Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Relativitas Waktu

Time flies so fast when you have fun, kata siapa gitu di pinterest yang suka berbagi kutipan bagus. Ada benernya juga. Saya kadang masih bingung gimana harus menyikapi masa depan, mengingat umur yang sudah mendekati kepala tiga.

When i was young, I thought I would have had my life figured out. Lulus umur sekian, kerja di tempat yang oke, punya gaji sekian, sekolah lagi, menikah, punya anak, punya rumah, dll. Setelah melewati fase quarter life crisis, rasanya ambisi mulai menurun dan yang terlintas di pikiran hanyalah bagaimana menemukan kondisi optimum antara karier dan passion. Ide tentang pasangan hidup sementara tersisihkan karena patah hati yang teramat dalam dan fokus ditumpukan pada pekerjaan.

Rasanya masih segar dalam ingatan, di salah satu mantan tempat kerja saya kok merasa waktu berjalan sangat lambat. Saya gak tahu karier saya ke depannya akan gimana, sementara itu saya belum niat-niat amat cari kerjaan baru. Mantan tempat kerja lainnya justru punya impresi yang berbeda buat saya; waktu berjalan begitu cepat sampai-sampai gak terasa kok sudah sekian bulan padahal kayaknya saya belom ngapa-ngapain.

Capture

Sebelah kiri itu foto saya dan adek waktu saya wisuda. Foto bawah tengah, waktu dia wisuda 6 tahun kemudian di tempat yang sama, gedung Graha Sabha Pramana UGM. Bocah ini kok udah sarjana aja ya. Udah punya kerjaan. Udah punya cewek yang dipacarin bertahun-tahun pula. Nah kalo foto yang atas itu foto anak-anak dari anjing kantor yang lahir beberapa bulan lalu. Foto kanan bawah diambil bulan lalu, obyek yang sama. Kok mereka udah pada balita aja sih (ekuivalensi umur anjing).

I guess I’m indeed having fun. Hidup itu arena bermain dan belajar. Mau gembira atau sedih seperti apapun, semua bakal berlalu, jadi nikmati aja apa yang ada di depan. Rencanakan sebisanya, tapi jangan stress kalau yang kejadian malah di luar dugaan. Kalau sekarang ditanya rencananya gimana… ya masih sama, masih seputar sekolah lagi – menikah – punya anak – punya rumah – sekolah lagi, dll. Untuk kerjaan sih sepertinya sudah nemu jodohnya. Uhuk.

Besok sudah Jumat. Have a nice weekend, and don’t forget to have fun!

Tentang LoA dan Perjalanan yang (Masih) Panjang

Bagi yang belum tahu, LoA itu Letter of Acceptance (Surat Penerimaan), dalam hal ini dari universitas. Kadang disebut juga offer letter. LoA diberikan jika calon mahasiswa memenuhi syarat masuk universitas. Syarat dan prosedur seleksinya pun macam-macam, tergantung universitasnya. Di sini saya persempit cerita LoA untuk studi magister saja ya, karena saya belom pernah daftar PhD. Hihihi.

Kebanyakan universitas membuka pendaftaran untuk mahasiswa baru sekitar bulan Oktober/November untuk tahun ajaran baru yang dimulai pada bulan September tahun berikutnya. Kadang juga ada yang buka sepanjang tahun, tinggal nanti kita milih mau masuk di bulan dan tahun yang mana.

Syarat yang harus disiapkan kira-kira begini:

1. Ijazah dan transkrip nilai S1. Beberapa cuma minta ijazah dan transkrip tanpa harus legalisir. Beberapa lagi minta legalized copy, artinya copy ijazah dan transkrip harus dilegalisir notaris publik atau kedutaan negara dari universitas yang dituju. Jadi misalnya kamu ingin daftar kuliah di Australia, yang legalisir harus dari kedutaan Australia atau institusi yang ditunjuk. Beberapa universitas di Korea dan Arab Saudi pun punya prosedur demikian. Oh iya, untuk daftar sekolah ke luar negeri, ijazah dan transkripnya harus dalam bahasa Inggris ya. Kalau dari universitasmu cuma ada versi bahasa Indonesia, mintalah kampus menerjemahkan atau bisa juga ke penerjemah tersumpah/sworn translator.

2. Sertifikat Bahasa Inggris, boleh TOEFL atau IELTS. Beberapa pake TOEIC aja sudah cukup. Dicek ke universitasnya ya, TOEFL-nya harus iBT atau boleh ITP. Standar penerimaan studi S2 di luar negeri sih biasanya mensyaratkan TOEFL 550 (ITP) / 79 (iBT) atau IELTS 5.5 – 6. Sekali lagi cek ke persyaratan dari universitas, karena kalau yang kamu tuju universitas super kece biasanya juga minta skor super tinggi.

3. Sertifikat GRE/GMAT. Biasanya GRE/GMAT ini diminta oleh universitas di Singapura dan Amerika. Kalau Australia dan Eropa (termasuk UK) hampir semua gak minta sertifikat GRE/GMAT.

4. Reference Letter. Ini apa sih? Reference letter adalah surat referensi (plak!). Jadi, surat ini adalah surat dari seseorang yang bisa merekomendasikanmu untuk mendaftar studi master dan menyatakan dirimu layak untuk belajar di tempat itu. Universitas biasanya mensyaratkan bahwa reference letter dibuat oleh former professor/academic supervisor, misalnya dosen pembimbing akademik atau dosen pembimbing tugas akhir, atau dosen yang cukup mengerti latar belakang dan track recordmu di kampus dulu. Selain academic referee, reference letter juga bisa dibuat oleh mantan bos atau bos yang sekarang. Mau nyari reference letter dari dosen atau bos, isinya sama: di mana dan sudah berapa lama beliau mengenalmu, bagaimana kemampuanmu saat bekerja bersama beliau, dan apa alasan beliau harus merekomendasikanmu untuk menjadi mahasiswa di universitas yang bersangkutan.

Jadi, baik-baiklah sama dosen ya. Mwahaha.

5. Personal Statement. Nah ini yang rada perlu usaha juga. Personal statement menjelaskan latar belakang dan motivasimu mendaftar ke universitas itu. Di situ harus ada alasan kenapa kamu memilih universitas itu dan bagaimana program studi yang kamu ambil akan membantumu dalam meningkatkan kemampuan atau membantu karirmu di masa depan. Untuk yang terikat institusi, akan lebih bagus lagi kalo motivasi dan target di personal statement in line sama kerjaan kamu sekarang dan target kamu nanti.

6. Kartu identitas. Yang ini gak semuanya minta. Kalaupun ada biasanya minta scan paspor, itupun gak wajib.

Yang lain-lain paling nanti ngisi pengalaman kerja, deskripsi kerjaan, dan pengalaman riset (kalau ada).

Setelah semua data diisi, lalu gimana? Tunggu aja email balasan dari universitas, apakah semua syarat sudah terpenuhi atau masih perlu apa lagi.

Kalau kamu sudah memenuhi syarat dasar penerimaan masuk universitas (latar belakang pendidikan, IPK, pengalaman riset, pengalaman kerja, dll), pihak Admission Office universitas akan mengirimkan Letter of Acceptance yang menyatakan bahwa kamu diterima di program studi X yang akan dimulai pada bulan Y tahun Z. Di situ juga ada hal-hal yang harus kamu penuhi sebelum masuk kuliah seperti pengajuan visa, pembayaran biaya kuliah, dll. Masing-masing universitas punya prosedur sendiri, tapi rata-rata keputusan universitas akan turun pada minggu ketiga atau keempat setelah kita submit pendaftaran. Beberapa universitas malah bisa rilis LoA dalam waktu kurang dari seminggu. Kalau lebih dari sebulan belum ada respon, kamu email saja Admission Office-nya. Biasanya tim mereka responsif, kok.

Oh iya… LoA ada dua jenis: Conditional dan Unconditional.

Conditional LoA diberikan kalau kamu masih punya syarat yang belum terpenuhi seperti reference letter atau sertifikat bahasa, sedangkan unconditional LoA artinya kamu sudah memenuhi semua syarat, jadi tinggal daftar ulang dan bayar. Untuk bisa daftar ulang, kamu harus punya unconditional LoA dulu, ya.

Nah kalau berniat untuk sekolah dengan biaya sendiri, langkah selanjutnya ya tinggal bayar dan ngurus visa. Kalau mau pakai beasiswa ya mari nyari-nyari dulu beasiswanya. Hihi. Buat yang lagi nyari-nyari sekolah, you’ll be needing a lot more than a good luck, so be prepared and have fun doing it! ^_^

malam minggu mikro

judulnya garing banget ah.

minggu lalu teman-teman prajab ngajak bukber di depok, jadilah saya bikin itinerary hari ini: pagi hari berusaha menghindari godaan kasur untuk segera mandi dan servis motor ke bengkel, pulang makan siang lalu beberes dan berangkat ke depok naik kereta. rada siangan koordinator bukbernya ngabarin kalo reschedule minggu depan karena kebanyakan bisanya minggu depan.

oke. trus malem minggu ini ngapain dong.

pulang dari bengkel tengah hari saya mampir indomaret dulu beli eskrim dan amplop kemudian pulang dengan rute memutar sekalian nyoba motor yang baru diservis. sampai rumah bikin nasi goreng lalu makan sambil nonton the big bang theory di laptop, seperti biasa. saat gelundungan nonton series itulah kok tiba-tiba saya pengen laptopan sambil belajar. ya udah akhirnya saya memutuskan untuk tidur siang. *lah*

sekitar jam 4-an setelah kelar jadi sleeping beauty saya mandi dan beresin laptop kemudian ke mcd terdekat yang lokasinya cuma di komplek sebelah. naik motor gak sampe 5 menit. sampe sana saya pesen happy meal dan dapet buku kecil berisi gambar dan informasi tentang ruang angkasa beserta stiker yang bisa ditempel ke dalam bukunya. lucu banget!!!

saya langsung mojok nyari colokan dan buka laptop. dari jam 5 itu saya berusaha belajar tentang termodinamika condensed phase, tapi rada kurang berhasil karena dua orang mas-mas yang duduk di samping saya sedang nyeritain sesuatu yang seru sekali. agak kurang pantas diceritakan di sini sih, tapi ya intinya dua orang ini teman lama yang sedang bukber sambil catching up setelah lama ndak ketemu. mas satunya berapi-api sekali nyeritain pacarnya, bagaimana mereka pertama kali dipertemukan oleh mas satunya lagi, bagaimana mereka putus nyambung tapi tetep sayang. ceritanya manis banget, tapi di akhir baru saya tahu kalau obyek yang diceritakan adalah berjenis kelamin laki-laki juga, terutama karena mendengar namanya (nama yang maskulin) dan kisah-kisah tentang keberadaan “morning wood” juga beberapa hal lain yang sungguh distinctive sehingga saya membuat kesimpulan seperti itu.

tapi cerita mereka manis banget emang. sampe saya gak konsen belajar. pakai earphone sih, musik jalan sih, tapi volume di-mute.

sekitar jam 8 an topik di handout yang saya pelajari makin hot, kali ini tentang desain riset untuk merancang diagram fasa serta studi karakterisasi material secara mikromolekuler. definisi-definisi dan contoh aplikasi soal fasa gibbs dan turunan kalkulasi internal energy mendadak lenyap saat tiba-tiba dua mas-mas tadi terdiam sambil berpegangan tangan.

saya break sebentar, nyari-nyari handout kuliah material science lain sambil apdet twitter dan bbm an sama si mas yang lagi mudik. pas mau balik belajar lagi, grup wasap temen kantor lagi lucu-lucunya juga. ya udahlah. saya ngerapiin folder di komputer doang deh jadinya. jam 10 pas saya beranjak pulang setelah pesan bigmac buat take away.

malam minggu yang rada aneh. tapi lucu. happy weekend, everyone.

buku yang bikin kepikiran

ada 106 buku terdaftar pada daftar rak buku berjudul “read” di akun goodreads saya, berisi buku-buku yang saya baca dalam beberapa tahun terakhir. buku-buku sebelum ada akun goodreads tidak sempat didaftar mana yang sudah dan belum dibaca. tadi saya buka-buka akun goodreads dan beberapa buku membuat saya menerawang ke masa saya baru selesai membacanya. beberapa buku tidak memberikan efek apapun, beberapa buku bikin mau muntah, dan beberapa lagi bikin kepikiran. kepikiran kenapa ceritanya bisa kayak gitu, kenapa ada orang kayak gitu, dan darimana penulisnya bisa dapet ide kayak gitu. beberapa buku yang bikin saya kepikiran adalah:

1. the great gatsby

novel lawas yang difilmkan, tapi saya belum nonton filmnya karena saya suka banget sama novelnya dan takut kalo filmnya akan merusak imajinasi. novel ini bikin saya kepikiran pada tragedi yang terjadi pada jay gatsby yang menurut saya sebenarnya orangnya rapuh dan lovable. saya selesai baca novel ini malam hari, dan pagi harinya masih nyesek sama endingnya.

2. the hunger games

bagian pertama dari trilogi hunger games, yang diikuti oleh catching fire dan mockingjay. saya baca buku ini gak sampai sehari karena cara berceritanya bisa membuat pembacanya terpikat dan ingin membaca lagi dan lagi. setelah membaca buku itu kemudian terpikir, bukankah kita semua sedang ikut hunger games? sebagian main pada easy mode, sebagian lagi hard dan ada pula yang advanced mode.

review saya tentang buku ini: almost perfect.

3. sophie’s world

saya baca novel ini pertama kali tahun 2006, pinjem dari temen yang kemudian bilang bukunya gak usah dibalikin karena dia gak seneng buku itu. terlalu berat, katanya. bahasa inggris pula. beberapa tahun sebelum baca dunia sophie itu ceritanya saya lagi seneng baca buku filsafat dasar, mulai dari sejarah filsafat yunani sampai modern dan post-modernism. kemudian dunia sophie membuat saya melihat banyak hal dengan lebih jelas. mungkin buku itu seperti buku filsafat yang disajikan dengan cara lebih informal dan menyenangkan (?).

4. Seize The Daylight: The Curious and Contentious Story of Daylight Saving Time

buku ini saya baca sampe 3 kali berturut-turut saking penasarannya. saat itu saya masih tinggal di negara empat musim, dan masih berusaha memahami pergantian musim yang sampai membuat orang harus menggeser jam dan menyesuaikan karena tidak mampu mengalahkan alam. sampai sekarang saya masih sesekali baca buku ini dan tetep aja belum bisa sepenuhnya paham sama daylight saving time.

5. Introducing Quantum Theory

saya suka fisika, biarpun fisika gak gitu suka sama saya. gak apa-apa. sejak jaman sma saya tertarik sama teori kuantum dan fisika partikel, dan berusaha paham tentang apa yang sebenarnya diteliti. ya dari jaman atom dalton sampai berujung pada usaha mencari kemungkinan pembentukan awal alam semesta. buku ini serius tapi disajikan dalam bentuk graphic novel dalam panel macem komik gitu, disertai ilustrasi yang pas untuk setiap profil ilmuwan dan komentar-komentar lucu di sana sini. kalau tertarik sama teori kuantum baca deh buku ini. yang bikin saya kepikiran setelah baca buku ini adalah… ada ndak ya yang mau beliin serial introduction yang lain? XD

Kalau kalian, punya buku apa yang berkesan sampai bikin kepikiran?

Jangan Jajan Sembarangan!

Bulan Februari lalu saya ikut Diklat Fungsional Peneliti yang wajib diikuti oleh PNS dengan jabatan fungsional peneliti (di semua kementerian dan lembaga, gak cuma peneliti LIPI) sebagai syarat mendapat gelar peneliti dan tambahan income berupa tunjangan fungsional. Diklat yang diadakan selama 3 minggu ini membahas bagaimana cara melakukan riset yang baik mulai dari penyusunan proposal riset, desain riset, pengambilan dan pengolahan data, penulisan karya tulis ilmiah, presentasi, dan lain-lain. Dari awal diklat kami diminta membawa draft karya tulis ilmiah (KTI) untuk dijadikan materi presentasi individu sebagai salah satu syarat kelulusan diklat. Nah selain KTI individu, kami juga harus melakukan presentasi dan dan menyusun KTI kelompok. Satu kelas ada 30 orang, dibagi menjadi 3 kelompok.

Kelompok saya terdiri dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari teknik elektro, biologi, sampai kedokteran hewan. Dalam penyusunan KTI Kelompok kami diwajibkan mencari sebuah topik yang dikuasai oleh paling tidak satu orang anggota kelompok. Setelah berdiskusi, akhirnya kami memilih topik “EVALUASI KANDUNGAN SODIUM DALAM MAKANAN RINGAN KEMASAN”. Lalu siapa yang dianggap menguasai tema gizi kesehatan ini sebagai perwakilan kelompok? Dalam hal sodium sebagai sebuah unsur kami menunjuk salah seorang anggota berlatarbelakang Kimia MIPA, sedangkan dalam hal hubungannya dengan kesehatan kami menunjuk anggota berlatarbelakang kedokteran… hewan.

Latar belakang kami memilih topik ini adalah memberikan informasi kepada konsumen mengenai cara mengetahui kandungan sodium dalam makanan ringan kemasan sebagai pertimbangan seberapa banyak konsumen dapat mengkonsumsi snack tanpa membahayakan kesehatan. Oh iya, sodium ini sebutan lain untuk natrium (unsur berlambang Na), pendiri senyawa yang biasa kita sebut garam (NaCl).

Memangnya kenapa sih tubuh gak boleh oversodium? Menurut drh. Herjuno Ari, kelebihan sodium dapat memicu penyakit jantung koroner, serebrovaskular, gagal jantung, dan disfungsi ginjal. Maksimum asupan sodium untuk dewasa adalah 2000 mg. Orang dewasa dengan diet normal mengkonsumsi kira-kira 1500 mg dalam menu makan 3 kali sehari, jadi untuk snack hanya tersisa maksimum 500 mg sehari. (Sumber: Permenkes No. 30 Tahun 2013 dan WHO Guideline for Sodium Intake, 2012)

Untuk pengambilan data, kami pergi ke K*rfur Cibinong City Mall dan membeli makanan ringan kemasan. Di bagian belakang bungkusnya ada tabel Informasi Nilai Gizi yang berisi berapa persen kandungan lemak, sodium, karbohidrat, gula, protein, dan lain-lain. Dari makanan ringan jenis chips kami mendapatkan 48 data, dari crackers 33 data dan dari biskuit 75 data. Kira-kira sudah lebih dari 90% jenis makanan ringan yang ada di K*rfur itu lah. Kenapa gak dicatet aja dan bukannya dibeli? Yaaaaa selain gak enak sama pramuniaga, anggep aja ini peran kami dalam perputaran roda perekonomian nasional…

Jadi bagaimana caranya baca informasi nilai gizi?

Tabel Informasi Nilai Gizi

 Itu salah satu contohnya. Untuk melihat berapa total kandungan sodium dalam satu kemasan makanan, kalikan nilai sodium per sajian (sodium amount per serving) dengan jumlah sajian per kemasan (serving per package). Jadi kalau lihat angka nilai sodium per sajiannya kecil, jangan senang dulu karena siapa tahu jumlah porsi per kemasannya besar. Dari gambar di atas kita bisa lihat bahwa satu kemasan makanan tersebut mengandung sodium sebanyak 599mg/serving x 5 serving = 3.995 mg

Batasan asupan sodium dalam snack tadi berapa? Yak betul, 500 mg.

Satu contoh lagi saya ambil dari kemasan belakang makanan salah satu mie instan yang menjadi pujaan anak-anak kost.

Informasi Nilai Gizi Mie Instan

Begitulah.

Hasil analisa kami menunjukkan bahwa hampir separo makanan ringan dalam bentuk chips, crackers, dan biskuit memiliki kandungan sodium di atas 500 mg per bungkusnya. Cara yang ideal ya beli eceran, bawa timbangan sendiri saat belanja atau sebungkus dibagi-bagi untuk beberapa orang atau beberapa kali makan. Beberapa produk favorit bahkan sebungkusnya mengandung 3000 mg sodium. Sebelumnya mohon maaf gak bisa menampilkan datanya karena dalam laporan dan presentasi kami bawa-bawa merk 😀 tapi bagi yang mau silakan japri aja.

Temuan kami yang lain adalah adanya beberapa produk yang sama sekali tidak mencantumkan nilai gizi, terutama makanan ringan kemasan buatan lokal. Iya bungkusnya memang menarik, merknya sudah terkenal, rasanya juga enak, tapi tidak menyertakan informasi nilai gizi, padahal hal ini diwajibkan oleh Peraturan Menteri Kesehatan No. 30 tahun 2013, pasal (3) ayat (1).

Selain itu, kami juga baru tahu bahwa Permenkes tersebut pada ayat (2) menegaskan bahwa di SETIAP makanan kemasan harus disertakan pesan kesehatan yang berbunyi “Konsumsi Gula lebih dari 50 gram, Natrium lebih dari 2000 miligram, atau Lemak total lebih dari 67 gram per orang per hari berisiko hipertensi, stroke, diabetes, dan serangan jantung”. Kayak di bungkus rokok itu. Kenyataannya? TIDAK ADA SATUPUN sampel yang kami punya mencantumkan hal tersebut.

Kenapa kami ambil sampel dari toko bukannya jajanan yang dijual di jalan-jalan atau di depan esde yang mungkin lebih banyak garamnya? Karena waktu eksperimen kami cuma sebentar (2 hari planning, 1 hari pengambilan data, 3 hari analisa data dan penyusunan KTI), sedangkan untuk jajanan esde kami perlu flare emission spectroscopy – yang entah institusi mana yang punya dan berapa lama selesainya.

Trus jajanan sebanyak itu dihabiskan 10 orang aja? Tentu tidak, sebagai teman yang baik tentu saja kami bagi-bagikan ke kelompok yang lain, ke panitia, dan dosen penguji waktu presentasi. Tentu saja setelah produk yang “aman” sudah kami pilah untuk dimakan sendiri sambil kerja kelompok. MWAHAHAHA.

That was a wonderful moments with you guys. We managed to create something useful in an incredibly FUN way. Thank you, thank you.

PS: Sepulang dari diklat, tiap kali di lorong makanan ringan maupun makanan instan seperti mie, kornet, sosis, dll selalu reflek ngebalik bungkus dan mengembalikannya ke rak setelah meringis liat kadar sodiumnya…