Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Ujian Hari Terakhir

AKHIRNYA MASA UJIAN BERAKHIR

setelah siksaan selama 2 minggu (tidak termasuk masa persiapan), akhirnya hari ini ujian habis juga. Semester satu ini saya ambil 4 mata kuliah yang skor totalnya dibagi antara tugas (assignment) dan ujian akhir (final exam). Saya kudu ngucapin terimakasih kepada admin kampus yang membuatkan jadwal ujian dengan begitu cantik; minggu pertama saya dapat ujian di hari Rabu dan Jumat sedangkan minggu kedua hari Senin dan Rabu. Waktu jadwal ujian keluar saya legaaaaa banget karena gak ada ujian yang dijadwalkan dua hari berturut-turut atau bahkan beberapa ujian dalam waktu sehari.

Pernah lho waktu kuliah di UGM dulu saya dapat ujian sehari 3 mata kuliah. Sudah lupa mata kuliah apa dan dapat nilai apa, saya sampai sekarang masih bingung juga gimana caranya dulu kok bisa survive sampe lulus.

Anyway. S1 saya dulu jurusan Teknik Kimia, dan sekarang ambil Teknik Material. Bagi saya ini bidang yang baru banget – pengetahuan saya soal teknik material mungkin cuma 5 persen, itu juga karena kerjaan yang adalah penelitian di bidang material. Sudah sejak lama saya pengin kuliah S2, dan melihat gimana berantakannya cara saya belajar selama S1 dulu – baik yang di Jogja maupun yang di Belanda – saya niatin mau daftar kuliah S2 dan berjanji kalau dapat kesempatan sekolah lagi saya akan berusaha serius belajar.

And I did. At least I tried. Sejak sebelum berangkat saya mulai tanya-tanya ke teman di kantor sebaiknya saya nyicil baca buku apa atau belajar apa yang kira-kira nanti bisa jadi dasar sehingga nantinya di kelas saya gak bengong-bengong amat. Jadi, selama lebih dari satu semester sebelum berangkat kuliah saya sudah ngumpulin buku soal teknik material dan membaca hal-hal dasar seperti fisika zat padat, ilmu material dasar, kristalografi, dll. Lumayan lah.

Sampai di sini… Tetep bengong di kelas. Mau seserius apapun saya memperhatikan dosen mengajar di kelas, rasanya masih sulit nangkep pelajaran. Jadilah saya harus ngulang belajar di rumah; itu juga belum tentu langsung bisa. Tapi gak papa. Namanya juga perjuangan.

Menjelang ujian, saya berusaha mempersiapkan diri lebih awal sejak perkuliahan berakhir pada minggu ketiga bulan Desember. Saat musim liburan itulah saya bikin catatan kecil-kecil dan ringkasan perkuliahan agar memudahkan saya untuk belajar tanpa harus buka laptop nyari-nyari topik ini ada di slide presentasi yang mana ya. Saya bahkan sudah bikin jadwal belajar setiap hari – saya pilah agar topik yang mirip dari dosen yang berbeda bisa dipelajari bareng untuk menghemat waktu, dan membayangkan urutan topik yang sistematis, mulai dari ilmu dasar (basic science) sampai aplikasinya (engineering).

Wacana tinggal wacana.

Yang pertama, target saya ndak realistis. Sehari kelar dua topik itu ambisius sekali. Btw, mata kuliah saya kan ada empat ya. Tiga mata kuliah diampu oleh MASING-MASING empat dosen, dan satu mata kuliah lagi diampu oleh tiga dosen. Dosen-dosen tersebut mengajarkan topik yang berbeda, sehingga total kami harus mempelajari 15 topik bahasan yang sebenarnya satu sama lain berkaitan tapi toh tetap tidak bisa meninggakan yang satu dan hanya fokus ke topik satunya.

Jadi ya begitulah. Dua hari pertama stress karena target gak tercapai, akhirnya di hari ketiga saya mulai rada selow. Belajar jadi lebih menyenangkan sampai kemudian saya ((( harus ))) pergi jalan-jalan ke Belanda untuk merayakan natal bersama teman-teman yang ada di sana. Pulang dari Belanda 3 hari setelah natal, saya punya waktu sehari penuh untuk istirahat dan nyicil belajar lagi sebelum saya dan teman-teman pergi ke York untuk merayakan malam pergantian tahun.

Saat pulang dari Belanda saya kena flu; sepertinya ketularan dari anaknya teman saat saya sedang berkunjung ke sana. Di York juga masih batuk pilek sampai pulang ke Manchester, dan rasanya makin parah aja sampe sekitar seminggu baru batuk saya rada mendingan, umbelnya sudah gak sampai bikin megap-megap karena hidung tersumbat, dan gak lagi pengin nangis tiap kali berusaha karena bukannya ngerti tapi malah pusing. Perjuangan yang berat. Halah.

Seminggu sebelum masuk exam week saya jadi rajin menyambangi perpustakaan dan learning commons untuk belajar. Punya meja belajar yang jaraknya cuma satu setengah meter dari kasur itu sungguhlah menggoda sekali, makanya saya relakan waktu tidur nyenyak saya untuk bangun pagi dan pergi ke learning commons, tempat belajar yang buka 24 jam. Kenapa harus pagi-pagi? PC kampus di learning commons itu jumlahnya ratusan, tapi kalau lagi musim ujian kayak ini datang ke sana jam 9 pagi sudah ndak akan dapat PC. Mau buka laptop sendiri juga di mana, wong meja-meja belajar pun sudah pada penuh. Brutal juga mahasiswa sini ternyata kalau urusan belajar.

Menghadapi ujian, saya merasa sebenarnya saya ini walaupun ndak pinter-pinter amat tapi ya ndak bodoh. Dari situ saya belajar untuk lebih bisa berserah dan percaya bahwa Tuhan pasti akan memberi yang terbaik untuk saya. Tapi ya… tetep aja. Empat kali ujian, pada keempat-empatnya pula saya  kena panik attack beberapa jam menjelang ujian. Rasanya gak karuan, gak bisa mikir tapi takut kalau gak belajar nanti gak bisa jawab. Blingsatan sendiri sambil mencoba mengambil napas panjang karena tiba-tiba jantung saya berdetak sangat kencang dan napas jadi pendek-pendek. Melelahkan.

Tapi ya sudah. Semua sudah berlalu. Saya cukup puas dengan apa yang saya kerjakan di lembar jawaban ujian, meskipun saya tahu pasti beberapa pertanyaan saya jawab dengan nggamblehisme yang teramat dahsyat. Semoga gak malu-maluin amat lah. Doakan nilai saya cukup untuk lulus ya!

Ucapan terimakasih saya sampaikan yang pertama untuk suami saya yang selalu standby tiap kali saya minta dibangunin jam lima pagi (jam 12 siang di Jakarta, jadi beliau nelponnya pas di sana lagi jam istirahat) dan selalu menghibur saya di tengah kepanikan. Juga untuk Wenny yang kadang saya mintain tolong buat bangunin tapi seringnya saya udah bangun duluan dan kadang juga malah Wenny kelupaan buat bangunin 😆 Terimakasih buat bapak, yang mulai khawatir dan kasihan melihat anak perempuan satu-satunya menyiksa diri sendiri dengan mengubur diri seharian di perpus dari pagi sampai malam, dan yang selalu mengirimkan doa dan kata-kata motivasi lewat whatsapp. Halah.

Kayak skripsi aja ada ucapan terimakasih. Ya pokoknya gitu. Pulang ujian tadi saya langsung bikin ramyun rebus isi sawi dan telur. Habis makan ramyun saya yutuban nonton video anjing lucu, lalu bikin teh ijo dan sambil menunggu tehnya tidak terlalu panas untuk bisa diminum saya ngabisin eskrim haagen dazs rasa strawberry cheesecake yang tinggal seperempat di freezer. Halah modus.

Gitu dulu ya. Saya mau tidur dulu sampai hari Minggu. Senin sudah mulai kuliah lagi, semester dua. Ciao!

Donor Darah di Manchester

Ciee yang lagi rajin update blog.

Kali ini mau cerita tentang pengalaman donor darah. Sejak beberapa tahun terakhir saya rutin donor darah tiap 3 bulan sekali, baik waktu masih di Jogja maupun sesudah hijrah ke Serpong. Kalau di Jogja saya biasanya nyari-nyari ada event donor darah di mana, sejak tinggal di Serpong lebih enak kalau mau donor karena tiap 3 bulan sekali manajemen komplek Puspiptek selalu mengadakan donor darah, bekerjasama dengan PMI Kab. Tangerang atau Kota Tangerang Selatan.

Terakhir kali saya donor itu akhir Agustus 2016, dua minggu sebelum cuti panjang. Setelah saya hitung-hitung, harusnya akhir November saya donor darah lagi. Saya pun mencari informasi di mana bisa melakukan donor darah di Manchester. Ketemulah website blood.co.uk, salah satu cabang kegiatan NHS Blood and Transplant (NHSBT). NHS adalah singkatan dari National Health Service, mungkin seperti BPJS-nya Kemenkes gitu deh. Nah NHSBT ini adalah salah satu bagian dari NHS yang – seperti namanya – ngurusin donor darah, donor organ tubuh sampai stem cell, dan tentu saja transfusi dan transplantasi.

Saya merasa beruntung sekali bahwa di dekat kampus ada salah satu cabang besar NHSBT. Setelah registrasi di website blood.co.uk dan browsing info di situ saya baru tahu bahwa untuk wanita donor darah dianjurkan setiap 4 bulan sekali, bukan 3 bulan sekali seperti yang selama ini saya tahu. Mungkin pertimbangannya karena wanita mengalami menstruasi kali ya, jadi yah jaga-jaga jangan sampai anemia. Untuk laki-laki sih boleh 3 bulan sekali. Setelah dhiitung-hitung ternyata kok baru bisa donor awal Desember. Di website ada juga fitur booking appointment untuk donor darah, biar kita gak usah kelamaan ngantri mungkin. NHSBT di Manchester buka dari pagi sampai malam, jadi kalau mau donor waktunya bisa lebih fleksibel.

Saya booking untuk tanggal 6 Desember; tak diduga dan dinyana (halah) beberapa hari kemudian saya dapat kiriman surat yang isinya formulir yang berisi check list riwayat kesehatan dan identitas diri, seperti yang biasanya kita isi waktu mau donor itu lho. Persis kayak gitu. Tanggal 6 sore pulang kuliah saya ke NHSBT bawa formulir yang sudah diisi kemudian mendaftar ke resepsionis. Bapak resepsionis yang ramah bilang karena ini kali pertama saya donor darah di NHSBT maka saya harus baca booklet tentang apa yang harus disiapkan menjelang donor darah. Salah satunya harus makan dan minum; tidak boleh ya donor darah dalam kondisi perut yang kosong apalagi kurang tidur. Di ruang tunggu NHSBT ada galon air minum dan makanan ringan serta buah-buahan seperti apel, pisang, dll. Di dinding ada tempelan-tempelan yang berisi anjuran bahwa calon pendonor sebaiknya minum air putih minimal setengah liter sebelum donor, istirahat dulu di ruang tunggu selama minimal 30 menit, dan kalau mau boleh makan makanan ringan yang disediakan.

Giliran saya dipanggil untuk screening awal. Seperti biasa ujung jari telunjuk dijepret jarum untuk test Hb sambil ditanya-tanya apakah dalam waktu 6 bulan terakhir pernah ke luar negeri, dll. Ternyata untuk wilayah Indonesia, kalau pernah pergi ke daerah di luar Jawa dan Bali dalam waktu 6 bulan terakhir tidak boleh donor karena dikhawatirkan membawa penyakit malaria/zika/chikungunya. Wew. Untung saya cuma beredar di sekitar Jawa dan Bali aja sih. Lalu ngomong-ngomong test Hb nya manual, darahnya ditetesin di cairan entah apa dan dilihat seberapa cepat dia tenggelam. Komentar ibu perawat, darah saya kental tapi zat besinya kurang, jadi aja rada ngambang dan lambat tenggelamnya. Tapi masih memenuhi syarat untuk donor kok.

Setelah screening selesai, saya diminta masuk ke ruang donor dan bersiap-siap di kursi yang telah disediakan. Iya, donornya gak tidur kayak kalo donor di PMI gitu, tapi duduk di kursi yang sandarannya dibuat agak rebah sekitar 45 derajat. Bagian kaki juga agak ditinggiin, jadi berasa kayak lagi di dokter gigi gitu. Perawatnya ngetes lengan saya, mana kira-kira nadinya yang lebih besar. Dipilihlah lengan sebelah kanan. Sambil lengan saya dibersihkan pake alkohol, saya bertanya kalo di sini berapa banyak darahnya diambil.

470 ml sodara-sodara. Hampir setengah liter.

Biasanya donor di PMI saya cuma diambil 350 ml lho. Saya tanya kenapa di Indonesia diambilnya 350 ml, perawatnya juga gak tahu karena setahu dia di Australia dan Amerika ya 470 ml juga diambilnya. Begitulah. Jarum sudah dimasukkan, dan darah mulai mengalir keluar. Saya ndak merasa apa-apa sampai kemudian mesin penyedot darah di samping kursi bunyi bip-bip-bip. Perawat datang, bilang kalau aliran darah saya rada lambat – kemungkinan karena darahnya rada kental. Disarankan untuk meregangkan dan menggenggam jari – jari saya sendiri, bukan jari mas-mas di kursi sebelah – pelan-pelan, dan mengangkat kaki sedikit-sedikit untuk melancarkan aliran darah. Setelah dua kali lagi mesinnya bunyi bip-bip proses pengambilan darah pun selesai. Selama pengambilan darah perawatnya telaten sekali, sebentar-sebentar dia datang dan bertanya apa saya baik-baik saja. Setelah jarum diambil dan perban dipasang, saya disuruh pergi ke refreshment room untuk istirahat. Ransel dan coat yang saya gantung sudah dibawakan oleh salah satu perawat, katanya saya gak boleh ngangkat berat-berat dulu. Hih. Manja amat 😆

Di refreshment room ada mas Richard, dengan name tag bertuliskan “Donor Carer”. Mas Richard bertugas untuk memastikan pendonor gak kenapa-napa setelah donor. Begitu duduk saya langsung ditawari mau minum apa. Di situ ada jus lemon, cokelat panas, kopi, teh, air putih, dll. Saya mau jus lemon aja. Mas Richard membawakan segelas jus lemon dan satu keranjang berisi kudapan seperti oat bar, flapjack, macaron, keripik, kacang, dll. Keranjangnya didekatkan ke saya biar tangan saya ndak usah terlalu jauh meraih jajanan-jajanan lucu itu. Dia ngajak ngobrol dan bertanya saya pusing atau tidak, mual atau tidak, dan memberi saran kira-kira apa yang harus dilakukan setelah ini agar badan tetap fit. Dia kasih juga satu booklet kecil berisi nomor yang bisa dihubungi kalau nanti ada apa-apa, misalnya mendadak demam atau luka bekas suntikan masih ngilu setelah 1×24 jam. Setelah nambah segelas jus lemon dan ngemil dua bungkus oat bar saya pun pamit pulang.

Gedung NHSBT ndak terlalu jauh dari asrama, paling jalan kaki 10 menit juga sampai. Sampai kamar saya langsung minum banyak-banyak kemudian ngesot ke kasur. Ketiduran sejam. Bangun tidur jam 7 malam saya langsung ke dapur bikin indomie rebus telor. Rasanya lapaaaaaaarrrrrr banget. Habis makan saya langsung ngantuk dan tidur lagi. Paginya badan saya rasanya aneh. Rada melayang gitu. Entah apa efek donor kemarin masih tersisa atau gimana, yang jelas saya bangun-bangun kelaparan dan langsung sarapan. Siang di kampus juga rasanya masih rada gak enak. Gak jadi jogging deh. Saya langsung pulang istirahat lagi. Bekas suntikan di lengan sih sudah gak kenapa-napa, tapi badan rasanya masih gak enak. Setelah tidur sore rasanya jauh lebih baik. Mungkin memang efek darah yang diambil lebih banyak dari biasanya, jadi waktu pemulihannya juga lebih lama.

Dua hari setelah donor saya dapat SMS dari NHSBT yang mengucapkan terimakasih, dan gak sampai dua minggu kemudian datang SMS yang mengabarkan bahwa darah yang saya donorkan sudah disumbangkan ke Fairfield General Hospital di Bury, gak jauh dari Kodya Manchester. It feels nice to know that you’ve done something useful to others.

SMS dari NHSBT

SMS dari NHSBT

Kemarin datang lagi surat dari NHSBT, berisi lagi-lagi ucapan terimakasih karena saya sudah donor, dan di dalamnya ada kartu donor yang berisi nomor anggota dan golongan darah saya (A+). NHSBT juga ngasih kenang-kenangan berupa gantungan kunci yang ada tulisannya blood.co.uk dan A+. It was cute!

Souvenir dari NHSBT

Souvenir dari NHSBT

Jadwal donor saya berikutnya adalah akhir Februari, tapi mungkin bakal mundur ke awal Maret karena biasanya akhir bulan saya lagi dapet. Halah TMI. Oke gaes. Kalian yang selama ini sudah rutin donor tetap lakukan ya, dan yang belum pernah donor ayok mulailah rutin donor darah. Mungkin gesture yang kecil itu bisa menyelamatkan nyawa seseorang.

Tips Nitip Oleh-oleh

Sejak kapan sih orang yang pergi ke luar daerah atau ke luar negeri harus pulang bawa oleh-oleh? Siapa sih yang ngajarin untuk bilang “oleh-olehnya ya!” ke teman atau saudara yang mau pergi? Jujur aja saya risih dengar permintaan macam itu karena rasanya kayak merepotkan sekali harus nyariin oleh-oleh sedangkan saya gak tahu orang itu sukanya apa dan maunya oleh-oleh kayak gimana. Saat masih tinggal di Belanda dulu saya cukup sering dapat titipan oleh-oleh dari teman atau kerabat. Mulai dari yang permintaannya sederhana (magnet kulkas, kartu pos, kaos Amsterdam) sampai yang rada rumit (klarinet, winter coat). Loh winter coat kan banyak, kok rumit? Iya rumit karena ybs gak ngasih tahu maunya coat seperti apa, yang single-breasted atau double-breasted, yang bahan fleece atau wool atau bulu angsa, yang warna apa, yang panjangnya sepinggul atau sepaha, dst. Bilangnya cuma “yang kayaknya cocok buat akyu”. Bukan apa-apa sih, kan jadi gak enak juga kalau nantinya sudah dibelikan tapi ndak cocok sama model atau warnanya dan akhirnya coat tersebut gak kepakai.

Favorit saya adalah orang yang nitipnya spesifik sehingga saya tahu kira-kira harus nyari di mana. Waktu itu ada satu teman dari Jogja nitip sepatu safety yang dijual di salah satu online shop di Belanda, lengkap dengan warna, model, dan ukuran. Sepatu model itu tidak ada di online shop Belanda sehingga saya harus ngontak ke alamat email yang ada di website untuk menanyakan apakah mereka punya stok sepatu itu di gudang atau tidak. Sales person yang membalas email menjelaskan bahwa mereka tidak punya barang tersebut, tapi kalau saya mau mereka bisa memesankan dari Amerika, lengkap dengan quotation yang berisi shipping cost dan biaya lain-lain. Saya forward email itu ke teman saya dan dia mengiyakan harganya serta langsung transfer ke rekening saya (ini penting!). Proses jual beli pun berlangsung dengan lancar — karena dari Amerika tidak bisa langsung kirim ke Indonesia jadinya saya yang harus kirim barangnya dari Belanda, tapi tidak masalah juga karena biaya kirim Belanda-Indonesia ditanggung oleh pembeli juga.

Yang kayak gini ini patut dicontoh. Di sisi saya memang mesti ada effort untuk kontak-kontak via e-mail dan pergi ke kantor pos untuk maketin barang (plus deg-degan kalau-kalau barangnya gak sampai Jogja) tapi ya gak papalah, toh di sisi sana juga sudah riset dulu sehingga barangnya udah jelas mana yang dimau.

Saya juga pernah punya pengalaman dititipi jersey Ajax Amsterdam. Saya kasih link online shopnya biar dia bisa milih, dan saya bilang ntar transfernya ke Bank Mandiri aja biar gampang. Eh dia bilang gini:

“Beliin lah. Kan kamu udah kerja. Gajinya gede. Hehe.”

Hehe.

Hehe.

Hehe.

Gaeessss baju bola itu di toko gak ada yang harganya di bawah 50 euro. Kalau mau yang gratisan nanti ik beliin gantungan kunci ajalah ya.

Dari beberapa pengalaman nitip (dan dititipi) barang, saya mengumpulkan beberapa tips yang semoga berguna bagi yang mau nitip barang tanpa harus mengorbankan reputasi dan hubungan baik:

  1. Be specific. Kalau pengin dibeliin kaos, jangan bete kalo pengin kaos tapi dikasihnya “cuma” gantungan kunci karena bilang “terserah”. Gak pengin bilang terserah tapi gak enak juga mau nitip kaos karena kayaknya mahal? Googlinglah kira-kira harga kaos berapa dan nitiplah duit segitu. Menurutmu “cuma” kaos aja kok bisa mahal banget segitu? Ya begitulah realita kehidupan.
  2. Jangan maruk. Kalau nitip makanan atau barang sebisa mungkin jangan yang ngabisin space atau yang beratnya lebih dari 2 kg. Hal ini berlaku juga buat mereka yang tinggal di luar negeri lalu mau nitip abon/rendang/kerupuk mentah ke teman yang mau pulang ke Indonesia.
  3. Titiplah barang yang mudah dicari. Sebaiknya gak nitip barang yang cuma bisa ditemukan di sebuah toko hipster di sebuah kota berjarak 2 jam naik kereta plus naik bus dan jalan kaki. Lebih bagus kalau bisa beli online. Lebih bagus lagi kalau situ yang beli online, jadinya cuma “nitip” alamat dan minta tolong dibawakan.

Hmm. Sebenarnya semua ini tergantung sedekat apa hubunganmu dengan yang mau dititipi barang. Kalau saya sih – ini kalau saya lho, ndak tahu yang lain apalagi mas Anang *krik* – biasanya sudah hafal mana aja temen yang suka dibawain kartu pos atau gantungan kunci atau magnet kulkas, atau mereka yang dari awal sudah bilang mau nitip sesuatu sehingga nanti waktu mau pulang saya tinggal konfirmasi ulang. Sisanya ya… Kalau di koper masih ada space saya selalu bawa souvenir kecil-kecil kok, biarpun mungkin ndak semua suka. Ya namanya juga nyari yang praktis.

Demikianlah.

Dari Mulut Singa ke Mulut Buaya

Ini hari pertama saya terbebas dari tugas sejak kuliah dimulai akhir september lalu dan tugas pertama sudah diberikan pada minggu kedua. Sejak itu pula saya lupa bagaimana rasanya tidur yang layak tanpa kepikiran tugas yang belum selesai atau bangun pagi tanpa ditampar kenyataan bahwa masih ada tugas yang menanti untuk dikerjakan.

Itu juga kalo tidur. Hahaha. Setelah dua mingguan ngerjain tugas dan masih punya jam tidur yang rada normal (tidur jam 1, bangun jam 7), saya baru ngeh kalo kemampuan saya untuk tune-in sama pelajaran dan logikanya lebih jalan kalau belajar tengah malam sampai dini hari. Saya kemudian mencoba untuk mengganti pola tidur: tidur sore jam 4-8, kemudian mandi makan malam dan belajar sampai pagi. Jam tidur kalau pagi biasanya berkisar antara jam 4 atau 5 sampai jam 8, tapi kadang juga baru bisa tidur jam 6 pagi dan harus bangun jam 8 karena ada kuliah pagi.

Salah satu tugas pernah bikin saya ndak tidur selama dua hari. Jadi, hari Rabu kan saya kuliah dari pagi sampai jam 1 siang. Pulangnya saya masak, makan siang, lalu tidur jam 2 dan bangun jam 6 seperti biasa. Setelah makan malam saya lanjut ngerjain tugas yang sudah saya mulai beberapa hari sebelumnya, berharap bisa selesai paginya.

Ternyata gak selesai dong. Ternyata lebih sulit dari yang saya bayangkan. Kamis pagi saya belum selesai juga ngerjain tugas tapi harus segera berangkat kuliah jam 10. Pulangnya saya ngerjain tugas di perpus karena kalau ngerjain di rumah pasti tidur. Karena capek sorean saya pulang, mandi, dan lanjut nugas di kamar sampai pagi lagi. AKHIRNYA SELESAI. Convert tugas ke pdf lalu submit online lewat Blackboard. Pengin tidur tapi gak berani karena terlalu lelah dan takutnya malah ketiduran padahal ada kuliah jam 10. Selama 3 jam kuliah itu saya masih bisa bangun dan konsen sama kuliah, ternyata. Takjub juga. Jam 1 pulang rasanya udah gak karuan. Mampir Sainsbury’s beli roti buat makan siang, lalu sampai rumah saya langsung makan lalu cuci muka cuci kaki siap-siap tidur. Korden jendela saya tutup rapat biar gak ada cahaya masuk. Saya pamit tidur ke suami biar gak dicariin, lalu naruh hempon dan kayaknya gak sampai semenit langsung tepar. Bangun-bangun kelaparan tengah malam. Bikin makan di dapur lalu makan dan tidur lagi. Baru bangun Sabtu siang. Huehuehuehe.

Hasilnya? Tugas yang itu tadi dapat nilai 78/100. Usaha keras itu tidak akan mengkhianati, kata JKT48. However, hard work doesn’t equal good grades. Ingat itu ya. Tapi saya sudah senang dapat nilai segitu. Ekspektasi saya cuma 60/100 aja.

Baiklah. Hari ini saya masih mau merayakan kebebasan dulu dengan nyampah-nyampah di rumah melakukan hal yang gak berguna. Nanti malam membuat study plan agar bisa belajar dengan teratur untuk ujian. Begitulah. Perjuangan belum berakhir. Cmungud.

Tahun Pertama dari Perjalanan Panjang Bernama Hidup Bahagia Selamanya

Happy Anniversary!

Happy Anniversary!

Belum lama, beberapa menit lewat tengah walam waktu Manchester, hempon saya berdering. Whatsapp call dari suami. Pikir saya kok tumben nelpon ada apa, ternyata cuma ngecek apa saya udah tidur. Setelah telpon ditutup, datang pesan di Telegram dari beliau: “Selamat hari pernikahan ya mamah”.

Saya langsung bangun. Oh iya ini 19 November.

Ketika mengangkat telepon tadi pikiran saya belum sepenuhnya sadar, maklum saya ketiduran sejak pulang dari kampus jam 3 sore. Terakhir kali saya tidur dengan layak adalah hari Selasa malam. Rabu sore sempat tidur 2 jam, kemudian berlangsunglah edisi lembur 2×24 jam tanpa tidur karena ada PR yang harus dikumpulkan Jumat siang.

Iya pernikahan kami memang baru setahun. Silakan simpan komen “halah masih seneng-senengnya itu” atau “masih enak itu belum ada buntutnya” dulu. Bagi kami, setahun terakhir (dan dua tahun sebelumnya) adalah perjuangan panjang. Kami gak banyak ngerasain betapa menyenangkannya pacaran sekota, bisa hangout bareng pulang kerja, atau pillowtalk saat pergi tidur ngobrolin ada hal apa seharian tadi. Pillowtalk versi kami adalah chatting di Telegram ngomentarin komen-komen di fesbuk, gosip politik terkini, kemudian pamit tidur – kalau gak ketiduran. Setiap berangkat tidur doa saya adalah semoga masih diberi umur panjang untuk menyapanya lagi di pagi hari, dan melihatnya lagi saat kami punya kesempatan bertemu.

Sejak pacaran kami tinggal di kota yang berbeda: saya tinggal di Serpong, beliau di Jogja. Pertengahan 2014 beliau ditugaskan jadi field engineer ke Sulawesi selama setahun, dan gak lama setelah kembali ke Jogja pada pertengahan 2015 beliau kembali ditugaskan di Bojonegoro sampai pertengahan 2016… dan beberapa saat kemudian gantian saya yang pergi, melanjutkan studi ke Manchester.

It wasn’t always easy. Semester pertama 2014 kami masih bisa merencanakan sebulan sekali ketemuan di Jogja atau Serpong, tapi setelah beliau dinas lapangan kami cuma bisa ketemu saat field break tiap 6 minggu sekali. Tiap akhir pekan rasanya campur aduk antara sedih harus melewatkan malam minggu sendirian dan gak bisa ke gereja bareng, dan gak sabar menghitung berapa malam minggu lagi sampai bisa bertemu kembali. Bertengkar ya pasti ada. Kalimat yang nampak di layar hempon bisa membawa nada yang berbeda padahal bukan itu maksudnya, apalagi kalau di ujung satunya sedang bad mood atau lelah atau kebanyakan pikiran. It wasn’t always easy. Kami mengusahakan untuk meminimalisir konflik karena pertengkaran jarak jauh tidak selalu bisa diakhiri dengan rekonsiliasi yang layak, komunikasi yang baik, dan pelukan yang menyelesaikan segala masalah.

bersama bulik suster

bersama bulik suster

He’s being a great partner for me and I’m forever grateful for that. I think I couldn’t ask any better. Saya tahu kepergian saya untuk sekolah ke luar negeri jadi keputusan yang sangat besar buat kami, tapi toh dia tahu hal itu penting buat saya. Gak enak sih rasanya ditanya “wis bathi rung?” (“sudah untung belum?”) saat kami sedang menunda untuk punya anak karena saya harus sekolah dulu. Asal tahu aja ya, dia mau sama saya aja itu saya udah untung banyak! Hahaha. And of course want to have kids. And dogs. Cute ones, the kids and dogs. Sejauh ini orangtua sepenuhnya mendukung keputusan kami, meskipun kami tahu juga mereka sedih lihat anaknya sudah menikah kok masih jauh-jauhan dan sekarang malah jaraknya lebih jauh lagi. Gak enak juga lho kalau ada teman-teman yang suka ngeledekin posisi kami yang sedang LDR; kadang kalau mood saya lagi kurang bagus rasanya ingin bales “you know what, what you’re doing is not nice and I hope one day you’ll be in a long distance relationship with your partner so you’d know how it feels”.

Tiap tahun kami mengusahakan bisa liburan lebaran dan natal bersama, saya gak peduli harga tiket berapa pokoknya harus pulang. Tapi… sayang sekali natal tahun ini dan lebaran tahun depan saya gak bisa mudik. Kali ini harus peduli harga tiket karena 15 juta rupiah itu sungguhlah lumayan banyak :( buat yang pernah atau sedang LDR pasti tahu siklusnya saat nunggu waktu ketemuan di hari libur yang lebih panjang dari biasanya: excited nunggu hari-H, berharap liburan gak pernah berakhir, dan super patah hati di stasiun atau bandara saat harus berpisah karena jarang-jarang bisa bareng selama itu. Kemudian hari berikutnya seperti biasa langsung browsing-browsing tiket murah dan merencanakan kapan bisa ketemuan lagi.

Ah, lebih baik saya tidak usah terlalu banyak mengeluh. Melihat lagi cerita-cerita lama tentang perjalanan kami seperti cerita soal foto syarat catatan sipil yang harus di-photoshop, atau mondar-mandir Jakarta-Jogja buat ngurus surat-surat, sampai hal-hal yang membawa saya kepada kesadaran penuh bahwa saya sudah dipertemukan dengan The Special One, sehari sebelum hari pernikahan. Saya betul-betul bersyukur karena punya suami yang tidak cuma bisa jadi pegangan hidup (duile kaya kitab suci aja), tapi juga membuat saya jadi orang yang lebih baik. I love him for that. Kami pernah bekerja di kantor yang sama, meskipun gak kenal dan gak deket, dan sampai sekarang saya mengagumi etos kerjanya yang beyond excellent. Ya… terutama kalau dibandingkan sama saya yang versi sibuknya di kantor adalah nyusun playlist Youtube dan meneliti di video mana Niall Horan terlihat lebih cute.

patung sapi! – komplek pemda boyolali

Baiklah. Sudah jam empat pagi. Setelah baca posting soal honeymoon di Gili Nanggu tahun lalu kayaknya sudah harus merencanakan lagi tahun depan mau honeymoon kemana. Happy anniversary my best man, and let’s continue to another year of living happily ever after!