Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Yang Sering Terlewatkan

Malam ini, masih bersama segelas Nescafe Classic tanpa gula. Bersiap-siap mengerjakan tugas electron microscopy sambil memutar album terbaru Ed Sheeran. Ada sesuatu yang mengusik perasaan saya saat mata terpaku menatap layar laptop.

Saya punya laptop, yang bekerja dengan baik. Yang tidak pernah bermasalah selama saya pakai untuk belajar dan mengerjakan tugas. Jangan plis. You’re the best.

Saya diberi rejeki untuk beli laptop baru sebelum pergi ke Inggris, meskipun ini bukan HP Envy (yang sebenernya saya pengen) atau MacBook Air (yang meskipun bagus tapi ndak akan saya beli). Tabungan saya dicukupkan sehingga saya gak perlu merepotkan suami atau orang tua.

Malam ini saya makan kebab sisa kemarin, yang saya beli semalam saat lelah pulang kuliah, tanpa harus berpikir bulan ini masih ada sisa uang untuk makan atau tidak. Ada masa saat saya kuliah di Jogja dulu, harus memilih mau makan atau fotokopi bahan kuliah. Kalau fotokopi ya duitnya gak cukup buat makan. Kalau buat makan, ya belajarnya harus pinjam teman, gak bisa punya sendiri. Biasanya sih saya mending gak makan…

Saya bisa ngopi Nescafe Classic, yang waktu itu saya beli langsung tanpa mikir apa harganya paling murah per gram. Sejak kuliah saya selalu beli barang yang paling murah per unit berat atau volume. Kalau beli shampoo atau sabun pasti otak langsung mencongak ini harganya berapa rupiah per mililiter. Demikian juga kalau beli pasta gigi dan cemilan. Saat doyan ngopi pas kuliah dulu saya beli Nescafe classic sebetulnya karena murah. Serenteng seribu isi lima sachet. Jauh lebih murah daripada Coffemix atau Torabika atau Good Day yang harganya waktu itu kira-kira 500 rupiah satu sachetnya.

Yang saya suka, kebanyakan supermarket di Inggris selalu mencantumkan harga per unit untuk semua produk. Jadi gak usah ngitung biskuit ini berapa pounds per 100 gram, atau henbodi losyen itu berapa sen per ml.

Minggu lalu saya masih batuk cukup parah, sedangkan ada tugas yang harus dikerjakan (kapan sih tugas habis? hahaha) dan oleh karenanya saya memaksakan diri untuk ke perpus ngerjain tugas karena kalau di rumah nanti malah tidur terus. Saya bangun pagi dan mengepak bekal: botol obat batuk, dua buah apel, dua tangkup roti isi nutella dan selai kacang, biskuit, gelas kopi (kalau beli kopi di kantin perpus pakai gelas ini bisa dapat diskon karena ndak nyampah pakai gelas sekali pakai), sama botol minum.

bekal ke perpus

Saya mendadak tertegun dan mau menangis. Ya ampun ini kok saya bisa punya makanan kayak gini. Bisa beli nutella DAN selai kacang. Gak harus milih salah satu. Bisa ngemil apel sekaligus biskuit. Mampu beli kopi di kantin. Bisa beli obat batuk sekalian permen strepsils karena saya pingin cepet sembuh tanpa harus memilih duitnya buat beli obat atau buat makan.

Hal-hal “remeh” begini ini sering kali terlewat dari mata saya, yang selalu komplen kalo winter sering sakit karena dingin, atau kadang merasa kesal sama flatmate yang bikin berantakan dapur.

Padahal kalo kamarnya dingin ya bisa nyalain fan heater.

Kalo flatmate jorok ya sebetulnya masih bisa nyempil masak dan toh dapur sudah ada housekeeper yang bersihin.

Harus sering-sering ingat kalau sebetulnya saya sudah dikasih jauuuuh lebih banyak dari yang saya bayangkan.

Harus banyak-banyak bersyukur dan bukannya mengeluh.

Harus selalu berterimakasih kepada Yang Memberi Hidup untuk hal sekecil apapun, terutama saat bangun tidur dan menyadari bahwa masih diberi hari yang baru. Masih diijinkan memperbaiki apa-apa yang rasanya masih kurang.

Sekarang mari belajar lagi. Belajar dengan gembira, seperti gembiranya Tuhan saat mengabulkan doaku dulu agar bisa sekolah lagi.

4 thoughts on “Yang Sering Terlewatkan

  1. destiutami says:

    Yang kecil-kecil dikumpulkan lama-lama jadi bukit ya tin?

    • Christin says:

      iya desti! kadang gak kepikiran soal yang kecil-kecil begini padahal apalah yang gede itu tanpa yang kecil-kecil 🙁

  2. Rika says:

    Nice post tin… jadi jleb karena jarang bersyukur. Thank you for the reminder!

    • Christin says:

      rikaaaa! long time no see! iya yang beginian ini kdg sedih juga kalau gak bisa jadi kebiasaan yah 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *