Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Mengenang Kenangan

Seperti halnya setiap orang punya cara sendiri untuk bersenang-senang, demikian juga dengan cara mengenang. Ada orang yang suka mengenang hanya dengan ingatan saja, dengan setiap tanggal dan waktu yang terasosiasikan dengan momen tertentu. Orang-orang yang dikaruniai kemampuan mengingat seperti ini sungguhlah beruntung. Ia bisa dengan mudah mengatakan apa yang terjadi pada suatu masa, lengkap dengan deskripsi kiriman dari berbagai indera tanpa harus dipancing dengan lagu, benda atau gambar. Meskipun sang empunya ingatan memiliki banyak kemudahan dengan kemampuan ini, namun tumpukan memori yang ada tentu tidak semuanya menyenangkan. Di satu sisi ia akan bisa mengingat hal-hal seperti “oh ya, tanggal 15 Juli dua tahun lalu aku pergi ke pantai berpasir putih dan melihat matahari terbit di situ. Cantik sekali.”, namun di sisi lain ia juga akan dengan sangat mudah mengingat sesuatu seperti “tanggal 12 Desember jam sepuluh pagi lewat lima, aku masih ingat apa yang dia katakan lengkap dengan raut muka yang selama ini membuatku terbius”. Well.

Beberapa orang lainnya lebih memilih untuk mengenang dengan gambar. Foto-foto, entah foto diri atau suatu tempat atau sebuah benda, digunakan untuk mengingat-ingat lagi apa yang pernah terjadi. Sebuah gambar diam bisa membawa pesan dan kenangan yang sangat banyak. Betapa tidak, hanya dengan melihat sebuah foto saja kita akan ingat hal apa saja yang terjadi pada saat foto itu dibuat, bahkan saat-saat sebelum dan sesudahnya. Sebuah foto juga bisa menjadikan sebuah momen terabadikan, apalagi jika momen serupa tak akan terulang lagi. Sedikit berbeda dari gambar diam, gambar bergerak juga acap kali membuat acara mengenang kenangan jadi lebih nyata. Suara, gerak, senyum, perubahan ekspresi wajah semua terekam di situ.

Ada lagi yang lebih suka mengenang kenangan dengan cara lain: mengumpulkan macam-macam “barang bukti”. Saya salah satu tipe orang seperti ini; saya suka memfoto tapi tidak suka difoto. Jika tidak ada kesempatan memfoto maka sebisa mungkin saya akan menyimpan apa yang bisa saya simpan dan kenang setelahnya seperti tiket bioskop, tanda masuk obyek wisata, peta dan lain-lain. Oh ya, ngomong-ngomong saya lebih suka kenang-kenangan berupa peta kota daripada cinderamata tipikal seperti piring, gantungan kunci dll. Tidak seperti foto atau video yang bisa disimpan di memory card, para pengumpul “barang bukti” ini membutuhkan lebih banyak tempat untuk menyimpan harta karunnya. Dan percayalah, jika mereka harus pindahan dan decluttering maka barang-barang ini akan mengejutkan banyaknya.

Yang rada susah barangkali mengenang kenangan dengan cara menuliskannya. Entah tak ada waktu atau “tak bisa” menulis, selalu saja ada alasan untuk tidak menulis. Saya pribadi suka menuliskan sesuatu untuk kenang-kenangan, terutama setelah bepergian ke suatu tempat. Masa-masa tahun 2008 – 2011 lalu banyak tulisan di blog ini tentang traveling, dan sayang sekali sekarang sudah sangat jarang – atau bahkan sudah tidak pernah. Menulis untuk mengenang kenangan ini sangat manjur jika dilakukan segera, agar kesan-kesannya tidak keburu hilang dan setiap detailnya masih segar.

Seseorang pernah bilang ke saya: “kenapa gak mau foto, kan biar gak lupa. Suatu saat kamu akan menyesal karena gak  nyimpen fotomu buat dikenang”. Well, no I won’t regret. Saya memang tak terlalu pandai mengingat tapi saya cukup mengerti hal apa yang punya nilai cukup tinggi sehingga saya sampai harus mau atau minta difoto (yes, taking a self-portrait is kinda big deal for me). For now, hoarding is quite enough for me to keep the good memories safe.

Kalau kamu, bagaimana caramu mengenang kenangan?

Jatayu dan Sempati

Bukan tentang maskapai penerbangan ya ini…

Alkisah di wiracarita Ramayana hiduplah dua ekor kakak adik rajawali yang gagah perkasa, raja di antara para burung. Mereka bernama Aruna dan Garuda. Aruna punya anak yang diberi nama Jatayu, sedangkan anak sang Garuda bernama Sempati. Jatayu dan Sempati adalah teman sepermainan, dan hubungan mereka berdua erat sekali. Waktu sama-sama masih kecil, Jatayu dan Sempati berlomba terbang ke arah matahari. Mungkin karena hanya ingin bersenang-senang mereka tidak berpikir bahwa teriknya sinar matahari bisa sangat melukai. Saat sudah semakin mendekat ke matahari, sayap Jatayu mulai terbakar. Sempati yang lebih tua pun langsung bergerak cepat melindungi sang adik dengan sayapnya. Sayapnya sendiri terbakar, dan saat ia sudah tak kuat menahan lagi mereka berdua pun jatuh ke tanah, di tempat yang berbeda. Sejak itulah Sempati tak pernah lagi melihat Jatayu.

Bertahun-tahun kemudian…

Jatayu sedang duduk di atas dahan pohon saat dia mendengar suara ribut-ribut dan teriakan seorang wanita. Di udara dilihatnya Rahwana sedang membawa Sita yang menjerit-jerit. Jatayu berteman dengan Prabu Dasarata dari Ayodya, ayahanda Rama, dan ia pun mengenal Sita. Ia memutuskan untuk mencegah Rahwana menculik Sita. Pertempuran sengit terjadi di udara, tapi sayang sekali sang Jatayu yang sudah tua tak mampu melawan kesaktian Rahwana. Tebasan pedang Rahwana mematahkan sayapnya sehingga Jatayu terhempas ke tanah.

Jatayu vs Rahwana

Pada saat yang bersamaan, Rama dan Laksama sedang panik mencari-cari Sita yang hilang. Melewati hutan rimba, mereka melihat ada darah berceceran. Diikutinya jejak darah tersebut dan dilihatlah Jatayu yang kehilangan sebelah sayapnya sedang sekarat. Melihat Rama dan Laksaman, Jatayu menceritakan apa yang terjadi – bahwa Sita telah diculik oleh Rahwana dan sepertinya dibawa ke Alengka. Sayang sekali ia tak tahu kemana Rahwana membawa Sita pergi. Melihat Jatayu sudah hampir menghembuskan nafas terakhirnya, Rama memberi hormat pada burung yang mulia itu dan memercikkan air suci pada jenazahnya. Pada Kakawin Ramayana, dikisahkan Rama bersabda demikian:

Hé Jatayu mahā dibya, wênang dharaka ring hurip, sangka ryasih ta mamitra, bapangku kalulut têmên, tumuluy têka ring putra, ah ō dibyanta hé kaga. Sêdêng tat mahurip nguni, bapangku mahurip hidêp, ri pêjah ta kunêng mangke, menyak uwuh-uwuh

(Hai Jatayu yang maha mulia, sungguh kuat dikau mempertahankan jiwa. Karena cinta kasihmu bersahabat terhadap ayahku lekat sekali, berkelanjutan sampai kepada aku, puteranya. Amatlah mulia wahai dikau burung perkasa. Tatkala engkau masih hidup tadi, ayahku kurasakan masih hidup, sekarang ketika engkau telah meninggal, sungguh bertambah sedih hatiku).

Demikianlah Jatayu gugur membantu Rama…

Lalu apa yang terjadi dengan Sempati? Ternyata dia jatuh ke pesisir dan hidup di gua. Sayapnya habis terbakar sehingga ia tak bisa terbang lagi. Setiap hari ditunggunya bangkai binatang dibawa ombak ke pantai sebagai makanan. Suatu hari ia mendengar di luar gua ada beberapa pasukan kera yang didampingi Hanoman sedang berbicara tentang Rama yang belum juga menemukan Sita. Awalnya ia tak peduli dan malah ingin memangsa mereka, sampai terdengarlah padanya saat pasukan kera tersebut membicarakan Jatayu yang gugur demi menyelamatkan Sita dari tangan Rahwana. Seketika Sempati menangis tersedu-sedu, merasa sangat sedih karena harus mendengar kabar sang adik saat ia sudah meninggal.

Sempati pun memutuskan untuk membantu kelompok itu. Keluarlah ia dari guanya dan menemui Hanoman. Hanoman memperkenalkan dirinya dengan sopan, kemudian bertanya apakah Sempati melihat ada seorang wanita dibawa oleh raksasa. Sempati pun mencari tahu dari mana asal pasukan kera tersebut dan menanyakan apa yang terjadi pada Jatayu. Mengetahui bahwa adiknya gugur karena melakukan perbuatan baik, ia kembali merasa sedih dan menyesal karena sempat ingin memakan para pasukan kera. Sebagai balasan atas berita tentang Jatayu yang didengarnya dari Hanoman, Sempati membantu mereka menemukan di mana Sita berada.

Sempati dan pasukan kera

Sebagai rajawali, Sempati memiliki penglihatan yang sangat baik. Ia bisa melihat jelas meskipun dalam jarak yang sangat jauh. Ia memandang sejenak jauh ke lautan lepas, lalu memberitakan bahwa Sita masih hidup dan ditawan oleh Rahwana di Alengka. Hanoman pun berterimakasih pada Sempati, lalu mereka pamit pada Sempati untuk bersiap-siap ke Alengka. Tak lama kemudian bulu-bulu di sayap Sempati yang terbakar tumbuh lagi; ia mendapat anugerah dari para dewa karena sudah membantu Rama, titisan dewa Wisnu.

Nah, jadi pesan moral apa yang kamu dapat dari cerita ini, anak-anak?

Nonton Orkestra Lagi! Grand Concert ft. Addie MS

Semalam saya dan mas funkshit nonton konser di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Konser yang diadakan oleh ekskul GMCO (Gadjah Mada Chamber Orchestra) ini diberi judul “Grand Concert Vol 3: The World In Theatre” dengan menghadirkan guest conductor Addie MS dan guest singer Lea Simanjuntak. Saya gak sengaja lihat iklannya waktu lagi twitteran, dan dengan sigap *halah* mencari tahu kapan dan dimana acaranya serta di mana ticket box-nya.

Saya lumayan suka musik klasik dan orkestra biarpun gak bisa main alat musik. Seneng aja gitu nontonin video konser symphony orchestra dari berbagai negara. Untuk konser live sih jarang, karena di Jogja juga gak sering ada konser orkestra. Jaman kuliah dulu aja paling, nonton konser chamber music yang diadakan jurusan  seni musik UNY setiap tiga bulan sekali. Karena cuma chamber music jadi ya instrumennya gak terlalu banyak seperti pada symphony orchestra – malah pada beberapa episode cuma menghadirkan beberapa  repertoar piano dan/atau violin sonata. Yang saya suka dari konser-konser musik klasik ini adalah suasananya yang tenang dan tertib. Ada etika nonton musik klasik, di mana pengunjung aja gak boleh pakai kaos oblong dan sandal jepit, dan kalau terlambat harus menunggu break atau pergantian lagu sehingga tidak mengganggu yang sudah berada di dalam ruangan.

Nah, untuk konser GMCO ini saya excited sekali karena ada Addie MS yang ganteng itu dan memang sudah lama sekali gak nonton live orchestra. Di konser ini menurut saya kerja panitianya cukup rapi. Pembelian tiket dibagi berdasarkan kelas: tiket Gold dan Platinum bisa dibeli langsung di Gelanggang Mahasiswa, markas GMCO sedangkan tiket kelas Silver bisa dibeli on-line. Saya sendiri beli tiket Silver karena tanggal tua melihat posisi seating di TBY, di mana kelas Silver dan Gold jaraknya tak terpaut jauh. Saya memesan tiket di laman yang disediakan, kemudian setelah konfirmasi data diri ada e-mail masuk ke inbox memberitahukan kode pemesanan serta transfer uang harus dilakukan ke rekening siapa. Setelah transfer  dilakukan saya kembali konfirmasi dengan melampirkan bukti transaksi dan sekali lagi mendapat e-mail bahwa pemesanan saya sudah diterima panitia. Tiket sudah bisa diambil dengan membawa bukti konfirmasi terakhir dan kartu identitas pada tanggal yang sudah ditentukan.

Nah pengambilan tiket ini harusnya long weekend kemarin itu, saat saya sedang “ngabur” sebentar ke suatu tempat dan tidak mempedulikan dunia luar. Lupa jugalah saya tentang perihal pertiketan ini. Jatah ambil tiket yang harusnya maksimal sampai dengan hari Minggu tanggal 12 Mei terlewatkan sudah. Saya baru ingat saat tengah malamnya ada SMS dari mbak Ima, panitia Grand Concert yang memberitahukan bahwa saya belum mengambil tiket dan menanyakan apakah saya masih berminat untuk membeli tiket tersebut atau mau cancel saja. Wow. Saya langsung konfirmasi dan minta maaf karena telat ambil tiket. Mbak Ima yang baik inipun ngajak janjian di Gelanggang Mahasiswa untuk ambil tiketnya. Saya yang berada dalam posisi bersalah gak berani nelat datang ke tempat janjian, dan mbak Ima pun sudah menunggu dengan dua buah tiket. Makasih, mbak Ima!

Asik kan. Hari H-nya gak kalah asik. Di tiket tertulis open gate pukul 18.30, saya dan mas funkshit datang rada telat karena nyelesein nonton How To Train Your Dragon dulu di laptop dan makan malam. Kira-kira jam 18.45 kami sampai di TBY suasana sudah cukup ramai. Di bawah tangga ada seorang mas-mas panitia yang stand by dan informatif saat ditanya pintu masuknya di mana. Naiklah kami ke atas, masuk melalui gerbang utama Concert Hall. Seorang panitia mengecek tiket dan menunjukkan akses masuk untuk tiket kelas Silver. Sekali lagi di akses selanjutnya ada panitia yang menyobek tiket dan mengecek barang bawaan. Saat kami masuk ke Concert Hall ruangan masih rada kosong. Saya nyegat seorang mas panitia untuk bertanya mana batas kursi Silver dan Gold, kemudian dijawab dengan jelas: “Untuk Silver batasnya sampai di situ, yang kursi lipat aja. Tolong diisi dulu yang bagian depan ya”. Kami langsung mencari kursi kosong di deretan paling depan untuk kelas Silver. Ada dua di bagian kanan. Yay!

Panggung ditata dengan bagus, dengan format seperti orkestra biasanya. Backdrop-nya simple, cuma ada dua buah layar lebar disambung untuk menampilkan iklan Grand Concert disertai iringan musik klasik instrumental. Konser dimulai pukul 19.30 tepat (!), dibuka oleh dua orang MC yang memperkenalkan garis besar acara serta sedikit cerita tentang GMCO. Seperti halnya konser musik klasik lainnya, MC menceritakan repertoar yang akan dimainkan serta profil konduktor yang memimpin. Total ada 13 repertoar dimainkan di konser The World In Theatre, dengan overture Kuja’s Destiny, salah satu soundtrack di game Final Fantasy IX gubahan Nobue Uematsu. Nomor-nomor berikutnya datang dari soundtrack film-film di seluruh dunia seperti Mengejar Matahari dan Adventure of Tin Tin (dengan film berjudul sama), Coeur Volant (Hugo), Don’t Wanna Miss a Thing (Armageddon), E.T (The Extra Terrestrial), hingga medley soundtrack telenovela (Carita d’Angel, Mari Mar dan Amigos X Siempre) dan Bole Chudiyan (Kabhi Kushi Kabhi Gham). Hampir semua nomor diaransemen ulang agar lebih oke untuk dibawakan oleh orkestra. Yang unik adalah aransemen Bole Chudiyan yang dijadikan fusion beat alih-alih Bollywood style. Setelah tujuh repertoar dibawakan, penonton diberi kesempatan untuk break selama 30 menit.

Addie MS menjadi konduktor di dua lagu: E.T dan I Don’t Wanna Miss a Thing sedangkan Lea Simanjuntak mengisi vokal pada lagu Coeur Volant, I Don’t Wanna Miss a Thing dan Tak Perlu Keliling Dunia (soundtrack film Laskar Pelangi). Ya ampun mbak ini suaranya cetar membahana… lagu I Don’t Wanna Miss A Thing dibawakannya dengan nyaris sempurna (ada beberapa lirik yang keseret-seret) sampai klimaksnya menggetarkan seisi concert hall. Segenap orkestra pun memainkan alat musiknya dengan semangat, membawa para penonton standing applause setelah repertoar selesai dimainkan.

Lagu terakhir, Tak Perlu Keliling Dunia, dinyanyikan dengan manis oleh Lea Simanjuntak dan menutup Grand Concert Vol. 3 dari GMCO. Setelah lagu selesai konduktor membungkukkan diri memberi hormat dan masuk ke backstage sedangkan para pemain masih diam di atas panggung. Kata funkshit sih tunggu aja nanti pasti ada after credit. Ternyata bener, ada lagu tambahan! Lagu Bole Chudiyan dimainkan lagi  dengan nuansa yang lebih riang. Setelah lagu tersebut selesai barulah sepertinya kami yakin kalau konser sudah benar-benar berakhir karena sudah masuk sesi foto-foto panitia.

That was all. Saya puas dengan keseluruhan acara, terutama ketertiban dan ketepatan waktunya. Panggung ditata dengan apik dan lighting-nya pun sama sekali tidak mengganggu mata penonton. Tidak ada juga kru yang berseliweran di atap dan merusak pemandangan. Para panitia juga sepertinya sangat tahu dengan acaranya, tidak justru pah poh kalau ditanya dan malah menyebar info-info membingungkan seperti halnya konser Sheila on 7 yang kami datangi pada hari Valentine tiga bulan lalu. Seperti apa drama konser Sheila on 7 yang terjadi kemarin? Postingan blog mbak Uthie dan mbak Myta ini rasanya sudah sangat menjelaskan.

Anyway… Bravo GMCO! Ditunggu Grand Orchestra-nya lagi tahun depan ya!

Jarvis, Ngeblog Yuk!

Hehehehe… Judul macam apa…

Setelah rilis beberapa minggu di Indonesia, lebih dulu dari Amerika (yay for us!) akhirnya sempat juga nonton film ini. Saya gak nonton Iron Man 1 waktu dirilis 2008 lalu, karena menurut saya itu cuma film robot kaleng seperti Transformer (aduh siapa yang barusan nyambit pake gelas). Sekuelnya, Iron Man 2, rilis tahun 2010 dan sepertinya waktu itu saya nonton di bioskop; nontonnya sampai after credit yang – kalo gak salah – muncul Nick Fury dan ada hammer-nya Thor jatuh ke bumi. Yang saya ingat dari kedua film Iron Man tersebut adalah bahwa Robert Downey Jr. ini super hot (and rich!) dan charming sekali, sampe rasanya bisa menggeser posisi Pierce Brosnan dari daftar most charming men of all time. Selain RDJ, saya juga suka lihat Jarvis dan kecanggihan teknologi yang ditampilkan. They were like dreams come true.

Kemudian datanglah film Iron Man 3 di musim pancaroba ini (Hollywood always has summer movies, so why can’t we) dan sepertinya merupakan penutup dari trilogi Iron Man. Meskipun masih bercerita tentang robot kaleng yang sama (aw! disambit lagi!) tapi sepertinya cerita tentang Iron Man akan semakin seru. Sebagai penggemar Ms. Pepper Potts, saya juga penasaran sama perkembangan hubungan mereka berdua.

Yang belum nonton Iron Man 3 tolong berhenti di sini saja, karena sepertinya saya bakal cukup banyak spoiler.

——————- p o t o n g – d i s i n i ——————-

Iron Man 3 bercerita tentang another yet super-villains. Dua orang jenius pemilik sebuah teknologi tingkat tinggi yang sempat disakiti hatinya oleh Tony Stark: seorang oleh Tony yang ignorant dan, seorang lagi oleh Tony yang obnoxious dan player. Duo ini mengobrak-abrik hidup Tony Stark dan Pepper Potts tepat di saat mereka sudah akan mencari sebuah tempat yang aman dari musuh. Tak ketinggalan tentu saja ada peran James Rhodes yang dalam film ini bertugas untuk melindungi Presiden Amerika Serikat yang menghadapi teror terbuka dari sang penjahat. Ada apa lagi? Tentu saja teknologi canggih dan armor Iron Man yang super kece.

Sepertinya sudah banyak yang membahas kalau di film ini sisi kemanusiaan Tony Stark lebih ditonjolkan, terutama saat ia berperang dengan menggunakan otak dan badannya sendiri tanpa Jarvis dan jubah besi Iron Man. Menurut saya sih fifty-fifty. Kenapa? Ya karena film ini tentang Iron Man, robot dan kemajuan teknologi. Malah menurut saya di sini Jarvis berperan cukup banyak sebagai second role. Yah seperti Ron Weasley kepada Harry Potter atau Samwise Gamgee kepada Frodo Baggins. Ingat gimana dalam banyak situasi penting Tony memerintahkan sesuatu pada Jarvis? Saat beberapa protokol harus dilakukan seperti mengirimkan semua robot (saat mereka datang lalu berjejer melayang di udara, rasanya kok seperti melihat kumpulan Power Rangers berbaju besi), melakukan penangkapan tebang pilih pada makhluk-makhluk Extremis berdasarkan suhu badannya? Saat Jarvis menaati perintah Tony dan meledakkan robot-robotnya? That’s Jarvis there. #TeamJarvis

Secara khusus, saya suka rangkaian cerita saat Tony Stark mendebat Jarvis kenapa mereka terlempar ke Tennessee, lalu Tony menyeret Jarvis saat baterainya habis dan ketemu si anak pintar Harley. I love this boy’s twinkling eyes, he seems smart and honest. Lebih suka lagi saat dia merayu Tony agar tidak pergi :lol:

Tentang Pepper Potts? Sweet as hell. I love it how the delicate Ms. Potts used Iron Man suit to protect her beloved one (or as Tony Stark would say: he protected her first) and saved herself as well. Inarguably, she’s one brave smart women and damn right Tony Stark is right when he decided to stay with Ms. Potts. Di salah satu adegan seru Tony bilang kalau lebih baik Potts melepaskan diri dan percaya bahwa Tony akan menangkapnya lalu.. well, you know what happened. Saat itu saya berpikir, kalau saya jadi Ms. Potts rasanya akan sulit percaya lagi sama Tony deh. Hehehe. But again, what’s life without whimsy?

Another highlights: Ben Kingsley dan aktingnya yang super gila! Ada juga adegan rescue Iron Man saat menyelamatkan penumpang Air Force One yang berjatuhan… Nice one.

Robert Downey Jr. bilang kalau ini adalah penampilan terakhirnya sebagai Iron Man. Entah apakah setelah ini Iron Man akan diperankan oleh orang lain, atau tidak akan ada lagi Iron Man? Entah ya untuk sekuel berikutnya tapi yang jelas RDJ masih dikontrak untuk film Avengers 2 tahun 2015.

Overall, film Iron Man 3 sangat menghibur. I even clapped my hands silently to see those beautiful robots flying across the sky. Banyak scene action dan beberapa di antaranya cukup disturbing buat saya, tapi sepertinya cukup oke untuk orang-orang normal penggemar film action. That’s all my thoughts about Iron Man 3. I’d give it 9/10 stars. Pertanyaan penutup: mana yang lebih tajir, Bruce Wayne atau Tony Stark?

Money, Best Superpower Ever

Pasta Frenzy

Beberapa minggu terakhir ini saya pengen masak apa gitu, kebetulan di kost ada dapur yang oke. Sejak  beberapa bulan lalu sarapan pagi saya defaultnya sih oatmeal, bisa plain oatmeal pake air panas gitu aja atau dicampur lauk gudeg, opor telur ceplok atau tumis-tumisan sayur. Iya seriusan saya makan oatmealnya begitu, karena gak terlalu suka nyampur oatmeal dengan substansi manis macem buah atau susu. Makan siang dapat katering dari kantor, makan malam saya biasanya cuma makan pisang kalau gak lagi kelaparan banget atau ditraktir makan sama funkshit (kasian banget, mau makan aja nunggu traktiran).

oatmeal lauk gudeg

oatmeal lauk gudeg

Kemudian saya bosan sama oatmeal. Makan apa ya buat sarapan atau makan malam, tapi yang bukan nasi? Saya kemudian beli kentang. Kebetulan saya emang gak punya rice cooker juga, dan tidak cukup selo untuk ngerebus beras serta memasaknya di kukusan. Kentang ini biasanya saya rebus atau panggang di atas teflon, lalu dimakan dengan lauk omelet. Bukan omelet fancy kayak yang di hotel-hotel, omelet buatan saya paling isinya cuma daun bawang, bawang merah atau bakso yang dicincang. Kalo direbus, kentangnya saya jadikan mashed potato. Satu butir kentang dipotong jadi empat lalu direbus sampai empuk (sekitar 10 – 15 menit). Setelah empuk sampe ke tengahnya (bisa dicoba dengan menusukkan garpu) kentang ditiriskan dan dihancurkan dengan menggunakan garpu. Maklum saya gak punya potato masher atau food processor. Setelah kentangnya hancur, taburkan sedikit garam dan merica bubuk kemudian masukkan satu sdm unsalted butter untuk menambah rasanya jadi yummy.

Kemudian saya bosan sama kentang. Masak apalagi ya? Saat sedang belanja buah di supermarket kok saya lihat deretan pasta. Aha! Masak pasta ajalah. Waktu masih tinggal di Eropa dulu sih enak kalau mau masak pasta. Udah ada bumbu botolan, daging dan keju pun murah. Tapi boleh dicoba sih, toh saya pernah ngalamin bikin gudeg from scratch selama 6 jam penuh (yang habis dalam waktu kurang dari 30 menit) masa cuma mau bikin masakan pasta aja menyerah.

Project 1. Fettuccine Bolognese

Gaya ya? Biarin. Sebenernya saya lebih suka carbonara, tapi berhubung sedang tanggal tua dan belum mampu beli keju jadi saya mencoba bolognese dulu sajalah. Kenapa saya pake fettuccine? Karena kayaknya saus bolognese ini oke sekali kalo diseruput pake pasta yang panjang itu. Kayaknya lho. Kemudian lagi-lagi karena alasan ekonomi (kasian bener sih) saya pake daging ayam dan bakso instead of daging sapi giling. Harganya jauh bener. Oh iya, untuk percobaan ini saya juga pengen bikin saus bolognese dari tomat segar bukan bumbu jadi ataupun tomat botolan. *tetep gaya*

Sekali-sekali ah sharing resep masakan. Resep di bawah ini untuk 4 porsi ya. Porsi saya sih.

Tomat segar ukuran sedang, 4 buah

Dada ayam tanpa tulang, 150 gr

Bakso sapi ukuran sedang, 8 butir

Sambal tomat 1 sdm (optional, untuk ngasih sedikit kesan rasa pedas)

Wortel 1 buah, yang ukuran kecil aja

Garam (kalau ada yang sea salt, bukan garam beryodium)

Merica hitam

Oregano, boleh segar atau kering

Bawang merah dan bawang putih, masing-masing 4 siung

Fettuccine 250 gr

Virgin olive oil. Jangan yang extra virgin ya, karena yang extra virgin untuk salad dressing sedangkan yang virgin untuk tumis dan panggang.

Bahan-bahannya udah ada, sekarang gimana cara masaknya?

Pertama-tama rebus air di dalam panci sedang. Ketika air sudah mendidih masukkan tomat yang sudah dicuci. Diamkan selama 30 detik, kemudian angkat tomat dan tiriskan. Saat ini kulit tomat sudah pecah dan gampang dikupas. Bersihkan tomat dari kulitnya, kemudian pisahkan daging tomat dari bijinya. Kalau sulit, potong bagian dalam tomat yang ada bijinya, lalu saring. Simpan air dan saringan dan daging tomat, buang bijinya (atau kalau mau ditanam aja bijinya. bebas). Daging tomat dipotong dadu kecil-kecil. Simpan.

Sementara itu, naikkan lagi panci dan isi dengan air secukupnya untuk merebus ayam dan bakso. Gak usah banyak-banyak, asal semua daging terendam sudah cukuplah. Setelah kira-kira 5 menit daging ayam sudah bisa ditiriskan. Simpan air rebusannya sebagai kaldu. Cincang ayam dan bakso kecil-kecil tapi jangan terlalu halus biar masih ada teksturnya untuk digigit.

Nah sekarang siapkan bumbunya. Kupas bawang merah dan bawang putih, cincang halus. Bersihkan wortel dari kulitnya, kemudian cincang halus juga.

Bersihkan panci yang tadi sampai bagian dalamnya kering, lalu tambahkan 2 sendok makan olive oil ke dalamnya. Masukkan bawang merah, bawang putih dan wortel, kemudian naikkan ke atas kompor dan panaskan dengan api kecil. Kenapa bumbunya dimasukkan ke dalam minyak dan bukan nunggu minyaknya panas dulu? Karena kalau bawang merah dan bawang putih dimasukkan ke dalam minyak panas takutnya cepat sekali gosong. Ini tips dari saya sebagai pemula sih, kalau yang udah biasa masak sih ya pasti udah bisa nebak kapan minyak itu udah cukup panas atau terlalu panas.

Tumis bumbu sampai warnanya berubah keemasan, lalu masukkan ayam dan bakso. Hati-hati karena kalau kamu pakai panci yang bukan teflon bisa saja ayamnya menempel di dasar panci. Menumis bumbu di panci pakai spatula kayu ya, jangan yang logam karena kalau logam bumbu dan ayammu akan lebih mudah gosong. Setelah ayam dan bakso cincang sudah mulai matang masukkan tomat yang tadi sudah dipotong kecil-kecil (sekalian masukkan air perasannya) sambil terus aduk biar gak gosong. Gak lama kemudian tomat akan hancur sedikit-sedikit. Tetap pakai api kecil ya.

isi panci: pasta setengah jadi

isi panci: saus setengah jadi

Saat tomat sudah mulai hancur dan kehilangan bentuk kotak-kotaknya, masukkan sambel tomat (kalau mau) serta garam + merica. Aduk-aduk terus saus tomat sampai mengental. Tambahkan air kaldu yang tadi dan aduk-aduk lagi. Proses dari memasukkan tomat ke panci sampai menunggunya hancur dan mengental memang memakan waktu lama, kira-kira satu jam dan memang sebaiknya jangan ditinggal. Memasak saus tomat juga gak boleh dilakukan dengan panci tertutup karena akan memakan waktu lebih lama, juga tetesan uap air yang jatuh dari tutup panci akan merusak konsistensi (halah!) saus.

saus chickenball sudah jadi!!

saus chickenball sudah jadi!!

Sambil menunggu tomat mengental, mari menyiapkan pastanya. Tips: Fettuccine itu kan panjang ya, jadi kalau gak punya panci besar untuk merebus lebih baik kamu pakai pasta yang berjenis macaroni atau penne saja. Kalau pancimu besar, mungkin pastanya akan kebagian panas yang merata, tapi kalau pancimu kecil sangat bisa beberapa bagian jadi sebagian kurang matang atau terlalu matang. Pengalaman pribadi aja sih ini. Ehm.

Panaskan air di dalam panci sampai mendidih, taburkan garam ke dalam panci. Setelah air mendidih baru masukkan fettuccine. Berapa lama ngerebusnya? Ikuti saja petunjuk yang ada di dalam kemasan, biasanya 10 – 15 menit sudah cukup. Kalau mau mengetes kematangan pasta, ambil sampel dari panci dan iris. Kalau di bagian tengah pasta masih terlihat putih berarti belum cukup matang. Tapi jangan juga merebus pasta kelamaan karena nanti bakal terlalu empuk dan mudah hancur. Kematangan yang paling oke adalah al dente, sudah matang tapi masih kenyal sehingga bisa digigit.

Saring pasta, dan masukkan pasta ke mangkok atau piring. Sementara itu sausnya kan sudah matang tuh. Siramkan ke atas pasta, taburi dengan keju parmesan parut (atau cheddar boleh deh kalo gak ada parmesan) dan oregano. Selamat menikmati!

sisa sisa di piring

sisa sisa di piring

PS: Saya bisa dihajar sama orang Italia karena berani-beraninya pake judul bolognese padahal isinya bukan daging cincang. Karena saya pake ayam dan bakso jadi mending resep ini saya namai mmm.. Fettuccine Chickenball?

PPS: Tunggu project 2 saya yah!

Tagged ,