Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Monthly Archives: August 2017

Berdamai Dengan Ketidakmampuan

asrama whitworth park, 15 agustus 2017.

tepat sebulan lagi saya harus mengumpulkan disertasi master. btw di sini – tidak seperti di amerika atau indonesia – jenjang master mengumpulkan disertasi sedangkan jenjang doktoral mengumpulkan tesis. demikianlah penamaannya. ya, sejak bulan april lalu saya berkutat dengan eksperimen di lab untuk disertasi saya. topiknya menarik (banget!) dan saya dapat pembimbing dosen muda yang sangat sangat sangat ahli di bidangnya. belum lagi lab yang canggih dan alat-alat karakterisasi material yang paling mutakhir di eropa, salah satu alasan kenapa saya memilih kampus ini.

ah sudahlah gak usah sok bahagia.

tulisan ini dibuat di ujung terowongan, di dasar sumur, di atap burj-al-arab, di bibir jurang. beberapa hari yang lalu saya hampir menyerah dan membiarkan diri saya diterjang bullet train, membusuk di dasar sumur, melangkah terjun dari burj-al-arab dan jurang tidak berdasar. hampir.

salah satu episode drama dalam tahap disertasi ini terjadi pada fase perijinan, seperti yang saya ceritakan beberapa bulan lalu. saat saya akhirnya bisa melanjutkan eksperimen rasanya ya senang. selain kecapekan hampir tiap hari, saya gak komplain karena saya tertarik melihat bagaimana hasil penelitian saya nanti.

but life isn’t a fairy tale.

topik mata kuliah saya adalah material dua dimensi, yang ukurannya sampe belasan nanometer. untuk mengamati dan mengujinya diperlukan alat karakterisasi canggih seperti electron microscope dan atomic force microscope. untuk mengoperasikannya saya perlu bantuan mahasiswa phd atau postdoc karena kampus tidak menyediakan training untuk anak master. jadi, setiap kali mau nguji saya harus ngontak salah satu mahasiswa phd pembimbing saya.

beberapa minggu lalu saya ngontak salah satu dari mereka minta tolong untuk dibantu nguji, tapi whatsapp saya gak dibalas. email juga. setahu saya beliau gak libur musim panas. berharap ada bantuan dari anggota lain di grup riset, saya kirim laporan mingguan tentang kegiatan saya selama seminggu itu sambil bertanya siapa yang bisa bantu saya nguji. gak ada yang balas, termasuk pembimbing saya. gak ada out-of-office autoreply yang setidaknya memberitahu saya bahwa mereka memang sedang tidak di kantor.

salah saya yang pertama adalah, saya gak berani mencari langsung ke kantor mereka karena saya gak pengen melihat mereka duduk di kantor masing-masing yang membuat saya menyadari bahwa mereka sibuk dan email saya ternyata gak penting-penting amat untuk dibalas.

salah saya yang kedua adalah, saya gak bisa menerima kenyataan bahwa ada hal-hal dalam hidup yang gak bisa saya kontrol, dan itu membuat saya merasa gagal. saya gak mau mengakui bahwa saya gak mampu.

ada hari-hari di mana saya bahkan gak sanggup membuka folder “Dissertation” di laptop karena rasanya sedih sekali. ada hari-hari di mana saya memaksakan diri untuk nyicil bab “Introduction” dan “Experimental Method” sambil menangis, karena bab “Results and Discussions” belum bisa saya tulis. karena mau nulis apa kalau datanya belum lengkap?

kalau kuliah master di indonesia bisa perpanjang masa studi kalau memang risetnya belum selesai, di sini gak bisa. deadline disertasi saya 15 september dan tidak bisa diperpanjang. well, bisa request sih tapi harus disertai alasan yang sangat valid. kalau gak selesai 15 september itu ya… gagal. tahun yang sia-sia. harus mengulang lagi dari awal dan menikmati penderitaan panjang berisi tugas-tugas dan ujian yang menyiksa.

kenyataan ini membuat saya makin stres, belum lagi perasaan bersalah tiap kali saya merasa lelah dan ingin istirahat sejenak karena bagi saya belum ada perjuangan berarti yang saya lakukan dan saya gak layak untuk beristirahat. jangankan pelesir, tidur delapan jam di malam hari saja sudah membuat saya merasa bersalah gak karuan di pagi harinya. selalu ada suara di benak saya yang berteriak “kamu ini buang-buang waktu saja. dasar pemalas.”

perasaan saya campur aduk saat baca tulisan mas efenerr. ini bukan yang pertama kali beliau membuat pernyataan serupa dan saya sebetulnya paham maksud beliau seperti apa (dan beliau secara personal juga minta maaf pada saya). saya sendiri merasa gak menyia-nyiakan apapun atau mempermalukan nama sponsor, tapi tetap saja kadang rasanya ada rasa sakit yang menyengat kalau ingat bahwa hari-hari di mana saya gak tidur ngerjain tugas atau nangis ngerjain peer atau menyiapkan ujian di musim dingin sambil flu berat ternyata masih kurang. tulisan tersebut sudah diklarifikasi oleh ybs, hanya saja goresannya sudah terlanjur mengering dan membekas. saya mencoba untuk gak ambil hati tapi sampai detik ini saya masih merasa belum layak untuk tidur delapan jam sehari. it feels like i don’t deserve a break. hal ini masih jadi peer besar buat saya yang dari dulu terlalu keras sama diri sendiri.

eniwe.

saya minggir dari rel kereta dan mundur dari bibir jurang, dan memutuskan untuk tidak menyerah, karena saya ingat bahwa ini mimpi yang saya tunda selama bertahun-tahun. kalaupun nantinya bagi pembimbing disertasi dan tim penilai tugas akhir saya ini dinilai kurang karena data tidak lengkap, gak papa. saya akan jelaskan seadanya. pengalaman saya nulis paper selama 2 tahun terakhir rasanya sudah cukup untuk saya jadikan bekal ndobos di bab “Results and Discussions”. saya tahu ini nanti jadinya akan biasa-biasa aja, tapi saya gak butuh distinction. saya cuma perlu lulus dan melunasi janji masa muda saya untuk belajar dan berusaha lebih giat kalau nantinya diberi kesempatan kuliah master. saya tahu bahwa saya gak akan sepenuhnya bisa puas, tapi saya janji untuk gak menyesal.

Kurang Beruntung Aja

Sebagai awardee LPDP, kami diwajibkan ikut Persiapan Keberangkatan (PK) dan giliran saya jatuh pada batch ke-47 yang diadakan bulan November 2015 di Jogja. Satu angkatan PK ada 120 orang dibagi jadi beberapa kelompok kecil. Waktu itu saya lagi sibuk ngurusin banyak hal di waktu yang bersamaan: nikahan yang tanggalnya persis 2 minggu setelah PK, konferensi internasional acara kantor yang mana saya adalah panitianya, dan satu konferensi lain yang mana saya adalah salah satu pembicara yang harus nyiapin presentasi dan nulis paper.

Jadi yah mau gimana lagi partisipasi saya di PK minim sekali, pokoknya asal tugas kelar aja deh. Salah satu tugas adalah membeli oleh-oleh khas daerah untuk nantinya dipakai “tukar kado” sama teman satu angkatan. Saya gak sempat lagi nyari oleh-oleh khas Serpong (emangnya apa sih oleh-oleh khas Serpong???) jadi saya ke Jogja cuma bawa barang-barang persiapan PK aja. Mumpung di Jogja, waktu itu saya ke Pasar Beringharjo beli kain batik yang nantinya akan saya pakai sebagai pasangan kebaya untuk acara sakramen pernikahan di gereja. Sesuai adat jawa saya beli yang bermotif “wahyu tumurun” dan “sidomukti” untuk saya sendiri dan motif “truntum” untuk orang tua. Eh kepikiran sekalian beli aja kain batik buat tugas oleh-oleh. Ya sudah akhirnya saya beli satu lembar lagi kain batik sidomukti plus blangkon. Saya gak tahu nanti yang dapat cewek atau cowok tapi jarik dan blangkon kayaknya lucu-lucu aja buat dikoleksi dan dipajang.

Setelah ngerepotin adik-adik saya untuk nganterin ke percetakan buat nyetak buku misa dan ke percetakan satunya lagi ngecek orderan undangan, pergilah saya PK selama 5 hari di Maguwo. Saya lupa pas acara apa, tapi pas hari pertama kami ambil undian yang isinya teman seangkatan yang akan dikasih kado. Ngasihnya nanti di hari terakhir, karena hari pertama tentu saja banyak yang belum kami kenal makanya dikasih waktu beberapa hari. Saya nyari-nyari orang yang namanya saya ambil dari undian, dan gak terlalu sulit karena ybs aktif sekali di kelas.

Selama PK ini jujur aja saya cenderung pasif dan berharap acaranya cepat selesai karena masih banyak yang harus dikerjakan, baik kerjaan kantor maupun urusan nikahan. Hari terakhir kami outbound ke Merapi, naik jeep macam turis gitu. Di salah satu sesi foto dan santai kami dipersilakan sarapan dan tukar kado. Saya kasih kado saya ke si anu yang sepertinya gak kenal sama saya – biarlah yang penting tugas sudah ditunaikan.

Sampai outbound berakhir saya gak dapat kado. Oh mungkin kadonya ketinggalan di kamar hotel. Sampai di hotel dan kembali berkumpul untuk penutupan dan perpisahan saya gak dapat kado. Sampai saya pamitan dan dijemput adik di lobi hotel, masih belum ada kado.

Mungkin dia gak tahu saya yang mana…

Mungkin dia berusaha nyari tahu tapi tetep gak ketemu saking pendiamnya saya…

Mungkin dia belum beli kado dan merasa gak enak mau ngomongnya…

Entahlah. Tapi rasanya kok sedih.

Fast forward 1,5 tahun kemudian di Manchester. Sebagai penghuni Reddit saya iseng ikut Reddit Gift Exchange yang tujuannya tukar kado sama random person di semesta Reddit. Saat undian diumumkan saya dapat member yang tinggalnya di Carmarthen, Wales. Saya cek di peta… ya ampun desa amat. Sampai susah nyarinya. Saat itu tema tukar kadonya “Wholesome Meme” yang berarti kadonya cuma lucu-lucuan macam kartu gambar meme atau binatang atau kartun lucu-lucu aja. Ini pengalaman pertama saya ikut redditgift dan pengen rada spesial, jadilah saya mampir ke Oxfam nyari barang lucu – eh nemu buku mewarnai untuk dewasa, sepertinya cocok apalagi random person yang akan saya kado itu bilang di profilnya bahwa ibunya baru meninggal Natal kemarin dan dia perlu hal-hal untuk mendistraksi pikirannya agar gak sedih.

Saya kirim buku sama kartu ucapan lucu, dua hari kemudian barangnya sampai dan dia upload di galeri foto Reddit Gifts. Saya ikut senang karena dia bilang dia senang sama kadonya.

Tapi kado saya mana… Di profil sudah ada notifikasi bahwa yang harusnya ngasih kado ke saya sudah ngecek profil dan alamat, artinya manusianya ada. Tapi notifikasi “gift has been posted” tidak kunjung datang sampai dua minggu kemudian.

Ya udah ikhlas aja, mau gimana lagi. Seperti waktu PK kemarin, saya gak merasa rugi karena sudah berusaha nyari hadiah yang cocok tapi kok pihak yang satunya lagi gak melakukan hal yang sama. Mungkin kurang beruntung aja sih. Mungkin rejekinya nanti dari tempat lain.

Entahlah. Tapi rasanya kok sedih.