Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

malam minggu mikro

judulnya garing banget ah.

minggu lalu teman-teman prajab ngajak bukber di depok, jadilah saya bikin itinerary hari ini: pagi hari berusaha menghindari godaan kasur untuk segera mandi dan servis motor ke bengkel, pulang makan siang lalu beberes dan berangkat ke depok naik kereta. rada siangan koordinator bukbernya ngabarin kalo reschedule minggu depan karena kebanyakan bisanya minggu depan.

oke. trus malem minggu ini ngapain dong.

pulang dari bengkel tengah hari saya mampir indomaret dulu beli eskrim dan amplop kemudian pulang dengan rute memutar sekalian nyoba motor yang baru diservis. sampai rumah bikin nasi goreng lalu makan sambil nonton the big bang theory di laptop, seperti biasa. saat gelundungan nonton series itulah kok tiba-tiba saya pengen laptopan sambil belajar. ya udah akhirnya saya memutuskan untuk tidur siang. *lah*

sekitar jam 4-an setelah kelar jadi sleeping beauty saya mandi dan beresin laptop kemudian ke mcd terdekat yang lokasinya cuma di komplek sebelah. naik motor gak sampe 5 menit. sampe sana saya pesen happy meal dan dapet buku kecil berisi gambar dan informasi tentang ruang angkasa beserta stiker yang bisa ditempel ke dalam bukunya. lucu banget!!!

saya langsung mojok nyari colokan dan buka laptop. dari jam 5 itu saya berusaha belajar tentang termodinamika condensed phase, tapi rada kurang berhasil karena dua orang mas-mas yang duduk di samping saya sedang nyeritain sesuatu yang seru sekali. agak kurang pantas diceritakan di sini sih, tapi ya intinya dua orang ini teman lama yang sedang bukber sambil catching up setelah lama ndak ketemu. mas satunya berapi-api sekali nyeritain pacarnya, bagaimana mereka pertama kali dipertemukan oleh mas satunya lagi, bagaimana mereka putus nyambung tapi tetep sayang. ceritanya manis banget, tapi di akhir baru saya tahu kalau obyek yang diceritakan adalah berjenis kelamin laki-laki juga, terutama karena mendengar namanya (nama yang maskulin) dan kisah-kisah tentang keberadaan “morning wood” juga beberapa hal lain yang sungguh distinctive sehingga saya membuat kesimpulan seperti itu.

tapi cerita mereka manis banget emang. sampe saya gak konsen belajar. pakai earphone sih, musik jalan sih, tapi volume di-mute.

sekitar jam 8 an topik di handout yang saya pelajari makin hot, kali ini tentang desain riset untuk merancang diagram fasa serta studi karakterisasi material secara mikromolekuler. definisi-definisi dan contoh aplikasi soal fasa gibbs dan turunan kalkulasi internal energy mendadak lenyap saat tiba-tiba dua mas-mas tadi terdiam sambil berpegangan tangan.

saya break sebentar, nyari-nyari handout kuliah material science lain sambil apdet twitter dan bbm an sama si mas yang lagi mudik. pas mau balik belajar lagi, grup wasap temen kantor lagi lucu-lucunya juga. ya udahlah. saya ngerapiin folder di komputer doang deh jadinya. jam 10 pas saya beranjak pulang setelah pesan bigmac buat take away.

malam minggu yang rada aneh. tapi lucu. happy weekend, everyone.

buku yang bikin kepikiran

ada 106 buku terdaftar pada daftar rak buku berjudul “read” di akun goodreads saya, berisi buku-buku yang saya baca dalam beberapa tahun terakhir. buku-buku sebelum ada akun goodreads tidak sempat didaftar mana yang sudah dan belum dibaca. tadi saya buka-buka akun goodreads dan beberapa buku membuat saya menerawang ke masa saya baru selesai membacanya. beberapa buku tidak memberikan efek apapun, beberapa buku bikin mau muntah, dan beberapa lagi bikin kepikiran. kepikiran kenapa ceritanya bisa kayak gitu, kenapa ada orang kayak gitu, dan darimana penulisnya bisa dapet ide kayak gitu. beberapa buku yang bikin saya kepikiran adalah:

1. the great gatsby

novel lawas yang difilmkan, tapi saya belum nonton filmnya karena saya suka banget sama novelnya dan takut kalo filmnya akan merusak imajinasi. novel ini bikin saya kepikiran pada tragedi yang terjadi pada jay gatsby yang menurut saya sebenarnya orangnya rapuh dan lovable. saya selesai baca novel ini malam hari, dan pagi harinya masih nyesek sama endingnya.

2. the hunger games

bagian pertama dari trilogi hunger games, yang diikuti oleh catching fire dan mockingjay. saya baca buku ini gak sampai sehari karena cara berceritanya bisa membuat pembacanya terpikat dan ingin membaca lagi dan lagi. setelah membaca buku itu kemudian terpikir, bukankah kita semua sedang ikut hunger games? sebagian main pada easy mode, sebagian lagi hard dan ada pula yang advanced mode.

review saya tentang buku ini: almost perfect.

3. sophie’s world

saya baca novel ini pertama kali tahun 2006, pinjem dari temen yang kemudian bilang bukunya gak usah dibalikin karena dia gak seneng buku itu. terlalu berat, katanya. bahasa inggris pula. beberapa tahun sebelum baca dunia sophie itu ceritanya saya lagi seneng baca buku filsafat dasar, mulai dari sejarah filsafat yunani sampai modern dan post-modernism. kemudian dunia sophie membuat saya melihat banyak hal dengan lebih jelas. mungkin buku itu seperti buku filsafat yang disajikan dengan cara lebih informal dan menyenangkan (?).

4. Seize The Daylight: The Curious and Contentious Story of Daylight Saving Time

buku ini saya baca sampe 3 kali berturut-turut saking penasarannya. saat itu saya masih tinggal di negara empat musim, dan masih berusaha memahami pergantian musim yang sampai membuat orang harus menggeser jam dan menyesuaikan karena tidak mampu mengalahkan alam. sampai sekarang saya masih sesekali baca buku ini dan tetep aja belum bisa sepenuhnya paham sama daylight saving time.

5. Introducing Quantum Theory

saya suka fisika, biarpun fisika gak gitu suka sama saya. gak apa-apa. sejak jaman sma saya tertarik sama teori kuantum dan fisika partikel, dan berusaha paham tentang apa yang sebenarnya diteliti. ya dari jaman atom dalton sampai berujung pada usaha mencari kemungkinan pembentukan awal alam semesta. buku ini serius tapi disajikan dalam bentuk graphic novel dalam panel macem komik gitu, disertai ilustrasi yang pas untuk setiap profil ilmuwan dan komentar-komentar lucu di sana sini. kalau tertarik sama teori kuantum baca deh buku ini. yang bikin saya kepikiran setelah baca buku ini adalah… ada ndak ya yang mau beliin serial introduction yang lain? XD

Kalau kalian, punya buku apa yang berkesan sampai bikin kepikiran?

Jangan Jajan Sembarangan!

Bulan Februari lalu saya ikut Diklat Fungsional Peneliti yang wajib diikuti oleh PNS dengan jabatan fungsional peneliti (di semua kementerian dan lembaga, gak cuma peneliti LIPI) sebagai syarat mendapat gelar peneliti dan tambahan income berupa tunjangan fungsional. Diklat yang diadakan selama 3 minggu ini membahas bagaimana cara melakukan riset yang baik mulai dari penyusunan proposal riset, desain riset, pengambilan dan pengolahan data, penulisan karya tulis ilmiah, presentasi, dan lain-lain. Dari awal diklat kami diminta membawa draft karya tulis ilmiah (KTI) untuk dijadikan materi presentasi individu sebagai salah satu syarat kelulusan diklat. Nah selain KTI individu, kami juga harus melakukan presentasi dan dan menyusun KTI kelompok. Satu kelas ada 30 orang, dibagi menjadi 3 kelompok.

Kelompok saya terdiri dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari teknik elektro, biologi, sampai kedokteran hewan. Dalam penyusunan KTI Kelompok kami diwajibkan mencari sebuah topik yang dikuasai oleh paling tidak satu orang anggota kelompok. Setelah berdiskusi, akhirnya kami memilih topik “EVALUASI KANDUNGAN SODIUM DALAM MAKANAN RINGAN KEMASAN”. Lalu siapa yang dianggap menguasai tema gizi kesehatan ini sebagai perwakilan kelompok? Dalam hal sodium sebagai sebuah unsur kami menunjuk salah seorang anggota berlatarbelakang Kimia MIPA, sedangkan dalam hal hubungannya dengan kesehatan kami menunjuk anggota berlatarbelakang kedokteran… hewan.

Latar belakang kami memilih topik ini adalah memberikan informasi kepada konsumen mengenai cara mengetahui kandungan sodium dalam makanan ringan kemasan sebagai pertimbangan seberapa banyak konsumen dapat mengkonsumsi snack tanpa membahayakan kesehatan. Oh iya, sodium ini sebutan lain untuk natrium (unsur berlambang Na), pendiri senyawa yang biasa kita sebut garam (NaCl).

Memangnya kenapa sih tubuh gak boleh oversodium? Menurut drh. Herjuno Ari, kelebihan sodium dapat memicu penyakit jantung koroner, serebrovaskular, gagal jantung, dan disfungsi ginjal. Maksimum asupan sodium untuk dewasa adalah 2000 mg. Orang dewasa dengan diet normal mengkonsumsi kira-kira 1500 mg dalam menu makan 3 kali sehari, jadi untuk snack hanya tersisa maksimum 500 mg sehari. (Sumber: Permenkes No. 30 Tahun 2013 dan WHO Guideline for Sodium Intake, 2012)

Untuk pengambilan data, kami pergi ke K*rfur Cibinong City Mall dan membeli makanan ringan kemasan. Di bagian belakang bungkusnya ada tabel Informasi Nilai Gizi yang berisi berapa persen kandungan lemak, sodium, karbohidrat, gula, protein, dan lain-lain. Dari makanan ringan jenis chips kami mendapatkan 48 data, dari crackers 33 data dan dari biskuit 75 data. Kira-kira sudah lebih dari 90% jenis makanan ringan yang ada di K*rfur itu lah. Kenapa gak dicatet aja dan bukannya dibeli? Yaaaaa selain gak enak sama pramuniaga, anggep aja ini peran kami dalam perputaran roda perekonomian nasional…

Jadi bagaimana caranya baca informasi nilai gizi?

Tabel Informasi Nilai Gizi

 Itu salah satu contohnya. Untuk melihat berapa total kandungan sodium dalam satu kemasan makanan, kalikan nilai sodium per sajian (sodium amount per serving) dengan jumlah sajian per kemasan (serving per package). Jadi kalau lihat angka nilai sodium per sajiannya kecil, jangan senang dulu karena siapa tahu jumlah porsi per kemasannya besar. Dari gambar di atas kita bisa lihat bahwa satu kemasan makanan tersebut mengandung sodium sebanyak 599mg/serving x 5 serving = 3.995 mg

Batasan asupan sodium dalam snack tadi berapa? Yak betul, 500 mg.

Satu contoh lagi saya ambil dari kemasan belakang makanan salah satu mie instan yang menjadi pujaan anak-anak kost.

Informasi Nilai Gizi Mie Instan

Begitulah.

Hasil analisa kami menunjukkan bahwa hampir separo makanan ringan dalam bentuk chips, crackers, dan biskuit memiliki kandungan sodium di atas 500 mg per bungkusnya. Cara yang ideal ya beli eceran, bawa timbangan sendiri saat belanja atau sebungkus dibagi-bagi untuk beberapa orang atau beberapa kali makan. Beberapa produk favorit bahkan sebungkusnya mengandung 3000 mg sodium. Sebelumnya mohon maaf gak bisa menampilkan datanya karena dalam laporan dan presentasi kami bawa-bawa merk :D tapi bagi yang mau silakan japri aja.

Temuan kami yang lain adalah adanya beberapa produk yang sama sekali tidak mencantumkan nilai gizi, terutama makanan ringan kemasan buatan lokal. Iya bungkusnya memang menarik, merknya sudah terkenal, rasanya juga enak, tapi tidak menyertakan informasi nilai gizi, padahal hal ini diwajibkan oleh Peraturan Menteri Kesehatan No. 30 tahun 2013, pasal (3) ayat (1).

Selain itu, kami juga baru tahu bahwa Permenkes tersebut pada ayat (2) menegaskan bahwa di SETIAP makanan kemasan harus disertakan pesan kesehatan yang berbunyi “Konsumsi Gula lebih dari 50 gram, Natrium lebih dari 2000 miligram, atau Lemak total lebih dari 67 gram per orang per hari berisiko hipertensi, stroke, diabetes, dan serangan jantung”. Kayak di bungkus rokok itu. Kenyataannya? TIDAK ADA SATUPUN sampel yang kami punya mencantumkan hal tersebut.

Kenapa kami ambil sampel dari toko bukannya jajanan yang dijual di jalan-jalan atau di depan esde yang mungkin lebih banyak garamnya? Karena waktu eksperimen kami cuma sebentar (2 hari planning, 1 hari pengambilan data, 3 hari analisa data dan penyusunan KTI), sedangkan untuk jajanan esde kami perlu flare emission spectroscopy – yang entah institusi mana yang punya dan berapa lama selesainya.

Trus jajanan sebanyak itu dihabiskan 10 orang aja? Tentu tidak, sebagai teman yang baik tentu saja kami bagi-bagikan ke kelompok yang lain, ke panitia, dan dosen penguji waktu presentasi. Tentu saja setelah produk yang “aman” sudah kami pilah untuk dimakan sendiri sambil kerja kelompok. MWAHAHAHA.

That was a wonderful moments with you guys. We managed to create something useful in an incredibly FUN way. Thank you, thank you.

PS: Sepulang dari diklat, tiap kali di lorong makanan ringan maupun makanan instan seperti mie, kornet, sosis, dll selalu reflek ngebalik bungkus dan mengembalikannya ke rak setelah meringis liat kadar sodiumnya…

Tentang Travelling dan Moving On

Minggu lalu adalah pekan travelling yang aneh buat saya. Jumat malam 15 Mei saya ke Jogja naik kereta trus balik ke Jakarta Selasa 19 Mei naik pesawat. Rabu Kamis ngantor seperti biasa, lalu Kamis malam saya packing buat dinas ke Bandung hari Senin Selasa. Eh kok ya gak nyangka Jumat sore dikabari kalau mbah kung kepundhut. Saya langsung nyari tiket pesawat PP buat hari Sabtu dan Minggu. Jadi aja langsung packing lagi buat hari Sabtunya.

Minggu sore sampai Serpong dari bandara saya langsung ke kantor buat ngelab nyiapin sampel. Baru sampai rumah jam 7 malam dan harus nyiapin materi buat ngelab di Bandung. Plus packingnya.

Meneruskan yang di twitter: belum juga unpack udah harus packing lagi, kayak kalo belum move on udah pacaran lagi.

Ya kan kurang lebihnya gitu. Beban yang kemarin aja mungkin belum dibereskan, yang masih kotor belum dibersihkan. Remah-remah sisa jajanan dan bungkus permen masih terserak di tas. Botol sabun dan shampoo belum diisi ulang. Trus harus ngisi sama baju, alat mandi dan handuk bersih buat perjalanan berikutnya.

Gak masalah, karena kadang kita gak bisa nolak perintah dinas dari atasan. Apalagi kalau memang dinasnya bakal berguna buat karir dan masa depan, kenapa tidak? Masalah packing dan unpacking kan cuma bagian dari gambar besarnya yang memang harus disiapkan.

Pertama-tama ngalamin travelling back to back gitu pasti repot. Bongkar ransel dan harus mengingat-ingat kemarin bawa apa aja dan besok harus bawa aja. Kalau sudah dua tiga kali bisa disiasati dengan pake ransel cadangan, kalau udah bener-bener malas unpack dan repack di ransel yang sama. Baju kotor disisihkan dulu di tempatnya, botol sabun dan shampoo diisi ulang, siapin baju dan handuk bersih dan masukkan di ransel satunya. Beban jadi lebih ringan dan perjalanan berikutnya bisa bawa ransel yang lebih rapi karena disiapkan dengan tidak terburu-buru.

Begitu.

Tapi btw, ini analogi macam apa sih. Jangan ditiru.

Farewell, Old Man

Mbah kung saya umurnya 79 tahun. Bapak dari ibuk.

Mbah kung saya itu, benci banget sama orde baru. Beliau pinter, dulunya ahli akuntansi dan tata buku. Gara-garanya beliau ikut SPSI dan karenanya harus kehilangan jabatan pegawai negeri.

Mbah kung saya itu, sukanya nonton national geographic, animal planet, dan berita luar negeri. Bahasa inggrisnya lumayan, baik pasif dan aktif; beliau ini yg dulu ngenalin saya sama bahasa inggris bahkan sebelum masuk esde.

Mbah kung saya itu, penggemar iptek dan seneng sekali waktu saya bilang pengen jadi insinyur. “Sekolah yang tinggi ke luar negeri, kayak pak Habibie”, begitu katanya dulu. So I did. And I will, again.

Mbah kung saya itu, pernah nampar saya waktu esde hanya karena gak sengaja saya numpahin es campur ke sofa barunya. Kami memang gak pernah terlalu dekat, mungkin karena sama-sama keras. Tapi banyak juga warisan semangat yang saya peroleh. Kalau bukan karena beliau, mungkin saya gak akan terinspirasi untuk jadi sarjana teknik dan belajar bahasa inggris biar bisa sekolah ke luar negeri.

Mbah kung saya itu, tadi sore dipanggil Tuhan. Farewell, old man. We might not get along very well, but you deserved my respect. Again, many thanks. May you rest in peace.