Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

In Exactly 5 Weeks

… in exactly 5 weeks, I’d be arriving in a new place that I should befriend for a whole year.

Saya sangat membanggakan laptop Lenovo Ideapad G460 yang sudah hampir 6 tahun saya miliki. Dia punya julukan Laptop Kangkung. Kenapa dinamain begitu? Alasannya baca di sini aja; gak penting sih, tapi berkesan. Laptop ini nemenin saya saat harus lembur di pabrik dan ngelanjutin kerjaan di kafe setelahnya, saat saya nganggur dan cari kerjaan freelance, saat saya belajar buat test CPNS, saat saya bikin banyak personal statement dan ngirim-ngirim aplikasi ke banyak sekolah, dan masih banyak lagi. Dia juga yang saya abuse saat pada tahun 2011 hati saya patah — tidak cuma patah tapi hancur berkeping-keping.

Dia gak pernah rewel, kecuali tiga tahun lalu saat dia tiba-tiba mati tanpa pamit. Saya masih ingat saat itu sore hari di kantor saya sedang menyalakan laptop untuk ngecek kerjaan freelance. Tidak ada suara, tidak ada raungan khas dari kipasnya – yang biasanya terdengar saat laptop dinyalakan. Motherboard kayaknya nih. Saya mulai panik, kemudian googling untuk mencari info tempat reparasi laptop di Jogja. Setelah melalui banyak pertimbangan dan kontemplasi selama beberapa hari, saya akhirnya membawa laptop itu ke sebuah servisan di dekat Selokan Mataram.

Gak sampai seminggu kemudian saya dikabari kalau laptopnya berhasil diservis, biayanya 500 ribu. Menurut saya mahal, tapi gak ada yang bisa menggantikan ikatan emosional saya dengan laptop kenangan itu. Lagipula kalau harus ganti motherboard pasti jauh lebih mahal lagi (dan memangnya motherboard laptop keluaran 2010 masih gampang dicari?)

Ya begitulah. Segera saya upgrade RAM; nambah jadi total 4GB. Setelahnya, si Laptop Kangkung menjalankan tugasnya dengan mulus sekali sampai sekitar bulan September 2015 dia mulai sering overheated dan shutdown. Saya mengkhawatirkan harddisk (ya motherboard juga) yang kemungkinan besar rusak kalo terus-terusan seperti itu. Akhirnya saya “menitipkan” laptop kesayangan saya itu ke mz Mizan untuk dibersihkan fan-nya dan di-install ulang. Seminggu kemudian laptop saya kembali dalam keadaan bersih dan suci.

He was working smoother than ever. Gak ada lagi suara kipas yang menggerung kepanasan, bahkan batre yang biasanya cuma bertahan 3 menit setelah cleaning dan install ulang bisa nyala tanpa harus dicolok listrik selama hampir 30 menit sambil dipake nonton film. I was sooooo happy.

Kemudian saya berpikir realistis. Laptop ini gak mungkin saya bawa sekolah; bukan karena performanya sudah tidak bagus, tapi karena ia sudah mulai kehilangan sifat notebook yang harusnya mobile. Laptopnya berat, dan saya harus nemu colokan kalau mau pakai laptopnya. Sepertinya akan tidak praktis saat saya nanti mesti jalan kaki atau naik bus dari asrama ke sekolah, dan kalau di kelas mesti buka laptop untuk mencatat atau ngerjain tugas.

Perburuan laptop pun dimulai. Berbagai laman review sudah saya baca dan berbekal titah mz Mizan saya memulai pencarian di website enterkomputer.com. Lima buah merk dan tipe laptop saya peroleh sebagai shortlist setelah dua minggu penuh menghabiskan waktu untuk memilih. Saya kirim e-mail ke Enter untuk menanyakan stok dan… semuanya out of stock.

Sampai kemudian pada suatu siang yang tenang, Laptop Kangkung mau saya nyalakan untuk ngerjain kuitansi koperasi kantor. Ada suara, tapi layar tetap gelap. Seperti tiga tahun lalu, saya panik. Tapi kali ini saya tidak ingin melakukan apapun, jadi laptop saya force shutdown kemudia saya memilih untuk tidur siang saja. Bangun tidur saya iseng nyalain laptop…

He lightened up. He booted and worked fine like nothing happened.

Mungkin dia cuma ngambek. Tapi saya gak punya pilihan, sepanjang sore sampai malam hari saya memantapkan hari untuk memilih satu laptop yang – seperti Laptop Kangkung yang menjadi saksiĀ drama selama karir kerja saya – akan menjadi saksi drama selama sekolah saya besok dan nanti.

Pilihan saya jatuhkan pada Dell Inspiron 11 3162 dengan prosesor N3700, RAM 4GB, dan OS Ubuntu. Tipe yang sama ditawarkan dengan harga murah, namun prosesornya N3050 dan RAM-nya hanya 2GB. Saya beli di Jakarta Notebook meskipun harganya 70 ribu lebih mahal daripada di Enter, karena di Enter tidak ada opsi pilih warna sedangkan saya mengincar warna merahnya. Pesanan sampai di kantor sore ini setelah 3 hari di jalan, dan saya langsung melakukan proses unboxing.

Pada suatu senja di sebuah kost putri di pinggiran jalan Margonda, Depok, saya jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Laptop Kangkung yang kemudian jadi soulmate saya sampai detik ini. Kali ini tidak ada perasaan sekuat itu kepada laptop berwarna merah yang sedang saya pakai mengetik entri blog ini, tapi bukan berarti saya tidak akan jatuh hati padanya anytime soon.

Saat tadi menyalakan laptop Dell bertipe Inspiron ini untuk pertama kalinya dan masuk ke mode instalasi Ubuntu 14.04 LTS, benak saya langsung terbang ke masa 9 tahun yang lalu – kurang lebih di bulan yang sama. Saya sedang persiapan untuk pergi sekolah ke Eropa dengan membawa laptop Dell juga dan OS yang juga Ubuntu. Bedanya, saat itu saya bawa Dell tipe Latitude C-series yang OS Ubuntunya masih jadul banget (lebih jadul daripada Feisty Fawn, tampilannya pun gak se-sleek sekarang). Laptopnya tebal sekali, dengan slot CD-ROM dan removable battery berada di depan laptop. DEPAN. Jadi kalo mau ngeluar-masukin CD dia ngebuka ke arah kita gitu kayak meja kasir. Di samping kiri dan kanan laptop ada port USB, RJ45, VGA, dan slot PCMCIA. Yes you heard me. PCMCIA. Kapasitas harddisknya cuma 20GB — bukan, bukan SSD.

In exactly 5 weeks I am going to leave my beloved Laptop Kangkung and I’m not sure if I can stop my mind from wondering if he’d still be able to function next year when I’m home. Please, please, please wish us luck and alive throughout the year. If my Dell could survive then so would us.

Maaf sudah membuang waktu kalian dengan entri sentimentil dan gak penting ini ya~

6 thoughts on “In Exactly 5 Weeks

  1. takodok says:

    tin itu laptop kangkung legendaris sekali šŸ˜†

  2. oscar says:

    Shit itu leptop kangkung udah 6 tahun…berarti kita udah kenal lebih lama ya…kayaknya baru kemaren tuh kita ributin tuh leptop kangkung…

    • Christin says:

      lama banget lah… Tiana aja udah umur berapa padahal kenal udah dari jaman priska masih jomblo kemudian kalian pacaran jkt-bandung trus priska sekolah pindah ke jakarta lalu nikah…

  3. Billy says:

    diriku juga pernah punya ikatan emosional semacam itu pada sebuah laptop, ga lain ga bukan karena di situ ada berbagai macam data berupa foto (perjalanan) sejak (mencoba) lulus kuliah sampai dengan (pelarian) setelah exit tanpa diduga dari pekerjaan pertama.

  4. @_mizan says:

    Ubuntu 16.04LTS juga sudah keluar, sekalian diupgrade wae.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *