Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Kucing Di Dalam Kotak Kipas Angin

Ini adalah cerita tentang seekor kucing. Seekor kucing di dalam kotak kipas angin. Bulunya halus dan tebal, berwarna putih dan kuning. Ia ditemukan ketika masih bayi pada suatu siang yang terik, di kursi taman. Tak lama ia menikmati rumah yang hangat, ia ditinggalkan lagi. Pemiliknya telah pindah ke tempat yang jauh, dan tak ingin membawa si kucing melintas lautan.

Si kucing pun ditinggalkan di depan rumah, di dalam kotak kipas angin.

Kucing kecil ini terbiasa berada di dalam rumah sehingga dia tak berani keluar dari kotak kipas angin tempatnya berada sekarang. Sesekali ia menengok keluar dan kembali bersembunyi di dalam kotak karena melihat ramai orang dan mobil lalu-lalang.

Kucing di dalam kotak kipas angin masih tertinggal sendiri di tepi jalur sepeda. Ia ketakutan, kelaparan, dan kesepian, Untung di dekatnya banyak pohon besar sehingga ia tidak kepanasan.

Dua blok dari situ, tinggallah seorang anak laki-laki yang berumur 6 tahun. Dua hari lagi ia akan masuk sekolah dasar. Orang tuanya menawarinya untuk antar-jemput ke sekolah, namun ia memilih untuk naik sepeda saja.

“Siapa tahu aku bertemu teman sekelasku di jalan”, begitu katanya pada orang tuanya.

Hari pertama sekolah dasar pun tiba. Dikayuh sepedanya ke arah sekolah. Tiba-tiba telinganya menangkap suara kecil yang parau. Suara kucing. Dari mana suara kucingnya ya, batin anak laki-laki itu.

Ia menemukan kucing berbulu kuning-putih itu di dalam sebuah kotak kipas angin, tak jauh dari tempatnya berdiri. Kemudian disandarkannya sepedanya di pohon dan ia mengamat-amati kucing itu.

“Kamu lucu sekali dan sepertinya kamu tidak nakal”, katanya pada si kucing yang sedang dielus-elus kepalanya.

“Aduh! Aku akan terlambat kalau aku tak segera berangkat ke sekolah. Hari ini hari pertamaku. Maaf ya, kucing. Nanti pulang sekolah aku akan menengokmu lagi.”

Setelah beberapa kayuhan sepeda, anak laki-laki itu berhenti dan berbalik. Dikeluarkannya sepotong roti berisi daging, bekal makan siangnya dan dimasukkannya ke dalam kotak kipas angin. Lalu ia pun kembali mengayuh sepedanya ke sekolah.

Si kucing kegirangan mendapat sepotong roti daging. Perutnya lapar sekali, telah beberapa hari ia belum makan.

Siang harinya anak laki-laki itu menengok si kucing di kotak kipas angin. Mereka bermain-main sebentar sebelum kemudian si anak pulang ke rumahnya. Beberapa hari berlalu seperti itu… hingga di suatu hari Sabtu yang berawan mendung, si kucing menunggu sendiri tanpa ada yang menghampirinya.

Sesekali ia menengok ke luar kotak kipas anginnya, bertanya-tanya apakah anak yang sama akan datang hari ini. Ia ingin melompat keluar tapi ia takut tersesat. Dia hanyalah seekor anak kucing yang tak tahu tempatnya berada sekarang, dan kalaupun dia bisa keluar apakah ia bisa kembali ke dalam kotak kipas angin tempatnya tidur? Atau ia akan tersesat dan tidur di tepi kotak sampah bersama kucing-kucing hitam yang suka bertengkar?

Kucing di dalam kotak kipas angin itu mulai menangis. Lapar. Takut.

Lalu ia menyeka air matanya dan berkata pada dirinya sendiri bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan di luar sana. Pelan-pelan ia memanjat tepian kotak kipas angin. Cakarnya yang masih kasar berhasil menggapai ujung atas kotak, dan dalam satu lompatan ia berhasil keluar.

Diam-diam ia melihat jalan raya yang penuh dengan mobil, motor, sepeda, juga kaki-kaki orang yang berjalan. Kadang pelan, kadang bergegas. Si kucing berjalan pelan-pelan mengikuti ibu-ibu bercelana biru, dan tak lama kemudian si ibu masuk ke sebuah rumah dan menutup pintu, meninggalkan si kucing di luar rumah. Kucing yang malang itu melihat sekelilingnya dan mendapati bahwa sepertinya ia telah berada jauh dari kotak kipas anginnya.

Kucing kecil berbulu kuning putih itu mulai menangis. Ia berjalan tak tentu arah sambil mengeong-ngeong. Ia tak peduli orang-orang yang berjalan melaluinya, menatapnya dengan tatapan mata entah marah entah kasihan. Hari pun sudah malam, dan ia makin takut. Tangisnya berhenti, ia sudah lelah menangis meski air matanya masih mengalir.

Tak lama ia menyusut air matanya, karena di depan ia melihat kotak kipas anginnya. Kemudian ia berlari dan segera masuk kembali ke kotak kipas angin dan bergelung di dalamnya. Sesaat sebelum tidur ia berpikir, jangan-jangan tadi anak laki-laki itu datang dan mendapatinya tidak berada di kotak kipas angin ya? Atau memang ia tak datang? Ah sudahlah..

Terlihat lelap tidurnya, kucing kecil itu kelelahan…

Ia terbangun oleh suara manusia di dekatnya. Sepasang tangan meraihnya, mengangkatnya keluar dari kotak kipas angin. Lalu ia melihat sebuah wajah. Anak laki-laki itu datang lagi! Kali ini ia tak sendirian. Ia bersama sepasang orang dewasa, mungkin orang tuanya. Si kucing mengeong-ngeong kegirangan ketika anak laki-laki itu berkata pada orang tuanya,

“Ayah, ibu, anak kucing ini boleh kita pelihara di rumah ya?”

Lalu si kucing mengeong makin keras ketika ayah dan ibu mengangguk dan tersenyum. Sekarang ia punya rumah lagi.

Tagged ,

14 thoughts on “Kucing Di Dalam Kotak Kipas Angin

  1. coach purses says:

    These coach bags outlet coach was created by coach organization outlet.

  2. i bookmarked this! seeking updates.. Its difficult to acquire knowledgeable individuals in this particular matter, you could be seen as you already know what youre dealing with! Thanks pleasing tremendous outstanding.

  3. genuine uggs says:

    Modern folks always expect uggs that blend fashion with comfort. This time, this need is ideally met.

  4. gum says:

    kittin pernah nonton anime “Chi’s Sweet Home”? ceritanya tentang kucing kecil yang nyasar dan diadopsi sama anak laki2. lucu deh :D

    cuma pernah baca komiknya doang mas :woot:

  5. cK says:

    huaaaaaa aku pengen pelihara si kucing iniiiii…

    coba cari aja di pinggir jalan ;) )

  6. didut says:

    iki cerpen bi?

    gitu deh hihihi

  7. aftri says:

    kok jadi sedih baca cerita ini..
    :( (

    terharu kucingnya punya rumah lagi.. :cry:

  8. ipied says:

    wahhh bagus ceritanya… bikin buku aja kitin :D saya yang gambari deh…

  9. Chic says:

    kittiiiiin kamu kapan pulang lagi? sini sini, dongengin buat Vio ;) )

  10. warm says:

    duh keren skali kris !!

    pengen bikin jg jadinya
    ajarin saya dong
    :D

  11. arman says:

    nice story…
    nah cerita2 simple gini nih cocok buat gua ceritain ke andrew… thanks ya… ntar malem gua jadi punya bahan ceritaan. hahaha.

  12. devieriana says:

    hihihi, aku geli sama kucing.. Geli apa takut gitu. Nggak tau kaya GR aja kalau ada kucing, kaya dia mau deketin aku, padahal ya belum tentu :lol:

  13. kimi says:

    Aku jadi pengen melihara kucing, tapi pasti ga dibolehin sama Mama. Beda banget sama orangtua si anak itu. :( (

  14. Cahya says:

    Kucing ya aneh, rasanya kucing itu pemalu tapi bukan penakut. Kucing punya 9 nyawa, tapi rasa ingin tahu bisa membunuh seekor kucing. Jadi dia bisa menjelajak ke mana pun tanpa takut untuk memenuhi rasa ingin tahunya…

Comments are closed.