Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Daily Archives: 27 September 2015

Hari Besar yang Batal

Harusnya hari ini jadi salah satu hari besar saya, segitunya saya excited sampai-sampai semalam saya gak bisa tidur hingga lewat tengah malam padahal harus bangun sebelum subuh.

Twit ini mengundang beberapa mention dan japri bernada “wedding day?”, “kitin rabi?” dan semacamnya.

Ndak. Eh, belum. Hari besar yang saya maksud adalah hari dimana (harusnya) saya menginjakkan kaki di pulau Sumatera, tepatnya Pekanbaru. Iya, seumur-umur saya belum pernah ke daerah manapun di Sumatera bahkan hanya untuk transit. Agenda saya adalah untuk menghadiri konferensi sains dan teknologi yang diadakan oleh Universitas Riau pada hari Senin dan Selasa.

Saya sudah daftar dan submit full paper sebagai salah satu presenter pada konferensi ini sejak dua bulan lalu. Biaya pendaftaran sudah dibayarkan satu bulan lalu. Tiket pesawat dan voucher hotel sudah dibeli minggu lalu.

Waktu terjadi kebakaran hutan dan bencana kabut asap melanda Pekanbaru pada awal bulan, saya langsung kontak ketua panitia untuk menanyakan apakah konferensi tetap diadakan, akan dibatalkan, atau dijadwalkan ulang. Beliau mengatakan bahwa konferensi tetap akan diadakan pada tanggal tersebut, dengan lokasi yang dipindah dari kampus UNRI ke sebuah hotel di pusat kota Pekanbaru agar peserta tidak terlalu terekspos asap.

Oke. Kami berempat dari kantor ngurus administrasi ke kantor, beli tiket dan booking hotel seminggu sebelum acara, dan janjian berangkat bareng ke bandara hari Minggu pagi dijemput driver kantor untuk penerbangan jam 09:10. Sejak beberapa hari yang lalu, tiap hari saya update kondisi penerbangan di bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru (PKU). Keadaan asap yang tidak menentu mengakibatkan penerbangan keluar dan masuk PKU juga tidak pasti, tapi kami tetap berharap masih bisa terbang ke PKU dan hadir di konferensi.

Minggu pagi tiba dan kami sampai di bandara lebih cepat dari perkiraan (gak sampai sejam lewat tol) jadi kami ke KFC dulu nyari sarapan. Pagi itu papan keberangkatan terminal 1C tidak menunjukkan keberadaan pesawat yang delay atau cancel ke daerah-daerah terdampak asap, jadi kami merasa semua akan baik-baik saja. Seusai nungguin yang pada sholat dhuha kami masuk ke ruang tunggu gate C6 dan mendengar kabar bahwa pesawat yang berangkat lebih pagi ke Pekanbaru tidak berani mendarat dan harus kembali ke Jakarta. First clue.

Jam 9 kurang ada pengumuman bahwa flight kami akan terlambat. Second clue. Jam 10 flight kami menghilang dari papan keberangkatan. Jam 11 flight kami muncul kembali di papan dengan status terlambat. Jam 11:15 pihak maskapai membagikan kompensasi berwujud nasi box dan air mineral gelas. Akhirnya jam 11:30 datanglah pengumuman bahwa flight kami dibatalkan.

Kami berempat masih nongkrong di ruang tunggu sambil mikir gimana cara alternatif ke Pekanbaru dan apakah kami masih ingin pergi konferensi. Saya menelepon ketua panitia dan mengabarkan kondisi terakhir kami. Ketua panitia menawarkan beberapa alternatif: pertama, mencari flight ke Padang lanjut 7 jam jalan darat ke Pekanbaru; beliau bersedia membantu mencarikan dan booking travel untuk kami. Alternatif kedua, mengisi seminar pada jadwal yang sudah ditentukan dengan cara teleconference. Powerpoint bisa dikendalikan oleh panitia atau dengan screen sharing via Skype.

Nganu. Dua alternatif yang, entahlah, kami sedikit rada lelah untuk memikirkan lebih lanjut. Pesawat ke Padang berikutnya baru ada jam 7 malam. Kalau lancar kami akan tiba di Pekanbaru pada pagi hari berikutnya. Telepon dengan ketua panitia saya akhiri dengan memastikan bahwa makalah kami akan tetap diterbitkan karena full paper sudah kami submit sejak bulan lalu. Kami berempat turun ke customer service maskapai yang sudah penuh manusia. Meskipun antri, tapi petugas customer service melayani setiap makhluk pencari refund dengan sangat efisien. Kudos!

refund full fare

Urusan refund beres, kami keluar terminal, nyari taksi dan pulang ke Serpong. Untunglah jalanan lancar dan bapak supir taksi cukup mengenal daerah sekitaran Puspiptek sehingga kami ndak menghabiskan energi untuk mengarahkan dan memastikan taksinya tidak keluar tol di exit yang salah. Jam 13:30 saya sudah sampai rumah lagi, pulang dari “sarapan” di bandara Cengkareng 🙁

Sambil makan pempek yang dibeli di perapatan Muncul, saya kirim email ke panitia untuk mengabarkan kalau kami tidak jadi datang dan melampirkan surat keterangan pembatalan dari maskapai. Sampai detik ini belum ada kabar lanjutan dari panitia. Ndak perlu nyalahin siapapun, memang, tapi terkait kondisi semacam ini ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil:

1. Sebagai panitia, sebaiknya benar-benar berpikir ulang kalau akan mengadakan acara sebesar ini di tengah bencana kabut asap (atau apapun). Peserta ndak cuma berasal dari Sumatera dan Jawa aja lho, tapi dari Sulawesi sampai Malaysia. Keynote speaker bahkan berasal dari Jerman dan Singapura. Yang dari Jerman dikabarkan reroute ke Padang dan dijemput pakai mobil, sedangkan yang dari Singapura dijadwalkan terbang via Jakarta ke Pekanbaru sore ini – entah gimana nasibnya. Iya saya tahu booking tempat, catering, dan menyesuaikan ulang jadwal keynote speaker itu ndak mudah. Tapi kan.

2. Sebagai peserta, jika memang terlalu berisiko sebaiknya paper yang sudah di-submit ditarik aja. Ajukan refund biaya pendaftaran dengan alasan force majeure dan berharap panitia mau mengabulkannya. Kalau memang mau datang, coba cari rute alternatif yang aman. Bertanya ke panitia atau orang yang kenal daerah situ mungkin akan membantu.

Jam 9 malam tadi saya cek lagi website bandara PKU…. ternyata SEMUA penerbangan dari dan ke Pekanbaru hari ini dibatalkan. Jarak pandang rata-rata hari ini cuma 100 meter saja. Well, better safe than sorry.

SSK II
Jadi gitu ceritanya, hari besar saya yang batal hari ini. Belum berjodoh dengan pulau Sumatera rupanya. Cukuplah berjodoh ketemu sama orang Sumatera, uni Icit, di arrival terminal 1C tadi. #BedaTipis