Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Semingguan di Manchester: Adaptasi

Hai penggemar. Ini hari ke-12 saya pindah domisili ke kota di North West England, tepatnya di Kodya Manchester. Saya tinggal di asrama kampus, satu gedung ada 9 flat dan 1 flat ada 7 orang. Di asrama kampus jarang ada flat campur, biasanya mereka atur agar bisa same-sex flat; untuk asrama dengan kamar ensuite (kamar mandinya di dalam kamar) bisa aja dijadikan mixed-sex flat. Flatmate saya ada 6 orang: 5 orang dari RRC dan 1 orang dari Russia. Kami jarang ngobrol sih, bahkan mbak di kamar G itu saya baru 2 kali lihat, pertama saat dia pinjem charger hempon android dan kedua saat dia balikin charger.

Di flat kami ada 2 shower dan 2 toilet, sejauh ini sih saya belom pernah sampe ngantri mandi banget kayak jaman kost di SMA dulu. Mungkin karena jadwalnya beda-beda ya. Bersyukur juga dapet flatmate yang gak jorok urusan kamar mandi, kecuali mbak kamar D yang entah kenapa sering sekali bikin lantai WC basah dan pernah sekali ngecat rambut di WC sampe belepotan. Untung di asrama kampus yang shared bathroom (dan shared kitchen) ini ada petugas yang ngebersihin common room (shower room, WC, dapur) seminggu dua kali. Kalau sampah dapur sih kami ada piket giliran buang sampah,

Di asrama kampus juga digalakkan program daur ulang. Segala macam kemasan yang masih bisa dipakai (botol kaca, botol plastik, kaleng bekas) dan kertas kardus/karton bekas bisa dikumpulkan dan “dibuang” ke tempat sampah khusus barang recycle.

Asrama saya lokasinya cukup strategis. Halte bus ada tepat di depan asrama (dan di seberangnya). ATM dan kantor cabang bank Barclay’s dan Lloyd’s di sebelah kanan gedung. Di sebelah kiri ada warung kebab dan toko sandwich, di seberang jalan ada dua supermarket, McD, resto cina, warkop, Subway, dan Domino’s Pizza. Asrama punya bar lucu-lucuan (dan murah!) atau bisa juga ke bar yang lebih hip lagi di kalangan mahasiswa, yang berada di deretan warung kebab sebelah asrama.

Hari ini hari pertama saya mulai kuliah. Well it’s kinda disappointing really. Saya mengharapkan atmosfer yang lebih internasional (ya secara kuliahnya di UK gitu) tapi di kelas saya ini 90% nya mahasiswa dari RRC. But OK maybe it’s just my prejudice talking, and I hope it would get better along the term time.

Minggu lalu ada beberapa sesi welcome event dan induction session dari jurusan dan fakultas, dan saya cukup terkesima dengan ruang kelas dan metode pembelajarannya. Yah di mana-mana memang tergantung mahasiswanya sih tapi fasilitas seperti ini bikin semangat belajar jadi membara (semoga bukan cuma di minggu-minggu awal aja). Perpustakaan kampus adalah salah satu dari banyak alasan saya jatuh hati sama kampus ini. Salah satu perpustakaan the University of Manchester, The John Rylands Library, adalah salah satu perpustakaan tercantik di dunia. It’s a dreamy library. Perpustakaan pusat yang buka hingga tengah malam juga sangat sangat membantu mahasiswa belajar; ada PC cluster dan ruang-ruang baca.

Yang kece (dan baru!) adalah Alan Gilbert Learning Commons (AGLC, atau oleh mahasiswa biasa disebut dengan Ali G building), tempat belajar yang buka 24/7. Iya, AGLC ndak pernah tutup. Di situ ada ruang belajar dengan sofa-sofa empuk bagi yang ingin santai tapi ada juga meja kursi yang “normal”. Ada ruang study group yang bisa di-tag untuk belajar kelompok, dan kalau capek bisa mampir ke kursi pijat; bahkan disarankan power nap di situ. Gak boleh bawa selimut dan bantal buat nginep tapi ya.

Asrama saya cukup jauh dari kampus teknik, kalau jalan kaki ya sekitar 30-40 menit. Beruntung, kami difasilitasi bus gratis dengan trayek dari depan gedung Student’s Union sampai halte dekat kampus teknik. Dari asrama saya cukup jalan kaki 5 menit aja ke halte depan gedung Student’s Union. Kalau traffic normal ya sekitar 20 menitan lah door-to-door dari asrama ke kampus.

Oiya sesuai judul. Fase adaptasi.

Yang paling kerasa sesampainya di sini adalah jetlag. Badan belum terbiasa di zona waktu yang berbeda, jadi 3 hari pertama saya masih bangun jam 4 pagi dan tepar jam 6 sore. Lama-lama badan saya mulai bisa adaptasi, bahkan adaptasinya kebablasan; saya belum ngantuk di tengah malam dan susah bangun pagi. Kayaknya badannya terlalu ke barat, mungkin di zona waktu Samudera Pasifik. Hahaha lucu.

Adaptasi yang kedua adalah kamar mandi. Taulah kalo terbiasa di Indonesia yang WC nya basah dan/atau pake jetshower kan enak ya. Di sini mana ada. Nah beruntunglah di asrama (dan di kampus), di dalam WC ada wastafelnya, jadi saya selalu bawa botol khusus untuk diisi air kalo pengen pup huehueheuhe. Penting banget ini. Perlu beberapa hari untuk bisa menyesuaikan ritme dan teknik yang tepat dan optimal. Halah.

Adaptasi berikutnya adalah makanan. Sudah gak bisa ya seenaknya tiap hari makan keluar kayak jaman di Serpong atau Jogja dulu. Bisa ludes tabungan. Harus memasak. Pagi hari di sini hawanya mager banget, gak kayak di Serpong di mana saya bisa bangun jam 5 pagi dengan semangat, menyempatkan diri olahraga, lalu masak untuk sarapan dan bekal makan siang. Ditambah dengan hawa dingin dan aura cloudy gloomy khas UK, rasanya mengubur diri di dalam selimut tebal itu pilihan yang sungguh sangat tepat. Sambil buka pokemon go atau yutuban lebih oke. Nanti keluar selimut udah jam 10 aja. Huft. Untuk makanan ini saya ndak terlalu banyak masalah, karena memang gak harus makan nasi, jadi ya seadanya saja yang ada. Kalo ndak ada dan malas masak ya cari diskonan di Sainsbury’s atau Morrison’s sebrang jalan biasanya ada diskonan jajan atau makanan siap saji yang hampir expired.

Yang terakhir dan paling penting: cuaca. Waktu saya datang sampai beberapa hari kemudian, Manchester sedang cerah ceria, cenderung panas malah. Saya malah keliling kota cuma pake kaos, jeans, dan sandal jepit aja. Sejak kemarin sifat aslinya mulai muncul. Mulai banyak angin, tiba-tiba gerimis dan tiba-tiba reda, dan seharian ini bahkan turun hujan. Teknik layering (halah) jadi sangat penting, apalagi katanya dalam beberapa minggu ke depan akan turun salju dan tentu saja sebelum turun salju temperatur akan jadi sangat dingin.

Tips dari saya untuk yang sedang ingin ke negeri empat musim di musim dingin: pastikan kaki dan lehermu hangat, maka sisanya jadi ndak terlalu masalah. Kalau memang lagi dingin banget pakailah sarung tangan. Jangan remehkan telapak tangan, karena di jalan kamu pegang-pegang tiang atau apa yang sedang beku maka bisa terjadi cold burn/frostbite.

Ngemeng-ngemeng soal hawa dingin, jadi kangen suami yang berada 12.200 km jauhnya di belahan dunia satunya…

Hari Kedua di Manchester

Hello.

Terimakasih atas doa para penggemar sekalian (cuih) akhirnya saya sampai juga di Manchester. Saya terbang dari Cengkareng hari Rabu sore; leg pertama 9 jam dan leg kedua 8 jam dengan jeda 4 jam transit di Dubai. It was okay. Di airport saya dijemput oleh teman-teman Student Union yang mengantarkan saya ke asrama naik taksi. Black cab yang lucu itu loh. Sampai asrama saya lapor dulu ke kantor administrasi untuk check in dan ambil kunci. Harusnya saya bawa formulir key release form untuk serah terima kunci tapi kok saya lupa ngeprint semasa di Jogja. Akhirnya saya cuma nyerahin print email dari accommodation office yang berisi kontrak akomodasi untuk ditukar dengan kunci pintu gedung, pintu flat, ruang mailbox, kartu laundry yang harus diisi duit, dan kartu akses masuk gerbang asrama.

Saya dapat kamar di flat lantai tiga tanpa elevator. Nggeret koper 30 kg beserta ransel 7 kg dari lantai dasar ke lantai tiga setelah penerbangan panjang itu rasanya… oh f*ck it I wouldn’t care even if I broke my suitcase. Sampai juga saya di kamar. Satu flat berisi 7 kamar dengan 2 kamar mandi + 2 toilet serta dapur untuk dipakai bersama. Saat saya tiba, di situ sudah ada 2 kamar yang diisi mahasiswi dari China. Mereka dan beberapa temannya mengajak saya ke city centre untuk jalan-jalan dan nyari anu-anu. Ya okelah. Saya masih malas juga ke kampus ngurus residence permit dan bikin kartu mahasiswa. Nanti kalo difoto kelihatan jelek. Halah.

Setelah leyeh-leyeh dan mandi, kami jalan kaki ke city centre dan keluar masuk toko beli beli ini itu. Saya sih beli perlengkapan dasar anak kost seperti perlengkapan mandi, mencuci, tempat sampah/plastik sampah, dll. Saya belom kepikiran beli perlengkapan makan karena selain susah bawanya, saya sungguh yakin kalo beberapa hari ini bakal makan di luar.

Oh iya ada satu drama menjelang keberangkatan. Soal sepatu. Sejak cuti tanggal 1 itu saya mudik ke Jogja pake sepatu yang nantinya akan saya pake untuk berangkat ke UK. Di koper cuma ada sepatu formal wedges dan sandal jepit WC aja. Di Jogja saya kemana-mana pake sandal jepit fancy. Iya loh fancy. Mahal. 25 ribuan di ITC BSD. Nah, pas berangkat ke Jakarta saya lupa sama sekali soal sepatu ini, jadi aja perginya ke Jakarta pake sandal jepit fancy juga. Sampai mess di Serpong… kok rak sepatu kosong. Harusnya kan masih ada sepatu buat ntar dipake berangkat.

LHA KAN SEPATUNYA DIPAKE PULANG KE JOGJA TAPI GAK DIPAKE BALIK KE JAKARTA.

Okelah. Saya nemu jellyshoes yang bisa saya pake untuk berangkat ke UK, tapi saya baru ingat kenapa sepatu itu lama ndak saya pakai: bikin kaki sakit karena ujungnya rada runcing sedangkan kaki saya lebar kayak bebek. Sampai Dubai saya tergoda mampir toko sepatu dan beli sepatu baru; meskipun rada gak nyaman tapi saya tahan aja. Sampai Manchester saya bener-bener gak tahan, apalagi nanti keluar bandara mesti bawa koper segede gaban (gaban itu segede apa sih). Waktu antri imigrasi saya cuek aja nurunin ransel dan ganti sandal jepit fancy. Bodo amat sandal jepitan diliatin orang-orang.

Nah ini hubungannya drama sepatu dan jalan-jalan ke city centre: saya beli sepatu baru di sana.

Udah itu doang. Iya cuma segitu. Maaf ya pembaca.

Btw cewek-cewek ini jalannya super cepat. Kedua kaki dan sepasang sandal jepit fancy saya merengek kelelahan sampai akhirnya hari sudah sore dan kami memutuskan untuk makan di China Town. Makanannya lumayan, termasuk harganya juga. Lumayan mahal. Pulang ke asrama saya sudah tepar, males beberes unpacking apalagi nata-nata barang. Saya langsung ganti baju, cuci muka, cuci kaki, gosok gigi, lalu tidur.

Belum ada jam 4 pagi saya udah kebangun. Dammit jet lag. Saya melek aja trus nyalain Pokemon Go. Di sini banyak Drowzee. Halah. Jam 9 lewat saya mandi dan bersiap ke kampus untuk ambil residence permit dan bikin student card. Urusan beres sekitar jam 11, lalu saya langsung belanja sayur, buah, dan kebutuhan lain di Lidl. Sejak di Belanda dulu nama ini sudah familiar untuk saya karena harganya yang terkenal murah hahahah. Kayaknya kebanyakan deh belanjanya, berat banget bawanya. Sampai asrama istirahat sebentar kemudian janjian sama mas Hendrik dari PPI Greater Manchester. Beliau posting barang di grup fesbuk Garage Sale PPI-GM dan saya ngetag alat masak beliau. Eh gak nyangka dibonusin macem-macem. Ada alat makan, blender (baru!), duvet sak cover dan spreinya, bantal guling, gantungan baju, tempat sampah, dan BUMBU MASAK YANG BANYAK DAN OKE BANGET.

Terimakasih ya Tuhanku. Saya gak perlu lagi beli bantal selimut dan perlengkapan makan. Sebagai bonus, saya juga dikasih kartu anggota supermarket Morrison’s yang setahun ini poinnya sudah mereka kumpulkan. Kali-kali dapet bonusan apa gitu wkwkwk.

Setelah angkut-angkut barang saya makan karena kelaparan. Sebungkus pasta tomat/mozzarella yang mestinya bisa untuk dua kali makan, saya habiskan sekali makan. Hmm kan tadi habis angkut-angkut barang. Boleh dong. Ya terserah lu aja dah.

Anyway, itu dua hari saya di Manchester. Pretty ordinary, isn’t it ? Iya nih saya lagi berusaha ngumpulin semangat. Tapi yang pertama, mari mengatasi jet lag bdbh ini. Jam 8 sore kok ngantuknya gak terkira. Bikin sereal dulu ya pemirsa. Sampai jumpa pada postingan hari kesekian di Manchester berikutnya.

Gula Waxing Gejayan – Review

Saya tuh pertama kali kenal waxing di Belanda dulu, pas iseng ke minimarket dan lihat ada wax strip merk Veet. Satu box kalo gak salah isinya ada 10 lembar strip segede koyo cabe gitu, dilapisi cairan kental macam karamel. Cara pakainya sungguh mudah, tempelkan saja stripnya di bagian yang akan di-wax, tekan-tekan sebentar lalu tarik dengan cepat. Metode ini bener-bener nyenengin karena dalam waktu singkat saja tangan kaki sudah bebas bulu.

Nah di tempat-tempat yang lebih rumit seperti underarm dan bikini region, saya baru pertama kali nyoba waxing dua tahun lalu saat iseng nemu tempat waxing yang gak jauh dari rumah. Rasanya gimana? Ya sakit. Tapi nagih. Bersihnya itu lho, rasanya jadi moodboster yang luar biasa (halah). Saya ketagihan waxing di situ karena mbaknya telaten banget, kalau ada yang belum bersih sehabis di-wax, pembersihan dilanjutkan dengan threading (mencabut bulu dengan menggunakan benang. Kok bisa? Bisa dong! Keren kan?) sampai bersih. FYI di tempat-tempat tertentu, threading ini rasanya lebih cekit cekit dan lebih sakit daripada kalau bulu dioles gula cair panas dan dicabut pakai strip cloth.

Kadang ga sempet waxing di tempat langganan karena tutup jam 5 dan libur di hari minggu, saya pun nyari alternatif salon waxing di Jogja. Beberapa kali nyobain waxing di salon kecantikan yang emang sering saya datangi untuk potong rambut atau krimbat atau body spa, rasanya kurang mantep. Hasil strip-nya gak bersih, dan malah kadang habis itu gak di-threading sehingga malah jadi risih. Minggu lalu saya pulang ke Jogja dalam rangka pamit-pamit sebelum berangkat ke Manchester, dan karena tempat waxing langganan tutup sementara makanya dua bulan terakhir saya belom sempat waxing :(

Dari forum mbak-mbak Female Daily, ada rekomendasi tempat waxing bagus di jogja, namanya Gula. Saya baru tahu, padahal ternyata tempat ini sudah ada sejak empat tahun lalu. Tempatnya pas di pinggir jalan Gejayan, seberang Pasar Demangan, barat jalan. Jadi yang dari arah utara/RingRoad mesti belok kiri dulu ke jalan Solo baru puter balik di depan Wanitatama dan masuk lagi ke jalan Gejayan. Parkirannya juga sempit, karena memang “cuma” kios kecil pinggir jalan yang parkirannya nebeng trotoar.

Masuk ke resepsionis salon, kita disambut ruang tunggu dan meja kasir di mana kita disodori nota berisi jenis2 perawatan beserta harganya, yang harus dicentang sesuai dengan perawatan apa yang kita pilih. Dari situ nanti kita diantar ke lantai bawah untuk menemui kapster yang akan melakukan perawatan.

Saya kan mau waxing sama krimbat ya, jadi sebelum mulai perawatan mbaknya nanya dulu:

“Krimbat dulu apa waxing dulu mbak?”

“Krimbat dulu kali ya”

“Mmm menurut saya mending waxing dulu mbak. Nanti abis sakit di-wax bisa leyeh2 sambil krimbat”

“Wah mbaknya nel uga. oke deh”

Saya ganti baju dan pasang posisi pewe di tempat tidur. Tenang aja, kembennya wangi dan kamarnya tertutup kok. Prosedur waxingnya standar, setelah di-strip mbaknya akan melakukan threading SAMPAI BERSIH dan kalau mbaknya belum puas akan dilanjutkan pake pinset. Bayangkan sodara-sodara, betapa penyiksaan itu seperti tiada henti.

Ya siapa lho yang nyuruh nyiksa2 diri sendiri.

Oke sip. Mbak kapster ini melakukan tiap step waxing dengan sangat sungguh sabar. Kalo saya terlihat kesakitan mbaknya sigap ngolesin lotion anti iritasi dan memijat bagian yang bisa ngurangin sakit. Kok bisa ya. Lha belajar. Piye sih.

Baiklah, pokoknya saya merekomendasikan tempat ini untuk mbak-mbak yang nyari tempat waxing di Jogja.

In Exactly 5 Weeks

… in exactly 5 weeks, I’d be arriving in a new place that I should befriend for a whole year.

Saya sangat membanggakan laptop Lenovo Ideapad G460 yang sudah hampir 6 tahun saya miliki. Dia punya julukan Laptop Kangkung. Kenapa dinamain begitu? Alasannya baca di sini aja; gak penting sih, tapi berkesan. Laptop ini nemenin saya saat harus lembur di pabrik dan ngelanjutin kerjaan di kafe setelahnya, saat saya nganggur dan cari kerjaan freelance, saat saya belajar buat test CPNS, saat saya bikin banyak personal statement dan ngirim-ngirim aplikasi ke banyak sekolah, dan masih banyak lagi. Dia juga yang saya abuse saat pada tahun 2011 hati saya patah — tidak cuma patah tapi hancur berkeping-keping.

Dia gak pernah rewel, kecuali tiga tahun lalu saat dia tiba-tiba mati tanpa pamit. Saya masih ingat saat itu sore hari di kantor saya sedang menyalakan laptop untuk ngecek kerjaan freelance. Tidak ada suara, tidak ada raungan khas dari kipasnya – yang biasanya terdengar saat laptop dinyalakan. Motherboard kayaknya nih. Saya mulai panik, kemudian googling untuk mencari info tempat reparasi laptop di Jogja. Setelah melalui banyak pertimbangan dan kontemplasi selama beberapa hari, saya akhirnya membawa laptop itu ke sebuah servisan di dekat Selokan Mataram.

Gak sampai seminggu kemudian saya dikabari kalau laptopnya berhasil diservis, biayanya 500 ribu. Menurut saya mahal, tapi gak ada yang bisa menggantikan ikatan emosional saya dengan laptop kenangan itu. Lagipula kalau harus ganti motherboard pasti jauh lebih mahal lagi (dan memangnya motherboard laptop keluaran 2010 masih gampang dicari?)

Ya begitulah. Segera saya upgrade RAM; nambah jadi total 4GB. Setelahnya, si Laptop Kangkung menjalankan tugasnya dengan mulus sekali sampai sekitar bulan September 2015 dia mulai sering overheated dan shutdown. Saya mengkhawatirkan harddisk (ya motherboard juga) yang kemungkinan besar rusak kalo terus-terusan seperti itu. Akhirnya saya “menitipkan” laptop kesayangan saya itu ke mz Mizan untuk dibersihkan fan-nya dan di-install ulang. Seminggu kemudian laptop saya kembali dalam keadaan bersih dan suci.

He was working smoother than ever. Gak ada lagi suara kipas yang menggerung kepanasan, bahkan batre yang biasanya cuma bertahan 3 menit setelah cleaning dan install ulang bisa nyala tanpa harus dicolok listrik selama hampir 30 menit sambil dipake nonton film. I was sooooo happy.

Kemudian saya berpikir realistis. Laptop ini gak mungkin saya bawa sekolah; bukan karena performanya sudah tidak bagus, tapi karena ia sudah mulai kehilangan sifat notebook yang harusnya mobile. Laptopnya berat, dan saya harus nemu colokan kalau mau pakai laptopnya. Sepertinya akan tidak praktis saat saya nanti mesti jalan kaki atau naik bus dari asrama ke sekolah, dan kalau di kelas mesti buka laptop untuk mencatat atau ngerjain tugas.

Perburuan laptop pun dimulai. Berbagai laman review sudah saya baca dan berbekal titah mz Mizan saya memulai pencarian di website enterkomputer.com. Lima buah merk dan tipe laptop saya peroleh sebagai shortlist setelah dua minggu penuh menghabiskan waktu untuk memilih. Saya kirim e-mail ke Enter untuk menanyakan stok dan… semuanya out of stock.

Sampai kemudian pada suatu siang yang tenang, Laptop Kangkung mau saya nyalakan untuk ngerjain kuitansi koperasi kantor. Ada suara, tapi layar tetap gelap. Seperti tiga tahun lalu, saya panik. Tapi kali ini saya tidak ingin melakukan apapun, jadi laptop saya force shutdown kemudia saya memilih untuk tidur siang saja. Bangun tidur saya iseng nyalain laptop…

He lightened up. He booted and worked fine like nothing happened.

Mungkin dia cuma ngambek. Tapi saya gak punya pilihan, sepanjang sore sampai malam hari saya memantapkan hari untuk memilih satu laptop yang – seperti Laptop Kangkung yang menjadi saksi drama selama karir kerja saya – akan menjadi saksi drama selama sekolah saya besok dan nanti.

Pilihan saya jatuhkan pada Dell Inspiron 11 3162 dengan prosesor N3700, RAM 4GB, dan OS Ubuntu. Tipe yang sama ditawarkan dengan harga murah, namun prosesornya N3050 dan RAM-nya hanya 2GB. Saya beli di Jakarta Notebook meskipun harganya 70 ribu lebih mahal daripada di Enter, karena di Enter tidak ada opsi pilih warna sedangkan saya mengincar warna merahnya. Pesanan sampai di kantor sore ini setelah 3 hari di jalan, dan saya langsung melakukan proses unboxing.

Pada suatu senja di sebuah kost putri di pinggiran jalan Margonda, Depok, saya jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Laptop Kangkung yang kemudian jadi soulmate saya sampai detik ini. Kali ini tidak ada perasaan sekuat itu kepada laptop berwarna merah yang sedang saya pakai mengetik entri blog ini, tapi bukan berarti saya tidak akan jatuh hati padanya anytime soon.

Saat tadi menyalakan laptop Dell bertipe Inspiron ini untuk pertama kalinya dan masuk ke mode instalasi Ubuntu 14.04 LTS, benak saya langsung terbang ke masa 9 tahun yang lalu – kurang lebih di bulan yang sama. Saya sedang persiapan untuk pergi sekolah ke Eropa dengan membawa laptop Dell juga dan OS yang juga Ubuntu. Bedanya, saat itu saya bawa Dell tipe Latitude C-series yang OS Ubuntunya masih jadul banget (lebih jadul daripada Feisty Fawn, tampilannya pun gak se-sleek sekarang). Laptopnya tebal sekali, dengan slot CD-ROM dan removable battery berada di depan laptop. DEPAN. Jadi kalo mau ngeluar-masukin CD dia ngebuka ke arah kita gitu kayak meja kasir. Di samping kiri dan kanan laptop ada port USB, RJ45, VGA, dan slot PCMCIA. Yes you heard me. PCMCIA. Kapasitas harddisknya cuma 20GB — bukan, bukan SSD.

In exactly 5 weeks I am going to leave my beloved Laptop Kangkung and I’m not sure if I can stop my mind from wondering if he’d still be able to function next year when I’m home. Please, please, please wish us luck and alive throughout the year. If my Dell could survive then so would us.

Maaf sudah membuang waktu kalian dengan entri sentimentil dan gak penting ini ya~

Decluttering and Moving on

Beberapa episode baru dalam hidup saya melibatkan proses migrasi dari satu tempat ke tempat lain, yang artinya saya harus packing, dan berarti juga saya harus memilah, memilih, menyimpan, dan membuang. Bagi saya ini adalah proses yang paling berat dan memakan waktu karena meskipun terdengar mudah namun pada kenyataannya banyak waktu, tenaga, dan pikiran yang harus dikerahkan untuk menyelesaikannya.

Padahal barang saya cuma dikit lho. *dusta*

Menurut kamus Merriam-Webster, decluttering artinya “to remove clutter from a room, an area” sedangkan menurut kamus Oxford “to remove unnecessary items”. Kamus Cambridge memberikan definisi yang lebih jelas: “to remove things you do not need from place, in order to make it more pleasant and more useful”.

Kata kunci: remove, need, pleasant, useful.

Terakhir kali saya decluttering adalah saat sedang packing untuk hijrah dari Jogja ke Serpong. Karena mendadak sakit, saat itu yang bantu-bantu packing adalah pacar saya – yang sekarang sudah jadi suami. Saya masih ingat betapa beliau takjub atas banyaknya barang-barang yang saya miliki, yang sebenarnya gak perlu disimpan dan gak diperlukan. Saya memang suka sekali hoarding, menyimpan barang-barang yang menurut saya punya nilai bersejarah (seperti tiket bioskop, tiket konser, dll), yang sekarang jarang/gak pernah dipake tapi meyakini bahwa suatu saat mereka akan kepake (seringkali terselip penyangkalan “ntar juga kurus lagi kok, pasti muat”), dll dsb.

Pedoman yang saya pakai untuk decluttering adalah blog post dari Desti, yang menyediakan pertanyaan sebagai panduan memilah dan memilih:

  1. Have you used it in the last year? No? Throw it away.
  2. What’s its story? Quick! Tell me in 5 seconds! Can’t? Throw it away.
  3. Is it worth saving? No? Throw it away.

Udah, itu aja. Gak susah kan? GAK SUSAH MBAHNYA

Saya menemukan banyak hal yang menimbulkan pertentangan batin, apakah barang ini akan disimpan atau dibuang. Salah satunya adalah segepok nota pembelian semasa tahun 2007 – 2008. Nota macem-macem, mulai dari nota beli pulsa, supermarket, makan di resto, tiket masuk obyek wisata, dll. Saya mengingat masa itu sebagai salah satu periode terberat saya bertahan hidup saat sedang berada di negeri yang jauh dari rumah dengan kemampuan finansial yang terbatas, dan tekanan mental yang cukup berat akibat early-stage depression dan masalah keluarga. Setiap nota saya simpan karena sejak SMA saya terbiasa untuk mencatat pengeluaran harian, dan nota-nota tersebut saya kumpulkan untuk memastikan tidak ada detail yang tercecer dalam buku kas saya. Halah buku kas.

Selain membuang hal-hal yang memang sudah tidak diperlukan seperti nota tadi, saya juga belajar untuk mengikhlaskan barang-barang yang sebenarnya akan lebih berguna kalau dipakai orang lain. Lipstik, pelembab, dan beberapa kosmetik lainnya saya hibahkan ke teman-teman plurk. Hampir selusin pasang sepatu saya hibahkan ke teman SMP yang ukuran dan selera model sepatunya sama dengan saya. Mau secinta apapun saya sama stilleto-stilleto itu, saya gak akan pernah bisa pakai lagi karena dengkul yang KW ini, jadi ya ikhlaskan sajalah. Dua ransel besar penuh pakaian juga dihibahkan ke ponakan perempuan saya.

*menarik napas panjang*

Decluttering dan packing episode kali ini memakan waktu lima malam berturut-turut, dengan saya yang baru tidur jam 5 pagi dan bangun jam setengah tujuh pagi karena harus ngantor. It was worth it. Hasilnya adalah lima kardus kecil dan satu kardus besar, serta beberapa tas tenteng berisi printilan-printilan (karena malas beli kardus sih).

Enam minggu lagi saya harus kembali packing untuk migrasi ke belahan dunia lain. Mari kita lihat seberapa sentimentil saya nanti saat packing, karena ingin membawa SEMUA hal yang menurut saya penting dan perlu dibawa.