Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

In Exactly 5 Weeks

… in exactly 5 weeks, I’d be arriving in a new place that I should befriend for a whole year.

Saya sangat membanggakan laptop Lenovo Ideapad G460 yang sudah hampir 6 tahun saya miliki. Dia punya julukan Laptop Kangkung. Kenapa dinamain begitu? Alasannya baca di sini aja; gak penting sih, tapi berkesan. Laptop ini nemenin saya saat harus lembur di pabrik dan ngelanjutin kerjaan di kafe setelahnya, saat saya nganggur dan cari kerjaan freelance, saat saya belajar buat test CPNS, saat saya bikin banyak personal statement dan ngirim-ngirim aplikasi ke banyak sekolah, dan masih banyak lagi. Dia juga yang saya abuse saat pada tahun 2011 hati saya patah — tidak cuma patah tapi hancur berkeping-keping.

Dia gak pernah rewel, kecuali tiga tahun lalu saat dia tiba-tiba mati tanpa pamit. Saya masih ingat saat itu sore hari di kantor saya sedang menyalakan laptop untuk ngecek kerjaan freelance. Tidak ada suara, tidak ada raungan khas dari kipasnya – yang biasanya terdengar saat laptop dinyalakan. Motherboard kayaknya nih. Saya mulai panik, kemudian googling untuk mencari info tempat reparasi laptop di Jogja. Setelah melalui banyak pertimbangan dan kontemplasi selama beberapa hari, saya akhirnya membawa laptop itu ke sebuah servisan di dekat Selokan Mataram.

Gak sampai seminggu kemudian saya dikabari kalau laptopnya berhasil diservis, biayanya 500 ribu. Menurut saya mahal, tapi gak ada yang bisa menggantikan ikatan emosional saya dengan laptop kenangan itu. Lagipula kalau harus ganti motherboard pasti jauh lebih mahal lagi (dan memangnya motherboard laptop keluaran 2010 masih gampang dicari?)

Ya begitulah. Segera saya upgrade RAM; nambah jadi total 4GB. Setelahnya, si Laptop Kangkung menjalankan tugasnya dengan mulus sekali sampai sekitar bulan September 2015 dia mulai sering overheated dan shutdown. Saya mengkhawatirkan harddisk (ya motherboard juga) yang kemungkinan besar rusak kalo terus-terusan seperti itu. Akhirnya saya “menitipkan” laptop kesayangan saya itu ke mz Mizan untuk dibersihkan fan-nya dan di-install ulang. Seminggu kemudian laptop saya kembali dalam keadaan bersih dan suci.

He was working smoother than ever. Gak ada lagi suara kipas yang menggerung kepanasan, bahkan batre yang biasanya cuma bertahan 3 menit setelah cleaning dan install ulang bisa nyala tanpa harus dicolok listrik selama hampir 30 menit sambil dipake nonton film. I was sooooo happy.

Kemudian saya berpikir realistis. Laptop ini gak mungkin saya bawa sekolah; bukan karena performanya sudah tidak bagus, tapi karena ia sudah mulai kehilangan sifat notebook yang harusnya mobile. Laptopnya berat, dan saya harus nemu colokan kalau mau pakai laptopnya. Sepertinya akan tidak praktis saat saya nanti mesti jalan kaki atau naik bus dari asrama ke sekolah, dan kalau di kelas mesti buka laptop untuk mencatat atau ngerjain tugas.

Perburuan laptop pun dimulai. Berbagai laman review sudah saya baca dan berbekal titah mz Mizan saya memulai pencarian di website enterkomputer.com. Lima buah merk dan tipe laptop saya peroleh sebagai shortlist setelah dua minggu penuh menghabiskan waktu untuk memilih. Saya kirim e-mail ke Enter untuk menanyakan stok dan… semuanya out of stock.

Sampai kemudian pada suatu siang yang tenang, Laptop Kangkung mau saya nyalakan untuk ngerjain kuitansi koperasi kantor. Ada suara, tapi layar tetap gelap. Seperti tiga tahun lalu, saya panik. Tapi kali ini saya tidak ingin melakukan apapun, jadi laptop saya force shutdown kemudia saya memilih untuk tidur siang saja. Bangun tidur saya iseng nyalain laptop…

He lightened up. He booted and worked fine like nothing happened.

Mungkin dia cuma ngambek. Tapi saya gak punya pilihan, sepanjang sore sampai malam hari saya memantapkan hari untuk memilih satu laptop yang – seperti Laptop Kangkung yang menjadi saksi drama selama karir kerja saya – akan menjadi saksi drama selama sekolah saya besok dan nanti.

Pilihan saya jatuhkan pada Dell Inspiron 11 3162 dengan prosesor N3700, RAM 4GB, dan OS Ubuntu. Tipe yang sama ditawarkan dengan harga murah, namun prosesornya N3050 dan RAM-nya hanya 2GB. Saya beli di Jakarta Notebook meskipun harganya 70 ribu lebih mahal daripada di Enter, karena di Enter tidak ada opsi pilih warna sedangkan saya mengincar warna merahnya. Pesanan sampai di kantor sore ini setelah 3 hari di jalan, dan saya langsung melakukan proses unboxing.

Pada suatu senja di sebuah kost putri di pinggiran jalan Margonda, Depok, saya jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Laptop Kangkung yang kemudian jadi soulmate saya sampai detik ini. Kali ini tidak ada perasaan sekuat itu kepada laptop berwarna merah yang sedang saya pakai mengetik entri blog ini, tapi bukan berarti saya tidak akan jatuh hati padanya anytime soon.

Saat tadi menyalakan laptop Dell bertipe Inspiron ini untuk pertama kalinya dan masuk ke mode instalasi Ubuntu 14.04 LTS, benak saya langsung terbang ke masa 9 tahun yang lalu – kurang lebih di bulan yang sama. Saya sedang persiapan untuk pergi sekolah ke Eropa dengan membawa laptop Dell juga dan OS yang juga Ubuntu. Bedanya, saat itu saya bawa Dell tipe Latitude C-series yang OS Ubuntunya masih jadul banget (lebih jadul daripada Feisty Fawn, tampilannya pun gak se-sleek sekarang). Laptopnya tebal sekali, dengan slot CD-ROM dan removable battery berada di depan laptop. DEPAN. Jadi kalo mau ngeluar-masukin CD dia ngebuka ke arah kita gitu kayak meja kasir. Di samping kiri dan kanan laptop ada port USB, RJ45, VGA, dan slot PCMCIA. Yes you heard me. PCMCIA. Kapasitas harddisknya cuma 20GB — bukan, bukan SSD.

In exactly 5 weeks I am going to leave my beloved Laptop Kangkung and I’m not sure if I can stop my mind from wondering if he’d still be able to function next year when I’m home. Please, please, please wish us luck and alive throughout the year. If my Dell could survive then so would us.

Maaf sudah membuang waktu kalian dengan entri sentimentil dan gak penting ini ya~

Decluttering and Moving on

Beberapa episode baru dalam hidup saya melibatkan proses migrasi dari satu tempat ke tempat lain, yang artinya saya harus packing, dan berarti juga saya harus memilah, memilih, menyimpan, dan membuang. Bagi saya ini adalah proses yang paling berat dan memakan waktu karena meskipun terdengar mudah namun pada kenyataannya banyak waktu, tenaga, dan pikiran yang harus dikerahkan untuk menyelesaikannya.

Padahal barang saya cuma dikit lho. *dusta*

Menurut kamus Merriam-Webster, decluttering artinya “to remove clutter from a room, an area” sedangkan menurut kamus Oxford “to remove unnecessary items”. Kamus Cambridge memberikan definisi yang lebih jelas: “to remove things you do not need from place, in order to make it more pleasant and more useful”.

Kata kunci: remove, need, pleasant, useful.

Terakhir kali saya decluttering adalah saat sedang packing untuk hijrah dari Jogja ke Serpong. Karena mendadak sakit, saat itu yang bantu-bantu packing adalah pacar saya – yang sekarang sudah jadi suami. Saya masih ingat betapa beliau takjub atas banyaknya barang-barang yang saya miliki, yang sebenarnya gak perlu disimpan dan gak diperlukan. Saya memang suka sekali hoarding, menyimpan barang-barang yang menurut saya punya nilai bersejarah (seperti tiket bioskop, tiket konser, dll), yang sekarang jarang/gak pernah dipake tapi meyakini bahwa suatu saat mereka akan kepake (seringkali terselip penyangkalan “ntar juga kurus lagi kok, pasti muat”), dll dsb.

Pedoman yang saya pakai untuk decluttering adalah blog post dari Desti, yang menyediakan pertanyaan sebagai panduan memilah dan memilih:

  1. Have you used it in the last year? No? Throw it away.
  2. What’s its story? Quick! Tell me in 5 seconds! Can’t? Throw it away.
  3. Is it worth saving? No? Throw it away.

Udah, itu aja. Gak susah kan? GAK SUSAH MBAHNYA

Saya menemukan banyak hal yang menimbulkan pertentangan batin, apakah barang ini akan disimpan atau dibuang. Salah satunya adalah segepok nota pembelian semasa tahun 2007 – 2008. Nota macem-macem, mulai dari nota beli pulsa, supermarket, makan di resto, tiket masuk obyek wisata, dll. Saya mengingat masa itu sebagai salah satu periode terberat saya bertahan hidup saat sedang berada di negeri yang jauh dari rumah dengan kemampuan finansial yang terbatas, dan tekanan mental yang cukup berat akibat early-stage depression dan masalah keluarga. Setiap nota saya simpan karena sejak SMA saya terbiasa untuk mencatat pengeluaran harian, dan nota-nota tersebut saya kumpulkan untuk memastikan tidak ada detail yang tercecer dalam buku kas saya. Halah buku kas.

Selain membuang hal-hal yang memang sudah tidak diperlukan seperti nota tadi, saya juga belajar untuk mengikhlaskan barang-barang yang sebenarnya akan lebih berguna kalau dipakai orang lain. Lipstik, pelembab, dan beberapa kosmetik lainnya saya hibahkan ke teman-teman plurk. Hampir selusin pasang sepatu saya hibahkan ke teman SMP yang ukuran dan selera model sepatunya sama dengan saya. Mau secinta apapun saya sama stilleto-stilleto itu, saya gak akan pernah bisa pakai lagi karena dengkul yang KW ini, jadi ya ikhlaskan sajalah. Dua ransel besar penuh pakaian juga dihibahkan ke ponakan perempuan saya.

*menarik napas panjang*

Decluttering dan packing episode kali ini memakan waktu lima malam berturut-turut, dengan saya yang baru tidur jam 5 pagi dan bangun jam setengah tujuh pagi karena harus ngantor. It was worth it. Hasilnya adalah lima kardus kecil dan satu kardus besar, serta beberapa tas tenteng berisi printilan-printilan (karena malas beli kardus sih).

Enam minggu lagi saya harus kembali packing untuk migrasi ke belahan dunia lain. Mari kita lihat seberapa sentimentil saya nanti saat packing, karena ingin membawa SEMUA hal yang menurut saya penting dan perlu dibawa.

Balada Paspor Biru PNS

Akhir tahun lalu saya dapat undangan untuk mengikuti kegiatan workshop XAS dan XANES di Synchotron Light Research Institute (SLRI) Thailand, selain itu abstrak penelitian saya terpilih menjadi peserta yang dihadiahi sponsorship berupa biaya transportasi PP Jakarta – Nakhon Ratchasima dan akomodasi selama workshop 5 hari tersebut. Saat saya menghadap manajemen kantor untuk minta tandatangan surat ijin, jantung saya jatuh ke lantai saat diberitahu bahwa permohonan ijin saya ditolak karena saya tidak punya paspor biru.

“Pak, kan ini saya disponsori SLRI jadi tidak minta dana dari kantor?”, demikian argumen saya.

Pihak manajemen menjelaskan bahwa ijin keluar negeri dalam rangka dinas (terlepas dari siapa sponsornya) mewajibkan pegawai yang bersangkutan memiliki paspor dinas (paspor biru), surat penugasan resmi dari Sekretariat Negara serta exit permit (stiker yang ditempel di paspor, kayak visa gitu) dari Kementerian Luar Negeri, padahal untuk mendapatkannya itu jalurnya panjang sekali. Waktu itu saya cuma punya waktu tiga hari sebelum berangkat karena memang surat undangannya baru sampai kotak masuk surel. Hati saya nyaris patah, dan saya pun menumpahkan kekesalan ke mbak-mbak guardian kantor Sekretariat Negara. Dia tanya “lha kenapa marahnya sama Setneg e.”

Trivia: Apa itu paspor biru, SP Setneg, dan exit permit?

  • Paspor biru adalah paspor untuk pegawai pemerintah (official passport) yang pergi ke luar negeri dalam rangka dinas. Kenapa dinamai paspor biru? Karena sampulnya warna biru. Halah. (kegaringan level berapa ini). PNS yang keluar Indonesia untuk jalan-jalan tidak boleh pakai paspor biru. Kalau sudah di luar Indonesia baru boleh

  • SP Setneg adalah Surat Penugasan yang dikeluarkan oleh Kementerian Sekretariat Negara (mbok udahan mbak garingnya) yang berisi detail penugasan kita, misalnya keluar negeri untuk sekolah, training, fellowship, dll serta durasinya. Khusus untuk PNS tugas belajar, SP Setneg ini adalah syarat mutlak penyetaraan ijazah. Kalau gak ada SP Setneg, biarpun mau kuliah ke luar angkasa ya ijazahnya gak akan diakui karena dianggap tugas belajarnya ilegal

  • Exit Permit adalah stiker yang ditempel di paspor, dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri sebagai tanda bahwa kita sudah memenuhi syarat administratif tugas kedinasan untuk melangkah melewati gerbang imigrasi

Setelah saya pikir… ya itulah birokrasi. Kadang kita jadi generasi yang mewarisi hal-hal yang kita sendiri gak tahu bagaimana asal-usulnya. Mungkin orang Setneg bingung juga kenapa mereka harus ngurusin perjalanan dinas luar negeri PNS se-Indonesia. Iya, PNS dari seluruh penjuru negeri ini. Bayangin berapa berkas yang harus mereka validasi dan berapa surat yang harus mereka rilis per harinya.

Oke. Nganu. Saya tadi mau cerita apa ya.

Setelah yakin mau kuliah di luar negeri, saya langsung membuat daftar apa-apa saja yang perlu disiapkan. Bukan soal baju atau sepatu tentunya, tapi lebih kepada persyaratan administrasi. Jujur aja sebagai orang yang biasanya menentang birokrasi rempong saya tetep aja ngerasa gugup dan sedikit panik karena kali ini tidak dapat menghindar.

*menghela pedati panjang*

Langkah pertama yang saya lakukan adalah telpon ke kantor pusat instansi tentang syarat pembuatan paspor. Beliau pun minta alamat surel saya dan berjanji akan mengirimkan detailnya. Melalui surel, mas-mas Biro Umum yang ramah itu memberikan info yang cukup jelas disertai nomor telepon beliau kalau sewaktu-waktu perlu info tambahan. Di instansi saya, syarat-syaratnya seperti ini:

  1. Surat permohonan dari satuan kerja >> ditandatangani kepala kantor
  2. Undangan atau LoA. Lampirkan juga surat dari sponsor >> saya lampirkan LoA dari kampus dan LoG dari LPDP
  3. Daftar Riwayat Hidup perjalanan dinas LN >> ditandatangani kepala kantor dan kepala biro kerjasama
  4. Passport (bila sudah mempunyai paspor dinas sebelumnya) >> not applicable
  5. Formulir Passport / Exit Permit yang sudah diisi >> template Kemenlu
  6. Foto Ukuran 4×6, 4 Lembar, blazer hitam, background putih, tanpa kacamata, wajah tidak tertutup poni, telinga kelihatan, tidak tersenyum lebar, tidak kelihatan gigi, photo natural tidak diedit warna kulit.
  7. Fotokopi kartu pegawai yang sudah dilegalisir >> legalisir dan ttd kepala kantor
  8. Fotokopi KTP >> gak perlu legalisir
  9. SK CPNS/PNS >> fotokopi aja, gak perlu legalisir
  10. Surat Perjanjian (untuk dinas lebih dari 3 bulan) >> bermeterai, ditandatangani kepala biro kerjasama

Setelah mendapatkan daftar tersebut, saya menemui kepala kantor (pejabat eselon II) untuk minta ijin memulai proses administrasi tugas belajar sekaligus meminta surat pengantar. Bersama dengan berkas-berkas lainnya surat pengantar tersebut saya bawa ke kantor pusat di Gatsu. Berkas asli diberikan kepada Biro Kerjasama untuk dibuatkan surat pengantar ke Setneg, sedangkan fotokopian dan formulir permohonan paspor diberikan kepada Biro Umum untuk dibuatkan surat pengantar ke Kemenlu. Menurut mas-mas Biro Umum, proses pembuatan paspor dinas ini membutuhkan waktu sekitar 20 hari.

Jadi, secara singkat proses perjalanan dinas luar negeri PNS itu seperti ini, di instansi saya lho ya tapi. Mileage may vary.

Undangan –> surat pengantar satker (tanda tangan kepala kantor) –> surat pengantar instansi (tanda tangan kepala biro kerjasama) –> surat penugasan (Setneg) –> Paspor dinas dan exit permit (Kemenlu) –> Visa (Kedutaan) –> perjalanan dinas

SP Setneg untuk saya sudah jadi sekitar 3 minggu dari submit berkas, sedangkan paspor dinas selesai seminggu setelahnya. Di paspor saya belum ditempel stiker exit permit karena masa berlaku exit permit hanya 2 bulan, sedangkan keberangkatan saya masih lebih dari itu. “Nanti saja apply exit permit-nya bulan Juli”, demikian kata mas-mas CS. Hore udah punya paspor biru dan SP Setneg!

Udah cuman mau cerita gitu doang? ENGGAAAAAAAAAKKKKK…

Saya akui reformasi birokrasi yang digaungkan Menpan RB memang sedikit banyak mengubah persepsi saya terhadap kerakusan oknum yang seringkali menyalahgunakan jabatannya untuk memperkaya diri sendiri.

Halah bahasamu mbak, koyok nulis nang koran ae. Baleni!

Saya akui reformasi birokrasi yang digaungkan Menpan RB memang sedikit banyak mengubah persepsi saya yang masih menganggap banyak oknum PNS melakukan pungli, namun proses panjang dan rempong (menurut saya sih panjang dan rempong) ini bukannya tanpa cela, karena ternyata masih ada juga oknum yang membuat saya rada kecewa. Meskipun demikian saya sudah antisipasi dengan melakukan beberapa langkah berikut:

  1. Bikin paspor jangan mepet. Perkirakan hari libur, hari besar, apalagi kalo ngelewatin lebaran.
  2. Cari info sebanyak-banyaknya tentang prosedur pembuatan paspor biru/SP Setneg/Exit permit dari instansi terkait. Terserah, dari website atau dari orang dalam. Cari info lho ya, bukan minta dicaloin.
  3. Cari surat edaran atau info resmi yang memberitahukan bahwa pembuatan berkas-berkas tersebut TIDAK DIPUNGUT BIAYA. Ini penting banget. Oknum manapun kalau dikasih dokumen macam gini gak mungkin bisa berkutik.
  4. Bersikaplah sopan pada para petugas, entah itu petugas perjalanan dinas di level instansi, petugas di Biro KTLN Setneg, atau di Kemenlu. Kadang ada hal yang bikin emosi, tapi usahakan untuk tetep adem biar tidak maramara
  5. Setiap kali menaruh berkas, mintalah tanda terima dan tanyakan kapan kira-kira bisa diambil serta siapa yang dapat dihubungi.
  6. Jangan dibiasakan untuk bertanya “bayar berapa pak/bu?” setelah menyerahkan berkas dan mengambil tanda terima. Lempar senyum termanismu dan ucapkan terimakasih.
  7. Jangan sekali-sekali ngasih duit, meskipun diminta. Prosedur bilang gratis ya gratis. Kalau dipaksa suruh bayar, tanya aturannya di mana dan minta kuitansinya. Kalau dipersulit, lapor ke atasannya atau lakukan prosedur whistleblowing system. Udah diajarin kan? Kalau belum, tanya pak Yuddy. Tuliskan juga di website lapor.go.id
  8. Berdoalah semoga urusanmu dilancarkan 😆

Sudah gitu dulu aja pengalaman saya ngurus paspor biru, semoga berguna terutama buat teman-teman PNS. Huahahaha. Selanjutnya adalah apply exit permit ke Kementerian Luar Negeri dan apply visa UK ke VFS Global. Masih bulan Juli nanti kok, para penggemar harap sabar ya.

Cupz.

P.S: soal undangan workshop ke SLRI Thailand tadi, akhirnya saya berangkat juga pakai surat ijin biasa, bukan dinas. Gak tahu motong cuti apa enggak pokoknya asal gak dihitung bolos. Dihitung bolos juga biarin hihihi

Nulis Kok Pake Mikir

Ini tulisan untuk saya sendiri, sebenarnya. Coba lihat, blog ini terakhir update bulan lalu yang artinya sudah sebulan penuh saya gak ngeblog. Padahal ini domain dan hosting bayar lho. Halah. Kenapa sih malas ngeblog? Kalau untuk saya, kadang ide tulisan berhenti di kepala karena otak terlalu sibuk berpikir bagaimana cara mengemas tulisan dengan baik. Bukannya salah juga, tapi ya kalau gak ditulis buat apa bikin konsep dan ide tulisan yang bagus?

Salah satu contoh adalah ketika saya kemarin long weekend mudik ke jogja dan roadtrip bareng suami. Di sepanjang perjalanan banyak hal menarik yang sebenarnya membuat saya tertarik untuk nulis tapi kok rasanya beraaaaat karena bukannya langsung menulis malah mikir “ini gimana ya biar tulisannya menarik buat dibaca orang lain”.

Yah meskipun buat penggemar saya gak akan masalah juga sih, mau saya bikin tulisan kayak apa juga. *uhuk*

Trus satu lagi, tentang fabel dan dongeng wayang yang duluuuuuuu pernah rutin saya tuliskan setiap hari selasa. Kenapa sekarang sudah tidak pernah lagi? Karena saya terlalu lemah dijajah pikiran sendiri. Maafkan saya ya, penggemar.

Ada satu hal lagi yang jadi pertanyaan saya: blog saya ini kan gak punya topik spesifik seperti blogger lifestyle, travel, kuliner, dll. Kalau ada temen blogger yang sudah kenal saya sejak 2007 lalu mesti tahu blog saya itu isinya cuma curhatan.

Lalu kenapaaaaa nulis di blog itu susah bangeeeetttt???

nanya aja terus, siapa tahu dijawab sama rumput yang bergoyang…

Kisah Perpanjangan SIM Yang Gak Bisa Online

Masa berlaku Surat Ijin Mengemudi (SIM) saya ceritanya sudah mau habis (ciee.. kode kalo mau ulangtaun) jadi saya cari-cari info di twitter gimana cara perpanjang SIM. Beberapa balasan menginformasikan bahwa menurut peraturan terbaru, SIM bisa diperpanjang mulai 14 hari sebelum masa berlakunya habis hingga 3 bulan setelah masa berlakunya habis. Perpanjang SIM sebulan sebulan sebelum expired akan berakibat ditolaknya berkas (nanti aja balik lagi kalo udah deket-deket tanggal expired), sedangkan perpanjang SIM lebih dari 3 bulan setelah expired akan berakibat disuruh bikin SIM baru — lengkap dengan ujian tertulis dan ujian praktik.

Informasi lain yang saya dapat, perpanjang SIM bisa dilakukan secara online jadi tidak harus mudik ke daerah penerbitan SIM. Sayang sekali, untuk saat ini perpanjangan SIM secara online baru berlaku untuk 45 wilayah Satpas (Satuan Penyelenggara Administrasi) SIM. Kabupaten saya tidak ada di daftar 45 daerah itu, jadi mau gak mau saya harus mudik. Hiks.

Yasudahlah, demi ketertiban berlalu lintas saya ambil libur 2 hari: Jumat dan Senin. Rencana awal cuma akan ngurus di hari Sabtu aja (Satpas SIM buka sampai jam 10 pagi), tapi kemudian saya kepikiran iya kalo hari Sabtu itu kelar. Kalo ngantri gimana? Kalo gak slese gimana? Kalo ada kurangnya ini itu gimana? Akhirnya saya ngambil libur hari Jumat untuk antisipasi hal-hal tak terduga. Trus… kok hari Senin libur juga? Hehe ini sih karena gak dapat tiket kereta balik hari Minggu malam. Selain itu, pesawat JOG-CGK hari Senin siang harganya lebih murah daripada tiket kereta eksekutif.

~Satlantas Polresta Surakarta~

KTP mu kan Karanganyar, jeung. Kenapa ke Solo?

Nganu, sebelumnya KTP saya Solo jadi SIM-nya pun masih pakai alamat Kota Solo. Berhubung alamat di KTP sekarang Kabupaten Karanganyar, maka alamat di SIM harus ganti dan untuk melakukannya perlu dokumen yang disebut “BERKAS MUTASI” yang menyatakan bahwa alamat saya pindah.

Kereta saya tiba di Jogja jam 6 pagi. Dari stasiun Tugu saya dijemput adik, kemudian si bocah saya kembaliin (macem pulpen aja dikembaliin) ke kostnya. Setelah numpang cuci muka sikat gigi dan ganti kemeja (iya iya males mandi), jam 7 lewat dikit saya ngebut motoran ke Solo sambil otak rada spaneng karena takut kesiangan. Hari Jumat, cuy. Udah gak sempet ngelirik spedometer, yang jelas jam 8 lewat dikit saya sudah sampai di Satlantas Solo di prapatan Gendengan. Motor saya parkir, lalu saya jalan ke ruangan dengan papan bertuliskan “Informasi Mutasi SIM” di depannya.

“Pak, mau minta berkas pengantar untuk mutasi SIM.”

“Oke mbak, ditinggal dulu. Ini petugas yang tanda tangan belum ada. Paling nanti baru selesai jam setengah 10 ya.”

Haduh. Baru inget, kayaknya petugasnya masih aerobik deh, kan ini hari Jumat…

Nunggu di luar ruangan bikin saya tambah spaneng. Untunglah hiburan datang dalam bentuk orang-orang yang lagi ujian praktik SIM C di halaman Satlantas. Seneng juga liatnya, berarti masih banyak orang yang bikin SIM gak pake calo. Hiburan lain datang dalam bentuk oknum polisi yang lewat depan saya naik mobil polisi, nyetir mobil tanpa pakai seatbelt sambil cekikikan di telpon. Entah lagi telponan sama apa atau siapa. Ini gimana sih polisinya? Gak malu sama yang lagi ujian praktik?

Arloji Baby-G hitam saya menunjukkan waktu pukul 09:20 saat nama saya dipanggil. Berkas mutasi sudah jadi, bayar 25 ribu rupiah dikali dua (untuk sim A dan C). Tanpa kuitansi.

~ Satlantas Polres Karanganyar ~

Saya langsung bergegas ngeslah motor dan menyusuri jalan Slamet Riyadi ke arah Pucang Sawit, kemudian ngebut di flyover Palur sampai Jaten dan tibalah saya di Satlantas Karanganyar. Motor saya parkir di sebelah Satlantas, kemudian saya langsung ke tempat pemeriksaan kesehatan di samping Satlantas. Di situ berkas-berkas dirapikan di dalam map (fotokopi KTP 2 lembar, fotokopi SIM 2 lembar) dan distaples. Pemeriksaan kesehatan di situ cuma test buta warna dan baca huruf di dinding. Kacamata gak disuruh lepas kok, jadi masih bisa baca juga. Hahaha. Biaya pemeriksaan kesehatan: 40 ribu rupiah dikali dua. Tanpa kuitansi juga.

Berkas dari pemeriksaan kesehatan dibawa ke bank BRI yang berada tepat di sebelah ruang dokter dan ditaruh di rak khusus “Pembayaran SIM”. Karena lagi gak ngantri maka dua menit kemudian nama saya sudah dipanggil. Perpanjangan SIM A sebesar 80 ribu rupiah dan SIM C sebesar 75 ribu rupiah. Ada kuitansi resmi.

~ Satpas SIM ~

Dari situ saya langsung ke Satpas SIM yang pindah sementara ke timur Taman Pancasila. Berkas saya taruh di Loket 1 : Pendaftaran. Petugas dengan sigap memeriksa berkas saya dan berkata dengan tersenyum manis.

“Mbak, ini KTP nya masih KTP sementara kan. Coba ke Dinas Kependudukan dulu, minta cetak e-KTP.”

Darah saya langsung berdesir. Haduh. Cukup ndak ini waktunya. Ngelirik arloji di pergelangan tangan. 10:40.

“Masih sempet gak Pak?”, kata saya dengan suara khawatir. Bapak petugas kayaknya ngerti kekhawatiran saya, kemudian beliau menjawab masih sambil tersenyum manis.

“Masih kok Mbak. Ditunggu.”

~ Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil ~

Dengan rada tergesa saya ke Dinas Kependudukan deket alun-alun kota. Di situ saya ambil nomer antrian tiket di mesin, kemudian masuk ke ruangan. Ternyata di situ antrinya chaos sekali. Gak ada urutan whatsoever. Akhirnya saya samperin mas-mas petugas yang baru kelar sama customer. Saya kasih lembar KTP sementara yang segede A4 beserta fotokopiannya, kemudian mas petugas yang Andre itu bilang “baru bisa diambil besok ya, mbak. Jaringan lagi error.”

TARAKDUNGCESS.

“Mas maaf ini lagi ditunggu di Satlantas. Saya mau perpanjang SIM tapi KTP sementara gak diterima.”

“Loh harusnya bisa. Kan ini dokumen resmi juga.”

“Mmm.. masnya boleh sama saya ke Satlantas buat jelasin.”

“….”

“….”

“Mbak ke ruangan TU sana ketemu sama bu XY dulu ya (sorry bu lupa namanya). Minta surat keterangan kalau jaringan lagi error.”

Saya ke ruangan yang ditunjuk, nyari bu XY yang ternyata (kata bu PQ — sorry bu saya lupa juga namanya) sedang keluar ruangan. Saya pun bilang ke bu PQ kalau e-KTP ini mendesak untuk ngurus perpanjangan SIM. Bu PQ kemudian nyuruh saya nunggu di situ sebentar lalu keluar ruangan. Gak lama kemudian beliau kembali menemui saya sambil membawa kopian KTP sementara saya yang sudah ditulisi sesuatu dan diparaf.

“Ini, kasih ini balik ke mas Andre ya. Bilang aja sudah di-approve bu PQ gitu.”

I did as she told me to. Mas Andre langsung masuk ke ruangan di belakangnya, dan lima menit kemudian beliau keluar sambil membawa e-KTP saya yang langsung dicetak. Saya cek data di e-KTP lalu setengah berlari keluar ruangan setelah berterimakasih ke mas Andre.

Hmm. Mendadak jaringannya sudah gak error. Riiiight. *winky face*

~ Kembali ke Satpas SIM ~

Saya kembali ke Satpas SIM setelah fotokopi e-KTP yang baru dicetak (ihiy). Map berisi berkas yang tadi saya serahkan lagi di loket 1 beserta fotokopian e-KTP. Bapak petugas menyambut saya dengan senyum, “masih ngejar kan, Mbak? Tenang aja”. Waktu menunjukkan pukul 11:15 saat beliau menyodorkan kembali map saya beserta dua set formulir untuk diisi. Formulir tersebut berisi data-data standar aja sih: identitas diri, nomor resi pembayaran, nomor SIM, nomor yang bisa dihubungi dalam keadaan darurat (saya kok masih refleks ngisi nomor henpon Bapak, bukan nomor suami. Maaf ya mas), kewarganegaraan, dll. Untung isiannya gak sepanjang formulir pengajuan SKCK. Huft.

Formulir saya masukkan ke Loket 2: Penerimaan Berkas. Arloji Baby-G menunjukkan waktu pukul 11:20. Saya kembali ke tempat duduk bersama orang-orang yang juga masih mengantri.

Nama saya dipanggil pukul 11:30 untuk masuk ke ruang foto. Baju dirapikan, kacamata dilepas, senyum. Cekrek. Cekrek.

“Ditunggu sebentar ya, Mbak.”

Sekitar dua menit kemudian SIM baru pun sudah jadi; serah terima dilakukan dengan menukarkan SIM yang lama. Cek data, OK. Cek foto, cute. Halah. Saya keluar ruangan. Arloji Baby-G menunjukkan waktu pukul 11:35.

Saya menghela pedati napas panjang sambil duduk di kursi tempat antrian di depan loket dan memandangi SIM yang ngurusnya pake drama ini. Saking kemrungsung dari pagi kok saya gak sadar kalau rasanya lapar dan haus banget. Sambil minum air dari botol minum saya hampir keselek saat denger pengumuman dari speaker:

“Bapak ibu yang masih mengantri, mohon maaf ujian dan foto akan kami lanjutkan setelah Jumatan dan istirahat siang. Terimakasih.”

Arloji Baby-G menunjukkan waktu pukul 11:40. Sooooooooooo close.

xxx

tl;dr

Perpanjangan SIM bisa dilakukan di luar daerah penerbit sepanjang Satpas SIM asal dan domisili sudah terintegrasi online (baru ada 45 wilayah). Biaya perpanjangan SIM A: 80 ribu dan SIM C: 75 ribu. Ada biaya pemeriksaan kesehatan sebesar 40 ribu dan biaya mutasi SIM 25 ribu, keduanya tanpa kuitansi. Mungkin biaya ini berbeda-beda untuk tiap daerah. Overall saya senang dengan proses perpanjangan SIM yang alurnya efisien serta petugas yang ramah dan informatif.

Sekian. Sampai jumpa dalam kisah lain tentang perpanjangan SIM, lima tahun lagi.