Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Selalu Ada Yang Pertama

Kerja jadi peneliti ternyata seru sekali. Alih-alih kayak orang kerja biasanya, saya malah merasa jadi kayak mahasiswa. Mahasiswa bergaji :p ya lengkap dengan lembur-lemburnya di lab, deadline-deadline tulisan, laporan, presentasi proposal dan hasil penelitian, dan lain-lain. Termasuk masa-masa bengong nyari inspirasi buat tulisan seperti jaman dulu bikin skripsi. Suatu hari Bapak pernah nanya sebenernya kerjaan saya di kantor itu ngapain, dan saya bingung gimana jelasinnya sampai kemudian saya bilang ke Bapak: “kalo di kantor ya belajar, ngelab dan bikin laporan pak. Sama kayak bikin skripsi, tapi ya jadinya kerjaanku bikin skripsi sebanyak-banyaknya sampe pensiun.”

Jawab bapak, “ooo pantesan tiap bapak SMS kok kamu sering jawab lagi di lab. Bapak mikir, kok kamu ini ngelab terus lha kapan kerjanya.”

Tapi iya. Kira-kira kerjaan saya seperti itu. Di kalangan peneliti kan ada jargon “publish or perish”, yang berarti setiap peneliti harus mempublikasikan tulisan sebagai bentuk produktivitas. Banyak ngelab, banyak penemuan kalau tidak dipublikasikan ya sama aja boong. Nah salah satu bentuk publikasi ini adalah dengan mengikuti seminar atau konferensi. Jadi setelah penelitian dilakukan, hasilnya dipresentasikan di depan publik kemudian makalahnya dimasukkan ke jurnal atau prosiding seminar biar orang lain bisa baca.

Nah dua minggu yang lalu untuk pertama kalinya saya ikut konferensi internasional dan membawa makalah yang ditulis oleh saya dan para senior, tentang sintesa garam lithium bis(oxalato) borate yang digunakan sebagai elektrolit dalam pembuatan baterai lithium-ion. Nama konferensinya ICMST (International Conference on Material Science and Technology) 2014 yang diadakan oleh BATAN di Serpong. Konferensi ini “bertabur bintang” karena menghadirkan keynote speakers dari banyak institusi kece seperti J-Parc Jepang, ANSTO Australia, Tokyo Tech (Tokodai) Jepang, NUS, NTU, dan masih banyak lagi.

Saya yang masih cupu di ranah nanomaterial ini cuma bisa bengong aja waktu keynote speaker lagi menyampaikan kuliah. Topik yang diambil dalam konferensi ini adalah topik sedang hot di kalangan peneliti advanced materials yaitu neutron scattering, battery technology dan solid state ionics. Untuk topik battery technology sih saya masih agak ngerti karena memang penelitian saya juga di bidang itu, tapi saat mereka “memperkecil ukuran” dan memaparkan kuliah tentang neutron dan crystallography, pandangan saya ke big screen di depan kelas jadi nanar dan otak mulai memanas.

Meskipun ada beberapa point yang saya gak ngerti saking canggihnya, tapi saya tahu kalo informasi yang mereka sampaikan itu bagus dan berguna banget untuk diaplikasikan di dalam penelitian. Jadi para keynote speakers ini gak cuma memaparkan penelitian mereka,  tapi basic dan tools apa aja yang bisa digunakan secara general dalam penelitian. Ada salah satu sesi yang bikin saya terharu *halah*, yaitu sesi kuliah Advanced Materials/Spallation Neutron Source oleh Prof. Masatoshi Arai dari J-Parc (Japan Proton Accelerator Research Complex). Beliau menjelaskan tentang gunanya penelitian tentang neutron dan bisa digunakan apa saja oleh peneliti material di berbagai bidang: coating, magnet, baterai, energi, dll.

Setelah Prof. Arai menyelesaikan presentasi selama 45 menit, dibukalah sesi tanya jawab. Salah satu professor dari ANSTO (seperti BATAN-nya Australia) mengacungkan jari, berdiri dan berkata dengan mata berkaca-kaca dan suara tersendat, “I just want to say thank you for your research, for your presentation. It’s beautiful. I know you work hard for it, and I can see your passion through every single thing you say. Once again, thank you.”

Audiens speechless. Prof. Arai di podium hanya menjawab singkat sambil tersenyum dan sedikit membungkuk. Tapi memang, waktu beliau presentasi rasanya ada passion yang besar di situ. Ada semangat yang dia punya, yang menyampaikan bahwa dia mencintai apa yang dikerjakannya. Pengen bisa jadi kayak gitu. Jadi peneliti yang gak gampang bosan mencari tahu tentang sesuatu, dan bertahan bahkan ketika semuanya seperti menemui jalan buntu dan data-data yang kita pegang pun sama sekali gak membantu.

Pulang dari konferensi saya kayak merasa bodoh. Makin saya tahu, kok rasanya makin gak tahu :lol: Jalannya masih panjang. Gak papa. Yang penting tetap berusaha karena selalu ada yang pertama untuk apapun ^^

Wisata Bencana

Hari Sabtu kemarin saya seharian di Jakarta, baru pulang ke Serpong habis Maghrib. Dari stasiun Rawa Buntu saya naik motor ke rumah dan dari perempatan Viktor ke arah Pamulang kok macet banget, gak seperti biasanya. Setelah saya melipir di jalur kiri melewati mobil-mobil yang kena macet, rupanya di deket perempatan Kodiklat TNI ada kecelakaan. Saya gak tahu kecelakaannya apa, cuma ada mobil di pinggir jalan yang depannya ringsek, dan polisi di sana-sini.

Dan tentu saja orang-orang yang nonton di pinggir jalan. Juga orang-orang yang melambatkan kendaraan sekadar melongokkan kepala dari dalam mobil atau tengak-tengok sekitar sambil motoran pelan-pelan. Dari dulu tuh saya gak ngerti kenapa kalo ada peristiwa macem begini kok mesti banyak orang datang untuk nonton. Selain bikin jalanan jadi penuh dan macet, toh kebanyakan dari mereka gak melakukan apa-apa untuk membantu. Kalau jalan macet karena orang-orang pada nonton kecelakaan gini apa gak serem kalau misalnya mobil ambulans jadi terhambat? atau mobil derek? atau pemadam kebakaran?

Emangnya kalo sudah lihat mobil ringsek, darah berceceran, atau potongan anggota tubuh berserakan ditutup koran gitu kenapa sih? Biar bisa menyalahkan? Mau bikin fanfic tentang kronologi kecelakaan? Atau apa? Kadang mereka bukan yang tinggalnya deket-deket TKP lho, ada yang sengaja datang dari RT sebelah karena cuma “pengen lihat tabrakan”.

Kalo emang situ jadi yang pertama lihat kecelakaan ya bagus kalau mau berhenti, membantu korban sebisanya kemudian menghubungi pihak kepolisian dan medis. Bahkan gak papa juga kalo ambil foto (asal bukan disturbing picture) dan nyebar ke socmed siapa tahu ada yang kenal, atau kalo kebetulan korbannya gak bawa kartu identitas. Tapi kalo situ cuma numpang lewat ya plis lah jangan ngerepotin pengguna jalan yang lain. Jangan bikin macet, apalagi ikut-ikutan memarkir kendaraan di pinggir jalan dan menikmati tontonan gratis… wisata bencana.

Ngomong-ngomong soal wisata bencana, untuk kasus-kasus tertentu seperti circle crop (bukan bencana sih ya) atau pendaratan darurat pesawat terbang yang pernah beberapa kali terjadi, saking banyaknya orang pengen lihat sampe banyak yang buka jasa parkir motor/mobil. Ya sisi positifnya sih bisa membuka mata pencaharian buat warga setempat. Tapi kan… tapi…

Ah udah deh.

Mari Bersepeda Lagi

Dua minggu yang lalu, di sela ngurus event dan ngelab saya kok ((( gak sengaja ))) buka olx dan lihat-lihat sepeda yang dijual di situ. Saya bukan penggemar sepeda yang turing antar kota antar propinsi, tapi ya cuma sepedaan buat seneng-seneng dan olahraga. Eh kok ada yang lucu. Eh lalu saya ((( gak sengaja ))) sms penjualnya, nanya harga nett. Udah terlanjur suka sama sepedanya, saya gak peduli waktu penjualnya bilang kalo sepedanya gak bisa dikirim ke Serpong tapi harus diambil langsung.

Diambil langsungnya ke… Karawaci, Tangerang Kota. Okesip. Jadilah begini perjalanan saya hari Sabtu lalu.

Setelah sarapan oatmeal pake susu coklat dingin, saya berangkat dari rumah jam 8 kurang pake jins longgar, jersey pink juve, jaket tipis dan sneakers snoopy (iya snoopy-nya harus disebutin). Niatnya jalan kaki sampe depan komplek sekalian pemanasan, tapi apa daya di satpaman cluster ditawarin ojek. Ah lemah kamu. Sampe gerbang komplek saya naik angkot ke perapatan Muncul, lalu oper angkot jurusan Kalideres. Sesuai arahan dari istri penjualnya saya nanti harus turun di pertigaan sebelum Samsat Karawaci. Mana pula itu…

Pokoknya waktu itu saya ikut kata hati aja. Turun di pertigaan, kemudian (lagi-lagi) sesuai petunjuk Bapak Presiden istri penjual sepeda saya harus oper angkot R11 sampe perapatan Cemara, lalu oper lagi D02 sampe gang deket rumah. Huft. Untung beberapa hari sebelumnya saya udah survei ke sini naik motor jadi gak terlalu asing lah sama daerahnya.

Sampailah saya di rumah si penjual… Ngobrol ina inu dikit, bayar, nebeng pipis, lalu saya siap gowes. Selama beberapa hari sebelom ke Karawaci ini saya rajin smsan sama om Warm yang udah pesepeda senior buat minta diajarin gimana cara sepedaan yang bener. Intinya, om Warm bilang “jangan ngebut, yang sabar, make the road like a heaven…”

Perjalanan Karawaci – Serpong saya tempuh dalam 3 etape *halah*

1. Karawaci – Gading Serpong

Yang paling susah di etape ini adalah persimpangan Islamic Centre (dekat Lippo Karawaci) yang macet dan semrawut. Beberapa kilometer pertama saya baru menyesuaikan diri sama sepedanya: setting seat post, posisi tangan di handle bar dan shifting gear depan-belakang. Lepas dari Islamic Centre masuk ke area Gading Serpong jalanannya muluuuus banget. Di komplek elit ini juga ada jalur khusus sepeda, digaris kuning sebagai pemisah dari jalan utama. Saya istirahat sebentar di perbatasan Gading – BSD buat minum, wasap wasap dan popotoan.

2. Gading Serpong – Stasiun Serpong

Nah etape kedua ini yang bikin saya rada takut. Keluar dari Gading, saya masuk BSD yang jalanannya mulai naik turun dan gak rata. Di Foresta masih asik lah, tapi setelah belok kanan di perempatan McD ke arah stasiun Serpong saya langsung ngebatin “this is it”. Trek menantang dimulai dari tanjakan setelah lampu merah. Gak terlalu curam tanjakannya, tapi panjang dan aspalnya rusak. Di tanjakan ini saya mulai ngos-ngosan sambil belajar shifting dan nyari posisi gear yang nyaman buat nanjak. Setelah tanjakan usai, tantangan berikutnya adalah nyeberangin rel stasiun Serpong dan Pasar Serpong. Gak sampe 500 meter sih, tapi kerusakan aspalnya cetar membahana (beberapa ada yang bolong sampe kedalaman 30 cm dengan diameter 1 m) dan macetnya gak kira-kira karena banyak angkot ngetem dan tukang jual sayur menggelar dagangan di pinggir sampe setengah badan jalan. Setelah melewati trek ini dengan selamat saya pun melipir ke warung bakso, pesen bakso urat dan semangkok es teler.

Baksonya enak. ENAAAAAAK BANGEEETTT. Entah emang enak atau karena saya lagi lapar. Oiya kaki saya rasanya mulai lucu. Gak pegel sih. Lucu aja. Aneh gitu. Kayak mau lepas.

3. Stasiun Serpong – Rumah

Kenyang ngebakso rasanya pengen naik taksi aja pulang. Hahaha. *tampar diri sendiri*

Karena langit mulai mendung dan saya mulai kebelet pipis jadi ajah etape terakhir ini saya gowes lebih kenceng, biarpun udah capek. Dari Batan Indah saya belok kiri lewat Viktor, jadi gak lurus lewat perapatan Muncul karena ogah sama tanjakan di depan Puri Serpong. Capek cuy :lol: Di Viktor saya mampir Alf*amart bentar beli minum dan anu-anu yang lain, baru lanjut ke rumah. Sebelum masuk gerbang komplek ada tanjakan sedikit sebelum turunan; di situ energi saya rasanya udah habis (baksonya tadi kemana sih) dan rasanya udah pengen nuntun sepeda aja, tapi lalu gear saya kecilin dan gowes pelan-pelan aja yang penting nyampe.

Akhirnya… Gerbang komplek. Satu kilometer terakhir yang rasanya kayak Jakarta – Bandung *lebay*. Sampe satpaman cluster mata saya mulai berkunang-kunang, dan sampe rumah saya langsung menghambur ke kamar mandi.

I DID IT!!!

Ini gowes pertama saya sejak tahun 2011 lalu waktu saya pernah punya sepeda lipat, yang akhirnya saya jual karena gak nyaman lagi pake sepeda lipat dengan dengkul KW macem begini. Not bad lah. Total waktu tempuh 3,5 jam (sudah termasuk ngebakso 20 menit) dengan jarak tempuh 30 km. Stamina lumayan stabil sepanjang jalan, kecuali perasaan lapar aja pas jam makan siang. Di karpet ruang tamu saya langsung lurusin kaki, berbaring dan minum air banyak banget sambil ngademin badan. Setelah rada ademan barulah saya mandi keramas, showeran sambil duduk karena kakinya masih lucu. Berasa kayak abege mandi sambil menggalau gitu. Sabtu sore kaki saya rasanya masih aneh tapi udah gak sepegel tadi siang. Saya kira bakalan berasa sakit esok harinya, tapi surprisingly hari Minggu malah udah biasa aja. Betul juga kata om Warm, posisi sadel emang banyak banget berpengaruh.

Kesan saya sepedaan pertama kali ini… Masih membiasakan diri dengan sadel dan shifting. Lalu karena keseringan naik motor jadinya suka reflek ngeliat setang… nyari spion kanan dan kiri. Masih rada takut juga nyeberang dan sepedaan di jalan raya, tapi sudah belajar aman dengan pake sarung tangan dan helm.

Oiya buat yang pengen tahu, sepeda saya yang di foto itu Polygon Cleo 3.0, women edition dari Polygon keluaran tahun kemarin. Ukurannya M, frame 16″. Shift lever pake Shimano Alivio 27 speed, FD dan RD-nya enteng. Tire Kenda Koyote, 26″ x 2.10″. Crankset 175 mm, sejauh ini sih cukup nyaman buat dimensi badan saya yang cuma segini. Bodi sepedanya enteng pake banget, saya kuat aja tuh nenteng sepeda dari teras ke dalem rumah.

Sebelum beli sepeda ini saya menimbang-nimbang apakah mau beli city bike aja atau MTB kalo cuma mau dipake gowes olahraga atau bike to work. Lalu mengingat aspal Tangsel yang ya-gitu-deh kayaknya kok gak tega sama city bike, jadi aja beli MTB sekalian dengan risiko lebih berat di jalan.

Oke deh semoga gak cuma segini tapi bisa terus rajin sepedaan, syukur-syukur mau rutin B2W seminggu sekali atau dua kali. Demi Indonesia Sehat dan irit pertamax!!!

Pulkam Pertama!

Jadi anak rantau selama 16 tahun, baru kali ini saya menikmati (ya dinikmati lah, mau gimana lagi) pengalaman mudik yang sebenar-benarnya. Selama ini ya mudik saya cuma dari Solo ke Karanganyar, Jogja ke Karanganyar dan waktu tinggal di Belanda dulu mudiknya dari Amsterdam jadi gak gitu kerasa juga. Tahun ini saya mulai berdomisili di Serpong, jadi mau gak mau harus ikut dalam tradisi tahunan para perantau yang biasanya tiap tahun cuma saya pantengin di tivi sambil ngebatin “yak ampun mau-maunya mereka ini tersiksa di jalan”.

Tahun ini giliran saya menyiksa diri di jalan. Cerita mudik saya dimulai sejak 3,5 bulan yang lalu, saat H-90 arus mudik dimulai dan penjualan tiket kereta online dibuka. Pukul 00:00 saya harus sudah siap berebut tiket dengan para mudikers yang lain, jadi saya sudah standby di depan henpon sejak pukul 22:00. Gak pake laptop karena waktu itu saya lagi diklat prajabatan CPNS di Cibinong. Pukul 23:55 saya coba akses website PT. KAI dan servernya sudah jebol, connection time out pertanda terlalu banyak yang mengakses. Pukul 00:00 situasi makin menggila; jangankan website PT. KAI, website online booking manapun sama aja nasibnya: tiket.com, aplikasi Paditrain, dan call centre KAI di nomor 121. Saya refresh-refresh terus tetep aja gak bisa akses, sampai pukul 02:00 saya menyerah. Capek refresh dan lagipula saya harus bangun jam 04:30 untuk persiapan senam dan apel pagi. Saya whatsapp si adek di Bintaro yang lagi hunting juga, dan nitip ke dia gimanalah caranya.

Pagi harinya baru saya dikabari kalo si adek dapet tiket kereta ke Jogja tapi via Bandung. Gak papalah. Kami sekalian beli tiket Gambir – Bandung sebelum kehabisan. Cerita serupa kami ulangi minggu berikutnya, demi mencari remah-remah tiket balik yang tersisa. Hasilnya sama aja… dapet tiketnya via Bandung. Yah daripada gak mudik.

Jujur aja saya mau nangis waktu lagi rusuh refresh-refresh itu, kok mau mudik gini banget sih perjuangannya. Dan kenapa saya maksain naik kereta? Karena dari dulu saya paling nyaman naik kereta. Naik bus saat arus mudik saya gak akan mau karena tidak bisa diprediksi akan berapa lama stuck di jalan, sedangkan buat naik pesawat budget saya yang belom sampe… maklum waktu itu belom gajian. *eh

Fast forward beberapa hari sebelum lebaran, waktunya pulang. Rute saya lumayan panjang… dari rumah di Pamulang 2 ke kantor di Serpong (nitip motor) – bermobil nebeng teman ke Stasiun Rawa Buntu – KRL  ke Stasiun Tanah Abang – ngojek Stasiun Gambir – lanjut Argo Parahyangan ke Stasiun Bandung – Lodaya Malam ke Stasiun Tugu – baru bermotor pulang ke Karanganyar.

Kereta Argo Parahyangan telat datangnya ke stasiun Gambir, jadi berangkat dari Gambir juga telat sekitar 45 menit. Sampai di Bandung lebih telat lagi, sekitar 1 jam. Kereta Lodaya Malam sih on time berangkatnya, cuma sampai di stasiun Tugu telat sekitar 1,5 jam. Btw selama beberapa tahun saya bolak balik Jakarta – Jogja atau Bandung – Jogja rasanya belum pernah deh kereta nyampai tujuan tepat waktu. Pasti telat minimal 30 menit.

Hore jadi lebaran di rumah. Tapi katanya mudik itu kurang seru kalo gak ada drama.

Semuanya berawal saat saya sampai di Jogja dari Bandung. Saya sudah print tiket balik dari Jogja ke Bandung, tapi belum print yang dari Bandung ke Gambir. Jadi aja turun kereta jam 04:00 saya langsung ke mesin cetak tiket mandiri (CTM) di depan kantor CS. Saya masukkan kode booking dan klik “cetak” tapi lalu mesinnya langsung log off. Saya sih gak berpikiran macam-macam, cuma ngebatin ah nanti ajalah kalo mau balik baru print lagi. Lagipula kantor CS juga jam segitu belum buka.

Fast forward ke minggu depannya. Kereta saya ke Bandung, Lodaya Malam, take off jam 19:44, jadi siangnya saya sempatkan datang ke stasiun Tugu buat print ulang tiket Argo Parahyangan Bandung – Gambir karena sepertinya akan mepet sekali sampenya. Jadi menurut jadwal saya akan sampai Bandung sekitar pukul 03:44 sedangkan kereta lanjutan ke Gambir berangkat pukul 05:00. Paling telat setengah jam sampe sejam deh. Saya langsung njujug mesin CTM untuk ngeprint, dan setelah kode booking dimasukkan, muncul pop up warning yang mengatakan bahwa tiket tidak bisa diprint ulang jadi saya harus melapor ke customer service.

#DisiniDramaDimulai.

Saya jelaskan kronologi dari awal, dan mbak CS bilang tidak bisa issue tiket pengganti di Tugu karena tiket yang saya minta keberangkatannya dari Bandung. Saya tanya gimana prosedur minta tiket di Bandung? Mbaknya bilang cukup dengan menunjukkan KTP dan fotokopinya. Saya tanya lagi, “yakin mbak cuma KTP, gak pake surat lain-lain lagi?”. Muka mbaknya berubah jadi rada masam, dan diapun menelepon entah kemana. Setelah selesai telpon (yang ternyata dia menelepon stasiun Bandung), si mbak bilang kalo saya harus membuat surat keterangan kehilangan di kepolisian untuk nantinya ditunjukkan ke CS stasiun Bandung. Ya saya spontan bilang “lha yang ngilangin tiket saya mesinnya, kok saya yang disuruh ngaku ke polisi?”

Muka si mbak makin asem.

Ya udah saya langsung nggeblas ke kantor polsek Bulaksumur (cuma ini polsek yang saya tahu lokasinya karena dekat kampus UGM hihihi) minta surat kehilangan dan membayar seikhlasnya. Di jalan saya ngetwit juga dengan cc ke akun @KAI121, yang langsung direspon dengan baik. Admin KAI121 juga langsung menawarkan saya untuk komplain via email ke kontak_pelanggan@kereta-api.co.id. Komplain lah saya di email tentang ini itu, bahwa glitch di sistem online bisa saja merepotkan apalagi kalau waktu penumpang sudah mepet. Masa ya kalo sudah mau berangkat lalu kejadian kayak saya tetep harus ngurus ke kantor polisi, endebrey endefrey. Tapi ya memang sih, karena itulah PT. KAI menghimbau penumpang agar menukarkan tiket maksimal 1 jam sebelum keberangkatan… just in case.

Jam 18:00 saya siap-siap berangkat ke stasiun saat ada telpon masuk dari nomor 021-29931111, mas Wisnu dari CS PT.KAI. Beliau menjelaskan bahwa stasiun Jogja memang tidak dapat issue ticket karena bukan departure point, dan kalau mau issue ticket di stasiun lain harus dengan surat kehilangan. Beliau juga minta maaf karena sudah merepotkan saya padahal mesinnya yang ngilangin, dan menginformasikan bahwa PT. KAI sudah berkoordinasi dengan Polsuska (Polisi khusus KA) Bandung yang membuatkan saya surat kehilangan jadi saya cuma harus datang ke CS stasiun Bandung bawa KTP aja. Mas Wisnu juga mengingatkan bahwa PT. KAI tidak bertanggung jawab atas keterlambatan yg mungkin terjadi, dan menyarankan lain kali kalau beli tiket lanjutan dikasih jarak paling tidak 3 jam.

WOW. Biarpun sudah basi kayak mading yang terlanjur terbit, tapi saya mengapresiasi pihak PT. KAI yang berkenan going the extra miles untuk mengurangi kerepotan pelanggannya. Setelah ini sih saya harap sistemnya dibenerin lagi biar gak terlalu banyak orang dilibatkan. Toh sistem sudah online, jadi mestinya issue ticket bisa dari mana saja. Kalau untuk mencegah penggunaan tiket yang di-print lebih dari sekali kan sudah ada prosedur scan barcode di boarding gate, jadi tiket dengan nomor barcode yang sama tidak akan bisa masuk. Dan untuk ini saya setuju dengan peringatan dari PT. KAI melalui balasan email dan mention ke saya yang menjelaskan bahwa sebaiknya tidak publish kode booking di media sosial karena sifatnya rahasia.

Ya begitulah. Saya boarding kereta Lodaya Malam dari stasiun Tugu menuju Bandung dengan perasaan yang sudah lebih lega tapi juga sedih karena jadi LDR lagi dan memutuskan untuk tetap jadi pelanggan setia PT. KAI. Bukan karena lihat berita pak Jonan bobok di kereta ekonomi, tapi emang sejak tiket kereta Gajayana 170 ribu sampai sekarang jadi hampir setengah juta rupiah saya selalu senang pergi-pergi naik kereta, apalagi sekarang keretanya jadi tambah oke dan bersih. Cuma ya itu aja… gimana lah ngaturnya, tolong waktu kedatangannya jangan molor-molor lagi dong. Keburu kangen. Halah.

Begitulah pengalaman pulkam pertama saya. Terimakasih ya, PT. KAI.

Eh jadi akhirnya gimana di Bandung? Anu… kereta Lodaya nya telat 2 jam lebih sampai di Bandung jadi aja saya ketinggalan kereta ke Gambir. Harusnya sampe Bandung jam 03:44 eh jam 04:30 baru sampe Rancaekek. Ya udah sih saya langsung telpon Cipaganti nanya travel ke Serpong dan untungnya mereka masih punya 1 seat buat jam 6 pagi. Sampe di Bandung jam setengah 6 saya langsung cuss ke pool Cipaganti di Pasteur Point. Lancar sampe Serpong? Ya enggaklah… Macet parah di Cipularang dan barulah saya sampe di BSD jam 11 kurang. Masih harus naik taksi ke kantor ambil motor, dan bermotor ke Pamulang. Lelah, tuips :’)

Pengalaman itu memang mahal harganya…. literally. Terimakasih buat adek saya yang udah begadang pesenin tiket, buat PT. KAI yang sudah bikin mudik saya penuh warna, dan tentu saja mas pacar yang rela nyetirin sana sini sambil dengerin saya ngomel. Sampai jumpa lagi di cerita pulkam tahun depan.

Kalian Gila Semua… Hahaha

Sejak pertama diumumkan jadwal diklat prajabatan, pikiran saya langsung aneh-aneh. Udah kebayang itu prajab tiga minggu isinya pelajaran di kelas melulu dari pagi sampai malam, dan god knows what di kelas disuruh ngapain aja. Belum lagi cerita dari temen di fisika yang udah ikut prajab gelombang pertama tentang gimana training di Rindam Jaya… makin males.

Diklat prajab saya diadakan di pusdiklat di Cibinong. Jadi selama 24 hari itu kita diasramakan. Lumayan lah, makan tidur gratis. Kami seangkatan ada sekitar 240 orang sebenarnya, tapi karena kebanyakan jadi prajab dibagi jadi dua gelombang. Gelombang 2 sendiri ada 119 orang, dibagi jadi 3 kelas. Saya masuk kelas C yang jumlahnya 39 orang. Pertama lihat daftar nama anggota kelas C, saya tersenyum karena ada beberapa orang yang namanya sudah gak asing lagi karena waktu orientasi dulu satu kelompok. Dulu sih belum kenal-kenal amat tapi saya taunya mereka orang-orang yang menyenangkan dan bisa bikin suasana menyenangkan juga. Good sign, pikir saya.

Tapi hari pertama prajab saya sudah bosan dan gak merasa excited sama sekali. I don’t particularly like crowds. Di satu moment sharing dengan teman-teman kelas C saya bahkan bilang “saya gak terlalu suka manusia”. Well. Membayangkan bersama-sama banyak orang selama 24 hari terus menerus mulai dari subuh sampai hampir tengah malam rasanya sumpek buat saya. Bahkan di kamar aja kami harus bertiga. Saya terbiasa dengan ritme rumah-kantor-rumah yang memungkinkan waktu me-time di rumah. Tanpa orang lain menginvasi daerah Ring 1 saya yang radiusnya cukup lebar dibandingkan orang lain.

But I guess I’m good at faking things, biarpun beberapa orang bisa baca kalau saya sedang badmood karena bener-bener perlu waktu sendirian. Saya bisa berusaha ramah dan tetap mingle dengan teman-teman sekelas maupun di luar kelas.

Minggu kedua setelah pulang dari Rindam Jaya, semua berubah. Saya heran kenapa semua orang masih membawa semangat yang sama seperti saat mereka baru registrasi. Memalsukan senyum dan berusaha tetep care sama orang lain itu gak mudah, lho. Apalagi harus ketemu mereka setiap saat: bangun tidur, senam pagi, sarapan, apel pagi, kelas, makan siang, kelas, makan malam, apel malam, latihan bareng sampai jam 10 malam…

I can’t believe you guys changed me a lot. Sialan kalian semua, bikin kangen…

Yang bikin pelajaran di kelas isinya ketawa mulu karena dipenuhi simulasi pake drama, yang ngerumpi di lobby sampe ditegur satpam, yang saking kelaparannya sampe delivery fast food, yang saling bikin mupeng karena rebutan popmie, dan tentu saja cinta segi banyak di antara kalian… Hahahaha.

Awalnya saya pikir saya gak akan bisa nikmatin prajab karena gap umur mungkin akan bikin saya gak nyambung (aduh ketahuan kalo sudah tua). Saya cuma pengen ikut kelas, ujian, lulus prajab, udah. Gak kepikir buat peduliin orang-orang di dalamnya. But boy was I wrong. I fell in love with all of you guys. Thank you thank you thank you.

Momen terakhir saat kita duduk di meja pingpong usai upacara penutupan itu… I hate it. I’m not good at handling goodbyes. I wish that moment would freeze and we stayed that close. People said “life goes on, people change” but I hope we still have what we had in those magical 24 days. Kelas kita nyaris jadi juara umum, tapi kita dapat yang jauh lebih berharga dari sekadar gelar juara dan botol minum. Blog post ini pun gak bisa menampung apa yang ada di pikiran, yang jelas saya nulisin ini biar jadi penanda, bahwa pernah ada masa di mana kita dipertemukan dan semoga tetap jadi saudara sampai nanti ada yang jadi deputi, menteri, atau bahkan presiden. Beberapa mungkin malah jadi nemu jodoh. Hehe. Amin.

Baru saja berakhir, hujan di sore ini…