Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Monthly Archives: December 2016

Tips Nitip Oleh-oleh

Sejak kapan sih orang yang pergi ke luar daerah atau ke luar negeri harus pulang bawa oleh-oleh? Siapa sih yang ngajarin untuk bilang “oleh-olehnya ya!” ke teman atau saudara yang mau pergi? Jujur aja saya risih dengar permintaan macam itu karena rasanya kayak merepotkan sekali harus nyariin oleh-oleh sedangkan saya gak tahu orang itu sukanya apa dan maunya oleh-oleh kayak gimana. Saat masih tinggal di Belanda dulu saya cukup sering dapat titipan oleh-oleh dari teman atau kerabat. Mulai dari yang permintaannya sederhana (magnet kulkas, kartu pos, kaos Amsterdam) sampai yang rada rumit (klarinet, winter coat). Loh winter coat kan banyak, kok rumit? Iya rumit karena ybs gak ngasih tahu maunya coat seperti apa, yang single-breasted atau double-breasted, yang bahan fleece atau wool atau bulu angsa, yang warna apa, yang panjangnya sepinggul atau sepaha, dst. Bilangnya cuma “yang kayaknya cocok buat akyu”. Bukan apa-apa sih, kan jadi gak enak juga kalau nantinya sudah dibelikan tapi ndak cocok sama model atau warnanya dan akhirnya coat tersebut gak kepakai.

Favorit saya adalah orang yang nitipnya spesifik sehingga saya tahu kira-kira harus nyari di mana. Waktu itu ada satu teman dari Jogja nitip sepatu safety yang dijual di salah satu online shop di Belanda, lengkap dengan warna, model, dan ukuran. Sepatu model itu tidak ada di online shop Belanda sehingga saya harus ngontak ke alamat email yang ada di website untuk menanyakan apakah mereka punya stok sepatu itu di gudang atau tidak. Sales person yang membalas email menjelaskan bahwa mereka tidak punya barang tersebut, tapi kalau saya mau mereka bisa memesankan dari Amerika, lengkap dengan quotation yang berisi shipping cost dan biaya lain-lain. Saya forward email itu ke teman saya dan dia mengiyakan harganya serta langsung transfer ke rekening saya (ini penting!). Proses jual beli pun berlangsung dengan lancar — karena dari Amerika tidak bisa langsung kirim ke Indonesia jadinya saya yang harus kirim barangnya dari Belanda, tapi tidak masalah juga karena biaya kirim Belanda-Indonesia ditanggung oleh pembeli juga.

Yang kayak gini ini patut dicontoh. Di sisi saya memang mesti ada effort untuk kontak-kontak via e-mail dan pergi ke kantor pos untuk maketin barang (plus deg-degan kalau-kalau barangnya gak sampai Jogja) tapi ya gak papalah, toh di sisi sana juga sudah riset dulu sehingga barangnya udah jelas mana yang dimau.

Saya juga pernah punya pengalaman dititipi jersey Ajax Amsterdam. Saya kasih link online shopnya biar dia bisa milih, dan saya bilang ntar transfernya ke Bank Mandiri aja biar gampang. Eh dia bilang gini:

“Beliin lah. Kan kamu udah kerja. Gajinya gede. Hehe.”

Hehe.

Hehe.

Hehe.

Gaeessss baju bola itu di toko gak ada yang harganya di bawah 50 euro. Kalau mau yang gratisan nanti ik beliin gantungan kunci ajalah ya.

Dari beberapa pengalaman nitip (dan dititipi) barang, saya mengumpulkan beberapa tips yang semoga berguna bagi yang mau nitip barang tanpa harus mengorbankan reputasi dan hubungan baik:

  1. Be specific. Kalau pengin dibeliin kaos, jangan bete kalo pengin kaos tapi dikasihnya “cuma” gantungan kunci karena bilang “terserah”. Gak pengin bilang terserah tapi gak enak juga mau nitip kaos karena kayaknya mahal? Googlinglah kira-kira harga kaos berapa dan nitiplah duit segitu. Menurutmu “cuma” kaos aja kok bisa mahal banget segitu? Ya begitulah realita kehidupan.
  2. Jangan maruk. Kalau nitip makanan atau barang sebisa mungkin jangan yang ngabisin space atau yang beratnya lebih dari 2 kg. Hal ini berlaku juga buat mereka yang tinggal di luar negeri lalu mau nitip abon/rendang/kerupuk mentah ke teman yang mau pulang ke Indonesia.
  3. Titiplah barang yang mudah dicari. Sebaiknya gak nitip barang yang cuma bisa ditemukan di sebuah toko hipster di sebuah kota berjarak 2 jam naik kereta plus naik bus dan jalan kaki. Lebih bagus kalau bisa beli online. Lebih bagus lagi kalau situ yang beli online, jadinya cuma “nitip” alamat dan minta tolong dibawakan.

Hmm. Sebenarnya semua ini tergantung sedekat apa hubunganmu dengan yang mau dititipi barang. Kalau saya sih – ini kalau saya lho, ndak tahu yang lain apalagi mas Anang *krik* – biasanya sudah hafal mana aja temen yang suka dibawain kartu pos atau gantungan kunci atau magnet kulkas, atau mereka yang dari awal sudah bilang mau nitip sesuatu sehingga nanti waktu mau pulang saya tinggal konfirmasi ulang. Sisanya ya… Kalau di koper masih ada space saya selalu bawa souvenir kecil-kecil kok, biarpun mungkin ndak semua suka. Ya namanya juga nyari yang praktis.

Demikianlah.

Dari Mulut Singa ke Mulut Buaya

Ini hari pertama saya terbebas dari tugas sejak kuliah dimulai akhir september lalu dan tugas pertama sudah diberikan pada minggu kedua. Sejak itu pula saya lupa bagaimana rasanya tidur yang layak tanpa kepikiran tugas yang belum selesai atau bangun pagi tanpa ditampar kenyataan bahwa masih ada tugas yang menanti untuk dikerjakan.

Itu juga kalo tidur. Hahaha. Setelah dua mingguan ngerjain tugas dan masih punya jam tidur yang rada normal (tidur jam 1, bangun jam 7), saya baru ngeh kalo kemampuan saya untuk tune-in sama pelajaran dan logikanya lebih jalan kalau belajar tengah malam sampai dini hari. Saya kemudian mencoba untuk mengganti pola tidur: tidur sore jam 4-8, kemudian mandi makan malam dan belajar sampai pagi. Jam tidur kalau pagi biasanya berkisar antara jam 4 atau 5 sampai jam 8, tapi kadang juga baru bisa tidur jam 6 pagi dan harus bangun jam 8 karena ada kuliah pagi.

Salah satu tugas pernah bikin saya ndak tidur selama dua hari. Jadi, hari Rabu kan saya kuliah dari pagi sampai jam 1 siang. Pulangnya saya masak, makan siang, lalu tidur jam 2 dan bangun jam 6 seperti biasa. Setelah makan malam saya lanjut ngerjain tugas yang sudah saya mulai beberapa hari sebelumnya, berharap bisa selesai paginya.

Ternyata gak selesai dong. Ternyata lebih sulit dari yang saya bayangkan. Kamis pagi saya belum selesai juga ngerjain tugas tapi harus segera berangkat kuliah jam 10. Pulangnya saya ngerjain tugas di perpus karena kalau ngerjain di rumah pasti tidur. Karena capek sorean saya pulang, mandi, dan lanjut nugas di kamar sampai pagi lagi. AKHIRNYA SELESAI. Convert tugas ke pdf lalu submit online lewat Blackboard. Pengin tidur tapi gak berani karena terlalu lelah dan takutnya malah ketiduran padahal ada kuliah jam 10. Selama 3 jam kuliah itu saya masih bisa bangun dan konsen sama kuliah, ternyata. Takjub juga. Jam 1 pulang rasanya udah gak karuan. Mampir Sainsbury’s beli roti buat makan siang, lalu sampai rumah saya langsung makan lalu cuci muka cuci kaki siap-siap tidur. Korden jendela saya tutup rapat biar gak ada cahaya masuk. Saya pamit tidur ke suami biar gak dicariin, lalu naruh hempon dan kayaknya gak sampai semenit langsung tepar. Bangun-bangun kelaparan tengah malam. Bikin makan di dapur lalu makan dan tidur lagi. Baru bangun Sabtu siang. Huehuehuehe.

Hasilnya? Tugas yang itu tadi dapat nilai 78/100. Usaha keras itu tidak akan mengkhianati, kata JKT48. However, hard work doesn’t equal good grades. Ingat itu ya. Tapi saya sudah senang dapat nilai segitu. Ekspektasi saya cuma 60/100 aja.

Baiklah. Hari ini saya masih mau merayakan kebebasan dulu dengan nyampah-nyampah di rumah melakukan hal yang gak berguna. Nanti malam membuat study plan agar bisa belajar dengan teratur untuk ujian. Begitulah. Perjuangan belum berakhir. Cmungud.