Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Kalian Gila Semua… Hahaha

Sejak pertama diumumkan jadwal diklat prajabatan, pikiran saya langsung aneh-aneh. Udah kebayang itu prajab tiga minggu isinya pelajaran di kelas melulu dari pagi sampai malam, dan god knows what di kelas disuruh ngapain aja. Belum lagi cerita dari temen di fisika yang udah ikut prajab gelombang pertama tentang gimana training di Rindam Jaya… makin males.

Diklat prajab saya diadakan di pusdiklat di Cibinong. Jadi selama 24 hari itu kita diasramakan. Lumayan lah, makan tidur gratis. Kami seangkatan ada sekitar 240 orang sebenarnya, tapi karena kebanyakan jadi prajab dibagi jadi dua gelombang. Gelombang 2 sendiri ada 119 orang, dibagi jadi 3 kelas. Saya masuk kelas C yang jumlahnya 39 orang. Pertama lihat daftar nama anggota kelas C, saya tersenyum karena ada beberapa orang yang namanya sudah gak asing lagi karena waktu orientasi dulu satu kelompok. Dulu sih belum kenal-kenal amat tapi saya taunya mereka orang-orang yang menyenangkan dan bisa bikin suasana menyenangkan juga. Good sign, pikir saya.

Tapi hari pertama prajab saya sudah bosan dan gak merasa excited sama sekali. I don’t particularly like crowds. Di satu moment sharing dengan teman-teman kelas C saya bahkan bilang “saya gak terlalu suka manusia”. Well. Membayangkan bersama-sama banyak orang selama 24 hari terus menerus mulai dari subuh sampai hampir tengah malam rasanya sumpek buat saya. Bahkan di kamar aja kami harus bertiga. Saya terbiasa dengan ritme rumah-kantor-rumah yang memungkinkan waktu me-time di rumah. Tanpa orang lain menginvasi daerah Ring 1 saya yang radiusnya cukup lebar dibandingkan orang lain.

But I guess I’m good at faking things, biarpun beberapa orang bisa baca kalau saya sedang badmood karena bener-bener perlu waktu sendirian. Saya bisa berusaha ramah dan tetap mingle dengan teman-teman sekelas maupun di luar kelas.

Minggu kedua setelah pulang dari Rindam Jaya, semua berubah. Saya heran kenapa semua orang masih membawa semangat yang sama seperti saat mereka baru registrasi. Memalsukan senyum dan berusaha tetep care sama orang lain itu gak mudah, lho. Apalagi harus ketemu mereka setiap saat: bangun tidur, senam pagi, sarapan, apel pagi, kelas, makan siang, kelas, makan malam, apel malam, latihan bareng sampai jam 10 malam…

I can’t believe you guys changed me a lot. Sialan kalian semua, bikin kangen…

Yang bikin pelajaran di kelas isinya ketawa mulu karena dipenuhi simulasi pake drama, yang ngerumpi di lobby sampe ditegur satpam, yang saking kelaparannya sampe delivery fast food, yang saling bikin mupeng karena rebutan popmie, dan tentu saja cinta segi banyak di antara kalian… Hahahaha.

Awalnya saya pikir saya gak akan bisa nikmatin prajab karena gap umur mungkin akan bikin saya gak nyambung (aduh ketahuan kalo sudah tua). Saya cuma pengen ikut kelas, ujian, lulus prajab, udah. Gak kepikir buat peduliin orang-orang di dalamnya. But boy was I wrong. I fell in love with all of you guys. Thank you thank you thank you.

Momen terakhir saat kita duduk di meja pingpong usai upacara penutupan itu… I hate it. I’m not good at handling goodbyes. I wish that moment would freeze and we stayed that close. People said “life goes on, people change” but I hope we still have what we had in those magical 24 days. Kelas kita nyaris jadi juara umum, tapi kita dapat yang jauh lebih berharga dari sekadar gelar juara dan botol minum. Blog post ini pun gak bisa menampung apa yang ada di pikiran, yang jelas saya nulisin ini biar jadi penanda, bahwa pernah ada masa di mana kita dipertemukan dan semoga tetap jadi saudara sampai nanti ada yang jadi deputi, menteri, atau bahkan presiden. Beberapa mungkin malah jadi nemu jodoh. Hehe. Amin.

Baru saja berakhir, hujan di sore ini…

Barangku Kebawa Kamu…

Pagi itu suasananya mendung, dan saya lagi butuh moodbooster untuk mulai kerja dan nge-lab. Searching-searchinglah saya ngubek-ubek isi laptop dan internet nyari playlist apa yang oke dan pilihan saya jatuh pada playlist boyband. Sembari nyusun playlist dari folder-folder musik yang saya udah punya, di ThoughtCatalog saya pun nemu artikel ini, “Here’s The Ultimate Boy Band Playlist You’ve Always Needed In Your Life“.

Isi playlist di artikel itu sebenernya standar sih, bagi para penggemar boyband ’90-an pasti gak asing lagi sama lagu-lagu macem As Long As You Love Me (BSB), It’s Gonna Be Me (N*Sync), Back For Good (Take That), Flying Without Wings (Westlife) atau The Hardest Thing (98 Degrees). Saya pun menyusuri satu demi satu lagu di playlist itu dan mendapati beberapa lagu yang belum pernah saya denger. Salah satu lagu menggelitik perasaan saya karena judulnya yang lucu.

2Gether – The Hardest Part of Breaking Up (Is Getting Back Your Stuff)

Lagu ini mengisahkan (halah) tentang seorang cowok yang cerita tentang mantannya. Jadi setelah mereka putus, barang-barang si cowok ini ternyata masih kebawa (atau dibawa) sama si mantan. Ada sweater, topi, koleksi CD (CD yang Compact Disc lhoo) bahkan kucing. KUCING. Trus niatnya mau ngelaporin ke polisi, eh telepon pun udah diembat si mantan :|

Makanya lalu si cowok bilang… the hardest part of breaking up is getting back your stuff.

Hehehe. Hayoooo lagi ada yang mikir “kemaren gue putus jangan-jangan ada barang yang kebawa mantan” yaaaaa :p

Ya emang kadang gitu sih, waktu masih pacaran suka pinjem-pinjeman barang bahkan duit. Kalo barang sih masih enak ya ada bentuknya, nah kalo duit ini yang seringkali menganut sistem “udah pake aja dulu”. Yakin kalo nantinya putus bisa ngikhlasin? Mau gak ditagih kok sayang duit segitu, tapi mau nagih ya gak enak. Itu juga kalo si mantan masih mau dikontak. Atau kalo stok harga diri masih cukup banyak untuk sekadar ngontak dan nagih utang.

Dari beberapa nasihat dan pengalaman pribadi rasanya saya bisa membuat sebuah generalisasi: kalau belum menikah sebaiknya jangan sampe ada kegiatan pinjem-pinjeman duit dalam jumlah besar atau bahkan bikin rekening bersama. Mmm.. Sebenernya sih pinjem duit atau bikin rekening bersama gak masalah sih asal jelas aja siapa utang berapa atau dalam hal rekening bersama, siapa nabung berapa. Juga nih yang paling penting, jangan sampe keluar kalimat “kamu kok itung-itungan banget sih!”.

Ya emang mesti itung-itungan, keleeuuss. Baru juga jadi pacar.

Soal pinjam-meminjam barang juga bisa jadi masalah nih, apalagi kalo yang dipinjem itu barang elektronik.

“Laptopmu aku balikin… tapi layarnya kayak ada retakan gitu gak papa kan? Kayaknya keinjek anjingku. Sorry.”

“Iya… Iya gak papa kok…”

Ya mau gimana lagi, masa’ mau minta ganti baru. Lagian dia udah minta maaf. Tapi yakali maaf bisa benerin layar.

Saya gak bilang kalo selama pacaran gak boleh berbagi lho. Boleh banget, sekalian belajar berempati dan peka sama kebutuhan pasangan. Tapi ya itu, asal hati-hati aja daripada jadi repot sendiri di belakangnya. Ya syukur-syukur pacarannya lanjut sampe ke pernikahan. Kalau udah nikah sih gak cuma dunia yang jadi milik berdua, tapi juga jiwa, raga dan harta. Ahahahaha.

Sekian ngebahas lagunya. Seriusan ini mah cuma mau ngebahas lagu, bukan ngomongin orang apalagi curcol. BTW kalo ada yang mau curcol di kolom komen boleh lho. Ihik.

Hati-Hati Sama Mimpi

Sejak awal tahun 90-an saya sudah ngefans sama pak Habibie yang waktu itu jadi Menristek. Kekaguman saya bertambah saat tahun 1995 pesawat komersial N-250 diluncurkan oleh IPTN (sekarang jadi PT. Dirgantara Indonesia). Waktu itu saya masih SD, dan sudah bermimpi pengen seperti beliau. Ya, gak mesti jadi Menristek juga sih. Jadi insinyur aja saya sudah seneng. Dan saat itu muncullah mimpi terbesar saya: sekolah di luar negeri, seperti beliau.

Lulus SMA saya masih pengen jadi seperti pak Habibie, dan beruntunglah saya ketika keterima di Teknik UGM. Tahun ketiga saya mulai melakukan penelitian; jatuh cintalah saya pada dunia riset. Pada beaker glass, neraca analitik digital, magnetic stirrer, dessicator, labu erlenmeyer dan cawan petri. Penelitian saya waktu itu bertemakan tentang pengolahan logam berat dalam limbah, dan dosen penelitian saya adalah seseorang yang luar biasa dan punya passion di bidangnya. Beliau tidak hanya peduli tentang metodologi penelitian dan bagaimana mendapatkan data yang baik, tapi juga bagaimana data-data itu jadi sesuatu yang berguna untuk masyarakat. Bertambahlah satu lagi mimpi saya: jadi peneliti. Seperti pak Habibie juga dulu pernah jadi peneliti.

Sebuah kesempatan besar datang di tahun keempat kuliah: tawaran beasiswa ke luar negeri. Dengan hepi saya apply, submit skor TOEFL dan KRS berisi IPK pas-pasan serta latian buat interview by phone. Beasiswa ke Den Haag ini membukakan banyak jalan buat saya tahu gimana rasanya kuliah di luar negeri, ngerasain kampus dan fasilitas yang oke, dan satu hal yang membuat saya merasa sangat beruntung adalah kesempatan magang di research center-nya salah satu perusahaan migas terbesar di dunia. Riset di sini, dengan laboratorium kece dan kolega-kolega yang mau ngajarin butiran debu macem saya ini bikin saya dengan senang hati commuting Den Haag – Amsterdam PP tiap hari selama 5 bulan.

Supervisor penelitian saya bapak-bapak seumuran ayah saya, seorang doktor yang sudah menggeluti dunia riset selama hampir 30 tahun. Selain mainin reaktor dan instrumen analisis di lab, beliau juga jago memainkan alat musik seperti piano, flute dan saksofon. Sekali waktu saya pernah diajak keluar kantor, refreshing sebentar katanya seusai jam makan siang. Ternyata kami pergi ke gedung konservatori di Amsterdam, nonton konser musik klasik yang memang rutin diadakan di situ setiap minggu. Beliau yang menginspirasi saya untuk mencintai dunia penelitian, dan mengajarkan bahwa sekecil apapun data yang kita ambil dan sesimple apapun jurnal yang kita buat pasti akan ada gunanya buat orang lain.

Tanpa pikir panjang, pada bulan terakhir magang saya kirim lamaran untuk jadi research assistant di tempat magang. Sempat pede karena hasil penelitian saya lumayan oke, beberapa hari kemudian saya dikabari oleh bapak supervisor bahwa dengan berat hati lamaran saya terpaksa ditolak karena saya tidak memenuhi persyaratan asisten riset paling mendasar: saya belum punya gelar master. Biarpun saat itu saya penelitian bareng kandidat master dari TU Delft dan parameter riset yang saya kerjakan punya bobot yang sama dengan tesis S2, tetep aja saya masih sarjana (belum lulus pula). Bapak supervisor juga terlihat sedih, tapi dia pesan begini: “we’ll keep in touch, and don’t you hesitate to contact me again once you get your master’s degree. Promise me you’ll get one of those or even better, a doctoral degree.”

Saya patah hati. Sepertinya dunia riset sudah tertutup buat saya. Secinta-cintanya saya sama laboratorium ya selama belum punya gelar master rasanya tetep bakal cuma jadi mimpi. Hanya saja saya gak tega buat ngebuang mimpi itu. Saya simpen aja, sambil setelah lulus jadi insinyur saya membangun karir di bidang engineering, sambil terus berharap suatu saat bisa balik ke dunia riset. Hahaha. Ya gak papa, mimpi kan gak bayar.

Pada suatu hari di bulan Januari tahun 2012 saya sama temen-temen Cahandong lagi kumpul di Parsley, Jalan Kaliurang. Entah lagi mbahas topik apa, kami sempet bahas keinginan buat sekolah lagi. Waktu ditanya mau ambil apa, saya bilang “kalo gak environment ya nanoteknologi. Lebih pengen nano sih, tapi kayaknya environment aja deh karena kalo di nano otakku gak nyampe”. Udah gitu aja. Mimpi yang terlalu tinggi, yang kayaknya gak bakal bisa tercapai.

math isn’t always easy

Saya sering berpendapat “follow your passion” itu terlalu naif dan gak realistis sampai suatu saat saya ngelamar kerja di lembaga penelitian plat merah. Saya pede aja daftar karena memang ada lowongan buat jurusan saya dan toh lamarannya online jadi saya yang waktu itu masih kerja gak merasa kerepotan harus ngurus SKCK, kartu kuning atau ngamplopin berkas dan pergi ke kantor pos. Saya gak pikir panjang; yang saya tahu umur saya gak muda lagi, kesempatan saya gak banyak dan kapan lagi saya bisa bikin mimpi jadi kenyataan. Logika saya mengatakan bahwa yang saya lakukan ini bukanlah keputusan yang tepat; saya sudah punya karir di dunia engineering, dan pindah ke dunia riset artinya saya harus mulai dari nol. “Cieee yang ngikutin passion… Mau kamu, kembali ke nol lagi? Gaji yang cuma segitu? Harus belajar lagi dari awal?”, gitu katanya. “Just shut up”, balas saya.

Semesta pun mendukung. Saya diterima di Pusat Penelitian Fisika dan kembalilah saya ke dunia riset, dan kok ya oleh atasan dimasukkan ke bidang yang selalu saya impikan: nanoteknologi. Kemampuan saya di bidang fisika masih nol besar, memang, apalagi di dunia nanoteknologi yang sejauh ini cuma bisa saya kagumi dari jauh. Kemudian saya baru sadar kalau mimpi-mimpi saya satu demi satu tercapai: jadi insinyur, kuliah di luar negeri, dan jadi peneliti. Jalan masih panjang, tapi gerbangnya kan sudah dibukakan. Sekarang tinggal gimana caranya banyak-banyak belajar dari awal, sekolah lagi, penelitian lagi dan jadi profesor riset. Terimakasih buat inspirasinya ya, pak Habibie. Terimakasih juga bapak supervisor tercinta di Amsterdam. I promise you I’ll get one of those master’s degree(s) and even better, a doctoral degree.

Nyari Jodoh Sambil Narsis

Kata teman saya Rise, nyari jodoh itu kayak hunting buku.

Yang pertama itu macem buku diskonan Gramed, yang udah kita cari susah-susah sampe pusing eh ternyata ada di pojokan diskon. Tetep cocok di hati biarpun lecek dikit. Jodoh tipe kedua itu macem buku diskonan Periplus, yang pas lagi diskonan gede kita sok-sokan gamang mau beli atau enggak dan mikirnya belum butuh… Eh pas udah pengen beli, harganya udah balik mahal. Sial. Jodoh tipe ketiga adalah buku tipe Aksara atau Kinokuniya, yang mau ditunggu sampe kapanpun tetep akan diluar budget dan ga ada diskon. Harus usaha ekstra buat ngedapetinnya. Jodoh tipe terakhir adalah buku tipe basement Blok M, buku-buku bagus dan diskon yang kita dapetin saat kita lagi hunting buku yang lain. Yang entah kenapa buku itu memikat pada pandangan pertama.

Mau tipe yang manapun, jodoh mah gak jatuh dari langit ya. Harus ada usaha. Nah Sabtu kemarin nih saya ikut acara Valentine yang diadain sama Nissan ID dan Polimoli, judulnya “Jomblo Tapi Valentine”. Awalnya sih saya gak ngeh itu kenapa jomblo-jomblo dikumpulin buat valentinan, apa gak malah menabur garam di atas luka? Ternyata enggaaaaaak.

Kita kumpul jam 11 di Chili Cafe, di STC Senayan. Btw, saya gak pernah tau kalo di seberang Senayan City itu ada gedung berjudul STC. Taunya ya cuma Sency – Plaza Senayan – Ratu Plaza. Pemenang lomba foto #NarsisNissan yang jumlahnya 18 orang diminta ambil undian yang isinya nomor random untuk cowok dan cewek, dan bersama bintang tamu kita @ifanhere dan @arievrahman┬áterkumpullah 10 pasangan yang siap dimanja sama Nissan dan Polimoli seharian.

Berhubung sudah jamnya makan siang, kamipun melipir ke meja-meja makan yang sudah disediakan. Di situ tiap pasangan diberi tempat duduk berhadap-hadapan biar bisa lebih intens kenalannya. Sekalian pemanasan biar gak garing juga nanti pas jalan-jalan. Semua orang sudah hampir goler-goler kekenyangan saat oom Pierre Gruno masuk ke dalam ruangan dan meminta setiap peserta memperkenalkan diri untuk membuka sesi Fashion Coaching. Oom Pierre yang ternyata juga staf pengajar di John Robert Powers ini ngajarin kita gimana cara memilih pakaian yang baik untuk menonjolkan kelebihan dan menyembunyikan kekurangan tubuh kita. Tips-tipsnya oke banget, dari ujung kaki sampe ke ujung kepala~

Lunch @ Chili Cafe

Setelah tahu gimana cara milih pakaian, tentu saja acara paling cocok ya belanja baju! Di sesi ini setiap pasangan dipinjami mobil Nissan New March yang baru rilis bulan Januari kemarin.Untuk pasangan yang cowoknya bisa nyetir ya dipersilakan nyetir sendiri, dan yang gak bisa nyetir ada driver dari Nissan yang siap mengantar kami semua ke Lotte Avenue di Kuningan. Sampai di lokasi, peserta berkumpul di lobby dan team dari Polimoli membagikan amplop berisi uang cash ke setiap pasangan buat dibelanjain di Uniqlo. Syaratnya cuma satu: pakaian yang dibeli harus matching sama pasangannya karena setelah ini akan langsung dipake buat Valentine dinner. Ihiiiiyyy!

Mejeng di depan Nissan New March

Coba tebak, saya dipasangkan sama siapa? Sama Chika…. #suram Continue reading

Kenapa Mahal Sih?

Saya penggemar transportasi umum, apalagi kalau sistem transportasinya terintegrasi. Sudah banyak contohnya ya, misalnya di Singapura atau di Eropa Barat yang memudahkan orang pindah-pindah antara bus, tram, kereta, subway/metro dengan jadwal dan rute yang cukup jelas.

Di Jogja ada Transjogja dengan tarif 3000 rupiah sekali jalan. Bus kota rasanya sudah jarang ada dan gak terlalu nyaman lagi, apalagi jalur 5 via UGM dan Jalan Magelang yang sepertinya sudah punah. Waktu masih kerja di Jogja saya suka berangkat kantor naik Transjogja karena rumah saya dekat dari kantor. Tapi setelah saya hitung-hitung kok jatuhnya jadi boros sekali… Padahal saya naik Transjogjanya cuma pas berangkat doang lho, pulangnya jalan kaki. Jadi ya kalau saya isi pertamax untuk motor saya, dua minggu habis bensin 20 ribu rupiah. Bandingkan dengan naik Transjogja… Dua minggu (10 hari kerja) minimal saya perlu 30 ribu rupiah. Itu aja pulangnya kudu jalan kaki 3 km. Berarti kalau mau naik Transjogja PP dua minggu saya harus membayar 60 ribu rupiah.

Tapi kan go green… Tapi kan sehat…

Ya iya sih. Tapi tetep aja. Lumayan lho itu dua minggu saya bisa irit 40 ribu rupiah.

Nah pengalaman saya di Serpong beda lagi. Rumah saya di Pamulang 2, kantor di Puspiptek. Kalau mau naik kendaraan umum, saya harus naik angkot 3 kali (dari depan komplek ke Jl. Siliwangi, dari Jl. Siliwangi ke perempatan Muncul dan dari situ ke depan gerbang Puspiptek) dengan total biaya 20 ribu pp. Itupun turunnya di depan Gerbang Puspiptek dan masih harus jalan kaki sejauh 2 km. Kalau gak mau jalan kaki, saya mesti ngojek 10 ribu dari perempatan Muncul, yang berakibat biaya transportasi membengkak jadi 26 ribu dalam sehari (dengan asumsi saya pulangnya nebeng temen dan gak ngojek).

Sehari 20 ribu itu seminggu 100 ribu ya… Sebulan 400 ribu… Kalau naik motor sih saya habis 15 ribu aja seminggu. Atau 20 ribu kalau pas wiken saya beredar ke Bintaro atau Jaksel.

Saya sempat nyoba Commuterline dari stasiun Sudimara ke Senen pp. Total cuma habis 7000 rupiah saja. Bandingkan kalau saya naik bus dari Senen ke Ciputat yang biayanya dua kali lipat. Belom lagi macetnya Jalur Commuterline juga cukup convenient, menjangkau ujung-ujung Jabodetabek yang tentu saja bisa membuat wilayah-wilayah sekitar sambung-menyambung menjadi satu~

Sayang sekali… Commline yang sudah emejing tersebut kurang didukung dengan prasarana yang oke. Parkir di stasiun Sudimara (dan stasiun-stasiun lain) rasanya mahal sekali: Rp 6.000 untuk sepeda motor dan Rp 12.000 untuk mobil. Tarif ini naik 2 kali lipat sejak pertengahan tahun lalu, saat fasilitas penunjang Commuterline dibangun dan diperbaiki. Okelah tarif parkir semahal itu bisa dilakukan di kota untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Lha ini kok di pinggiran juga mahalnya kayak gitu sih, mana parkirannya open space gitu yang bikin kendaraan kepanasan dan kehujanan. Bukankah mestinya justru dimurahkan, sebagai insentif untuk orang-orang yang bersedia commuting dari pinggiran Jakarta alih-alih membawa kendaraan pribadinya?