Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Mengatasi Takut Naik Pesawat Terbang

Hayo siapa yang takut naik pesawat terbang? Panik saat pesawat bergetar akibat turbulensi? Refleks mendaraskan ayat-ayat kitab suci atau merapal doa makan – saking takutnya? Saya pertama kali naik pesawat terbang kalo gak salah tahun 2005, naik Lion Air dari Jogja ke Balikpapan. Setelahnya tahun 2007 langsung naik pesawat interkontinental dengan durasi 12 jam. Saat itu rasanya masih excited aja sih karena baru pertama kali naik pesawat besar yang banyak makanannya (halah). Setelah-setelahnya saya mulai menyadari bahwa naik pesawat itu kadang menyeramkan. Kita naik burung besi raksasa yang terbang tanpa menyentuh tanah (NAMANYA JUGA TERBANG WOE) dan “cuma” bergantung pada kecanggihan teknologi serta keterampilan bapak-ibu pilot. Belum termasuk faktor cuaca lho ya yang tahu sendirilah sampe sering dibilang “cuacanya kayak cewe lagi PMS”.

Pengalaman saya yang paling “berkesan” sampai sekarang adalah saat tahun 2009 saya naik mudik naik pesawat dari Amsterdam ke Jakarta – kalau gak salah naik Etihad. Saat itu kami sedang melintasi Teluk Benggala di Asia Selatan saat pilot menyampaikan pengumuman bahwa semua orang harus kembali ke kursi dan mengenakan sabuk pengaman karena pesawat akan melewati turbulensi.

Saya lupa berapa menit durasi turbulensi yang kami lewati tapi rasanya lama sekali. Pesawat bergoyang-goyang sementara lampu kabin dimatikan total. Beberapa orang terdengar menarik dan menghela napas – mungkin untuk menenangkan diri. Sempat juga pesawat “jatuh” sedikit yang membuat orang-orang sepertinya rada lebih panik dari sebelumnya.

Saya duduk di kursi sebelah jendela (sebelah dalam pesawat ya, bukan sebelah luar. #krik) sambil menarik napas dalam-dalam. Di genggaman tangan saya ada e-book reader Sony PRS-600, dan saya yang saat itu memikirkanย  hal terburuk mulai menulis di e-book reader dengan stylus kecil. Kalimat-kalimat semacam “pesan terakhir” yang saya yakin rasanya bodoh sekali karena toh e-book reader ini akan rusak juga nyemplung ke laut.

Gak lama kemudian, pesawat rada tenang dan lampu indikator sabuk pengaman dimatikan. Fiuh. Kepala saya langsung berat, lalu saat pramugari menawarkan snack malam saya sekalian minta red wine biar bisa segera tidur saja.

Tepat setahun lalu saya pergi konferensi ke Bali. Saat hendak terbang kembali ke Jakarta dari Denpasar cuaca sedang lumayan buruk tapi pesawat akan tetap diberangkatkan. Di ruang tunggu saya whatsapp pakde Mbilung yang saya tahu sering sekali naik pesawat, tentang bagaimana cara mengatasi ketakutan saat terbang dan pikiran buruk yang selalu membayangi. Pesan beliau sederhana sekali:

Gak, gak akan jatuh. Percaya aja sama pilotnya. Mereka juga gak mau mati kok.

Nel uga eaaa. Pesan itu menancap cukup dalam di hati saya, dan sampai sekarang masih sangat relevan buat ngingetin saya tiap kali naik pesawat.

HOWEVER… di kuliah kan ada modul High Performance Alloys dan Materials Life Cycle yang salah satunya membahas material yang digunakan di pesawat terbang. Di situ kami belajar material apa yang cocok untuk badan, sayap, dan area mesin pesawat, dan apa saja kegagalan yang mungkin menyertainya. Beberapa dosen tergabung dengan grup riset yang melakukan penelitian untuk Airbus, dan di kelas mereka memberikan contoh-contoh nyata. Tidak lupa mereka memutar beberapa video serupa Air Crash Investigation untuk membahas kecelakaan pesawat yang diakibatkan oleh kegagalan desain material. Sungguh menyenangkan adanya. Huft. Thank you very much, dear professors..

Terakhir saya terbang adalah waktu ke Singapura beberapa pekan lalu. Penerbangan terdiri dari 2 leg, MAN-AUH dengan durasi hampir 8 jam dan AUH-SIN dengan durasi 6 jam lebih. Saya yang masih rada takut terbang berusaha mencari cara bagaimana biar gak panik di pesawat, dan menemukan beberapa tautan menarik:

Intinya, kita gak perlu panik saat pesawat memasuki area turbulensi karena turbulensi udara adalah peristiwa yang wajar dan tidak berlangsung lama. Kalau pesawat mulai goyang, langsung aja berpikir “oh jalanannya cuman lagi nggronjal. glodak glodak gak lama paling sebentar lagi selesai”. Menurut para pakar di atas, sangat sangat kecil kemungkinan pesawat jatuh akibat turbulensi, karena selain pesawat sudah didesain untuk menahan faktor tersebut, pilot juga sudah terlatih untuk “membaca” tingkat turbulensi yang dihadapi. Seringkali pilot berusaha mengendalikan pesawat menghindari daerah tersebut (jalan memutar), jadi jika pilot memutuskan untuk jalan terus menembus udara turbulen berarti keadaan tersebut tidak membahayakan.

Untuk itulah juga kita mesti percaya pada pilot (selain tentunya percaya pada Tuhan) dan mekanik pesawat. Pesawat terbang didesain dengan safety factor yang sangat tinggi, bahkan dia masih bisa terbang jika satu mesin mati dan hanya satu mesin saja yang menyala. Instrumentasi pesawat terbang juga sedemikian canggihnya sehingga perubahan sekecil apapun pasti akan terdeteksi oleh indikator. Well, jujur aja membaca artikel-artikel di atas memang rasanya gak langsung bikin saya jadi benar-benar gak takut lagi terbang naik pesawat, tapi paling tidak saya jadi tahu fakta-fakta soal pesawat terbang dan menyadari bahwa kadang ketakutan saya itu gak beralasan.

“Tenang aja, pilotnya udah jago kok…”
“Oke turbulensi ini cuma karena perbedaan tekanan udara dan bakalan cuma sebentar…”
“Mmm tadi pas pamitan boarding pesan terakhirnya udah bilang ‘aku sayang kamu ya’ belum sih?”
“Pramugarinya belum sampe disuruh duduk kok. Gak kenapa-napa. Gak kenapa-napa.”

Selain mempersiapkan mental, ada kegiatan yang membuat saya lebih tenang saat naik pesawat: sebisa mungkin nyamankan diri dan banyak-banyak tidur. Hahahaha. Kalau penerbangan siang rada sulit tidur sih memang seperti yang saya alami waktu terbang dari Manchester ke Abu Dhabi. Saya bawa bantal tiup, ear plug, dan penutup mata, pokoknya perut kenyang dulu nanti bisa lah diusahakan tidur. Kalau penerbangannya malam (red-eye flight), usahakan masuk pesawat dengan kondisi badan bersih dan nyaman. Biasanya penerbangan malam ini dijalani setelah seharian melancong sana sini, capek keringetan dll. Kalau sempat mandi, mandilah dulu. Kalau gak sempet ya gosok-gosok badan pakai tisu basah lalu ganti baju (ini penting! ganti baju!). Lanjutkan dengan cuci muka, sisiran, dan gosok gigi. Apa pentingnya? Kondisikan badan seperti saat akan tidur malam. Badan akan mengenali bahwa kita “mau tidur” dan hal ini sangat membantu untuk bisa istirahat dengan nyaman di pesawat. Kalo situ terbang di First Class yang flat bed sih kurang tau juga ya apa yang bisa bikin istirahatnya lebih nyaman. Belum pernah e. Ada yang mau bayarin? Saya review deh. ๐Ÿ˜†

Anyway, good luck overcoming your anxiety, and enjoy your flight!

 

11 thoughts on “Mengatasi Takut Naik Pesawat Terbang

  1. Akbar nur says:

    Selamat siang semua..salam kenal…kejadian yg sama terjadi sama aq skr…knp justru skr malah muncul rasa takut naik pesawat..padahal udah ngga kehitung juga penerbangan domestik yg sdh di lewati…sy justru saat pesawat di udara yg jd pikiran..apalagi klu penerbangan lama..waduhh
    Mungkin ada yg bisa memberikan solusi terimah kasih

  2. destiutami says:

    Tin aku baru tau di majalah pesawat ada doa bepergian. Jadi aja itu aku baca doa semua agama pas take off.
    Sama seperti Billy, lebih grogi saat take off dan landing. Ya karena pernahnya cuma penerbangan singkat.

    Kalo ada cara mengatasi takut naik kapal, nah ituuuuuuu..
    Ndak bisa berenang soalnya.

    • Christin says:

      sayangnya gak semua des… dulunya iyah semua ada trus akhir2 ini kok rasanya ada yg gak dikasih booklet doa. kamu baca doa semua agama biar banyak Tuhan yang menjaga perjalanan ya? hahahahaha

  3. Anggi Enjie says:

    udah bbrp kali ngalamin turbulensi dahsyat semacam badai, pas Jogja – Bandung thn 92 & Jkt – Pekanbaru thn 2009, yg pertama pas masih SD klo ga salah, nenek sampai muntah dan itu jaman2nya pesawat di Indonesia byk yg jatuh (Sempati Air Bandung yg deket pas itu), Alhamdulillah aman landing di Bandungnya. Yang kedua itu mau landing hujan deras berangin dan ber petir, ibuk2 sebelahku njeketem tanganku sampe membekas sangking paniknya ๐Ÿ˜€

    Keliatan banget sih dari 2 jaman itu, kemajuan keamanan pesawat terbang, dan turbulensi pasti sementara, karena mgkn memang selain relatif pergerakan udara & kecepatan pesawat juga, setau aku juga pilot dikasih image satelit yg baca pergerakan tekanan udara, dan udah ada manual kyk gtu.. nice info Kitiin ๐Ÿ™‚ sakses sekolahnya yah ๐Ÿ™‚

    • Christin says:

      ENJI OMG NGEBLOG LAGI!! langsung aku subscribe feed-nya. Iya Nggi betul banget kemajuan dunia penerbangan sekarang semakin canggih tapi sebagai anak elektro kamu pasti tahu makin banyaknya instrumen pasti perlu lebih banyak lagi planning skenario A-Z utk safety measurement. Selain itu juga panduan ATC pasti punya peran sangat besar. Thank you Nggi, kamu juga lancar kerjaannya yaaa

  4. sejauh ini, beberapa kali naik pesawat terbang, kekhawatiran terbesar justru saat takeoff dan landing. kalo lagi terbang — kena turbulensi gitu, ga pernah kepikiran. mungkin karena jarang pesawat jarak jauh juga, mungkin karena ga pernah kena turbulensi yang cukup bikin degdegan (amit-amit, mudah-mudahan ga pernah kejadian).

    oiya, kenapa justru khawatir saat takeoff dan landing meski manuvernya sederhana? justru karena manuvernya sederhana itu, kalo sampe ada yang salah, bisa langsung bencana. salah satu yang mendukung ini antara lain scene di film Die Hard 2 — meski ga relevan banget juga sih.

    • Christin says:

      Bener banget ini, Bil. Memang paling riskan itu saat take off dan landing, manuvernya kudu presisi. Kalau sudah sampai cruising altitude ya sudah percaya sajalah ya hihihi.

  5. Desty says:

    Suamiku kudu baca ini. Dia udah stress duluan kalau mau naik pesawat…hehe.

    Tapi turbulensi memang menyebalkan. Bikin pengen muntah.

    • Christin says:

      Lebih kerasa kalau naik pesawat kecil sih, Des. Iya coba abang dikasih link-link yang di atas itu. Aku selalu stress semalam sebelum berangkat dan biasanya mual di ruang tunggu menjelang boarding itu. Semoga membantu ya~

  6. Ranger Kimi says:

    Tiap kali aku naik pesawat aku cuma bisa pasrah. Apapun yang terjadi ya terjadilah. Mau takut bagaimanapun juga ya nggak bisa diapa-apain juga. Paling ya aku banyak-banyak mikir positif, yah yang kayak kamu tulis itu. Ditambah aku mikir, “Banyak orang yang naik pesawat dan mereka selamat sampai tujuan. Kalaupun ada kecelakaan, ya nggak banyak-banyak banget kan.”

    Terus, kalau pas turbulensi, biasanya aku memejamkan mata dan baca doa dalam hati. Bohong kalau aku bilang nggak takut. Takut dan deg-degan. Haha… Tapi, ya aku mikir mau teriak-teriak ketakutan juga gak bikin turbulensi jadi berhenti. Dan aku malah kesal kalau ada yang teriak-teriak begini. Malah bikin ganggu dan bikin makin panik yang lain. Tapi ya setiap orang beda-beda kan. ๐Ÿ˜€

    • Christin says:

      Hooh kalo teriak-teriak gitu bikin panik orang lain. Pramugari mungkin kadang pengen nyamperin trus nyumpel mulut penumpang berisik gitu kali ya hahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *