Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Daily Archives: 8 January 2017

Donor Darah di Manchester

Ciee yang lagi rajin update blog.

Kali ini mau cerita tentang pengalaman donor darah. Sejak beberapa tahun terakhir saya rutin donor darah tiap 3 bulan sekali, baik waktu masih di Jogja maupun sesudah hijrah ke Serpong. Kalau di Jogja saya biasanya nyari-nyari ada event donor darah di mana, sejak tinggal di Serpong lebih enak kalau mau donor karena tiap 3 bulan sekali manajemen komplek Puspiptek selalu mengadakan donor darah, bekerjasama dengan PMI Kab. Tangerang atau Kota Tangerang Selatan.

Terakhir kali saya donor itu akhir Agustus 2016, dua minggu sebelum cuti panjang. Setelah saya hitung-hitung, harusnya akhir November saya donor darah lagi. Saya pun mencari informasi di mana bisa melakukan donor darah di Manchester. Ketemulah website blood.co.uk, salah satu cabang kegiatan NHS Blood and Transplant (NHSBT). NHS adalah singkatan dari National Health Service, mungkin seperti BPJS-nya Kemenkes gitu deh. Nah NHSBT ini adalah salah satu bagian dari NHS yang – seperti namanya – ngurusin donor darah, donor organ tubuh sampai stem cell, dan tentu saja transfusi dan transplantasi.

Saya merasa beruntung sekali bahwa di dekat kampus ada salah satu cabang besar NHSBT. Setelah registrasi di website blood.co.uk dan browsing info di situ saya baru tahu bahwa untuk wanita donor darah dianjurkan setiap 4 bulan sekali, bukan 3 bulan sekali seperti yang selama ini saya tahu. Mungkin pertimbangannya karena wanita mengalami menstruasi kali ya, jadi yah jaga-jaga jangan sampai anemia. Untuk laki-laki sih boleh 3 bulan sekali. Setelah dhiitung-hitung ternyata kok baru bisa donor awal Desember. Di website ada juga fitur booking appointment untuk donor darah, biar kita gak usah kelamaan ngantri mungkin. NHSBT di Manchester buka dari pagi sampai malam, jadi kalau mau donor waktunya bisa lebih fleksibel.

Saya booking untuk tanggal 6 Desember; tak diduga dan dinyana (halah) beberapa hari kemudian saya dapat kiriman surat yang isinya formulir yang berisi check list riwayat kesehatan dan identitas diri, seperti yang biasanya kita isi waktu mau donor itu lho. Persis kayak gitu. Tanggal 6 sore pulang kuliah saya ke NHSBT bawa formulir yang sudah diisi kemudian mendaftar ke resepsionis. Bapak resepsionis yang ramah bilang karena ini kali pertama saya donor darah di NHSBT maka saya harus baca booklet tentang apa yang harus disiapkan menjelang donor darah. Salah satunya harus makan dan minum; tidak boleh ya donor darah dalam kondisi perut yang kosong apalagi kurang tidur. Di ruang tunggu NHSBT ada galon air minum dan makanan ringan serta buah-buahan seperti apel, pisang, dll. Di dinding ada tempelan-tempelan yang berisi anjuran bahwa calon pendonor sebaiknya minum air putih minimal setengah liter sebelum donor, istirahat dulu di ruang tunggu selama minimal 30 menit, dan kalau mau boleh makan makanan ringan yang disediakan.

Giliran saya dipanggil untuk screening awal. Seperti biasa ujung jari telunjuk dijepret jarum untuk test Hb sambil ditanya-tanya apakah dalam waktu 6 bulan terakhir pernah ke luar negeri, dll. Ternyata untuk wilayah Indonesia, kalau pernah pergi ke daerah di luar Jawa dan Bali dalam waktu 6 bulan terakhir tidak boleh donor karena dikhawatirkan membawa penyakit malaria/zika/chikungunya. Wew. Untung saya cuma beredar di sekitar Jawa dan Bali aja sih. Lalu ngomong-ngomong test Hb nya manual, darahnya ditetesin di cairan entah apa dan dilihat seberapa cepat dia tenggelam. Komentar ibu perawat, darah saya kental tapi zat besinya kurang, jadi aja rada ngambang dan lambat tenggelamnya. Tapi masih memenuhi syarat untuk donor kok.

Setelah screening selesai, saya diminta masuk ke ruang donor dan bersiap-siap di kursi yang telah disediakan. Iya, donornya gak tidur kayak kalo donor di PMI gitu, tapi duduk di kursi yang sandarannya dibuat agak rebah sekitar 45 derajat. Bagian kaki juga agak ditinggiin, jadi berasa kayak lagi di dokter gigi gitu. Perawatnya ngetes lengan saya, mana kira-kira nadinya yang lebih besar. Dipilihlah lengan sebelah kanan. Sambil lengan saya dibersihkan pake alkohol, saya bertanya kalo di sini berapa banyak darahnya diambil.

470 ml sodara-sodara. Hampir setengah liter.

Biasanya donor di PMI saya cuma diambil 350 ml lho. Saya tanya kenapa di Indonesia diambilnya 350 ml, perawatnya juga gak tahu karena setahu dia di Australia dan Amerika ya 470 ml juga diambilnya. Begitulah. Jarum sudah dimasukkan, dan darah mulai mengalir keluar. Saya ndak merasa apa-apa sampai kemudian mesin penyedot darah di samping kursi bunyi bip-bip-bip. Perawat datang, bilang kalau aliran darah saya rada lambat – kemungkinan karena darahnya rada kental. Disarankan untuk meregangkan dan menggenggam jari – jari saya sendiri, bukan jari mas-mas di kursi sebelah – pelan-pelan, dan mengangkat kaki sedikit-sedikit untuk melancarkan aliran darah. Setelah dua kali lagi mesinnya bunyi bip-bip proses pengambilan darah pun selesai. Selama pengambilan darah perawatnya telaten sekali, sebentar-sebentar dia datang dan bertanya apa saya baik-baik saja. Setelah jarum diambil dan perban dipasang, saya disuruh pergi ke refreshment room untuk istirahat. Ransel dan coat yang saya gantung sudah dibawakan oleh salah satu perawat, katanya saya gak boleh ngangkat berat-berat dulu. Hih. Manja amat 😆

Di refreshment room ada mas Richard, dengan name tag bertuliskan “Donor Carer”. Mas Richard bertugas untuk memastikan pendonor gak kenapa-napa setelah donor. Begitu duduk saya langsung ditawari mau minum apa. Di situ ada jus lemon, cokelat panas, kopi, teh, air putih, dll. Saya mau jus lemon aja. Mas Richard membawakan segelas jus lemon dan satu keranjang berisi kudapan seperti oat bar, flapjack, macaron, keripik, kacang, dll. Keranjangnya didekatkan ke saya biar tangan saya ndak usah terlalu jauh meraih jajanan-jajanan lucu itu. Dia ngajak ngobrol dan bertanya saya pusing atau tidak, mual atau tidak, dan memberi saran kira-kira apa yang harus dilakukan setelah ini agar badan tetap fit. Dia kasih juga satu booklet kecil berisi nomor yang bisa dihubungi kalau nanti ada apa-apa, misalnya mendadak demam atau luka bekas suntikan masih ngilu setelah 1×24 jam. Setelah nambah segelas jus lemon dan ngemil dua bungkus oat bar saya pun pamit pulang.

Gedung NHSBT ndak terlalu jauh dari asrama, paling jalan kaki 10 menit juga sampai. Sampai kamar saya langsung minum banyak-banyak kemudian ngesot ke kasur. Ketiduran sejam. Bangun tidur jam 7 malam saya langsung ke dapur bikin indomie rebus telor. Rasanya lapaaaaaaarrrrrr banget. Habis makan saya langsung ngantuk dan tidur lagi. Paginya badan saya rasanya aneh. Rada melayang gitu. Entah apa efek donor kemarin masih tersisa atau gimana, yang jelas saya bangun-bangun kelaparan dan langsung sarapan. Siang di kampus juga rasanya masih rada gak enak. Gak jadi jogging deh. Saya langsung pulang istirahat lagi. Bekas suntikan di lengan sih sudah gak kenapa-napa, tapi badan rasanya masih gak enak. Setelah tidur sore rasanya jauh lebih baik. Mungkin memang efek darah yang diambil lebih banyak dari biasanya, jadi waktu pemulihannya juga lebih lama.

Dua hari setelah donor saya dapat SMS dari NHSBT yang mengucapkan terimakasih, dan gak sampai dua minggu kemudian datang SMS yang mengabarkan bahwa darah yang saya donorkan sudah disumbangkan ke Fairfield General Hospital di Bury, gak jauh dari Kodya Manchester. It feels nice to know that you’ve done something useful to others.

Kemarin datang lagi surat dari NHSBT, berisi lagi-lagi ucapan terimakasih karena saya sudah donor, dan di dalamnya ada kartu donor yang berisi nomor anggota dan golongan darah saya (A+). NHSBT juga ngasih kenang-kenangan berupa gantungan kunci yang ada tulisannya blood.co.uk dan A+. It was cute!

Jadwal donor saya berikutnya adalah akhir Februari, tapi mungkin bakal mundur ke awal Maret karena biasanya akhir bulan saya lagi dapet. Halah TMI. Oke gaes. Kalian yang selama ini sudah rutin donor tetap lakukan ya, dan yang belum pernah donor ayok mulailah rutin donor darah. Mungkin gesture yang kecil itu bisa menyelamatkan nyawa seseorang.