Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Daily Archives: 15 September 2015

To A Thousand Second Chances

Kesempatan tidak akan datang dua kali, begitu katanya. Saya sih gak percaya. Dalam hidup, kadang persimpangan jalan membawa kita pada pilihan-pilihan yang begitu sulit untuk diputuskan. Beberapa di antaranya membenturkan ego, mimpi, dan hati. Tentukan pilihan, putuskan, lalu lupakan. Live without regret. Jika sebuah pilihan terpaksa tak dapat diambil karena alasan yang tidak dapat dihindari, simpan saja dalam sebuah kotak pandora. Suatu saat bukan tak mungkin pilihan tersebut akan kembali mengetuk pintu. Kadang pintu yang sama bisa terbuka dua kali. You just have to never say never because anything can happen. Anything.

Hampir memasuki kuartal ketiga, tahun ini punya banyak warna buat saya, salah satunya belajar gagal. Bukan belajar dari kegagalan, tapi belajar gagal. Belajar menghadapi kegagalan. Sebagai anak pertama yang by default selalu merasa tertantang untuk bisa menjadi role model buat adik-adik (halah), rasanya kemampuan saya untuk menghadapi kegagalan masih kurang. Yang terjadi justru menyalahkan orang lain, menyalahkan situasi, menyalahkan diri sendiri. Ya cuma segitu doang, gak ada tindak lanjutnya. Gak ada efek konstruktif dari kegagalan itu.

Ketika menghadapi satu peristiwa yang tidak terlalu menyenangkan beberapa bulan lalu, rasanya saya rada kehilangan semangat. Tidak ingin berusaha untuk jadi lebih baik lagi. Iya, saya berusaha untuk mencoba lagi, tapi ya.. gitu. “Hanya” demi memuaskan rasa penasaran untuk melihat apa percobaan selanjutnya masih gagal atau tidak. Ya mungkin pada percobaan pertama saya kurang menyiapkan diri. Pada percobaan kedua itu saya malah sungguh merasa bersalah karena sudah tidak punya ambisi sama sekali. Pokoknya dijalanin aja. Pokoknya sudah dicoret dari to-do-list. Cuma waktu itu dalam hati saya cukup yakin bahwa kali ini saya gak mungkin gagal. Entah keyakinan itu muncul karena memang qualified, kepedean, atau malah sombong. Yang jelas setelahnya saya gak terlalu memikirkan hal itu lagi. Nothing to lose.

Rencananya saya masih akan menimba ilmu di kantor sampai beberapa tahun ke depan sambil belajar “membaca” dan “menulis”. Maklum peneliti pemula. Tapi ya memang namanya manusia, cuma bisa merencanakan. Saat datang kabar bahwa saya diberi kesempatan untuk sekolah lagi tahun depan, saya masih gamang melihat kesempatan kedua kembali mengetuk pintu. Did this really happen? I know it is bound to happen… but really? Do I deserve it?

Nevertheless, deep down inside I feel truly grateful. Tuhan menjawab doa dengan caranya sendiri… tidak pernah terlambat, tapi tidak juga terlalu cepat. Kalau kesempatan ini datang beberapa tahun yang lalu saat saya benar-benar menginginkannya, saya masih kerja entah di mana dan sepulang sekolah saya juga belum tahu mau kerja di mana. Saat saya kembali memintanya, Tuhan tahu ini saat yang paling tepat dan Dia berikan jalan yang lapang.

First, my little brother finally got his bachelor’s degree and already has a decent job which lifted up a thick, stormy cloud over my head. Second, and this is the most important thing, is that I wouldn’t make my father worry about me studying abroad (again!) will delay his wish to see me getting married, because soon I will be tying the knot anyway. All in all, it’s a win-win solution for all of us. Right time, right people, right place. Wish us luck!