Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Monthly Archives: July 2016

Decluttering and Moving on

Beberapa episode baru dalam hidup saya melibatkan proses migrasi dari satu tempat ke tempat lain, yang artinya saya harus packing, dan berarti juga saya harus memilah, memilih, menyimpan, dan membuang. Bagi saya ini adalah proses yang paling berat dan memakan waktu karena meskipun terdengar mudah namun pada kenyataannya banyak waktu, tenaga, dan pikiran yang harus dikerahkan untuk menyelesaikannya.

Padahal barang saya cuma dikit lho. *dusta*

Menurut kamus Merriam-Webster, decluttering artinya “to remove clutter from a room, an area” sedangkan menurut kamus Oxford “to remove unnecessary items”. Kamus Cambridge memberikan definisi yang lebih jelas: “to remove things you do not need from place, in order to make it more pleasant and more useful”.

Kata kunci: remove, need, pleasant, useful.

Terakhir kali saya decluttering adalah saat sedang packing untuk hijrah dari Jogja ke Serpong. Karena mendadak sakit, saat itu yang bantu-bantu packing adalah pacar saya – yang sekarang sudah jadi suami. Saya masih ingat betapa beliau takjub atas banyaknya barang-barang yang saya miliki, yang sebenarnya gak perlu disimpan dan gak diperlukan. Saya memang suka sekali hoarding, menyimpan barang-barang yang menurut saya punya nilai bersejarah (seperti tiket bioskop, tiket konser, dll), yang sekarang jarang/gak pernah dipake tapi meyakini bahwa suatu saat mereka akan kepake (seringkali terselip penyangkalan “ntar juga kurus lagi kok, pasti muat”), dll dsb.

Pedoman yang saya pakai untuk decluttering adalah blog post dari Desti, yang menyediakan pertanyaan sebagai panduan memilah dan memilih:

  1. Have you used it in the last year? No? Throw it away.
  2. What’s its story? Quick! Tell me in 5 seconds! Can’t? Throw it away.
  3. Is it worth saving? No? Throw it away.

Udah, itu aja. Gak susah kan? GAK SUSAH MBAHNYA

Saya menemukan banyak hal yang menimbulkan pertentangan batin, apakah barang ini akan disimpan atau dibuang. Salah satunya adalah segepok nota pembelian semasa tahun 2007 – 2008. Nota macem-macem, mulai dari nota beli pulsa, supermarket, makan di resto, tiket masuk obyek wisata, dll. Saya mengingat masa itu sebagai salah satu periode terberat saya bertahan hidup saat sedang berada di negeri yang jauh dari rumah dengan kemampuan finansial yang terbatas, dan tekanan mental yang cukup berat akibat early-stage depression dan masalah keluarga. Setiap nota saya simpan karena sejak SMA saya terbiasa untuk mencatat pengeluaran harian, dan nota-nota tersebut saya kumpulkan untuk memastikan tidak ada detail yang tercecer dalam buku kas saya. Halah buku kas.

Selain membuang hal-hal yang memang sudah tidak diperlukan seperti nota tadi, saya juga belajar untuk mengikhlaskan barang-barang yang sebenarnya akan lebih berguna kalau dipakai orang lain. Lipstik, pelembab, dan beberapa kosmetik lainnya saya hibahkan ke teman-teman plurk. Hampir selusin pasang sepatu saya hibahkan ke teman SMP yang ukuran dan selera model sepatunya sama dengan saya. Mau secinta apapun saya sama stilleto-stilleto itu, saya gak akan pernah bisa pakai lagi karena dengkul yang KW ini, jadi ya ikhlaskan sajalah. Dua ransel besar penuh pakaian juga dihibahkan ke ponakan perempuan saya.

*menarik napas panjang*

Decluttering dan packing episode kali ini memakan waktu lima malam berturut-turut, dengan saya yang baru tidur jam 5 pagi dan bangun jam setengah tujuh pagi karena harus ngantor. It was worth it. Hasilnya adalah lima kardus kecil dan satu kardus besar, serta beberapa tas tenteng berisi printilan-printilan (karena malas beli kardus sih).

Enam minggu lagi saya harus kembali packing untuk migrasi ke belahan dunia lain. Mari kita lihat seberapa sentimentil saya nanti saat packing, karena ingin membawa SEMUA hal yang menurut saya penting dan perlu dibawa.