Archive for the ‘life’ Category
Pada Suatu Sore
“Hei kamu, kenapa diam saja”, wanita cantik di depanku itu mengacung-acungkan sendok ke arahku.
“Hahaha, dasar iseng. Lagi ngelamun”, kataku sambil menyentuh ujung hidungnya yang mancung.
Dinner in bed, acara favorit aku dan Rini menghabiskan Sabtu sore. Ketika matahari mulai terbenam biasanya aku mengajaknya bercinta terlebih dahulu, lalu ia akan ke dapur membuatkan makan dan membawanya ke tempat tidur. Kami sarapan di tempat tidur sambil nonton tivi dan ngobrol saja. Tapi yah, salah dia sendiri, memasak hanya mengenakan piyama bagian atas. Setelah sarapan habis, biasanya kumakan lagi dia :D
Aku jatuh cinta hanya ketika pertama kali melihatnya dua bulan yang lalu. Aku baru pulang dari kuliah di Singapura, ketika aku bertemu Rini yang sedang kuliah S2 tingkat akhir itu. Waktu itu aku sedang main futsal bersama sahabatku Evan dan teman-teman SMA kami. Kuajak dia kenalan dan entah darimana asalnya aku melihat sepertinya ia tertarik padaku.
Benar juga, setelah itu aku jadi sering bertemu dengannya. Perkenalan berlanjut dengan bertukar nomor HP dan e-mail. Awalnya hanya SMS dan chatting casual, namun lama kelamaan kami mulai berani berkirim pesan nakal yang biasanya berlanjut dengan pertemuan pada sore hingga malam hari. Aku bekerja sebagai freelance web designer, jadi waktuku memang fleksibel.
Seperti hari itu, siangnya aku kirim SMS.
“What am I without your touch, merely a pathetic spiritless naked statue.”
Tak lama kemudian ada balasan dari Rini.
“For I am a merciful goddess, I shall turn that naked statue to life by holding it on the place I should put my hand on.”
Aku menghela nafas sebelum membalas SMSnya lagi.
“You torture me.”
SMS sent. Belum sampai satu menit balasan sudah datang.
“Then you come and get me.” Read the rest of this entry »
Being Nice For Dummies
Masih terkait hari kemerdekaan Republik Indonesia tercinta…
Saya yakin bangsa kita bisa jadi lebih baik di kemudian hari. Kalau memang kita gak bisa mengganti pemerintah sesuka hati, marilah paling tidak kita jadi warga negara yang baik. Bayar pajak, taati peraturan lalu lintas, jangan buang sampah sembarangan, jangan merokok sembarangan, dst dst.
Atau seperti diskusi kita di tret plurk calon bapak yang satu ini – being nice for dummies.
Contohnya :
- mencetin tombol lift buat orang lain pas liftnya penuh pas kita berdiri depan tombolnya
- di angkot mau ngegeser ke dalem spy muat
- ngebiasain balikin tray & isinya ke trash counter pas makan di resto fast food/sbux
- megangin pintu buat orang yang datang setelah kita
- ambilin minum buat temen kantor kalo kita pas jalan ke coffee machine / pantry
- permisi sama ob di kantor kalo terpaksa lewat lantai yang baru/sedang dipel
Yang jelas membantu orang itu gak harus nunggu sampe ada yang bunuh diri *ketok meja kayu tiga kali* atau jadi korban, mulai aja dari hal-hal kecil.
Ada yang mau nambahin list being nice for dummies?
Ketika Tuhan Menciptakan Indonesia
Suatu hari Tuhan tersenyum puas melihat sebuah planet yang baru saja diciptakan- Nya. Malaikat pun bertanya, “Apa yang baru saja Engkau ciptakan, Tuhan?” “Lihatlah, Aku baru saja menciptakan sebuah planet biru yang bernama Bumi,” kata Tuhan sambil menambahkan beberapa awan di atas daerah hutan hujan Amazon. Tuhan melanjutkan, “Ini akan menjadi planet yang luar biasa dari yang pernah Aku ciptakan. Di planet baru ini, segalanya akan terjadi secara seimbang”.
Lalu Tuhan menjelaskan kepada malaikat tentang Benua Eropa. Di Eropa sebelah utara, Tuhan menciptakan tanah yang penuh peluang dan menyenangkan seperti Inggris, Skotlandia dan Perancis. Tetapi di daerah itu, Tuhan juga menciptakan hawa dingin yang menusuk tulang.
Di Eropa bagian selatan, Tuhan menciptakan masyarakat yang agak miskin, seperti Spanyol dan Portugal, tetapi banyak sinar matahari dan hangat serta pemandangan eksotis di Selat Gibraltar.
Lalu malaikat menunjuk sebuah kepulauan sambil berseru, “Lalu daerah apakah itu Tuhan?” “O, itu,” kata Tuhan, “itu Indonesia. Negara yang sangat kaya dan sangat cantik di planet bumi. Ada jutaan flora dan fauna yang telah Aku ciptakan di sana. Ada jutaan ikan segar di laut yang siap panen. Banyak sinar matahari dan hujan. Penduduknya Ku ciptakan ramah tamah,suka menolong dan berkebudayaan yang beraneka warna. Mereka pekerja keras, siap hidup sederhana dan bersahaja serta mencintai seni.”
Dengan terheran-heran, malaikat pun protes, “Lho, katanya tadi setiap negara akan diciptakan dengan keseimbangan. Kok Indonesia baik-baik semua. Lalu dimana letak keseimbangannya?
Tuhan pun menjawab dalam bahasa Inggris, “Wait, until you see the idiots I put in the government.”
Indonesia, Quo Vadis?
cerita di atas saya salin dari artikel ini. Saya gak sanggup baca semua isi artikel dalam satu kali baca. Perlu beberapa kali berhenti menahan nafas dan emosi, baru kemudian membaca lagi.
Betapa kita gak tahu terima kasih dengan perbuatan kita yang gak menghargai mereka yang telah memperjuangkan kemerdekaan …
Betapa kita gak tahu diri dengan perbuatan kita yang merusak hal-hal yang seharusnya jadi warisan untuk anak cucu kita …
…………………
Pisang Molen Ibu
Ada seorang anak laki-laki bernama Mahar. Ia tinggal dengan ibu dan kakak-kakaknya, sedangkan ayahnya telah tiada. Ibu si Mahar sudah tua dan sakit-sakitan, sehingga biasanya beliau hanya berbaring di tempat tidur saja.
Suatu pagi, Mahar mendekati ibunya dan meminta uang saku untuk sekolah, seperti biasa. Ibunya memberikan semua uangnya yang disimpan di bawah bantal. Sambil terbata-bata ibunya mengambil uang dari balik bantalnya dan berkata,
“Uang ibu cuma ada segini.”
Mahar masih meminta uang saku tambahan dengan alasan ada kegiatan ekstra kurikuler, namun sang ibu sudah tak punya uang lebih.
“Uang ibu tadi sudah habis untuk beli pisang molen buat kamu, Mahar. Kamu makan pisang molennya untuk sarapan ya?”
Meskipun pisang molen adalah makanan kesukaannya, namun Mahar sudah terlanjur kesal dan langsung pergi meninggalkan ibunya. Setelah menutup pintu rumah Mahar menendang pot bunga kesayangan ibunya di pekarangan.
Mungkin kaget, sang ibu tertatih beranjak bangkit dari tempat tidurnya dan mengetuk kaca memanggil Mahar, karena tak kuat lagi ia bersuara. Mahar menengok ke belakang dan melihat ibunya menunjuk ke arah piring berisi pisang molen, berharap Mahar kembali mengambil dan memakannya.
Namun sepertinya perut Mahar sudah kenyang dengan kekesalan. Ia tak peduli dan langsung pergi ke sekolah. Sepulang sekolah, Mahar menengok kamar ibunya dan melihat ibu sedang tidur di kamarnya. Tanpa mengganti baju atau pamit, karena masih merasa kesal, Mahar langsung pergi main ke rumah temannya.
Sampai larut malam Mahar masih bersama teman-temannya yang saat itu sudah mulai mabuk, meskipun Mahar sendiri tidak ikut minum. Ketika arlojinya menunjukkan waktu sekitar pukul 9 malam, lewatlah seorang ibu dan berkata,
“Hei sudah malam kenapa kalian malah duduk-duduk di pinggir jalan, sudah pada sholat belum?”
Tiba-tiba Mahar teringat ibunya di rumah. Ia berpamitan pada teman-temannya, tapi dicegah oleh mereka karena hari belum terlalu malam. Setelah cukup lama mereka duduk-duduk di pinggir jalan, Mahar melihat bulan dan sekali lagi teringat pada ibunya. Lagi-lagi teman-temannya mencegah ia pulang. Akhirnya ia menginap di rumah salah satu temannya.
Paginya sekitar pukul 8, Mahar pulang ke rumah dengan santainya. Tak disangka, di depan gang rumahnya sudah ada tukang ojek yang menunggunya. Mahar bingung tapi bapak tukang ojek itu hanya bilang,
“Sudah ayo naik, kamu sudah ditunggu dari tadi malam.”
Sesampainya di rumah, Mahar melihat ada banyak orang berkumpul. Kakak-kakaknya menghambur ke luar memeluk Mahar sambil terisak.
“Ibu kita sudah meninggal”, kata mereka.
Seketika itu juga Mahar menangis penuh rasa dosa, dan sayang sekali Mahar tak dapat melihat wajah sang ibu untuk terakhir kalinya karena jenazah ibunya telah dibersihkan dan siap untuk dimakamkan. Kemudian salah satu kakak Mahar menyodorkan piring berisi pisang molen dan berkata,
“Ini makan pisang molen dari ibu, sebelum meninggal ibu memanggil-manggil namamu dan menitipkan pesan agar pisang molen yang disimpannya di lemari itu diberikan kepadamu.”
Semakin tersedu isak tangis Mahar, sambil memakan pisang molen itu Mahar berkata dalam hatinya, “maafkan saya, ibu…”
PS : ini kisah nyata, cerita teman saya Mahar.. Sampai speechless saya. Silakan ditarik sendiri ya pesan moralnya.
Kopdar dan Undian Kuis!
Halooooo..
Akhir pekan ini saya ke Frankfurt, main-main sekalian kopdar sama Sherine yang berdomisili di sana. Frankfurt kota yang sangat modern dibandingkan dengan Rotterdam, kota yang paling modern di Belanda.
Saya sampai di Frankfurt Airport hari Jumat jam 9 malam, meskipun masih rada terang tapi kerasa juga capeknya apalagi saya hari itu masih ngantor. Sherine menjemput saya di stasiun Frankfurt Hbf, dan ketika saya keluar dari eskalator, sepertinya dia langsung mengenali saya dan menghambur memeluk saya
Malamnya Sherine tanya saya mau kemana esok harinya. Hmm.. Kata Sherine sih gak terlalu banyak yang bisa dikunjungin di Frankfurt, tapi dia merekomendasikan museum sejarah alam Senckenberg untuk dikunjungi.
Biaya masuk museum ini sebenernya 6 euro per orang, tapi Sherine punya kupon yang dia dapat dari city hall yang memungkinkan kita membeli satu tiket saja untuk dua orang. HORE !!!
Seperti pada umumnya Natural History Museum, di dalamnya ada replika dinosaurus, fosil, batuan dan sejarah bumi lainnya. Bahkan ada simulasi gunung berapi! Jadi setiap beberapa menit, gunung api simulasi ini (meniru salah satu gunung api di Filipina) menyemburkan asap seolah-olah sedang erupsi. Gak termasuk lava sih, hehehe..
Menurut saya museum ini keren. Anak-anak bahkan orang dewasa bisa banyak belajar tentang sejarah bumi dan alam semesta.
Sepulang dari museum, saya dan Sherine makan es krim dan pancake di Romer square, sambil ngobrol-ngobrol menunggu senja. Setelah puas makan es krim dan beristirahat, kami duduk-duduk di tepi sungai Main. Gak lama kemudian, teman Sherine yang bernama Mahar datang. Kami bertiga makan di sebuah restoran Italia, gak jauh dari sungai Main.
Sambil makan kami bercerita tentang banyak hal. Saya dan Sherine sempat merayu Mahar agar membuat blog juga, karena ngeblog bisa menambah teman dan juga pengalaman. Eh gak disangka malamnya Mahar langsung membuat blog dan posting disitu. Silakan dicek deh di blognya Mahar. Postingan pertamanya bikin saya terharu
Yah hari Sabtu berlalu cepat sekali. Kami pun pulang dan istirahat setelah membungkus pizza untuk sarapan berdua.










