Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Tahun Pertama dari Perjalanan Panjang Bernama Hidup Bahagia Selamanya

Happy Anniversary!

Happy Anniversary!

Belum lama, beberapa menit lewat tengah walam waktu Manchester, hempon saya berdering. Whatsapp call dari suami. Pikir saya kok tumben nelpon ada apa, ternyata cuma ngecek apa saya udah tidur. Setelah telpon ditutup, datang pesan di Telegram dari beliau: “Selamat hari pernikahan ya mamah”.

Saya langsung bangun. Oh iya ini 19 November.

Ketika mengangkat telepon tadi pikiran saya belum sepenuhnya sadar, maklum saya ketiduran sejak pulang dari kampus jam 3 sore. Terakhir kali saya tidur dengan layak adalah hari Selasa malam. Rabu sore sempat tidur 2 jam, kemudian berlangsunglah edisi lembur 2×24 jam tanpa tidur karena ada PR yang harus dikumpulkan Jumat siang.

Iya pernikahan kami memang baru setahun. Silakan simpan komen “halah masih seneng-senengnya itu” atau “masih enak itu belum ada buntutnya” dulu. Bagi kami, setahun terakhir (dan dua tahun sebelumnya) adalah perjuangan panjang. Kami gak banyak ngerasain betapa menyenangkannya pacaran sekota, bisa hangout bareng pulang kerja, atau pillowtalk saat pergi tidur ngobrolin ada hal apa seharian tadi. Pillowtalk versi kami adalah chatting di Telegram ngomentarin komen-komen di fesbuk, gosip politik terkini, kemudian pamit tidur – kalau gak ketiduran. Setiap berangkat tidur doa saya adalah semoga masih diberi umur panjang untuk menyapanya lagi di pagi hari, dan melihatnya lagi saat kami punya kesempatan bertemu.

Sejak pacaran kami tinggal di kota yang berbeda: saya tinggal di Serpong, beliau di Jogja. Pertengahan 2014 beliau ditugaskan jadi field engineer ke Sulawesi selama setahun, dan gak lama setelah kembali ke Jogja pada pertengahan 2015 beliau kembali ditugaskan di Bojonegoro sampai pertengahan 2016… dan beberapa saat kemudian gantian saya yang pergi, melanjutkan studi ke Manchester.

It wasn’t always easy. Semester pertama 2014 kami masih bisa merencanakan sebulan sekali ketemuan di Jogja atau Serpong, tapi setelah beliau dinas lapangan kami cuma bisa ketemu saat field break tiap 6 minggu sekali. Tiap akhir pekan rasanya campur aduk antara sedih harus melewatkan malam minggu sendirian dan gak bisa ke gereja bareng, dan gak sabar menghitung berapa malam minggu lagi sampai bisa bertemu kembali. Bertengkar ya pasti ada. Kalimat yang nampak di layar hempon bisa membawa nada yang berbeda padahal bukan itu maksudnya, apalagi kalau di ujung satunya sedang bad mood atau lelah atau kebanyakan pikiran. It wasn’t always easy. Kami mengusahakan untuk meminimalisir konflik karena pertengkaran jarak jauh tidak selalu bisa diakhiri dengan rekonsiliasi yang layak, komunikasi yang baik, dan pelukan yang menyelesaikan segala masalah.

bersama bulik suster

bersama bulik suster

He’s being a great partner for me and I’m forever grateful for that. I think I couldn’t ask any better. Saya tahu kepergian saya untuk sekolah ke luar negeri jadi keputusan yang sangat besar buat kami, tapi toh dia tahu hal itu penting buat saya. Gak enak sih rasanya ditanya “wis bathi rung?” (“sudah untung belum?”) saat kami sedang menunda untuk punya anak karena saya harus sekolah dulu. Asal tahu aja ya, dia mau sama saya aja itu saya udah untung banyak! Hahaha. And of course want to have kids. And dogs. Cute ones, the kids and dogs. Sejauh ini orangtua sepenuhnya mendukung keputusan kami, meskipun kami tahu juga mereka sedih lihat anaknya sudah menikah kok masih jauh-jauhan dan sekarang malah jaraknya lebih jauh lagi. Gak enak juga lho kalau ada teman-teman yang suka ngeledekin posisi kami yang sedang LDR; kadang kalau mood saya lagi kurang bagus rasanya ingin bales “you know what, what you’re doing is not nice and I hope one day you’ll be in a long distance relationship with your partner so you’d know how it feels”.

Tiap tahun kami mengusahakan bisa liburan lebaran dan natal bersama, saya gak peduli harga tiket berapa pokoknya harus pulang. Tapi… sayang sekali natal tahun ini dan lebaran tahun depan saya gak bisa mudik. Kali ini harus peduli harga tiket karena 15 juta rupiah itu sungguhlah lumayan banyak :( buat yang pernah atau sedang LDR pasti tahu siklusnya saat nunggu waktu ketemuan di hari libur yang lebih panjang dari biasanya: excited nunggu hari-H, berharap liburan gak pernah berakhir, dan super patah hati di stasiun atau bandara saat harus berpisah karena jarang-jarang bisa bareng selama itu. Kemudian hari berikutnya seperti biasa langsung browsing-browsing tiket murah dan merencanakan kapan bisa ketemuan lagi.

Ah, lebih baik saya tidak usah terlalu banyak mengeluh. Melihat lagi cerita-cerita lama tentang perjalanan kami seperti cerita soal foto syarat catatan sipil yang harus di-photoshop, atau mondar-mandir Jakarta-Jogja buat ngurus surat-surat, sampai hal-hal yang membawa saya kepada kesadaran penuh bahwa saya sudah dipertemukan dengan The Special One, sehari sebelum hari pernikahan. Saya betul-betul bersyukur karena punya suami yang tidak cuma bisa jadi pegangan hidup (duile kaya kitab suci aja), tapi juga membuat saya jadi orang yang lebih baik. I love him for that. Kami pernah bekerja di kantor yang sama, meskipun gak kenal dan gak deket, dan sampai sekarang saya mengagumi etos kerjanya yang beyond excellent. Ya… terutama kalau dibandingkan sama saya yang versi sibuknya di kantor adalah nyusun playlist Youtube dan meneliti di video mana Niall Horan terlihat lebih cute.

patung sapi! – komplek pemda boyolali

Baiklah. Sudah jam empat pagi. Setelah baca posting soal honeymoon di Gili Nanggu tahun lalu kayaknya sudah harus merencanakan lagi tahun depan mau honeymoon kemana. Happy anniversary my best man, and let’s continue to another year of living happily ever after!

Satu Purnama di Manchester: Sekolahnya Bagus Ya

Ini minggu keenam saya berada di Manchester, berarti kurang lebih sudah 1,5 bulan ya. Perkuliahan sudah berjalan selama 5 minggu, dan sejauh ini saya bahagia. Lelah, kurang tidur, stress, tapi bahagia. I’m glad I chose this university.

Saya mengambil subyek Advanced Engineering Materials di jurusan School of Materials, di mana durasi kuliahnya hanya satu tahun untuk memperoleh gelar MSc. Perkuliahan di semester pertama berlangsung dari bulan September sampai Desember selama 12 minggu, dan dibagi menjadi 2 blok. Tiap blok ada 2 mata kuliah, dan tiap mata kuliah ada 3 sub matkul dengan dosen yang berbeda. Jadi… semester ini saya ada 12 sub matkul di mana pada akhir blok dosen akan memberikan pe-er (coursework) yang berkontribusi sekian persen dalam perhitungan nilai.

Materinya padat, saya rada kewalahan ngejarnya. Dalam dua jam kuliah saja sepertinya bapak-ibu dosen mampu membahas 2-3 bab di buku, bahkan lebih. Yang saya suka adalah passion dari para dosen saat mengajar yang menunjukkan bahwa mereka memang ahli dan mencintai bidang itu. Saya jadi semangat juga belajar dan ingin tahu lebih banyak.

Serius banget ya. Wahahaha.

UMIST

The University of Manchester adalah merger dari dua kampus besar di kodya Manchester: UMIST (dominan di ilmu MIPA & Teknik) dan Victoria University of Manchester (dominan di ilmu Kedokteran dan Ilmu Sosial). Foto di atas adalah gedung Sackville Street kampus UMIST yang sudah berdiri sejak 1824, dan sekarang dipakai oleh Faculty of Engineering & Physical Sciences. Meskipun wujudnya red brick building, tapi di dalam fasilitasnya sudah modern lengkap dengan wifi kenceng di seluruh lantai. Ada 2 lantai perpustakaan juga. Selain gedung ini, fakultas Teknik juga memakai beberapa gedung lain yang lebih modern di area ini.

perpus

Ini adalah salah satu sudut lounge Joule Library, perpustakaan di gedung Sackville Street.. Di ruang belajar (study room) layoutnya lebih serius dengan meja kursi standar untuk belajar. Di study room tidak boleh makan, hanya boleh minum dari tempat minum yang ada tutupnya. Kalau mau ngemil ya di lounge ini, tapi tetap tidak boleh bawa hot food macam indomie goreng atau take away nasi goreng begitu. Sandwich, buah, biskuit, atau yoghurt/salad buah masih boleh lah.

autumn

Beberapa hari terakhir, matahari sudah jarang sekali muncul. Foto di atas saya ambil dua minggu lalu di depan gedung asrama kalau gak salah, saat langit masih biru dan masih ada matahari. Dedaunan sudah mulai berubah warna dan berguguran. Kasian yang kudu bersihin daun tiap hari :( BTW Kerajaan Inggris yang selama musim panas ada di zona British Summer Time (BST), tadi pagi geser waktu ke belakang satu jam sehingga kembali ke waktu normal, GMT. Sedikit cerita tentang daylight saving time ini pernah saya ceritakan 7 tahun lalu (ya ampun lamanya).

Itu dulu deh cerita satu purnama ini. Kalau ada yang pengin diceritain apapun tentang kuliah atau hidup di sini, silakan komen di kolom komentar ya! Saya mau lanjut nugas lagi mumpung masih siang. Tapi kok lapar. Goreng telur dulu deh. Ciao!

Semingguan di Manchester: Adaptasi

Hai penggemar. Ini hari ke-12 saya pindah domisili ke kota di North West England, tepatnya di Kodya Manchester. Saya tinggal di asrama kampus, satu gedung ada 9 flat dan 1 flat ada 7 orang. Di asrama kampus jarang ada flat campur, biasanya mereka atur agar bisa same-sex flat; untuk asrama dengan kamar ensuite (kamar mandinya di dalam kamar) bisa aja dijadikan mixed-sex flat. Flatmate saya ada 6 orang: 5 orang dari RRC dan 1 orang dari Russia. Kami jarang ngobrol sih, bahkan mbak di kamar G itu saya baru 2 kali lihat, pertama saat dia pinjem charger hempon android dan kedua saat dia balikin charger.

Di flat kami ada 2 shower dan 2 toilet, sejauh ini sih saya belom pernah sampe ngantri mandi banget kayak jaman kost di SMA dulu. Mungkin karena jadwalnya beda-beda ya. Bersyukur juga dapet flatmate yang gak jorok urusan kamar mandi, kecuali mbak kamar D yang entah kenapa sering sekali bikin lantai WC basah dan pernah sekali ngecat rambut di WC sampe belepotan. Untung di asrama kampus yang shared bathroom (dan shared kitchen) ini ada petugas yang ngebersihin common room (shower room, WC, dapur) seminggu dua kali. Kalau sampah dapur sih kami ada piket giliran buang sampah,

Di asrama kampus juga digalakkan program daur ulang. Segala macam kemasan yang masih bisa dipakai (botol kaca, botol plastik, kaleng bekas) dan kertas kardus/karton bekas bisa dikumpulkan dan “dibuang” ke tempat sampah khusus barang recycle.

Asrama saya lokasinya cukup strategis. Halte bus ada tepat di depan asrama (dan di seberangnya). ATM dan kantor cabang bank Barclay’s dan Lloyd’s di sebelah kanan gedung. Di sebelah kiri ada warung kebab dan toko sandwich, di seberang jalan ada dua supermarket, McD, resto cina, warkop, Subway, dan Domino’s Pizza. Asrama punya bar lucu-lucuan (dan murah!) atau bisa juga ke bar yang lebih hip lagi di kalangan mahasiswa, yang berada di deretan warung kebab sebelah asrama.

Hari ini hari pertama saya mulai kuliah. Well it’s kinda disappointing really. Saya mengharapkan atmosfer yang lebih internasional (ya secara kuliahnya di UK gitu) tapi di kelas saya ini 90% nya mahasiswa dari RRC. But OK maybe it’s just my prejudice talking, and I hope it would get better along the term time.

Minggu lalu ada beberapa sesi welcome event dan induction session dari jurusan dan fakultas, dan saya cukup terkesima dengan ruang kelas dan metode pembelajarannya. Yah di mana-mana memang tergantung mahasiswanya sih tapi fasilitas seperti ini bikin semangat belajar jadi membara (semoga bukan cuma di minggu-minggu awal aja). Perpustakaan kampus adalah salah satu dari banyak alasan saya jatuh hati sama kampus ini. Salah satu perpustakaan the University of Manchester, The John Rylands Library, adalah salah satu perpustakaan tercantik di dunia. It’s a dreamy library. Perpustakaan pusat yang buka hingga tengah malam juga sangat sangat membantu mahasiswa belajar; ada PC cluster dan ruang-ruang baca.

Yang kece (dan baru!) adalah Alan Gilbert Learning Commons (AGLC, atau oleh mahasiswa biasa disebut dengan Ali G building), tempat belajar yang buka 24/7. Iya, AGLC ndak pernah tutup. Di situ ada ruang belajar dengan sofa-sofa empuk bagi yang ingin santai tapi ada juga meja kursi yang “normal”. Ada ruang study group yang bisa di-tag untuk belajar kelompok, dan kalau capek bisa mampir ke kursi pijat; bahkan disarankan power nap di situ. Gak boleh bawa selimut dan bantal buat nginep tapi ya.

Asrama saya cukup jauh dari kampus teknik, kalau jalan kaki ya sekitar 30-40 menit. Beruntung, kami difasilitasi bus gratis dengan trayek dari depan gedung Student’s Union sampai halte dekat kampus teknik. Dari asrama saya cukup jalan kaki 5 menit aja ke halte depan gedung Student’s Union. Kalau traffic normal ya sekitar 20 menitan lah door-to-door dari asrama ke kampus.

Oiya sesuai judul. Fase adaptasi.

Yang paling kerasa sesampainya di sini adalah jetlag. Badan belum terbiasa di zona waktu yang berbeda, jadi 3 hari pertama saya masih bangun jam 4 pagi dan tepar jam 6 sore. Lama-lama badan saya mulai bisa adaptasi, bahkan adaptasinya kebablasan; saya belum ngantuk di tengah malam dan susah bangun pagi. Kayaknya badannya terlalu ke barat, mungkin di zona waktu Samudera Pasifik. Hahaha lucu.

Adaptasi yang kedua adalah kamar mandi. Taulah kalo terbiasa di Indonesia yang WC nya basah dan/atau pake jetshower kan enak ya. Di sini mana ada. Nah beruntunglah di asrama (dan di kampus), di dalam WC ada wastafelnya, jadi saya selalu bawa botol khusus untuk diisi air kalo pengen pup huehueheuhe. Penting banget ini. Perlu beberapa hari untuk bisa menyesuaikan ritme dan teknik yang tepat dan optimal. Halah.

Adaptasi berikutnya adalah makanan. Sudah gak bisa ya seenaknya tiap hari makan keluar kayak jaman di Serpong atau Jogja dulu. Bisa ludes tabungan. Harus memasak. Pagi hari di sini hawanya mager banget, gak kayak di Serpong di mana saya bisa bangun jam 5 pagi dengan semangat, menyempatkan diri olahraga, lalu masak untuk sarapan dan bekal makan siang. Ditambah dengan hawa dingin dan aura cloudy gloomy khas UK, rasanya mengubur diri di dalam selimut tebal itu pilihan yang sungguh sangat tepat. Sambil buka pokemon go atau yutuban lebih oke. Nanti keluar selimut udah jam 10 aja. Huft. Untuk makanan ini saya ndak terlalu banyak masalah, karena memang gak harus makan nasi, jadi ya seadanya saja yang ada. Kalo ndak ada dan malas masak ya cari diskonan di Sainsbury’s atau Morrison’s sebrang jalan biasanya ada diskonan jajan atau makanan siap saji yang hampir expired.

Yang terakhir dan paling penting: cuaca. Waktu saya datang sampai beberapa hari kemudian, Manchester sedang cerah ceria, cenderung panas malah. Saya malah keliling kota cuma pake kaos, jeans, dan sandal jepit aja. Sejak kemarin sifat aslinya mulai muncul. Mulai banyak angin, tiba-tiba gerimis dan tiba-tiba reda, dan seharian ini bahkan turun hujan. Teknik layering (halah) jadi sangat penting, apalagi katanya dalam beberapa minggu ke depan akan turun salju dan tentu saja sebelum turun salju temperatur akan jadi sangat dingin.

Tips dari saya untuk yang sedang ingin ke negeri empat musim di musim dingin: pastikan kaki dan lehermu hangat, maka sisanya jadi ndak terlalu masalah. Kalau memang lagi dingin banget pakailah sarung tangan. Jangan remehkan telapak tangan, karena di jalan kamu pegang-pegang tiang atau apa yang sedang beku maka bisa terjadi cold burn/frostbite.

Ngemeng-ngemeng soal hawa dingin, jadi kangen suami yang berada 12.200 km jauhnya di belahan dunia satunya…

Hari Kedua di Manchester

Hello.

Terimakasih atas doa para penggemar sekalian (cuih) akhirnya saya sampai juga di Manchester. Saya terbang dari Cengkareng hari Rabu sore; leg pertama 9 jam dan leg kedua 8 jam dengan jeda 4 jam transit di Dubai. It was okay. Di airport saya dijemput oleh teman-teman Student Union yang mengantarkan saya ke asrama naik taksi. Black cab yang lucu itu loh. Sampai asrama saya lapor dulu ke kantor administrasi untuk check in dan ambil kunci. Harusnya saya bawa formulir key release form untuk serah terima kunci tapi kok saya lupa ngeprint semasa di Jogja. Akhirnya saya cuma nyerahin print email dari accommodation office yang berisi kontrak akomodasi untuk ditukar dengan kunci pintu gedung, pintu flat, ruang mailbox, kartu laundry yang harus diisi duit, dan kartu akses masuk gerbang asrama.

Saya dapat kamar di flat lantai tiga tanpa elevator. Nggeret koper 30 kg beserta ransel 7 kg dari lantai dasar ke lantai tiga setelah penerbangan panjang itu rasanya… oh f*ck it I wouldn’t care even if I broke my suitcase. Sampai juga saya di kamar. Satu flat berisi 7 kamar dengan 2 kamar mandi + 2 toilet serta dapur untuk dipakai bersama. Saat saya tiba, di situ sudah ada 2 kamar yang diisi mahasiswi dari China. Mereka dan beberapa temannya mengajak saya ke city centre untuk jalan-jalan dan nyari anu-anu. Ya okelah. Saya masih malas juga ke kampus ngurus residence permit dan bikin kartu mahasiswa. Nanti kalo difoto kelihatan jelek. Halah.

Setelah leyeh-leyeh dan mandi, kami jalan kaki ke city centre dan keluar masuk toko beli beli ini itu. Saya sih beli perlengkapan dasar anak kost seperti perlengkapan mandi, mencuci, tempat sampah/plastik sampah, dll. Saya belom kepikiran beli perlengkapan makan karena selain susah bawanya, saya sungguh yakin kalo beberapa hari ini bakal makan di luar.

Oh iya ada satu drama menjelang keberangkatan. Soal sepatu. Sejak cuti tanggal 1 itu saya mudik ke Jogja pake sepatu yang nantinya akan saya pake untuk berangkat ke UK. Di koper cuma ada sepatu formal wedges dan sandal jepit WC aja. Di Jogja saya kemana-mana pake sandal jepit fancy. Iya loh fancy. Mahal. 25 ribuan di ITC BSD. Nah, pas berangkat ke Jakarta saya lupa sama sekali soal sepatu ini, jadi aja perginya ke Jakarta pake sandal jepit fancy juga. Sampai mess di Serpong… kok rak sepatu kosong. Harusnya kan masih ada sepatu buat ntar dipake berangkat.

LHA KAN SEPATUNYA DIPAKE PULANG KE JOGJA TAPI GAK DIPAKE BALIK KE JAKARTA.

Okelah. Saya nemu jellyshoes yang bisa saya pake untuk berangkat ke UK, tapi saya baru ingat kenapa sepatu itu lama ndak saya pakai: bikin kaki sakit karena ujungnya rada runcing sedangkan kaki saya lebar kayak bebek. Sampai Dubai saya tergoda mampir toko sepatu dan beli sepatu baru; meskipun rada gak nyaman tapi saya tahan aja. Sampai Manchester saya bener-bener gak tahan, apalagi nanti keluar bandara mesti bawa koper segede gaban (gaban itu segede apa sih). Waktu antri imigrasi saya cuek aja nurunin ransel dan ganti sandal jepit fancy. Bodo amat sandal jepitan diliatin orang-orang.

Nah ini hubungannya drama sepatu dan jalan-jalan ke city centre: saya beli sepatu baru di sana.

Udah itu doang. Iya cuma segitu. Maaf ya pembaca.

Btw cewek-cewek ini jalannya super cepat. Kedua kaki dan sepasang sandal jepit fancy saya merengek kelelahan sampai akhirnya hari sudah sore dan kami memutuskan untuk makan di China Town. Makanannya lumayan, termasuk harganya juga. Lumayan mahal. Pulang ke asrama saya sudah tepar, males beberes unpacking apalagi nata-nata barang. Saya langsung ganti baju, cuci muka, cuci kaki, gosok gigi, lalu tidur.

Belum ada jam 4 pagi saya udah kebangun. Dammit jet lag. Saya melek aja trus nyalain Pokemon Go. Di sini banyak Drowzee. Halah. Jam 9 lewat saya mandi dan bersiap ke kampus untuk ambil residence permit dan bikin student card. Urusan beres sekitar jam 11, lalu saya langsung belanja sayur, buah, dan kebutuhan lain di Lidl. Sejak di Belanda dulu nama ini sudah familiar untuk saya karena harganya yang terkenal murah hahahah. Kayaknya kebanyakan deh belanjanya, berat banget bawanya. Sampai asrama istirahat sebentar kemudian janjian sama mas Hendrik dari PPI Greater Manchester. Beliau posting barang di grup fesbuk Garage Sale PPI-GM dan saya ngetag alat masak beliau. Eh gak nyangka dibonusin macem-macem. Ada alat makan, blender (baru!), duvet sak cover dan spreinya, bantal guling, gantungan baju, tempat sampah, dan BUMBU MASAK YANG BANYAK DAN OKE BANGET.

Terimakasih ya Tuhanku. Saya gak perlu lagi beli bantal selimut dan perlengkapan makan. Sebagai bonus, saya juga dikasih kartu anggota supermarket Morrison’s yang setahun ini poinnya sudah mereka kumpulkan. Kali-kali dapet bonusan apa gitu wkwkwk.

Setelah angkut-angkut barang saya makan karena kelaparan. Sebungkus pasta tomat/mozzarella yang mestinya bisa untuk dua kali makan, saya habiskan sekali makan. Hmm kan tadi habis angkut-angkut barang. Boleh dong. Ya terserah lu aja dah.

Anyway, itu dua hari saya di Manchester. Pretty ordinary, isn’t it ? Iya nih saya lagi berusaha ngumpulin semangat. Tapi yang pertama, mari mengatasi jet lag bdbh ini. Jam 8 sore kok ngantuknya gak terkira. Bikin sereal dulu ya pemirsa. Sampai jumpa pada postingan hari kesekian di Manchester berikutnya.

Gula Waxing Gejayan – Review

Saya tuh pertama kali kenal waxing di Belanda dulu, pas iseng ke minimarket dan lihat ada wax strip merk Veet. Satu box kalo gak salah isinya ada 10 lembar strip segede koyo cabe gitu, dilapisi cairan kental macam karamel. Cara pakainya sungguh mudah, tempelkan saja stripnya di bagian yang akan di-wax, tekan-tekan sebentar lalu tarik dengan cepat. Metode ini bener-bener nyenengin karena dalam waktu singkat saja tangan kaki sudah bebas bulu.

Nah di tempat-tempat yang lebih rumit seperti underarm dan bikini region, saya baru pertama kali nyoba waxing dua tahun lalu saat iseng nemu tempat waxing yang gak jauh dari rumah. Rasanya gimana? Ya sakit. Tapi nagih. Bersihnya itu lho, rasanya jadi moodboster yang luar biasa (halah). Saya ketagihan waxing di situ karena mbaknya telaten banget, kalau ada yang belum bersih sehabis di-wax, pembersihan dilanjutkan dengan threading (mencabut bulu dengan menggunakan benang. Kok bisa? Bisa dong! Keren kan?) sampai bersih. FYI di tempat-tempat tertentu, threading ini rasanya lebih cekit cekit dan lebih sakit daripada kalau bulu dioles gula cair panas dan dicabut pakai strip cloth.

Kadang ga sempet waxing di tempat langganan karena tutup jam 5 dan libur di hari minggu, saya pun nyari alternatif salon waxing di Jogja. Beberapa kali nyobain waxing di salon kecantikan yang emang sering saya datangi untuk potong rambut atau krimbat atau body spa, rasanya kurang mantep. Hasil strip-nya gak bersih, dan malah kadang habis itu gak di-threading sehingga malah jadi risih. Minggu lalu saya pulang ke Jogja dalam rangka pamit-pamit sebelum berangkat ke Manchester, dan karena tempat waxing langganan tutup sementara makanya dua bulan terakhir saya belom sempat waxing :(

Dari forum mbak-mbak Female Daily, ada rekomendasi tempat waxing bagus di jogja, namanya Gula. Saya baru tahu, padahal ternyata tempat ini sudah ada sejak empat tahun lalu. Tempatnya pas di pinggir jalan Gejayan, seberang Pasar Demangan, barat jalan. Jadi yang dari arah utara/RingRoad mesti belok kiri dulu ke jalan Solo baru puter balik di depan Wanitatama dan masuk lagi ke jalan Gejayan. Parkirannya juga sempit, karena memang “cuma” kios kecil pinggir jalan yang parkirannya nebeng trotoar.

Masuk ke resepsionis salon, kita disambut ruang tunggu dan meja kasir di mana kita disodori nota berisi jenis2 perawatan beserta harganya, yang harus dicentang sesuai dengan perawatan apa yang kita pilih. Dari situ nanti kita diantar ke lantai bawah untuk menemui kapster yang akan melakukan perawatan.

Saya kan mau waxing sama krimbat ya, jadi sebelum mulai perawatan mbaknya nanya dulu:

“Krimbat dulu apa waxing dulu mbak?”

“Krimbat dulu kali ya”

“Mmm menurut saya mending waxing dulu mbak. Nanti abis sakit di-wax bisa leyeh2 sambil krimbat”

“Wah mbaknya nel uga. oke deh”

Saya ganti baju dan pasang posisi pewe di tempat tidur. Tenang aja, kembennya wangi dan kamarnya tertutup kok. Prosedur waxingnya standar, setelah di-strip mbaknya akan melakukan threading SAMPAI BERSIH dan kalau mbaknya belum puas akan dilanjutkan pake pinset. Bayangkan sodara-sodara, betapa penyiksaan itu seperti tiada henti.

Ya siapa lho yang nyuruh nyiksa2 diri sendiri.

Oke sip. Mbak kapster ini melakukan tiap step waxing dengan sangat sungguh sabar. Kalo saya terlihat kesakitan mbaknya sigap ngolesin lotion anti iritasi dan memijat bagian yang bisa ngurangin sakit. Kok bisa ya. Lha belajar. Piye sih.

Baiklah, pokoknya saya merekomendasikan tempat ini untuk mbak-mbak yang nyari tempat waxing di Jogja.