Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Digg button

Terjebak Masa Lalu

Bukan posting galauan kok… serius. Saya cuma pengen cerita tentang “kegiatan sampingan” di waktu senggang beberapa minggu ini yang mengingatkan saya pada kegilaan beberapa tahun yang lalu.

Namanya Instagram.

Iya ini basi. Akun sih sudah lama ada, tapi males install apps-nya. Tapi karena penasaran jadi saya install juga di Xperia M2. Karena saya gak gemar poto-poto dan aplod-aplod, jadi saya berdayakan instagram ini buat… belanja online. Pertama-tama sih cuma nyari beberapa item yang emang saya butuhin, kemudian nemu banyak olshop lucu dan murah, lalu malah jadi eksplor lebih dalam di kategori preloved. *halah*

Hanya dalam waktu tiga minggu, aktivitas saya di instagram meningkat drastis. Dari yang sebelumnya cuma browsing akhirnya install Line hanya karena barangnya sungguh lucuk dan sellernya cuma ngasih ID Line (saya prefer Whatsapp, BTW). Sampai kemudian satu persatu barang datang ke alamat kantor dan saya mulai diapalin sama resepsionis kantor yang rajin nelpon ke ruangan, ngabarin kalau ada paket buat saya.

Huh. Saya lalu jadi ingat beberapa tahun lalu waktu masih tinggal di Belanda.. saat itu saya ketagihan belanja di eBay, baik eBay Netherlands atau UK. Kadang beli barang yang memang must-have, tapi seringnya beli yang cuma masuk kategori nice-to-have. Ini nih yang bikin barang saya membengkak dari 1 koper besar jadi 1 koper besar plus 8 kardus besar saat pulang for good ke Indonesia. Saat itu entah kenapa membeli barang lucu-lucu itu rasanya senang. Lebih senang lagi saat unpacking barang. Kadang seneng sama barangnya, kadang kecewa karena satu dan lain hal. Tapi saya tidak suka jualan, jadi kalau saya gak suka barangnya ya tetep dibiarin di situ atau dikasih ke siapa yang mau.

Kembali ke Instagram… Saya tahu kapasitas saya seperti apa. Lemah ngeliat baju, sepatu dan gadget dapur lucu. Sebelum semuanya terlambat, saya berhenti browsing barang jualan sista-sista dan uninstall Instagram dari hape. Sesekali kalau lagi pengen liat barang lucu sih palingan buka versi web di iconosquare, tapi karena gak praktis ya jadinya sudah jarang browsing Instagram.

Retail therapy itu menyenangkan, tapi kalau gak hati-hati ya berpotensi bikin kecanduan. Emang dah.. Too much love will kill you.

Ovenless Project

Selama beberapa bulan saya dipameri diupdate mb Wenny tentang masakan-masakan yang dimasaknya di oven. Iya dia punya oven di kosan. Kok trus pengen punya oven juga… tapi setelah lihat berapa watt oven-oven yang dijual di pasaran itu kok ya trus membayangkan sekian watt kali sekian jam ngoven kali sekian rupiah (FYI setelah naik 4 kali tahun ini, subsidi PLN untuk rumah tangga sekian kVa akan dicabut) saya jadi mengurungkan niat. Akhirnya nyari-nyari resep masakan lucu-lucu yang gak mengharuskan saya pake oven.

Percobaan pertama adalah banana bread yang dimasak pakai rice cooker. Idenya didapat dari sini, saya cuma modif ukurannya biar sesuai sama rice cooker yang saya punya. Everything went smooth until I poured the batter into the pan and started cooking. Rice cooker saya Cosmos kecil yang cuma punya satu pencetan dan dua lampu: cook dan warm. Karena kue tidak melepas banyak uap air seperti saat memasak beras, jadi bolak balik reskukernya njegleg ke mode warm, dan mau ndak mau saya mesti balikin dia ke mode cook. Seharusnya proses ini cuma satu jam, tapi kira-kira setelah 30 menit njeglegnya jadi makin sering. Yang tadinya saya masak sambil nonton film di ruang tamu, jadinya saya duduk di lantai dapur nungguin reskuker njegleg.

Tapi okelah. Selalu ada yang pertama untuk semua hal. Banana bread saya jadinya begini:

rice cooker banana bread

Teksturnya gak spongy seperti cake biasanya. Yang ini rada lembek dan padat. Saya gak terlalu paham apa memang harusnya jadinya begini atau harus gimana, tapi rasanya enak. Pisang banget. Ya iyalah saya pake dua pisang sunpride gede-gede untuk satu cup terigu. Gula sih ndak saya kasih banyak-banyak karena sudah ada rasa manis dari pisang dan toh saya gak terlalu suka manis. Yang bikin saya terkesan adalah crust yang terbentuk di pinggir dan bawah kuenya… cantik dan gak ada rasa gosong sama sekali.

Resep banana bread versi saya:

1) Campurkan 1 cup tepung terigu, 1/2 cup gula putih, 1/4 sdt baking powder, dan 1/4 sdt  baking soda dalam satu wadah. Aduk rata.

2) Lelehkan butter (mentega juga boleh) di panci, lalu campurkan dengan 1 buah telur ayam, dan 1/4 gelas susu cair dalam wadah terpisah. Aduk rata.

3) Hancurkan dua buah pisang sunpride besar, lalu campurkan dengan bahan cair.

4) Campurkan bahan cair dan padat dalam satu wadah sampai merata, tapi jangan terlalu lama. Masukkan tambahan bahan yang disuka, seperti kismis, choco chips, meses, sukade, atau apa aja. Saya sih pake choco chips.

5) Olesi bagian dalam pan reskuker dengan minyak atau mentega, kemudian masukkan adonan sampai rata.

6) Nyalakan rice cooker dalam mode cook, dan pastikan dia dikembalikan ke mode cook setiap kali njegleg ke mode warm.

7) Proses memasaknya biasanya memakan waktu 1 jam, dan selama proses ini JANGAN MEMBUKA RICE COOKER sama sekali. SAMA SEKALI. Setelah 30 menit biasanya bau pisang langsung menguar ke seluruh ruangan, yang berarti kuenya berhasil dimasak. Tapiiiii… untuk memastikan, setelah satu jam cek dulu dengan menusukkan tusuk gigi ke dalam kue. Kalau tusuk giginya keluar dengan bersih, berarti bagian dalam sudah matang. Kalau belum ya masak lagi. Pake insting deh. Hahaha.

8) Untuk mengambil kue dari dalam pan, jangan korek-korek dengan pisau biar pan tidak tergores. Pakailah spatula kayu atau plastik untuk memisahkan kue dari pan. Taruh piring di atas pan, dan balikkan pan dengan hati-hati. Harusnya kuenya bisa turun dengan smooth.

x x x x x

Oke? Oke? Berhasil? Lanjut ke project kedua ya. Pagi ini saya nemu resep PIZZA tanpa oven dan pengen langsung nyoba. Resepnya diambil dari sini.

Bahan dasarnya gampang: 1 cup tepung terigu, 1/4 sdt baking powder, 1/4 sdt ragi (rendam dulu dalam air hangat selama 5 menit sebelum mencampurnya ke dalam adonan), dan 1/4 sdt garam. Campur bahan ini sampai rata, kemudian masukkan air sedikit demi sedikit dan uleni adonan sampai kalis. Masukkan adonan dalam wadah tertutup dan diamkan selama 1 jam.

Untuk toppingnya, terserah sih mau pakai apa tapi saya lagi dalam mode darurat dan cuma pake apa aja yang ada di kulkas. Sebutir tomat saya cincang, lalu saya tumis pakai saos sambel, ayam, bawang merah dan bawang putih yang diberi sedikit kaldu sampai mengental. Hasilnya jadi kayak saus bolognaise gitu deh. Di atasnya saya kasih keju kr*aft singles yang diparut. Karena pakenya yang singles jadi ya parutannya gak bisa rapi.

Nah. Setelah sejam harusnya adonan sudah mengembang. Tinju adonan sampai kempes lagi. Mari kita menyiapkan wajan teflon. Punya saya yang diameternya 22 cm. Olesi dengan minyak atau mentega, lalu ratakan adonan pizza yang sudah dibuat. Terserah kita aja sih mau dibuat tebal atau tipis, sesuaikan dengan diameter wajan. Masukkan topping ke atas adonan, lalu panggang wajan di atas kompor api kecil sampai matang. Punya saya sih matangnya setelah sekitar 20 menit. Oh iya selama memanggang pizza, wajan harus ditutup yang rapat ya. Wajan saya sih gak ada tutupnya, jadi saya tutup pake… wajan cekung. Begitulah. Jadi begini bentuk pizzanya. Adonan yang saya pake di sini sepertinya kurang terigu, jadi rada tipis. Resep yang di atas itu sudah saya sesuaikan jumlahnya.

Thin crust teflon pan pizza

Tabung LPG Bocor

Namanya juga tinggal sendirian di rumah, jadi yang begini-begini ini suka bikin panik. Ceritanya kemarin sore saya beli tabung gas 3 kg buat ganti yang baru abis di rumah. Udah beberapa hari sih habisnya tapi saya males beli gas karena toh masih bisa masak pake rice cooker. Nah sore itu saya kok pas pengen bikin tumisan, jadi ya udah diniatin mancal motor beli gas ke toko di rumah ujung blok (halah ya cuma selisih beberapa rumah aja malesan) meskipun bisa aja masak di rice cooker.

Prosedur utama yang harus dilakukan setelah mengganti gas adalah mengendus sekitaran sambungan tabung dan regulator dan mendengarkan apakah ada kebocoran. Saat coba nyalain kompor, tercium bau tajam gas elpiji tapi saya abaikan karena biasanya memang suka sedikit bau gas pertanda gasnya sedang mengalir dari tabung ke kompor. Tapi trus saya mendekat ke tabung gas dan ternyata ada suara desisan halus. Langsung kompor saya matikan dan kipas angin saya nyalakan untuk sirkulasi udara (di dapur gak ada ventilasi langsung ke luar ruangan).

Kepala regulator saya lepas lagi, dan saya mencoba mengganti seal tabung barangkali seal-nya yang bermasalah. Memang disarankan untuk stok seal tabung ini just in case seal tabung gas dari distributornya sudah jelek dan perlu diganti. Biasanya sih seal harus diganti saat bentuknya sudah keras dan getas, tidak elastis. Seal yang sudah keras tidak bisa mengikuti bentuk jarum penahan regulator sehingga menimbulkan potensi kebocoran gas.

Kembali ke tabung saya yang bocor tadi. Seal udah diganti dua kali, tapi kok masih aja suara mendesisnya masih kedengaran. Akhirnya mulut pipa tabung elpiji yang nyambung ke regulator saya rapatkan dengan menggunakan selotip pipa PVC. Niatnya sih biar regulator dan klemnya bisa menempel lebih rapat. Berhasil. Memang jadi lebih rapat, tapi kok masih ada suara desisan dari regulator. Saya menyerah dulu; regulator saya lepas lagi dan mulut tabung saya segel pakai selotip.

Setelah leyeh-leyeh di depan tivi sambil makan gorengan, barulah terpikir untuk tes kebocoran pake cara primitif: air sabun. Segel tabung saya bongkar dan regulator saya pasang lagi. Menggunakan spons cuci piring saya olesin sambungan-sambungan regulator ke tabung dan selangnya pake air sabun. Gak ada gelembung muncul, yang artinya gak ada indikasi kebocoran gas. Tapi masih ada suara desisan. Saya teteskan lagi air sabunnya, kali ini rada banyak sampe nyiram kepala regulator.

Ada gelembung muncul… di las-lasan antara kepala regulator dengan pressure gauge (indikator penunjuk tekanan di dalam tabung). Oh rupanya ini yang bocor. Saya teteskan lagi air sabun yang berbuih untuk sekali lagi memastikan kebocoran… Confirmed. Karena gak mungkin juga ngelas regulator akhirnya saya lepas lagi dan saya pergi ke minimarket depan komplek buat beli kepala regulator baru. Gak bisa milih juga sih, adanya cuma yang merk K*enmaster dan berharap yang ini gak bocor.

Sampe di rumah, tabung gas saya modif sedikit. Seal tabung gas yang lama saya potong dengan ketebalan 1-1.5 mm. Seal tipis ini saya masukkan sebelum memasukkan seal baru. Regulator saya pasang, dan memang hasilnya lebih rapat daripada kalau cuma pakai satu seal. Setelah regulator terpasang, SOP mengendus dan mendengarkan suara hati tabung gas hasilnya bagus. Sudah tidak ada kebocoran lagi.

Tapi akhirnya sudah males masak. Saya cuma makan pisang dan ayam yang dikukus di rice cooker aja. Masak memasaknya besok deh.

Beauty Is Pain

Weekend kemarin saya gak kemana-mana sama sekali. Lagi males kemana-mana dah rasanya. Sabtu berlalu seharian cuma makan – nonton – online shopping di instagram – tidur – baca buku – repeat. Hari Minggunya pun gak ada bedanya. Eh ada ding, hari Minggu bayar-bayar barang yang kemaren udah booked *eh*

Sore saya merasa pengen kemana gitu. Di tengah beberes kardus baju sambil marathon The Big Bang Theory dan BBM-an sama yang di seberang lautan sana, kok ya terus terpikir pengen waxing. Ahem. Gak lama browsing dapet juga salon waxing di BSD, punya Andhara Early. Mandi lah saya, dan tidak lupa pake rok saja. Manasin motor yang rada adem karena gak dinyalain sejak jumat sore, saya jadi ragu… emangnya kuat waxing? Ya jaman masih di Belanda sih sering waxing tangan dan kaki sendiri pake Veet waxing strip (di sini belom ada produknya, baru yang buat shaving doang). Jadi sudahlah, hadapi saja. Lagian seberapa sakit sih waxing kalau dibandingkan dengan patah hati?

Rada susah nyari tempatnya, karena salon waxingnya ada di dalam kafe. Bukan kafe sih.. lebih seperti warung. Bukan warung juga, karena di dalam ada travel agent (atau apa ya? lupa, londri, dan gerobak makanan gitu. Sempet gak yakin juga awalnya. Akhirnya saya masuk dan nanya ke mbaknya apakah masih buka. Mbaknya bilang masih. (Pertanyaan macam apa ini. Tapi kalo mbaknya bilang tutup saya gak akan nanya “lha kok mbaknya masih di sini?” kok. Yakin)

Oke. Setelah melihat pricelist (dan mereka-reka tinggal berapa uang di dompet) saya memilih waxing underarm dan brazilian. Waktu waxing yang di underarm sih yaaa.. masih cincai lah. Bahkan saat threading sesudahnya. Nah setelah itu datanglah yang ditunggu-tunggu. Saat tarikan pertama saya masih oke-oke aja. Tarikan kedua rasanya pengen nendang mbaknya. Tarikan ketiga yang paling sakit, sampe kayaknya berasa sedikit lebih sakit daripada kalo lagi kangen dan jadwal ketemuan masih lama. Setelah itu udah gak kepikir lagi sakitnya waxing. Tapiiii saat threading ya ampun sakit bener. Mestinya waxing dan threading bisa jadi salah satu alternatif penyiksaan tawanan deh.

Mbak yang nge-wax (duh mbak sori lupa nanya siapa namanya) telaten dan bersih banget. Dia gak terlihat kejam, tapi tetap penuh dedikasi dan spirit of excellence (halah). Setelah selesai, saya ganti baju dan mbaknya bilang beruntung banget saya pake rok. Kalau pake jeans sudah gak tau deh gimana tuh rasanya.

Begitulah. Tapi overall memuaskan sekali waxing di sini. Oiya nama salon waxingnya Demiswami, di seberang sekolah Ora et Labora BSD. Tanya aja mbak Andhara Early kenapa namanya seperti itu. Hihi. Tapi jangan tanya saya ya, kenapa ide waxing tiba-tiba muncul saat BBM-an sama pacar.

Selalu Ada Yang Pertama

Kerja jadi peneliti ternyata seru sekali. Alih-alih kayak orang kerja biasanya, saya malah merasa jadi kayak mahasiswa. Mahasiswa bergaji :p ya lengkap dengan lembur-lemburnya di lab, deadline-deadline tulisan, laporan, presentasi proposal dan hasil penelitian, dan lain-lain. Termasuk masa-masa bengong nyari inspirasi buat tulisan seperti jaman dulu bikin skripsi. Suatu hari Bapak pernah nanya sebenernya kerjaan saya di kantor itu ngapain, dan saya bingung gimana jelasinnya sampai kemudian saya bilang ke Bapak: “kalo di kantor ya belajar, ngelab dan bikin laporan pak. Sama kayak bikin skripsi, tapi ya jadinya kerjaanku bikin skripsi sebanyak-banyaknya sampe pensiun.”

Jawab bapak, “ooo pantesan tiap bapak SMS kok kamu sering jawab lagi di lab. Bapak mikir, kok kamu ini ngelab terus lha kapan kerjanya.”

Tapi iya. Kira-kira kerjaan saya seperti itu. Di kalangan peneliti kan ada jargon “publish or perish”, yang berarti setiap peneliti harus mempublikasikan tulisan sebagai bentuk produktivitas. Banyak ngelab, banyak penemuan kalau tidak dipublikasikan ya sama aja boong. Nah salah satu bentuk publikasi ini adalah dengan mengikuti seminar atau konferensi. Jadi setelah penelitian dilakukan, hasilnya dipresentasikan di depan publik kemudian makalahnya dimasukkan ke jurnal atau prosiding seminar biar orang lain bisa baca.

Nah dua minggu yang lalu untuk pertama kalinya saya ikut konferensi internasional dan membawa makalah yang ditulis oleh saya dan para senior, tentang sintesa garam lithium bis(oxalato) borate yang digunakan sebagai elektrolit dalam pembuatan baterai lithium-ion. Nama konferensinya ICMST (International Conference on Material Science and Technology) 2014 yang diadakan oleh BATAN di Serpong. Konferensi ini “bertabur bintang” karena menghadirkan keynote speakers dari banyak institusi kece seperti J-Parc Jepang, ANSTO Australia, Tokyo Tech (Tokodai) Jepang, NUS, NTU, dan masih banyak lagi.

Saya yang masih cupu di ranah nanomaterial ini cuma bisa bengong aja waktu keynote speaker lagi menyampaikan kuliah. Topik yang diambil dalam konferensi ini adalah topik sedang hot di kalangan peneliti advanced materials yaitu neutron scattering, battery technology dan solid state ionics. Untuk topik battery technology sih saya masih agak ngerti karena memang penelitian saya juga di bidang itu, tapi saat mereka “memperkecil ukuran” dan memaparkan kuliah tentang neutron dan crystallography, pandangan saya ke big screen di depan kelas jadi nanar dan otak mulai memanas.

Meskipun ada beberapa point yang saya gak ngerti saking canggihnya, tapi saya tahu kalo informasi yang mereka sampaikan itu bagus dan berguna banget untuk diaplikasikan di dalam penelitian. Jadi para keynote speakers ini gak cuma memaparkan penelitian mereka,  tapi basic dan tools apa aja yang bisa digunakan secara general dalam penelitian. Ada salah satu sesi yang bikin saya terharu *halah*, yaitu sesi kuliah Advanced Materials/Spallation Neutron Source oleh Prof. Masatoshi Arai dari J-Parc (Japan Proton Accelerator Research Complex). Beliau menjelaskan tentang gunanya penelitian tentang neutron dan bisa digunakan apa saja oleh peneliti material di berbagai bidang: coating, magnet, baterai, energi, dll.

Setelah Prof. Arai menyelesaikan presentasi selama 45 menit, dibukalah sesi tanya jawab. Salah satu professor dari ANSTO (seperti BATAN-nya Australia) mengacungkan jari, berdiri dan berkata dengan mata berkaca-kaca dan suara tersendat, “I just want to say thank you for your research, for your presentation. It’s beautiful. I know you work hard for it, and I can see your passion through every single thing you say. Once again, thank you.”

Audiens speechless. Prof. Arai di podium hanya menjawab singkat sambil tersenyum dan sedikit membungkuk. Tapi memang, waktu beliau presentasi rasanya ada passion yang besar di situ. Ada semangat yang dia punya, yang menyampaikan bahwa dia mencintai apa yang dikerjakannya. Pengen bisa jadi kayak gitu. Jadi peneliti yang gak gampang bosan mencari tahu tentang sesuatu, dan bertahan bahkan ketika semuanya seperti menemui jalan buntu dan data-data yang kita pegang pun sama sekali gak membantu.

Pulang dari konferensi saya kayak merasa bodoh. Makin saya tahu, kok rasanya makin gak tahu :lol: Jalannya masih panjang. Gak papa. Yang penting tetap berusaha karena selalu ada yang pertama untuk apapun ^^