, bapangku mahurip hidêp, ri pêjah ta kunêng mangke, menyak uwuh-uwuh

(Hai Jatayu yang maha mulia, sungguh kuat dikau mempertahankan jiwa. Karena cinta kasihmu bersahabat terhadap ayahku lekat sekali, berkelanjutan sampai kepada aku, puteranya. Amatlah mulia wahai dikau burung perkasa. Tatkala engkau masih hidup tadi, ayahku kurasakan masih hidup, sekarang ketika engkau telah meninggal, sungguh bertambah sedih hatiku).

Demikianlah Jatayu gugur membantu Rama…

Lalu apa yang terjadi dengan Sempati? Ternyata dia jatuh ke pesisir dan hidup di gua. Sayapnya habis terbakar sehingga ia tak bisa terbang lagi. Setiap hari ditunggunya bangkai binatang dibawa ombak ke pantai sebagai makanan. Suatu hari ia mendengar di luar gua ada beberapa pasukan kera yang didampingi Hanoman sedang berbicara tentang Rama yang belum juga menemukan Sita. Awalnya ia tak peduli dan malah ingin memangsa mereka, sampai terdengarlah padanya saat pasukan kera tersebut membicarakan Jatayu yang gugur demi menyelamatkan Sita dari tangan Rahwana. Seketika Sempati menangis tersedu-sedu, merasa sangat sedih karena harus mendengar kabar sang adik saat ia sudah meninggal.

Sempati pun memutuskan untuk membantu kelompok itu. Keluarlah ia dari guanya dan menemui Hanoman. Hanoman memperkenalkan dirinya dengan sopan, kemudian bertanya apakah Sempati melihat ada seorang wanita dibawa oleh raksasa. Sempati pun mencari tahu dari mana asal pasukan kera tersebut dan menanyakan apa yang terjadi pada Jatayu. Mengetahui bahwa adiknya gugur karena melakukan perbuatan baik, ia kembali merasa sedih dan menyesal karena sempat ingin memakan para pasukan kera. Sebagai balasan atas berita tentang Jatayu yang didengarnya dari Hanoman, Sempati membantu mereka menemukan di mana Sita berada.

Sempati dan pasukan kera

Sebagai rajawali, Sempati memiliki penglihatan yang sangat baik. Ia bisa melihat jelas meskipun dalam jarak yang sangat jauh. Ia memandang sejenak jauh ke lautan lepas, lalu memberitakan bahwa Sita masih hidup dan ditawan oleh Rahwana di Alengka. Hanoman pun berterimakasih pada Sempati, lalu mereka pamit pada Sempati untuk bersiap-siap ke Alengka. Tak lama kemudian bulu-bulu di sayap Sempati yang terbakar tumbuh lagi; ia mendapat anugerah dari para dewa karena sudah membantu Rama, titisan dewa Wisnu.

Nah, jadi pesan moral apa yang kamu dapat dari cerita ini, anak-anak?

Abimanyu, Sumpahmu Palsu!

Raden Abimanyu adalah anak Raden Arjuna dengan Dewi Sembadra, adik dari Prabu Kresna yang menjadi senapati perang Pandawa saat Bharatayuda berlangsung. Anak ini unik… Sejak dari dalam kandungan dia sudah mendapat Wahyu Hidayat, yaitu ilmu untuk bisa mengerti banyak hal. Ilmu inilah yang membuatnya menjadi jauh lebih bijaksana daripada anak-anak seusianya. Alkisah saat Abimanyu sedang berada di dalam kandungan, sang ibu sedang berdiskusi dengan Kresna tentang teknik peperangan. Kresna menceritakan bahwa Kurawa punya satu strategi perang yang cukup berbahaya, namanya Cakrawyuha. Strategi ini memungkinkan Kurawa untuk mengepung Pandawa hanya dalam beberapa langkah saja dan tidak memungkinkan seseorang yang sudah terlanjur masuk ke dalam kepungan formasi tersebut untuk keluar hidup-hidup.

Katanya (ini katanya yang udah pernah lho) ibu hamil itu kadang kan suka ngantuk. Nah bumil Sembadra ini kok ya lagi diajak cerita serius sama kakaknya malah tidur, padahal saat itu Kresna sedang menjelaskan bagaimana cara keluar dari cakrawyuha dengan selamat. Jadilah Abimanyu yang saat itu sedang dalam kandungan hanya sempat mendengar cara menembus cakrawyuha tanpa tahu bagaimana cara keluar darinya.

Setelah lahir, Abimanyu tinggal di Dwaraka. Dia diajari berbagai macam kebijaksanaan serta olah kanuragan dari sang pakdhe, Prabu Kresna. Setelah ilmunya dianggap cukup, Abimanyu pergi “berburu” Wahyu Cakraningrat ke Alas (hutan) Krendawahana. Hutan ini dikenal angker, tempat tinggal Betari Durga serta berbagai macam jin serta raksasa sakti. Tidak ada orang yang bisa pergi ke sana tanpa dicabut nyawanya oleh para penghuni.

Wahyu Cakraningrat adalah sebuah wahyu (anugerah yang dikaruniakan kepada manusia oleh para dewa) yang akan menjadikan anak-anak sang pemilik wahyu menjadi seorang raja. Tak sedikit dari para pemuda menginginkannya dan memberanikan diri masuk ke Alas Krendawahana. Bersama Abimanyu ada dua pemuda yang juga berburu Wahyu Cakraningrat: Laksmana Mandrakumara, putra Prabu Duryudana dari Hastinapura dan Samba Wisnubrata, putra Prabu Kresna dari Dwarawati.

Dalam perjalanan masuk ke hutan mereka harus menghadapi banyak marabahaya yang datang dan ditimbulkan oleh penghuni Alas Krendawahana. Meskipun demikian, pangeran-pangeran muda ini bisa mengalahkan semua rintangan. Setelah berhasil masuk ke tengah hutan mereka mulai mengambil posisi bertapa dan melakukan meditasi untuk membersihkan hati dan jiwa supaya siap menerima wahyu.

Pada suatu malam muncullah seberkas sinar di tengah Alas Krendawahana; sinar itulah Wahyu Cakraningrat yang mencari seseorang yang layak untuk ditinggalinya. Pertama ia masuk ke raga Laksmana Mandrakumara. Merasa tujuannya sudah tercapai, iapun menghentikan meditasinya dan malah pergi merayakan keberhasilannya dengan berpesta, makan minum sampai mabuk. Wahyu Cakraningrat pun keluar karena mendapati bahwa level ketahanan putra mahkota Hastinapura ini baru sampai pada hawa nafsu makan dan minum saja.

Second attempt: Wahyu Cakraningrat mencoba masuk ke raga Samba Wisnubrata. Pangeran satu ini adalah putera dari Prabu Kresna yang dikenal bijaksana. Tak salah memang, karena Samba juga dikenal bijaksana selain tampan (betul, Raden Samba ini dianggap sangat tampan hingga ada istilah “Samba pradan” untuk menggambarkan level ketampanan maksimum seorang lelaki – Samba pradan artinya Samba yang berhias). Nah setelah memperoleh Wahyu Cakraningrat Samba meneruskan meditasinya. Tak lama kemudian datanglah Betari Durga dalam wujud seorang wanita yang sangat cantik. Ia merayu pangeran tampan ini, dan sayang sekali sang pangeran tergoda… Sekali lagi pergilah Wahyu Cakraningrat dari seorang kandidat potensial yang sayangnya jatuh karena nafsu terlarang. Halah.

Third attempt: Abimanyu. Ia bersyukur mendapatkan Wahyu Cakraningrat dan berusaha untuk menjaganya dengan hati-hati. Betari Durga kembali datang dalam wujud wanita cantik, namun Abimanyu tidak tergoda meskipun dikejar-kejar. Oleh karena keteguhan hatinya, Betari Durga justru berubah wujud kembali sebagai seorang raksasa dan meminta maaf kepada Abimanyu karena sudah mengganggu. Demikianlah Wahyu Cakraningrat jatuh kepada Abimanyu dan kelak anaknya, Parikesit, akan menjadi seorang raja yang memerintah Hastinapura menggantikan prabu Yudistira karena para Pandawa memilih untuk meninggalkan kerajaan setelah perang Bharatayuda berakhir.

Prabu Kresna memiliki seorang anak gadis bernama Siti Sundari. Ia sudah lama berpacaran dengan Abimanyu, dan saat kerajaan Amarta dipimpin Gatotkaca akan melamar Siti Sundari untuk Abimanyu datanglah juga utusan kerajaan Hastinapura melamarkan Siti Sundari untuk Laksmana. Balas dendam antar abege ini kayaknya…

Anyway, Prabu Kresna yang awalnya akan menikahkan sang putri dengan Abimanyu berubah pikiran karena utusan Hastina dipimpin oleh Prabu Baladewa, kakaknya sendiri. Surat penolakan pun dikirim ke Amarta, yang berbuah kemarahan Abimanyu sampai ia nyaris menghajar sang kurir yang tak bersalah. Arjuna menghentikan Abimanyu dan kemudian memarahinya. Sang pangeran yang ngambek karena lamarannya ditolak plus diomeli sang ayah pun minggat bersama para punakawan.

Di istana Arjuna masih menghadapi saudara laki-lakinya, Bima, yang mengamuk dan mengancam akan mengobrak-abrik kerajaan Dwarawati yang berani menolak lamaran sang keponakan. Abimanyu pergi ke hutan dan bertemu dengan seseorang yang mengaku “adi ari-ari”, yang artinya saudara yang lahir bersamaaan dengannya. “Adik” Abimanyu yang mengaku bernama Bambang Aryo Bimo ini bisa berubah wujud menjadi siapapun. Ia menerbangkan Abimanyu ke Dwarawati dan mempertemukannya dengan Siti Sundari. Di situ sang putri baru bisa menjelaskan bahwa bukan ia yang menolak lamaran sang pujaan hati, melainkan sang ayah yang merasa tidak enak dengan kakaknya.

Bambang Aryo Bimo memulai aksinya. Ia menyuruh mbok emban (pengasuh) Siti Sundari untuk mengabarkan kepada penghuni istana Dwarawati bahwa di istana ada maling. Dikeluarkanlah ajiannya dan ia menyamar menjadi Raden Jayasamba dan kemudian mengalahkan Raden Jayasamba yang asli. Ia juga berubah menjadi Prabu Baladewa dan berperang dengan Prabu Baladewa yang asli. Prabu Kresna pun tak bisa mengenali mana yang asli, sampai datanglah Arjuna dan menantangnya. Bambang Aryo Bimo tidak berani berganti rupa dan berperang dengan Arjuna, karena melawannya akan seperti melawan orangtua sendiri. Demikianlah kerusuhan berakhir dan menikahlah Abimanyu dengan Siti Sundari.

Perang Bharatayuda semakin hot dan kedua pihak berusaha mencari sebanyak mungkin dukungan. Suatu hari Abimanyu dan Gatotkaca pergi ke Wirata, dan bertemulah ia dengan Dewi Utari. Entah lupa kalau dia sudah punya istri atau berniat mencari dukungan dari kerajaan Wirata, mulailah Abimanyu menggoda Dewi Utari hingga sang puteri jatuh cinta juga padanya. Entah kenapa sepupunya, Gatotkaca, juga tidak mencegah sama sekali…

Siti Sundari mulai menyadari kepergian sang suami yang lebih lama dari biasanya. Ia mengirimkan pamannya, Kalabendana, untuk menyusul ke Wirata. Tak disangka, sampai Wirata ia melihat keponakannya asyik pacaran dengan Utari. Ia menyeret sang keponakan dan memarahinya, mengingatkan bahwa ia melakukan hal yang tidak pantas. Gatotkaca merasa Kalabendana justru mengganggu sepupunya, dan menantangnya perang. Tak sengaja, sang paman menyentuh tangan kiri Gatotkaca yang punya kekuatan superpower. Tangan itu kemudian memukul Kalabendana dan membunuhnya. Satu hal yang disesali Gatotkaca hingga matinya…

Tapi apa yang terjadi, sodara-sodara… Utari rupanya mendengar pembicaraan Kalabendana dengan Abimanyu, bahwa sebenarnya Abimanyu sudah punya istri. Yang selanjutnya terjadi adalah seperti yang sangat mungkin terjadi di FTV atau sinetron:

Utari: Kakang Abimanyu! Apakah benar apa yang aku dengar tadi, bahwa kakang sudah punya istri?

Abimanyu: Sayangku Utari, kamu pasti salah dengar… Aku belum punya istri, aku masih muda dan masih perjaka!

Utari: Kamu.. Benar kamu belum punya istri, kakang?

Abimanyu: Sumpah, Utari sayang… Dengar, ini kakangmu bersumpah: kalau aku bohong biarlah aku mati di bawah pedang, dengan banyak anak panah yang menancap di seluruh tubuhku atau senjata apapun di dunia ini!

Utari: Kakang… 😐

Abimanyu: Sekarang kamu percaya?

Utari: Percaya, kakang. *hugs*

Abimanyu: *hugs back*

Yah, kira-kira begitu. Tapi benar, Abimanyu bersumpah seperti itu tanpa menyadari bahwa dewa-dewa mendengar dan akan mengabulkan sumpah yang ia buat sendiri.

Tererererererereeettttt… Tegal Kurusetra, hari ketigabelas. Sangkakala dibunyikan dan kedua pihak yang berperang sedang bersiap. Kurawa menantang Pandawa, apa mereka berani mematahkan formasi cakrawyuha. Yang mengenal dan bisa mematahkan formasi ini hanya tiga orang: Bima, Arjuna dan Abimanyu. Mereka memutuskan untuk menerima tantangan tersebut dan membagi tugas: Bima dan Arjuna akan membuka jalan, Abimanyu akan masuk dan mengalahkan sebanyak-banyaknya musuh, kemudian Bima dan Arjuna akan kembali membantu Abimanyu untuk keluar dari formasi tersebut. Harusnya Abimanyu tidak turun ke medan perang karena masih terlalu muda, selain itu juga karena istrinya sedang hamil anak laki-laki yang akan dinamainya Parikesit, calon raja Hastinapura. Meskipun demikian ia berani mengemban tanggung jawab yang begitu besar dan bersedia menempuh apa saja demi membela kerajaan Amarta.

Ibarat lari marathon, mereka memulainya dengan sprint. Di awal memang ketiga ksatria Pandawa ini bisa membabat formasi cakrawyuha meskipun pasukan Kurawa yang membentengi seperti tak ada habisnya. Di tengah perjalanan, Bima dan Arjuna dicegat oleh Jayadenta dan Kartamarma dan dibawa ke tepian formasi yang bentuknya seperti labirin spiral, meninggalkan Abimanyu sendirian. Masih ingat waktu Kresna sedang bercerita pada Sembadra tentang cakrawyuha dan bagaimana cara mematahkannya, kemudian Sembadra tertidur? Karena bumil Sembadra ketiduran itulah Abimanyu hanya tahu bagaimana menembus formasi dan mengalahkan sebanyak mungkin musuh yang datang, tapi dia tak tahu bagaimana cara keluar dari formasi yang mengepung tersebut.

Sementara memutar otak, ia berhasil membunuh Laksmana Mandrakumara, putra mahkota Hastinapura dengan cara melemparkan kerisnya menembus empat orang prajurit ke arah Laksmana. Duryudana yang melihat kejadian ini marah besar, sampai-sampai ia memerintahkan para prajurit dan ksatria Kurawa mengepung Abimanyu. Karna menghancurkan busur Abimanyu dari belakang, yang lain menghancurkan keretanya sampai ia terjatuh kemudian beramai-ramai melepaskan anak panah ke tubuh Abimanyu yang sedang sendirian menangkis serangan bala Kurawa. Yang terakhir adalah hantaman gada milik Jayadrata, yang membuat remaja berusia 16 tahun ini gugur di medan peperangan.

Apa yang dilakukan Kurawa sangatlah keji dan tidak gentle, karena peraturannya dalam berperang tidak boleh keroyokan, tapi yah memang dengan cara seperti ini lah Abimanyu harus menemui ajalnya. Persis seperti sumpah yang pernah diucapkannya sendiri…

Tagged , , ,