Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Monthly Archives: August 2015

Relativitas Waktu

Time flies so fast when you have fun, kata siapa gitu di pinterest yang suka berbagi kutipan bagus. Ada benernya juga. Saya kadang masih bingung gimana harus menyikapi masa depan, mengingat umur yang sudah mendekati kepala tiga.

When i was young, I thought I would have had my life figured out. Lulus umur sekian, kerja di tempat yang oke, punya gaji sekian, sekolah lagi, menikah, punya anak, punya rumah, dll. Setelah melewati fase quarter life crisis, rasanya ambisi mulai menurun dan yang terlintas di pikiran hanyalah bagaimana menemukan kondisi optimum antara karier dan passion. Ide tentang pasangan hidup sementara tersisihkan karena patah hati yang teramat dalam dan fokus ditumpukan pada pekerjaan.

Rasanya masih segar dalam ingatan, di salah satu mantan tempat kerja saya kok merasa waktu berjalan sangat lambat. Saya gak tahu karier saya ke depannya akan gimana, sementara itu saya belum niat-niat amat cari kerjaan baru. Mantan tempat kerja lainnya justru punya impresi yang berbeda buat saya; waktu berjalan begitu cepat sampai-sampai gak terasa kok sudah sekian bulan padahal kayaknya saya belom ngapa-ngapain.

Capture

Sebelah kiri itu foto saya dan adek waktu saya wisuda. Foto bawah tengah, waktu dia wisuda 6 tahun kemudian di tempat yang sama, gedung Graha Sabha Pramana UGM. Bocah ini kok udah sarjana aja ya. Udah punya kerjaan. Udah punya cewek yang dipacarin bertahun-tahun pula. Nah kalo foto yang atas itu foto anak-anak dari anjing kantor yang lahir beberapa bulan lalu. Foto kanan bawah diambil bulan lalu, obyek yang sama. Kok mereka udah pada balita aja sih (ekuivalensi umur anjing).

I guess I’m indeed having fun. Hidup itu arena bermain dan belajar. Mau gembira atau sedih seperti apapun, semua bakal berlalu, jadi nikmati aja apa yang ada di depan. Rencanakan sebisanya, tapi jangan stress kalau yang kejadian malah di luar dugaan. Kalau sekarang ditanya rencananya gimana… ya masih sama, masih seputar sekolah lagi – menikah – punya anak – punya rumah – sekolah lagi, dll. Untuk kerjaan sih sepertinya sudah nemu jodohnya. Uhuk.

Besok sudah Jumat. Have a nice weekend, and don’t forget to have fun!

Tentang LoA dan Perjalanan yang (Masih) Panjang

Bagi yang belum tahu, LoA itu Letter of Acceptance (Surat Penerimaan), dalam hal ini dari universitas. Kadang disebut juga offer letter. LoA diberikan jika calon mahasiswa memenuhi syarat masuk universitas. Syarat dan prosedur seleksinya pun macam-macam, tergantung universitasnya. Di sini saya persempit cerita LoA untuk studi magister saja ya, karena saya belom pernah daftar PhD. Hihihi.

Kebanyakan universitas membuka pendaftaran untuk mahasiswa baru sekitar bulan Oktober/November untuk tahun ajaran baru yang dimulai pada bulan September tahun berikutnya. Kadang juga ada yang buka sepanjang tahun, tinggal nanti kita milih mau masuk di bulan dan tahun yang mana.

Syarat yang harus disiapkan kira-kira begini:

1. Ijazah dan transkrip nilai S1. Beberapa cuma minta ijazah dan transkrip tanpa harus legalisir. Beberapa lagi minta legalized copy, artinya copy ijazah dan transkrip harus dilegalisir notaris publik atau kedutaan negara dari universitas yang dituju. Jadi misalnya kamu ingin daftar kuliah di Australia, yang legalisir harus dari kedutaan Australia atau institusi yang ditunjuk. Beberapa universitas di Korea dan Arab Saudi pun punya prosedur demikian. Oh iya, untuk daftar sekolah ke luar negeri, ijazah dan transkripnya harus dalam bahasa Inggris ya. Kalau dari universitasmu cuma ada versi bahasa Indonesia, mintalah kampus menerjemahkan atau bisa juga ke penerjemah tersumpah/sworn translator.

2. Sertifikat Bahasa Inggris, boleh TOEFL atau IELTS. Beberapa pake TOEIC aja sudah cukup. Dicek ke universitasnya ya, TOEFL-nya harus iBT atau boleh ITP. Standar penerimaan studi S2 di luar negeri sih biasanya mensyaratkan TOEFL 550 (ITP) / 79 (iBT) atau IELTS 5.5 – 6. Sekali lagi cek ke persyaratan dari universitas, karena kalau yang kamu tuju universitas super kece biasanya juga minta skor super tinggi.

3. Sertifikat GRE/GMAT. Biasanya GRE/GMAT ini diminta oleh universitas di Singapura dan Amerika. Kalau Australia dan Eropa (termasuk UK) hampir semua gak minta sertifikat GRE/GMAT.

4. Reference Letter. Ini apa sih? Reference letter adalah surat referensi (plak!). Jadi, surat ini adalah surat dari seseorang yang bisa merekomendasikanmu untuk mendaftar studi master dan menyatakan dirimu layak untuk belajar di tempat itu. Universitas biasanya mensyaratkan bahwa reference letter dibuat oleh former professor/academic supervisor, misalnya dosen pembimbing akademik atau dosen pembimbing tugas akhir, atau dosen yang cukup mengerti latar belakang dan track recordmu di kampus dulu. Selain academic referee, reference letter juga bisa dibuat oleh mantan bos atau bos yang sekarang. Mau nyari reference letter dari dosen atau bos, isinya sama: di mana dan sudah berapa lama beliau mengenalmu, bagaimana kemampuanmu saat bekerja bersama beliau, dan apa alasan beliau harus merekomendasikanmu untuk menjadi mahasiswa di universitas yang bersangkutan.

Jadi, baik-baiklah sama dosen ya. Mwahaha.

5. Personal Statement. Nah ini yang rada perlu usaha juga. Personal statement menjelaskan latar belakang dan motivasimu mendaftar ke universitas itu. Di situ harus ada alasan kenapa kamu memilih universitas itu dan bagaimana program studi yang kamu ambil akan membantumu dalam meningkatkan kemampuan atau membantu karirmu di masa depan. Untuk yang terikat institusi, akan lebih bagus lagi kalo motivasi dan target di personal statement in line sama kerjaan kamu sekarang dan target kamu nanti.

6. Kartu identitas. Yang ini gak semuanya minta. Kalaupun ada biasanya minta scan paspor, itupun gak wajib.

Yang lain-lain paling nanti ngisi pengalaman kerja, deskripsi kerjaan, dan pengalaman riset (kalau ada).

Setelah semua data diisi, lalu gimana? Tunggu aja email balasan dari universitas, apakah semua syarat sudah terpenuhi atau masih perlu apa lagi.

Kalau kamu sudah memenuhi syarat dasar penerimaan masuk universitas (latar belakang pendidikan, IPK, pengalaman riset, pengalaman kerja, dll), pihak Admission Office universitas akan mengirimkan Letter of Acceptance yang menyatakan bahwa kamu diterima di program studi X yang akan dimulai pada bulan Y tahun Z. Di situ juga ada hal-hal yang harus kamu penuhi sebelum masuk kuliah seperti pengajuan visa, pembayaran biaya kuliah, dll. Masing-masing universitas punya prosedur sendiri, tapi rata-rata keputusan universitas akan turun pada minggu ketiga atau keempat setelah kita submit pendaftaran. Beberapa universitas malah bisa rilis LoA dalam waktu kurang dari seminggu. Kalau lebih dari sebulan belum ada respon, kamu email saja Admission Office-nya. Biasanya tim mereka responsif, kok.

Oh iya… LoA ada dua jenis: Conditional dan Unconditional.

Conditional LoA diberikan kalau kamu masih punya syarat yang belum terpenuhi seperti reference letter atau sertifikat bahasa, sedangkan unconditional LoA artinya kamu sudah memenuhi semua syarat, jadi tinggal daftar ulang dan bayar. Untuk bisa daftar ulang, kamu harus punya unconditional LoA dulu, ya.

Nah kalau berniat untuk sekolah dengan biaya sendiri, langkah selanjutnya ya tinggal bayar dan ngurus visa. Kalau mau pakai beasiswa ya mari nyari-nyari dulu beasiswanya. Hihi. Buat yang lagi nyari-nyari sekolah, you’ll be needing a lot more than a good luck, so be prepared and have fun doing it! ^_^