Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Kisah Perpanjangan SIM Yang Gak Bisa Online

Masa berlaku Surat Ijin Mengemudi (SIM) saya ceritanya sudah mau habis (ciee.. kode kalo mau ulangtaun) jadi saya cari-cari info di twitter gimana cara perpanjang SIM. Beberapa balasan menginformasikan bahwa menurut peraturan terbaru, SIM bisa diperpanjang mulai 14 hari sebelum masa berlakunya habis hingga 3 bulan setelah masa berlakunya habis. Perpanjang SIM sebulan sebulan sebelum expired akan berakibat ditolaknya berkas (nanti aja balik lagi kalo udah deket-deket tanggal expired), sedangkan perpanjang SIM lebih dari 3 bulan setelah expired akan berakibat disuruh bikin SIM baru — lengkap dengan ujian tertulis dan ujian praktik.

Informasi lain yang saya dapat, perpanjang SIM bisa dilakukan secara online jadi tidak harus mudik ke daerah penerbitan SIM. Sayang sekali, untuk saat ini perpanjangan SIM secara online baru berlaku untuk 45 wilayah Satpas (Satuan Penyelenggara Administrasi) SIM. Kabupaten saya tidak ada di daftar 45 daerah itu, jadi mau gak mau saya harus mudik. Hiks.

Yasudahlah, demi ketertiban berlalu lintas saya ambil libur 2 hari: Jumat dan Senin. Rencana awal cuma akan ngurus di hari Sabtu aja (Satpas SIM buka sampai jam 10 pagi), tapi kemudian saya kepikiran iya kalo hari Sabtu itu kelar. Kalo ngantri gimana? Kalo gak slese gimana? Kalo ada kurangnya ini itu gimana? Akhirnya saya ngambil libur hari Jumat untuk antisipasi hal-hal tak terduga. Trus… kok hari Senin libur juga? Hehe ini sih karena gak dapat tiket kereta balik hari Minggu malam. Selain itu, pesawat JOG-CGK hari Senin siang harganya lebih murah daripada tiket kereta eksekutif.

~Satlantas Polresta Surakarta~

KTP mu kan Karanganyar, jeung. Kenapa ke Solo?

Nganu, sebelumnya KTP saya Solo jadi SIM-nya pun masih pakai alamat Kota Solo. Berhubung alamat di KTP sekarang Kabupaten Karanganyar, maka alamat di SIM harus ganti dan untuk melakukannya perlu dokumen yang disebut “BERKAS MUTASI” yang menyatakan bahwa alamat saya pindah.

Kereta saya tiba di Jogja jam 6 pagi. Dari stasiun Tugu saya dijemput adik, kemudian si bocah saya kembaliin (macem pulpen aja dikembaliin) ke kostnya. Setelah numpang cuci muka sikat gigi dan ganti kemeja (iya iya males mandi), jam 7 lewat dikit saya ngebut motoran ke Solo sambil otak rada spaneng karena takut kesiangan. Hari Jumat, cuy. Udah gak sempet ngelirik spedometer, yang jelas jam 8 lewat dikit saya sudah sampai di Satlantas Solo di prapatan Gendengan. Motor saya parkir, lalu saya jalan ke ruangan dengan papan bertuliskan “Informasi Mutasi SIM” di depannya.

“Pak, mau minta berkas pengantar untuk mutasi SIM.”

“Oke mbak, ditinggal dulu. Ini petugas yang tanda tangan belum ada. Paling nanti baru selesai jam setengah 10 ya.”

Haduh. Baru inget, kayaknya petugasnya masih aerobik deh, kan ini hari Jumat…

Nunggu di luar ruangan bikin saya tambah spaneng. Untunglah hiburan datang dalam bentuk orang-orang yang lagi ujian praktik SIM C di halaman Satlantas. Seneng juga liatnya, berarti masih banyak orang yang bikin SIM gak pake calo. Hiburan lain datang dalam bentuk oknum polisi yang lewat depan saya naik mobil polisi, nyetir mobil tanpa pakai seatbelt sambil cekikikan di telpon. Entah lagi telponan sama apa atau siapa. Ini gimana sih polisinya? Gak malu sama yang lagi ujian praktik?

Arloji Baby-G hitam saya menunjukkan waktu pukul 09:20 saat nama saya dipanggil. Berkas mutasi sudah jadi, bayar 25 ribu rupiah dikali dua (untuk sim A dan C). Tanpa kuitansi.

~ Satlantas Polres Karanganyar ~

Saya langsung bergegas ngeslah motor dan menyusuri jalan Slamet Riyadi ke arah Pucang Sawit, kemudian ngebut di flyover Palur sampai Jaten dan tibalah saya di Satlantas Karanganyar. Motor saya parkir di sebelah Satlantas, kemudian saya langsung ke tempat pemeriksaan kesehatan di samping Satlantas. Di situ berkas-berkas dirapikan di dalam map (fotokopi KTP 2 lembar, fotokopi SIM 2 lembar) dan distaples. Pemeriksaan kesehatan di situ cuma test buta warna dan baca huruf di dinding. Kacamata gak disuruh lepas kok, jadi masih bisa baca juga. Hahaha. Biaya pemeriksaan kesehatan: 40 ribu rupiah dikali dua. Tanpa kuitansi juga.

Berkas dari pemeriksaan kesehatan dibawa ke bank BRI yang berada tepat di sebelah ruang dokter dan ditaruh di rak khusus “Pembayaran SIM”. Karena lagi gak ngantri maka dua menit kemudian nama saya sudah dipanggil. Perpanjangan SIM A sebesar 80 ribu rupiah dan SIM C sebesar 75 ribu rupiah. Ada kuitansi resmi.

~ Satpas SIM ~

Dari situ saya langsung ke Satpas SIM yang pindah sementara ke timur Taman Pancasila. Berkas saya taruh di Loket 1 : Pendaftaran. Petugas dengan sigap memeriksa berkas saya dan berkata dengan tersenyum manis.

“Mbak, ini KTP nya masih KTP sementara kan. Coba ke Dinas Kependudukan dulu, minta cetak e-KTP.”

Darah saya langsung berdesir. Haduh. Cukup ndak ini waktunya. Ngelirik arloji di pergelangan tangan. 10:40.

“Masih sempet gak Pak?”, kata saya dengan suara khawatir. Bapak petugas kayaknya ngerti kekhawatiran saya, kemudian beliau menjawab masih sambil tersenyum manis.

“Masih kok Mbak. Ditunggu.”

~ Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil ~

Dengan rada tergesa saya ke Dinas Kependudukan deket alun-alun kota. Di situ saya ambil nomer antrian tiket di mesin, kemudian masuk ke ruangan. Ternyata di situ antrinya chaos sekali. Gak ada urutan whatsoever. Akhirnya saya samperin mas-mas petugas yang baru kelar sama customer. Saya kasih lembar KTP sementara yang segede A4 beserta fotokopiannya, kemudian mas petugas yang Andre itu bilang “baru bisa diambil besok ya, mbak. Jaringan lagi error.”

TARAKDUNGCESS.

“Mas maaf ini lagi ditunggu di Satlantas. Saya mau perpanjang SIM tapi KTP sementara gak diterima.”

“Loh harusnya bisa. Kan ini dokumen resmi juga.”

“Mmm.. masnya boleh sama saya ke Satlantas buat jelasin.”

“….”

“….”

“Mbak ke ruangan TU sana ketemu sama bu XY dulu ya (sorry bu lupa namanya). Minta surat keterangan kalau jaringan lagi error.”

Saya ke ruangan yang ditunjuk, nyari bu XY yang ternyata (kata bu PQ — sorry bu saya lupa juga namanya) sedang keluar ruangan. Saya pun bilang ke bu PQ kalau e-KTP ini mendesak untuk ngurus perpanjangan SIM. Bu PQ kemudian nyuruh saya nunggu di situ sebentar lalu keluar ruangan. Gak lama kemudian beliau kembali menemui saya sambil membawa kopian KTP sementara saya yang sudah ditulisi sesuatu dan diparaf.

“Ini, kasih ini balik ke mas Andre ya. Bilang aja sudah di-approve bu PQ gitu.”

I did as she told me to. Mas Andre langsung masuk ke ruangan di belakangnya, dan lima menit kemudian beliau keluar sambil membawa e-KTP saya yang langsung dicetak. Saya cek data di e-KTP lalu setengah berlari keluar ruangan setelah berterimakasih ke mas Andre.

Hmm. Mendadak jaringannya sudah gak error. Riiiight. *winky face*

~ Kembali ke Satpas SIM ~

Saya kembali ke Satpas SIM setelah fotokopi e-KTP yang baru dicetak (ihiy). Map berisi berkas yang tadi saya serahkan lagi di loket 1 beserta fotokopian e-KTP. Bapak petugas menyambut saya dengan senyum, “masih ngejar kan, Mbak? Tenang aja”. Waktu menunjukkan pukul 11:15 saat beliau menyodorkan kembali map saya beserta dua set formulir untuk diisi. Formulir tersebut berisi data-data standar aja sih: identitas diri, nomor resi pembayaran, nomor SIM, nomor yang bisa dihubungi dalam keadaan darurat (saya kok masih refleks ngisi nomor henpon Bapak, bukan nomor suami. Maaf ya mas), kewarganegaraan, dll. Untung isiannya gak sepanjang formulir pengajuan SKCK. Huft.

Formulir saya masukkan ke Loket 2: Penerimaan Berkas. Arloji Baby-G menunjukkan waktu pukul 11:20. Saya kembali ke tempat duduk bersama orang-orang yang juga masih mengantri.

Nama saya dipanggil pukul 11:30 untuk masuk ke ruang foto. Baju dirapikan, kacamata dilepas, senyum. Cekrek. Cekrek.

“Ditunggu sebentar ya, Mbak.”

Sekitar dua menit kemudian SIM baru pun sudah jadi; serah terima dilakukan dengan menukarkan SIM yang lama. Cek data, OK. Cek foto, cute. Halah. Saya keluar ruangan. Arloji Baby-G menunjukkan waktu pukul 11:35.

Saya menghela pedati napas panjang sambil duduk di kursi tempat antrian di depan loket dan memandangi SIM yang ngurusnya pake drama ini. Saking kemrungsung dari pagi kok saya gak sadar kalau rasanya lapar dan haus banget. Sambil minum air dari botol minum saya hampir keselek saat denger pengumuman dari speaker:

“Bapak ibu yang masih mengantri, mohon maaf ujian dan foto akan kami lanjutkan setelah Jumatan dan istirahat siang. Terimakasih.”

Arloji Baby-G menunjukkan waktu pukul 11:40. Sooooooooooo close.

xxx

tl;dr

Perpanjangan SIM bisa dilakukan di luar daerah penerbit sepanjang Satpas SIM asal dan domisili sudah terintegrasi online (baru ada 45 wilayah). Biaya perpanjangan SIM A: 80 ribu dan SIM C: 75 ribu. Ada biaya pemeriksaan kesehatan sebesar 40 ribu dan biaya mutasi SIM 25 ribu, keduanya tanpa kuitansi. Mungkin biaya ini berbeda-beda untuk tiap daerah. Overall saya senang dengan proses perpanjangan SIM yang alurnya efisien serta petugas yang ramah dan informatif.

Sekian. Sampai jumpa dalam kisah lain tentang perpanjangan SIM, lima tahun lagi.

7 thoughts on “Kisah Perpanjangan SIM Yang Gak Bisa Online

  1. Bayu says:

    Karanganyar sekarang sudah online belum ya? Mhn infonya..Saya diluar daerah

    • Christin says:

      info dari adik saya katanya belum mbak/mas Bayu… dia beberapa minggu yang lalu habis perpanjang SIM kudu pulang ke Karanganyar dulu

  2. lindaleenk says:

    drama banged 😐

  3. Luar biasa niat dan perjuangannya mbak… heheheh

  4. Mesti aja banyak drama saban kali ganti surat-surat penting macam SIM begini. Bank aja selalu melayani pada jam sholat Jumat, kenapa kantor pemerintahan tidak? Apa perlu Jokowi turun blusukan ke Dinas Kependudukan?

  5. Okto Silaban says:

    Ya ampuun.. Nasibmu Nduuuk. Hahaha

  6. warm says:

    edan baru tau saya kalo dramanya sedramatis itu 😮
    dan sebelum lupa, selamat ulang tahun kitin hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *