Rss Feed
Facebook button
Calendar
September 2010
M T W T F S S
« Aug    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
Archives
Shout!

ShoutMix chat widget
INDONESIANabroad.com
Add to Technorati Favorites
Coin A Chance

Archive for the ‘folks’ Category

Pisang Molen Ibu

Ada seorang anak laki-laki bernama Mahar. Ia tinggal dengan ibu dan kakak-kakaknya, sedangkan ayahnya telah tiada. Ibu si Mahar sudah tua dan sakit-sakitan, sehingga biasanya beliau hanya berbaring di tempat tidur saja.

Suatu pagi, Mahar mendekati ibunya dan meminta uang saku untuk sekolah, seperti biasa. Ibunya memberikan semua uangnya yang disimpan di bawah bantal. Sambil terbata-bata ibunya mengambil uang dari balik bantalnya dan berkata,

“Uang ibu cuma ada segini.”

Mahar masih meminta uang saku tambahan dengan alasan ada kegiatan ekstra kurikuler, namun sang ibu sudah tak punya uang lebih.

“Uang ibu tadi sudah habis untuk beli pisang molen buat kamu, Mahar. Kamu makan pisang molennya untuk sarapan ya?”

Meskipun pisang molen adalah makanan kesukaannya, namun Mahar sudah terlanjur kesal dan langsung pergi meninggalkan ibunya. Setelah menutup pintu rumah Mahar menendang pot bunga kesayangan ibunya di pekarangan.

Mungkin kaget, sang ibu tertatih beranjak bangkit dari tempat tidurnya dan mengetuk kaca memanggil Mahar, karena tak kuat lagi ia bersuara. Mahar menengok ke belakang dan melihat ibunya menunjuk ke arah piring berisi pisang molen, berharap Mahar kembali mengambil dan memakannya.

Namun sepertinya perut Mahar sudah kenyang dengan kekesalan. Ia tak peduli dan langsung pergi ke sekolah. Sepulang sekolah, Mahar menengok kamar ibunya dan melihat ibu sedang tidur di kamarnya. Tanpa mengganti baju atau pamit, karena masih merasa kesal, Mahar langsung pergi main ke rumah temannya.

Sampai larut malam Mahar masih bersama teman-temannya yang saat itu sudah mulai mabuk, meskipun Mahar sendiri tidak ikut minum. Ketika arlojinya menunjukkan waktu sekitar pukul 9 malam, lewatlah seorang ibu dan berkata,

“Hei sudah malam kenapa kalian malah duduk-duduk di pinggir jalan, sudah pada sholat belum?”

Tiba-tiba Mahar teringat ibunya di rumah. Ia berpamitan pada teman-temannya, tapi dicegah oleh mereka karena hari belum terlalu malam. Setelah cukup lama mereka duduk-duduk di pinggir jalan, Mahar melihat bulan dan sekali lagi teringat pada ibunya. Lagi-lagi teman-temannya mencegah ia pulang. Akhirnya ia menginap di rumah salah satu temannya.

Paginya sekitar pukul 8, Mahar pulang ke rumah dengan santainya. Tak disangka, di depan gang rumahnya sudah ada tukang ojek yang menunggunya. Mahar bingung tapi bapak tukang ojek itu hanya bilang,

“Sudah ayo naik, kamu sudah ditunggu dari tadi malam.”

Sesampainya di rumah, Mahar melihat ada banyak orang berkumpul. Kakak-kakaknya menghambur ke luar memeluk Mahar sambil terisak.

“Ibu kita sudah meninggal”, kata mereka.

Seketika itu juga Mahar menangis penuh rasa dosa, dan sayang sekali Mahar tak dapat melihat wajah sang ibu untuk terakhir kalinya karena jenazah ibunya telah dibersihkan dan siap untuk dimakamkan. Kemudian salah satu kakak Mahar menyodorkan piring berisi pisang molen dan berkata,

“Ini makan pisang molen dari ibu, sebelum meninggal ibu memanggil-manggil namamu dan menitipkan pesan agar pisang molen yang disimpannya di lemari itu diberikan kepadamu.”

Semakin tersedu isak tangis Mahar, sambil memakan pisang molen itu Mahar berkata dalam hatinya, “maafkan saya, ibu…”

PS : ini kisah nyata, cerita teman saya Mahar.. Sampai speechless saya. Silakan ditarik sendiri ya pesan moralnya.

Kopdar dan Undian Kuis!

Halooooo..

Akhir pekan ini saya ke Frankfurt, main-main sekalian kopdar sama Sherine yang berdomisili di sana. Frankfurt kota yang sangat modern dibandingkan dengan Rotterdam, kota yang paling modern di Belanda.

Saya sampai di Frankfurt Airport hari Jumat jam 9 malam, meskipun masih rada terang tapi kerasa juga capeknya apalagi saya hari itu masih ngantor. Sherine menjemput saya di stasiun Frankfurt Hbf, dan ketika saya keluar dari eskalator, sepertinya dia langsung mengenali saya dan menghambur memeluk saya :fufu:

Sherine and Me

Malamnya Sherine tanya saya mau kemana esok harinya. Hmm.. Kata Sherine sih gak terlalu banyak yang bisa dikunjungin di Frankfurt, tapi dia merekomendasikan museum sejarah alam Senckenberg untuk dikunjungi.

Biaya masuk museum ini sebenernya 6 euro per orang, tapi Sherine punya kupon yang dia dapat dari city hall yang memungkinkan kita membeli satu tiket saja untuk dua orang. HORE !!!

Seperti pada umumnya Natural History Museum, di dalamnya ada replika dinosaurus, fosil, batuan dan sejarah bumi lainnya. Bahkan ada simulasi gunung berapi! Jadi setiap beberapa menit, gunung api simulasi ini (meniru salah satu gunung api di Filipina) menyemburkan asap seolah-olah sedang erupsi. Gak termasuk lava sih, hehehe..

Dinosaurus

Menurut saya museum ini keren. Anak-anak bahkan orang dewasa bisa banyak belajar tentang sejarah bumi dan alam semesta.

Sepulang dari museum, saya dan Sherine makan es krim dan pancake di Romer square, sambil ngobrol-ngobrol menunggu senja. Setelah puas makan es krim dan beristirahat, kami duduk-duduk di tepi sungai Main. Gak lama kemudian, teman Sherine yang bernama Mahar datang. Kami bertiga makan di sebuah restoran Italia, gak jauh dari sungai Main.

banana split

Sambil makan kami bercerita tentang banyak hal. Saya dan Sherine sempat merayu Mahar agar membuat blog juga, karena ngeblog bisa menambah teman dan juga pengalaman. Eh gak disangka malamnya Mahar langsung membuat blog dan posting disitu. Silakan dicek deh di blognya Mahar. Postingan pertamanya bikin saya terharu :((

Yah hari Sabtu berlalu cepat sekali. Kami pun pulang dan istirahat setelah membungkus pizza untuk sarapan berdua.

Read the rest of this entry »

Mengapa Beo Menirukan Suara?

Dahulu kala, hewan-hewan di hutan bisa berbicara seperti manusia. Mereka bercakap, bekerja sambil bercakap, juga hidup rukun dan damai. Pada suatu hari Ibu Peri Penjaga Hutan mengumpulkan penghuni rimba. Ia berkata,

“Anak-anakku, Sang Pencipta telah menciptakan makhluk baru. Namanya manusia. Sang Pencipta memutuskan bahwa manusialah yang akan berbicara dengan bahasa kita. Dan kita diperintahkan untuk mencari bahasa dan suara baru untuk kita pakai mulai saat ini.”

Pada mulanya para penghuni rimba terkejut. Namun mereka sadar bahwa tidak mungkin menolak kehendak Sang Pencipta.

“Ibu Peri Penjaga Hutan, kami tunduk kepada kehendak Sang Pencipta. Tapi sekarang kami belum bisa mencari bahasa baru untuk kami pakai. Berilah kami waktu,” ujar Singa mewakili teman-temannya.

“Aku mengerti. Kalian diberi waktu satu minggu. Kalian akan berkumpul lagi disini dan memberitahu padaku bahasa apa yang kalian pilih. Setelah itu, pakailah bahasa serta suara itu, dan lupakan bahasa manusia.”

Maka pulanglah penduduk hutan ke tempat masing-masing. Mereka mulai berpikir keras untuk mencari suara yang gagah dan cocok untuk mereka masing-masing.

Begitulah, hari demi hari penduduk hutan sibuk bersuara. Mencari-cari suara yang akan mereka pakai selanjutnya. Singa yang telah dinobatkan sebagai raja hutan karena keberaniannya, lebih dahulu memilih suara mengaum.

“Aouuuuum,” katanya dengan gagah memamerkan suaranya. Penduduk hutan yang lain senang mendengarnya. Mereka merasa suara itu pas benar dengan bentuk tubuh singa yang gagah.

Tapi tidak semua hewan senang mendengarnya. Burung Beo yang usil malah menertawakan suara itu.

“Hahaha, mirip orang sakit gigi,” cetus Beo sambil tertawa terbahak-bahak.

Singa sangat malu mendengarnya.

Begitulah, hari berganti hari, semuanya mencoba berbagai suara kecuali Beo. Ia sibuk mengejek suara-suara yang berhasil ditemukan.

“Hahaha, seperti suara pintu yang tidak diminyaki,” ejek Beo kepada Jangkrik yang menemukan suara berderik.

“Hahaha, kudengar nenek-nenek tertawa,” ejeknya kepada Kuda.

“Ban siapa yang bocor? Hahaha,” ia menertawakan suara desis Ular.

Begitulah pekerjaan Beo setiap hari. Ia sibuk mengintip dan menertawakan penduduk hutan lainnya yang mencoba suara baru. Teman-temannya tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka malu dan langsung menghindar dari Beo. Tapi Beo selalu berhasil menemukan dan menirukan suara mereka.

“Mbeeeek,” tirunya ketika melihat Kambing.

“Ngok-ngooook,” tirunya ketika melihat Babi.

Tak terasa sudah satu minggu. Penduduk hutan harus berkumpul kembali untuk mengumumkan suara yang mereka pilih.

Ibu Peri Penjaga Hutan memanggil mereka satu per satu. Beo saja yang masih saja tertawa. Ia pikir teman-temannya bodoh, karena suara yang mereka temukan lucu-lucu.

Tibalah giliran Beo untuk mengumumkan suara barunya. Ia maju ke depan.

“Mbeeeek,” jeritnya.

“Hei itu suaraku,” kata Kambing.

Yang lain tertawa.

Beo tertegun. Ia baru sadar, selama ini ia terlalu sibuk mengejek teman-temannya sehingga lupa untuk mencari suaranya sendiri.

“Muuu,…guk-guk,…meong,” Beo panik. Ia menirukan saja suara yang pernah ia dengar. Tentu saja Sapi, Anjing, dan Kucing tertawa terbahak-bahak.

Beo sangat malu. Akhirnya ia menangis tersedu-sedu. Ia minta maaf kepada teman-temannya.

Dengan tersenyum Ibu Peri Penjaga Hutan berkata, “Sudahlah, kamu akan tetap kuhadiahkan sebuah suara. Tapi sebagai pelajaran, kau akan tetap menirukan suara orang, sehingga kau akan ditertawakan selamanya.”

Begirulah riwayatnya, mengapa burung beo selalu menirukan suara-suara.

*disadur semampu dan seingatnya *halah* dari majalah Bobo

Kuis Bilangan Prima

Saya lagi pengen bikin kuis nih. *iseng*

Kuisnya apa?

Simple aja. Pada tau kan bilangan prima itu apa? Buat yang udah lupa, bilangan prima adalah bilangan asli yang cuma bisa dibagi dengan 1 dan bilangan itu sendiri. Contohnya angka 3, cuman bisa dibagi dengan 1 dan 3. Bilangan 4 bukan bilangan prima karena 4 bisa dibagi dengan 2.

Jadi dalam angka 0-9 yang termasuk bilangan prima adalah 2, 3, 5, dan 7. Sebagai perkecualian, kali ini angka 0 dan 1 saya perbolehkan untuk dianggap sebagai bilangan prima… Hihihi

prime-phone-number

prime-phone-number

Nah, coba cek nomer henpon dan/atau nomer telp kantor/telp rumah kalian. Buat yang semua digitnya terdiri dari bilangan prima, silakan lapor ke e-mail saya di christin.rina@gmail.com ya. Sebutin nama, , alamat blog (kalau ada), dan nomer yang didaftarkan :fufu:

Q : Lha ya gak mungkin, kan semua nomer henpon depannya 08?

A : Iya betul sekali. Jadi yang kita perhitungkan adalah digit setelah nomer 08 itu tadi. Yang 08-nya gak usah diitung. Untuk nomer PSTN, semua digit diperhitungkan termasuk kode area.

Satu orang boleh lho ngedaftarin lebih dari satu kombinasi nomor, yang penting jujur ya ;))

Hadiahnya apa?

Hadiahnya DVD (ori lhooo) dan kejutan2 lain yang bakal saya selipin. Untuk filmnya nanti saya kasih list dan pemenangnya boleh milih yang mana.

Gampang kan? Silakan kirim-kirim mulai sekarang. Batas akhirnya tanggal 30 Juli ya! Kalo mau boleh kasih tau temen-temennya juga lho  :)

PS : kalo kalian udah kirim e-mail ke saya, tolong kasi tau juga di kolom komen ya, siapa tau ada e-mail yang nyasar ke kotak sampah :lol:

your life, on the line

I love this tagline. Whoever had the idea, you’re a genius, man.

I’ve been signed up for Plurk since July 2008, roughly a month after Plurk has been released. These almost-two-years journey gives me a lot of sights. Plurk has been one of the miracles ever happened in this universe. By any means. Once my friend said, no matter how bitter your day was, plurk can always make you smile again :)

I live here abroad, far from my country where my loved ones live. Most of the times I found Plurk as a serene sanctuary, where I can be myself and express whatever feelings and things I’ve been through. I made plurks and got responses. Sometimes advices, short responses, or merely emoticons.

Then a bad day has been cured.

I found many friends here. On November 2008 I went back home from Netherlands to Indonesia. Turns out I forgot to book my connecting flight from Jakarta to my hometown. A plurk friend offered her help to book (and buy!) the plane ticket for me. She even brought the ticket all the way to the airport so I could manage to catch my connecting flight. I never met her before. We’ve been friends in plurk for just about 3-4 months.

And we’re still friends ever since. Surprise surprise, this particular friend last year met a plurk friend. They got along so well, and not so long after they got engaged in the end of the year. They finally got married last February.

Life is like a box of chocolates, Forrest Gump said. You’ll never know what you’re gonna get. So does plurk. You’ll never know what life will bring you.

Just move your life, on the line. Cheers.

Switch to our mobile site