Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

One of Those Days

Kemarin mood saya rada berantakan karena satu dan lain hal. Jadinya ya di kantor cuma mengubur diri aja di lab, menghindari kontak dengan manusia lain. Balik ke ruangan pun langsung nyetel musik pake earphone dan kembali mengubur diri di belantara Mendeley. Sore harinya saya berniat pulang tenggo, mumpung belum hujan. Tapi saya lagi baca jurnal dan tanggung buat ditinggal. Beberapa paragraf kemudian… hujan turun seperti ditumpahkan dari langit. Ibu-ibu tetangga ruangan sudah pada pulang tenggo; mereka naik mobil sih. Saya nunggu sampe hujan sedikit reda karena malas pakai jas hujan.

Sampai jam 7 hujan belum juga ada tanda-tanda mau reda, jadi saya memutuskan untuk nekat pulang aja. Ya sudahlah terpaksa pakai jas hujan daripada basah kuyup.

Sampai depan rumah, lampu teras belum dinyalakan (nasib tinggal sendirian). Saya mematikan mesin motor dan mengunci stang. Kaki kanan saya sudah melangkah ke sisi kiri dan saya mau turun dari motor saat motornya jatuh ke sebelah kiri… nimpa saya yang ikutan jatuh. Ternyata standar motor lupa saya turunkan. Posisi masih pake ransel dan (untung) pake helm. Pertama saya langsung panik sama kaki kiri. Oh. Aman. Meskipun ketiban motor tapi dengan kedua tangan saya bisa narik kaki keluar. Untung masih bisa berdiri juga, ngangkat motor dan kali ini markirin motor dengan benar. Kaki kiri saya ndak kenapa-napa untungnya. Cuma sepertinya bengkak aja di bagian dalam, jadi seharian saya olesin minyak tawon. Semoga bukan sesuatu yang serius.

Mood masih belum beres… saya bergegas mandi lalu bikin indomie goreng pakai telur dadar. Makan sambil nonton PK, yang surprisingly menghibur. Things will be okay, pikir saya sambil pergi tidur…

Paginya saya bangun rada kesiangan. Masih sempet masak bekal sih, tumis kacang panjang jamur dan tahu goreng. Bel masuk kantor jam 07:30, dan jam 07:00 saya belum mandi. Bergegaslah saya mandi dan beberes, kemudian ingat kalau jas hujan masih dijemur. Jas hujan saya merk Consina, hadiah dari mas pacar waktu ulang tahun kemarin. Ulang taun kok dibeliinnya jas hujan? Karena dia tahu, kalo saya beli jas hujan mesti yang murahan dan gampang rusak.

Kembali ke lipat-melipat. Jadi, jas hujan Consina ini beneran bagus kualitasnya, dan praktis bingit karena bisa dilipat jadi bentuk kantongan. Ada built-in pocketnya! *ndeso* ya begitulah pokoknya. Rada ribet sih ngelipet jas hujan ini apalagi kalau belum biasa dan malas kaya saya tapi suwer jadinya kece.

Tas, laptop, sepatu, kotak bekal ok. Jas hujan sudah dilipat. Mari kita berangkat karena jam sudah menunjukkan pukul 07:20. Tepat waktu saya membuka pintu… hujan turun deras sekali. God… you must be joking. Tapi tiba-tiba beban dan mood jelek dari semalam hilang. Tuhan sepertinya ngajak saya becanda pagi ini, and He succeeded. Not only did I smile, I actually laughed quite loudly.

And I’m pretty sure, everything is gonna be okay.

NB: bukan posting berbayar dari Consina :p

Setahun Kemarin

“Bekerjalah dengan gembira seperti gembiranya Tuhan saat mengabulkan doamu agar diterima kerja.”

Quote barusan lebih menampar saya daripada quote yang sering saya daraskan saat lagi males kerja: “lebih baik sibuk kerja daripada sibuk nyari kerjaan”. Tapi ini bukannya lagi pengen bahas tampar-tamparan sih, tenang aja :lol: Saya cuma merasa aneh saat suatu pagi beberapa hari lalu denger celetukan temen kantor, “anak-anak CPNS baru kapan sih masuknya?”

Anak-anak CPNS baru? Lho aku udah setahun di sini?

Itu kartu ujian saya tahun 2013 lalu. Masih tersimpan rapi di dusgrip. Berawal dari ngikutin apa kata bapak yang tiap tahun pasti nyuruh daftar CPNS, saya kemudian nyari-nyari info kementerian atau lembaga mana yang buka lowongan CPNS. Karena masih sibuk mainan onet sama kerjaan di kantor, saya nyari lowongan yang syaratnya gak berat. Beberapa instansi meminta syarat surat keterangan sehat jasmani-rohani, surat bebas narkoba, kartu kuning, SKCK dan macem-macem, dan saya males ngurusnya. Jadilah LIPI salah satu instansi yang saya pilih karena syaratnya simple dan semuanya dilakukan secara online. Cukup isi-isi data di website, upload dokumen, verifikasi, dan saya tinggal nunggu pengumuman lolos ke ujian tulis apa enggak.

Bulan September dan Oktober adalah bulan-bulan saya bolak-balik Jogja-Jakarta untuk test. Gak peduli cuti tinggal berapa, gak peduli cuti disetujui atau enggak (maaf ya pakbos!). Yang penting kerjaan beres. Waktu itu kerjaan juga lumayan hectic, sampai sempat rada drama waktu mau ujian wawancara… kereta jam 7, kerjaan saya jam 6 belom juga beres karena printer dan scannernya ngadat. Terpaksa saya kerjain seadanya sampe jam setengah tujuh kemudian saya ngibrit ke stasiun sambil nitipin kerjaan ke temen kantor (tengkyu, mas coworker-turned-boyfriend!). Untung gak telat.

Ini percobaan ketiga saya daftar CPNS di LIPI. Kenapa sampe segitunya? Karena saya memang pengen jadi peneliti ^^

Dan tahun lalu Tuhan menjawab doa saya setelah kami tawar-menawar. Saat malam-malam baca pengumuman dan SK kelulusan, saya sujud syukur kemudian nelpon bapak. Si bapak speechless rada lama, kemudian bilang “baguslah… sekarang bapak gak lagi kepikiran tahun ini kamu pindah kerja ke mana”. Gantian saya yang speechless.

Anyway, selama setahun kemarin di Serpong saya banyak belajar; gak cuma tentang bidang material yang harus saya tekuni dari nol koma lima (karena waktu kuliah cuma dapat basiiiccc banget), juga tentang bagaimana sistem kerja di kantor pemerintah dan bagaimana belajar hidup sendiri di kontrakan.

Entah karena faktor apa, tapi setelah 4 kali pindah kerja, baru kali ini saya melewatkan setahun penuh di satu tempat tanpa ada keinginan pengen pindah kerja. I guess I love this place. Happy 1st anniversary, my dream job \o/

Hae. Ini Siapa Ya?

“Halo.. apa kabar?”

“Hai. Ini siapa ya?”

“Masa udah lupa sama aku sih”

“Sorry nomernya gak ada di phonebook nih…”

“Ah kamu mah gitu sama temen sendiri lupa. Sekarang kamu tinggal di mana?”

“…”

Gimana kalo kamu ada di situasi kayak gitu? Di-sms, whatsapp atau bahkan ditelpon oleh seseorang yang namanya gak tertera di phonebook tapi waktu ditanya siapa gak mau ngaku. Memang sih, mengetahui kalau nomer kita gak di-save sama orang yang kita anggap teman itu ya bikin rada gak enak… Tapi ya gimana lagi, siapa tahu si teman ini ganti hape lalu gak semua nomor masih tersimpan, atau hapenya habis ke-wipe dan semua data hilang, atau lebih parah lagi habis kehilangan hape?

Atau ya sudahlah terima saja kenyataan. Dia gak pernah simpan nomor hape kamu.

Opsi pertama adalah go along with it. Kamu bisa casually bilang “oh kamu… iya aku sekarang tinggal di <sebutkan nama tempat> nih. Kamu apa kabar?” atau apa sajalah yang membuat lawan bicaramu berpikir dia sudah dikenali. Bisa jadi dia merasa kamu benar-benar mengenalinya, bisa juga dia tahu kamu sedang berpura-pura. Mungkin kalau dia cuma berniat iseng, in the end kamu bakalan diketawain doang setelah dia tanya “emangnya ini siapa hayo?” dan kamu memberikan jawaban yang salah.

Tapi ditanyain “emangnya ini siapa hayo?” saat kita benar-benar gak tahu siapa yang ada di ujung telepon itu benar-benar menyebalkan.

Opsi kedua, kamu bisa pura-pura jadi orang lain juga. Hal ini harus dilakukan sejak dari awal percakapan – kamu harus sudah bikin cerita kamu siapa, pernah tinggal/sekolah/kuliah di mana, dan apa yang kamu lakukan sekarang. Opsi ini gak bisa dilakukan di telpon, karena ada kemungkinan lawan bicara sudah hafal sama suaramu.

Opsi ketiga, kalau percakapan tersebut dilakukan via SMS, bisa dijawab dengan “lha di SMS gak ada mukamu, je”. Bisa digunakan juga kalau si pelaku pake whatsapp dan profile picture-nya tetep gak menjelaskan siapa dia.

Opsi terakhir… cuekin aja. Gak usah peduli gimana dia ngasih tebakan “aku yang dulu pake sepatu hitam ke sekolah itu lho” (which was every single one at school), atau “yang dulu jadi pemimpin upacara tanggal 23 Januari 20XX”. Hidup udah ruwet, daripada nanggepin beginian mending mikir besok pagi mau masak apa.

Tapi kalau percakapan berujung dengan “katanya dulu kamu suka sama aku. Aku juga sih, sampe sekarang. Bisa kita ketemu?” ya silakan penasaran. Gak usah dipikirin dan gak wajib ditanggepin, tapi silakan penasaran.

yang terakhir bukan pengalaman pribadi

Sebentar Lagi

Gak sampai 2 jam lagi sudah tahun 2015. Entahlah kenapa aku merasa waktuku semakin sedikit. Ya memang demikian sih, karena tahun bertambah kan artinya umur berkurang. Tapi… Menurutku perasaan ini aneh. Sepertinya ada suatu deadline da aku mulai harus pandai-pandai membagi dan memanfaatkan waktu, menentukan prioritas, dan dan mencari tahu apa yang harus kutemukan.

Tentang pekerjaan. I have my dream job already. Selama 4 kali pindah kerja, baru kali ini tahun pertama aku lewati tanpa sekalipun pengen nyari kerjaan baru. For real. Tapi ya itu, sekarang gimana caranya memanfaatkan kerjaan ini biar jadi berguna buat orang lain, dan diriku sendiri. Maksudnya, harus bisa mengembangkan diri sendiri (bukan menggemukkan badan) dan belajar, biar tiap hari punya pengetahuan baru. Mungkin bisa pake buku harian gitu ya, setiap hari harus ngisi apa aja yang dipelajari hari itu. Sanggup? :p

Tentang yang lain-lain. Banyak hal terjadi di sekitaran kehidupan pribadi dan keluarga, dan setiap detilnya membuatku belajar tentang banyak hal. Klisenya… jadi orang yang lebih baik. Ya iya kan, kalo mau judging atau berharap orang lain berubah kan kita harus ngaca dulu.

Resolusi tahun depan apa ya? Gak pernah bikin resolusi juga sih (as far as I remember). Tentang beberapa hal aku gak bisa kontrol, jadi aku cuma bisa pasang target tahun ini mau ikut lebih banyak konferensi dan punya scientific paper yang terbit di jurnal internasional. Belajar baca lagi, belajar nulis lagi.

Baiklah, itu aja untuk postingan penutup tahun 2014. It’s been a great year, and I wish the coming years will be better.

Ditulis sambil nonton persiapan perang di Helm’s Deep. Biasalah ritual akhir tahun, marathon Lord of the Ring.

Terjebak Masa Lalu

Bukan posting galauan kok… serius. Saya cuma pengen cerita tentang “kegiatan sampingan” di waktu senggang beberapa minggu ini yang mengingatkan saya pada kegilaan beberapa tahun yang lalu.

Namanya Instagram.

Iya ini basi. Akun sih sudah lama ada, tapi males install apps-nya. Tapi karena penasaran jadi saya install juga di Xperia M2. Karena saya gak gemar poto-poto dan aplod-aplod, jadi saya berdayakan instagram ini buat… belanja online. Pertama-tama sih cuma nyari beberapa item yang emang saya butuhin, kemudian nemu banyak olshop lucu dan murah, lalu malah jadi eksplor lebih dalam di kategori preloved. *halah*

Hanya dalam waktu tiga minggu, aktivitas saya di instagram meningkat drastis. Dari yang sebelumnya cuma browsing akhirnya install Line hanya karena barangnya sungguh lucuk dan sellernya cuma ngasih ID Line (saya prefer Whatsapp, BTW). Sampai kemudian satu persatu barang datang ke alamat kantor dan saya mulai diapalin sama resepsionis kantor yang rajin nelpon ke ruangan, ngabarin kalau ada paket buat saya.

Huh. Saya lalu jadi ingat beberapa tahun lalu waktu masih tinggal di Belanda.. saat itu saya ketagihan belanja di eBay, baik eBay Netherlands atau UK. Kadang beli barang yang memang must-have, tapi seringnya beli yang cuma masuk kategori nice-to-have. Ini nih yang bikin barang saya membengkak dari 1 koper besar jadi 1 koper besar plus 8 kardus besar saat pulang for good ke Indonesia. Saat itu entah kenapa membeli barang lucu-lucu itu rasanya senang. Lebih senang lagi saat unpacking barang. Kadang seneng sama barangnya, kadang kecewa karena satu dan lain hal. Tapi saya tidak suka jualan, jadi kalau saya gak suka barangnya ya tetep dibiarin di situ atau dikasih ke siapa yang mau.

Kembali ke Instagram… Saya tahu kapasitas saya seperti apa. Lemah ngeliat baju, sepatu dan gadget dapur lucu. Sebelum semuanya terlambat, saya berhenti browsing barang jualan sista-sista dan uninstall Instagram dari hape. Sesekali kalau lagi pengen liat barang lucu sih palingan buka versi web di iconosquare, tapi karena gak praktis ya jadinya sudah jarang browsing Instagram.

Retail therapy itu menyenangkan, tapi kalau gak hati-hati ya berpotensi bikin kecanduan. Emang dah.. Too much love will kill you.