Rss Feed
Tweeter button
Facebook button

Rawat Dong Sepatumu!

Mungkin kamu mampu beli sepatu banyak dan mahal tapi kalo gak bisa ngerawatnya mending kasih saya aja gak usah beli sepatu dulu deh :lol:
Serius ini, beberapa sepatu harus dirawat secara khusus karena mereka bahkan gak boleh kena air atau sinar matahari langsung.
…dan ada adek cantik di Twitter tadi yang mau nyemplungin sepatu suede nya di aer sabun… apa gak mengkerut tuh nanti sepatu? ;))
Sepatu olahraga berbahan karet/kanvas boleh dicuci pake aer sabun bahkan dimasukin ke mesin cuci. Lho sneakers juga boleh dicuci? Apa warnanya gak pudar? Nyikatnya jangan kenceng-kenceng donk. Tapi ya, rasanya udah jadi rahasia umum kalo makin kumel dan belel si sneakers maka semakin keren jugalah ia :lol:
Sepatu berbahan suede/nubuck gak boleh dicuci aer sabun. Kalo suede kamu kena cipratan lumpur, biarkan lumpurnya kering dulu baru bersihkan lumpurnya pake kikir (kikir besi atau kikir kuku bolehlah hihihi). Lalu lap sepatu pelan-pelan dengan kain halus yang dibasahi air, kemudian keringkan dengan cara diangin-anginkan. Kalo sepatu kena cipratan air yang bikin warnanya totol-totol, ratakan totol-totol itu dengan mengelap seluruh permukaan sepatu menggunakan spons/kain halus yang dibasahi air. Keringkan. Bila perlu dan ada semprot dengan cairan pelindung sepatu suede.
Sepatu kulit perawatannya sama dengan sepatu suede/nubuck, hanya sepatu kulit kalo kotor boleh digosok dikit pake lap lembut yang dibasahi air sabun (kalo bisa sabun muka yang lembut, bukan deterjen) biar bersih sedangkan sepatu suede enggak boleh digosok, hanya boleh dielus *hihihi* sampe bersih.
oh iya. ada spray untuk sepatu kulit, dan jangan gunakan ini untuk melindungi sepatu suede. Kalau kalian ingin memakai sepatu kulit di hari hujan, ada baiknya melapisi sepatu dengan wax khusus untuk sepatu kulit terlebih dahulu agar sepatu gak rusak kena air hujan.
Sepatu kulit sintetis perawatannya tinggal di lap aja pake kain basah. Lalu diangin-anginkan sampe kering.
Sepatu berbahan satin bisa dibersihkan dengan lap basah dan air sabun yang lembut seperti pada perawatan sepatu suede. Jika ada noda bersihkan dengan sedikit campuran baking soda. Sepatu ini juga minta dielus, bukan digosok ya. Angin-anginkan sampe kering.
Tips umum
# Lepas dulu tali sepatu sebelom mencucinya
# Jangan keringkan sepatu apapun langsung di bawah sinar matahari langsung karena akan merusak warna sepatu bahkan bisa merusak bentuknya. Jangan juga keringkan di mesin pengering pakaian, apalagi pengering piring. *kriuk*
# Setelah dipakai olahraga/berkeringat, angin-anginkan sepatu biar gak lembab
# Taburi sepatu dengan sedikit baking soda biar segar. Jangan banyak-banyak baking sodanya, nanti mengembang kayak donat. *halah*
# Sebelum memasukkan sepatu ke dalam mesin cuci, cek dulu di label sepatu apa dia washable untuk mesin cuci atau harus handwash
# Ganjel bagian dalam sepatu pake shoe holder untuk mempertahankan bentuknya. Kalo gak ada, pake aja kertas koran yang diuntel-untel (diuntel-untel bahasa bakunya apa sih? haha)
# Paling tidak sebulan sekali keluarkan semua koleksi sepatu dari kardus/rak/kantong dan bersihkan ulang satu persatu (mampus tuh yang sepatunya banyak) :lol:
Sekian tips dari saya. Kalo ada kurangnya mohon sumbangan sepatu.

Mungkin kamu mampu beli sepatu banyak dan mahal tapi kalo gak bisa ngerawatnya mending kasih saya aja deh :lol:

Serius ini, beberapa sepatu harus dirawat secara khusus karena mereka bahkan gak boleh kena air atau sinar matahari langsung.

…dan ada adek cantik di Twitter yang kemaren mau nyemplungin sepatu suede nya di aer sabun… apa gak mengkerut tuh nanti sepatu? ;))

Sepatu olahraga berbahan karet/kanvas boleh dicuci pake aer sabun bahkan dimasukin ke mesin cuci. Lho sneakers juga boleh dicuci? Apa warnanya gak pudar? Nyikatnya jangan kenceng-kenceng donk. Tapi ya, rasanya udah jadi rahasia umum kalo makin kumel dan belel si sneakers maka semakin keren jugalah ia :lol:

Sepatu berbahan suede/nubuck gak boleh dicuci aer sabun. Kalo suede kamu kena cipratan lumpur, biarkan lumpurnya kering dulu baru bersihkan lumpurnya pake kikir (kikir besi atau kikir kuku bolehlah hihihi). Lalu lap sepatu pelan-pelan dengan kain halus yang dibasahi air, kemudian keringkan dengan cara diangin-anginkan. Kalo sepatu kena cipratan air yang bikin warnanya totol-totol, ratakan totol-totol itu dengan mengelap seluruh permukaan sepatu menggunakan spons/kain halus yang dibasahi air. Keringkan. Bila perlu dan ada semprot dengan cairan pelindung sepatu suede.

Sepatu kulit perawatannya sama dengan sepatu suede/nubuck, hanya sepatu kulit kalo kotor boleh digosok dikit pake lap lembut yang dibasahi air sabun (kalo bisa sabun muka yang lembut, bukan deterjen) biar bersih sedangkan sepatu suede enggak boleh digosok, hanya boleh dielus *hihihi* sampe bersih.

oh iya. ada spray untuk sepatu kulit, dan jangan gunakan ini untuk melindungi sepatu suede. Kalau kalian ingin memakai sepatu kulit di hari hujan, ada baiknya melapisi sepatu dengan wax khusus untuk sepatu kulit terlebih dahulu agar sepatu gak rusak kena air hujan.

Sepatu kulit sintetis perawatannya tinggal di lap aja pake kain basah. Lalu diangin-anginkan sampe kering.

Sepatu berbahan satin bisa dibersihkan dengan lap basah dan air sabun yang lembut seperti pada perawatan sepatu suede. Jika ada noda bersihkan dengan sedikit campuran baking soda. Sepatu ini juga minta dielus, bukan digosok ya. Angin-anginkan sampe kering.

Tips umum

# Lepas dulu tali sepatu sebelom mencucinya

# Jangan keringkan sepatu apapun langsung di bawah sinar matahari langsung karena akan merusak warna sepatu bahkan bisa merusak bentuknya. Jangan juga keringkan di mesin pengering pakaian, apalagi pengering piring. *kriuk*

# Setelah dipakai olahraga/berkeringat, angin-anginkan sepatu biar gak lembab

# Taburi sepatu dengan sedikit baking soda biar segar. Jangan banyak-banyak baking sodanya, nanti mengembang kayak donat. *halah*

# Sebelum memasukkan sepatu ke dalam mesin cuci, cek dulu di label sepatu apa dia washable untuk mesin cuci atau harus handwash

# Ganjel bagian dalam sepatu pake shoe holder untuk mempertahankan bentuknya. Kalo gak ada, pake aja kertas koran yang diuntel-untel (diuntel-untel bahasa bakunya apa sih? haha)

# Paling tidak sebulan sekali keluarkan semua koleksi sepatu dari kardus/rak/kantong dan bersihkan ulang satu persatu (mampus tuh yang sepatunya banyak) :lol:

Sekian tips dari saya. Kalo ada kurangnya mohon sumbangan sepatu.

*disiram aer bekas cucian*

Di Kotamu Ada Apa?

Gak ada kata yang lebih tepat dari yang diungkapkan oleh Rika di bawah ini:
When you’ve lived in one place for long time (describe yourself how long precisely the long time is), you might feel no special anymore, not like when you first time coming to that particular city.
Segala sesuatu yang tiap hari kita lihat, yang ada di sekitar kita, akan tampak biasa. Sekeren apapun itu. Saya sih iri sama Rika yang tinggal di Singapur dan sering jalan-jalan. Sekali saya ke Singapur dan ketemuan sama temen lama (bukan Rika :p). Di Orchard Road kami duduk-duduk sambil makan eskrim yang (katanya) wajib dibeli kalo jalan ke Orchard. Saya melihat sekeliling dan bilang sama dia:
Saya : Enak yah kamu tinggal disini, rame.
Dia  : Geblek. Jelas-jelas kamu tinggal di Eropa.
Saya  : Eropa gak enak. Ngebosenin. Enakan Singapur, lagi. Sampe malem toko-toko tetep buka.
Dia : Singapur itu monoton, kali. Kamu enak mau pergi ke negara-negara lain deket.
Saya  : Kalo monoton mah Eropa monoton abis. Mana jam 6 toko uda pada tutup. Disini kalo mo cari makan apapun jam berapapun bisa.
Dia : Percaya deh di Singapur cuman enak kalo beberapa hari aja jadi turis. Kalo uda itungan taun mah ya bosen.
Saya : Well, same there :p
Yang tinggal di Jakarta, udah pernah ke Ragunan / Taman Mini / air mancur joged di Monas?
Kapan terakhir kali waktu kalian lagi commuting dari/ke tempat kerja ngeliatin gedung-gedung tinggi dan keren dan berkata dalam hati, “Jakarta keren juga yah.” Segala macem barang bisa dicari, dari yang asli sampe yang KW100. Dari yang legal sampe yang ilegal. Tau gak sih kalo saya jadi kampungan setiap kali naik busway di Jakarta, demi (hayah demi) melihat gedung puluhan lantai yang bentuknya bagus-bagus, demi melihat mall-mall yang bikin gampang kesasar, demi melihat makhluk-makhluk urban yang bervariasi (emang bunga, bervariasi?).
Yang tinggal di Jogja, udah pernah ke Gembiraloka / Monjali / Keraton?
Dulu waktu saya masi SMA di Solo, suatu hari saya harus ke Jogja buat daftar UM UGM. Pergilah saya bersama beberapa temen. Kami kagum banget liat titik nol km di ujung Malioboro dengan gedung-gedung indah dan benteng yang keren. Kami kagum liat mahasiswa-mahasiswa yang tampak gagah dan heroik (kenapa dari tadi bahasanya lebay sih). Kami kagum (?) dengan banci-banci jakal yang lucu-lucu.
Ya… setelah beberapa tahun di Jogja baru saya sadar bahwa titik nol km itu bau pipis. Mahasiswa yang tampak gagah dan heroik itu kebanyakan mahasiswa abadi yang gak lulus-lulus. Cuman banci-banci jakal yang bisa mempertahankan eksistensi kelucuan mereka di mata saya.
Dibuka dengan nyomot tulisan Rika, saya tutup lagi dengan kembali menyomot tulisannya (gak papa ya Rikaaaaaaa) ;))
So that day in the bus going home from office, I put aside my Blackberry, iPod and book, then stared to the window looking at the flats, apartments, trees, roads and people. Things that we’ll miss someday when we no longer live here. Things that we’ll regret someday why we didn’t have a look when we lived here. We’re (some people) focus on living in Europe and going around the world, maybe we can try to explore new places in our current city/country first that we haven’t visited before. When was your last time you’re being a tourist in your current living city? Like the way baby/kids seeing things for the first time.

Gak ada kata yang lebih tepat dari yang diungkapkan oleh Rika di bawah ini:

“When you’ve lived in one place for long time (describe yourself how long precisely the long time is), you might feel no special anymore, not like when you first time coming to that particular city.”

Segala sesuatu yang tiap hari kita lihat, yang ada di sekitar kita, akan tampak biasa. Sekeren apapun itu. Saya sih iri sama Rika yang tinggal di Singapur dan sering jalan-jalan. Sekali saya ke Singapur dan ketemuan sama temen lama (bukan Rika :p). Di Orchard Road kami duduk-duduk sambil makan eskrim yang (katanya) wajib dibeli kalo jalan ke Orchard. Saya melihat sekeliling dan bilang sama dia:

Saya : Enak yah kamu tinggal disini, rame.

Dia  : Geblek. Jelas-jelas kamu tinggal di Eropa.

Saya  : Eropa gak enak. Ngebosenin. Enakan Singapur, lagi. Sampe malem toko-toko tetep buka.

Dia : Singapur itu monoton, kali. Kamu enak mau pergi ke negara-negara lain deket.

Saya  : Kalo monoton mah Eropa monoton abis. Mana jam 6 toko uda pada tutup. Disini kalo mo cari makan apapun jam berapapun bisa.

Dia : Percaya deh di Singapur cuman enak kalo beberapa hari aja jadi turis. Kalo uda itungan taun mah ya bosen.

Saya : Well, same there :p

Yang tinggal di Jakarta, udah pernah ke Ragunan / Taman Mini / air mancur joged di Monas?

Kapan terakhir kali waktu kalian lagi commuting dari/ke tempat kerja ngeliatin gedung-gedung tinggi dan keren dan berkata dalam hati, “Jakarta keren juga yah.” Segala macem barang bisa dicari, dari yang asli sampe yang KW100. Dari yang legal sampe yang ilegal. Tau gak sih kalo saya jadi kampungan setiap kali naik busway di Jakarta, demi (hayah demi) melihat gedung puluhan lantai yang bentuknya bagus-bagus, demi melihat mall-mall yang bikin gampang kesasar, demi melihat makhluk-makhluk urban yang bervariasi (emang bunga, bervariasi?).

Yang tinggal di Jogja, udah pernah ke Gembiraloka / Monjali / Keraton?

Dulu waktu saya masi SMA di Solo, suatu hari saya harus ke Jogja buat daftar UM UGM. Pergilah saya bersama beberapa temen. Kami kagum banget liat titik nol km di ujung Malioboro dengan gedung-gedung indah dan benteng yang keren. Kami kagum liat mahasiswa-mahasiswa yang tampak gagah dan heroik (kenapa dari tadi bahasanya lebay sih). Kami kagum (?) dengan banci-banci jakal yang lucu-lucu.

Ya… setelah beberapa tahun di Jogja baru saya sadar bahwa titik nol km itu bau pipis. Mahasiswa yang tampak gagah dan heroik itu kebanyakan mahasiswa abadi yang gak lulus-lulus. Cuman banci-banci jakal yang bisa mempertahankan eksistensi kelucuan mereka di mata saya.

Dibuka dengan nyomot tulisan Rika, saya tutup lagi dengan kembali menyomot tulisannya (gak papa ya Rikaaaaaaa) ;))

“So that day in the bus going home from office, I put aside my Blackberry, iPod and book, then stared to the window looking at the flats, apartments, trees, roads and people. Things that we’ll miss someday when we no longer live here. Things that we’ll regret someday why we didn’t have a look when we lived here. We’re (some people) focus on living in Europe and going around the world, maybe we can try to explore new places in our current city/country first that we haven’t visited before. When was your last time you’re being a tourist in your current living city? Like the way baby/kids seeing things for the first time.”

Berhenti Memberi Perhatian

Dari plurk seorang teman,

…agak berat saat menyadari bahwa untuk menjadi kakak yang baik adalah dengan berhenti memberi perhatian pada adik yang sudah tumbuh dewasa…

Saya anak pertama, adik saya semuanya laki-laki dan umurnya gak jauh beda sama saya. Saya masih inget hampir sepuluh tahun yang lalu waktu adik saya yang paling besar mau masuk SMA dan harus kost. Dia gak tahu harus cari apa, nanti bakal butuh apa, mau bawa apa aja. Lalu saya sebagai kakak yang baik dan ibu ke supermarket beliin dia alat mandi, handuk, rak, alat makan, dst dst. Sama halnya waktu adek yang kedua harus pergi kost. Saya sampe ngerepotin tunangan saya yang harus ribet kesana kemari nyariin barang buat kostnya yang baru, dan saya tinggal instruksi aja dari sini :fufu:

Rasanya seneng jadi kakak, bisa nenangin kalo mereka ada masalah, bisa ngritik kalo baju mereka uda jelek dan kumel, bisa jadi tempat curhat kalo ada yang dompetnya ilang…

… meskipun saya sadar kalo suatu saat saya harus berhenti memberi perhatian pada mereka ketika mereka sudah tumbuh dewasa…

harus berhenti menginstruksikan ini itu karena mereka pasti sudah tahu…

harus rela gak didenger pendapatnya kalo pacar-pacar mereka punya pendapat lain…

harus rela kalo enggak diajak mendiskusikan suatu keputusan karena mereka udah mampu sendiri…

Yes, they’re already grown-ups now. Tapi mereka tahu bahwa saya bakal selalu ngeliat mereka dari jauh, dan diam-diam merindu.

I wish you all the good luck and kindness for your life, my brothers.

Love Our Life, and Let Life Loves Us Back

Kemarin dalam perjalanan ke gereja saya naik bis dengan rute yang berbeda. Mau cari suasana lain ceritanya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh, sudah bukan jam pulang kerja jadi di dalam bis relatif sepi, hanya ada saya dan beberapa anak kuliahan serta ibu-ibu yang baru pulang dari supermarket. Sore itu dingin, temperatur entah minus berapa, mungkin sekitar minus empat, ditambah angin dan percikan salju tipis turun dari langit membuat saya mengigil kedinginan di halte bis dekat kost.
Bisnya datang. Sudah umum ketika kita memasuki pintu bis yang terletak di seberang kursi pengemudi, si pengemudi biasanya melempar senyum dan mengucapkan hallo. Tapi kali ini… beda. Bapak-bapak setengah baya dengan jaket Arriva itu tersenyum dengan mata yang sangat ramah dan mengucapkan selamat malam. Saya duduk di kursi kedua dari depan. Sepanjang jalan saya mendengar beliau menyenandungkan lagu entah apa. Beberapa kali beliau berhenti di satu halte, membukakan pintu bis dan menyalakan lampu sambil tersenyum menyambut penumpangnya meskipun pada akhirnya tak ada satu pun dari orang-orang yang berdiri di halte itu memasuki bisnya.
Lampu dimatikan, bis berjalan dan ia bersenandung lagi.
Saya gak tahu apa hari ini ia baru gajian atau menang lotere yang membuat ia tersenyum sepanjang jalan. Yang saya tahu, musim dingin yang panjang ini benar-benar menyebalkan dan meskipun saya mengomel kedinginan menunggu bis di halte, bapak supir bis itu pastinya lebih kedinginan lagi. Membuka pintu untuk para penumpang di setiap halte dan membiarkan angin dingin dari luar menyergapnya (meskipun sering tak ada penumpang yang masuk), memberi kembalian receh, dan memberi salam pada semua orang yang turun dari bis.
Kemudian di satu halte, ia berhenti. Pintu depan dibuka. Bukannya penumpang yang masuk tapi ia turun dari bis dan menghampiri orang yang berdiri di halte itu. Ada seorang ibu membawa anaknya yang usianya kira-kira 5 tahun dan satu lagi di dalam kereta bayi. Bapak supir memeluk istrinya, kemudian mencium anaknya satu persatu. Lalu ia kembali masuk dalam bis sambil tersenyum melihat anaknya yang melambaikan tangan padanya.
Lampu dimatikan, bis berjalan dan ia bersenandung lagi.
Hidup ini kadang jadi begitu dingin dan membuat kita mati rasa dan bersikap pahit pada sekitar, tapi kalau kita mau menemukan satu saja alasan kenapa kita mau menjalani hidup yang dingin ini, kita sudah menyalakan perapian dalam hati kita. Perapian yang menjaga hati kita selalu hangat, dan membuat kita juga membagikan kehangatan itu kepada orang di sekitar kita.
Mungkin alasan itu adalah orang yang kita sayangi, sudut favorit di kamar tempat kita bergelung membaca buku dan minum cokelat hangat di hari hujan, atau apapun. Kalian yang tahu jawabannya.
So maybe life’s a bitch. I do agree. Nevertheless, instead of blaming life, why don’t we love this life and let life loves us back?

Kemarin dalam perjalanan ke gereja saya naik bis dengan rute yang berbeda. Mau cari suasana lain ceritanya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh, sudah bukan jam pulang kerja jadi di dalam bis relatif sepi, hanya ada saya dan beberapa anak kuliahan serta ibu-ibu yang baru pulang dari supermarket. Sore itu dingin, temperatur entah minus berapa, mungkin sekitar minus empat, ditambah angin dan percikan salju tipis turun dari langit membuat saya mengigil kedinginan di halte bis dekat kost.

Bisnya datang. Sudah umum ketika kita memasuki pintu bis yang terletak di seberang kursi pengemudi, si pengemudi biasanya melempar senyum dan mengucapkan hallo. Tapi kali ini… beda. Bapak-bapak setengah baya dengan jaket Arriva itu tersenyum dengan mata yang sangat ramah dan mengucapkan selamat malam. Saya duduk di kursi kedua dari depan. Sepanjang jalan saya mendengar beliau menyenandungkan lagu entah apa. Beberapa kali beliau berhenti di satu halte, membukakan pintu bis dan menyalakan lampu sambil tersenyum menyambut penumpangnya meskipun pada akhirnya tak ada satu pun dari orang-orang yang berdiri di halte itu memasuki bisnya.

Lampu dimatikan, bis berjalan dan ia bersenandung lagi.

Saya gak tahu apa hari ini ia baru gajian atau menang lotere yang membuat ia tersenyum sepanjang jalan. Yang saya tahu, musim dingin yang panjang ini benar-benar menyebalkan dan meskipun saya mengomel kedinginan menunggu bis di halte, bapak supir bis itu pastinya lebih kedinginan lagi. Membuka pintu untuk para penumpang di setiap halte dan membiarkan angin dingin dari luar menyergapnya (meskipun sering tak ada penumpang yang masuk), memberi kembalian receh, dan memberi salam pada semua orang yang turun dari bis.

Kemudian di satu halte, ia berhenti. Pintu depan dibuka. Bukannya penumpang yang masuk tapi ia turun dari bis dan menghampiri orang yang berdiri di halte itu. Ada seorang ibu membawa anaknya yang usianya kira-kira 5 tahun dan satu lagi di dalam kereta bayi. Bapak supir memeluk istrinya, kemudian mencium anaknya satu persatu. Lalu ia kembali masuk dalam bis sambil tersenyum melihat anaknya yang melambaikan tangan padanya.

Lampu dimatikan, bis berjalan dan ia bersenandung lagi.

Hidup ini kadang jadi begitu dingin dan membuat kita mati rasa dan bersikap pahit pada sekitar, tapi kalau kita mau menemukan satu saja alasan kenapa kita mau menjalani hidup yang dingin ini, kita sudah menyalakan perapian dalam hati kita. Perapian yang menjaga hati kita selalu hangat, dan membuat kita juga membagikan kehangatan itu kepada orang di sekitar kita.

Mungkin alasan itu adalah orang yang kita sayangi, sudut favorit di kamar tempat kita bergelung membaca buku dan minum cokelat hangat di hari hujan, atau apapun. Kalian yang tahu jawabannya.

So maybe life’s a bitch. I do agree. Nevertheless, instead of blaming life, why don’t we love this life and let life loves us back?

The Best Things In Life

9GAG has this list of the best things in life. Read it, it’s really nice and giving a warm feeling in your heart.

However, i do too make a list of the best things in life. Not in a lifetime of course, for i believe that lots of better things are yet to come. It’s merely for today. Haha.

So here it is :

mylist

Well, happy valentine’s day everybody, i know it’s kinda cheesy but i encourage you to say to people you love that you love them… just in case. Saying “i love you” once won’t kill you. Really.

PS : and to you Sir, you know who you are, still i feel very lucky for having you in my life.

←Older