Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Belajar Gagal

Tersebutlah suatu siang, saat wawancara beasiswa.

“IPK cuma segini, kamu yakin masuk [salah satu kampus top 10 dunia]?”

Kampus itu adalah kampus impian saya sejak kuliah, dan jujur saja saya rada down dengernya. Seperti dipaksa berbalik menghadap kaca, gitu, biar tahu diri waktu apply ke kampus bagus itu. Waktu itu saya sanggup pasang fake-and-proud smile sambil jawab “IPK minimum kan 3.00, Bu. Memang lebih baik kalau First Class atau Second Upper Class Honours, tapi masih bisa dibantu dengan pengalaman riset dan publikasi, pengalaman kerja, juga dengan skor TOEFL yang di atas rata-rata”.

Sembari menunggu hasil akhir tidak urung saya kepikiran lagi. Iya juga ya.

“Gimana kalau saya ndak keterima kampusnya?”

Sesi overthinking dilanjut lagi dengan:

“Gimana kalau udahlah gak diterima kampusnya. sekalian beasiswanya gak dapet juga?”

Jawaban diplomatisnya ya tentu saja “ya gak papa. Nanti coba lagi”.

Applicable untuk semua hal, kecuali hal-hal edan seperti panjat tebing tanpa pengaman atau bungee jumping tanpa tali.

#1. Berhadapan dengan banyak kegagalan tidak serta-merta membuat kita kebal dengan perasaan dingin yang menjalar di sekujur tubuh dan degup jantung yang seperti jatuh ke dasar laut saat mendengar kabar yang tidak menyenangkan. Sepertinya saat itu cuma ingin bergelung di kasur sambil mendengarkan musik blues berteman rintik hujan. Iya ini lebay. Ya gak apa-apa. Do it if it makes you feel a little bit better. Jangan sok kuat dan sok bijak dengan mengatakan kegagalan adalah awal dari kesuksesan. Belum tentu juga habis gagal ini kamu sukses, lho. Udah, terima aja dulu.

#2. Blame something. Selalu ada kambing hitam dalam setiap kegagalan: keadaan, kurang persiapan, panitia yang kurang kooperatif, interviewer yang terlihat subyektif, bahkan diri sendiri. Blame something ini biasanya ndak terlalu efektif, kecuali kalau yang disalahkan diri sendiri dan kemudian membuat tindak lanjut dari apa-apa yang perlu diperbaiki selanjutnya. Tapi menyalahkan sesuatu itu rasanya enak sekali!

#3. Ini yang sering terlupa saat menghadapi kegagalan: beri apresiasi pada diri sendiri karena sudah berani mencoba. Gak usah takut dengan suara-suara di kepala yang bilang “coba kalo kamu gak gini, gak akan sedih kan? gak akan sakit kan?”. Gak usah didengerin. Yang lebih menyakitkan adalah suara yang bilang “coba kalo kamu berani nyoba daftar beasiswa/ngelamar kerja/nembak cewek… bisa jadi kamu punya kesempatan bagus lho. Yah paling enggak nambah pengalaman deh”.

#4. Seperti halnya patah hati, kegagalan gak harus dilupakan apalagi bikin hidup berantakan. Masa lalu itu ada untuk memandu, bukan menghakimi kita. Pernah gagal di masa lalu untuk satu hal bukan berarti seterusnya kita akan jadi orang yang gagal di hal yang sama. Mungkin waktunya aja kurang tepat. Mungkin juga hanya kurang tepat sasaran.

#5. Terakhir, saya percaya bahwa doa yang kita panjatkan itu selalu dijawab dengan iya: “Iya, boleh”, “Iya, tapi nanti ya”, dan “Iya, tapi ini ada yang lebih bagus”.

 

 

Perbatasan Tangerang Selatan – Bogor,

ditulis sambil berusaha untuk tidak putus asa

7 thoughts on “Belajar Gagal

  1. Cahya says:

    Bilang saja “Al iz wel” 🙂

  2. wam says:

    btw, poin nomer empat itu apa2an ..
    #eh

  3. wam says:

    wah IPK sih kadang tak bisa dijadikan ukuran mutlak juga kok, itu yg ngewawancarain cuma ngetes mental njenengan ae,

    yg penting itu sudah mimpi, saatnya untuk diwujudkan, dan semesta pasti berkomplot mendukungmu 😀

  4. jensen says:

    *pukpuk kitin*

  5. lambrtz says:

    Masalahe kalo kegagalan dalam hubungan itu ngrusak silaturahim e.

  6. @_mizan says:

    Super sekali, Mb.

  7. Icit says:

    Aduh ini super sekali.
    Mudah2an aku bisa super juga kalau menghadapi hal begini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *