Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Farewell, Old Man

Mbah kung saya umurnya 79 tahun. Bapak dari ibuk.

Mbah kung saya itu, benci banget sama orde baru. Beliau pinter, dulunya ahli akuntansi dan tata buku. Gara-garanya beliau ikut SPSI dan karenanya harus kehilangan jabatan pegawai negeri.

Mbah kung saya itu, sukanya nonton national geographic, animal planet, dan berita luar negeri. Bahasa inggrisnya lumayan, baik pasif dan aktif; beliau ini yg dulu ngenalin saya sama bahasa inggris bahkan sebelum masuk esde.

Mbah kung saya itu, penggemar iptek dan seneng sekali waktu saya bilang pengen jadi insinyur. “Sekolah yang tinggi ke luar negeri, kayak pak Habibie”, begitu katanya dulu. So I did. And I will, again.

Mbah kung saya itu, pernah nampar saya waktu esde hanya karena gak sengaja saya numpahin es campur ke sofa barunya. Kami memang gak pernah terlalu dekat, mungkin karena sama-sama keras. Tapi banyak juga warisan semangat yang saya peroleh. Kalau bukan karena beliau, mungkin saya gak akan terinspirasi untuk jadi sarjana teknik dan belajar bahasa inggris biar bisa sekolah ke luar negeri.

Mbah kung saya itu, tadi sore dipanggil Tuhan. Farewell, old man. We might not get along very well, but you deserved my respect. Again, many thanks. May you rest in peace.

Belajar Gagal

Tersebutlah suatu siang, saat wawancara beasiswa.

“IPK cuma segini, kamu yakin masuk [salah satu kampus top 10 dunia]?”

Kampus itu adalah kampus impian saya sejak kuliah, dan jujur saja saya rada down dengernya. Seperti dipaksa berbalik menghadap kaca, gitu, biar tahu diri waktu apply ke kampus bagus itu. Waktu itu saya sanggup pasang fake-and-proud smile sambil jawab “IPK minimum kan 3.00, Bu. Memang lebih baik kalau First Class atau Second Upper Class Honours, tapi masih bisa dibantu dengan pengalaman riset dan publikasi, pengalaman kerja, juga dengan skor TOEFL yang di atas rata-rata”.

Sembari menunggu hasil akhir tidak urung saya kepikiran lagi. Iya juga ya.

“Gimana kalau saya ndak keterima kampusnya?”

Sesi overthinking dilanjut lagi dengan:

“Gimana kalau udahlah gak diterima kampusnya. sekalian beasiswanya gak dapet juga?”

Jawaban diplomatisnya ya tentu saja “ya gak papa. Nanti coba lagi”.

Applicable untuk semua hal, kecuali hal-hal edan seperti panjat tebing tanpa pengaman atau bungee jumping tanpa tali.

#1. Berhadapan dengan banyak kegagalan tidak serta-merta membuat kita kebal dengan perasaan dingin yang menjalar di sekujur tubuh dan degup jantung yang seperti jatuh ke dasar laut saat mendengar kabar yang tidak menyenangkan. Sepertinya saat itu cuma ingin bergelung di kasur sambil mendengarkan musik blues berteman rintik hujan. Iya ini lebay. Ya gak apa-apa. Do it if it makes you feel a little bit better. Jangan sok kuat dan sok bijak dengan mengatakan kegagalan adalah awal dari kesuksesan. Belum tentu juga habis gagal ini kamu sukses, lho. Udah, terima aja dulu.

#2. Blame something. Selalu ada kambing hitam dalam setiap kegagalan: keadaan, kurang persiapan, panitia yang kurang kooperatif, interviewer yang terlihat subyektif, bahkan diri sendiri. Blame something ini biasanya ndak terlalu efektif, kecuali kalau yang disalahkan diri sendiri dan kemudian membuat tindak lanjut dari apa-apa yang perlu diperbaiki selanjutnya. Tapi menyalahkan sesuatu itu rasanya enak sekali!

#3. Ini yang sering terlupa saat menghadapi kegagalan: beri apresiasi pada diri sendiri karena sudah berani mencoba. Gak usah takut dengan suara-suara di kepala yang bilang “coba kalo kamu gak gini, gak akan sedih kan? gak akan sakit kan?”. Gak usah didengerin. Yang lebih menyakitkan adalah suara yang bilang “coba kalo kamu berani nyoba daftar beasiswa/ngelamar kerja/nembak cewek… bisa jadi kamu punya kesempatan bagus lho. Yah paling enggak nambah pengalaman deh”.

#4. Seperti halnya patah hati, kegagalan gak harus dilupakan apalagi bikin hidup berantakan. Masa lalu itu ada untuk memandu, bukan menghakimi kita. Pernah gagal di masa lalu untuk satu hal bukan berarti seterusnya kita akan jadi orang yang gagal di hal yang sama. Mungkin waktunya aja kurang tepat. Mungkin juga hanya kurang tepat sasaran.

#5. Terakhir, saya percaya bahwa doa yang kita panjatkan itu selalu dijawab dengan iya: “Iya, boleh”, “Iya, tapi nanti ya”, dan “Iya, tapi ini ada yang lebih bagus”.

 

 

Perbatasan Tangerang Selatan – Bogor,

ditulis sambil berusaha untuk tidak putus asa

Weekend Escape

Jumat, 15 Mei 2015

Sebenarnya hari ini hari kejepit. Kantor lumayan sepi karena pada cuti. Saya? Tentu saja masih masuk kerja. Kemarin juga libur seharian tetep kerja sampe lewat tengah malam. Sooooo. I’m gonna reward myself with a holiday, for FOUR effing days. Nah biar gak (terlalu) merasa bersalah, liburan ini dijuduli “wisuda adek”.

Hey saya gak bohong. Si adek memang akan wisuda Selasa depan.

Tapi saya ambil libur Senin-Selasa, karena hari Seninnya harus nemenin dia pelepasan wisudawan di Fakultas Teknik. Uhuy.

Tapi…

Saya sampai Jogja besok pagi, dan belom tahu mau kemana atau nginep mana. Yasudahlah dipikir nanti aja. Untuk hari Minggu sampai Selasa sih udah booking hotel di Jalan Kaliurang karena Bapak datang dan harus nyariin tempat nginep.

Yang jelas Sabtu Minggu ini saya bakal blah bloh aja di Jogja, wandering aimlessly sambil tentu saja nyari makanan enak.

Have a nice weekend, everyone!

BUTUH MOMOGI

RASA JAGUNG DAN COKLAT

MASING-MASING TIGA KARDUS

Harga Dirahasiakan

Beberapa bulan yang lalu saya berniat buat pasang TV kabel di rumah biar gak nontonnya TV lokal melulu. Kandidat terkuat sih Firstmedia tapi ada yang menyarankan jangan Firstmedia karena akhir-akhir ini kualitasnya rada menurun padahal harganya mahal. Kemudian disarankanlah Indihome, produk terbaru Telkom. Dulu kan ada Telkomvision sama YesTV ya sepertinya, entah sekarang apa programnya masih ada apa enggak.

Saya nyari info soal Indihome ini di websitenya tapi rasanya ada yang bikin gak nyaman. Kalau biasanya di website sudah tersedia daftar harga paket internet, paket TV kabel, dan/atau kombinasi keduanya, di website Indihome ini kita baru bisa tahu harganya setelah mengisi data diri beserta alamat lengkap. Gak tanggung-tanggung, di halaman depan sudah ditulis “Anda dapat mengetahui harga paket IndiHome yang Anda pilih pada tahap konfirmasi paket pilihan atau melalui petugas Kami”.

Step registrasinya adalah: cek jaringan – pilih paket (di sini gak ada harga untuk tiap pilihan paketnya) – informasi personal (nama, alamat rumah, alamat email, nomor hp, nomor KTP/SIM) – konfirmasi paket pilihan (harga muncul di sini) -  selesai.

Penasaran, saya coba ngisi formulir registrasi biar tahu estimasi biaya paket dasarnya: internet 1 mbps, TV kabel, dan pesawat telepon (iya kalo belom punya harus pasang pesawat telepon). Diperoleh nilai Rp 195.000 (excl. PPN) per bulan, TAPI ada keterangan macem gini:

Biaya pasang baru, akan ditambahkan pada billing bulan pertama
Pelanggan akan dikenakan biaya sewa bulanan Set Top Box (STB) sesuai tipe yang dipilih.

Entah jumlahnya berapa, gak disebutin.

Lalu saya ke Twitter, nanya ke akun @TelkomPromo. Saya minta pricelist, dia nanya alamat nomor telpon rumah. Saya males ngasih alamat, dia nanya lagi nomor telpon rumah. Saya bilang gak pengen telpon rumah, dia nawarin pasang telpon rumah.

Huft.

Akhirnya saya kasih alamat tanpa blok dan nomer rumah, dan untuk paket yang sama dengan yang saya pilih di website admin twitternya menyebutkan harga Rp 225.000 (excl. PPN) per bulan. Kenapa beda sama yang di atas, saya juga gak tahu. Mungkin udah include biaya sewa bulanan atau apa gitu. Saya nanya adminnya sih cuma dijawab “harga yang kami informasikan sudah terupdate”.

Entahlah. Saya merasa aneh dengan model penjualan macem begini. Kalo mau delivery makanan itu kan pembeli gak harus ngasih informasi pribadi hanya untuk tahu daftar harga. Ini tuh kayak mau jajan di kantin kantor tapi buat nanya harga jajannya aja harus ngasih nomor induk pegawai.

Trus ya… jadi males. Udahlah masih ada Net TV sama Kompas TV ini. Tivinya juga masih bisa dicolokin harddisk buat nonton series atau film.