Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Sesederhana Itu…

… Efek kurang tidur, berbungkus-bungkus richeese dan dark chocolate chunky bar. Maafkan kalau lagi cheesy… #IndonesiaTanpaLDR

Dari kamar asrama aku mengingat belasan bulan yang lalu. Saat kita hanya jadi tetangga meja di kantor, lantai atas dan bawah. Aku lupa kapan pertama kali mata indahmu memikatku. Atau mungkin bau wangimu yang masih tercium biarpun kamu sudah berlalu beberapa meter.

Yang jelas setelah itu aku jatuh hati, pada hatimu dan pada setiap hal kecil darimu.

Mungkin ritual membosankan untuk orang lain, tapi aku selalu menyukai setiap “jangan lupa makan” darimu. Juga ucapan selamat pagi dan selamat tidur. Tidak pernah ada kejutan atau bunga mawar dan sosokmu di atas kuda putih, tapi aku suka bagaimana kamu lebih memilih untuk membelikan regulator gas untuk kado Valentine, dan jas hujan bagus dan mahal untuk kado ulang tahun.

“Kalau beli sendiri, kamu paling beli jas hujan yang murah dan gampang rusak”, begitu katamu waktu itu.

Setahun kemarin kita tidak banyak bertemu, apalagi tahun ini. Tapi entahlah, aku merasa semua akan baik-baik saja. Aku bisa mempercayaimu, juga mempercayai diriku sendiri. Bersamamu sepertinya semua jadi sederhana. Sesederhana hatiku yang bisa tiba-tiba meleleh sembari memainkan papan ketik di jendela percakapan BBM.

“Aku sebal”, kataku yang lagi bete karena karfur deket asrama kehabisan Momogi.

“Maaf ya gak bisa beliin Momogi”, jawabmu. Padahal aku belum juga bilang soal Momogi…

Lights Will Guide Your Home…

When you try your best, but you don’t succeed
When you get what you want, but not what you need
When you feel so tired, but you can’t sleep
Stuck in reverse

Something is keeping you up all night. It is sometimes a glimpse of guilty feeling from the past, or anger you are trying to suppress. None of them matter to you at first, but they are there nonetheless. It is the dream you have left behind, the hope you’re too tired to carry along. It is the failure you always try to deny, the mistakes you never realized you made. It is every single thing haunting you at times.

And the tears come streaming down your face
When you lose something you can’t replace
When you love someone, but it goes to waste
Could it be worse?

This time you finally surrender. A white flag waved down your driveway, not knowing that the pain is much deeper than merely admitting defeat. You turn your back reluctantly once in a while, wondering whether something would come up and magically fix that mess. But even then, deep in your heart you know it’s time to let go. To give up things you hold on tight. Could it be worse? Sure thing it could, in many fucking ways imaginable. And then it stabs you right in the heart; you pretend you’re hurt eventhough you’ve already had it coming.

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you

But then… what’s life without whimsy? Once in a while we must stop and stare at the universe. Admire how great that is, and how little is our problem compare to that brobdingnagian space out there. Just as the sunflowers are majestically led by the sunshine, lights will also guide you home. Those beautiful yellow and white flowers might not be really sure about when and why and how they will go on living their life, but they are ceaselessly waiting for the morning to come. Your life is also just as beautiful. What you need to do is to take a step back, maybe some deep breaths as well, and get prepared for more surprises. Embrace life, and life will be gleefully take the chance to…

fix you.

One of Those Days

Kemarin mood saya rada berantakan karena satu dan lain hal. Jadinya ya di kantor cuma mengubur diri aja di lab, menghindari kontak dengan manusia lain. Balik ke ruangan pun langsung nyetel musik pake earphone dan kembali mengubur diri di belantara Mendeley. Sore harinya saya berniat pulang tenggo, mumpung belum hujan. Tapi saya lagi baca jurnal dan tanggung buat ditinggal. Beberapa paragraf kemudian… hujan turun seperti ditumpahkan dari langit. Ibu-ibu tetangga ruangan sudah pada pulang tenggo; mereka naik mobil sih. Saya nunggu sampe hujan sedikit reda karena malas pakai jas hujan.

Sampai jam 7 hujan belum juga ada tanda-tanda mau reda, jadi saya memutuskan untuk nekat pulang aja. Ya sudahlah terpaksa pakai jas hujan daripada basah kuyup.

Sampai depan rumah, lampu teras belum dinyalakan (nasib tinggal sendirian). Saya mematikan mesin motor dan mengunci stang. Kaki kanan saya sudah melangkah ke sisi kiri dan saya mau turun dari motor saat motornya jatuh ke sebelah kiri… nimpa saya yang ikutan jatuh. Ternyata standar motor lupa saya turunkan. Posisi masih pake ransel dan (untung) pake helm. Pertama saya langsung panik sama kaki kiri. Oh. Aman. Meskipun ketiban motor tapi dengan kedua tangan saya bisa narik kaki keluar. Untung masih bisa berdiri juga, ngangkat motor dan kali ini markirin motor dengan benar. Kaki kiri saya ndak kenapa-napa untungnya. Cuma sepertinya bengkak aja di bagian dalam, jadi seharian saya olesin minyak tawon. Semoga bukan sesuatu yang serius.

Mood masih belum beres… saya bergegas mandi lalu bikin indomie goreng pakai telur dadar. Makan sambil nonton PK, yang surprisingly menghibur. Things will be okay, pikir saya sambil pergi tidur…

Paginya saya bangun rada kesiangan. Masih sempet masak bekal sih, tumis kacang panjang jamur dan tahu goreng. Bel masuk kantor jam 07:30, dan jam 07:00 saya belum mandi. Bergegaslah saya mandi dan beberes, kemudian ingat kalau jas hujan masih dijemur. Jas hujan saya merk Consina, hadiah dari mas pacar waktu ulang tahun kemarin. Ulang taun kok dibeliinnya jas hujan? Karena dia tahu, kalo saya beli jas hujan mesti yang murahan dan gampang rusak.

Kembali ke lipat-melipat. Jadi, jas hujan Consina ini beneran bagus kualitasnya, dan praktis bingit karena bisa dilipat jadi bentuk kantongan. Ada built-in pocketnya! *ndeso* ya begitulah pokoknya. Rada ribet sih ngelipet jas hujan ini apalagi kalau belum biasa dan malas kaya saya tapi suwer jadinya kece.

Tas, laptop, sepatu, kotak bekal ok. Jas hujan sudah dilipat. Mari kita berangkat karena jam sudah menunjukkan pukul 07:20. Tepat waktu saya membuka pintu… hujan turun deras sekali. God… you must be joking. Tapi tiba-tiba beban dan mood jelek dari semalam hilang. Tuhan sepertinya ngajak saya becanda pagi ini, and He succeeded. Not only did I smile, I actually laughed quite loudly.

And I’m pretty sure, everything is gonna be okay.

NB: bukan posting berbayar dari Consina :p

Setahun Kemarin

“Bekerjalah dengan gembira seperti gembiranya Tuhan saat mengabulkan doamu agar diterima kerja.”

Quote barusan lebih menampar saya daripada quote yang sering saya daraskan saat lagi males kerja: “lebih baik sibuk kerja daripada sibuk nyari kerjaan”. Tapi ini bukannya lagi pengen bahas tampar-tamparan sih, tenang aja :lol: Saya cuma merasa aneh saat suatu pagi beberapa hari lalu denger celetukan temen kantor, “anak-anak CPNS baru kapan sih masuknya?”

Anak-anak CPNS baru? Lho aku udah setahun di sini?

Itu kartu ujian saya tahun 2013 lalu. Masih tersimpan rapi di dusgrip. Berawal dari ngikutin apa kata bapak yang tiap tahun pasti nyuruh daftar CPNS, saya kemudian nyari-nyari info kementerian atau lembaga mana yang buka lowongan CPNS. Karena masih sibuk mainan onet sama kerjaan di kantor, saya nyari lowongan yang syaratnya gak berat. Beberapa instansi meminta syarat surat keterangan sehat jasmani-rohani, surat bebas narkoba, kartu kuning, SKCK dan macem-macem, dan saya males ngurusnya. Jadilah LIPI salah satu instansi yang saya pilih karena syaratnya simple dan semuanya dilakukan secara online. Cukup isi-isi data di website, upload dokumen, verifikasi, dan saya tinggal nunggu pengumuman lolos ke ujian tulis apa enggak.

Bulan September dan Oktober adalah bulan-bulan saya bolak-balik Jogja-Jakarta untuk test. Gak peduli cuti tinggal berapa, gak peduli cuti disetujui atau enggak (maaf ya pakbos!). Yang penting kerjaan beres. Waktu itu kerjaan juga lumayan hectic, sampai sempat rada drama waktu mau ujian wawancara… kereta jam 7, kerjaan saya jam 6 belom juga beres karena printer dan scannernya ngadat. Terpaksa saya kerjain seadanya sampe jam setengah tujuh kemudian saya ngibrit ke stasiun sambil nitipin kerjaan ke temen kantor (tengkyu, mas coworker-turned-boyfriend!). Untung gak telat.

Ini percobaan ketiga saya daftar CPNS di LIPI. Kenapa sampe segitunya? Karena saya memang pengen jadi peneliti ^^

Dan tahun lalu Tuhan menjawab doa saya setelah kami tawar-menawar. Saat malam-malam baca pengumuman dan SK kelulusan, saya sujud syukur kemudian nelpon bapak. Si bapak speechless rada lama, kemudian bilang “baguslah… sekarang bapak gak lagi kepikiran tahun ini kamu pindah kerja ke mana”. Gantian saya yang speechless.

Anyway, selama setahun kemarin di Serpong saya banyak belajar; gak cuma tentang bidang material yang harus saya tekuni dari nol koma lima (karena waktu kuliah cuma dapat basiiiccc banget), juga tentang bagaimana sistem kerja di kantor pemerintah dan bagaimana belajar hidup sendiri di kontrakan.

Entah karena faktor apa, tapi setelah 4 kali pindah kerja, baru kali ini saya melewatkan setahun penuh di satu tempat tanpa ada keinginan pengen pindah kerja. I guess I love this place. Happy 1st anniversary, my dream job \o/

Hae. Ini Siapa Ya?

“Halo.. apa kabar?”

“Hai. Ini siapa ya?”

“Masa udah lupa sama aku sih”

“Sorry nomernya gak ada di phonebook nih…”

“Ah kamu mah gitu sama temen sendiri lupa. Sekarang kamu tinggal di mana?”

“…”

Gimana kalo kamu ada di situasi kayak gitu? Di-sms, whatsapp atau bahkan ditelpon oleh seseorang yang namanya gak tertera di phonebook tapi waktu ditanya siapa gak mau ngaku. Memang sih, mengetahui kalau nomer kita gak di-save sama orang yang kita anggap teman itu ya bikin rada gak enak… Tapi ya gimana lagi, siapa tahu si teman ini ganti hape lalu gak semua nomor masih tersimpan, atau hapenya habis ke-wipe dan semua data hilang, atau lebih parah lagi habis kehilangan hape?

Atau ya sudahlah terima saja kenyataan. Dia gak pernah simpan nomor hape kamu.

Opsi pertama adalah go along with it. Kamu bisa casually bilang “oh kamu… iya aku sekarang tinggal di <sebutkan nama tempat> nih. Kamu apa kabar?” atau apa sajalah yang membuat lawan bicaramu berpikir dia sudah dikenali. Bisa jadi dia merasa kamu benar-benar mengenalinya, bisa juga dia tahu kamu sedang berpura-pura. Mungkin kalau dia cuma berniat iseng, in the end kamu bakalan diketawain doang setelah dia tanya “emangnya ini siapa hayo?” dan kamu memberikan jawaban yang salah.

Tapi ditanyain “emangnya ini siapa hayo?” saat kita benar-benar gak tahu siapa yang ada di ujung telepon itu benar-benar menyebalkan.

Opsi kedua, kamu bisa pura-pura jadi orang lain juga. Hal ini harus dilakukan sejak dari awal percakapan – kamu harus sudah bikin cerita kamu siapa, pernah tinggal/sekolah/kuliah di mana, dan apa yang kamu lakukan sekarang. Opsi ini gak bisa dilakukan di telpon, karena ada kemungkinan lawan bicara sudah hafal sama suaramu.

Opsi ketiga, kalau percakapan tersebut dilakukan via SMS, bisa dijawab dengan “lha di SMS gak ada mukamu, je”. Bisa digunakan juga kalau si pelaku pake whatsapp dan profile picture-nya tetep gak menjelaskan siapa dia.

Opsi terakhir… cuekin aja. Gak usah peduli gimana dia ngasih tebakan “aku yang dulu pake sepatu hitam ke sekolah itu lho” (which was every single one at school), atau “yang dulu jadi pemimpin upacara tanggal 23 Januari 20XX”. Hidup udah ruwet, daripada nanggepin beginian mending mikir besok pagi mau masak apa.

Tapi kalau percakapan berujung dengan “katanya dulu kamu suka sama aku. Aku juga sih, sampe sekarang. Bisa kita ketemu?” ya silakan penasaran. Gak usah dipikirin dan gak wajib ditanggepin, tapi silakan penasaran.

yang terakhir bukan pengalaman pribadi