Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Ngoplos Pakai Data

Apa yang kamu pikirkan kalau baca paragraf di bawah ini?

Adapun racikan Sasongko untuk satu resep sari vodka, ia mengoplos etanol berkadar 95% sebanyak 1,5 liter dicampur air mineral 8,5 liter kemudian ditambah sari manis 1,5 sendok, sitrun satu sendok, dan satu sendok rasa buah salak atau jeruk. Satu resep menghasilkan 10 liter itu lalu dikemas menjadi 30 plastik.

Satu hal yang langsung menohok pikiran saya waktu itu adalah bahwa berita ini dengan begitu ceroboh mendeskripsikan bagaimana miras oplosan itu dibuat, dengan begitu detail. Bahannya pun bahan yang relatif murah dan dapat dibeli secara bebas. Kalau saya penggemar minuman beralkohol dan gak punya banyak duit untuk beli vodka, paragraf tadi bisa memotivasi saya untuk ngoplos minuman sendiri. Njuk kok Beritagar bikin berita macem gini juga. Duh.

Trus masalahnya apa e? Kan ngirit, toh?

Gini lho. Di pelajaran kimia dasar waktu SMA pasti pernah diajarin rumus pengenceran ini:

M1.V1 + M2.V2 = M3.V3

Kalau M1 adalah etanol 95% dengan volume 1.5 liter dicampur dengan air 8.5 liter, harusnya hasil yang diperoleh adalah 10 liter larutan dengan kandungan etanol 9.5%. Kandungan alkohol segitu itu sedikit di atas kandungan alkohol yang ada pada bir tapi masih di bawah wine (12 – 15%) dan jauuuuh di bawah vodka dan whiskey (35 – 50%).

Sampai sini paham? Oke.

Masalahnya adalah… Kalau kadar alkoholnya cuma segitu, kenapa sampai ada lebih dari 20 orang tewas? Nah… Jadi ya, di pasaran sedikitnya ada dua jenis etanol 95%:

  1. Pure ethanol (ethanol murni), yang isinya 95% etanol dan 5% air. Etanol 95% yang ini memang digunakan sebagai bahan baku minuman beralkohol karena kadar kemurniannya yang tinggi (beverage-grade alcohol).
  2. Denatured ethanol, yang isinya 95% etanol dan 5% bahan aditif seperti metanol, aseton, isopropanol, dll. Denatured ethanol ini digunakan oleh industri sebagai pelarut cat, isi termometer, cairan pembersih lantai dan WC, pengawet spesimen biologi, campuran bahan bakar, dll.

Nah lo.

Kandungan alkohol yang lebih murni dan kegunaannya sebagai minuman beralkohol membuat harga pure ethanol jauh lebih mahal dari denatured ethanol (bisa 10 – 20 kali lipat per liternya), karena ia dikenai pajak tambahan. Aditif pada denatured ethanol pada dasarnya ditambahkan agar denatured ethanol tidak diminum karena aditif-aditif tersebut sifatnya berbahaya jika dikonsumsi manusia. Metanol itu bahan baku spiritus dan thinner. Aceton digunakan sebagai larutan penghapus cat kuku. Isopropanol untuk pembersih lantai dan toilet, serta untuk pengawet spesimen biologi.

Setahu saya, semua supplier bahan kimia selalu menyertakan keterangan yang berisi kemurnian bahan yang mereka jual dan senyawa apa saja yang mungkin terdapat di situ. Ini adalah contoh keterangan produk denatured ethanol dari supplier VWR di Amerika Serikat:

CoA

Di situ disebutkan bahwa denatured ethanol yang dijualnya mengandung etanol (ethyl alcohol) 89 – 91% sedangkan sisanya adalah 4-6 metanol (methyl alcohol) dan 4-6% isopropanol (2-propanol). Kalau penjual gak bisa memberikan keterangan ini pada calon pembeli berarti produk mereka diragukan kemurniannya. Beli bahan kimia di manapun pastikan bahwa, sekali lagi pastikan, kamu tahu kandungan apa saja yang ada di dalamnya. Minta katalog dari principal company. Minta CoA (Certificate of Analysis) juga kalau ada.

Di industri (terutama industri makanan dan minuman), kemurnian bahan baku merupakan salah satu kriteria kualitas yang dijunjung tinggi. Prinsipnya ‘kan “rubbish in, rubbish out”. Hal ini juga berguna jika ke depannya ada masalah dengan kualitas produk atau komplain dari konsumen maka penyebabnya dapat ditelusuri mulai dari kualitas bahan baku yang diperoleh dari supplier.

Di Amerika Serikat ada Everclear, minuman keras dengan kadar alkohol 75.5% dan 95% yang memang dijual untuk konsumsi manusia. Agar tidak membahayakan nyawa, Everclear harus diencerkan terlebih dahulu sampai kadar yang aman untuk dikonsumsi. Tapi meskipun dianggap “aman”, distribusi Everclear dengan kadar 95% akhirnya dilarang di banyak negara bagian di Amerika Serikat karena diduga menyebabkan tingginya angka overdosis alkohol dan kekerasan seksual.

Oke. Semoga sampai sini saya ndak menginspirasi siapapun untuk beli Everclear.

Saya gak yakin apakah orang-orang yang ngoplos miras di berita tadi (termasuk yang beli) tahu tentang kandungan apa saja yang terdapat pada etanol yang mereka beli. Kalau yang dibeli adalah denatured ethanol ya… sudah. Pasrah aja dan berharap semoga gak mati atau selamat tapi cacat. Kalau yang dibeli pure ethanol pun belum tentu konsumen aman, karena siapa tahu ada bahan lain yang ditambahkan seperti obat nyamuk cair atau pengawet atau apa gitu. Tapi dari segi ekonomi kok menggunakan pure ethanol untuk ngoplos itu semacam rugi ya.

Pada intinya, pesan saya cuma satu: kalau mau ngoplos, ngoploslah dengan data. Kalau mau pakai etanol 95% biar irit ya pastikan etanolnya beverage-grade, bukan denatured. Selain itu, perhatikan juga toleransi tubuh masing-masing terhadap intake. Kalau biasanya minum bir aja udah teler ya gak usah sok-sokan minum vodka. Kalau lagi gak punya duit tapi pengen tetep bisa minum, patungan lah beli vodka dan encerkan dengan air sampai kadarnya jadi 10%. Udah. Vodka sama air aja, gak perlu pake minuman berenergi apalagi obat sakit kepala atau lotion anti nyamuk. Gimana cara ngencerinnya? Pake tuh rumus di atas.

Kopdar Jakarta Piknik di Taman Wisata Angke

Kata Mamski, Kopdar Jakarta itu adalah sekumpulan blogger tim kura-kura hura-hura, sering ngobrol dan kopdar di Jakarta (ya menurut ngana). Kalo kata Dimas, selain ngobrol di online perlu juga berteman di offline persis seperti tagline Kopdar Jakarta:

we’re friends, online | offline.

Dengan semangat kopdar offline (halah) itulah hari Minggu, 31 Januari kemarin Kojak ngadain piknik ke Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk di PIK, ecopark hutan mangrove (bakau). Dengan hanya pengumuman 2 minggu sebelumnya di milis, tercatat ada 18 orang member ikut piknik ini.

Kami janjian kumpul di fX Sudirman pukul 8 pagi. Saya sendiri berangkat dari rumah jam 6 pagi karena takut kesiangan. Eh ternyata kok jam 7 saya sudah sampai di stasiun Kebayoran. Karena masih ada waktu, saya jalan kaki dari stasiun Kebayoran ke fX lewat Pakubuwono. Untung masih pagi jadi udara masih seger dan belum banyak asap knalpot sepanjang jalan. Sekitar jam 9 teman-teman sudah lengkap dan berangkatlah kami ke PIK naik bus Big Bird dari Blue Bird Group yang bagus, adem, dan nyaman dengan pengemudi Bapak Munawar. Bus Big Bird ini AC-nya adem, di dalamnya ada colokan dan tentu saja layar TV yang bisa dipake buat karaokean sepanjang jalan. Selain itu, yang bikin saya senang dari bus ini adalah di setiap kursinya terdapat sabuk pengaman yang kondisinya masih bagus dan nyaman dipakai.

chika CaBBVzwUsAA4p5O

busnya nyaman dan legaaaa

Di Depan Bus Big Bird

di depan bus Big Bird

Perjalanan ke TWA Angke Kapuk di PIK gak makan waktu lama dari Sudirman. Terlalu cepet, malah, padahal kami masih asik karaokean dan menikmati bus Big Bird. Dengan dipandu oleh Adiitoo yang sudah pernah ke TKP, kami memasuki gerbang TWA Angke Kapuk PIK. Tiket masuk sebesar 25 ribu per orang (ditambah tiket untuk kamera sebesar 1,5 juta) dibayari Kojak lho. Kata Chika dananya diambil dari kas Kojak, padahal rasanya saya gak pernah bayar iuran. Hihihi. Terimakasih ya momod mimid Kojak.

tengkyu, Chika!!!

tengkyu, Chika!!!

Kami jalan-jalan keliling hutan sambil ngobrol, makan, foto, curhat, modus, dll. Di salah satu spot kami bikin video untuk kenang-kenangan. Videonya kece deh. Goenrock yang ngarahin, ngambil gambar, dan ngedit. BTW lama juga gak jalan-jalan macem gini. Kalau biasanya kopdar di kafe atau mall, sekali-sekali oke juga ngadain kopdar sekaligus piknik bareng keluarga di tempat ini. Kalau ke sini sampeyan ndak disarankan pake sepatu hak tinggi apalagi stiletto. Bisa kejeglong nanti pas lewat jembatan. Makanan dan minuman bisa dibeli di kantin, atau kalau mau bawa sendiri ya gak papa asal ditaruh di ransel dan ditutupi biar gak ketahuan. #eh

atemalem CaBiJz_UAAAVlum

CaBV97eUcAA3_5P

TWA Angke Kapuk di PIK ini kayaknya dikelola swasta. Perusahaan atau organisasi atau individu bisa mendukung penanaman pohon bakau ini dengan cara menyumbang, kemudian di dekat pohon bakaunya nanti akan dipasang papan berisi nama sponsor. Yang mau bawa anak-anak, tempat ini oke juga kok. Ada playground lucu dan tanah yang lapang untuk anak bermain-main. Sayangnya ya… banyak yang pada buang sampah sembarangan padahal udah disediain banyak tempat sampah. Kalian jangan gitu ya gaes.

sampah

sampah

Puas keliling TWA Angke Kapuk, gerombolan Kojak yang sepertinya sudah kelaparan melipir ke Baywalk Pluit untuk makan siang. Di situ kami makan sambil ngobrol-ngobrol sampai gak terasa sudah jam empat sore. Pak Munawar mengantarkan kami kembali lagi ke fX Sudirman dengan lancar. Di perjalanan pulang mimid Chika ngasih beberapa hadiah lewat kuis-kuisan. Saya menang kuis, dapet handuk! Haha. Momod mimid Kojak kayaknya tahu kalau saya suka malas mandi. Chika juga memberikan hadiah buat keluarga IcitIpul-Hisham yang datang paling awal serta Adiitoo yang sudah berkenan jadi guide.

foodcourt baywalk pluit

foodcourt baywalk pluit

Terimakasih Kopdar Jakarta! Terimakasih Blue Bird Group dan Big Bird! Kapan piknik lagi?

PS: foto-foto diambil dari twitter Kopdar Jakarta dan teman-teman. Video hasta karya Goenrock.

Pertama Kali Sidang Tilang

Namanya hidup ya, selalu ada yang pertama untuk semuanya. Pagi tadi untuk yang pertama kalinya saya mengikuti sidang tilang. Ceritanya dua minggu lalu saya dan suami pergi ke tempat bulik di Cengkareng, nah di perbatasan Tangerang kota dan Cengkareng ternyata ada razia. Suami saya pede aja nunjukin STNK dan SIM, sampai kemudian kami disuruh minggir dan pak polisi ngeluarin surat tilang warna merah.

“Lho kenapa pak? Kan SIM STNK lengkap.”

“Itu mas, lampu depan.”

Huft.

Suami saya negosiasi supaya yang disita STNK motor saya aja tapi pak polisi bersikeras menyita SIM C beliau. Soalnya kan beliau kerja di Cepu dan gimana lah kalo motoran ke mana-mana tanpa SIM. Belum lagi kalau mau ke Jogja atau mau mudik ke rumahnya di Ngawi.

“Sidangnya tanggal 29 ya, di PN Jakbar, Slipi.”

JAKBAAAARRR??? APAAAAAAHHH?? Ternyata kami ketilangnya udah di area Cengkareng, Jakbar.

*zoom in zoom out*

Sepanjang jalan dia ngomel sambil minta maaf karena nanti saya yang kudu mewakili sidang. Padahal kayaknya saya yang lupa nyalain lampu depan motor setelah selesai manasin motor pagi-pagi. Kayaknya lho ini. Mungkin juga memang beliau yang lupa.

Itulah awal kisah kenapa pagi tadi saya sudah bangun jam 5 pagi dan alih-alih yoga saya langsung mandi. Setelah mandi saya manasin spaghetti fra diavolo yang saya masak semalam dan saya sisihkan buat ganjel perut pagi-pagi. Jam 6 kurang 15 saya berangkat, ke kantor dulu untuk absen dan ijin kemudian ke stasiun Rawa Buntu ngejar KRL. Turun di stasiun Palmerah, saya ngojek ke gedung Udiklat PLN Slipi kemudian nyebrang ke Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Dan..

Pegawai PN Jakbar masih senam pagi. Masih jam 7:15 juga sih.

Oke.

Saya nongkrong di depan gerbang PN Jakbar sambil ngitungin berapa kendaraan yang lewat jalur busway dan takjub melihat beberapa mobil mercy, satu ekor ferrari, dan sebutir bus Mayasari Bakti ikut-ikutan lewat jalur busway. Ya… takjub aja gitu.

Eh gerbang dibuka. Sudah ada puluhan orang nongkrong di depan gerbang dan kami semua langsung menuju basement gedung PN Jakbar dan ngantri di loket untuk menyerahkan slip merah bukti tilang dari polisi. Di loket saya ditanya “mau sidang atau bayar di sini?” Saya bingung kenapa bisa bayar di situ. Kemudian saya langsung ngeh. Ooooooooooo.

“Sidang aja pak”, kata saya.

Kemudian saya mengikuti orang-orang ke lantai atas tempat ruang sidang berada, dan nyari tempat kosong di kursi-kursi panjang, di depan Ruang Soerjono yang masih tertutup. Jam dinding di depan ruang sidang menunjukkan pukul 08:00.

Ruang Sidang Soerjono

Ruang Sidang Soerjono

Orang-orang makin banyak berdatangan. Untung saya masih dapet kursi; yang lain pada lesehan atau berdiri. Sekitar pukul 08:45 ada satu orang petugas PN Jakbar keliling ngecek ruang sidang dan merapikan tumpukan berkas di atas meja di depan ruang sidang, kemudian beliau membacakan satu persatu nama yang ada di surat tilang sekaligus menyebutkan barang bukti apa yang disita. Ruang sidang dibagi dua: satu ruang sidang untuk barang bukti STNK, sedangkan satu lagi untuk barang bukti SIM.

Nama suami saya dipanggil, dan masuklah saya ke ruang sidang. Seumur-umur baru sekali ini saya ke Pengadilan Negeri dan melihat ruang sidang dengan mata kepala sendiri. Hmm. Kok sempit ya, gak sebesar yang ada di film Legally Blonde atau di sitkom How I Met Your Mother. Halah. Gak berapa lama nunggu, tiga orang datang membawa berkas dan membacakan nama-nama terdakwa. Sekali baca ada lima nama, dan semuanya didudukkan di lima kursi di depan podium hakim. Hakim akan menanyakan apa kesalahannya, dan setelah terdakwa menjawab beliau akan menyebutkan berapa besar dendanya. Plus seribu untuk biaya sidang. Entah kenapa seribu, dan kenapa ada begituannya saya juga kurang paham. Saya keluar dari ruang sidang sekitar pukul 09:20.

di dalam ruang sidang

di dalam ruang sidang

Kesalahan saya yang lupa menyalakan lampu depan diganjar dengan denda 70 ribu rupiah plus seribu. Baiklah. Saya kemudian turun ke lantai dasar, ke loket pembayaran. Ada tiga orang petugas di belakang meja dan beliau memegang tumpukan berkas limpahan dari ruang sidang. Nama-nama dipanggil, yang dipanggil membayar denda, kemudian barang bukti yang disita diserahkan ke empunya.

Nampak sederhana dan efisien ya? Ternyata gak sesimpel itu… Gak seperti bapak pembaca nama di depan ruang sidang yang bacainnya pake mikropon, bapak penunggu loket pembayaran gak pake mikropon jadi  harus baik-baik mencondongkan telinga agar jangan sampai kelewat waktu dipanggil. Selain itu, alih-alih duduk manis orang-orang memilih untuk berdiri bergerombol di depan loket. Waktu nama suami saya dipanggil, saya menyodorkan uang pas sambil minta kuitansi. Bapak penunggu loket pembayaran bilang gak ada kuitansi, tapi saya bilang perlu kuitansinya untuk keterangan ke kantor. Akhirnya dibuatkan. Saya baru ngeh, bayar denda kok gak ada tanda terimanya ya. Saya juga gak tahu dari sekian yang dibayar itu yang disetorkan ke negara sebenarnya berapa. Tapi ini prasangka buruk saya. Plis jangan ditiru.

Di depan loket pembayaran

Di depan loket pembayaran

SIM sudah dikembalikan, urusan saya selesai tepat pada pukul 09:40. Saya pun pergi ke gerbang depan PN Jakbar sekalian order grabbike karena mau ngurus anuan di gedung LPDP di Lapangan Banteng. Nah jadi sodara-sodara, terdakwa sidang tilang ini parkir motornya di depan PN Jakbar, bukan di parkiran motor yang ada di basement. Di parkiran ini ada ribuan *lebay* calo yang nawarin jasa antri dan ngurus sidang tilang dengan biaya mulai dari 20 ribu rupiah per perkara. Kadang calo-calo ini bilang “di dalem rame banget lho antrinya banyak” untuk menarik pengguna jasa.

DSC_1580

itu yang rame-rame di depan gerbang. abang grabbike bukan calo, fyi.

BTW menurut website PN Jakbar, sidang tilang bisa diwakilkan dengan membawa fotokopi yang mewakili. Tadi pagi saya sudah siap-siap fotokopi KTP tapi gak ditanyain juga sih.

Kesan saya tentang pengalaman sidang tilang pertama:

  1. Masih ada calo, bahkan dari petugas PN sendiri
  2. Alur kerja belum efisien, gak ada papan pengumuman yang jelas tentang bagaimana alur sidang tilang dan kenapa loket satu ke loket yang lain masih berjauhan. Juga kasihan bapak pembaca nama dan bapak penunggu loket pembayaran harus teriak-teriak.
  3. Kok gak bisa bayar di PN terdekat dari domisili aja ya? Yang ini setahu saya sih mungkin berkenaan dengan pendapatan daerah jadi ya harus diurus ke daerah tempat terdakwa ditilang. Ya, okelah.

Jangan diulangi lagi ya, gaes. Jangan sampai ditilang. Jangan juga integritasmu pada peraturan lalu lintas hanya dipengaruhi oleh ada tidaknya polisi. Drive safely.

Coba Coba Resep Cookies

Saya lagi seneng nyobain bikin kukis sendiri. Pertama nyoba bikin kukis hasilnya keras banget! Kemudian belajar patuh sama resep dan pelan-pelan modif sendiri sesuai selera. Karena gak pengen banyak-banyak masak pake tepung terigu, saya kombinasikan dengan tepung oatmeal. Tepung ini saya buat dengan cara menggiling oatmeal pakai cup blender kering. Cukup pake speed terendah selama 30 detik aja kok, oatmealnya sudah halus. Untuk bikin adonan saya gak ayak tepungnya biar rasa oatmealnya masih berasa.

Dan beginilah resep cookies yang saya buat beberapa hari yang lalu:

  • 60 gram tepung serbaguna
  • 60 gram tepung oatmeal
  • 100 gram mentega (boleh juga dikombinasikan dengan butter)
  • 4 sdm gula palem
  • 1 butir telur
  • 1/4 sdt baking soda
  • 1/4 sdt garam
  • 1/4 sdt vanili bubuk (jangan terlalu banyak, nanti pahit. boleh di-skip kalau sudah pakai butter)
  • 1/2 sdt bubuk kayumanis
  • chocochip sesukanya
  1. Siapkan wadah bersih, masukkan telur, gula, mentega. Kocok dengan mixer kecepatan sedang sampe teksturnya halus
  2. Masukkan vanili dan garam, aduk rata
  3. Masukkan tepung dan bubuk kayumanis sedikit demi sedikit, aduk dengan spatula sampai rata tapi jangan kelamaan, nanti cookiesnya keras
  4. Masukkan chocochip, aduk lagi sampai rata. Sekali lagi ngaduknya jangan kelamaan
  5. Dengan menggunakan sendok, cetak adonan di atas loyang yang diolesi mentega atau dialasi kertas roti. Kasih space ya karena nanti kukisnya akan mengembang
  6. Set temperatur oven pada 160 derajat celcius, panasi oven selama 10 menit. Panggang roti selama 10 menit api bawah dan 10 menit api atas
  7. Keluarkan loyang dari oven, taruh di rak. Masukkan ke toples kedap udara kalau kukisnya sudah tidak panas lagi.

Bagian favorit saya dari bikin kukis ini adalah 10 menit terakhir sebelum kukisnya matang… aroma mentega dan kayumanis menguar dari oven. Yummy. Maap ga ada gambarnya. Males motret hahaha. Eniwe saya pake oven elektrik; untuk oven tangkring mungkin temperatur dan durasinya beda ya.

Selamat bikin kukis~

Gak Tahu atau Gak Peduli?

Beberapa hari ini saya motoran ke kantor dengan menyeret pikiran yang sama setiap harinya: kenapa banyak orang susah tertib di jalan raya?

Setahun pertama tinggal di sini saya masih sering motoran dari Serpong bagian selatan ke Jakarta (rekor terjauh saya: Kemang), tapi satu tahun belakangan saya lebih suka naik kereta ke Jakarta. Itu jugalah kenapa saya hanya mau kopdar di sekitaran Thamrin, Senayan, Gandaria, atau paling jauh Kuningan deh. Mengendarai sepeda motor di jalanan Jakarta itu melelahkan. Lelah hati, sebenernya. Dari kontrakan saya dulu ke Blok M itu cuma 25 km, lewat Ciputat dan Fatmawati. Tapi capek ngadepin macet itu yang sempat bikin saya hampir nangis, sekali waktu saat sore hari saya mau ke Senopati dari Serpong.

Sejak kerja di Jogja dulu saya sering motoran antar kota antar propinsi (AKAP), karena rumah saya di Karanganyar. Dari Jogja kira-kira 100 km lebih-lebih dikit lah. Mudik naik motor motong jalan lewat Klaten “cuma” makan waktu tiga jam aja. Sampai rumah capeknya ya gitu doang. Dipake buat leyeh-leyeh sambil minum teh anget atau bikin indomie rebus juga udah seger lagi. Jadi kenapa di Jakarta bisa segitu capek hanya untuk jarak yang gak terlalu jauh?

Kita gak asing lagi dengan jargon “deket kok, gak ada polisi” dan “peraturan dibuat untuk dilanggar”, tapi apa iya segitunya? Dan kira-kira kenapa bisa seperti itu? Di jalanan sepertinya semua orang gak mau mengalah. Hayo siapa yang sering berhentinya di lampu merah melebihi marka? Siapa yang sering motoran naik ke trotoar? Iya saya ngerti mungkin awalnya gak nyaman melakukan itu, tapi di Jakarta kalau gak melakukannya bisa diklakson atau diteriakin orang… jadi mau gimana lagi.

Okay.

Yang bikin saya pusing juga adalah, kenapa banyak sekali orang merasa gak apa-apa naik sepeda motor gak pake helm. Tahu gak sih helm dibuat bukan untuk polisi, tapi buat kepala kita sendiri? Juga mereka yang berkendara melawan arus dengan alasan “deket ini, masa kudu nyebrang / nyari puteran jauh”. Tahu gak sih perbuatan itu gak cuma membahayakan diri sendiri, tapi juga membahayakan orang lain?

Duluuuuu saya pikir orang melakukan itu karena SIM nya nembak – atau malah gak punya SIM – jadi (mungkin) gak tahu peraturan. Ternyata saya salah. Mereka punya SIM, dan dapetnya dengan cara ujian. Entah gimana ilmu yang didapat (kalau dapat, sih) saat ujian SIM itu menguap begitu saja. Setelah nanya beberapa orang dengan latar belakang, kepemilikan SIM, dan profesi yang berbeda kesimpulan saya adalah: mereka gak peduli.

Bodo amat kepala pecah di jalan karena gak pake helm. “Deket ini, gak ada polisi”.

Bodo amat orang lain kaget karena tiba-tiba ngeliat kita mengendarai motor melawan arus. “Harusnya mereka aware dong sama situasi di depan (termasuk kalo ada yang motoran ngelawan arus)!”.

Bodo amat jalanan jadi macet yang penting saya bisa jalan duluan. “Kalo gak nyerobot kayak gini, gak akan jalan!”.

Selain ketidakpedulian, penyakit lain yang mengakar dalam dan mungkin sudah jadi kepribadian adalah argumen “ORANG LAIN JUGA GITU KOK.”

Semoga kita masih diberi nurani yang sehat dan keinginan untuk hidup sebagai manusia yang beradab.

PS: Sampai saat ini saya masih takjub sama stereotype emak-emak matic yang ternyata sungguh benar adanya…