Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Jangan Jajan Sembarangan!

Bulan Februari lalu saya ikut Diklat Fungsional Peneliti yang wajib diikuti oleh PNS dengan jabatan fungsional peneliti (di semua kementerian dan lembaga, gak cuma peneliti LIPI) sebagai syarat mendapat gelar peneliti dan tambahan income berupa tunjangan fungsional. Diklat yang diadakan selama 3 minggu ini membahas bagaimana cara melakukan riset yang baik mulai dari penyusunan proposal riset, desain riset, pengambilan dan pengolahan data, penulisan karya tulis ilmiah, presentasi, dan lain-lain. Dari awal diklat kami diminta membawa draft karya tulis ilmiah (KTI) untuk dijadikan materi presentasi individu sebagai salah satu syarat kelulusan diklat. Nah selain KTI individu, kami juga harus melakukan presentasi dan dan menyusun KTI kelompok. Satu kelas ada 30 orang, dibagi menjadi 3 kelompok.

Kelompok saya terdiri dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari teknik elektro, biologi, sampai kedokteran hewan. Dalam penyusunan KTI Kelompok kami diwajibkan mencari sebuah topik yang dikuasai oleh paling tidak satu orang anggota kelompok. Setelah berdiskusi, akhirnya kami memilih topik “EVALUASI KANDUNGAN SODIUM DALAM MAKANAN RINGAN KEMASAN”. Lalu siapa yang dianggap menguasai tema gizi kesehatan ini sebagai perwakilan kelompok? Dalam hal sodium sebagai sebuah unsur kami menunjuk salah seorang anggota berlatarbelakang Kimia MIPA, sedangkan dalam hal hubungannya dengan kesehatan kami menunjuk anggota berlatarbelakang kedokteran… hewan.

Latar belakang kami memilih topik ini adalah memberikan informasi kepada konsumen mengenai cara mengetahui kandungan sodium dalam makanan ringan kemasan sebagai pertimbangan seberapa banyak konsumen dapat mengkonsumsi snack tanpa membahayakan kesehatan. Oh iya, sodium ini sebutan lain untuk natrium (unsur berlambang Na), pendiri senyawa yang biasa kita sebut garam (NaCl).

Memangnya kenapa sih tubuh gak boleh oversodium? Menurut drh. Herjuno Ari, kelebihan sodium dapat memicu penyakit jantung koroner, serebrovaskular, gagal jantung, dan disfungsi ginjal. Maksimum asupan sodium untuk dewasa adalah 2000 mg. Orang dewasa dengan diet normal mengkonsumsi kira-kira 1500 mg dalam menu makan 3 kali sehari, jadi untuk snack hanya tersisa maksimum 500 mg sehari. (Sumber: Permenkes No. 30 Tahun 2013 dan WHO Guideline for Sodium Intake, 2012)

Untuk pengambilan data, kami pergi ke K*rfur Cibinong City Mall dan membeli makanan ringan kemasan. Di bagian belakang bungkusnya ada tabel Informasi Nilai Gizi yang berisi berapa persen kandungan lemak, sodium, karbohidrat, gula, protein, dan lain-lain. Dari makanan ringan jenis chips kami mendapatkan 48 data, dari crackers 33 data dan dari biskuit 75 data. Kira-kira sudah lebih dari 90% jenis makanan ringan yang ada di K*rfur itu lah. Kenapa gak dicatet aja dan bukannya dibeli? Yaaaaa selain gak enak sama pramuniaga, anggep aja ini peran kami dalam perputaran roda perekonomian nasional…

Jadi bagaimana caranya baca informasi nilai gizi?

Tabel Informasi Nilai Gizi

 Itu salah satu contohnya. Untuk melihat berapa total kandungan sodium dalam satu kemasan makanan, kalikan nilai sodium per sajian (sodium amount per serving) dengan jumlah sajian per kemasan (serving per package). Jadi kalau lihat angka nilai sodium per sajiannya kecil, jangan senang dulu karena siapa tahu jumlah porsi per kemasannya besar. Dari gambar di atas kita bisa lihat bahwa satu kemasan makanan tersebut mengandung sodium sebanyak 599mg/serving x 5 serving = 3.995 mg

Batasan asupan sodium dalam snack tadi berapa? Yak betul, 500 mg.

Satu contoh lagi saya ambil dari kemasan belakang makanan salah satu mie instan yang menjadi pujaan anak-anak kost.

Informasi Nilai Gizi Mie Instan

Begitulah.

Hasil analisa kami menunjukkan bahwa hampir separo makanan ringan dalam bentuk chips, crackers, dan biskuit memiliki kandungan sodium di atas 500 mg per bungkusnya. Cara yang ideal ya beli eceran, bawa timbangan sendiri saat belanja atau sebungkus dibagi-bagi untuk beberapa orang atau beberapa kali makan. Beberapa produk favorit bahkan sebungkusnya mengandung 3000 mg sodium. Sebelumnya mohon maaf gak bisa menampilkan datanya karena dalam laporan dan presentasi kami bawa-bawa merk :D tapi bagi yang mau silakan japri aja.

Temuan kami yang lain adalah adanya beberapa produk yang sama sekali tidak mencantumkan nilai gizi, terutama makanan ringan kemasan buatan lokal. Iya bungkusnya memang menarik, merknya sudah terkenal, rasanya juga enak, tapi tidak menyertakan informasi nilai gizi, padahal hal ini diwajibkan oleh Peraturan Menteri Kesehatan No. 30 tahun 2013, pasal (3) ayat (1).

Selain itu, kami juga baru tahu bahwa Permenkes tersebut pada ayat (2) menegaskan bahwa di SETIAP makanan kemasan harus disertakan pesan kesehatan yang berbunyi “Konsumsi Gula lebih dari 50 gram, Natrium lebih dari 2000 miligram, atau Lemak total lebih dari 67 gram per orang per hari berisiko hipertensi, stroke, diabetes, dan serangan jantung”. Kayak di bungkus rokok itu. Kenyataannya? TIDAK ADA SATUPUN sampel yang kami punya mencantumkan hal tersebut.

Kenapa kami ambil sampel dari toko bukannya jajanan yang dijual di jalan-jalan atau di depan esde yang mungkin lebih banyak garamnya? Karena waktu eksperimen kami cuma sebentar (2 hari planning, 1 hari pengambilan data, 3 hari analisa data dan penyusunan KTI), sedangkan untuk jajanan esde kami perlu flare emission spectroscopy – yang entah institusi mana yang punya dan berapa lama selesainya.

Trus jajanan sebanyak itu dihabiskan 10 orang aja? Tentu tidak, sebagai teman yang baik tentu saja kami bagi-bagikan ke kelompok yang lain, ke panitia, dan dosen penguji waktu presentasi. Tentu saja setelah produk yang “aman” sudah kami pilah untuk dimakan sendiri sambil kerja kelompok. MWAHAHAHA.

That was a wonderful moments with you guys. We managed to create something useful in an incredibly FUN way. Thank you, thank you.

PS: Sepulang dari diklat, tiap kali di lorong makanan ringan maupun makanan instan seperti mie, kornet, sosis, dll selalu reflek ngebalik bungkus dan mengembalikannya ke rak setelah meringis liat kadar sodiumnya…

Tentang Travelling dan Moving On

Minggu lalu adalah pekan travelling yang aneh buat saya. Jumat malam 15 Mei saya ke Jogja naik kereta trus balik ke Jakarta Selasa 19 Mei naik pesawat. Rabu Kamis ngantor seperti biasa, lalu Kamis malam saya packing buat dinas ke Bandung hari Senin Selasa. Eh kok ya gak nyangka Jumat sore dikabari kalau mbah kung kepundhut. Saya langsung nyari tiket pesawat PP buat hari Sabtu dan Minggu. Jadi aja langsung packing lagi buat hari Sabtunya.

Minggu sore sampai Serpong dari bandara saya langsung ke kantor buat ngelab nyiapin sampel. Baru sampai rumah jam 7 malam dan harus nyiapin materi buat ngelab di Bandung. Plus packingnya.

Meneruskan yang di twitter: belum juga unpack udah harus packing lagi, kayak kalo belum move on udah pacaran lagi.

Ya kan kurang lebihnya gitu. Beban yang kemarin aja mungkin belum dibereskan, yang masih kotor belum dibersihkan. Remah-remah sisa jajanan dan bungkus permen masih terserak di tas. Botol sabun dan shampoo belum diisi ulang. Trus harus ngisi sama baju, alat mandi dan handuk bersih buat perjalanan berikutnya.

Gak masalah, karena kadang kita gak bisa nolak perintah dinas dari atasan. Apalagi kalau memang dinasnya bakal berguna buat karir dan masa depan, kenapa tidak? Masalah packing dan unpacking kan cuma bagian dari gambar besarnya yang memang harus disiapkan.

Pertama-tama ngalamin travelling back to back gitu pasti repot. Bongkar ransel dan harus mengingat-ingat kemarin bawa apa aja dan besok harus bawa aja. Kalau sudah dua tiga kali bisa disiasati dengan pake ransel cadangan, kalau udah bener-bener malas unpack dan repack di ransel yang sama. Baju kotor disisihkan dulu di tempatnya, botol sabun dan shampoo diisi ulang, siapin baju dan handuk bersih dan masukkan di ransel satunya. Beban jadi lebih ringan dan perjalanan berikutnya bisa bawa ransel yang lebih rapi karena disiapkan dengan tidak terburu-buru.

Begitu.

Tapi btw, ini analogi macam apa sih. Jangan ditiru.

Farewell, Old Man

Mbah kung saya umurnya 79 tahun. Bapak dari ibuk.

Mbah kung saya itu, benci banget sama orde baru. Beliau pinter, dulunya ahli akuntansi dan tata buku. Gara-garanya beliau ikut SPSI dan karenanya harus kehilangan jabatan pegawai negeri.

Mbah kung saya itu, sukanya nonton national geographic, animal planet, dan berita luar negeri. Bahasa inggrisnya lumayan, baik pasif dan aktif; beliau ini yg dulu ngenalin saya sama bahasa inggris bahkan sebelum masuk esde.

Mbah kung saya itu, penggemar iptek dan seneng sekali waktu saya bilang pengen jadi insinyur. “Sekolah yang tinggi ke luar negeri, kayak pak Habibie”, begitu katanya dulu. So I did. And I will, again.

Mbah kung saya itu, pernah nampar saya waktu esde hanya karena gak sengaja saya numpahin es campur ke sofa barunya. Kami memang gak pernah terlalu dekat, mungkin karena sama-sama keras. Tapi banyak juga warisan semangat yang saya peroleh. Kalau bukan karena beliau, mungkin saya gak akan terinspirasi untuk jadi sarjana teknik dan belajar bahasa inggris biar bisa sekolah ke luar negeri.

Mbah kung saya itu, tadi sore dipanggil Tuhan. Farewell, old man. We might not get along very well, but you deserved my respect. Again, many thanks. May you rest in peace.

Belajar Gagal

Tersebutlah suatu siang, saat wawancara beasiswa.

“IPK cuma segini, kamu yakin masuk [salah satu kampus top 10 dunia]?”

Kampus itu adalah kampus impian saya sejak kuliah, dan jujur saja saya rada down dengernya. Seperti dipaksa berbalik menghadap kaca, gitu, biar tahu diri waktu apply ke kampus bagus itu. Waktu itu saya sanggup pasang fake-and-proud smile sambil jawab “IPK minimum kan 3.00, Bu. Memang lebih baik kalau First Class atau Second Upper Class Honours, tapi masih bisa dibantu dengan pengalaman riset dan publikasi, pengalaman kerja, juga dengan skor TOEFL yang di atas rata-rata”.

Sembari menunggu hasil akhir tidak urung saya kepikiran lagi. Iya juga ya.

“Gimana kalau saya ndak keterima kampusnya?”

Sesi overthinking dilanjut lagi dengan:

“Gimana kalau udahlah gak diterima kampusnya. sekalian beasiswanya gak dapet juga?”

Jawaban diplomatisnya ya tentu saja “ya gak papa. Nanti coba lagi”.

Applicable untuk semua hal, kecuali hal-hal edan seperti panjat tebing tanpa pengaman atau bungee jumping tanpa tali.

#1. Berhadapan dengan banyak kegagalan tidak serta-merta membuat kita kebal dengan perasaan dingin yang menjalar di sekujur tubuh dan degup jantung yang seperti jatuh ke dasar laut saat mendengar kabar yang tidak menyenangkan. Sepertinya saat itu cuma ingin bergelung di kasur sambil mendengarkan musik blues berteman rintik hujan. Iya ini lebay. Ya gak apa-apa. Do it if it makes you feel a little bit better. Jangan sok kuat dan sok bijak dengan mengatakan kegagalan adalah awal dari kesuksesan. Belum tentu juga habis gagal ini kamu sukses, lho. Udah, terima aja dulu.

#2. Blame something. Selalu ada kambing hitam dalam setiap kegagalan: keadaan, kurang persiapan, panitia yang kurang kooperatif, interviewer yang terlihat subyektif, bahkan diri sendiri. Blame something ini biasanya ndak terlalu efektif, kecuali kalau yang disalahkan diri sendiri dan kemudian membuat tindak lanjut dari apa-apa yang perlu diperbaiki selanjutnya. Tapi menyalahkan sesuatu itu rasanya enak sekali!

#3. Ini yang sering terlupa saat menghadapi kegagalan: beri apresiasi pada diri sendiri karena sudah berani mencoba. Gak usah takut dengan suara-suara di kepala yang bilang “coba kalo kamu gak gini, gak akan sedih kan? gak akan sakit kan?”. Gak usah didengerin. Yang lebih menyakitkan adalah suara yang bilang “coba kalo kamu berani nyoba daftar beasiswa/ngelamar kerja/nembak cewek… bisa jadi kamu punya kesempatan bagus lho. Yah paling enggak nambah pengalaman deh”.

#4. Seperti halnya patah hati, kegagalan gak harus dilupakan apalagi bikin hidup berantakan. Masa lalu itu ada untuk memandu, bukan menghakimi kita. Pernah gagal di masa lalu untuk satu hal bukan berarti seterusnya kita akan jadi orang yang gagal di hal yang sama. Mungkin waktunya aja kurang tepat. Mungkin juga hanya kurang tepat sasaran.

#5. Terakhir, saya percaya bahwa doa yang kita panjatkan itu selalu dijawab dengan iya: “Iya, boleh”, “Iya, tapi nanti ya”, dan “Iya, tapi ini ada yang lebih bagus”.

 

 

Perbatasan Tangerang Selatan – Bogor,

ditulis sambil berusaha untuk tidak putus asa

Weekend Escape

Jumat, 15 Mei 2015

Sebenarnya hari ini hari kejepit. Kantor lumayan sepi karena pada cuti. Saya? Tentu saja masih masuk kerja. Kemarin juga libur seharian tetep kerja sampe lewat tengah malam. Sooooo. I’m gonna reward myself with a holiday, for FOUR effing days. Nah biar gak (terlalu) merasa bersalah, liburan ini dijuduli “wisuda adek”.

Hey saya gak bohong. Si adek memang akan wisuda Selasa depan.

Tapi saya ambil libur Senin-Selasa, karena hari Seninnya harus nemenin dia pelepasan wisudawan di Fakultas Teknik. Uhuy.

Tapi…

Saya sampai Jogja besok pagi, dan belom tahu mau kemana atau nginep mana. Yasudahlah dipikir nanti aja. Untuk hari Minggu sampai Selasa sih udah booking hotel di Jalan Kaliurang karena Bapak datang dan harus nyariin tempat nginep.

Yang jelas Sabtu Minggu ini saya bakal blah bloh aja di Jogja, wandering aimlessly sambil tentu saja nyari makanan enak.

Have a nice weekend, everyone!